Breaking News
Loading...

Dunia ini telah lama disibukkan oleh pertengkaran antara Iran dan Amerika, dunia islam bergejolak menyikapi apa yang sedang terjadi, kaum muslimin di berbagai belahan dunia menyuarakan protesnya terhadap amerika yang punya trek record buruk terhadap kemanusiaan dan di nilai Negara doyan perang itu, apalagi kini Negara yang sedang di incar adalah Negara yang di anggap berpotensi menyumbangkan kekuatan bagi kalangan muslim. Tetapi beberapa kalangan menilai bahwa iran bukanlah sebuah Negara sepertimana yang di anggap, bahkan tak sedikit juga kalangan kaum muslimin yang menganggap bahwa Iran lebih berbahaya dari Amerika jika berkuasa dan punya kekuatan. Benarkah demikian? Apa yang alasannya? Iran dan undang-undang dasarnya Iran adalah sebuah negara yang berdasarkan ideologi.
 Perjalanan Iran khususnya pasca revolusi khomeini 1979 benar-benar merupakan praktek dari madzhab Syi’ah yang dianutnya. Ini tercantum dalam undang-undang dasar negara Iran pasal 12 yang berbunyi:

“Agama resmi negara Iran adalah Islam dengan madzhab ja’fariyah 12 imam. Pasal ini tidak boleh diubah selamanya.”

Nampak jelas negara Iran berdasar atas ideologi sektarian, yaitu berdasar madzhab ja’fari 12 imam yang tak lain hanyalah nama lain dari Syi’ah imamiyah. Ini diperkuat lagi dengan pasal 72 yang berbunyi:

“Majlis syura Islami tidak berhak membuat undang-undang yang menyelisihi prinsip-prinsip madzhab resmi negara.”

Hal ini juga tercantum pada pasal 85. Begitu juga pasal 144 berbunyi:

“Tentara republik Islam Iran haruslah berbentuk tentara Islam, yaitu berdasarkan kepada akidah dan terdiri dari pasukan yang meyakini visi dan misi revolusi Islam.” Sumpah presiden Iran yang tercantum pada pasal 121 berbunyi sebagai berikut:

“Saya sebagai presiden bersumpah demi Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa, di depan Al Qur’an dan di depan seluruh rakyat Iran, saya akan menjaga madzhab resmi negara….”

Selain berdasarkan pada madzhab syi’ah imamiyah, negara Iran adalah negara kesukuan persia. Bahasa dan tulisan persia dijadikan bahasa resmi negara. Hal ini termaktub dalam pasal 15.

Maka memahami madzhab Syi’ah adalah kunci untuk memahami sepak terjang dan arah politik negara Iran.

Sekilas Sejarah

Dimulai dari rontoknya imperium persia di tangan sahabat Nabi yang di pimpin oleh Umar bin Khattab Ra, sejak saat itu bangsa persia menyimpan dendam mendalam terhadap bangsa arab dan Islam. Pelampiasan dendam itu diawali dengan pembunuhan terhadap khalifah Umar bin Khattab oleh Abu Lu’lu’ah Al Majusi, seorang mantan tentara persia yang ditawan dan menjadi budak milik sahabat Mughirah bin Syu’bah. Lalu muncullah figur Abdullah bin saba’, seorang yahudi yang tak senang melihat kemenangan Islam, ia faham benar bahwa tidak mungkin mengalahkan Islam “dari luar” maka kaum yahudi dengan ujung tombaknya Abdullah bin Saba’ melancarkan perang melawan kaum Muslimin “dari dalam” yaitu dengan merusak dan menyelewengkan ajaran Islam. Wujud Abdullah bin Saba’ di usahakan untuk tidak diakui oleh penganut Syi’ah hari ini dengan berbagai macam alasan, di antaranya riwayat yang menerangkan adanya Abdullah bin Saba’ hanya terdapat pada kitab Tarikh Thabari dari jalan Saif bin Umar At Tamimi. Tetapi ternyata wujud Abdullah bin Saba’ tercantum dalam banyak literatur syi’ah sendiri. salah satunya adalah kitab Firaqus Syi’ah yang ditulis oleh An Naubakhti hal 32 dan 33 (seorang ulama Syi’ah), tercantum sebagai berikut:

“Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang berpendapat bahwa seharusnya Ali Ra lah yang menjadi imam pertama, ia menampakkan permusuhan kepada musuh-musuh Ali, ia juga orang pertama yang mengkafirkan mereka tidak spendapat dengannya.”

Dari sinilah para penentang Syi’ah mengatakan: asal ajaran rafidhah (Syi’ah) adalah dari agama yahudi.

Ini pengakuan explisit yang (sayangnya) diingkari oleh banyak penganut Syi’ah sendiri. Abdullah bin Saba’ melancarkan provokasi kepada kaum Muslimin di Iraq dan Mesir. Dia tidak berhasil memprovokasi daerah syam, hijaz dan yaman. Provokasi itu berakhir dengan pembunuhan khalifah Utsman bin Affan yang berlanjut dengan Kekacauan yang menimpa kaum Muslimin hingga terjadilah perang jamal yang juga dipicu oleh para provokator dibawah pimpinan Abdullah bin Saba’. Fitnah pun berlanjut hingga perang Siffin yang terjadi antara kubu Muawiyah yang menuntut balas terhadap pembunuh Usman, dengan Ali yang memaksa Muawiyah untuk berbaiat sebelum menuntut balas. Di sinilah awal mula timbulnya istilah syi’ah Ali dan Muawiyah, penggunaan istilah Syi’ah di sini mengarah kepada sikap politik yaitu kelompok Ali dan kelompok Muawiyah. Saat itu istilah Syi’ah sebagai sebuah sekte yang berbeda dengan Sunni belum muncul. Dalam perjalanan Abdullah bin Saba’ menampakkan kecintaan pada Ali dan menyebarkan pendapat bahwa Ali adalah Allah. Pengikut Abdullah bin Saba’ hingga kini masih ada di Iran dan membentuk sekte pecahan Syi’ah yang bernama “saba’iyyah” pengikut Abdullah bin Saba’ kelompok inilah yang kemudian dibakar oleh Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Saba’ sendiri melarikan diri ke Mada’in, sebuah kota yang dulunya merupakan ibukota imperium persia. Di sana Abdullah bin Saba’ dan konco-konconya menggodok madzhab sendiri yang akhirnya berkembang menjadi ajaran Syi’ah sekarang. Ini jelas sekali dari pernyataan ulama Syi’ah di atas bahwa orang pertama yang memunculkan pendapat harusnya Ali menjadi Imam setelah wafatnya Nabi adalah Abdullah bin Saba’. Ini adalah bukti nyata batilnya madzhab syi’ah, karena pencetus pertama konsep Imamah adalah Abdullah bin Saba’ bukannya Nabi Muhammad saw.

Ali bin Abi Thalib mati dibunuh Abdurrahman bin Muljim, dan kemudian anaknya (Hasan) dibaiat oleh pendukung ayahnya. Tetapi bukannya melanjutkan permusuhan melawan Muawiyah, Hasan malah berdamai dan menyerahkan kekuasaan pada Muawiyah walaupun pengikut Ali tidak rela dengan perdamaian itu. Akibat perbuatannya itu, anak cucu Hasan tidak dimasukkan oleh Syi’ah dalam daftar 12 imam.

Saudaranya Husain termasuk mereka yang tidak sependapat dengan perdamaian itu, tetapi dia masih terikat baiat taat pada Hasan yang wajib ditepati. Hasan pun meninggal dunia dan Muawiyah mangkat setelah melantik anaknya Yazid. Merasa hanya terikat janji dengan Muawiyah, Husein menolak berbaiat pada Yazid dan melarikan diri ke Mekkah. Penduduk Kufah mendengar hal itu dan mengirim ribuan surat yang mengajak Husein untuk pergi ke Iraq dan memulai perjuangan melawan yazid dari sana. Akhirnya Husein pun tetap berangkat ke Iraq setelah diingatkan oleh para sahabat yang telah belajar dari pengkhianatan penduduk Kufah terhadap Ali dan Hasan. Akhirnya ribuan orang yang memanggil Husein untuk memulai perjuangan tidak ada yang muncul ketika rombongan Husein dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad. Melihat itu semua, Husein hanya bisa mengatakan:Kita telah dikhianati oleh syi’ah kita sendiri.Akhirnya Husein dibunuh oleh Syammar bin Dzil Jaushan si celaka.

Ajaran Syi’ah mulai berkembang diam-diam dengan mengatasnamakan kecintaan mereka terhadap keluarga Nabi. Waktu berlalu hingga Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib menyusun rencana untuk memberontak melawan pemerintahan Bani Umayyah, di antara pengikutnya adalah penduduk Kufah yang sebagian mereka meninggalkan Zaid ketika mendengarnya memuji Abubakar ra dan Umar ra, lalu Zaid berkata : rafadhtumuni, rafadhtumuni, yang maknanya dalam bahasa indonesia : kalian menolakku, kalian menolakku. Peristiwa ini penting, karena dari sini Syi’ah disebut sebagai rafidhah, dengan ciri utama kebencian terhadap sahabat Abubakar dan Umar yang katanya merampas hak khilafah dari Ali. Di sini nampak perkembangan Syi’ah dari sekedar sikap politik menjadi madzhab yang lengkap dengan seluruh perangkat dan infrastruktur yaitu dasar ideologi yang berupa sabda para imam yang tercantum dalam kitab-kitab literatur Syi’ah. Sayangnya ternyata terbukti seluruh literatur Syi’ah tidak memuat satu pun hadits nabi dengan sanad shahih menurut kriteria mereka sendiri. Apalagi menurut kriteria studi hadits Ahlussunnah.

Diantara Ajaran-Ajaran Syi’ah:

Imamah

Maksudnya adalah wajib meyakini 12 imam yang ditunjuk oleh Allah sebagaimana ditunjuknya para Nabi dan Rasul.

Aqidah Bada’

Bada’ artinya jelas, yang sebelumnya masih samar-samar atau berarti pula munculnya pendapat baru. Bada’ dengan kedua arti di atas berkait erat dengan di dahuluinya ketidaktahuan, atau muculnya pengetahuan baru, kedua sifat tersebut mustahil bagi Allah Subhanahu Wata’ala akan tetapi Rafidhah menisbatkan sifat “bada’” ini kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ar-Rayyan bin As-Shalt berkata: saya pernah mendengar Ar-Ridho berkata: Allah tidak mengutus nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamkan khamr, dan diperintahkan untuk menetapkan sifat bada’ kepada Allah .

Abu Abdillah berkata: seseorang belum dianggap beribadah kepada Allah sedikitpun, sehingga ia mengakui adanya sifat bada’ pada Allah.
 Maha tinggi Allah setinggi-tingginya dari tuduhan seperti ini.Allah berfirman tentang Dzat-Nya sendiri.

“Katakanlah : “tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah” (QS.An-Naml : 65).
 Sifat Bada’ berarti ada peristiwa yang belum diketahui oleh Allah yang diketahui kemudian. Berarti sebelumnya Allah tidak tahu.

Mengkafirkan Seluruh Sahabat Nabi

Dalam Kitab Al Kafi jilid 2 hal 244 disebutkan sebuah riwayat bahwa sahabat nabi telah murtad kecuali tiga orang saja.

Mengkafirkan Seluruh Kaum Muslimin Selain Syi’ah, Karena Tidak Beriman Kepada Dua Belas Imam

Ibnu Babawaih Al Qummi dalam Al I’tiqadat hal 103 mengatakan : keyakinan kami terhadap mereka yang mengingkari imamah Ali dan para imam setelahnya adalah sama seperti mengingkari kenabian seluruh nabi, sedangkan keyakinan kami terhadap mereka yang mengakui imamah Ali dan tetapi mengingkari salah satu imam setelahnya adalah sama dengan beriman kepada seluruh nabi tetapi mengingkari kenabian Nabi Muhammad.

Dan masih banyak ajaran sesat lainnya seperti.

Mengubah isi al quran dengan menambah nambah ayatnya dan membuang sebagian ayatnya, menambah rukun islam dengan wilayah (perwalian) ahlulbait dan sebagainya.

Demikian ajaran Syi’ah yang tercantum dalam literaturnya. Ajaran ini sangat menakutkan siapa pun yang mendengarnya. Maka diperlukan perangkat untuk menjaga image dakwah Syi’ah supaya tidak menakutkan. Perangkat itu adalah taqiyah, yaitu menyembunyikan keyakinan di depan ahlussunnah, supaya keyakinan-keyakinan yang “menakutkan” di atas tidak diketahui. Taqiyyah di sini berfungsi sebagai permulaan untuk menetralisir pemikIran orang agar tidak berburuk sangka terhadap syi’ah. Supaya program taqiyyah berjalan lancar, kitab-kitab Syi’ah yang memuat ajaran mereka yang sebenarnya disembunyikan hingga tidak mudah diakses. Tetapi menyembunyikan sesuatu menjadi agak sulit pada jaman teknologi informasi. Ketika mereka dihadapkan pada kitab asli mereka, segera mereka mengelak dan mengatakan itu adalah pendapat ulama ekstrem. Jika dibandingkan, alibi Syi’ah di negeri arab ternyata tidak berbeda jauh dengan negeri kita.

Demikian pula dengan Iran yang bermadzhab Ja’fari 12 imam, negara itu terikat dengan aturan dan ajaran madzhab Syi’ah yang beberapa di antaranya tercantum di atas. di antara praktek madzhab Syi’ah tersebut di atas adalah:

Adanya jabatan wali faqih yang sejalan dengan prinsip imamah. Waliy faqih atau dikenal dengan jabatan pengawas revolusi (mursyid tsaurah) adalah pengganti imam yang belum datang untuk kemajuan umat.

Menindas minoritas Sunni yang tinggal di Iran. 20% penduduk Iran adalah Sunni, biasanya berdomisili di daerah Ahwaz dan Baluchistan. Mereka mengalami diskriminasi dalam segala bidang kehidupan, salah satunya adalah tidak adanya masjid Sunni di kota Teheran. Sehingga muslim Sunni yang berdomisili di Teheran melakukan shalat jum’at di kedutaan Pakistan.
 Negara Iran mensponsori gerakan dakwah Syi’ah internasional untuk menarik kaum Sunni yang awam. Guna mempercantik image Iran di dunia internasional tak ketinggalan Iran menggunakan politik taqiyyah yang diajarkan –bahkan diwajibkan- oleh para imam Syi’ah. Kita lihat dan dengar ulama Syi’ah yang bermulut manis mengumandangkan persatuan madzhab dan penyelesaian pertikaian antara Sunni dan Syi’ah, tetapi yang terjadi di lapangan sungguh jauh berbeda.

Kesimpulan yang bisa diambil bahwa pengakuan Iran sebagai negara berdasar madzhab Syi’ah imamiyah mengandung konsekwensi pengakuan terhadap semua ajaran yang telah dijelaskan sepintas di atas. ini membuat kita mengerti siapa Iran sebenarnya. Dari sini kita dapat menentukan sikap terhadap Iran. Apakah negara Iran dapat dikategorikan sebagai negara islam?

Peran Iran di Iraq dan Afghanistan

Dalam wawancara dengan sebuah Majalah , Mantan Wapres Iran Ali Abtahi dengan bangga mengatakan : ” jika bukan karena bantuan teheran, kabul dan baghdad tak akan dapat ditaklukkan”. Pernyataan ini menyingkap hakekat peran Iran dalam mengalahkan dua negara tetangga yang di kuasai Sunni. Afghanistan yang terakhir berada di bawah pemerintahan Taliban, hampir terlibat perang ketika Taliban berhasil menguasai Mazar Syarif dan membunuh anggota misi diplomasi Iran yang terbukti melakukan kegiatan mata-mata. Akibatnya kedua negara menggelar pasukan di perbatasan dan hampir terlibat perang. Tetapi Allah tidak menakdirkan perang terjadi. Permusuhan terhadap Taliban tidak begitu saja hilang, terutama karena Taliban adalah penganut Sunni yang di anggap “menindas” penganut Syi’ah di Afghanistan, dan berpotensi mengancam Iran. Akhirnya ketika Amerika berniat menyerang Taliban, Iran ikut membantu dan ikut senang, karena musuhnya hancur tanpa Iran harus mengeluarkan satu butir peluru. Begitu pula Iraq yang terlibat perang berkepanjangan pada dekade 80an, masih berpotensi mengancam Iran dan luka akibat perang masih belum kering dari ingatan . Maka ketika Amerika berniat menyerang Iraq, Iran pun ikut bergembira karena satu lagi musuhnya dihancurkan oleh Amerika. Ditambah lagi Iran memiliki perhatian khusus terhadap Iraq sebagai sebuah negara bermadzhabkan Syi’ah imamiyah. Hal itu karena hampir seluruh tempat suci kaum Syi’ah berada di Iraq. Maka Iran sangat berkepentingan untuk menguasai Iraq melalui kaum Syi’ah yang memegang tampuk kepemimpinan politik setelah Saddam “lengser” oleh Amerika.

Kita tidak perlu heran ketika Amerika mepercayakan tampuk kepemimpinan pada Syi’ah, kita lihat seluruh pemegang jabatan perdana menteri pasca penjajahan adalah bermadzhab Syi’ah. Dari mulai Iyad ‘Allawi, Ibrahim al ja’fari serta perdana menteri saat ini Nuri Almaliki, seluruhnya bermadzhab Syi’ah. Ditambah lagi Syi’ah memiliki dendam bersejarah pada Iraq akibat tekanan berkepanjangan yang mereka alami pada era Saddam yang berfaham Ba’ath. Saddam melarang perayaan hari-hari yang dianggap suci oleh Syi’ah dan bersikap tegas pada mereka. Apalagi ketika kaum Syi’ah beberapa kali berniat melancarkan kudeta yang selalu gagal. Tanpa bantuan Amerika, kaum Syi’ah tidak mungkin dapat menggulingkan Saddam.

Sempat keluar fatwa dari ulama Syi’ah di Iraq –Ali Sistani- yang mengharamkan berjihad melawan Amerika. Memang tidak semua Syi’ah mendukung penjajahan Amerika, tetapi yang nampak di lapangan adalah adanya dua faksi besar yang memiliki laskar dan membantu Amerika melawan Mujahidin. Dalam aksinya laskar Syi’ah yang bernama tentara mahdi dan milisi badar melancarkan aksi pembersihan etnis terhadap ahlussunnah, tentunya dengan sponsor pelatihan dan amunisi dari Iran dan dukungan pemerintah Syi’ah yang berkuasa di Iraq. Tragedi bosnia terulang lagi, tetapi kali ini terjadi di Baghdad, di negeri yang pernah menjadi Ibukota Islam di masa lalu. Masjid Sunni diserang, Al quran dirobek-robek, jamaah masjid dibantai, menjadi peristiwa harian, hingga kita bosan mendengarnya. Tetapi media massa tidak begitu gencar meliput peristiwa ini sehingga kita yang berada di Indonesia tidak banyak mendengarnya. Berita pembantaian yang dilakukan Syi’ah terhadap Ahlussunnah di Iraq kalah oleh berita ramainya pertikaian antara Iran dan Amerika karena aktifitas Nuklir Iran, yang sampai saat ini baru sampai pada tahapan “perang mulut”, sehingga kaum Muslimin Sunni di Indonesia dengan gegap gempita mendukung Iran yang tangannya berlumuran darah kaum Sunni di Iraq, sehingga darah kaum Sunni begitu saja mengalir tanpa pernah diprotes oleh kaum Muslimin di Indonesia. Kaum Muslimin –termasuk mereka yang dipandang sebagai tokoh- ikut mendukung Iran yang secara langsung maupun tidak langsung membantai Ahlussunnah di Iraq. Ini adalah hasil dari praktek taqiyah ditambah sifat lugu dan polos yang ada pada kaum Muslimin di indonesia. Seharusnya dengan menelaah literatur Syi’ah sudah cukup untuk menentukan sikap terhadap Iran, apalagi ditambah dengan pembantaian yang dilakukan Syi’ah –dibawah naungan Iran- terhadap kaum Muslimin Sunni. Tokoh-tokoh muslim Indonesia begitu mudah menerima masukan dari para pengikut Abdullah bin saba’ sehingga mereka terperangkap dan menjadi korban praktek taqiyah yang dilancarkan Syi’ah di sekitar mereka sendiri.

Penipu Yang Tertipu

Disebutkan di atas bahwa Iran membantu Amerika dalam menjajah Iraq dan Afghanistan. Padahal sebenarnya yang terjadi adalah Iran membantu Amerika untuk mengepung dirinya sendiri. Sebelum menduduki Iraq dan Afghanistan, Amerika telah menempatkan pangkalannya di negara sekitar Iran. Pangkalan Amerika telah dibangun di Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kuwait, Arab Saudi, Qatar dan Emirat Arab, sehingga mengepung Iran dari segala penjuru. Pangkalan militer Amerika hanya belum ada di Iraq dan Afghanistan, tetapi hari ini pasukan Amerika telah menempatkan pangkalannya di Afghanistan dan Iraq. Iran telah terkepung dari segala penjuru. Bulan lalu Amerika menempatkan beberapa kapal induk di teluk Persia, sebuah manuver yang rutin ketika hendak memulai serangan ke sebuah negara. Tetapi serangan ke Iran masih spekulasi, melihat Iran sebagai anak baik hanya sedang emosi.

Program Nuklir Iran

Iran berhasil memiliki proyek pengembangan nuklir, namun nuklir menjadi amat berbahaya ketika berada di tangan penganut madzhab Syi’ah yang memiliki keyakinan-keyakinan “menakutkan” seperti diulas di atas. dalam dunia internasional, senjata nuklir lebih memiliki fungsi bargaining bagi sebuah negara, artinya sangat jarang digunakan dalam perang terbuka. senjata nuklir yang dimiliki menjadi ancaman bagi negara sekitar. Kebetulan negara di sekitar Iran adalah negara-negara Sunni. Ditambah lagi sikap Iran yang tidak kooperatif terhadap inspeksi yang dilakukan badan atom dunia, semakin memperbesar kecurigaan dunia terhadap proyek nuklir Iran yang katanya bertujuan damai. Apakah kali ini pemerintah Iran bertaqiyyah? Melihat ancaman bagi yang meninggalkan taqiyah di atas, tentunya pemerintah Iran tidak ingin terkena laknat akibat meninggalkan taqiyah. Maka dapat dikatakan bahwa Iran sedang “mentaqiyyahi” dunia. Amat wajar jika negara-negara arab amat gelisah ketika Iran mengembangkan nuklir.

Kaum Muslimin dunia hendaknya tidak jatuh dua kali dalam lubang yang sama, sejarah membuktikan betapa mengerikan pengkhianatan kelompok ini kepada kalangan yang sangat di hormati oleh kaum muslimin sendiri. Menyikapi pertikaian Iran- Amerika memang dilema, yang jelas bukan berarti tidak mendukung Iran adalah membantu Amerika, berlepas diri dari keduanya dan memberikan dukungan pada perjuangan Mujahidin di Iraq dan Afghanistan yang jelas jelas memperjuang Islam mungkin menjadi alternative terbaik. Wallahu a’lam. [arhmh/syiahindonesia.com].

0 comments: