Syiahindonesia.com - Upaya mengubah identitas Islam merupakan salah satu isu paling krusial yang dibahas para ulama ketika mengkaji ajaran Syiah, karena perubahan identitas bukan sekadar perbedaan cabang fiqih, melainkan menyentuh fondasi akidah, sumber rujukan agama, serta cara umat memahami sejarah dan otoritas keilmuan Islam. Dalam konteks Indonesia yang mayoritas bermazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pembahasan ini penting sebagai langkah pencegahan agar umat tidak perlahan diarahkan kepada pemahaman Islam yang asing dari ajaran Nabi ﷺ dan generasi terbaik umat ini.
Identitas Islam dalam Perspektif Ahlus Sunnah wal Jama’ah
Identitas Islam yang murni dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi ﷺ sebagaimana dipahami oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Inilah prinsip yang sejak awal dijaga ketat oleh para ulama, karena pemahaman generasi awal adalah pemahaman yang paling dekat dengan sumber wahyu.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.”
(QS. At-Taubah: 100)
Ayat ini menjadi dasar bahwa identitas Islam tidak boleh dilepaskan dari pemahaman generasi sahabat.
Strategi Syiah: Menggeser Pusat Otoritas Keagamaan
Salah satu cara paling mendasar yang dilakukan Syiah dalam mengubah identitas Islam adalah dengan menggeser pusat otoritas keagamaan. Jika Ahlus Sunnah menjadikan Al-Qur’an, Sunnah sahih, dan ijma’ sahabat sebagai rujukan utama, maka Syiah menggantinya dengan doktrin imamah yang menempatkan imam-imam mereka sebagai otoritas tertinggi yang dianggap maksum dan tidak mungkin salah.
Perubahan ini berdampak besar, karena Islam tidak lagi dipahami sebagai agama wahyu, melainkan agama figur. Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda:
« تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِي: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي »
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat setelahku: Kitab Allah dan Sunnahku.”
(HR. Malik, Al-Hakim)
Hadis ini dengan jelas menegaskan sumber identitas Islam yang hakiki.
Perubahan Makna Cinta Ahlul Bait
Syiah juga berusaha mengubah identitas Islam dengan memonopoli makna cinta kepada Ahlul Bait. Dalam Islam, mencintai Ahlul Bait adalah kewajiban, namun cinta tersebut tidak boleh melahirkan kebencian terhadap sahabat Rasulullah ﷺ. Syiah justru menjadikan cinta Ahlul Bait sebagai alat ideologis untuk menyerang para sahabat dan merombak sejarah Islam.
Padahal Rasulullah ﷺ melarang keras perbuatan tersebut:
« لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي »
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan merusak kehormatan sahabat, identitas Islam sebagai agama yang bersumber dari generasi terpercaya pun ikut diruntuhkan.
Rekonstruksi Sejarah sebagai Alat Ideologis
Upaya lain yang sangat menonjol adalah rekonstruksi sejarah Islam secara sepihak. Banyak peristiwa sejarah ditafsirkan ulang dengan sudut pandang ideologis Syiah, sehingga tokoh-tokoh utama Islam digambarkan negatif, sementara figur tertentu diangkat secara berlebihan.
Sejarah tidak lagi dipahami sebagai catatan ilmiah, melainkan alat propaganda. Akibatnya, identitas Islam yang seharusnya bersifat objektif dan adil berubah menjadi narasi sektarian yang penuh kebencian dan kecurigaan.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini menjadi peringatan agar umat tidak menerima narasi sejarah tanpa verifikasi ilmiah.
Perubahan Identitas Syariat dan Ibadah
Dalam praktik ibadah, Syiah juga memperkenalkan ritual dan simbol yang tidak dikenal pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat. Lambat laun, ritual ini diklaim sebagai bagian dari “Islam yang sejati”, sehingga identitas Islam bergeser dari sunnah Nabi ﷺ menuju tradisi sektarian.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan dengan tegas:
« مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ »
“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama kami yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi benteng utama dalam menjaga identitas Islam dari penambahan dan perubahan.
Penyusupan Melalui Pendidikan dan Media
Di era modern, upaya mengubah identitas Islam tidak lagi dilakukan secara frontal, tetapi melalui jalur pendidikan, literatur, media sosial, dan dialog lintas mazhab yang tidak seimbang. Identitas Ahlus Sunnah perlahan dikaburkan, sementara ajaran Syiah diperkenalkan sebagai “Islam alternatif” yang diklaim lebih rasional atau lebih mencintai keluarga Nabi.
Tanpa literasi akidah yang kuat, masyarakat awam mudah terkecoh dan mengira bahwa semua perbedaan hanyalah khilafiyah ringan, padahal menyentuh akar keyakinan.
Dampak Serius bagi Persatuan Umat
Perubahan identitas Islam yang dilakukan secara sistematis akan berujung pada perpecahan umat. Ketika sumber rujukan berbeda, sejarah dipelintir, dan otoritas agama bergeser, maka persatuan yang sejati mustahil terwujud.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ﴾
“Berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Persatuan hanya mungkin terwujud jika identitas Islam dijaga di atas Al-Qur’an dan Sunnah, bukan ideologi sektarian.
Kesimpulan
Upaya Syiah dalam mengubah identitas Islam dilakukan melalui penggeseran otoritas keagamaan, pemelintiran sejarah, redefinisi cinta Ahlul Bait, serta penyebaran ritual dan narasi yang tidak bersumber dari sunnah Nabi ﷺ. Semua ini menuntut kewaspadaan umat Islam Indonesia agar tetap teguh di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Menjaga identitas Islam bukanlah bentuk intoleransi, melainkan amanah ilmiah dan keimanan agar agama ini tetap murni sebagaimana diturunkan Allah dan diajarkan Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya.
(albert/syiahindonesia.com)
************************
Ayo Gabung dengan Syiahindonesia.com Sekarang Juga!
0 komentar: