Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Mengajarkan Kebencian terhadap Sahabat Nabi?

Syiahindonesia.com - Fenomena kebencian, caci maki, hingga pengkafiran terhadap para sahabat Nabi Muhammad ﷺ merupakan salah satu ciri paling menonjol dan menyakitkan dalam ajaran Syiah. Bagi mayoritas umat Islam (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), mencintai dan memuliakan para sahabat adalah bagian tak terpisahkan dari keimanan. Namun, dalam literatur primer Syiah, tindakan melaknat para sahabat justru dianggap sebagai bagian dari ritual ibadah yang mendatangkan pahala. Mengapa ajaran ini bisa tumbuh subur dan menjadi doktrin dasar mereka? Memahami akar kebencian ini sangat penting bagi kita di Indonesia agar tidak terkecoh oleh narasi "persatuan" yang sering kali digunakan sebagai selubung untuk menyembunyikan ideologi yang sangat merusak ukhuwah ini.

1. Doktrin Imamah sebagai Standar Iman

Akar utama dari kebencian ini adalah doktrin Imamah. Syiah meyakini bahwa setelah Rasulullah ﷺ wafat, kepemimpinan (Imamah) adalah hak mutlak Ali bin Abi Thalib berdasarkan wasiat ilahi. Siapa pun yang menghalangi atau mengambil hak tersebut dianggap sebagai perampas dan thaghut.

Karena Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan terpilih sebagai khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib, maka dalam pandangan Syiah, ketiga sahabat agung ini telah mengkhianati wasiat Nabi. Kebencian ini kemudian meluas kepada seluruh sahabat yang membaiat mereka. Padahal, Ali bin Abi Thalib sendiri membaiat dan bekerja sama dengan para khalifah sebelumnya demi kemaslahatan umat.

2. Keyakinan Bahwa Mayoritas Sahabat Telah Murtad

Salah satu riwayat yang sangat masyhur dalam kitab Al-Kafi (rujukan utama Syiah) menyatakan bahwa seluruh sahabat Nabi telah murtad (keluar dari Islam) setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, kecuali tiga atau empat orang saja (Miqdad bin Aswad, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Salman al-Farisi).

Keyakinan ini merupakan penghinaan luar biasa terhadap keberhasilan dakwah Rasulullah ﷺ. Jika mayoritas murid langsung Nabi dianggap gagal dan murtad, maka secara tidak langsung Syiah sedang meragukan kredibilitas Nabi dalam mendidik para sahabatnya. Allah SWT telah membantah klaim ini dalam Al-Qur'an:

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29).

3. Konsep Al-Bara' (Berlepas Diri) yang Menyimpang

Dalam Islam, Al-Wala' wal Bara' berarti mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apa yang dimurkai Allah. Syiah menyelewengkan konsep ini dengan mewajibkan pengikutnya untuk melakukan Bara' (berlepas diri dan memusuhi) terhadap musuh-musuh Ahlul Bait.

Celakanya, yang mereka definisikan sebagai "musuh Ahlul Bait" adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Hafshah, dan ribuan sahabat lainnya. Mereka menciptakan doa-doa khusus seperti Dua Sanamay Quraish (Doa dua berhala Quraisy) yang isinya adalah laknat keji terhadap Abu Bakar dan Umar.

4. Upaya Meruntuhkan Sumber Hukum Islam

Secara sistematis, kebencian terhadap sahabat bertujuan untuk meruntuhkan validitas syariat Islam Sunni. Para sahabat adalah saksi sejarah yang meriwayatkan Al-Qur'an dan Hadits. Jika figur-figur seperti Abu Hurairah (periwayat hadits terbanyak) atau Aisyah (istri Nabi yang paling faham hukum) dianggap sebagai pendusta atau kafir, maka secara otomatis seluruh hadits yang mereka bawa akan tertolak.

Dengan cara ini, Syiah mencoba mengarahkan umat agar hanya mengambil agama dari jalur "Imam" mereka yang bersifat gaib atau melalui penafsiran ulama-ulama mereka sendiri. Ini adalah taktik untuk mengganti Islam yang murni dengan agama baru hasil rekayasa ideologi mereka.

5. Pelampiasan Dendam Sejarah (Tragedi Karbala)

Syiah sering kali memanipulasi kesedihan atas tragedi Karbala (syahidnya Husain bin Ali) untuk membangkitkan kebencian terhadap seluruh sahabat dan tabi'in yang tidak sehaluan dengan mereka. Meskipun pembunuh Husain adalah kelompok tertentu, mereka menggeneralisasi kebencian tersebut kepada seluruh penganut paham Sunni yang mereka sebut sebagai "Nashibi" (pembenci Ahlul Bait).

Padahal, kecintaan terhadap Husain dan Ahlul Bait adalah bagian dari akidah Sunni, namun tanpa harus membenci sahabat Nabi yang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:

اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ

"Takutlah kepada Allah terkait sahabat-sahabatku! Janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (caci maki) setelahku. Barangsiapa mencintai mereka, maka karena mencintaiku dia mencintai mereka. Dan barangsiapa membenci mereka, maka karena membenciku dia membenci mereka." (HR. Tirmidzi).

6. Dampak Doktrin Kebencian di Masyarakat

Ajaran kebencian ini memiliki dampak sosial yang sangat berbahaya:

  • Memecah Belah Umat: Bagaimana mungkin bisa terjalin persatuan jika satu kelompok menganggap nenek moyang rohani (sahabat) kelompok lain sebagai penghuni neraka?

  • Memicu Konflik Darah: Sejarah di Irak, Suriah, dan Yaman menunjukkan bahwa ketika pengikut Syiah didoktrin dengan kebencian terhadap sahabat, mereka akan dengan mudah menghalalkan darah orang-orang Sunni.

  • Merusak Adab dan Moral: Generasi muda Syiah dididik untuk pandai mencaci dan melaknat, yang sangat bertentangan dengan akhlak Islam yang mulia.

Kesimpulan

Kebencian Syiah terhadap sahabat Nabi bukanlah sekadar "oknum" atau masalah sejarah masa lalu, melainkan doktrin yang tertanam kuat dalam kitab-kitab suci dan ritual harian mereka. Mereka membenci sahabat karena para sahabatlah yang menjadi penghalang bagi tegaknya kekuasaan absolut para Imam versi mereka. Sebagai umat Islam di Indonesia, kita harus tetap teguh membela kehormatan para sahabat Nabi. Menghina sahabat berarti menghina pilihan Allah, dan mencaci sahabat berarti menyakiti hati Rasulullah ﷺ. Waspadalah terhadap upaya sistematis yang mencoba menanamkan benih kebencian ini di tanah air kita dengan dalih kecintaan kepada Ahlul Bait yang palsu.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: