Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Selalu Bela Syiah, Mayoritas Ulama Madura Tolak Said Aqil Siraj

Said Aqil Siraj
Syiahindonesia.com - Kekecewaan mendalam sebenarnya dialami warga nahdliyyin madura terhadap Said Agil Siraj (SAS). Hampir 10 Tahun pernah konflik dengan syiah khususnya di wilayah Sampang, Namun saat mencapai puncaknya pada tahun 2012-2013 yang lalu SAS justru berpihak membela syiah.

Salah seorang ulama Sampang yang juga Pengurus Wilayah GP Anshor Jatim KH. Jakfar Shodiq saat di hubungi NUGarisLurus.Com mengungkapkan sedikit kronologi konflik Nahdliyyin dengan syiah yang sudah sejak tahun 2004 namun sama sekali tidak ada pembelaan PBNU terhadap warga Nahdliyyin.

“Kasus syiah Sampang sudah sejak tahun 2004 sampai dengan tahun  2012-2013 mencapai puncaknya.Hampir tidak ada sama sekali pembelaan dari PBNU kepada PCNU Sampang,” Kata Kyai Jakfar kepada NUGarisLurus.Com, Senin 8 Februari 2016.

“Setiap PBNU datang hanya menampung. terakhir pada bulan puasa 2012. kita sudah siap -siap dengan kyai -kyai khos yang datang hanya petugas dari PBNU. Sama sekali tidak serius, “ungkapnya.

Menurut kyai Jakfar mayoritas atau 100% ulama madura menolak Said Agil Siraj (SAS) karena pembelaannya terhadap syiah yang disebuah media massa justru menyebut bahwa NU Sampang memalukan. “Itu kan bentuk pembelaan SAS kepada Syiah, “Lanjut pengurus Bassra dan AUMA Madura yang menjadi pengurus Ansor sejak 1994 ini.

“Saya bicara dengan Rais PCNU Sampang Kyai Safik. Saat syiah diusir dari GOR Sampang, SAS telpon langsung Rais Syuriah minta dihentikan pengusiran. SAS kebakaran jenggot, “lanjutnya menceritakan kejadian saat itu.

Mayoritas ulama Madura atau hampir 100% menolak SAS karena pembelaannya terhadap syiah namun tidak mau membela warga Nahdliyyin Sampang.

“Mayoritas atau hampir 100% ulama Madura tolak SAS. Saat kasus Syiah Sampang SAS tidak pernah ke lokasi menemui para ulama. Namun Hanya sekali ke pendopo dan tidak mengundang para ulama, “tutupnya. (nugarislurus.com)

Keajaiban Perang di Suriah: Para Malaikat, Tentara Allah, Turun Membantu Mujahidin

Illustrasi; Mujahidin Suriah tengah laksanakan shalat berjama'ah
Syiahindonesia.com - Perang di Suriah, entah kenapa, media di Indonesia khususnya seperti tak berminat untuk memblowupnya.

Kecamuk perang di Suriah dan banyaknya korban gugur, khususnya dari kalangan warga sipil Muslim, luput dari berita. Bahkan, ironisnya, umumnya media menyebut Mujahidin yang melawan rezim Basyar Asad sebagai “pemberontak”.

Karena sunyi dari berita dan tayangan inilah, otomatis publik–khususnya umat Islam di Indonesia–tidak begitu ngeh dengan apa yang terjadi di Suriah sesungguhnya.

Padahal, seperti diceritakan relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan dan medis di salah satu front di jabal Akrod, perang di Suriah sungguh luar biasa. Karena itulah, kenapa, misalnya, dengan kehendak Allah, bumi Syam (Suriah) dipilih sebagai tempat perang yang melibatkan banyak pihak.

Akankah perang Suriah berlangsung lama, bahkan kelak menjadi cikal bakal peperangan menjelang kiamat tiba? Wallahu A’lam. Yang jelas, keterlibatan banyak pihak (negara) dalam konflik di Suriah ini, boleh jadi ada skenario yang Allah kehendaki dalam peperangan ini.

Tim Ketiga Relawan HASI, setidaknya, merasakan keberkahan bumi Syam. Panggilan jihad benar-benar mereka saksikan di wilayah tempat mereka mengemban tugas.

Saat mereka bertugas di Jabal Akrod, banyak kisah dan pengakuan yang mereka dengar sendiri, betapa pertolongan Allah benar-benar turun di Bumi Jihad Suriah.

Koordinator Tim Ketiga HASI,  Abu Yahya, menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Asad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan Mujahidin.

Saat diwawancara oleh Mujahidin Suriah dan relawan HASI, mantan tentara Asad itu, menjawab pertanyaan kenapa pasukan Asad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada Mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah)  maupun persenjataan, Mujahidin jauh kalah dibanding tentara Asad.

Mantan tentara Asad itu menjelaskan sembari terkejut dan heran lalu balik bertanya. “Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berpikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang,” ungkapnya seperti diceritakan kembali oleh Abu Yahya dalam presentasi Laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Untuk diketahui, wilayah Jabal Akrod mempunyai sebuah tapal batas dengan tentara Asad yang jumlahnya ribuan. Tapal batas tersebut hanya dijaga oleh ratusan Mujahidin. Begitu pentingnya tapal batas tersebut mempengaruhi situasi di Jabal Akrod, jika pasukan Asad mampu membobolnya.

“Namun, hingga kita pulang mereka tidak mampu membobol tapal batas, Allah menurunkan pertolongannya. Sebab, di sana dijaga oleh para Mujahidin yang sangat ikhlas mencari ridho Allah, sangat menjaga ke-Islamannya, sedikit bicara, menundukkan pandangan, dan menjauhi sikap ashobiyah (fanatisme kelompok),” papar Ustadz Oemar Mitha, penerjemah yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan HASI.

Peristiwa-peritistiwa luar biasa seperti di atas pun tidak hanya terjadi satu kali.  Pada kejadian yang lain, Mujahidin hendak melakukan perang dengan konvoi 50 truk yang berisi tentara Basyar Asad.

Hingga pada satu titik terjadilah baku tembak antara Mujahidin dengan tentara Asad. Mujahidin memang sudah bertekad  untuk menghabisi dan memukul mundur tentara Bashar Asad.

Di luar dugaan, tiba-tiba saja muncul kejadian di luar perkiraan mereka. Helikopter dan pesawat tempur datang seperti hendak memerangi Mujahidin. Mujahidin yakin, ini bantuan dari pihak Bashar Asad untuk menghabisi mereka.

Ingat, hingga kini Mujahidin Suriah sama sekali tidak memiliki alat tempur seperti pesawat. Mereka bertempur hanya via jalur darat dengan persenjataan yang kalah canggih jika dibandingkan milik rezim Asad.

Mengukur jumlah personel dan persenjataan yang terbatas, komando Mujahidin menyerukan agar segera mengosongkan tempat pertempuran dan masuk ke gunung-gunung untuk mengatur strategi.

Anehnya, ketika Mujahidin sudah menarik diri, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Berondongan dan desingan peluru seperti enggan berhenti walau tidak ada satu Mujahidin pun tersisa di lokasi pertempuran. Komandan Mujahidin sampai bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya yang sedang berperang melawan tentara Bashar Asad?

Ia pun mengecek jumlah personel untuk memastikan kemungkinan ada Mujahidin tertinggal dan melakukan perlawanan terhadap tentara Asad. Namun hasil perhitungannya, seluruh Mujahidin sudah berada di gunung.

Hingga datang matahari terbit dan mereka yakin kondisi telah aman, barisan Mujahidin pun turun dari gunung-gunung. Dan, betapa terkejutnya mereka melihat sebagian tentara Asad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya baru menghadapi pertempuran hebat.

Tentu kejadian ini menjadi seribu tanya bagi Abu Yahya, relawan HASI yang menghabiskan waktu selama satu bulan, 4 November-4 Desember 2012, di Desa Salma, Jabal Akhrod, Suriah. Ia mendapatkan kisah ini langsung dari Mujahidin.

“Lantas siapa yang berada di dalam pesawat dan helikopter untuk melawan tentara Suriah?” tanya Abu Yahya yang diliputi rasa heran audiens yang hadir.

Banyak peristiwa-peristiwa lain yang belum sempat diceritakan relawan HASI secara lengkap mengingat keterbatasan waktu.

Namun, kisah-kisah tersebut sudah cukup mengukuhkan keyakinan perihal munculnya ayaturrahman fii jihadil-Syam (keajaiban perang di Bumi Syam).

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (QS Al-Anfal: 10). Allahu Akbar! (arrahmah.com/salam-online.com)

KH. Ma'ruf Nyatakan Quraisy Shihab Seorang Pendukung Syiah

KH. Ma’ruf Amin
Syiahindonesia.com - Pengurus Lembaga Penelitian dan Pengkajian (LPPI) Indonesia Bagian Timur, Hj. Rosmeinita Arif, MA yang tinggal di Jakarta Utara, bersama Muh. Istiqamah silaturrahim ke rumah pribadi Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat KH. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin, Senin (10 /3/ 2014) malam.

Pada saat pertemuan itu diungkapkan beberapa hal tentang Syiah Indonesia dan tokoh-tokohnya. Diantara yang cukup signifikan, meski disebut pada point ke-5, adalah pernyataan Kyai Ma’ruf bahwa Quraisy Syihab mendukung Syiah, “Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syiah dalam bukunya, Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?“

Berikut ini adalah point-point yang diutarakan oleh KH. Ma’ruf Amin sebagaimana ditulis oleh Muh. Istiqamah dari LPPI Makassar Rabu (12/3/2014).

Pertama, Meskipun dalam pengurus MUI Pusat ada tokoh yang mendukung Syiah seperti Prof. Umar Shihab, Buku Panduan MUI, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tetap harus diterbitkan karena ada amanah fatwa MUI tahun 1984 untuk mewaspadai masuknya ajaran Syiah di Indonesia. Dan alhamdulillah buku itu sudah tersebar luas di masyarakat.

Fatwa 1984 tersebut masih menggantung, Syiah bagaimana yang harus diwaspadai. Karena itu, dalam buku ini kami jelaskan dan gambarkan bentuk ajaran dan pergerakan Syiah di Indonesia yang harus diwaspadai.

Kedua, Saya sebenarnya pernah diakali untuk pergi ke Iran tapi saya tidak pernah mau. Makanya yang lain pergi ke Iran, saya tidak. Karena itu, sepulang dari Iran Umar Shihab mendukung Syiah.

Ketiga, Syiah di Indonesia yang kita temukan, tidak bisa kita pungkiri memang mempraktekkan makian kepada sahabat-sahabat Nabi.

Keempat, Untuk Fatwa Nasional tentang kesesatan Syiah, kami butuh bukti lapangan orang Syiah memaki sahabat. Karena Jalaluddin Rakhmat itu sering menyangkal jika dituduh memaki sahabat.

Bukan literatur, kalau literaturnya ada. Seperti di Sampang, bukti lapangannya ada, mencaci maki sahabat Nabi. Di Jawa Timur, mereka (pemerintahnya) berani, Ulamanya bersatu. Meskipun waktu itu ada tekanan dari (beberapa orang) Kemenag, saya tetap mendukung fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah karena sudah prosedural (Baca disini:http://www.lppimakassar.com/2012/11/mui-pusat-mengesahkan-dan-mendukung.html).Begitu juga saya mendukung MUI Daerah untuk keluarkan fatwa serupa kalau sudah menemukan bukti lapangan.

Kelima, Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syiah dalam bukunya “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?,”

Nah, lalu Tim Penulis Pesantren Sidogiri mematahkan semua argumen Quraish Shihab dalam buku bantahan yang mereka tulis, namun sayang, buku ini tidak terlalu menyebar. (azm/arrahmah.com)

KH. A. Nawawi: Syiah itu Sesat dan Menyesatkan

KH. A. Nawawi Abd. Dalil
Syiahindonesia.com - Penyebaran aliran Syiah di Indonesia lumayan cepat. Pengikut Syiah diperkirakan sudah mencapai tiga juta orang. Padahal Syiah merupakan aliran yang bertentangan dengan Ahlussunnah tidak hanya dalam persoalan syariat, tapi juga akidah. Berikut wawancara Ahmad Dairobi dari BULETIN SIDOGIRI dengan Hadratussyekh KH. A. Nawawi Abd. Djalil, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri.

Baru-baru ini, konflik Sunni-Syiah sempat mencuat di Jawa Timur, terutama di Pasuruan dan Bondowoso. Sebetulnya di mana letak sesungguhnya perbedaan Sunni-Syiah itu?

Syiah itu adalah aliran yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah, bahkan Syiah itu lebih jauh daripada Wahabi. Perbedaan dengan Muhammadiyah  kan hanya sekedar hukum-hukum syar’i, seperti tahlil dan lain sebagainya. Tapi kalau perbedaan syiah ini sangat tajam. Hadits yang dibuat pegangan oleh Ahlussunnah tidak mereka pakai. Mereka punya Hadits sendiri. Orang Syiah tidak mau kepada Hadits-hadits dalam Shahih Bukhari, Muslim, Sunan Abi Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban. Dan, al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut mereka masih kurang. Al-Qur’an kata mereka lebih banyak dari itu.

Jadi, soal kitab dan rujukan saja antara Syiah dan Ahlussunnah sudah lain. Kalau Muhammadiyah atau Wahabi al-Qur’an-Haditsnya sama dengan kita. Hanya masalah pengelolaannya yang berbeda.

Secara akidah, Syiah apa tergolong ahli bid’ah atau tergolong kafir?

Kalau secara global, tidak kafir. Tapi, kalau secara perinci sepertinya sudah bukan Islam. Rasulullah menyatakan bahwa Islam itu terpecah menjadi 73 tiga golongan, dan hanya satu yang selamat. Lainnya di neraka. Yang selamat adalah golongan yang keyakinan dan kelakuannya mengikuti Rasulullah dan para shahabat. Itulah Ahlussunnah.

Di antara golongan yang sangat tajam perbedaannya dengan Ahlussunnah adalah golongan Syiah. Mereka tidak mengakui al-Qur’an, tidak mengakui Hadits-hadits Rasulullah saw.

Jika dilihat bahwa mereka tidak mengakui keabsahan al-Qur’an yang dibaca Muslimin sekarang, apa secara fikih tidak murtad?

Kalau soal itu kan sudah maklum. Tapi, saya tidak berani menyatakan kafir begitu. Mereka masih umat Rasulullah Muhammad saw. Tapi, kalau dilihat secara tafshîl (detail dari berbagai paham mereka, red), sepertinya memang sudah di luar Islam.

Pada tahun 1984, Majelis Ulama Indonesia (MUI) hanya mengingatkan agar umat Islam waspada dan berhati-hati terhadap Syiah. Tidak menfatwakan bahwa Syiah itu sesat. Sebetulnya bagaimana langkah MUI ini?

Ya maksudnya jangan sampai ikut Syiah. Kita harus berhati-hati. Itu suatu peringatan jangan sampai ikut-ikut Syiah. Tapi, Syiah itu sebetulnya juga macam-macam. Syiah yang paling dekat (mirip) dengan Ahlussunnah adalah Syiah Zaidiyah. Al-Qur’annya sama, Haditsnya juga sama. Lah, Syiah yang masuk ke Indonesia adalah Syiah Iran, yaitu Syiah Itsna Asyariah.

Syiah Itsna Asyariah ini menyatakan bahwa setelah wafatnya Rasulullah semua shahabat murtad, kecuali beberapa orang, seperti Sayyidina Ali, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin al-Aswad, dan Salman al-Farisi. Sedangkan shahabat-shahabat andalan Rasulullah seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Abu Hurairah, menurut Syiah Itsna Asyariyah, mereka murtad semua.

Orang Syiah biasa mengucapkan laknatullah alaihi kepada para shahabat. Bahkan, ada orang Syiah yang menyebut Siti Aisyah sebagai sundel (pelacur). Kalau sampai seperti itu mereka kurang ajar terhadap para Shahabat. Padahal dalam Hadits, jelas-jelas Rasulullah saw sangat melarang sabb as-Shahâbah (memaki Shahabat).

Jadi, dari segi kegemaran mereka memaki para Shahabat, Syiah sudah sesat?

Ya, sangat sesat. Menurut saya mereka itu dhâllun mudhillun (sesat dan menyesatkan).

Lalu, bagaimana sikap kita mengahadapi Syiah ini. Apa harus diberantas?

Kalau bisa ya harus diberantas. Tapi, jangan sampai merusak. Ya ada ukurannya. Ada beberapa Habaib yang menyatakan bahwa orang-orang Syiah itu halla dzabhuhum (halal dibunuh). Kalau Sidogiri nggak. Sidogiri ikut cara Walisongo (yang tidak menggunakan kekerasan). Cara para sunan itu terbukti banyak hasilnya dalam menyebarkan Islam. Mereka tidak menggunakan kekerasan.

Salah satu pernyataan yang sering dikutip oleh orang Syiah adalah dawuh Imam Syafii: “Kalau mencintai Ahlul Bait itu dianggap Rafidhi (Syiah), maka biarlah manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah orang Rafidhi”. Bagaimana menurut Kiai?

Dawuh Imam Syafii itu disalahgunakan oleh mereka. Kecintaan Imam Syafii terhadap Ahlul Bait beda jauh dengan cinta Ahlul Baitnya orang-orang Syiah. Orang Syiah itu Hubbu (cinta) Ahlul Bait tapi Bughdu Ashhâhbi Rasûlillâh (membenci Shahabat-Shahabat Rasulullah saw). Sedangkan Imam Syafii mencintai Ahlul Bait dan juga mencintai para Shahabat.

Hadits-hadits Rasulullah saw yang menyuruh kita untuk meneladani Shahabat serta tidak membenci atau memaki mereka, oleh orang Syiah tidak dipakai. Sebab, kitab Hadits yang mereka pakai adalah al-Kâfi. Padahal al-Kâfi itu bukan sabda Rasulullah, tapi dawuh dari imam-imamnya orang Syiah. Itupun banyak pemalsuan.

Para imam-imam Syiah, seperti Sayyidina Hasan, Husain dan Ali Zainal Abidin,  juga sangat dihormati oleh Ahlussunnah. Apa memang benar imam-imam itu menyebarkan ajaran Syiah?

Nggak... mereka itu hanya diaku-aku menyebarkan paham Syiah. Banyak pemalsuan-pemalsuan terhadap mereka. Mereka tidak bilang begitu, tapi oleh riwayat Syiah dinyatakan bilang begitu.

Jumlah Syiah di Indonesia diklaim sekitar 1 sampai 3 juta, bagaimana cara yang baik untuk memberantas paham mereka ini  menurut Kiai?

Ya didatangi ke rumahnya. Dengan cara berdialog. Tidak usah dibikin ramai-ramai. Soalnya kalau ramai-ramai nggak ada yang hasil.

Ada yang menyatakan bahwa shalat bagi orang Syiah adalah tiga waktu bukan lima waktu. Bagaimana sebetulnya hal ini?

Iya, menurut mereka waktu shalat itu adalah pagi yaitu subuh; kemudian siang yaitu shalat dzuhur dan ashar; dan malam, yaitu shalat maghrib dan isya’. Jadi, menurut mereka shalat dzuhur bisa dikumpulkan dengan ashar, shalat maghrib bisa dikumpulkan dengan isya, meskipun tidak dalam perjalanan. Jadi, hanya tiga waktu bukan lima waktu. Ajaran ini tidak sesuai dengan penjelasan Rasulullah saw terhadap perintah shalat di dalam al-Qur’an. Rasulullah saw jelas-jelas menyatakan shalat itu lima waktu.

Salah satu perbedaan tajam Ahlussunnah dengan Syiah adalah masalah nikah mut’ah. Syiah menyatakan nikah mut’ah itu halal. Sedangkan Ahlussunnah menyatakan haram. Kenapa demikian?

Memang, nikah mut’ah itu pernah dihalalkan. Tapi, itu jelas-jelas sudah dinasakh.

Apakah Kiai setuju jika MUI mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat, seperti fatwa MUI untuk Ahmadiyah?

Syiah dan Ahmadiyah kan sama-sama sesat. Cuma, Ahmadiyah lebih parah lagi. Sampai menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu sebagai nabi. Syiah tidak sampai seperti itu. Tapi, di Syiah pun sebetulnya ada kelompok yang menyatakan bahwa malaikat Jibril salah memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Kata mereka, sebetulnya Allah menyuruh menurunkan wahyu  kepada Sayyidina Ali. Cuma malaikat Jibril salah.

Kelompok Syiah yang semacam ini jelas kafir. Sebab, seperti dikatakan oleh Sayyid Muhammad al-Maliki, orang yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Mahaesa, tapi ia tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw, orang ini belum Islam. Soalnya rukunnya iman itu kan iman kepada Allah, para rasul, kitab suci, malaikat, hari akhir dan qadha-qadar.

Namun demikian, Syiah secara umum nggak seperti itu.

Beberapa orang  Syiah di Indonesia membantah bahwa Syiah membenci Shahabat, shalat tiga waktu dan al-Qur’annya berbeda?

Itu bagian dari taqiyyah (menyembunyikan keyakinannya jika kondisinya tidak memungkinkan). Memang, para ’kiainya’ Syiah menyuruh pengikutnya untuk taqiyyah pada saat kelompok mereka masih kecil. Mereka menyuruh agar ajaran Syiah yang bertentangan dengan Ahlussunnah jangan sampai dibuka di hadapan orang lain. []

Sumber: Buletin SIDOGIRI, edisi 19/Tahun II/Jum. Tsaniyah 1428

(syamsulmunawwir.com)

Rezim Nushairiyah Suriah Terbukti Menyiksa & Membunuh Ribuan Tahanan Secara Sistematis

Foto kekejaman penjara Suriah
Syiahindonesia.com - Sebuah kelompok hak asasi manusia telah merilis “bukti memberatkan” yang menyatakan bahwa pemerintah Suriah telah secara sistematis membiarkan ribuan tahanan kelaparan, menyiksa dan mengeksekusi mereka selama perang sipil.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan analisis, identifikasi dan verifikasi terhadap 27 korban di antara koleksi massa foto yang bocor tahun lalu memberikan bukti kejahatan “otentik” terhadap kemanusiaan yang dilakukan rezim Nushairiyah Suriah.

Analisis, yang dirilis pada Rabu (16/12/2015), itu berdasarkan pada gambar lebih dari 50.000 foto yang diselundupkan keluar dari Suriah oleh seorang pembelot militer dengan nama sandi “Caesar”.

Caesar adalah seorang fotografer forensik untuk polisi militer Suriah, yang memfoto mayat tahanan yang tewas dan membantu mengarsipkan ribuan lainnya sebelum ia membelot pada bulan Agustus tahun 2013.

Gambar-gambar itu menunjukkan jasad sekitar 6.000 tahanan – kebanyakan memiliki luka tanda penyiksaan atau kelaparan – yang diduga meninggal di penjara atau setelah dipindahkan ke rumah sakit militer.

Nadim Houry, wakil direktur HRW Timur Tengah, mengatakan bahwa laporan baru mereka mengonfirmasi kebenaran mereka.

“Kami telah memverifikasi puluhan cerita dengan cermat dan kami yakin foto-foto Caesar menunjukkan bukti kejahatan otentik – dan memberatkan – terhadap kemanusiaan di Suriah,” katanya.

“Foto-foto ini menunjukkan kepada anak-anak mereka, suami mereka, anggota keluarga tercinta mereka, dan teman-teman mereka yang menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk melakukan pencarian,” kata Houry.

“Kami tidak ragu bahwa orang-orang yang ditampilkan dalam foto-foto Caesar itu kelaparan, dipukuli, dan disiksa dengan cara yang sistematis, dan dalam skala besar.”

Caesar telah mengakui bahwa dia tidak tahu alasan di balik pemotretan mayat-mayat para tahanan, tetapi menyimpulkan bahwa “rezim mendokumentasikan segala sesuatu sehingga mereka tidak akan melupakan apa-apa. Oleh karena itu, mereka juga mendokumentasikan kematian para tahanan ini. Jika suatu hari hakim harus membuka kembali kasus itu, mereka akan membutuhkan foto-foto tersebut.” (arrahmah.com)