Syiahindonesia.com - Dalam diskursus keilmuan Islam, sanad atau rantai transmisi periwayatan merupakan "identitas" dan tulang punggung keaslian sebuah ajaran. Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah berkata, "Al-Isnad minad din, lawlal isnad la qala man sya’a ma sya’a" (Sanad adalah bagian dari agama, sekiranya tidak ada sanad, niscaya setiap orang akan berkata apa saja yang ia kehendaki). Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya berpegang teguh pada metodologi hadits Ahlussunnah wal Jama'ah, kejelasan perawi menjadi standar mutlak dalam menentukan keshahihan sebuah hukum. Namun, ketika kita membedah literatur hadits Syiah, seperti kitab Al-Kafi atau Biharul Anwar, kita akan menemukan jurang metodologis yang sangat dalam. Mengapa Syiah dianggap tidak memiliki rantai sanad yang jelas, kokoh, dan ilmiah sebagaimana standar ilmu hadits global? Artikel ini akan mengungkap kerapuhan fondasi riwayat mereka sebagai langkah antisipasi terhadap penyebaran ajaran yang tidak berdasar.
1. Gugurnya Kredibilitas Perawi Akibat Doktrin Pengkafiran Sahabat
Salah satu syarat mutlak hadits shahih dalam Islam adalah perawinya harus bersifat 'adil (shaleh, tidak fasik, dan terpercaya). Dalam Ahlussunnah, seluruh sahabat Nabi adalah 'udul (adil) berdasarkan rekomendasi langsung dari Allah dalam Al-Quran. Namun, Syiah melakukan langkah ekstrem dengan menganggap mayoritas sahabat Nabi telah murtad atau berkhianat sepeninggal Rasulullah SAW.
Akibat dari doktrin ini, Syiah memutus rantai sanad dari ribuan sahabat Nabi yang jujur. Mereka menolak hadits dari jalur Abu Hurairah, Aisyah binti Abu Bakar, Abdullah bin Umar, dan sahabat besar lainnya. Ketika ribuan saksi mata kunci (sahabat) "dibuang" dari jalur periwayatan, maka secara otomatis rantai sanad mereka terputus dari sumber aslinya, yaitu Rasulullah SAW. Inilah mengapa hadits-hadits Syiah sering kali hanya berputar di kalangan internal imam mereka tanpa sambungan yang valid ke masa kenabian.
2. Inkonsistensi dalam Ilmu Rijal (Biografi Perawi)
Dalam ilmu hadits Ahlussunnah, setiap perawi diteliti sejarah hidupnya, hafalannya, hingga kejujurannya melalui kitab-kitab Al-Jarh wat Ta'dil. Sedangkan dalam tradisi Syiah, klasifikasi hadits menjadi Shahih, Hasan, dan Dhaif sebenarnya baru muncul belakangan (sekitar abad ke-7 Hijriah oleh Jamaluddin bin Thawus). Sebelumnya, mereka menganggap semua isi kitab Al-Kafi adalah benar tanpa penyaringan sanad yang ketat.
Ketidakjelasan sanad Syiah semakin diperparah dengan banyaknya perawi yang "majhul" (tidak dikenal identitasnya) atau perawi yang dikenal sebagai pendusta bahkan oleh ulama Syiah sendiri, namun riwayatnya tetap dipakai jika mendukung doktrin Imamah. Tanpa standar jarh wat ta'dil yang objektif, sebuah riwayat bisa dengan mudah dipalsukan demi kepentingan politik atau sekte.
3. Masalah Doktrin Taqiyyah dalam Periwayatan
Hambatan terbesar bagi kejelasan sanad dan matan (isi) hadits Syiah adalah doktrin Taqiyyah (berpura-pura atau menyembunyikan kebenaran). Dalam kitab Al-Kafi, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa jika seorang Imam memberikan dua jawaban yang berbeda untuk satu pertanyaan, maka pengikutnya harus mengambil jawaban yang paling berbeda dengan pendapat Ahlussunnah, karena jawaban yang sama dengan Ahlussunnah dianggap sebagai bentuk Taqiyyah.
Hal ini menciptakan ketidakpastian ilmiah. Bagaimana mungkin sebuah rantai sanad bisa dianggap jelas jika perawinya diperbolehkan—bahkan diwajibkan—untuk berbohong atau menyembunyikan fakta demi keamanan atau strategi dakwah? Dalam ilmu hadits, sekali seorang perawi ketahuan berbohong, maka seluruh riwayatnya gugur (matruk). Dengan melegalkan Taqiyyah, Syiah secara tidak langsung meruntuhkan kredibilitas seluruh rantai periwayatan mereka sendiri.
4. Klaim "Ilmu Ladunni" dan Wahyu Tersembunyi
Banyak hadits dalam kitab rujukan Syiah yang tidak memiliki sanad bersambung kepada Nabi, melainkan langsung diklaim berasal dari perkataan Imam. Mereka meyakini Imam memiliki otoritas yang sama dengan Nabi dalam menetapkan syariat. Bahkan, ada klaim mengenai adanya "Mushaf Fatimah" atau "Al-Jafr" yang konon berisi ilmu-ilmu rahasia yang tidak diketahui oleh umat Islam lainnya.
Secara ilmiah, klaim ilmu rahasia tanpa sanad yang bisa diuji adalah bentuk penyimpangan. Islam adalah agama yang terang benderang, sebagaimana sabda Nabi SAW:
"Aku telah tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku kecuali ia akan binasa." (HR. Ibnu Majah).
Ketidaksediaan Syiah untuk membuka sanad mereka secara transparan dan ilmiah menunjukkan bahwa ajaran tersebut lebih banyak bersandar pada dongeng dan klaim sepihak daripada fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dampak Bagi Umat Islam di Indonesia
Penyebaran hadits-hadits tanpa sanad yang jelas dari kalangan Syiah di Indonesia sangat berbahaya karena:
Mengaburkan Syariat: Umat akan bingung membedakan mana sabda Nabi yang asli dan mana perkataan yang disandarkan kepada Imam secara palsu.
Merusak Kehormatan Ahlul Bait: Dengan mencatut nama Imam-imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib dalam riwayat palsu, Syiah sebenarnya sedang mencoreng nama baik Ahlul Bait yang murni dan lurus akidahnya.
Menimbulkan Kebencian: Hadits tanpa sanad yang shahih sering kali berisi cacian kepada sahabat dan istri Nabi, yang jika dikonsumsi masyarakat awam akan menimbulkan perpecahan.
Kesimpulan
Rantai sanad adalah benteng keamanan agama. Ketidakjelasan sanad dalam ajaran Syiah membuktikan bahwa paham ini tidak dibangun di atas metodologi ilmiah, melainkan di atas sentimen sejarah dan rekayasa doktrin. Sebagai Muslim yang cerdas, kita harus selalu bertanya: "Mana sanadnya?" terhadap setiap informasi keagamaan yang baru. Tanpa sanad yang bersambung kepada Rasulullah melalui perawi yang adil dan dhabith, maka perkataan tersebut hanyalah sampah sejarah yang tidak layak dijadikan pedoman hidup.
Marilah kita bentengi keluarga dan lingkungan kita dengan mempelajari ilmu hadits yang shahih, agar kita tidak mudah terpedaya oleh narasi-narasi Syiah yang tampak manis di lisan namun rapuh secara dasar hukum.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: