Syiahindonesia.com - Salah satu ciri paling menonjol dan berbahaya dalam ajaran Syiah adalah sikap permusuhan terbuka terhadap para sahabat utama Rasulullah ﷺ, khususnya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan رضي الله عنهم. Penghinaan terhadap tiga khalifah ini bukan sekadar perbedaan pandangan sejarah, melainkan telah berkembang menjadi doktrin ideologis yang tertanam kuat dalam banyak kitab, ceramah, dan ritual Syiah. Sikap ini memiliki dampak serius karena merusak fondasi kepercayaan umat Islam terhadap generasi terbaik yang menjadi perantara sampainya Al-Qur’an dan Sunnah kepada kita.
Kedudukan Abu Bakar, Umar, dan Utsman dalam Islam
Abu Bakar, Umar, dan Utsman رضي الله عنهم adalah sahabat-sahabat paling mulia di sisi Rasulullah ﷺ. Mereka bukan hanya pemimpin politik umat Islam, tetapi juga pelindung dakwah, penjaga wahyu, dan penegak syariat. Abu Bakar adalah orang pertama dari kalangan dewasa yang masuk Islam dan setia menemani Nabi ﷺ dalam hijrah. Umar dikenal sebagai sosok yang dengannya Allah menguatkan Islam, sementara Utsman adalah pengumpul mushaf Al-Qur’an yang hingga kini dibaca oleh seluruh umat Islam.
Allah Ta’ala memuji para sahabat secara umum tanpa pengecualian dalam firman-Nya:
﴿ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ﴾
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Ayat ini mencakup seluruh sahabat besar Nabi ﷺ, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman, yang justru menjadi sasaran penghinaan dalam ajaran Syiah.
Narasi Syiah dalam Mencela Abu Bakar ash-Shiddiq
Dalam literatur Syiah, Abu Bakar sering dituduh sebagai perampas hak Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Ia digambarkan sebagai sosok licik yang merebut kekuasaan dan mengkhianati wasiat Nabi ﷺ. Tuduhan ini diulang-ulang dalam kitab, majelis, dan ceramah Syiah sehingga membentuk kebencian ideologis terhadap sosok yang oleh Ahlus Sunnah dianggap sebagai manusia terbaik setelah para nabi.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
« لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا غَيْرَ رَبِّي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا »
“Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Rabb-ku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan kedudukan Abu Bakar yang sangat tinggi di sisi Rasulullah ﷺ, sehingga mencelanya berarti merendahkan pilihan dan pujian Nabi sendiri.
Kebencian Syiah terhadap Umar bin Khattab
Umar bin Khattab رضي الله عنه adalah sosok yang paling sering dijadikan simbol kebencian Syiah. Dalam berbagai riwayat Syiah, Umar dituduh sebagai penyebab utama “kezaliman” terhadap Ahlul Bait, bahkan dilaknat secara terbuka dalam sebagian ritual dan teks keagamaan mereka. Kebencian ini bukan kebetulan, karena Umar dikenal sebagai pemimpin tegas yang menghancurkan fondasi ekstremisme dan bid’ah sejak awal.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ »
“Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran berada pada lisan dan hati Umar.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa Umar adalah sosok yang lurus dalam agama. Maka, menjadikannya musuh berarti berseberangan dengan kesaksian Rasulullah ﷺ sendiri.
Fitnah terhadap Utsman bin Affan رضي الله عنه
Utsman bin Affan رضي الله عنه tidak luput dari propaganda Syiah. Ia dituduh melakukan nepotisme, menyimpang dari ajaran Nabi ﷺ, bahkan difitnah telah merusak Al-Qur’an. Tuduhan-tuduhan ini sangat berbahaya karena menyentuh salah satu jasa terbesar Utsman, yaitu pengumpulan mushaf Al-Qur’an yang menjadi rujukan seluruh umat Islam hingga hari ini.
Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
« أَلَا أَسْتَحْيِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحْيِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ »
“Tidakkah aku malu kepada seorang yang para malaikat pun malu kepadanya?” (HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan kemuliaan akhlak Utsman. Menuduh dan menghina beliau berarti mengingkari keutamaan yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.
Penghinaan terhadap Sahabat sebagai Strategi Ideologis
Penghinaan Syiah terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman bukan sekadar luapan emosi sejarah, tetapi strategi ideologis yang disengaja. Dengan merusak reputasi para sahabat utama, Syiah berusaha menghancurkan kepercayaan umat Islam terhadap sumber ajaran Islam itu sendiri. Jika sahabat dianggap pengkhianat, maka Al-Qur’an dan Sunnah yang mereka riwayatkan pun bisa diragukan.
Inilah sebabnya ulama Ahlus Sunnah memandang penghinaan terhadap sahabat sebagai pintu masuk kehancuran agama. Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله menyatakan bahwa siapa pun yang mencela sahabat Nabi ﷺ, maka ia telah membuka pintu keburukan terhadap Islam.
Sikap Al-Qur’an terhadap Orang yang Membenci Sahabat
Allah Ta’ala memberikan peringatan keras terhadap orang-orang yang membenci generasi awal umat Islam. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang beriman sejati adalah mereka yang mendoakan kebaikan bagi para sahabat, bukan mencela mereka.
﴿ وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا ﴾
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata: ‘Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman, dan jangan Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-Hasyr: 10)
Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa membenci sahabat bukanlah sifat orang beriman.
Dampak Penghinaan Sahabat terhadap Persatuan Umat
Penghinaan Syiah terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman telah menyebabkan perpecahan mendalam di tengah umat Islam. Kebencian yang diwariskan secara turun-temurun ini menciptakan konflik ideologis, sosial, bahkan politik di berbagai belahan dunia Islam. Di Indonesia, paham ini berpotensi merusak kerukunan umat jika tidak diantisipasi dengan pemahaman akidah yang benar.
Membela kehormatan sahabat bukan berarti menolak Ahlul Bait, karena Ahlus Sunnah justru memuliakan seluruh keluarga Nabi ﷺ tanpa mencela para sahabat lainnya. Islam tidak dibangun di atas kebencian, tetapi di atas keadilan dan penghormatan terhadap generasi terbaik.
Penutup
Penghinaan Syiah terhadap Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah bentuk penyimpangan serius yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ umat Islam. Para sahabat adalah pilar agama ini; merusak kehormatan mereka berarti merobohkan bangunan Islam itu sendiri. Oleh karena itu, umat Islam wajib waspada terhadap ajaran yang menanamkan kebencian kepada para sahabat, karena kebencian tersebut bukan jalan menuju kebenaran, melainkan jalan menuju perpecahan dan kesesatan.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: