Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, RIYADH - Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya masih mendukung sebuah kesepakatan internasional mengenai masa depan Suriah. Terkait nasib Presiden Bashar al-Assad, Arab Saudi mengatakan diktator Suriah itu seharusnya tidak memiliki peran dalam transisi untuk membawa perang di sana sampai akhir.

Kementerian Luar Negeri Saudi membantah laporan media bahwa Arab Saudi sedang mempertimbangkan transisi politik dengan fase pertama di mana Assad akan tetap berkuasa.

Beberapa media mengatakan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir telah memberi tahu Komite Negosiasi Tinggi oposisi Suriah (HNC) tentang keputusan tersebut. Arab Saudi selama ini dikenal sebagai pendukung kelompok oposisi Suriah.

Sebuah pernyataan kementerian, yang diberitakan oleh kantor berita negara Saudi SPA, menyebut laporan tersebut dikaitkan dengan al-Jubeir "tidak akurat".

"Posisi kerajaan pada krisis Suriah adalah sudah tetap, dan ini didasarkan pada komunike Jenewa 1 dan pada resolusi Dewan Keamanan U.N. 2254 yang menetapkan pembentukan badan peralihan yang akan menjalankan negara," bunyi pernyataan itu seperti dikutip dari Reuters, Senin (7/8/2017).

Kesepakatan tersebut juga menyerukan penyusunan konstitusi baru dan mengadakan pemilihan baru tanpa peran untuk Assad dalam keseluruhan proses peralihan.

"Arab Saudi mendukung HNC dan upayanya untuk memperluas keanggotaannya dan menyatukan oposisi Suriah," bunyi pernyataan tersebut.

Pengumuman tersebut disampaikan menjelang putaran berikutnya perundingan perdamaian yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa yang diperkirakan pada bulan September. Perunding Assad belum bertemu langsung dengan pihak oposisi karena tidak ada delegasi bersatu sebagai HNC dan dua kelompok lainnya, yang dikenal sebagai platform Kairo dan Moskow, semuanya mengklaim mewakili oposisi. (sindonews)

0 komentar: