Breaking News
Loading...

Perbedaan Tajam antara Islam dan Syiah dalam Konsep Ibadah

Syiahindonesia.com – Ketika berbicara tentang perbedaan antara Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) dan Syiah, banyak orang yang mengira bahwa keretakan di antara keduanya hanya sebatas konflik politik masa lalu terkait siapa yang paling berhak memimpin umat setelah wafatnya Rasulullah SAW. Namun, asumsi tersebut keliru. Dalam perkembangannya, perbedaan tersebut telah merambah masuk ke dalam ranah fundamental agama, termasuk tata cara, prinsip, dan konsep ibadah sehari-hari.

Bagi umat Islam, ibadah harus tegak di atas dua syarat mutlak: ikhlas karena Allah SWT dan mengikuti contoh langsung (ittiba') dari Rasulullah SAW tanpa menambah atau mengurangi. Sementara itu, kelompok Syiah (khususnya Itsna Asyariyyah atau Dua Belas Imam) memiliki metodologi dan doktrin tersendiri yang membuat ritual ibadah mereka berbeda secara diametral dengan kaum Muslimin.

Berikut adalah perbedaan-perbedaan tajam dalam konsep dan praktik ibadah antara Islam dan Syiah yang dibongkar dari kitab-kitab rujukan utama kedua belah pihak:

1. Modifikasi dalam Ritual Shalat Fardhu

Shalat adalah tiang agama dan ibadah badaniyah yang paling utama. Rasulullah SAW telah bersabda dengan sangat tegas, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat" (HR. Bukhari). Namun, dalam fikih Syiah, terdapat beberapa modifikasi dan aturan yang menyelisihi tuntunan tersebut:

  • Menjamak Shalat Tanpa Sebab: Umat Islam disyariatkan untuk menjamak (menggabungkan) shalat (Zuhur dengan Ashar, Maghrib dengan Isya) hanya ketika ada uzur syar'i seperti safar (perjalanan jauh), hujan lebat, atau sakit. Sebaliknya, Syiah menjadikannya sebagai aturan baku sehari-hari. Mereka secara rutin menggabungkan lima waktu shalat menjadi tiga waktu saja (Subuh, Zuhur-Ashar di satu waktu, dan Maghrib-Isya di satu waktu) tanpa perlu adanya alasan atau kesulitan khusus.

  • Sujud di Atas Turbah (Tanah Karbala): Kaum Muslimin diperbolehkan sujud di atas permukaan bumi yang suci, baik itu tanah, karpet, maupun tikar. Namun, kaum Syiah mewajibkan atau mengutamakan sujud di atas benda padat alami yang tidak dipakai atau dimakan, dan mereka mengkultuskan batu cetakan tanah yang disebut Turbah. Tanah ini biasanya diambil dari Karbala (tempat syahidnya Imam Husain RA). Mereka meyakini sujud di atas batu Karbala ini memiliki keutamaan magis dan teologis yang jauh lebih tinggi.

  • Perubahan Lafaz Azan: Syiah menambahkan kalimat “Asyhadu anna 'Aliyan waliyullah” (Aku bersaksi bahwa Ali adalah kekasih Allah) dan “Hayya 'ala khairil 'amal” (Mari menuju sebaik-baik amal) ke dalam syiar azan mereka. Penambahan ini tidak pernah diajarkan maupun dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat.

  • Sikap Tangan Saat Berdiri (Sedekep): Dalam shalat Ahlus Sunnah, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada atau di bawah dada saat berdiri (sedekep) adalah sunnah yang kuat. Sementara itu, teologi Syiah mengharamkan hal tersebut (disebut takfir atau takattuf) dan menganggap shalatnya batal jika bersedekep, sehingga mereka shalat dengan tangan menjuntai lurus ke bawah (irsal).

2. Ziarah Makam para Imam Mengalahkan Ibadah Haji

Bagi umat Islam, ibadah haji ke Baitullah di Makkah al-Mukarramah adalah rukun Islam kelima yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Makkah, Madinah, dan Yerusalem (Al-Aqsa) adalah tiga tempat suci yang tidak ada tandingannya di muka bumi.

Penyimpangan Teologis Syiah: Dalam literatur Syiah, kedudukan Baitullah di Makkah digeser oleh pemuliaan ekstrem terhadap makam-makam para Imam mereka, khususnya makam Imam Husain di Karbala, Irak. Ulama-ulama besar Syiah menyusun bab khusus dalam kitab-kitab mereka yang menyatakan bahwa melakukan ritual ziarah ke makam Husain (Ziarah Asyura) memiliki pahala yang berlipat ganda melebihi ibadah haji murni.

Di dalam kitab Kamiluz Ziyarat karya Ibnu Qulawayh (salah satu kitab rujukan utama rincian ibadah Syiah), terdapat riwayat yang mengklaim bahwa berziarah ke makam Husain pada hari-hari tertentu pahalanya setara dengan puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali haji dan umrah yang diterima bersama Rasulullah SAW. Akibatnya, jutaan pengikut Syiah dari berbagai belahan dunia lebih memprioritaskan ritual Arba'een (long march ke Karbala) daripada berikhtiar menyempurnakan rukun Islam ke Makkah.

3. "Nikah Mut'ah" (Kawin Kontrak) sebagai Ibadah Pendulang Pahala

Salah satu perbedaan yang paling kontras dan merusak tatanan sosial adalah pandangan mengenai Nikah Mut'ah (pernikahan dengan batas waktu tertentu yang disepakati, tanpa talak dan tanpa hak waris, alias kawin kontrak).

  • Pandangan Islam: Rasulullah SAW memang sempat mengizinkan Nikah Mut'ah pada masa transisi jahiliyah dalam situasi perang yang sangat darurat. Namun, tak lama kemudian, Rasulullah SAW secara mutlak dan selamanya mengharamkan praktik ini hingga hari kiamat (sebagaimana tertera dalam hadis-hadis sahih riwayat Imam Muslim, Bukhari, dan lainnya). Islam memandang nikah kontrak sebagai bentuk pelacuran terselubung yang merendahkan martabat wanita.

  • Pandangan Syiah: Syiah menghidupkan kembali praktik ini dan menaikkan statusnya dari sekadar urusan biologis menjadi ibadah agung yang sangat dianjurkan. Ulama-ulama mereka mendoktrinkan bahwa siapa saja yang melakukan Nikah Mut'ah, maka ia akan mendapatkan derajat yang sangat tinggi di surga, bahkan disetarakan dengan derajat para nabi. Praktik ini dilegalkan secara masif di pusat-pusat keagamaan mereka di Qom dan Najaf.

4. Ritual Meratap dan Menyiksa Diri (Matam) pada Hari Asyura

Setiap tanggal 10 Muharram (Hari Asyura), umat Islam disunnahkan untuk berpuasa sebagai bentuk syukur atas selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun, sekaligus mengenang dengan penuh rasa hormat dan kesedihan yang mendalam atas wafatnya Imam Husain RA tanpa ekspresi yang berlebihan.

Sebaliknya, kelompok Syiah menjadikan 10 Muharram sebagai ritual ibadah kolosal yang dipenuhi histeria. Mereka berkumpul di jalan-jalan melakukan Matam: meratap, menangis meraung-raung, memukul-mukul dada, hingga mencambuk punggung dan melukai kepala mereka sendiri dengan pedang atau rantai besi hingga bersimbah darah (Tathbir). Mereka meyakini bahwa menyiksa diri ini adalah ritual penebusan dosa atas pengkhianatan nenek moyang mereka yang membiarkan Imam Husain terbunuh di Karbala. Ritual ini bertentangan keras dengan larangan Rasulullah SAW terhadap niyahah (meratap secara histeris saat ditimpa musibah).

5. Kewajiban Khumus (Pajak 20% untuk Para Ulama)

Dalam Islam, kewajiban finansial yang mengikat setiap Muslim adalah Zakat (2.5%) yang disalurkan kepada delapan asnaf (golongan) yang membutuhkan, seperti fakir dan miskin. Ada pula istilah Ghanimah (harta rampasan perang) yang dikenakan Khumus (seperlima atau 20%), namun itu hanya berlaku dalam situasi perang fisik.

Syiah memodifikasi konsep Khumus ini. Mereka mewajibkan seluruh pengikutnya untuk menyerahkan 20% dari seluruh keuntungan bersih penghasilan tahunan mereka (bukan harta perang) langsung kepada para ulama besar mereka (Marja' Taqlid). Uang raksasa yang terkumpul lewat doktrin ibadah finansial inilah yang menjadi mesin utama pendanaan penyebaran ideologi Syiah, pembangunan lembaga, dan pengaruh politik mereka di berbagai negara Sunni, termasuk di Indonesia.

Kesimpulan

Perbedaan konsep ibadah antara Islam dan Syiah bukanlah masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang sepele seperti perbedaan posisi tangan saat sedekep antar madzhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali). Perbedaan ibadah versi Syiah berakar dari pergeseran sumber hukum agama; mereka menolak hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh para Sahabat Nabi dan menggantinya dengan fatwa-fatwa atau riwayat sepihak dari para Imam mereka.

Ibadah dalam Syiah telah bercampur dengan kultus individu, legalisasi syahwat lewat mut'ah, serta ritual penyiksaan diri yang jauh dari keluhuran ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Memahami perbedaan tajam ini penting bagi setiap Muslim agar tetap istiqamah di atas sunnah dan terjaga dari infiltrasi ritual yang dapat merusak kemurnian tauhid.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: