Breaking News
Loading...

Pengaruh Syiah dalam Merusak Kesatuan Umat Islam

Syiahindonesia.com – Perpecahan di tengah umat Islam tidak muncul secara tiba-tiba. Sejarah mencatat bahwa berbagai ideologi menyimpang berusaha menggerus fondasi persatuan umat, dan salah satu pengaruh terbesar muncul dari doktrin Syiah. Perbedaan mereka bukan sekadar dalam cabang furu’ atau fikih, tetapi menyentuh inti akidah, otoritas agama, dan sikap terhadap generasi terbaik Islam. Artikel panjang ini membahas secara mendalam bagaimana ajaran Syiah—terutama Syiah Itsna Asyariah (Imamiyah)—berkontribusi besar dalam merusak kesatuan umat Islam dari masa ke masa.


1. Pemahaman Syiah yang Menyimpang terhadap Imamah sebagai Pilar Agama

Syiah menjadikan Imamah sebagai rukun iman versi mereka. Mereka meyakini bahwa tanpa meyakini 12 imam, seseorang dianggap kafir atau tidak termasuk Muslim sejati.

Padahal, Islam mengajarkan persatuan umat melalui tauhid, Al-Qur'an, dan Sunnah, bukan loyalitas kepada figur-figur tertentu.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan jangan bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Konsep “tali Allah” di sini adalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan imam yang diagungkan secara berlebihan.


2. Pencelaan Syiah terhadap Para Sahabat: Akar Perpecahan Umat

Salah satu penyebab paling kuat dari perpecahan adalah ajaran Syiah yang menganggap mayoritas sahabat murtad setelah wafatnya Nabi ﷺ kecuali segelintir kecil seperti Salman al-Farisi, Abu Dzar, dan Miqdad.

Bagi Ahlus Sunnah, para sahabat adalah generasi terbaik, penjaga wahyu, dan guru umat. Mencela mereka berarti mencela agama yang sampai kepada kita melalui tangan mereka.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي
“Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Namun doktrin Syiah secara sistematis mengajarkan kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, Aisyah, dan mayoritas sahabat, sehingga memutus hubungan emosional dan ilmiah umat dengan sejarah Islam yang sebenarnya.


3. Doktrin Al-Wilayah dan Al-Bara’: Loyalitas Buta yang Memecah Belah

Syiah mewajibkan al-wilayah (loyal kepada imam dan Syiah) dan al-bara’ (berlepas diri dari selain Syiah). Ini bukan sekadar perbedaan mazhab, tetapi ideologi eksklusif yang memisahkan mereka dari umat.

Akibatnya:

  • Mereka tidak mengakui keabsahan imam shalat Sunni.

  • Mereka tidak mau shalat berjamaah dengan Ahlus Sunnah.

  • Mereka menciptakan segregasi sosial yang luas.

Padahal Nabi ﷺ memerintahkan:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.”
(HR. Bukhari)

Eksklusivitas Syiah justru menghancurkan persatuan umat.


4. Ritual dan Akidah Bid’ah: Muharram, Tabarruk, dan Ghuluw

Syiah memperkenalkan ritual yang tidak pernah ada di zaman Nabi maupun sahabat:

  • ratapan berlebihan saat Asyura,

  • melukai tubuh,

  • mut’ah,

  • tatabbur kubur imam,

  • memohon syafaat langsung kepada manusia.

Semua ritual ini bukan hanya bid’ah tetapi memecah umat dengan menciptakan identitas keagamaan yang berbeda jauh dari Islam yang murni.

Allah berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian.”
(QS. Al-A’raf: 3)

Bukan mengikuti ritual tambahan yang dibuat jauh setelah wafatnya Nabi ﷺ.


5. Tuduhan terhadap Pemerintahan Sunni: Memantik Konflik Politik

Dalam sejarah Islam:

  • Revolusi Iran 1979 menyebarkan gagasan ekspor revolusi Syiah.

  • Konflik Suriah, Irak, Yaman, dan Lebanon memperlihatkan dukungan Syiah terhadap milisi bersenjata yang berkonflik dengan mayoritas Sunni.

  • Organisasi seperti Hizbullah dan Houthi secara terbuka menyebarkan permusuhan sektarian.

Ideologi Syiah modern sangat terkait dengan geopolitik Iran, menjadikan agama sebagai alat politik, sehingga membenturkan komunitas Sunni–Syiah di berbagai negara.


6. Distorsi Sejarah: Membuat Narasi Kebencian terhadap Sunni

Syiah menghasilkan banyak buku sejarah palsu yang menuduh sahabat merampas hak Ali, memfitnah istri Nabi, dan menyebarkan kebohongan tentang para khalifah.

Narasi ini digunakan:

  • untuk membangkitkan sentimen anti-Sunni,

  • untuk menanam kebencian sejak kecil,

  • untuk memutus ukhuwah Islamiyah.

Padahal Nabi ﷺ menyabdakan:

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
“Janganlah kalian kembali kafir setelahku, saling memerangi satu sama lain.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


7. Penyebaran Da’wah Syiah melalui Media dan Internet

Syiah aktif menggunakan:

  • media sosial,

  • website,

  • beasiswa pendidikan,

  • konten video,

  • organisasi sosial bantuan.

Namun di balik itu, mereka menyisipkan doktrin bertahap seperti:

  • membenarkan caci maki sahabat,

  • mengunggulkan imam mereka,

  • merendahkan Sunni,

  • menyebarkan hadis-hadis palsu.

Inilah sebabnya kewaspadaan terhadap penyebaran Syiah sangat penting terutama di Indonesia.


8. Kesimpulan: Syiah Memang Doktrin yang Berpotensi Merusak Kesatuan Umat

Tidak bisa dipungkiri bahwa ajaran inti Syiah—bukan sekadar fikih—bersifat:

  • eksklusif,

  • provokatif,

  • penuh kebencian terhadap sahabat,

  • bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah,

  • serta telah menimbulkan konflik di berbagai belahan dunia.

Persatuan umat tidak akan kokoh selama ajaran penyimpangan ini terus menyebar dan merusak dasar-dasar Islam yang dibangun oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya.

Semoga umat Islam Indonesia waspada terhadap infiltrasi Syiah dan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an, Sunnah, serta manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah.

(albert/syiahindonesia.com)



************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!

Artikel Syiah Lainnya

0 komentar: