Breaking News
Loading...

Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya, tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?

Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni-Syi’ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut Sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut Syi’ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar’i kebenaran madzhab Syi’ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.

Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon adzab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara madzhab Fauzan dan madzhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing madzhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang madzhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.

Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al-Ma’arij.

Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan Syi’ah, ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk Syi’ah yang menerangkan hakekat madzhabnya, maka mereka segera menasehati lawan dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas, serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara Sunni dan Syi’ah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum Yahudi. Padahal nukilan tadi jelas-jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman Syi’ah. Akhirnya Sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban kawan Syi’ah tadi. Padahal belum tentu kawan Syi’ah tadi sudah pernah melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab literatur induk Syi’ah yang memuat salah satu “pusaka” yang harus diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran Ahlul Bait, seperti kitab Al-kafi, Biharul Anwar, Al-Istibshar dan Tahzibul Ahkam tidak bisa ditemukan dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah yang mudah didapat. Jika memang kita harus mengikuti Ahlul Bait, mengapa kitab-kitab yang memuat riwayat-riwayat Ahlul Bait tidak diterjemahkan supaya diketahui kaum muslimin secara luas?

Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bukannya dari kitab Syi’ah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat Ahlus Sunnah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir Ahlus Sunnah.

Menurut riwayat yang dibaca oleh kang Jalal, bahwa sebab turunnya surat Al-Ma’arij yang ayat pertamanya berbunyi: “Sa’ala saa’ilun bi azaabin waaqi’,” artinya seorang telah meminta adzab yang pasti akan menimpanya, orang itu adalah Nu’man bin Harits Al-Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi bersabda kepada Ali bahwa: “Barang siapa aku (Nabi) menjadi walinya, maka Ali harus menjadi walinya” langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya, lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits berpaling sambil mengucapkan doa: “ya Allah jika memang ucapan Muhammad adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah siksa yang pedih kepadaku”. Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Ma’arij.

Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:

Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
 Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan Ali.
 Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
 Apakah Ahlus Sunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya “ya”.
 Menurut riwayat ini surat Al Ma’arij adalah madaniyah, yaitu turun setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah haji wada’.
 Riwayat ini adalah dari sumber Ahlus Sunnah, jadi dianggap pendapat Ahlus Sunnah. Seolah Al-Qurtubi dan Ahlus Sunnah berpendapat seperti itu.
 Pendapat Ahlus Sunnah yang tidak sesuai dengan Syi’ah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.
 Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang Syi’ah pada setiap sunni yang ingin menghujat Syi’ah dengan nukilan dari literatur Syi’ah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.

Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat ma’arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al Ma’arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul ma’aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang “menggerakkan” pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin Ahlus Sunnah sepakat bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya. Madaniyyatun fi qaulil jami’, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an Ibni Abbas. Sementara dalam surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah, illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.

Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma’arij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah.

Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa… Kita tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu “cendikiawan” muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak, menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun “tergerakkan” ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.

Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini (ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau siksalah kami dengan siksa yang pedih”. Perkataan ini dikisahkan Allah pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh setelah perang badar. Imam Bukhari menerangkan bahwa yang mengatakan adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian. Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Ma’arij turun di mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami Syi’ah sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada’, di ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.

Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa Ghadir Khum tercantum dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah, di antaranya adalah shahih muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada’. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Nu’man Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah. Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada’, Nabi tidak pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada’. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.

Kang Jalal memang aktif menulis buku, salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah “promosi” bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda ketahui bahwa kang Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan do’a dan diikuti oleh murid-murid lainnya:

Ya Allah,
 Sehatkan tubuhku
 Cerdaskan otakku
 Bersihkan hatiku
 Indahkan akhlaqku

Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang.

Untuk melihat bukti lengkap, silahkan download artikel Akhlak Jalaludin Rahmat klik di sini.

[hakekat/syiahindonesia.com].Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya, tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?

Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni-Syi’ah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut Sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut Syi’ah yang akan memaparkan dalil-dalil syar’i kebenaran madzhab Syi’ah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.

Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon adzab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara madzhab Fauzan dan madzhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing madzhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang madzhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.

Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al-Ma’arij.

Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan Syi’ah, ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk Syi’ah yang menerangkan hakekat madzhabnya, maka mereka segera menasehati lawan dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas, serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk memecah belah ummat, mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara Sunni dan Syi’ah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum Yahudi. Padahal nukilan tadi jelas-jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman Syi’ah. Akhirnya Sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban kawan Syi’ah tadi. Padahal belum tentu kawan Syi’ah tadi sudah pernah melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab literatur induk Syi’ah yang memuat salah satu “pusaka” yang harus diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran Ahlul Bait, seperti kitab Al-kafi, Biharul Anwar, Al-Istibshar dan Tahzibul Ahkam tidak bisa ditemukan dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah yang mudah didapat. Jika memang kita harus mengikuti Ahlul Bait, mengapa kitab-kitab yang memuat riwayat-riwayat Ahlul Bait tidak diterjemahkan supaya diketahui kaum muslimin secara luas?

Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bukannya dari kitab Syi’ah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat Ahlus Sunnah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir Ahlus Sunnah.

Menurut riwayat yang dibaca oleh kang Jalal, bahwa sebab turunnya surat Al-Ma’arij yang ayat pertamanya berbunyi: “Sa’ala saa’ilun bi azaabin waaqi’,” artinya seorang telah meminta adzab yang pasti akan menimpanya, orang itu adalah Nu’man bin Harits Al-Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi bersabda kepada Ali bahwa: “Barang siapa aku (Nabi) menjadi walinya, maka Ali harus menjadi walinya” langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya, lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits berpaling sambil mengucapkan doa: “ya Allah jika memang ucapan Muhammad adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah siksa yang pedih kepadaku”. Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Ma’arij.

Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:

Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.
 Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan Ali.
 Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.
 Apakah Ahlus Sunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya “ya”.
 Menurut riwayat ini surat Al Ma’arij adalah madaniyah, yaitu turun setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah haji wada’.
 Riwayat ini adalah dari sumber Ahlus Sunnah, jadi dianggap pendapat Ahlus Sunnah. Seolah Al-Qurtubi dan Ahlus Sunnah berpendapat seperti itu.
 Pendapat Ahlus Sunnah yang tidak sesuai dengan Syi’ah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.
 Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu, alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang Syi’ah pada setiap sunni yang ingin menghujat Syi’ah dengan nukilan dari literatur Syi’ah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.

Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat ma’arij, imam Qurtubi menerangkan bahwa surat Al Ma’arij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul ma’aarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang “menggerakkan” pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin Ahlus Sunnah sepakat bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya. Madaniyyatun fi qaulil jami’, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an Ibni Abbas. Sementara dalam surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah, illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.

Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Ma’arij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Ma’arij turun di Makkah.

Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa… Kita tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu “cendikiawan” muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak, menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun “tergerakkan” ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.

Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini (ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau siksalah kami dengan siksa yang pedih”. Perkataan ini dikisahkan Allah pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh setelah perang badar. Imam Bukhari menerangkan bahwa yang mengatakan adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian. Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Ma’arij turun di mekkah sebelum hijrah. Sementara sabda Nabi yang difahami Syi’ah sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada’, di ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.

Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa Ghadir Khum tercantum dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah, di antaranya adalah shahih muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum sepulang dari haji wada’. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Nu’man Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah. Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada’, Nabi tidak pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada’. Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.

Kang Jalal memang aktif menulis buku, salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah “promosi” bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda ketahui bahwa kang Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan do’a dan diikuti oleh murid-murid lainnya:

Ya Allah,
 Sehatkan tubuhku
 Cerdaskan otakku
 Bersihkan hatiku
 Indahkan akhlaqku

Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq terpuji. Ironis memang.

Untuk melihat bukti lengkap, silahkan download artikel Akhlak Jalaludin Rahmat klik di sini.

[hakekat/syiahindonesia.com].

0 comments: