Breaking News
Loading...

Mengapa Syiah Menganggap Diri Mereka Sebagai Muslim yang Lebih Benar?


Syiahindonesia.com - Di tengah dinamika pemikiran Islam kontemporer, muncul pertanyaan yang sering menjadi bahan diskusi: mengapa Syiah menganggap diri mereka sebagai Muslim yang lebih benar dibandingkan mayoritas kaum Muslimin lainnya? Pertanyaan ini penting dikaji secara ilmiah, khususnya bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas berakidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pemahaman yang benar akan membantu umat mengantisipasi penyebaran ajaran yang dinilai menyimpang dari manhaj generasi sahabat, tanpa harus terjebak pada emosi atau fanatisme buta.

Artikel ini membahas secara mendalam akar teologis klaim tersebut, dalil-dalil yang digunakan, serta tanggapan perspektif Ahlus Sunnah wal Jama’ah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.


1. Akar Teologis Klaim Kebenaran: Doktrin Imamah

Faktor utama yang membuat Syiah merasa lebih benar terletak pada konsep Imamah. Dalam teologi Syiah Imamiyah (Dua Belas Imam), imamah bukan sekadar kepemimpinan politik, tetapi bagian dari rukun agama.

Menurut mereka:

  • Imam ditunjuk langsung oleh Allah.

  • Imam bersifat ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan).

  • Imam memiliki otoritas spiritual dan penafsiran mutlak atas agama.

Mereka meyakini bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad ﷺ, kepemimpinan umat seharusnya berada pada Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Namun dalam Al-Qur’an, tidak terdapat satu ayat pun yang secara eksplisit menyebutkan kewajiban mengimani dua belas imam sebagai bagian dari rukun iman.

Allah berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
“Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini menegaskan bahwa agama yang diterima Allah adalah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah ﷺ, tanpa tambahan konsep imamah sebagai rukun akidah.


2. Penafsiran Khusus terhadap Ayat Al-Qur’an

Syiah sering menggunakan QS. Al-Ma’idah ayat 55 sebagai dalil imamah:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat sedang mereka ruku’.” (QS. Al-Ma’idah: 55)

Mereka menafsirkan ayat ini secara khusus merujuk kepada Ali radhiyallahu ‘anhu ketika memberi cincin dalam keadaan ruku’.

Namun mayoritas mufassir Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa ayat ini bersifat umum bagi kaum mukminin. Riwayat tentang pemberian cincin dinilai lemah oleh sebagian ulama hadits.

Perbedaan metode tafsir inilah yang menjadi dasar perbedaan teologis yang mendalam.


3. Konsep Kemaksuman Imam

Salah satu pilar keyakinan Syiah adalah kemaksuman para imam. Mereka diyakini tidak mungkin salah, lupa, atau berdosa dalam urusan agama.

Padahal Nabi ﷺ bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam akidah Ahlus Sunnah, yang ma’shum hanyalah para nabi dalam penyampaian wahyu. Mengangkat manusia selain nabi pada derajat kemaksuman dinilai sebagai bentuk ghuluw (berlebihan dalam agama).

Keyakinan akan kemaksuman inilah yang membuat sebagian penganut Syiah merasa memiliki sumber kebenaran eksklusif melalui imam-imam mereka.


4. Sikap terhadap Para Sahabat Nabi ﷺ

Perbedaan besar lainnya adalah dalam memandang sahabat Nabi ﷺ.

Sebagian literatur Syiah menyatakan bahwa mayoritas sahabat telah menyimpang setelah wafatnya Nabi ﷺ, kecuali beberapa orang saja.

Padahal Allah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Nabi ﷺ juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika mayoritas sahabat dianggap menyimpang, maka konsekuensinya adalah meragukan transmisi Al-Qur’an dan Sunnah yang sampai kepada kita melalui mereka.


5. Narasi Sejarah dan Identitas Kelompok

Tragedi Karbala menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas Syiah. Peristiwa wafatnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma dipandang sebagai simbol kezaliman terhadap Ahlul Bait.

Narasi penderitaan ini membentuk solidaritas internal yang kuat dan mempertegas identitas eksklusif. Ketika identitas teologis dibangun di atas keyakinan bahwa kelompok mereka tertindas dan diselewengkan haknya, muncul keyakinan bahwa hanya merekalah pewaris kebenaran sejati.

Secara psikologis, ini memperkuat rasa superioritas spiritual.


6. Konsep Taqiyah dan Strategi Sosial

Dalam ajaran Syiah dikenal konsep taqiyah, yaitu menyembunyikan keyakinan demi keselamatan. Dalam Islam, menyembunyikan iman diperbolehkan dalam kondisi terancam nyawa, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nahl: 106.

Namun dalam literatur Syiah klasik, taqiyah memiliki ruang yang lebih luas. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan antara keyakinan internal dan ekspresi eksternal.

Bagi masyarakat awam, ini menyulitkan untuk membedakan mana ajaran yang murni dan mana yang telah terpengaruh doktrin Syiah.


7. Struktur Otoritas Keagamaan

Dalam Syiah Imamiyah terdapat sistem marja’iyyah, yaitu otoritas ulama tertinggi yang menjadi rujukan hukum dan akidah.

Struktur ini bersifat hierarkis dan sangat kuat. Ketika seorang pengikut meyakini bahwa marja’-nya memiliki otoritas spiritual yang tersambung kepada imam ma’shum, maka tingkat kepatuhan dan keyakinannya menjadi sangat tinggi.

Hal ini memperkokoh keyakinan internal bahwa ajaran mereka lebih sahih dan lebih terjaga.


8. Perbedaan Metodologi dalam Memahami Sunnah

Ahlus Sunnah memiliki sistem ilmu hadits yang ketat, termasuk jarh wa ta’dil (kritik perawi). Sementara dalam Syiah, terdapat sumber hadits tersendiri seperti Al-Kafi dan lainnya yang tidak selalu sejalan dengan metodologi Sunni.

Perbedaan metodologi ini menyebabkan perbedaan dalam hukum, akidah, bahkan praktik ibadah.

Ketika dua metodologi berbeda, maka kesimpulan yang dihasilkan pun berbeda. Inilah yang memperkuat klaim masing-masing pihak atas kebenaran.


9. Mengantisipasi Penyebaran di Indonesia

Indonesia adalah negara dengan mayoritas Muslim Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Upaya preventif yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Memperkuat pendidikan tauhid sejak dini.

  2. Mengajarkan sejarah Islam berdasarkan sumber yang mu’tabar.

  3. Mendorong literasi keislaman berbasis dalil.

  4. Menghindari sikap ekstrem dan emosional dalam berdiskusi.

  5. Menjaga persatuan umat tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Persatuan umat harus dibangun di atas pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi terbaik.


10. Kesimpulan

Syiah menganggap diri mereka sebagai Muslim yang lebih benar karena fondasi teologis berupa doktrin imamah, kemaksuman imam, serta pandangan kritis terhadap mayoritas sahabat. Keyakinan tersebut diperkuat oleh narasi sejarah, struktur otoritas keagamaan, dan metodologi penafsiran yang berbeda.

Bagi umat Islam Indonesia, memahami akar perbedaan ini penting sebagai langkah antisipatif, bukan untuk menebar permusuhan, tetapi untuk menjaga kemurnian akidah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Islam yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah Islam yang dipahami oleh para sahabat, tabi’in, dan ulama salaf. Inilah manhaj yang selama berabad-abad menjaga stabilitas dan persatuan umat.

Semoga Allah menjaga Indonesia dari perpecahan akidah dan membimbing kita semua kepada jalan yang lurus.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

0 komentar: