Syiahindonesia.com - Persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada umat ini. Di dalam Islam, persaudaraan dibangun di atas ikatan akidah yang kokoh, ketulusan hati, dan saling mencintai karena Allah tanpa memandang latar belakang kesukuan maupun strata sosial. Namun, di bawah kendali teologi Syiah Rafidhah, konsep universal yang indah ini mengalami penyempitan dan distorsi yang sangat parah. Di ruang publik, mereka kerap kali menggemakan jargon "Persatuan Islam" dan "Pendekatan antar-Mazhab" (Taqrib), namun literatur doktrinal mereka justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Memahami kesalahan fundamental Syiah dalam memaknai ukhuwah adalah benteng penting agar umat Islam tidak terbuai oleh retorika persatuan yang semu.
1. Membatasi Persaudaraan Hanya kepada Pengikut 12 Imam
Kesalahan paling hakiki dari konsep persaudaraan versi Syiah adalah sifatnya yang sangat eksklusif. Dalam Islam yang murni, setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, menghadap ke kiblat yang sama, dan mendirikan shalat, maka ia adalah saudara bagi Muslim lainnya.
Namun bagi Syiah, asas persaudaraan bukan lagi kalimat tauhid, melainkan doktrin Imamah (kepemimpinan 12 Imam). Dalam kitab-kitab induk mereka, orang-orang di luar mazhab Syiah (Ahlussunnah wal Jama'ah) tidak dianggap sebagai saudara seiman yang hakiki (Mu'min), melainkan hanya dihukumi sebagai Muslim secara lahiriah di dunia demi kepentingan pragmatis. Seseorang baru dianggap sebagai saudara kandung secara spiritual jika ia bersumpah setia kepada konsep keimaman mereka.
2. Menjadikan Kebencian (Tabarra') sebagai Syarat Sebelum Mencintai
Bagaimana mungkin sebuah persaudaraan yang tulus bisa tegak di atas pondasi kebencian? Inilah kontradiksi terbesar dalam teologi Syiah. Mereka mewajibkan doktrin Tabarra', yaitu kewajiban untuk memusuhi, membenci, dan melaknat para sahabat terbaik Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, serta Ummul Mukminin Aisyah RA.
Umat Islam (Ahlussunnah) sangat mencintai para sahabat tersebut. Ketika Syiah mewajibkan pengikutnya untuk membenci sosok-sosok yang disucikan oleh mayoritas umat Islam, mereka secara otomatis telah merobek akar persaudaraan itu sendiri. Persaudaraan yang sejati tidak akan pernah terwujud jika salah satu pihak menjadikan aktivitas mencaci-maki pahlawan pihak lain sebagai bagian dari ritual ibadahnya.
3. Menggunakan Jargon "Persatuan" sebagai Tameng Taqiyyah
Di negara-negara di mana mereka menjadi minoritas, seperti di Indonesia, tokoh-tokoh Syiah sangat gencar mengampanyekan pentingnya persaudaraan dan persatuan umat. Mereka merangkul tokoh-tokoh Sunni, menghadiri seminar lintas mazhab, dan menyerukan agar umat Islam melupakan perbedaan sejarah.
Sayangnya, pendekatan emosional ini hanyalah bentuk aplikasi dari doktrin Taqiyyah (menyembunyikan keyakinan asli demi keselamatan atau strategi dakwah). Allah SWT telah mengingatkan karakter orang-orang yang bermuka dua dalam Al-Qur'an:
"Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: 'Kami telah beriman', dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu..." (QS. Ali 'Imran: 119).
Persaudaraan Islam menuntut kejujuran dan keterbukaan. Ketika persaudaraan ditawarkan dengan menyembunyikan kitab-kitab asli mereka yang penuh dengan vonis takfiri terhadap Sunni, maka itu bukanlah ukhuwah, melainkan jebakan politik dan ideologis.
4. Menafsirkan Ayat Persaudaraan secara Parsial
Ahlussunnah wal Jama'ah memegang teguh firman Allah SWT:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damatikanlah antara kedua saudaramu..." (QS. Al-Hujurat: 10).
Dalam tafsir Syiah, kata Al-Mu'minun (orang-orang beriman) di dalam ayat ini disempitkan maknanya hanya untuk mereka yang mengimani garis keturunan 12 Imam. Dengan penafsiran yang menyimpang ini, mereka merasa tidak memiliki kewajiban moral untuk menjaga ikatan batin, kehormatan, darah, maupun harta kaum Muslimin di luar kelompok mereka, kecuali jika ada maslahat dakwah sektarian yang ingin mereka capai.
Perbedaan Konsep Persaudaraan: Islam vs Syiah
Bahaya Konsep Ukhuwah Palsu Syiah bagi Muslim Indonesia
Infiltrasi konsep persaudaraan semu ini membawa dampak yang sangat merugikan bagi stabilitas umat di Indonesia:
Melemahkan Kewaspadaan Umat: Umat Islam awam menjadi tidak tega untuk mengkritik penyimpangan akidah Syiah karena terlanjur menganggap mereka sebagai "saudara mazhab".
Membuka Pintu Infiltrasi: Atas nama persatuan, lembaga-lembaga pendidikan Sunni melonggarkan pengawasan, sehingga buku-buku dan kader-kader Syiah dapat masuk dan merusak akidah generasi muda.
Standard Ganda: Syiah menuntut kaum Sunni untuk toleran dan menganggap mereka saudara, namun di saat yang sama, mereka tidak pernah menghapus atau merevisi bab-bab melaknat sahabat di dalam kitab-kitab rujukan utama mereka sendiri.
Kesimpulan
Persaudaraan Islam yang hakiki adalah persaudaraan yang dibangun di atas kejujuran akidah dan kecintaan yang tulus kepada Allah, Rasul-Nya, para sahabat, serta seluruh kaum mukminin. Syiah telah gagal memahami makna ukhuwah ini karena mereka menyandera konsep persaudaraan dengan fanatisme kelompok dan dendam masa lalu. Persatuan umat tidak akan pernah bisa terwujud melalui kompromi akidah atau kepura-puraan. Sebagai Muslim yang lurus, kita harus tetap mengedepankan dakwah yang tegas namun bijaksana, menolak persaudaraan semu yang menuntut kita untuk memaklumi penghinaan terhadap simbol-simbol suci agama kita.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: