Breaking News
Loading...

Pernyataan Prof. Dr. Hassan Rahimpour Azghadi, Anggota Dewan Kebudayaan Iran yang mengatakan bahwa negerinya mengambil titik sentral dalam perjuangan Palestina melawn Zionis-Israel mendapat bantahan dari peneliti Syiah, Prof. Dr. Mohammad Baharun, SH,MA.

“Mana militer Iran dan Hizbullah ketika terjadi pembantaian di Sabra Satila? Mereka diam saja karena korbannya adalah Sunni. Padahal saat itu Iran sudah dipimpin Khomeini,” katanya kepada hidayatullah.com, Rabu siang (11/07/2012).

Tidak saja bantuan militer, bantuan secara ekonomi pun juga dipertanyakan Prof. Baharun. Menurutnya, selama ini propaganda Iran lebih kepada retorika.

“Mana rumah sakit dan bantuan ekonomi dari Iran? Indonesia itu tidak perlu banyak bicara, tapi membangun Rumah Sakit di Palestina,” tandas Rektor Universitas Nasional Pasim Bandung ini.

Faktor dari semua ini memang tidak lain berangkat dari kepercayaan Syiah itu sendiri. Bagi Syiah, Sunni adalah kelompok yang dianggap berbahaya. Dengan begitu pernyataan bahwa Iran membantu Suriah semata-semata demi kepentingan masyarakat Suriah tidak masuk secara logika.

“Masyarakat Suriah itu Sunni, apa mungkin Syiah mau membantu korban Sunni? Padahal bagi Syiah, Sunni dianggap lebih bahaya dari Yahudi,” tandasnya yang juga membeberkan fakta bahwa selama ini Pemerintahan Suriah (Syiah Alawi) intens menjalin hubungan dengan Iran.

Ia menambahkan, dalam kepentingan politiknya, Iran akan selalu mendahulukan kepentingan Syiah. Menurutnya, adalah tidak mungkin Iran mau mengenyampingkan faktor Sunni dan Syiah dalam tiap kebijakannya.

“Buktinya ‘syianisasi’ di Indonesia terus berjalan. Caci maki terhadap sahabat dan istri nabi terus dilakukan,” tegasnya.

Baharun memang tidak memungkiri bahwa dunia Arab belum juga bersatu dalam perjuangan kemerdekaan Palestina, “Tapi bukan berarti negara Iran lebih baik,” tandasnya.

Oleh karena itu,ia menghimbau agar Umat Islam jangan mau lagi menjadi korban kebohongan opini Iran. “Hanya orang bodoh yang mau dibohongi terus menerus,” ujarnya.*[hdy].

0 comments: