Breaking News
Loading...

Hamid Al-Idrisi

Sungguh saya sangat bangga sebagai seorang muslim, ketika melihat Syi’ah melakukan shalat terhadap jenazah kaum muslimin di dua kota suci, Mekkah dan Madinah, mereka berdiri rapi dengan khusyu’nya. Saya katakan dalam diri sendiri: “Sekiranya mereka itu menyimpan permusuhan terhadap Ahlus Sunnah, pasti mereka tidak akan menshalatkan jenazah kaum muslimin! Saya anggap ini merupakan wujud ukhuwah dalam beragama dan sebagai ikatan aqidah.

Secara nyata, pemandangan ini dapat membuat seseorang yang mengerti tentang sikap Syi’ah terhadapa Ahlus Sunnah merasakan kebingungan dan keanehan.

Jika Syi’ah secara nyata mengkafirkan Ahlus Sunnah, lalu mengapa mereka mau melakukan shalat terhadap jenazah kaum muslimin?

Akan tetapi, berikut inilah pernyataan Syi’ah, seputar pelaksanaan shalat mereka tehadap jenazah kaum muslimin yang sangat membutuhkan doa yang baik dan shalih.

Syaikh mereka, Al-Mufid, dalam Mukhtashar Fiqih-nya menyatakan: “Sekiranya ia seorang nashibi (nashib berarti Sunni menurut mereka) maka shalatlah terhadapnya dengan bertaqiyah, dan ucapkan setelah takbir yang keempat: “(Ia) hamba-Mu dan anak hamba-Mu, kami tidak mengetahui darinya kecuali keburukan saja, maka hinakanlah ia di tengah para hamba-Mu dan di negeri-negeri-Mu, serta masukkanlah ia ke dalam nereka-Mu yang paling panas. Ya Allah, sungguh ia dulu berteman (loyal) dengan musuh-musuh-Mu, memusuhi para wali-Mu dan membenci Ahlul Bait Nabi-Mu, maka jadikanlah buruk kuburannya dengan api, buatlah dari arah kedua tangan (bawah dan atas)nya api, dari sisi kanannya api, dari sisi kirinya api, dan jadikanlah ular dan kalajengking berkuasa atasnya di dalam kuburnya.” [1]

Dan dalam riwayat lain: “Ya Allah, sesungguhnya fulan, kami tidak mengetahuinya melainkan bahwa ia adalah musuh-Mu dan musuh Rasul-Mu. Ya Allah, perburuklah kuburnya dengan api, penuhilah mulutnya dengan api, segerakanlah ia masuk Neraka, karena sungguh ia dulu berteman (loyal) dengan para musuh-Mu, memusuhi para wali-Mu dan membenci Ahlul Bait Nabi-Mu. Ya Allah, persempitlah terhadapnya kuburannya.” Lalu jika (imam) telah mengangkat tangan, maka ucapkanlah: “Ya Allah, janganlah engkau angkat ia dan jangan pula engkau sucikan dirinya.” [2]

Pada dasarnya -menurut Syi’ah- tidak boleh menshalatkan jenazah kecuali dengan cara bertaqiyah

Ibnu Al-Baraj dalam ringkasan fiqihnya Al-Muhadzab mengatakan: “Tidak boleh menshalatkan jenazah nashibi (maksudnya adalah Ahlus Sunnah) karena permusuhannya terhadap Ahlul Bait Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat taqiyah sudah terangkat.” [3] Maksudnya tidak wajib lagi dengan munculnya imam mahdi Syi’ah atau karena susahnya bertaqiyah di tengah-tengah kaum muslimin.

Mereka meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai orang yang paling benar perkataannya dan paling jelas rahasianya, bahwa beliau melakukan shalat terhadap jenazah Abdullah bin Ubay yang munafiq secara taqiyah, dan beliau bersabda: “Ya Allah, penuhilah mulutnya dengan api, isilah kuburnya dengan api dan masukkanlah ia ke dalam api Neraka.” [4]. Saya tidak tahu apa yang beliau takutkan dari Abdullah bin Ubay hingga beliau bertaqiyah?!

Setelah Mirza An-Nuri menyebutkan sebagian riwayat tentang cara berdoa Syi’ah terhadap jenazah Sunni, muncullah sebuah kesimpulan yang dia katakan bahwa: “Mereka (ulama Syi’ah) menyebutkan tentang cara berdoa terhadap Ahlus Sunnah dengan berbagai lafadz yang menunjukkan bahwa semuanya itu tidak terbatasi oleh waktu (tidak hanya sementara), akan tetapi seseorang dapat berijtihad menentukan sendiri doa terhadapnya sesuai dengan apa yang dia ketahui dari pembangkangan dan permusuhannya.” [5]

Dengan demikian, berarti para cendekiawan Syi’ah telah membuat dinding-dinding pembatas antara Sunnah dan Syi’ah, mereka tanamkan kedengkian kepada para pengikutnya, dan mereka nyalakan api kebencian dalam hati-hatinya. Hampir tiada suatu kesempatan pun berlalu melainkan mereka melaknat para sahabatRadhiyallahu ‘anhum, mencela dua syaikh (Abu Bakar dan Umar) dan menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan menumpahkan darah Ahlul Bait. Semua itu membuat anak kecil menjadi tumbuh dewasa dan orang dewasa menjadi tua renta, tiada daya dan kekuatan melainkan dari Allah semata.

Oleh karena itu, hendaknya orang-orang yang berakal dari kelompok Syi’ah mau meneliti kembali muatan teks atau nash yang memenuhi buku-buku mereka, taubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kembali kepada kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaknya pula mereka tahu bahwa umat membutuhkan penjelasan yang benar tentang fitnah yang menimpa umat ini, jika mereka tidak mampu melakukan hal itu dengan menjelaskan yang benar maka seyogyanya mereka menahan dari keburukan mereka dan tidak menyebarkannya, tidak menambahi beban fitnah umat di atas fitnah yang ada, dan ujian diatas ujian yang lainnya. Wallahul Musta’an.

________________________________

[1] Al-Muqni’ah, karya Al-Mufid, (229-230)

[2] Al-Kafi, karya Al-Kulaini, (3/189), Man La Yahdhuruhu Al-Faqih (1/168), Al-Bihar (44/202), Wasail Asy-Syi’ah (3/70) dan Tahdzib Al-Ahkam (3/197).

[3] Al-Muhadzab, karya Al-Qadhi ibnu Al-Baraj, (1/129)

[4] Ibid.

[5] Mustadrak Al-Wasail, karya Al-Mirza An-Nuri, (2/254).

[abrhn/m.a/syiahindonesia.com]

0 comments: