Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Damaskus- Senin, 21 Agustus 2017, rakyat Suriah memperingati hari pembantaian paling mematikan yang terjadi dalam abad 21 ini. Empat tahun silam, di Ghautah timur dan barat, rezim Suriah melakukan serangan massal dengan menggunakan gas sarin yang menewaskan kurang dari 1.500 jiwa dan mencederai lebih dari 10.000 orang.

Serangan maut itu tercatat menjadi insiden paling mematikan sejak perang Iran-Irak. Sayangnya, gas sarin saat itu belum begitu dikenal layaknya insiden di Khan Syaikhoun pada April lalu. Padahal, gas sarin yang digunakan saat itu mencapai hingga 1.000 kg.

Menurut Fadel Abdul Ghany, Ketua Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SNHR), insiden Ghautah juga menjadi gambaran atas kegagalan masyarakat dunia untuk melindungi warga sipil Suriah dari keganasan tangan besi Bashar Al-Assad.

“Pada hari ini tepat empat tahun yang lalu, rezim Suriah menjatuhkan 1.000 kg gas sarin terhadap warga sipil di Ghoutah dalam serangan kimia yang mematikan sejak perang Iran-Irak. Saat ini, dunia tidak bisa berpura-pura tidak tahu, telah banyak video beredar tentang korban dari efek gas sarin serta jasad-jasad yang bertebaran di jalanan,” ungkap Fadel Abdul Ghany, Ketua Jaringan Suriah untuk hak asasi manusia (SNHR).

“Sayangnya, kebanyakan korban adalah perempuan dan anak-anak. Namun meskipun serangan di Ghoutah sangat mengerikan. Masyarakat internasioanal masih belum ada yang mengambil tindakan”, sambungnya.

Menurut data SNHR, militer Suriah telah melepaskan 207 serangan kimia sejak pertama kali di Al-Bayyada, Homs pada 23 Desember 2012. Serangan serupa terus dilakukan hingga insiden Ghautah pada 21 Agustus 2013, meskipun telah terjadi 33 kali serangan sebelumnya. Namun, jumlah korban puncak korban terbanyak terjadi saat insiden Ghautah. Sementara itu, pasca serangan sari di Khan Syaikhoun yang menewaskan 100 lebih korban pada April lalu, tercatat pula lima serangan kimia di berbagai daerah di Suriah. Kiblat

0 komentar: