Breaking News
Loading...

Yaman merupakan salah satu negara besar, yang telah menyumbangkan kekuatan pentingterhadap Islam sejak masa awal agama ini. Masyarakat Yaman masuk Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berbondong-bondong, mereka memiliki andil besar dalam perjalanan ummat islam, bahkan para pahlawan dan mujahid-mujahidnya memiliki tanda khusus dalam futuhat Islamiyah (pembebasan negeri-negeri). Diantara peran besar mereka dalam pembebasan negeri-negeri adalah kesungguhan mereka yang sangat luar biasa dalam pembebasan negeri Syam, Mesir Afrika Utara, Andalusia dan negeri-negeri lainnya.
         
Partisipasi masyarakat Yaman tidak hanya sekedar peran mereka dalam pembebasan-pembebasan negeri saja,namun mereka juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan ilmu dan Ulama. Betapa banyak para ulama yang bersafar ke Yaman untuk mendapatkan ilmu dari para ulama dan pemikir mereka. Bukankah hal itu ditunjukkan oleh kepedulian Imam Ahmad, meski dalam keadaan yang sangat kekurangan, beliau tetap mengadakan perjalanan ke Yaman dalam rangka menyempurnakan penelitian ilmiahnya disana,hal ini memaksabeliau untuk melakukan perjalanan dari Baghdad menuju Yaman dengan berjalan kaki. Dengan kesulitan seperti ini, beliau lakukan tidak lain hanya karena suatu hal yang sangat penting, yaitu untuk melengkapi beberapa ilmu yang beliau miliki.

Jika kita membicarakan Yaman, tentu kita tidak hannya berbicara seputar Ulama, Mujahid serta para cendekia mereka saja, namunkita juga berbicara mengenai keumuman masyarakat Yaman. Secara umum, merekamerupakan masyarakat yang memiliki hati yang paling baik dan paling lembut di muka bumi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang  memberi kesaksian terhadap mereka,kesaksian yang lebih baik dari dunia dan seisinya, yaitu ketika utusan dari Yaman datang ke Madinah Al Munawarah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, iman itu ada pada Yaman dan hikmah juga ada pada Yaman.”[1]
         
Saya kira ini adalah mu’jizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah saya saksikan sendiri. Sungguh saya (Dr Raghib) telah bergaul dengan masyarakat Yaman, dan sering sekali mengunjungi Yaman, dalam pergaulanku dengan mereka, saya dapati mereka sebagaimana yang disifatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka adalah orang-orang yang berhati lembut, bahkan betapa banyak saya mendo’akan mereka dengan do’a yang pernah dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,ketika beliau menyatakan; “Ya Allah, berkahilah Syam kami, Ya Allah berkahilah Yaman kami.”[2]



Masuknya Islam ke Yaman dan Kisah Zaidiyyin

Syiahindonesia.com - Sebagaimana yang kami ceritakan sebelumnya, bahwa masuknya Islam ke negeri Yaman bermulasejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab itulah Yaman menjadi wilayah Islam yang memiliki peran penting dalam Daulah Islamiyah, terlebih pada masa Al Khulafa’ Ar Rasyidin dan masa kekhalifahan bani Umayyah serta awal kekhilfahan bani Abasiyah.

Pada masa kekhalifahan Al Makmun dari bani Abasiyah, tepatnya tahun 199 H, salah seorang pengikut Zaidiyah bernama Muhammad bin Ibrahim Thaba’thaba’ membelot, dan memerintahkan keponakannya, Ibrahim bin Muhammad pergi menuju Yaman guna memperoleh banyak dukungan. Zaidiyah adalah sekte yang mengikuti manhaj yang digagas oleh Zaid bin Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib, yaitu manhaj yang masih tergolong ke dalam syi'ah meskipun terdapat kedekatan yang signifikan antara Zaidiyah dengan Ahlussunnah.Syiah Zaidiyah tidakmenyatakan berbagai perkara bid'ah dan khurafat sebagaimana yang dinyatakan oleh Syi'ah Itsna Asyariyah (Syi'ah Iran, Iraq, Lebanon dan negara teluk) bahkan mereka mengamalkan Al Qur'an dan Sunnah seperti umumnya kaum muslimin, hanya saja mereka memiliki beberapa pemikiran khusus dalam masalah imamah. Mereka membatasi keimamahan hanya dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan Fatimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun mereka tidak membatasi secara person tertentu dari garis keturunan tersebut, bahkan mereka mengatakan; seseorang yang memenuhi syarat-syarat keimamahan seperti dari garis keturunan Fatimah, berilmu, bertakwa juga baik pola pikirnya, hendaknya ia mengajukan diri, apabila orang-orang membaiatnya maka keimamahannya dianggap sah. Bahkan mereka melegalkan adanya dua imam sekaligus pada dua wilayah yang berbeda, karena itu sebagaimana dinyatakan dalam setiap tingkatan sejarah, mereka selalu muncul dalam jumlah yang banyak.

Terlebih, banyak ulama' Ahlussunnah yang menganggap Zaid bin Ali termasuk jajaran pembesar ulama' dan imam Ahlisunnah. Beliau juga pernah memerintahkan keluar (membelot) dari imam yang fasik, memiliki perhatian yang sangat besar terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum dan sangat memuliakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, akan tetapi beliau berpandangan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu lebih mulia daripada mereka berdua, namunpandangan ini tidak benar dengan segala kemuliaan tetap bagi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Meskipun demikian Zaid bin Ali tetap berpendapat sahnya kekhilafahan Abu Bakar dan Umar, karena menurutnya keimamahan seorang yang mafdhul (tidak utama) tetap sah meskipun adayang lebih utama.Pendapat itu kemudian menjadi perbedaan yang sangat mendasar dengan pokok ajaran Syi'ah Itsna 'Asyariyah yang menolak keimamahan Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma, bahkan cara mendekatkan diri mereka kepada Allah adalah dengan melaknat keduanya sebagaimana yang dinyatakan mereka. (team/syiahindonesia.com)

[1]Al Bukhari, kitab Al Maghazi; bab “Qudum Al Asy’ariyin dan Ahli Yaman”no.4128 dan Muslim, kitab Iman, bab ”Tufadhil Ahli Yaman Fiihi wa Rujhaanu Ahli Yaman Fiihi” no.52
[2]Al Bukhari, kitab Fitan, bab sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Al Fitnatu min Qibali As Syarq.” No 6681, Tirmidzi no.3953 dan Ahmad hadits no.5987

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

0 comments: