Syiahindonesia.com - Tawassul secara bahasa dan istilah syariat adalah mengambil wasilah (sarana atau perantara) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT guna meraih keridaan dan pengabulan doa. Dalam ajaran Islam murni, tawassul yang disyariatkan berpusat pada tauhid—seperti bertawassul dengan asma dan sifat Allah, dengan amal saleh, atau melalui doa dari orang saleh yang masih hidup.
Namun, di tangan sekte Syiah (khususnya Imamiya/Rafidhah), konsep tawassul mengalami pergeseran ekstrem dari sarana mendekatkan diri kepada Allah menjadi praktik Istighatsah Syirkiyyah (memohon bantuan langsung kepada makhluk). Pengkultusan berlebihan (ghuluw) terhadap 12 Imam membuat mereka menjajakan doa dan permohonan yang seharusnya murni ditujukan kepada Allah SWT justru dialihkan kepada para imam yang telah meninggal dunia. Artikel ini akan membedah secara ilmiah penyimpangan teologis sekte Syiah dalam memahami dan mempraktikkan tawassul.
1. Pergeseran Makna Tawassul Menjadi Istighatsah kepada Selain Allah
Kesalahan metodologis utama sekte Syiah adalah menyamakan antara tawassul (menjadikan seseorang/keberkahan sebagai perantara doa kepada Allah) dengan istighatsah (memanggil dan memohon perlindungan/rezeki secara langsung kepada sosok yang dipanggil).
Praktik Riil dalam Ajaran Syiah:
Dalam doa-doa populer Syiah yang diajarkan para mulla—seperti Dua 'Tawassul' atau bacaan Ziyarah Jami'ah Kabirah—pengikut Syiah tidak lagi berdoa "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan keberkahan/derajat Imam Ali...", melainkan secara terbuka memanggil dan memohon langsung kepada para imam:
"Ya Ali, adrikni!" (Wahai Ali, tolonglah/selamatkanlah aku!)
"Ya Aba Saleh, aghitsni!" (Wahai Imam Mahdi, bantulah aku!)
"Wahai wali Allah, sesungguhnya kami menghadap kepadamu, meminta syafaat kepadamu, dan menjagamu sebagai perantara hajat-hajat kami..."
Secara kaidah akidah, memohon perlindungan, pengampunan dosa, pertolongan dari musibah, dan kemudahan rezeki kepada orang yang sudah meninggal—meskipun ia seorang Nabi atau Imam—adalah perbuatan yang menodai tauhid Uluhiyyah.
2. Pelanggaran terhadap Prinsip Utama Al-Qur'an
Praktik permohonan langsung kepada para Imam yang diusung Syiah bertentangan secara frontal dengan puluhan ayat Al-Qur'an yang memerintahkan kaum Muslimin untuk berdoa murni hanya kepada Allah SWT tanpa perantara makhluk yang telah wafat.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu memohon/berdoa kepada selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu; jika kamu berbuat (demikian), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim (syirik).” (QS. Yunus: 106).
Allah juga menegaskan keterbatasan para hamba yang disembah atau dipanggil selain-Nya:
“...Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu...” (QS. Fathir: 13-14).
Menjadikan para Imam sebagai objek seruan dan permohonan dengan dalih "perantara" adalah pola pikir yang persis digunakan oleh kaum musyrikin Makkah zaman dahulu, sebagaimana dicatat dalam Al-Qur'an: "Kami tidak menyembah/berdoa kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." (QS. Az-Zumar: 3).
3. Mitos Kemampuan Mendengar dan Menguasai Alam (Kasyf & Ilm Ghaib)
Penyimpangan tawassul Syiah ditopang oleh keyakinan irasional bahwa para Imam memiliki pendengaran supranatural yang sanggup mendengar rintihan jutaan pengikutnya di seluruh dunia secara bersamaan, meskipun sang Imam telah berada di alam barzakh.
Kerancuan Teologis:
Menisbatkan Sifat Allah kepada Makhluk: Sifat Maha Mendengar seluruh bisikan hamba di mana pun berada (As-Sami') dan Maha Mengetahui hal gaib (Al-'Alim) adalah hak istimewa Allah SWT semata. Menisbatkan kemampuan ini kepada para Imam secara merata di setiap waktu dan tempat adalah bentuk perbuatan syirik dalam Asma wa Sifat.
Mengabaikan Alam Barzakh: Rasulullah SAW dan para keluarga beliau yang suci (Ahlul Bait) berada di alam Barzakh. Walaupun roh para nabi dan syuhada hidup di sisi Allah, mereka terpisah dari alam dunia dan tidak mengurus transaksi atau permohonan hajat manusia di bumi.
Tabel Komparasi: Hakikat Tawassul Syar'i vs Penyimpangan Sekte Syiah
Berikut adalah tabel analisis komparatif yang ringkas untuk membedakan antara tawassul yang sesuai dengan syariat Islam murni dengan penyimpangan yang dipraktikkan sekte Syiah:
| Parameter Tinjauan | Tawassul Syar'i (Ahlus Sunnah) | Penyimpangan Tawassul Sekte Syiah |
| Objek Tuju Doa | Murni ditujukan hanya kepada Allah SWT (Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in). | Ditujukan langsung kepada sosok Imam ("Ya Ali adrikni", "Ya Husain aghitsni"). |
| Wasilah (Sarana) yang Dipakai | Asmaul Husna, amal saleh diri sendiri, atau doa orang saleh yang masih hidup. | Memanggil roh para Imam yang telah meninggal dunia dan berada di alam barzakh. |
| Keyakinan terhadap Makhluk | Orang meninggal tidak dapat mendengar, memberi manfaat, atau menolak bahaya. | Menganggap Imam mendengar seruan dari mana saja dan menguasai urusan alam (Takwini). |
| Dampak pada Akidah | Memurnikan Tauhid dan mengikis ketergantungan pada selain Allah. | Mengarah pada perbuatan Istighatsah Syirkiyyah dan pengkultusan individu (Ghuluw). |
4. Teladan Otentik dari Ahlul Bait yang Dilanggar Syiah
Ironisnya, penyimpangan ini justru melanggar teladan nyata dari para Imam Ahlul Bait sendiri. Dalam rekam jejak sejarah yang tepercaya, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan, dan Husain selalu mengajarkan doa yang memintakan segala hajat secara langsung kepada Allah SWT tanpa melibatkan mantra panggilan kepada manusia.
Bahkan ketika terjadi paceklik pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab RA, Sayyidina Umar bertawassul dengan meminta paman Nabi yang masih hidup, yaitu Al-Abbas bin Abdul Mutthalib, untuk berdoa kepada Allah memohon hujan (HR. Bukhari). Umar dan para Sahabat—termasuk Sayyidina Ali—tidak pernah mendatangi kuburan Rasulullah SAW untuk meminta hujan secara langsung kepada jasad Nabi. Ini adalah bukti bahwa bertawassul dengan meminta doa kepada orang saleh hanya berlaku ketika orang tersebut masih hidup di dunia.
Kesimpulan
Penyimpangan konsep tawassul dalam ajaran Syiah adalah konsekuensi logis dari teologi pengkultusan (ghuluw) terhadap 12 Imam. Dengan mengubah tawassul menjadi istighatsah (memohon bantuan langsung kepada selain Allah), mereka telah keluar dari koridor tauhid yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW.
Bagi umat Islam di Indonesia, menjaga kemurnian tata cara berdoa dan memohon hajat adalah fondasi keselamatan aqidah. Mendoakan dan mencintai Ahlul Bait adalah kewajiban syar'i, namun memohon dan menguntungkan hajat hanya boleh dipersembahkan kepada Allah SWT semata—Sang Maha Mendengar lagi Maha Memperkenankan doa.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: