Syiahindonesia.com - Karya monumental Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah (701–774 H), yaitu Tafsir al-Qur'an al-'Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), merupakan salah satu rujukan utama dalam khazanah tafsir bil-ma'tsur di dunia Islam. Keunggulan tafsir ini terletak pada ketatnya pemaduan antara ayat Al-Qur'an, hadis-hadis shahih, serta riwayat-riwayat asli dari para Sahabat dan Tabi'in.
Namun, karena posisi Tafsir Ibnu Katsir yang sangat populer dan dipercaya oleh mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah), para propagandis dan ulama Syiah melakukan berbagai upaya manipulasi, pemotongan (tahrif), dan pemalsuan kutipan terhadap kitab tersebut. Langkah ini dilakukan demi menciptakan kesan seolah-olah pakar tafsir Ahlus Sunnah sendiri mengakui doktrin-doktrin Syiah, seperti Imamah, keutamaan eksklusif Ahlul Bait, hingga klaim penunjukan Sayyidina Ali di Ghadir Khum.
Berikut adalah pilar-pilar pemalsuan dan manipulasi yang sering dilakukan kelompok Syiah terhadap Tafsir Ibnu Katsir:
1. Metode Kutipan Terpotong (Tadlis) pada Ayat Wilayah (QS. Al-Ma'idah: 55)
Salah satu ayat yang sering dieksploitasi oleh Syiah adalah firman Allah SWT:
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (ruku')." (QS. Al-Ma'idah: 55)
Bentuk Pemalsuan Syiah:
Da'i-da'i Syiah sering mengutip bagian awal penjelasan Ibnu Katsir untuk mengklaim bahwa ayat ini turun khusus berkenaan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang memberikan cincinnya saat ruku', sehingga dijadikan dalil kewajiban Wilayah/Imamah.
Hakikat Otentik Tafsir Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir memang mencantumkan riwayat-riwayat tersebut dalam tafsirnya sebagai bentuk amanah keilmuan dalam merekam riwayat yang beredar. Namun, propagandis Syiah secara sengaja memotong kesimpulan kritis Ibnu Katsir di akhir pembahasan ayat tersebut:
“Tidak ada satu pun dari riwayat-riwayat ini yang shahih sama sekali, karena lemahnya sanad-sanadnya dan ketidakjelasan para perawinya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/138)
Ibnu Katsir menegaskan bahwa ayat tersebut bersifat umum untuk seluruh mukmin yang taat, bukan dalil penetapan kekhalifahan khusus.
2. Manipulasi Tafsir Ayat Tat-hir (QS. Al-Ahzab: 33)
Syiah menggunakan Surah Al-Ahzab ayat 33 (Ayat Tat-hir) untuk melegitimasi doktrin kemaksuman (Ismah) lima anggota keluarga Nabi (Ahl al-Kisa': Nabi SAW, Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain) serta mengeluarkan istri-istri Nabi dari kriteria Ahlul Bait.
Bentuk Pemalsuan Syiah:
Para penulis Syiah mengutip hadis Kisa' yang dicantumkan Ibnu Katsir, lalu mempropagandakan seolah-olah Ibnu Katsir membatasi pengertian Ahlul Bait hanya pada Ahl al-Kisa'.
Hakikat Otentik Tafsir Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir secara tegas membantah pembatasan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa konteks ayat (Siyaq al-Ayaat) sebelum dan sesudahnya ditujukan langsung kepada istri-istri Nabi SAW. Ibnu Katsir menegaskan:
Istri-istri Rasulullah SAW adalah sebab utama turunnya ayat ini (Sabab An-Nuzul), sehingga tidak mungkin dikeluarkan dari cakupan Ahlul Bait.
Masuknya Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain dalam doa Nabi SAW pada hadis Kisa' adalah bentuk perluasan cakupan (Ilhaq) kemuliaan doa, bukan pengeluaran istri-istri Nabi dari Ahlul Bait.
3. Pemelintiran Tafsir Ayat Tabligh (QS. Al-Ma'idah: 67)
Mengenai perintah menyampaikan wahyu dalam Surah Al-Ma'idah ayat 67, propagandis Syiah sering mencatut nama Ibnu Katsir untuk mendukung klaim bahwa ayat ini turun di Ghadir Khum sebagai perintah mewasiatkan kepemimpinan Sayyidina Ali.
Hakikat Otentik Tafsir Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir membongkar kepalsuan klaim ini dengan memaparkan fakta sejarah dan sanad riwayat:
Ayat ini diturunkan di Makkah atau pada masa-masa awal Madinah untuk menegaskan kewajiban Nabi SAW menyampaikan seluruh risalah tanpa takut kepada ancaman manusia.
Ibnu Katsir mencantumkan riwayat-riwayat yang mengaitkan ayat ini dengan peristiwa Ghadir Khum hanya untuk mengujinya, kemudian beliau menetapkan bahwa riwayat-riwayat pengaitan tersebut adalah munkar dan tidak otentik.
4. Menyusupkan Riwayat Maudhu' atas Nama Ibnu Katsir
Dalam beberapa terbitan atau terjemahan yang disusupi di kawasan Melayu/Indonesia, kerap ditemukan teknik penyuntingan jahat (Tahrif):
Pengutipan Selektif: Mengutip riwayat-riwayat lemah (Dha'if) atau palsu (Maudhu') yang disebut oleh Ibnu Katsir, namun menghapus komentar beliau yang melemahkannya.
Pemalsuan Matan: Menambahkan frasa-frasa pendukung ajaran Syiah dalam terjemahan kutipan seolah-olah itu adalah tulisan asli Al-Hafizh Ibnu Katsir.
Kesimpulan
Tindakan pemalsuan, pengutipan مبتورة (terpotong), dan penafsiran manipulatif terhadap kitab Tafsir Ibnu Katsir merupakan bukti kerapuhan dalil-dalil teologi Syiah. Mereka terpaksa mendistorsi karya-karya ulama terkemuka Ahlus Sunnah demi mencari legitimasi semu bagi doktrin Imamah dan kebencian sektarian mereka.
Ahlus Sunnah wal Jamaah diimbau untuk selalu teliti, merujuk langsung kepada kitab-kitab induk berilmu tinggi dengan cetakan yang mu'tabar (tahqiq yang teruji), serta membaca penjelasannya secara utuh agar terhindar dari tipu daya dan manipulasi keilmuan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: