Syiahindonesia.com - Persatuan umat Islam (Ukhuwah Islamiyah) adalah kekuatan utama yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Namun, dalam perjalanan sejarah, persatuan ini sering kali dirongrong oleh munculnya sekte-sekte yang membawa ideologi eksklusif dan konfrontatif. Kelompok Syiah Rafidhah, melalui doktrin-doktrin fundamentalnya, secara sistematis menciptakan sekat-sekat kebencian yang memecah belah shaf kaum Muslimin. Di Indonesia, upaya pemecahan ini sering kali dilakukan dengan sangat halus melalui infiltrasi budaya dan narasi korban, namun tujuannya tetap sama: meruntuhkan dominasi akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan menggantinya dengan loyalitas kepada ideologi transnasional. Memahami strategi pemecahan ini adalah langkah awal untuk merekatkan kembali ukhuwah yang coba dirusak.
1. Menciptakan Dikotomi "Pencinta" vs "Pembenci" Ahlul Bait
Strategi utama Syiah dalam memecah belah umat adalah dengan melakukan klaim sepihak atas kecintaan kepada keluarga Nabi (Ahlul Bait). Mereka membangun narasi palsu bahwa siapa pun yang tidak mengikuti mazhab Syiah berarti membenci Ahlul Bait.
Padahal, bagi Ahlussunnah, mencintai Ahlul Bait adalah bagian integral dari iman yang tidak bisa dipisahkan dari kecintaan kepada para sahabat Nabi lainnya. Dengan menciptakan dikotomi ini, Syiah memaksa umat Islam untuk memilih pihak, yang pada akhirnya memicu kecurigaan dan permusuhan antar sesama Muslim yang selama ini hidup berdampingan dengan damai.
2. Mengafirkan dan Melaknat Simbol Suci Mayoritas Umat
Perpecahan yang paling tajam muncul dari doktrin Tabarra' (berlepas diri), di mana pengikut Syiah diwajibkan untuk membenci dan melaknat para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Bagi mayoritas umat Islam di dunia, termasuk di Indonesia, para sahabat ini adalah pahlawan dan teladan yang sangat dihormati.
Ketika sebuah kelompok secara terbuka atau sembunyi-sembunyi menghina sosok yang disucikan oleh kelompok lain, maka konflik horisontal menjadi tidak terelakkan. Tindakan melaknat ini adalah pemantik api perpecahan yang paling efektif yang terus dipelihara oleh para ideolog Syiah untuk menjaga jarak antara pengikutnya dengan umat Islam lainnya.
3. Eksklusivitas dalam Beribadah dan Bermasyarakat
Upaya memecah belah juga terlihat dari cara mereka memisahkan diri dalam hal peribadatan. Meskipun mereka sering ber-taqiyyah dengan ikut shalat di masjid Sunni, pada intinya mereka meyakini bahwa shalat di belakang imam non-Syiah tidaklah sah secara hakiki.
Mereka cenderung membangun komunitas yang eksklusif, memiliki kalender peringatan sendiri yang berpusat pada dendam sejarah (seperti duka cita Karbala yang berlebihan), dan sering kali memprovokasi massa dengan ritual-ritual yang asing bagi budaya Islam yang santun. Eksklusivitas ini secara perlahan menciptakan "negara dalam negara" atau "umat dalam umat" yang merusak kohesi sosial bangsa.
4. Politisasi Konflik Sejarah di Era Modern
Syiah memecah belah umat dengan menarik konflik politik yang terjadi 1.400 tahun lalu ke dalam konteks hari ini. Mereka menggunakan tragedi Karbala sebagai alat untuk melabeli pemerintah atau kelompok Islam lain yang tidak sejalan dengan mereka sebagai "Yazid" atau "Bani Umayyah."
Metode labelisasi ini sangat berbahaya karena melegitimasi kebencian dan perlawanan terhadap otoritas Islam yang sah. Umat Islam yang seharusnya bersatu melawan musuh bersama (kekufuran dan kemiskinan) justru terjebak dalam pertikaian sektarian yang tidak berujung akibat politisasi sejarah ini.
Dampak Strategi Pemecahan bagi Umat Islam di Indonesia
Melemahnya Kekuatan Politik Muslim: Suara umat Islam menjadi terpecah karena sibuk mengurusi infiltrasi paham menyimpang di internal mereka.
Membuka Pintu Campur Tangan Asing: Konflik sektarian yang diciptakan Syiah sering kali dimanfaatkan oleh kekuatan asing (baik Barat maupun negara pusat Syiah) untuk mengintervensi kedaulatan sebuah negara.
Rusaknya Tatanan Sosial: Hubungan antar tetangga dan keluarga bisa retak hanya karena salah satu anggota keluarga terpapar paham takfiri Syiah yang mengharuskan mereka membenci para sahabat Nabi.
Langkah Strategis Menjaga Persatuan Umat
Untuk menangkal upaya pemecahbelahan ini, umat Islam Indonesia perlu melakukan:
Sosialisasi Bahaya Takfiri Syiah: Menjelaskan kepada masyarakat bahwa Syiah-lah yang sebenarnya memulihkan praktik pengafiran terhadap sesama Muslim (terutama sahabat).
Menegakkan Ukhuwah Berbasis Sunnah: Memperkuat persaudaraan di atas prinsip yang benar, yaitu mencintai seluruh sahabat dan Ahlul Bait tanpa diskriminasi.
Waspada Terhadap Narasi "Persatuan" yang Menyesatkan: Persatuan harus dibangun di atas kebenaran akidah, bukan persatuan semu yang menuntut kita untuk diam saat agama dihina.
Kesimpulan
Upaya Syiah memecah belah umat Islam bukanlah hal baru, melainkan pola yang sudah ada sejak zaman Abdullah bin Saba'. Mereka memecah shaf kaum Muslimin dengan kebencian, cacian, dan klaim kesucian yang berlebihan. Persatuan umat hanya bisa diraih jika kita kembali kepada ajaran yang murni, yaitu mengikuti Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat yang lurus. Mari kita rapatkan barisan dan waspada terhadap segala upaya yang mencoba menceraiberaikan kekuatan umat Islam.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: