Slider

Syiah Indonesia

Events

Data dan Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokument Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Kebodohan Syiah: Thowaf Di Kabah Hasil Karya Mereka Yang Dinamakan Kabah Abrahah

Syaihindonesia.com - Hanya bisa menahan tawa ketika melihat kebodohan syiah dalam beribadah. Mereka menolak agama Allah dan membuat ibadah baru. Dan tak hanya itu, mereka juga  membuat ka’bah tandingan di Yaman yang dinamakan dengan ka’bah Abrahah. Orang-orang hutsi syiah melakukan thawaf di sana.

illustrasi

Video ini saya dapatkan dari syaikh Khalid Al-Wushabi -haifidzahullah-. Silahkan para pembaca melihat aksi thawaf mereka di sana.


Atau bisa melihat di youtube melalui link ini: https://youtu.be/kttbIaiIL9E

Setelah melihat video ini, saya hanya bisa memanjatkan doa dari 2 ayat yang terdapat dalam surat Al-Fatihah:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“(Ya Allah) Berilah kami petunjuk menuju jalan yang lurus (6). (Yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7)” (QS. Al-Fatihah 6-7) (alamiry)

Syiah Sekarang Lebih Tepat Disebut Rafidhah

Syiahindonesia.com - Hingga hari ini, arus penyebaran ajaran Syiah Rafidhah masih terus menyusup ke tengah-tengah masyarakat Islam. Berbagai macam strategi mereka gunakan. Selain berupaya untuk bertaqiyah, mereka juga berusaha mengaburkan pengertian syiah yang sesungguhnya. Caranya, setiap kali ditanya tentang kesesatan kelompok syiah, mereka selalu mengembalikan pengertiannya kepada makna bahasa dan mengait-ngaitkannya dengan pengikut Ali bin Abi Thalib (baca;  Syiah Ali).

Syiah di Indonesia

Benar. Secara bahasa, kata Asy-Syiah bermakna pengikut atau penolong. Sehingga setiap kaum yang bersepakat dalam suatu urusan, maka mereka itu disebut sebagai Syiah. (lihat; Mishbahul Munir, pembahasan kata syaya’a)

Sementara menurut istilah, kata Syiah sangat berkaitan erat dengan sejarah kemunculan mereka dan tahapan perkembangan keyakinannya. Sebab, jika diperhatikan, keyakinan dan pemikiran Syiah senantiasa berubah dan berkembang seiring berjalannya waktu.

Fase Perubahan Ajaran Syiah

Paham Syiah pada periode awal berbeda dengan paham Syiah pada periode-periode selanjutnya. Sebab, pada awal kemunculannya, yang disebut sebagai kelompok Syiah adalah orang-orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah daripada Utsman bin Affan. Karena itulah kemudian ada istilah Syi’i (kelompok yang mengutamakan Ali bin Abi Thalib) dan Utsmani (kelompok yang mengutamakan Utsman).

Berdasarkan kenyataan ini, maka istilah Syiah pada periode awal hanya ditujukan kepada orang-orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan. (Lihat; Fatawa Ibni Taimiyyah, 3/153 dan Fathul Bari, 7/34)

Laits bin Abi Sulaim mengatakan, “Aku menyaksikan secara langsung golongan Syiah generasi pertama, dan mereka tidak mengutamakan seorang pun atas Abu Bakar dan Umar bin Khathab.” (Al-Muntaqa, hal. 360-361)

Demikian juga penulis kitab Mukhtashar At-Tuhfah, ia menyebutkan bahwa, “Orang-orang yang hidup pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, semuanya mengakui hak Ali bin Abi thalib dan meletakkan keutamaan pada tempat yang semestinya. Mereka tidak mengurangi keutamaan seorang pun dari teman-temannya yang merupakan para shahabat Rasulullah SAW, apalagi mengafirkan dan mencelanya.” (Mukhtasharut Tuhfah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 3)

Hanya saja, paham Syiah yang bersih, murni, selamat, dan luhur ini tidak bertahan lama. Dasar-dasar paham Syiah terus berubah seiring berjalannya waktu hingga terbagi menjadi beberapa golongan. Kelompok ini juga menjadi sarang persembunyian bagi orang-orang yang bermaksud melakukan tipu daya terhadap Islam dan kaum muslimin dari kalangan musuh-musuh Islam yang zalim dan dengki. Oleh sebab itulah, kita menyebut orang-orang yang mencela Abu Bakar dan Umar bin Khathab dengan sebutan Rafidhah, bukan Syiah, karena sifat-sifat Syiah tidak pas diterapkan pada mereka. (Ushulusy Syiah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah, 1/66-67)

Orang yang mengetahui tahapan perkembangan keyakinan kelompok Syiah, tentu ia tidak heran ketika mendapati adanya para ahli hadits, ulama, dan tokoh-tokoh Islam lainnya yang disebut-sebut sebagai orang Syiah. Bahkan tidak jarang pada hakikatnya mereka adalah para ulama Ahlussunnah. Sebab, Syiah pada zaman dahulu memiliki pemahaman dan definisi yang berbeda dengan Syiah pada zaman sekarang.

Syiah Sekarang lebih tepat disebut Rafidhah

Secara bahasa, kata rafidhah berasal dari kata ar-rafdhu yang berarti meninggalkan dan berlepas diri dari sesuatu. Sedangkan secara istilah Rafidhah adalah suatu kelompok yang dinisbatkan kepada orang-orang yang mendukung Ahlul bait, berlepas diri dari Abu Bakar, Umar bin Khathab, dan sebagian besar shahabat Rasulullah SAW serta mengafirkan dan mencaci maki mereka. (Al-Intishar lish Shuhubi wal Ali, hal. 25)

Sebab penamaan Rafidhah sendiri berawal dari penentangan mereka terhadap Zaid bin Ali yaitu mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khathab. Karena itu lah, Zaid bin Ali berkata, “Rafadhtumûnî (Kalian telah meninggalkan aku).”

Ibnu Taimiyah berkata, “Abu Bakar dan Umar bin Khathab hanya dibenci dan dilaknat oleh kaum Rafidhah, tidak oleh kelompok-kelompok yang lainnya.” (Majmu’ul Fatawa, 4/435)

Sebagian sekte Rafidhah zaman sekarang, mereka  mereka gusar dan tidak rela terhadap penamaan tersebut. Menurut mereka, nama Rafidhah merupakan julukan yang dilekatkan oleh orang-orang yang memusuhi mereka. Muhsin Al-Amin mengatakan, “Rafidhah adalah sebutan untuk mencela orang yang lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib dalam kekhalifahan dan seringnya digunakan untuk mendiskreditkan dan mencela orang-orang itu.” (A’yanusy Syî’ah, 1/20)

Karena itulah, pada zaman sekarang mereka menamakan dirinya dengan Syiah, dan mereka pun lebih populer dengan nama ini (Syiah) di tengah-tengah khalayak ramai. Ironinya, beberapa penulis dan cendekiawan muslim terpengaruh dengan sebutan itu, sehingga kita mendapati mereka menggunakan nama Syiah dalam menyebut sekte Rafidhah. Padahal, Syiah adalah istilah umum yang pengertiannya mencakup setiap orang yang mendukung Ali bin Abi Thalib. (Maqalatul Islamiyyîn, 1/65 dan Al-Milal wan Nihal, 1/155)

Dengan demikian, menggunakan nama Syiah untuk menyebut kaum Rafidhah secara umum tanpa ada keterangan tambahan tidaklah benar. Sebab, istilah Syiah mencakup golongan Zaidiyah yang mengakui kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khathab.

Bahkan, menyebut Rafidhah dengan nama Syiah akan menimbulkan asumsi bahwa mereka adalah kaum Syiah pada zaman dahulu yang muncul pada masa Ali bin Abi Thalib a dan generasi setelahnya, yang mereka bersepakat lebih mengutamakan Abu Bakar dan Umar bin Khathab atas Ali bin Abi Thalib, tetapi lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Utsman bin Affan. Di antara kaum Syiah generasi pertama ini banyak terdapat para ulama dan orang-orang yang dikenal dengan kebaikan dan kemuliaan.

Dampak buruk dari hal itu adalah apa yang terjadi pada sebagian pelajar pemula yang tidak memahami definisi sebenarnya dari istilah Syiah dan Rafidhah. Para pelajar pemula itu salah besar dalam menilai serta menyikapi antara Rafidhah dan Syiah. Mereka menggunakan istilah Syiah untuk menyebut Rafidhah, sehingga mereka mengira bahwa pernyataan para ulama zaman dahulu tentang Syiah juga berlaku juga bagi Rafidhah. Padahal, para ulama membedakan antara kedua kelompok tersebut dalam segala hukum yang mereka tetapkan.

Dengan demikian, kita harus menyebutkan orang-orang yang mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab serta mereka yang mengafirkan para sahabat dengan nama sebenarnya, yaitu Rafidhah. Kita juga tidak boleh menyebut mereka dengan nama Syiah secara umum, karena bisa menimbulkan kerancuan dan ketidakjelasan.

Namun apabila terpaksa menyebut mereka dengan nama Syiah, maka kita harus menyertakan keterangan tambahan yang menunjukkan jati diri mereka secara spesifik, misalnya dengan mengatakan Syiah Imamiyah atau Syiah Itsna Asyariyah, sebagaimana kebiasaan para ulama ketika menyebut mereka. (lihat: Al-Intishar lish Shuhubi wal Ali, hal. 30) Wallahu a’lam bish shawab! (kiblat)

Biadab, Ahlus Sunnah Suriah Diserang dengan Gas Beracun, Korban Kebanyakan Anak-Anak

korban kebanyakan anak-anak
Syiahindonesia.com - Sebuah layanan pertolongan Suriah yang beroperasi di daerah-daerah yang dikuasai oposisi mengatakan pada Selasa (2/8/2016) bahwa sebuah helikopter menjatuhkan kontainer berisi gas beracun pada satu malam di sebuah kota yang berada dekat dengan tempat helikopter militer Rusia ditembak jatuh pada beberapa jam sebelumnya, lansir MEMO.

Seorang juru bicara Pertahanan Sipil Suriah mengatakan bahwa 33 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, terkena gas beracun di Saraqeb, sebuah kota di provinsi Idlib.

Kelompok itu memposting sebuah video di Youtube yang berisi gambar orang-orang sedang berjuang untuk bernapas dan diberi masker oksigen oleh orang-orang berseragam pertahanan sipil.

“Bom barrel berukuran medium yang mengandung gas beracun jatuh,” kata seorang juru bicara. (fath/arrahmah.com)

Pengungsi Perempuan Suriah Hadapi Pelecehan Seksual di Yunani

Syiahindonesia.com - Ketika memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggalnya di kota Idlib, Suriah, Warda tahu ia akan menghadapi perjalanan panjang nan sulit. Namun, sebagai seorang gadis muda berusia 18 tahun, tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya bahwa ia akan menghadapi bahaya yang cukup parah.

Seorang perempuan Suriah bersandar di pagar logam yang memisahkan mereka dari Macedonia di stasiun perbatasan Yunani Idomeni, 28 Februari. (Foto: AP)

Bersama keluarganya, Warda melakukan perjalanan berbahaya ke Yunani dan akhirnya tinggal di kamp darurat khusus pengungsi selama empat bulan terakhir.

Warda berbagi tenda dengan orangtuanya dan harus menggunakan kamar mandi umum. Ia merasa kurang mendapatkan privasi dan itu adalah hal yang menyesakkan. Belum lagi ia harus menghadapi celotehan-celotehan melecehkan dari sejumlah besar pria muda yang berkumpul dalam sebuah kelompok.

“Ini adalah hal yang cukup sulit bagi semua orang, terutama bagi perempuan,” ujar Warda.

Menurut Amnesti International, para perempuan pencari suaka sangat rentan terhadap kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan seksual saat mereka berada di tanah Eropa setelah sebelumnya mereka meninggalkan Irak dan Suriah.

Uni Eropa memang telah menyediakan kamar mandi dan ruang tidur terpisah, tetapi itu semua tidak tersedia di kamp-kamp dan pusat penerimaan pengungsi di Yunani. Hal tersebut telah membuat para perempuan pencari suaka harus menghadapi kekerasan seksual, eksploitasi, dan pelecehan.

Ahmed Hammoud (18) dan keluarganya terpaksa tidur di taman ketika mereka harus menghadiri wawancara untuk keperluan mengurus status pengungsi di European Asylum Support Office (EASO) di Athena. Meskipun keluarganya telah meminta akomodosi sebab ayah Hammoud menderita stroke, tak ada satu akomodasi pun yang tersedia.

Selama dua malam mereka harus tidur dengan tidak nyaman sebelum harus kembali ke pulau Lesbos dan kamp pengungsi Kara Tepe, yang mengutamakan keluarga dan orang-orang yang lemah.

“Malam pertama cukup buruk. Ayah saya dalam keadaan yang payah tapi malam kedua adalah hal yang mengerikan,” kenang Hammoud. “Saya bangun mendengar suara adik saya menangis dan menjerit. Pertama-tama saya pikir dia sedang sakit, tapi ternyata itu adalah suara ibu saya.”

Ketika Hammoud melihat ibunya, empat orang menyerangnya. Sebelum sempat ia mengidentifikasi, mereka sudah keburu kabur. “Mereka mencoba memperkosa ibu saya,” ujarnya sedirih. “Namun sepertinya itu belum cukup untuk mereka. Mereka juga melukai dan membakar ibu saya. Sejak kejadian itu, ibu saya tidak pernah berhenti menangis.”

Pada hari berikutnya, Hammoud dan keluarganya meminta bantuan EASO, tetapi mereka diberitahu bahwa EASO tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah itu polisi dipanggil untuk mengawal dan mengamankan mereka.

Menurut data PBB, perempuan dan anak-anak menyumbang 55 persen dari seluruh jumlah pengungsi yang melintasi Yunani pada bulan Januari, dan angka itu dua kali lipat lebih banyak dari jumlah pengungsi tahun lalu.

Kisah memilukan lainnya terjadi pada Mariam Hussain (17). Sejak tiba di Lesbos pada bulan Maret, ia telah berulang kali mencoba kabur dari ayahnya yang sejak lama telah melakukan penyiksaan secara emosional. Berbulan-bulan dalam penyiksaan membuat ia ingin mencoba untuk bunuh diri.

“Aku begitu tertekan,” kata Mariam. Ia menjelaskan bahwa staf di kamp pengungsi tidak melakukan apa-apa ketika dia meminta untuk dipindahkan dari ayahnya. “Bahkan, mereka malah melaporkan apa yang saya katakan kepada ayah saya.”

Seorang staff Layanan Pencari Suaka Yunani di Athena, Iota Peristeri, mengatakan bahwa dia terkejut mendengar cerita Mariam Hussain. Dia betul-betul tidak menyangka bahwa begitu banyak pengungsi perempuan yang mengalami kekerasan selama proses pencarian suaka.

“Normalnya, seseorang seperti Mariam akan mengunjungi ke salah satu kantor suaka lokal EASO, menandatangani deklarasi resmi yang menyatakan bahwa dia ingin lepas dari ayahnya,” kata Peristeri. “Proses tersebut seharusnya relatif cepat.”

Banyak pencari suaka, termasuk perempuan, yang mengatakan telah menjadi korban kebrutalan polisi di Yunani.

Salaam (20), seorang pengungsi Suriah-Palestina, mengatakan bahwa ketika sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi seorang teman di kamp lain, ia ditabrak oleh seorang perwira polisi yang berusaha mencegah ia memasuki kamp. “Mereka memukul saya dengan begitu keras dan mereka merusak tulang rusuk saya,” ujarnya.

Pada bulan Januari, Amnesty International merilis laporan berdasarkan wawancara dengan 40 wanita di Jerman dan Norwegia yang melakukan perjalanan dari Yunani. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa pengungsi perempuan dewasa dan anak-anak menghadapi kekerasan dan penyerangan seksual dalam setiap langkah perjanan mereka. Perempuan dewasa dan anak-anak yang bepergian sendiri atau yang hanya ditemani anak-anak mengatakan bahwa mereka merasa sangat terancam di Hungaria, Kroasia, dan Yunani, di mana mereka terpaksa untuk tidur berdampingan bersama ratusan pengungsi laki-laki.

Laporan tersebut mengkritik kondisi beberapa fasilitas bagi para migran di beberapa negara Eropa yang sangat buruk dan membuat perempuan merasa selalu takut dan khawatir karena mereka harus tidur di dalam ruangan bersama ratusan pria dan kurangnya privasi. (fath/dailysabah/arrahmah.com)

Rumah Sakit Yang Didukung Msf Di Suriah Hancur Dalam Serangkaian Serangan Udara, 13 Orang Gugur

Syiahindonesia.com - Sebuah rumah sakit yang didukung oleh Dokter Tanpa Batas atau yang lebih dikenal dengan sebutan MSF yang berada di wilayah yang dikuasai oleh Mujahidin, telah hancur dalam serangkaian serangan udara selama akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 13 orang termasuk empat staf dan lima anak, ujar pernyataan MSF.
foto by: arrahmah

MSF mengatakan bahwa dua dari empat serangan udara langsung menghantam rumah sakit di Milis, utara provinsi Idlib dan mengakibatkan rumah sakit tersebut harus menghentikan layanan. Enam anggota staf lainnya terluka dalam serangan udara yang terjadi pada Sabtu (6/8/2016), lansir AP pada Selasa (9/8).

Pengeboman telah menghancurkan ruang operasi, ruang perawatan intensif (ICU), departemen pediatrik, ambulans dan generator, lanjut MSF.

Rumah sakit itu didukung oleh MSF sejak 2014, digunakan untuk menerima 250 pasien per hari, banyak dari mereka adalah wanita dan anak-anak.

“Pengeboman langsung terhadap rumah sakit lainnya di Suriah adalah kemarahan,” ujar Silvia Dallatomasina, manajer medis MSF di barat laut Suriah. Dia menyerukan untuk segera diakhirinya serangan terhadap rumah sakit.

Rumah sakit, terutama yang berada di wilayah yang dikuasai oleh pejuang Suriah, telah secara teratur menjadi target serangan. Pada bulan Juli saja, terdapat 44 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Suriah. (haninmazaya/arrahmah.com)