Ath-Thinah yang dimaksud oleh Rafidhah di sini adalah tanah kuburan al-Husain Radhiyallahu 'anhu.
Dinukil oleh Muhammad an-Nu’man al-Haritsi yang dijuluki dengan asy-Syaikh al-Mufid, salah seorang pembawa faham kesesatan dalam bukunya al-Mazar, dari Abu Abdillah, ia berkata, “Tanah kuburan al-Husain adalah obat untuk segala penyakit, ia adalah obat yang paling agung.”
Abdullah berkata, “Usapkanlah debu kuburan al-Husain pada langit-langit mulut anakmu.” [Ini berbeda dengan Ahlus Sunnah yang menganjurkan bayi yang baru lahir digosokkan di mulutnya lumatan kurma yang halus (sesuai perintah Rasulullah)].
Masih ucapan an-Nu’man, seorang dari Khurasan diutus untuk menyampaikan kepada Abul Hasan ar-Ridha berupa bingkisan beberapa baju, dan diselipkan di sela-sela baju tersebut sedikit tanah kuburan al-Husain. Maka Abul Hasan berkata kepada utusan tersebut, “Apa ini?” Ia pun menjawab, “Ini tanah kuburan al-Husain, dan tidak dihadiahkan kepada seseorang baju atau yang lainnya kecuali disertakan bersamanya tanah kuburan al-Husain, dan ia mengatakan karena itu untuk keselamatan dengan izin Allah.”
Diriwayatkan ada seseorang bertanya kepada ash-Shadiq tentang faidah penggunaan tanah kuburan al-Husain, maka ash-Shadiq menjelaskan kepadanya, “Jika makan tanah kuburan ini bacalah bacaan ini: ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu, dengan perantaraan malaikat yang telah menggenggam (ruhnya) dan memohon kepada-Mu, dengan perantaraan washi (Ali) yang telah bersemayam di dalamnya, agar Engkau berikah shalawat kepada Muhammad, dan keluarganya, dan agar Engkau jadikan tanah ini obat untuk segala macam penyakit, keselamatan dari segala yang ditakutkan, dan penjagaan dari segala keburukan’.”
Abu Abdillah pernah ditanya tentang khasiat penggunaan dua tanah, yaitu tanah kuburan Hamzah dan al-Husain, serta keistimewaan dari masing-masing dua tanah tersebut, maka beliau menjawab, “Biji tasbih yang terbuat dari tanah kuburan al-Husain dapat bertasbih (membaca subhanallah) di tangan orang yang tidak bertasbih. [lihat Kitabul Mizar, karya Al-muffid, hal. 125].
Orang Rafidhah mengira dan mendakwahkan bahwa orang Syi’ah diciptakan dari tanah khusus dan orang Sunni diciptakan dari tanah yang lain. Kemudian kedua tanah tersebut dicampur dengan cara tertentu, sehingga ketika ada dalam diri orang Syi’ah kemaksiatan dan tindakan kriminalitas, disebabkan terpengaruhnya dengan tanah asal diciptakannya orang Sunni. Dan bila terdapat dalam diri orang Sunni kebaikan dan amanah, maka itu karena pengaruh tanah diciptakannya orang Syi’ah.
Karena itu, bila tiba Hari Kiamat, maka segala kejelekan dan dosa orang-orang Syi’ah akan dipikul kepada orang-orang Ahlus Sunnah, dan sebaliknya, segala kebaikan Ahlus Sunnah akan diberikan kepada orang-orang Syi’ah.
(Petikan: Menyingkap Hakikat Aqidah Syi’ah (Terjemahan), oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad, hal. 37-39).
Comments (1)
Subscribe to this comment's feedWrite comment
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|

















