Breaking News
Loading...

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Kampus UIN Syarif Hidayatullah Ciputat bekerjasama dengan Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia menggelar Seminar Nasional yang bertajuk “Dunia Tanpa Kekerasan Perspektif Nahjul Balaghah”, di Auditorium Harun Nasution, Kampus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Rabu (15/10).

Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga Dzuhur itu menghadirkan ulama Syiah iran bernama Prof.Dr. Sayyed Monza Monzer sebagai salah satu narasumber. Ia merupakan pakar tafsir Iran sekaligus Hujjatullah Ayatullah Syiah di Iran. Adapun narasumber yang lainnya berasal dari Kampus UIN, yaitu Prof.Dr. Zainun Kamaluddin dan Prof.Dr. Sukron Kamil, MA yang diduga cenderung punya cara berfikir ala orang Syiah.

Dalam kesempatan tersebut Prof. DR. Sayyed Monzer Hakim melakukan pendekatan kepada audiance sebagai upaya “dakwah taqorrub” atau dakwah pendekatan sebagai upaya memahamkan bahwa aliran Syiah adalah salah satu madzhab dalam Islam, dan tidak perlu ada pertikaian antara Ahlus Sunnah dan Syiah,  karena Islam adalah agama Rahmah (agama kasih sayang).

Pemateri dari UIN, Sukron Kamil menyampaikan bahwa jika perlu ada “perdamaian”, maka haruslah memperhatikan titik ushul, bukan furu’.

“kalau umat islam mau ada perdamaian internal atau yang disebut ukhuwah islamiyah, maka yang diperhatikan bukan titik furu’iyah tetapi titik ushul, itu pasti terjadi perdamaian.” Pungkas Sukron Kamil, salah satu narasumber acara.

Lebih lanjut, Dosen Adab dan Humaniora ini menganggap bahwa rukun iman dalam Islam adalah hal furu’iyah yang sejatinya tidak perlu diperdebatkan dan menjadi bahan perpecahan, sehingga Syiah dan sunni bisa “bersatu”.

“Orang sering berbeda antara sunni dan Syiah misalnya, nah sebenarnya orang kalau kembali kepada titik ushul yang ada di quran terutama yang ushul rukun imannya kan sama dalam tiga hal yaitu beriman kepada Allah, beriman kepada hari akhir,  dan beriman kepada nubuwat . . . . hanya saja sunni mengambil rukun iman dari hadits Nabi yang ketika ditanya apa itu iman, maka Nabi menjawab 5 hal itu,” tambahnya.

Padahal, rukun dalam islam adalah hal prinsip atau ushul, yang kalau salah satu dari rukun itu tidak dikerjakan atau bahkan tidak dipercayai, maka Iman tersebut tidaklah sah.

Lebih jauh dari itu, Guru Besar UIN Prof.Dr. Zainun Kamaluddin membuat statemen bahwa sejatinya kekhilafahan sepeninggal Nabi dipegang oleh Ali bin Abi Thalib, namun untuk mencegah kekerasan dan pertikaian, maka hak kekhilafahan Ali bin Abi Thalib diberikan kepada Abu Bakar, kemudian Ummar dan Utsman kala itu.

Nampaknya, seminar yang dihadiri sekitar 600 mahasiswa UIN dan orang umum itu menjadi bumerang bagi Syiah. Hal ini karena justru pemaparan mereka mengungkap segala keyakinan mereka dalam ajaran Syiah. Pasalnya, audiance yang diberi kesempatan untuk bertanya dalam sesi tanya jawab membantah beberapa statement-statement nyleneh yang paparkan oleh narasumber, dan dalam bantahannya itu para mahasiswa yang merupakan peserta seminar memberikan apresiasi dan dukungan kepada si penanya.

Dalam sesi tanya jawab tersebut, ada juga salah seorang penanya dari Lembaga Bantuan Hukum Indonesia menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada UIN Syarif Hidayatullah yang telah menyelenggarakan dialog semacam ini, karena sungguh jarang Syiah sekaligus Ulamanya langsung mengungkapkan keyakinan mereka di depan khalayak ramai, apalagi dalam dialog berupa seminar bertaraf Nasional.

“saya ingin menyampaiakn penghargaan setinggi-tingginya kepada pihak Universitas Syarif Hidayatullah yang telah berkenan menyelenggarakan acara dari pagi hingga siang hari ini. Hal ini paham buat saya, pak moderator, karena acara semacam ini apalagi di hadiri oleh kaum minoritas atau syiah atau ahlul bait, boro-boro merkea menyampampaikan buah pikiran mereka ..... penghormatan kami kepada pak moderator, pak zaitun dan pak kamil juga kepada para mahsiswa berkenan membuka diri untuk mendengarkan secara sekilas mengenai prespektif Nahjul Balaghoh yang sejatinya ini adalah inti dari ajaran Syiah” ungkap salah seorang penanya.

Memang betul, acara semacam ini bisa memukul balik Syiah, proyek yang tujuannya adalah mendoktrin kaum muslimin untuk berpemahaman ala syiah malah justru menjadi moment untuk menyingkap ta’bir syubhat sesat pemikiran syiah lewat mulut-mulut mereka sendiri. Namun, hal itu tentu dengan dibarengi pemahaman yang lurus sesuai akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan memahamkan pula kepada peserta akan kekeliruan materi yang disampaikan. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

0 comments: