Breaking News
Loading...

Syiah dan Fitnah terhadap Imam Malik


Syiahindonesia.com
- Imam Malik bin Anas rahimahullah (93–179 H) merupakan salah satu dari empat imam mazhab utama dalam fikih Ahlussunnah wal Jama'ah. Pendiri Mazhab Maliki dan penyusun kitab hadis legendaris Al-Muwatta' ini digelari sebagai Imam Daril Hijrah (Imam Kota Madinah). Ketegasan beliau dalam menjaga Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam serta sikap kritisnya terhadap kelompok-kelompok penganut hawa nafsu menjadikan sosok beliau sebagai benteng kokoh akidah Islam.

Namun, di dalam literatur dan narasi pemikiran Syiah—khususnya kelompok Rafidhah—Imam Malik tidak luput dari serangan fitnah, pencemaran nama baik, dan manipulasi sejarah. Penganut Syiah berupaya meruntuhkan kredibilitas Imam Malik karena fatwa-fatwa tegas beliau yang membongkar kebohongan doktrin Syiah, terutama tuduhan mereka terhadap para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum. Mengungkap kebenaran di balik fitnah Syiah terhadap Imam Malik merupakan langkah penting untuk membentengi akidah umat Islam dari penyesatan sejarah.

Kedudukan Imam Malik dalam Menghadapi Kelompok Syiah

Sebagai ulama besar Madinah, Imam Malik menyaksikan secara langsung perkembangan berbagai sekte yang mencoba menyusupkan pemikiran asing ke dalam ajaran Islam. Beliau dikenal sangat keras dan tegas terhadap kelompok Rafidhah (Syiah).

Sikap tegas Imam Malik terhadap Syiah didasari oleh prinsip menjaga kehormatan para sahabat Nabi radhiyallahu 'anhum. Ketika ditanya mengenai penganut Syiah Rafidhah, Imam Malik memberikan pernyataan tegas yang dicatat dalam kitab-kitab sejarah terpercaya:

"Janganlah engkau berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan (hadis) dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu selalu berdusta." (Diriwayatkan oleh Ibnu Batah dalam Al-Ibanah al-Kubra)

Imam Malik juga melandaskan hukum atas pencela sahabat Nabi dengan merujuk pada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surah Al-Fath ayat 29:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ... لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلْكُفَّارَ

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka... (demikianlah sifat-sifat mereka) untuk membuat orang-orang kafir merasa jengkel kepada mereka..."

Imam Malik menegaskan bahwa siapa pun yang merasa jengkel, benci, atau mencela para sahabat Nabi, maka ia terkena ancaman ayat ini.

Bentuk Fitnah dan Manipulasi Syiah terhadap Imam Malik

Ketegasan Imam Malik membuat para pengusung ajaran Syiah melancarkan berbagai tuduhan dan manipulasi untuk mendiskreditkan serta mengklaim beliau secara sepihak:

1. Dituduh Membenci dan Menganaktirkan Ahlul Bait

Literatur Syiah sering membingkai Imam Malik sebagai figur yang memusuhi Ahlul Bait (Nawashib). Mereka mengklaim bahwa Imam Malik sengaja mengabaikan riwayat-riwayat dari jalur keturunan Nabi dalam kitab Al-Muwatta'.

Bantahan: Tuduhan ini adalah kebohongan nyata. Imam Malik memiliki hubungan yang sangat erat dan penuh rasa hormat dengan para ulama Ahlul Bait pada zamannya. Beliau berguru dan meriwayatkan banyak hadis dari Imam Ja'far Ash-Shadiq rahimahullah serta Muhammad al-Baqir rahimahullah. Dalam Al-Muwatta', riwayat dari jalur Ja'far Ash-Shadiq dari ayahnya menjadi salah satu sanad emas yang paling diagungkan oleh Imam Malik.

2. Klaim Palsu Bahwa Imam Malik Mendukung Paham Syiah

Di sisi lain, sebagian propaganda Syiah mencoba melakukan pencatutan figur (claim) dengan mengandalkan dukungan Imam Malik terhadap pemberontakan Muhammad bin Abdillah (An-Nafs az-Zakiyyah) pada masa Abbasiyah. Mereka mengklaim tindakan ini sebagai bukti bahwa Imam Malik mendukung doktrin Imamah Syiah.

Bantahan: Ijtihad politik Imam Malik saat itu murni terkait fatwa sah tidaknya baiat yang dipaksakan (bai'at al-mukrah), bukan bentuk pengakuan terhadap ajaran Syiah. Imam Malik tetap berada di atas akidah Ahlussunnah yang memuliakan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu 'anhum.

3. Tuduhan Memalsukan Fikih untuk Kepentingan Penguasa

Propaganda Syiah kerap menggambarkan para imam mazhab Ahlussunnah, termasuk Imam Malik, sebagai "ulama istana" (ulama as-sulthan) yang menyusun hukum fikih demi memenuhi keinginan penguasa Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah.

Bantahan: Sejarah mencatat bahwa Imam Malik adalah sosok yang sangat independen. Beliau bahkan pernah dihukum cambuk oleh gubernur Madinah hingga tulang bahunya bergeser karena mempertahankan fatwanya yang tidak sejalan dengan kehendak penguasa. Beliau juga menolak permintaan Khalifah Al-Mansur untuk menjadikan kitab Al-Muwatta' sebagai satu-satunya hukum wajib bagi seluruh wilayah kekhalifahan demi menghormati keragaman ijtihad para sahabat di berbagai daerah.

Perbandingan Sikap: Imam Malik vs Doktrin Syiah

Tabel berikut menunjukkan perbedaan mendasar antara sikap keilmuan Imam Malik dengan ajaran Syiah:

ParameterImam Malik (Ahlussunnah)Doktrin Syiah (Rafidhah)
Sikap terhadap Sahabat NabiWajib mencintai seluruh sahabat; mengharamkan pencelaan terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman.Mengkafirkan dan mencela mayoritas sahabat karena dituduh merampas hak Ali.
Penerimaan Riwayat HadisMenolak tegas riwayat dari kelompok Rafidhah karena kebiasaan mereka berdusta.Mengandalkan riwayat buatan (maudhu') yang disandarkan secara palsu kepada Ahlul Bait.
Metodologi FikihBerpatokan pada Al-Qur'an, Sunnah, Amal Ahlil Madinah, Ijma', dan Qiyas.Berpatokan pada ucapan imam-imam yang dianggap ma'shum (bebas dosa dan salah).
Penilaian Keadilan PerawiKetat dan objektif dalam menyaring perawi hadis dari segala bentuk bid'ah.Haya menerima perawi yang mendukung paham Imamah dan Syiah.

Bahaya Narasi Pembunuhan Karakter Ulama oleh Syiah

Upaya Syiah dalam merusak citra Imam Malik dan para imam mazhab lainnya memiliki tujuan strategis yang membahayakan tatanan keislaman:

  1. Memutus Mata Rantai Keilmuan Islam: Jika para imam pendiri mazhab berhasil dicitrakan buruk atau tidak valid, maka seluruh bangunan fikih dan hukum Islam yang dianut mayoritas kaum muslimin akan runtuh.

  2. Menyebarkan Kebencian kepada Generasi Salaf: Narasi Syiah mengarahkan umat untuk meragukan keagungan para ulama klasik yang telah mengandalkan hidupnya untuk menjaga keaslian Al-Qur'an dan As-Sunnah.

  3. Penyusupan Paham Sesat di Indonesia: Di tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas berakidah Ahlussunnah, narasi fitnah terhadap ulama digunakan untuk menggoyahkan pemahaman keagamaan masyarakat secara halus.

Kesimpulan

Fitnah dan serangan penganut Syiah terhadap Imam Malik bin Anas rahimahullah merupakan bentuk keputusasaan mereka dalam menghadapi keteguhan ulama Ahlussunnah. Imam Malik tidak pernah memusuhi Ahlul Bait; sebaliknya, beliau sangat memuliakan keturunan Nabi yang istiqamah sembari tetap membela kehormatan para sahabat. Ketegasan Imam Malik dalam menyingkap kebohongan Syiah menjadi warisan ilmu yang sangat berharga. Umat Islam di Indonesia wajib mempelajari sejarah para ulama secara otentik, memegang teguh fikih dan akidah Ahlussunnah, serta mewaspadai segala bentuk propaganda yang merusak kehormatan para ulama Salaf.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: