Breaking News
Loading...

Petugas medis mengobati anak yang terluka akibat serangan rezim di Aleppo [Al-Jazeera]
Syiahindonesia.com - Rasanya tidak mudah untuk mengawali pembicaraan tentang kota Aleppo, khususnya yang terjadi di wilayah timur kota tersebut yang dikontrol pejuang Suriah. Wilayah dengan luas empat puluh kilometer bersegi itu ditempatkan menjadi kota paling berbahaya pada tahun 2014. Sejak 15 hari terakhir, wilayah itu praktis terisolasi setelah militer rezim dibantu milisi sekutunya merebut jalan Alcastelo. Jalan ini sangat penting pagi wilayah yang dikontrol oposisi di Aleppo, karena satu-satunya jalur yang menghubungkan dunia luar.

Kondisi kemanusiaan di wilayah itu pun kini sangat memprihatinkan. Abdul Basith Ibrahim, Kepala Kesehatan Aleppo, Ahad (24/07), mengungkapakan kepada Al-Jazeera bahwa seluruh rumah sakit di wilayah Aleppo yang dikontrol oposisi mengalami kerusakan. Bahkan, mayoritas rumah sakit tersebut berhenti beroperasi akibat serangan udara sengit dari jet rezim dan Rusia.

Ibrahim menuturkan, setidaknya lima rumah sakit kembali berhenti melayani pasien pada Ahad kemarin. Rumah sakit itu adalah Rumah Sakit Anak di Aleppo (ini merupakan satu-satunya rumah sakit khusus anak), Rumah Sakit Az-Zahrah, Rumah Sakit Al-Bayan, Rumah Sakit Al-Atawib, Rumah Sakit Ibu dan Anak dan Rumah Sakit Ad-Daqaq. Sepanjang Ahad, jet tempur rezim dan Rusia membombardir lima lokasi pelayanan medis itu.

Dia menjelaskan, jet tempur Suriah dan Rusia menargetkan pusat-pusat kesehatan dan rumah sakit secara terorganisir baik sebelum wilayah kami terisolasi maupun sesudahnya. Strategi itu membuat rumah sakit-rumah sakit rusak bahkan sebagian di antaranya berhenti beroperasi.

Berdasarkan data kelompok medis oposisi, kata Ibrahim, total dokter ahli bedah di wilayah-wilayah yang dikontrol oposisi di Aleppo hanya 20 dokter. Sementara dokter umum hanya berjumlah 50 dokter.

Ibrahim juga berbicara tentang banyak pasien yang tewas akibat gempuran sengit dan blokade. Pasien-pasien yang kritis tidak bisa dievakuasi ke luar Aleppo untuk mendapatkan pertolongan medis lebih lanjut, sementara peralatan medis dan dokter spesialis tidak mencukupi untuk menangani mereka.

Sementara itu, Dewan Pertahanan Sipil Aleppo memperkirakan sebanyak 350 ribu warga berada di wilayah-wilayah yang dikontrol oposisi di Aleppo. Mereka mengalami krisis makanan, obat-obatan dan kebutuhan pokok lainnya. Mayoritas apotik dan pelayanan medis rusak akibat gempuran udara. Proses evakuasi korban menjadi sangat sulit sementara serangan udara tak pernah berhenti.

Perlu diketahui, kondisi di Aleppo semakin memprihatinkan setelah militer Suriah merebut jalan Alcastelo pekan ini. Wilayah-wilayah yang dikontrol oposisi di Aleppo praktis terisolasi. Mujahidin berupaya membuka kembali jalur tersebut namun terhambat oleh gempuran udara. (kiblat)

0 comments: