Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Kriteria dari “orang yang membenci Ahlul Bait (Nashibi)” di mata mereka sesuai dengan apa yang disabdakan para Imam Maksum dalam riwayat-riwayat mereka dan apa yang dicuapkan melalui lisan para ulama mereka adalah orang yang menolak keimamahan/wilayah para Imam Maksum, mendahulukan Abu Bakar dan Umar di atas Ali dan lain sebagainya meski mereka mencintai Ahlul Bait.

Ulama mereka, Nikmatullah al jazairy berkata :

وقد روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أن علامة النواصب تقديم غير علي عليه

"Dan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam bahwa di antara ciri khas orang-orang Nawashib adalah: mendahulukan selain Ali atasnya"[1]

Siapakah orang yang mendahulukan Abu Bakr dan Umar di atas 'Ali ? Ya, setiap Ahlus Sunnah ber-i'tiqod demikian. Maka atas dasar perkataan ulama mereka di atas, Ahlus Sunnah adalah Nawashib di mata mereka.

Al-Majlisi dalam Biharul-Anwar juga menyebutkan kriteria seorang Nashibi melalui sabda Imam mereka seperti berikut :

كتبت إلى أبي الحسن عليه السلام أسأله عن الناصب هل أحتاج في امتحانه إلى أكثر من تقديمه الجبت والطاغوت واعتقاد إمامتهما ؟ فرجع الجواب : من كان على هذا فهو ناصب

“Aku menulis surat kepada Abul-Hasan ‘alaihis-salaam, aku bertanya kepada beliau perihal nashibi. Apakah kriterianya diperlukan pengujian terhadap orang tersebut lebih dari sekedar pengutamaannya terhadap Jibt dan Thaghut [Abu Bakr dan Umar] dan meyakinin keimamahan/kepemimpinan keduanya [untuk dapat disebut sebagai nashibi] ? Maka beliau menyampaikan jawabannya; “Barangsiapa yang sekedar demikian [mengutamakan Abu Bakr dan Umar serta meyakini kepemimpinan keduanya] maka dia adalah Nashibi.”[2]

Nikmatullah Al-Jazairy melanjutkan :

ويؤيد هذا المعنى أن الأئمة عليهم السلام وخواصهم أطلقوا لفظ الناصبي على أبي حنيفة وأمثاله. مع أن أبا حنيفة لم يكن ممن نصب العداوة لأهل البيت عليهم السلام بل كان له انقطاع إليهم . وكان يظهر لهم التودد، نعم كان يخالف آرائهم ويقول : قال علي وأنا أقول ... والثاني في جواز قتلهم واستباحة أموالهم ، قد عرفت أن أكثر الأصحاب ذكروا للناصبي ذلك المعنى الخاص في باب الطهارة والنجاسات وحكمه عندهم كالكافر الحربي في أكثر الأحكام، وأما على ما ذكرناه له من التفسير فيكون الحكم شاملا كما عرفت . روى الصدوق طاب ثراه في العلل مسندا إلى داود بن فرقد قال: قلت لأبي عبد الله عليه السلام ما تقول في الناصب ؟ قال : حلال الدم لكني أتقي عليك، فإن قدرت أن تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكيلا يشهد به عليك فافعل . قلت: فما ترى في ماله ؟ قال خذه ما قدرت .

"Makna ini didukung dengan bahwasanya para imam dan pemuka-pemuka syi'ah telah memberikan lafal Nashibi kepada Abu Hanifah dan yang semisalnya, padahal Abu Hanifah tidaklah menegakan permusuhan kepada ahlul bait, bahkan ia mengkhususkan waktu untuk ke ahlul bait, ia menampakan kecintaan kepada ahlul bait. Memang benar, ia menyelisihi pendapat ahlul bait, ia berkata, "Ali berpendapat demikian, dan aku berpendapat demikian.... Perkara yang kedua : yaitu tentang bolehnya membunuh mereka (ahlus sunnah) dan halalnya harta mereka. Dan engkau telah mengetahui bahwasanya mayoritas ashab (para ulama syi'ah) telah menyebutkan pengertian nashibi dengan definisi khusus ini dalam bab thoharoh dan najis. Dan hukum nashibi di sisi mereka (para ulama syi'ah) adalah seperti seorang kafir harbi dalam mayoritas hukum-hukum fikih. Adapun berdasarkan definisi yang telah kita sebutkan maka hukumnya mencakup (umum) sebagaimana engkau tahu, As-Shoduuq meriwayatkan kepada Dawud bin Farqod, ia berkata, "Aku berkata kepada abu Abdillah 'alaihis salaam, apa pendapatmu tentang membunuh nashibi?". Ia berkata, "Nashibi darahnya halal, akan tetapi lindungilah dirimu, jika kau mampu untuk menindihkan dinding kepadanya, atau menenggelamkannya di air agar tidak ada yang menjadi saksi atas perbuatannya, maka lakukanlah !!". Aku berkata, "Bagaimana pendapatmu tentang hartanya?", ia berkata, "Ambilah semampumu !"[3]

Dari pernyataan di atas didapati bahwasanya Imam Abu Hanifah rahimahullah termasuk nashibi, meskipun ia menampakan cintanya kepada ahlul bait. Karena dijelaskan lagi bahwasanya Nashibi bukanlah orang yang membenci Ahlul Bait, melainkan orang yang menentang Syi'ah. Sebagaimana Al-Majlisi meriwayatkan (secara dusta) bahwa Imam Maksum berkata :

ليس الناصب من نصب لنا أهل البيت ، لانك لاتجد رجلا يقول : أنا ابغض محمدا وآل محمد ، ولكن الناصب من نصب لكم وهو يعلم أنكم تتولونا وأنكم من شيعتنا

"Nasibi bukanlah orang yang menentang kami Ahlul Bayt, karena engkau tidak akan dapati seorang yang berkata : Aku membenci Muhammad dan Keluarga Muhammad (Aali Muhammad), tetapi nashibi adalah orang yang menentang kalian karena kalian berwilayah kepada kami (tatawalluna) dan sesungguhnya kalian adalah syiah kami"[4]

Hal senada juga diungkapkan oleh web Syiah Indonesia yakni syiahali[5]. Siapakah yang menentang Syi'ah? Ya, Ahlus Sunnah sangat menentang Syi'ah, selama-lamanya Ahlus Sunnah akan terus berlepas diri dari Syi'ah. Tidak akan pernah bersanding antara Agama Allah dengan agama setan.

Husain bin Syihabuddin Al Amali mengatakan bahwasanya nawashib adalah yang mengingkari wasiat khilafah / imamah.

كالشبهة التي أوجبت للكفار إنكار نبوة النبي صلّى الله عليه وسلم والنواصب إنكار خلافة الوصي

“Diwajibkan bagi kuffar [dengan kekafirannya] karena pengingkaran terhadap Nubuwwah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wasallam, sedangkan nawashib dikarenakan pengingkarannya terhadap Khilafah Washi [Ali].”[6]

Siapakah yang mengingkari wasiat Imamah ? Ya, setiap Ahlus Sunnah mengingkari wasiat tersebut karena wasiat tersebut memang tidak pernah ada. Maka Ahlus Sunnah adalah Nawashib di mata syi'ah rafidhah.

Ulama mereka lainnya, Al-Jawahiriy memberikan beberapa kriteria lainnya bagi seorang yang layak disebut sebagai nashibi :

أن الناصب يطلق على خمسة أوجه: الخارجي القادح في علي (ع)، الثاني ما ينسب إلى أحدهم (عليهم السلام) ما يسقط العدالة، الثالث من ينكر فضيلتهم لو سمعها، الرابع من اعتقد فضيلة غير علي (ع)، الخامس من أنكر النص على علي (ع) بعد سماعه أو وصوله إليه بوجه يصدقه


“Sesungguhnya seorang dapat disebut sebagai nashibi bisa berdasarkan lima sisi; pertama adalah khawarij yang mencaci maki ‘Ali. Kedua, bagi orang yang menyandarkan sesuatu kepada salah satu dari Imam ‘alaihim as-salaam dengan hal-hal yang menjatuhkan ‘adaalah mereka. Ketiga, bagi barangsiapa yang mengingkari keutamaan mereka. Keempat, bagi barangsiapa yang meyakini keutamaan selain ‘Ali [di atas ‘Ali]. Kelima, bagi barangsiapa yang mengingkari nash [Imamah] terhadap ‘Ali setelah ia mendengarkannya ataupun telah sampai hal tersebut padanya dan tidak ada celah baginya untuk mendustainya.”[7]

Salah seorang Ayatullah mereka, Jamil Al-‘Amiliy juga berkata dalam fatwanya :

الأقوى عندنا أن الناصبي هو من اشتمل على الأوصاف التالية

الأول: من أظهر العداوة قولاً وفعلاً من سب وشتم ولعن لأهل البيت صلوات الله عليهم

الثاني: من أظهر العداوة للشيعة لكونهم شيعة لأهل البيت عليهم السلام

الثالث: من قدَّم غير أهل البيت عليهم السلام كتقديم أبي بكر وعمر وعثمان وجعلهم خلفاء رسول الله بدلاً من أئمة أهل البيت عليهم السلام

“Pendapat yang paling kuat di sisi kami, sesungguhnya Nashibi disematkan kepada orang yang padanya mencakup sifat-sifat berikut; Pertama, orang yang menampakkan permusuhan baik berupa ucapan maupun perbuatan dalam bentuk celaan, hinaan dan laknat kepada Ahlul Biat shalawatullah ‘alaihim… Kedua, orang yang menampakkan permusuhan kepada pengikut Syi’ah Ahlul Bait ‘alaihim as-salaam. Ketiga, orang yang lebih mengutamakan selain Ahlul Bait seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman serta menjadikan mereka sebagai para Khalifah sesudah Rasulullah saw sebagai pengganti para Aimmah ‘alaihim as-salam.”[8]

Kemudian dedengkot Syi'ah kontemporer Syaikh DR. Najah Ath-Tha’i juga menukil penjelasan dedengkot Al-'Allamah Al-Kabir Al-Faqih Al-Hamdani yang masyhur dengan Al-Hajj Agha Ridha Al-Hamdani[9], bahwa :

إن المراد بالناصب في الروايات على الظاهر - مطلق المخالفين لا خصوص من أظهر العداوة لأهل البيت وتدين بنصبهم

“Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya arti dari Nashibi pada riwayat-riwayat (Syi'ah) yang jelas dimutlakkan terhadap orang-orang yang menyelisihi/menentang pengikut Syi'ah, tidak dikhususkan dengan sekedar menampakkan permusuhan dan kebencian kepada Ahlul Bait.”[10]

Semua pernyataan mereka di atas secara tidak langsung untuk menyebut Ahlus Sunnah dengan nawashib dengan hanya sekedar memberikan ciri-cirinya sama seperti pembahasan sebelumnya berkenaan sebutan Jibt dan Thaghut oleh Syiah yang pada hakikatnya ditujukan kepada Abu Bakr dan Umar. Semua sebutan tersebut yang secara tidak tashrih (jelas) bertujuan untuk melindungi aqidah Syiah itu sendiri. Sampai datang Al-Majlisi yang secara terang-terangan menjelaskan bahwa Jibt adalah Abu Bakr dan Thaghut adalah Umar.

Begitu pula dalam bahasan Nashibi ini. Ulama mereka lainnya secara terang-terangan menyebut Ahlus Sunnah sebagai nawaashib. Diantara mereka adalah Husain Alu ‘Ashfur Ad-Daraziy Al-Bahraniy[11] yang berkata :

بل أخبارهم عليهم السلام تنادي بأن الناصب هو ما يقال له عندهم سنيا

"Bahkan khabar-khabar dari mereka (para imam) 'alaihim as-salam menyerukan bahwa yang dimaksud al-nashib adalah yang dikenal dikalangan mereka dengan SUNNI."

ولا كلام في أنَّ المراد بالناصبة هم أهل التسنّن

"Tidak perlu lagi dipermasalahkan bahwa yang dimaksud dengan an-nashibah adalah AHLUS SUNNAH"[12]

Terkadang ada kalanya juga mereka menyebut Nawashib dengan sebutan ‘Ammah sebagaimana dijelaskan oleh ulama mereka yang bernama Muhammad Husaini Asy-Syiraziy dalam Maushu’ahnya[13] yang kemudian diperjelas lagi oleh perkataan ulama mereka yang namanya amat melegenda Ayatullah Al-‘Uzhma Muhsin Al-Amin Al-‘Amiliy (1284- 1371 H) dalam A'yanusy-Syi'ah bahwa yang dimaksud dengan al-'ammah adalah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah.

 الخاصة وهذا يطلقه أصحابنا على أنفسهم مقابل العامة الذين يُسمّون أنفسهم بأهل السُّنّة

"khassah (kaum khusus) dan inilah yang dimaksudkan oleh ashab kita (ulama-ulama Syi’ah) kepada diri mereka sendiri (syi'ah) sebagai lawan kepada 'aamah (yaitu) orang-orang yang menyebut diri mereka dengan nama Ahlus Sunnah"[14]

Sebagaimana pendeta mereka lainnya; Fathullah Asy-Syiraziy mengatakan :

أما الحديث من طريق العامة فقد روى كثير من محدثيهم كالبخاري ومسلم

"Adapun Hadits-Hadits dari jalur periwayatan al-‘ammah banyak diriwayatkan dari ahli hadits mereka seperti Al-Bukhariy dan Muslim"[15]

Maka dari sinipun jelas siapa lagi al-'ammah / nawashib yg dimaksud kalau bukan Ahlus Sunnah? Sebab Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah Imam Hadits dari orang-orang yang mereka (syi'ah) sebut dengan nama "al-'ammah" yaitu Ahlus Sunnah.

Ulama kontemporer mereka lainnya yang bernama At-Tijani yang sudah sangat terkenal dimana bukunya “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” banyak dirujuk oleh pengikutnya di Indonesia, berkata dalam kitabnya yang lain “Asy-Syi'ah hum Ahlus-Sunnah” lebih terang-terangan lagi menyatakan bahwa al-nawashib adalah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Dia berkata :

وغني عن التعريف بأن مذهب النواصب هو مذهب « أهل السنة والجماعة

"Dan cukuplah ta'rif bahwa MADZHAB AN-NAWASHIB ADALAH MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH.”[16]
Menurut keyakinan al-tijani, mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama'ah-lah yang menyimpang dari keluarga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ia menjuluki al-Mutawakkil sebagai tokoh utama al-nawashib (yang memusuhi) Ali dan Ahlul Bait. Bahkan kedengkiannya sudah sampai membongkar makam Husain, melarang menziarahinya, dan membunuh orang-orang yang menggunakan nama Ali. Al-Khawirizmi dalam Rasail-Nya menyebutkan bahwa al-Mutawakkil tidak akan memberikan harta atau bantuan kecuali kepada orang yang mencela keluarga Ali bin Abi Thalib dan membela Madzhabun Nawashib. Namun ini merupakan tuduhan semata dari al-Tijani yang menunjukkan kedengakian dan kebenciannya terhadap kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Kemudian, tuduhan-tuduhan keji At-Tijani berlanjut kepada Ahlus Sunnah dengan menuduh bahwasanya Ahlus Sunnah lah yang memerangi Ahlul Bait dengan mengatakan :

وبعد هذا العرض يتبين لنا بوضوح بأن النواصب الذين عادوا علياً (عليه السلام ) وحاربوا أهل البيت ( عليهم السلام ) ، هم الذين سموا أنفسهم بـ « أهل السنة والجماعة

"Setelah dipaparkan semua keterangan, tampaklah jelas bahwa pengertian An-Nawashib dimaksudkan untuk orang-orang yang memusuhi 'Ali ‘alaihis-salaam dan memerangi Ahli Bait, dan mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya dengan sebutan Ahli Sunnah wal Jama'ah."[17]

و إذا شئنا التوسع في البحث لقنا بأن "أهل السنة و الجماعة" هم الذين حاربوا أهل البيت النبوي بقيادة الحكام الأمويين و العباسيين

"Jika kita ingin memperluas pembahasan, niscaya kita akan mengatakan bahwa kaum Ahli Sunnah wal Jama'ah-lah yang telah memerangi Ahli Bayt Nabi dengan pimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah."[18]

At-Tijani telah mencantumkan dalam buku yang sama, sebuah pasal yang berjudul Permusuhan Ahli Sunnah terhadap Ahli Bayt, Penyingkapan terhadap Identitas Mereka. Ia menyebutkan di antaranya:

إن الباحث يقف مبهوتاً عندما تصدمه حقيقة « أهل السنة والجماعة » ويعرف بأنهم كانوا أعداء العترة الطاهرة ، يقتدون بمن حاربهم ولعنهم وعمل على قتلهم ومحو آثارهم

"Penulis berdiri tercengang ketika mendapati kenyataan yang sangat berseberangan mengenai Ahli Sunnah wal Jama'ah, dan penulis mendapati bahwa mereka adalah musuh Ahli Bayt, merekalah yang memerangai Ahli Bayt, mencaci-maki, dan melakukan tindakan yang mengakibatkan terbunuhnya para Ahli Bayt, puncaknya mereka menghapus semua peniggalan para Ahlu Bayt."[19]

تمعن ـ رعاك الله ـ في هذا الفصل فإنك ستعرف خفايا « أهل السنة والجماعة » إلى أي مدى وصل بهم الحقد على عترة النبي صلى الله عليه وآله وسلم فلم يتركوا شيئاً من فضائل أهل البيت عليهم السلام إلا وحرفوه

"Jika kita melihat dari dekat apa yang tersembungi pada pasal ini, maka Anda akan mengetahui sisi yang tersembunyi dari Ahli Sunnah, bahwa mereka akan selalu benci terhadap Ahli Bayt Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sampai tidak ada satu pun peninggalan Ahli Bait kecuali telah diubah oleh Ahli Sunnah."[20]

Ia melanjutkan:

و بعد نظرة و جيزة إلى عقائد "أهل السنة و الجماعة" و إلى كتبهم و إلى سلوكهم التاريخي تجاه أهل البيت، ندرك بدون غموض بأنهم اختاروا الجانب المعاكس و المعادي لأهل البيت (عليهم السلام) و بأنهم أشهروا سيوفهم لقتالهم و سخروا أقلامهم لانتقاصهم و النيل منهم و لرفع شأن أعدائهم و من حاربهم

"Setelah melihat dan meneliti aqidah Ahli Sunnah wal Jama'ah, sekaligus pula kepada referensi mereka, dan pola laku tindakan mereka dalam catatan sejarah terhadap Ahli Bayt, mereka mengasah pedang mereka untuk membunuh Ahlu Bayt, dan menggunakan pena-pena mereka untuk mendeskreditkan Ahlu Bayt sesuai dengan keinginan mereka dan untuk mengibarkan bendera permusuhan mereka."[21]

Kemudian ulama syi'ah lainnya yang bernama Muhsin Al-Mu’allim telah meyebutkan dalam kitabnya An-Nasbu wan Nawasib, membuat pasal khusus dengan judul “An-Nawasib Fi Al-Ibaad Aktsar min Mi’atai nasib” (Orang yang paling memusuhi kaum Syi’ah berjumlah lebih dari 200 orang) -menurut pandangan mereka- di antaranya adalah:

“'Umar bin Al-Khathtab, Abu Bakr Ash-Shiddiq, 'Utsman bin 'Affan, Ummul Mu'minin ’Aisyah, Anas bin Malik, Hasan bin Sabit, Az-Zubair bin Al-Awwam, Said bin Al-Musayyab, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, Al-Imam Al-Auza’i, Al-Imam Malik, Abu Musa Al-Asy’ari, Urwah bin Az-Zubair, Al-Imam Adz-Dzahabi, Al-Imam Al-Bukhari, Az-Zuhri, Al-Mughirah bin Su’bah, Abu Bakar Al-Baqilani, Asy-Syaikh Hamid (Ketua Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah di Mesir), Muhammad Rasyid Ridha, Mahbuddin Al-Khatib, Mahmud Syukri Al-Alusi, dan lain-lain."[22]

Sebagaimana Syaikh mereka lainnya ‘Ali Alu Muhsin berkata :

وأما النواصب من علماء أهل السنة فكثيرون أيضا، منهم ابن تيمية وابن كثير الدمشقي وابن الجوزي وشمس الدين الذهبي وابن حزم الأندلسي وغيرهم

"Adapun An-Nawashib dari 'Ulama Ahli Sunnah berjumlah sangat benyak, di antara mereka adalah; Ibnu Taimiyah, Ibnu Katsir ad-Dimasyq, Ibnul jauzi, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Ibnu Hazm Al-Andalusi, dan lain-lain"[23]

Lagi, dedengkot Najah Ath-Tha'iy menyebutkan diantara yang dicap dengan sebutan Nashibi olehnya (Syi'ah) dalam kitabnya seperti berikut :

و من النواصب محمد بن عبد الوهاب وابن تيمية الحراني وابن القيم وابن كثير و الذهبي ومعاوية وابن العاص والمغيرة ومروان وزياد بن أبيه والحجاج والمتوكل وصلاح الدين الأيوبي وصدام

“Dan termasuk dari Nawashib diantaranya adalah Muhammad bin 'Abdul Wahhab, Ibn Taimiyyah Al-Harani, Ibn Al-Qayyim, Ibn Katsir, Adz-Dzahabiy, Mu'awiyyah, Ibn Al-'Ash, Al-Mughirah, Marwan, Ziyad bin Abih, Al-Hajjaj, Al-Mutawakkil, Shalahuddin Al-Ayyubi, & Shaddam.”[24]

Saya belum tahu, siapakah yang tersisa dari Ahli Sunnah yang belum dimasukkan oleh kaum Syi’ah dalam kelompok kaum An-Nawashib?!

Para Shahabat dan 'Ulama Ahlus Sunnah yang tersebut di atas sebagaimana kita ketahui bahwa 'Aqidah mereka adalah sebagaimana 'Aqidah kita. Setiap Ahlus Sunnah mendahulukan Abu Bakr dan Umar Radhiyallaahu 'Anhumaa, Ahlus Sunnah juga tidak mengakui adanya washiat keimamahan 'Ali Radhiyallaahu 'Anhu karena memang washiat imamah tersebut tidak pernah ada, dan Ahlus Sunnah pun senantiasa akan menentang Syi'ah dan membungkam kesesatannya. Maka telah jelas di mata kita dari seluruh paparan di atas bahwa Ahlus Sunnah adalah Nawashib di mata Syi'ah. Selain paparan mengenai sifat-sifat nawashib di mata syi'ah, ditambah lagi paparan yang sangat jelas menyebut "Ahlus Sunnah" sebagai Nawashib.

Kini mari kita lihat, sekilas bagaimana pandangan mereka terhadap nawashib. Imam Makshum mereka sebagaimana diriwayatkan oleh ulama kenamaan mereka Ath-Thusiy, bersabda :

عن أبي عبد الله ع قال : خذ مال الناصب حيث ما وجدته وادفع إلينا الخمس

Dari Abu 'Abdullah 'Alaihis Salam, beliau berkata : "Ambillah Harta An-Nashib (Ahlus Sunnah) dimana saja engkau mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlimanya!"[25]

Kemudian disebutkan pula riwayat serupa dalam Al-Hadaiq An-Nadhirah oleh dedengkot Yusuf Al-Bahrani yang mengisyaratkan keshahihannya seperti berikut:

وروى في العلل في الصحيح عن داود بن فرقد قال: قلت لأبي عبد الله ع: ما تقول في قتل الناصب ؟ قال: حلال الدم ولكن اتقى عليك فإن قدرت أن تقلب عليه حائطا أو تغرقه في ماء لكي لا يشهد به عليك فافعل . قلت فما ترى في ماله ؟ قال: أتوه ما قدرت عليه

“Dalam Al-'Ilal diriwayatkan fI ASH-SHAHIH dari Daud bin Farqad, dia berkata : "Aku bertanya kepada Abu 'Abdillah 'Alaihis Salam" :  Bagaimana pendapat anda mengenai membunuh Nashibi (Ahlus sunnah) ??? Beliau berkata : HALAL DARAHNYA, tetapai aku mengkhawatirkan keadaanmu. Maka apabila Engkau mampu untuk MEROBOHKAN TEMBOK KEPADA MEREKA ATAU MENENGGELAMKAN MEREKA KE DALAM AIR, supaya tiada seseorang yang menyaksikanmu, maka kerjakanlah..!!!! Aku berkata : Bagaimana pendapat Anda mengenai HARTA MEREKA ??? Beliau berkata : AMBILLAH HARTANYA SEMAMPUMU..!!!"[26]

Kemudian dedengkot Syi'ah kontemporer Syaikh DR. Najah Ath-Tha’i juga menukil riwayat-riwayat senada dalam berhujjah untuk menyingkap status nashibi di sisi mereka seperti berikut :

عن أبي عبدالله عليه السلام : إن الله لم يخلق خلقا شرا من الكلب وإن الناصب أهون على الله من الكلب

“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluq yang lebih buruk daripada anjing. Dan sesungguhnya Nashibi adalah lebih hina di Sisi Allah daripada anjing”.

وعن الصادق عليه السلام : إن الله تبارك وتعالى لم يخلق خلقاً أنجس من الكلب، وإن الناصب لنا أهل البيت لأنجس منه

“Dan dari Ash-Shadiq 'Alaihis Salam : Sesungguhnya Allah Tabaraka Wa Ta'ala tidak menciptakan makhluq yang lebih najis daripada anjing. Dan sesungguhnya Nashibi di sisi kami Ahlul Bait adalah lebih najis dari anjing”.[27]

Pada halaman selanjutnya ia menambahkan apa-apa yang sudah dijelaskan sebelumnya dan kemudian pada hal. 283 dijelaskan bahwa sesungguhnya hukum mengenai kafirnya Al-Mukhalifin (orang-orang yang menyelisihi Syi'ah), ke-nashibi-an mereka, dan kenajisan mereka adalah MASYHUR dalam pernyataan para ulama-ulama besar Syi'ah.

وفي (الجواهر) عن (الحدائق): (إن الحكم بكفر المخالفين ونصبهم و نجاستهم هو المشهور في كلام أصحابنا المتقدمين مستشهدا

“Dalam Al-Jawahir disebutkan nukilan dari Al-Hadaiq; ‘Bahwa hukum kafirnya mukhalifin [para penyelisih/penentang Syi’ah], kenashibian mereka dan najisnya mereka adalah masyhur/terkenal di setiap ucapan ashhab kami [ulama Syi’ah] kalangan mutaqaddimin.”[28]

Ulama kontemporer mereka yang sudah taka sing lagi, yakni Ayatusy-Syaithan Al-Khumainiy [Khomeini] berkata :

والاقوى إلحاق الناصب بأهل الحرب فى إباحة ما اغتنم منهم و تعلق الخم به ، بل الظاهر جواز أخذ ماله أين وجد و بأي نحو كان ، و وجوب إخراج خمسه

"Dan pendapat yang aqwa (kuat) mengatakan bahwa An-Nashib (Ahlus Sunnah) adalah Ahlul-Harb dalam kehalalan rampasan perang yang diambil dari mereka dengan syarat menyisihkan seperlimanya, bahkan jelas kebolehan mengambil hartanya di manapun berada dengan cara apapun serta kewajiban mengeluarkan seperlimanya."[29]

Masih banyak lagi perkataan ulama mereka lainnya terkait nashibi ini, apabila kita simpulkan point-point di atas maka Ahlus Sunnah najis, kafir, halal dibunuh dan dirampas hartanya.

Itulah diantara 'Aqidah Syi'ah yang disembunyikan dan selalu ditutup-tutupi oleh mereka. Kitab-kitab besar dan perkataan ulama ternama mereka telah menjadi saksi atas semua itu. Mereka menyembunyikannya dengan taqiyyah untuk menjilat-jilat simpati dari Kaum Muslimin untuk kemudian menghancurkan Kaum Muslimin seperti yang sudah-sudah. Dan memang taktik menjijikan seperti itulah yang dipraktekan mereka (syi'ah) dari dulu sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka. Namun sepandai-sepandai orang menyembunyikan bangkai, tercium juga. Allah tetap menjaga Islam. Allah tidak akan membiarkan Aqidah Islam yang murni tercampur dengan aqidah busuk kaum syi'ah.

Referensi:

[1] Al-Anwar An-Nukmaniyyah, 2/307.

[2] Biharul-Anwar, 69/135

[3] Al-Anwar An-Nukmaniyyah, 2/307.

[4] Biharul-Anwar, 27/233.

[5] Lihat : http://syiahali.wordpress.com/2011/10/13/cinta-dan-kebencian-pada-ahlulbait-tidak-bersatu/

[6] Hidayatul-Abrar ilaa Thariq Al-A’immah Al-Athhar, hal. 106

[7] Jawahir Al-Kalam 6/66, oleh Al-Jawahiriy. Terb. Dar Al-Kutub Al-Islamiyyah.

[8] Lihat fatwanya pada situs resminya di : http://www.aletra.org/print.php?id=356

[9] Agha Ridha bin Muhammad Hadiy Al-Hamdaniy An-Najafiy (1240-1322 H). Diantara pujian ulama Syi’ah terhadapnya, Muhsin Al-Amin berkata; “Seorang ‘alim, ahli fiqih, ushuli, muhaqqiq, mudaqqiq”.

[10] Al-Wahhabiyyun Khawarij Am Sunnah, hal. 282

[11] Husain bin Ahmad bin Muhammad Alu ‘Ashfur Ad-Daraziy Al-Bahraniy (w. 1216 H). Ali bin Hasan Al-Bahraniy berkata mengenainya; “Penutup para Huffazh dan Ahli Hadits”. Agha Bazrak berkata; “Termasuk dari kalangan para mushannif yang banyak memiliki karya dan melaut keilmuannya dalam fiqh, ushul, hadits, dan lainnya”. Demikian pula dikatakan Muhsin Al-Amin dalam A’yan Asy-Syi’ah.

[12] Al-Mahasin An-Nafsaniyyah fii Ajwibah Al-Masa’il Al-Khurasaniyyah, hal. 147

[13] Bagian fiqh (33/38). Terb. Dar Al-‘Ulum Al-Bunaniyyah. Cet. Kedua.

[14] A'yan Asy-Syi'ah hal. 21. Terb. Dar At-Ta’aruf lil-Mathbu’at, Beirut.

[15] Qa’idah Laa Dharara wa-laa Dhirara hal. 21. Terb. Dar Al-Adhwa’, Beirut – Lebanon.

[16] Asy-Syi’ah hum Ahlus-Sunnah, hal. 161

[17] Ibid, hal. 163

[18] Ibid, hal. 295

[19] Ibid, hal. 159

[20] Ibid, hal. 164

[21] Ibid, hal. 299

[22] An-Nashbu wa An-Nawashib, Bab V Pasal 3 hal. 259. Terb. . Dar Al-Hadi, Beirut. Cet. Pertama.

[23] Kasyful-Haqa’iq hal. 249. Terb. Dar Ash-Shafwah, Beirut

[24] Al-Wahhabiyyun Khawarij Am Sunnah, hal. 285.

[25] Tahdzibul-Ahkam, no. 4538

[26] Hada'iq al-Nadhira oleh Yusuf Al-Bahraniy, 18/156,

[27] Al-Wahhabiyyun Khawarij Am Sunnah hal 280-281. Terb. Dar Al-Mizan.

[28] Ibid, hal. 283

[29] Tahrirul-Wasilah, hal. 318

Diambil dari ebook Himpunan Fatwa Ulama Syi'ah, edisi: Takfir, oleh: Muhammad Jasir Nashrullah. (nisyi/syiahindonesia.com)

0 komentar: