
Syi'ah menjadi kekuatan politik terbesar di Iraq, sesudah dua kekuatan partai politik Syi'ah yang didukung Iran bergabung.
Perdana Menteri Nuri Al-Maliki yang memimpin Kekuatan Aliansi Nasional (INA), menjadikan golongan Syi'ah menjadi kekuatan politik terbesar di Iraq dengan suara 159 kursi di parlemen. Dengan memimpin koalisi nasional, Al-Maliki memiliki peluang untuk memimpin pemerintahan pada periode kedua. Koalisi Nasional Iraq merupakan gabungan dua partai Syi'ah, yaitu Dewan Mahkamah Islam (ISCI) dengan gerakan Sadr yang anti Amerika.














