Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Hingga hari ini, arus penyebaran ajaran Syiah Rafidhah masih terus menyusup ke tengah-tengah masyarakat Islam. Berbagai macam strategi mereka gunakan. Selain berupaya untuk bertaqiyah, mereka juga berusaha mengaburkan pengertian syiah yang sesungguhnya. Caranya, setiap kali ditanya tentang kesesatan kelompok syiah, mereka selalu mengembalikan pengertiannya kepada makna bahasa dan mengait-ngaitkannya dengan pengikut Ali bin Abi Thalib (baca;  Syiah Ali).

Syiah di Indonesia

Benar. Secara bahasa, kata Asy-Syiah bermakna pengikut atau penolong. Sehingga setiap kaum yang bersepakat dalam suatu urusan, maka mereka itu disebut sebagai Syiah. (lihat; Mishbahul Munir, pembahasan kata syaya’a)

Sementara menurut istilah, kata Syiah sangat berkaitan erat dengan sejarah kemunculan mereka dan tahapan perkembangan keyakinannya. Sebab, jika diperhatikan, keyakinan dan pemikiran Syiah senantiasa berubah dan berkembang seiring berjalannya waktu.

Fase Perubahan Ajaran Syiah

Paham Syiah pada periode awal berbeda dengan paham Syiah pada periode-periode selanjutnya. Sebab, pada awal kemunculannya, yang disebut sebagai kelompok Syiah adalah orang-orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah daripada Utsman bin Affan. Karena itulah kemudian ada istilah Syi’i (kelompok yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib) dan Utsmani (kelompok yang mengutamakan Utsman).

Berdasarkan kenyataan ini, maka istilah Syiah pada periode awal hanya ditujukan kepada orang-orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan. (Lihat; Fatawa Ibni Taimiyyah, 3/153 dan Fathul Bari, 7/34)

Laits bin Abi Sulaim mengatakan, “Aku menyaksikan secara langsung golongan Syiah generasi pertama, dan mereka tidak mengutamakan seorang pun atas Abu Bakar dan Umar bin Khathab.” (Al-Muntaqa, hal. 360-361)

Demikian juga penulis kitab Mukhtashar At-Tuhfah, ia menyebutkan bahwa, “Orang-orang yang hidup pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semuanya mengakui hak Ali bin Abi thalib dan meletakkan keutamaan pada tempat yang semestinya. Mereka tidak mengurangi keutamaan seorang pun dari teman-temannya yang merupakan para shahabat Rasulullah SAW, apalagi mengafirkan dan mencelanya.” (Mukhtasharut Tuhfah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 3)

Hanya saja, paham Syiah yang bersih, murni, selamat, dan luhur ini tidak bertahan lama. Dasar-dasar paham Syiah terus berubah seiring berjalannya waktu hingga terbagi menjadi beberapa golongan. Kelompok ini juga menjadi sarang persembunyian bagi orang-orang yang bermaksud melakukan tipu daya terhadap Islam dan kaum muslimin dari kalangan musuh-musuh Islam yang zalim dan dengki. Oleh sebab itulah, kita menyebut orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar bin Khathab dengan sebutan Rafidhah, bukan Syiah, karena sifat-sifat Syiah tidak pas diterapkan pada mereka. (Ushulusy Syiah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah, 1/66-67)

Orang yang mengetahui tahapan perkembangan keyakinan kelompok Syiah, tentu ia tidak heran ketika mendapati adanya para ahli hadits, ulama, dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang disebut-sebut sebagai orang Syiah. Bahkan tidak jarang pada hakikatnya mereka adalah para ulama Ahlussunnah. Sebab, Syiah pada zaman dahulu memiliki pemahaman dan definisi yang berbeda dengan Syiah pada zaman sekarang.

Syiah Sekarang lebih tepat disebut Rafidhah

Secara bahasa, kata rafidhah berasal dari kata ar-rafdhu yang berarti meninggalkan dan berlepas diri dari sesuatu. Sedangkan secara istilah Rafidhah adalah suatu kelompok yang dinisbatkan kepada orang-orang yang mendukung Ahlul bait, berlepas diri dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan sebagian besar shahabat Rasulullah SAW serta mengafirkan dan mencaci maki mereka. (Al-Intishar lish Shuhubi wal Ali, hal. 25)

Sebab penamaan Rafidhah sendiri berawal dari penentangan mereka terhadap Zaid bin Ali yaitu mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khathab. Karena itu lah, Zaid bin Ali berkata, “Rafadhtumûnî (Kalian telah meninggalkan aku).”

Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Bakar dan Umar bin Khathab hanya dibenci dan dilaknat oleh kaum Rafidhah, tidak oleh kelompok-kelompok yang lainnya.” (Majmu’ul Fatawa, 4/435)

Sebagian sekte Rafidhah zaman sekarang, mereka  mereka gusar dan tidak rela terhadap penamaan tersebut. Menurut mereka, nama Rafidhah merupakan julukan yang dilekatkan oleh orang-orang yang memusuhi mereka. Muhsin Al-Amin mengatakan, “Rafidhah adalah sebutan untuk mencela orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib dalam kekhalifahan dan seringnya digunakan untuk mendiskreditkan dan mencela orang-orang itu.” (A’yanusy Syî’ah, 1/20)

Karena itulah, pada zaman sekarang mereka menamakan dirinya dengan Syiah, dan mereka pun lebih populer dengan nama ini (Syiah) di tengah-tengah khalayak ramai. Ironinya, beberapa penulis dan cendekiawan muslim terpengaruh dengan sebutan itu, sehingga kita mendapati mereka menggunakan nama Syiah dalam menyebut sekte Rafidhah. Padahal, Syiah adalah istilah umum yang pengertiannya mencakup setiap orang yang mendukung Ali bin Abi Thalib. (Maqalatul Islamiyyîn, 1/65 dan Al-Milal wan Nihal, 1/155)

Dengan demikian, menggunakan nama Syiah untuk menyebut kaum Rafidhah secara umum tanpa ada keterangan tambahan tidaklah benar. Sebab, istilah Syiah mencakup golongan Zaidiyah yang mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khathab.

Bahkan, menyebut Rafidhah dengan nama Syiah akan menimbulkan asumsi bahwa mereka adalah kaum Syiah pada zaman dahulu yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib a dan generasi setelahnya, yang mereka bersepakat lebih mengutamakan Abu Bakar dan Umar bin Khathab atas Ali bin Abi Thalib, tetapi lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan. Di antara kaum Syiah generasi pertama ini banyak terdapat para ulama dan orang-orang yang dikenal dengan kebaikan dan kemuliaan.

Dampak buruk dari hal itu adalah apa yang terjadi pada sebagian pelajar pemula yang tidak memahami definisi sebenarnya dari istilah Syiah dan Rafidhah. Para pelajar pemula itu salah besar dalam menilai serta menyikapi antara Rafidhah dan Syiah. Mereka menggunakan istilah Syiah untuk menyebut Rafidhah, sehingga mereka mengira bahwa pernyataan para ulama zaman dahulu tentang Syiah juga berlaku juga bagi Rafidhah. Padahal, para ulama membedakan antara kedua kelompok tersebut dalam segala hukum yang mereka tetapkan.

Dengan demikian, kita harus menyebutkan orang-orang yang mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab serta mereka yang mengafirkan para sahabat dengan nama sebenarnya, yaitu Rafidhah. Kita juga tidak boleh menyebut mereka dengan nama Syiah secara umum, karena bisa menimbulkan kerancuan dan ketidakjelasan.

Namun apabila terpaksa menyebut mereka dengan nama Syiah, maka kita harus menyertakan keterangan tambahan yang menunjukkan jati diri mereka secara spesifik, misalnya dengan mengatakan Syiah Imamiyah atau Syiah Itsna Asyariyah, sebagaimana kebiasaan para ulama ketika menyebut mereka. (lihat: Al-Intishar lish Shuhubi wal Ali, hal. 30) Wallahu a’lam bish shawab! (kiblat)

0 comments: