Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Syiah berkata: istri nabi bisa dihukumi kafir layaknya istri Nuh as dan istri Luth as.
Yang dimaksud istri Nabi di sini adalah Aisyah. Semoga Allah meridhainya, begitu pula ayahnya.
Lihat: kitab Hadits al-Ifki, oleh Ja’far Murtadha hal.17

Syiah berkata: aisyah ra telah murtad setelah wafatnya Nabi saw, sebagaimana murtadnya para sahabat dengan jumlah yang luar biasa besar.
Lihat: kitab asy-Syihab ats-Tsaqib fi Bayani Makna an-Nashib, oleh Yusuf al-Bahrani hal. 236.

Syiah berkata: Aisyah ra mengumpulkan dinar dari pengkhianatan lalu membagi-bagikannya kepada para musuh Ali ra.
Lihat: kitab Masyariq Anwar al-Yaqin, oleh Rajab al-Barasi, hal. 86

Syiah berkata: Ummul Mukminin Aisyah jatuh dalam perbuatan keji (zina) –na’udzu billahi min dzalik-, adapun firman Allah swt:
“Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang.” (An-Nur:26)
Ayat ini hanya pembersihan nama baik Nabi saw saja, bukan Aisyah ra. (padahal maksudnya adalah Aisyah ra.)
Lihat: kitab as-Shirath al-Mustaqim, oleh Zainuddin an-Nabathi al-Bayadhi (3/165)

Syiah berkata: Hafshah kafir, karena ayat:
“siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu.” (At-Tahrim:3), dalam ayat ini Allah berbicara tentangnya.
Dan tentang Aisyah ra, Allah ta’ala berfirman:
“Jika kalian bertaubat kepada Allah, maka sungguh hati kamu berdua telah miring.” (At-Tahrim:4), kalimat “Shaghat” dalam ayat ini bermakna “Zaaghat (miring)”, dan miring disini maksudnya adalah kafir.
Menurut Syiah, Aisyah dan Hafshah ra juga bersekutu memberi racun ke dalam minuman Nabi saw, maka tatkala Allah swt memberitahu beliau tentang perbuatan mereka, beliau ingin seklai membunuh keduanya, namun mereka bersumpah tidak pernah melakukan hal itu, hingga Allah menurunkan ayat:
“Wahai orang-orang kafir janganlah kalian beralasan pada hari ini.” (At-Tahrim: 7)
Lihat: kitab as-Shirath al-Mustaqim, oleh Zainuddin an-Nabathi al-Bayadhi (3/168) (Nisyi/Syiahindonesia.com)

0 comments: