Syiahindonesia.com - Dalam diskursus mengenai aliran-aliran dalam Islam, salah satu fenomena yang sering memicu tanda tanya besar bagi masyarakat awam maupun akademisi adalah praktik penyembunyian keyakinan atau yang dikenal dengan istilah Taqiyyah. Banyak umat Islam di Indonesia merasa heran mengapa penganut Syiah seringkali tidak terbuka mengenai identitas maupun detail ajaran mereka dalam forum-forum publik atau saat berinteraksi dengan mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Fenomena ini bukanlah sekadar strategi sosial biasa, melainkan sebuah doktrin yang memiliki akar teologis mendalam dalam struktur pemikiran mereka. Memahami alasan di balik penyembunyian ini sangat penting agar umat Islam dapat bersikap waspada dan tidak mudah terpedaya oleh narasi-narasi yang tampak selaras di permukaan namun berbeda di dasar akidah.
Konsep Taqiyyah: Bukan Sekadar Penyamaran
Secara bahasa, Taqiyyah berasal dari akar kata waqa yang berarti menjaga atau membentengi diri dari bahaya. Namun, dalam doktrin Syiah, Taqiyyah telah bergeser maknanya menjadi sebuah kewajiban agama untuk menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati demi kemaslahatan mazhab.
Bagi mereka, Taqiyyah bukan hanya dilakukan saat nyawa terancam (sebagaimana rukhshah dalam Islam pada umumnya), melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas beragama. Salah satu riwayat dalam kitab rujukan utama mereka, Al-Kafi karya Al-Kulaini, menyebutkan bahwa Imam Ja'far ash-Shadiq (yang diklaim secara sepihak oleh mereka) pernah berkata:
التَّقِيَّةُ مِنْ دِينِي وَدِينِ آبَائِي وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا تَقِيَّةَ لَهُ
"Taqiyyah adalah bagian dari agamaku dan agama nenek moyangku, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki Taqiyyah."
Doktrin inilah yang menjadi motor penggerak mengapa ajaran mereka seringkali dibungkus dengan rapi, disembunyikan, atau disampaikan secara bertahap kepada orang luar.
Alasan Strategis dan Teologis Penyembunyian Ajaran
Ada beberapa alasan mendasar mengapa ajaran ini cenderung disembunyikan dari umat Islam secara umum:
1. Melindungi Akidah dari Penolakan Publik
Ajaran Syiah mengandung banyak poin yang sangat kontradiktif dengan keyakinan mayoritas Muslim (Ahlus Sunnah), seperti penghinaan terhadap para Sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman) dan istri Nabi (Aisyah RA). Jika hal ini disampaikan secara terang-terangan di hadapan umat Islam yang sangat mencintai Sahabat dan keluarga Nabi, maka secara otomatis akan terjadi penolakan masif. Oleh karena itu, mereka lebih memilih menggunakan tema-tema umum seperti "Cinta Ahlul Bait" atau "Ukhuwah Islamiyah" untuk menarik simpati terlebih dahulu.
2. Strategi Infiltrasi dan Dakwah (Kaderisasi)
Penyembunyian ajaran berfungsi sebagai sarana untuk masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat tanpa menimbulkan kecurigaan. Dengan menyembunyikan identitas asli, para dai mereka dapat masuk ke lingkungan masjid, kampus, hingga birokrasi. Mereka seringkali baru akan membuka "topeng" ajaran aslinya ketika seseorang sudah dianggap cukup loyal dan telah melalui proses doktrinasi awal yang panjang.
3. Menghindari Konfrontasi Ilmiah
Banyak doktrin mereka yang jika dibedah secara ilmiah menggunakan standar hadits yang shahih akan runtuh dengan sendirinya. Dengan menyembunyikan kitab-kitab asli atau menafsirkan ulang pernyataan imam mereka di depan publik, mereka dapat menghindari debat terbuka yang bisa mengungkap kelemahan dasar akidah mereka.
Bahaya Taqiyyah bagi Keutuhan Umat
Praktik penyembunyian ajaran ini membawa dampak yang cukup serius bagi stabilitas kehidupan beragama di Indonesia:
Hilangnya Kepercayaan (Krisis Kepercayaan): Bagaimana mungkin membangun dialog yang jujur jika salah satu pihak memegang prinsip bahwa berbohong demi agama adalah sebuah ibadah? Hal ini merusak tatanan komunikasi antarumat beragama.
Penyesatan Opini: Masyarakat awam seringkali menganggap Syiah hanyalah salah satu mazhab fiqih seperti Syafi'i atau Maliki, padahal perbedaannya ada pada level akar akidah (Rukun Iman). Penyembunyian informasi ini membuat masyarakat kehilangan hak untuk mengetahui kebenaran yang utuh.
Ancaman terhadap Stabilitas Nasional: Dalam sejarah, gerakan yang bersifat tertutup dan memiliki loyalitas ganda (kepada imam ghaib atau otoritas di luar negeri) berpotensi memicu gesekan sosial ketika ajaran asli mereka mulai dipraktikkan secara terbuka di tengah masyarakat yang heterogen.
Cara Mengenali "Penyembunyian" Ajaran
Meskipun mereka menggunakan Taqiyyah, umat Islam dapat mengenali ciri-ciri umum melalui pola komunikasi mereka:
Sering Menggunakan Istilah Netral: Mereka jarang menyebut diri sebagai "Syiah" di awal, melainkan menggunakan istilah seperti "Pecinta Ahlul Bait", "Mazhab Ja'fari", atau "Islam Rasional".
Membenturkan Sahabat dengan Ahlul Bait: Narasi mereka biasanya berfokus pada "kezaliman" yang dialami keluarga Nabi, sembari secara halus menggiring pendengar untuk membenci pihak-pihak yang dianggap menghalangi kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Ketidakkonsistenan Pernyataan: Pernyataan di depan media atau forum lintas agama seringkali berbeda jauh dengan isi kitab-kitab rujukan utama mereka yang berbahasa Arab atau Persia.
Pesan untuk Umat Islam
Islam adalah agama yang terang benderang. Rasulullah SAW telah meninggalkan kita di atas jalan yang putih bersih, yang malamnya seperti siangnya. Tidak ada ajaran rahasia yang perlu disembunyikan jika memang ajaran tersebut benar. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma'idah ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
Karena Islam telah sempurna, maka segala bentuk ajaran "bawah tanah" atau penyembunyian prinsip-prinsip iman adalah hal yang patut diwaspadai. Kita diperintahkan untuk mencintai Ahlul Bait tanpa harus membenci para Sahabat, dan kita diperintahkan untuk jujur dalam beragama tanpa harus menggunakan topeng kepalsuan.
Kesimpulan
Penyembunyian ajaran dalam Syiah melalui doktrin Taqiyyah adalah instrumen untuk menjaga kelangsungan ideologi mereka di tengah lingkungan yang tidak menerima penyimpangan akidah. Sebagai penganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita harus membekali diri dengan literatur yang shahih dan tidak mudah tergiur oleh bungkus-bungkus luar yang tampak menarik namun isinya bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Kewaspadaan adalah kunci untuk menjaga kemurnian tauhid di bumi pertiwi.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: