Syiahindonesia.com - Dalam tradisi keilmuan Islam, hadis atau sunnah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam merupakan sumber hukum dan petunjuk hidup kedua setelah Al-Qur'an. Kebersihan dan keotentikan sanad (rantai perawi) serta matan (teks riwayat) menjadi perhatian utama para ulama sepanjang zaman demi menjaga syariat dari pemalsuan dan penyimpangan. Namun, dalam sejarah perkembangan firkah-firkah dalam Islam, kelompok Syiah—khususnya kelompok Rafidhah atau Imamiyyah Ithna Asyariyah—mencatatkan rekam jejak yang sangat kelam terkait pembuatan dan penyebaran riwayat-riwayat palsu yang diatasnamakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Kedustaan atas nama Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam tradisi Syiah bukan sekadar kebetulan atau kesalahan individu perawi, melainkan telah terstruktur secara teologis demi menopang doktrin-doktrin utama mereka, seperti imamah (kepemimpinan mutlak 12 imam), ismah (kesucian imam dari dosa), taqiyyah (menyembunyikan keyakinan/berdusta atas nama agama), serta vonis kafir (takfir) terhadap para sahabat Nabi.
Kebencian Terhadap Sahabat dan Konsekuensi Pemalsuan Riwayat
Ahlus Sunnah wal Jama'ah meyakini bahwa seluruh sahabat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah generasi terbaik yang bersifat adil (kulluhum 'udul) dalam menyampaikan risalah Islam. Penilaian ini berlandaskan pujian eksplisit dari Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an dan persaksian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Sebaliknya, doktrin dasar Syiah menetapkan bahwa mayoritas sahabat Nabi telah murtad dan mengkhianati Islam setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, hanya karena tidak menyerahkan kekhalifahan kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu. Dampak metodologis dari pandangan ekstrem ini sangat fatal: Syiah menolak seluruh jalur periwayatan hadis dari para sahabat utama seperti Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin al-Khattab, Utsman bin Affan, Aisyah binti Abi Bakar, Abu Hurairah, dan ribuan sahabat lainnya.
Dengan terputusnya akses mereka terhadap khazanah riwayat shahih yang diriwayatkan oleh para sahabat, kelompok Syiah mengalami krisis otoritas dalil. Untuk mengisi kekosongan hukum dan membenarkan doktrin sektarian mereka, para ulama dan tokoh Syiah mulai merekayasa sanad dan memalsukan matan riwayat dengan mengatasnamakan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para imam dari kalangan Ahlul Bait.
Tradisi Taqiyyah sebagai Legitimasi Kedustaan
Salah satu faktor utama yang menyuburkan praktik kedustaan dalam literatur Syiah adalah doktrin taqiyyah. Dalam pandangan Syiah Imamiyyah, taqiyyah bukan sekadar ikhtiar menyelamatkan diri saat terancam nyawa, melainkan sebuah kewajiban agama yang bernilai pahala sangat tinggi.
Dalam kitab induk Syiah yang paling otoritatif, Al-Kafi karya Al-Kulaini, tertulis riwayat-riwayat palsu yang mereka nisbatkan kepada Imam Ja'far ash-Shadiq, seperti klaim bahwa taqiyyah adalah sembilan persepuluh dari agama, dan barangsiapa yang tidak bertaqiyyah maka ia tidak memiliki agama.
Penerapan doktrin taqiyyah ini menghancurkan standar kejujuran ilmiah. Ketika seorang ulama atau perawi Syiah tertangkap basah menyampaikan dua riwayat yang saling bertentangan secara ekstrem, mereka dengan mudah berdalih bahwa salah satu riwayat disampaikan dalam rangka taqiyyah. Akibatnya, dalam kitab-kitab perawi Syiah, kedustaan tidak lagi dianggap sebagai celaan moral yang menggugurkan keabsahan riwayat, melainkan strategi keagamaan yang sah.
Pengakuan Ulama Salaf tentang Kedustaan Syiah
Para ulama salaf dari generasi tabiin dan tabi'ut tabiin yang hidup berdampingan langsung dengan kemunculan kelompok Syiah Rafidhah telah memberikan persaksian dan peringatan keras mengenai kebiasaan mereka memalsukan hadis.
Imam asy-Syafii rahimahullah pernah menegaskan tingkat kedustaan kelompok ini dengan perkataan beliau yang sangat terkenal:
لَمْ أَرَ أَهْوَا أَقْوَمَ بِالشَّهَادَةِ الزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku belum pernah melihat satu kelompok pun yang mengekor hawa nafsu yang lebih berani bersaksi palsu melebihi kelompok Rafidhah (Syiah).” (HR. Al-Lalaka'i dalam Sharh Ushul I'tiqad Ahl as-Sunnah)
Hal senada juga disampaikan oleh Imam Amirul Mu'minin fil Hadits, Yahya bin Ma'in rahimahullah, serta Imam Malik bin Anas rahimahullah yang melarang umat Islam untuk mencatat riwayat atau belajar dari kelompok Rafidhah karena mereka terang-terangan berdusta atas nama Nabi dan para sahabatnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sendiri telah memberikan ancaman yang sangat keras bagi barangsiapa yang mengada-adakan kedustaan atas nama beliau:
إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap-siap mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bentuk-Bentuk Kedustaan Syiah dalam Kitab Riwayat Mereka
Jika meneliti kitab-kitab induk riwayat Syiah seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini, Man La Yahdhuruhu al-Faqih karya Asy-Syaikh as-Saduq, Tahdhib al-Ahkam dan Al-Istibshar karya At-Tusi, akan ditemukan ribuan matan palsu yang secara rasional dan syar'i bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah shahihah.
1. Pemalsuan Riwayat Kekafirannya Para Sahabat
Kelompok Syiah menciptakan riwayat-riwayat palsu yang mengklaim bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memvonis murtad para sahabat setelah beliau wafat, kecuali tiga atau tujuh orang saja (seperti Salman al-Farisi, Abu Dharr al-Ghifari, dan Miqdad bin al-Aswad). Riwayat mendistorsi ini sengaja dibuat untuk meruntuhkan kepercayaan umat Islam terhadap seluruh ajaran agama yang ditransmisikan melalui jalur para sahabat.
2. Kedustaan Mengenai Keutamaan Eksklusif para Imam
Mereka memalsukan hadis-hadis yang menyifati para imam dengan sifat-sifat ketuhanan (rububiyyah) dan kenabian (nubuwwah). Misalnya, riwayat yang mengklaim bahwa para imam mengetahui hal ghaib, mengetahui kapan mereka akan mati, serta mengontrol setiap atom di alam semesta. Kedustaan ini jelas-jelas merusak konsep tauhid dan menyejajarkan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
3. Pemalsuan Amalan dan Syariat Bida'ah
Banyak ritual ibadah Syiah yang menyimpang—seperti nikah mut'ah (nikah kontrak), menepuk dada dan melukai diri pada hari Asyura, hingga tata cara salat yang berbeda—dilegitimasi melalui riwayat-riwayat palsu yang diklaim bersumber dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Pentingnya Mengkritisi Literatur Syiah di Era Modern
Di era informasi digital saat ini, riwayat-riwayat palsu buatan kelompok Syiah sering kali dikemas ulang dan disebarkan melalui media sosial, artikel internet, serta buku-buku populer. Propaganda ini kerap menggunakan narasi yang memikat, seperti "kecintaan kepada Ahlul Bait" atau "penelusuran sejarah yang objektif", untuk mengelabui umat Islam yang awam terhadap ilmu hadis.
Tanpa pemahaman yang memadai mengenai ilmu Musthalah Hadits dan kriteria kesahihan riwayat, seorang muslim dapat dengan mudah terkecoh oleh narasi-narasi palsu yang merusak akidah tersebut. Oleh karena itu, membentengi umat dari bahaya riwayat palsu Syiah merupakan bagian dari upaya menjaga kemurnian sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Langkah-langkah konkrit yang harus dilakukan untuk menghadapi penyebaran riwayat sesat ini meliputi:
Mengembalikan Rujukan kepada Kitab Hadis Mu'tabar: Umat Islam harus dibiasakan untuk meyakini dan merujuk hadis-hadis yang diriwayatkan oleh para imam hadis Ahlus Sunnah yang diakui keilmuannya, seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibn Majah.
Edukasi Mufasir dan Pengajar Agama: Para dai dan guru agama perlu dibekali dengan pemahaman mendalam tentang sejarah pemalsuan hadis oleh firkah-firkah sesat, khususnya Syiah Rafidhah.
Penguatan Kritisisme Sanad: Mengajarkan kepada masyarakat pentingnya menguji keabsahan sebuah riwayat (tatsabbut) sebelum menyebarkannya, sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوۡمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصۡبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)
Menjaga Sunnah Nabi dari kedustaan riwayat kelompok Syiah adalah jihad ilmiah yang sangat agung. Dengan terus membongkar kepalsuan riwayat-riwayat sektarian tersebut, akidah umat Islam di Indonesia akan tetap terjaga di atas landasan Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih sesuai pemahaman para sahabat.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: