Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Didatangi Imigran Syiah, Warga Cisarua Bogor Resah

Syiahindonesia.com - Warga Kecamatan Cisarua, Kapubaten Bogor mendadak resah. Daerah wisata yang penuh dengan pesantren ini mengaku banyak dirugikan dengan kedatangan para imigran yang mayoritas Syiah.

Berbagai tindakan kriminal dilakukan oleh para imigran seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, termasuk pelecehan seksual. Warga menilai, gaya hidup para imigran Syiah juga tidak relijius, seperti enggan melaksanakan shalat Jum’at dan melakukan hubungan seks bebas.

Berdasarkan rekapitulasi data imigran Kecamatan Cisarua pada tahun 2014, jumlah seluruh imigran di Kecamatan Cisarua mencapai 647 orang.

Dari jumlah ini di antaranya berasal dari Afghanistan, Pakistan, Iran, Somalia, Bangladesh, Srilanka, Iraq, Sudan, Negro dan Myanmar. Namun sumbangan terbesar berasal dari imigran Syiah asal Afghanistan, Pakistan dan Iran.

Jumlah tersebut tersebar di beberapa desa di antaranya; Desa Kopo sebanyak 81 orang, Cisarua 44 orang, Ba¬tulayang 424 orang, Cibeureum 35 orang, Tugu Utara 14 orang, Tugu Selatan 11 orang, Citeko 8 orang dan Desa Leuwimalang mencapai 26 imigran.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani menerangkan, banyak para imigran yang telah bertahun-tahun tinggal di Cisarua. Bahkan ada imigran yang telah mendiami Kabupaten Bogor hingga 10 tahun.

Lantas apa motivasinya, bukankah tujuan utama para imigran adalah Australia?

“Kalau soal itu saya khawatir salah jawab, sebab wewenangnya ada di UNHCR soal pemberangkatan mereka ke sana. Mereka kan datang juga tidak melapor ke kita,” ujar Yanyan saat ditemui Jurnalis Islam Bersatu di Kantor Kecamatan Cisarua, Kamis (15/1/2015).

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan aparat setempat.

Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak ramah.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan menuturkan, kebanyakan para imigran di Cisarua berstatus legal. Namun banyak di antara para imigran enggan memperbarui sertifikasi UNHCR. “(Alasannya) karena berbagai keterbatasan seperti jarak dan waktu,” tukas Yanyan. (bumisyam.com/syiahindonesia.com)

Laporan wartawan JITU, Azeza Ibrahim Rizki dan Andi Ryansyah.

Inilah Masjid Syiah Terbesar di Indonesia

Masjid Syiah di Pondok Gede Bekasi “Masjid al Mahdi”
Syiahindonesia.com - Ajaran sesat syiah rupanya mulai menggurita dan menampakkan taringnya. Satu diantara indikasinya adalah dibangunnya masjid-masjid syiah di Indonesia.

Adalah Masjid Al-Mahdi yang beralamat di: Jl. Raya Hankam RT 04/RW02 No:79 Kel. Jati Rangon, Jatisampurna, Pondok Gede, Bekasi merupakan salah satu masjid Syiah terbesar di Indonesia.

Waspadalah! Selain menjadi sarana peribadatan, masjid ini juga digunakan untuk kajian beberapa tokoh Syiah sebagai berikut:


1. Kajian Tafsir Al-Quran Yang Di Bawakan Oleh Husein Alatas, Othman Omar Syihab,Dan Ali Albahar.

2.Pelajaran Bahasa Arab.

3.Pengajian Ibu-Ibu Oleh Ali Alhaddad, Dll.

4.Pengajian Anak-Anak

5.Tahfidz Al-Quran

6.Majelis Dzikir Dan Sholawat
Situs blog masjid Syiah "al-Mahdi": http://almahdymosque.blogspot.com/

(nisyi/syiahindonesia.com)

Ayo Download dan Cetak Poster "Cara Mudah Mengenal Ajaran Sesat Syiah" GRATIS!!!

Syiahindonesia.com - Download dan Cetak Poster "Cara Mudah Mengenal Ajaran Sesat Syiah"

Poster ini berisi tentang Perbedaan antara Sunni dan Syiah yang ditulis ulang dari buku Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" hal. 85-87.

File ini boleh disebarluaskan dan tidak untuk kepentingan komersil.

Link download:
Gambar: https://farm9.staticflickr.com/8669/16169026128_f85fec4272_o.png
PDF (langsung cetak): https://app.box.com/s/hq2242rkumgougk3jkzru24jc137ykho


Kelakuan Imigran Syiah di Bogor; Dunia Malam, Nikah Mut'ah dan Kriminal

Syiahindonesia.com - Menonton televisi, makan, pergi ke tempat hiburan malam nampaknya menjadi pemandangan sehari-hari para imigran Syiah asal Afghanistan di kawasan Puncak Bogor.

Mereka bahkan sanggup menempuh jarak kiloan meter dari kawasan pedalaman Cisarua untuk sampai di Jalan Raya Puncak, untuk membeli kebutuhan sehari-sehari.

Salah satu imigran Syiah Afghanistan di daerah Bogor adalah Ali Rezaei (26 tahun) megaku sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Pria dengan potongan rambut bergaya mohawk dan bercelana pendek ini bahkan  mengaku sangat kerasan tinggal di Bogor karena masyarakatnya terkenal ramah.

“Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya ramah. Saya suka Cisarua, Bogor,” ujarnya sembari menenteng sejumlah belanjaan di tangannya.

Pria yang bisa bicara bahasa Inggris cukup fasi mengaku tak memiliki banyak kegiatan yang dilakukannya di Bogor. Setiap hari hanya tidur, makan, menonton TV, dan belanja.

Ali mengaku, bisa menjadi imigran di Indonesia atas bantuan lembaga PBB untuk para pengungsi alias UNHCR. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ali mengaku mendapatkan kiriman uang dari keluarganya di Afghanistan. Ali juga mendapatkan biaya hidup dari UNHCR.

“UNHCR memberi saya makan dan tempat tinggal,” ujar imigran Syiah beretnis Hazara ini.

Saat ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Afghanistan,  Ali menegaskan keinginan itu hanya akan menjadi masalah bila terwujud. Karena itu, dalam waktu dekat, dirinya belum mau kembali ke Afghanistan.

“Itu masalah buat saya. Saya tidak mau kembali ke Afghanistan sekarang sebab masih ada Taliban. Itu masalah yang sangat besar di suku Hazara. Al-Qaidah tidak suka dengan Hazara,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan tiga orang imigran Syiah di Bogor yang lain; Muhammad Husein, Ahmad Husein, dan Haidri. Berbeda dengan Ali, Muhammad Husein dan kawan-kawan mengaku berasal dari Pakistan.

Saat ditemui, ketiganya langsung mengajak masuk ke sebuah warung kopi. Di situlah, mereka biasa “nongkrong” menghirup udara malam kawasan Puncak.

Kala itu Ahmad Husein langsung menaruh tasnya di atas meja, dan memesan kopi dengan bahasa Inggris dicampur Indonesia.

Bersama rekan-rekannya, Ahmad Husein mengaku sudah tinggal selama satu tahun di Bogor.

“Kami tidak bekerja karena tidak mendapat izin dari UNHCR,” ujarnya yang menolak untuk difoto.

Karbala dan Nikah Mut’ah

Muhammad Husein membantah jika imigran Syiah di Bogor meresahkan. Ia mengklaim para imigran Syiah sangat dekat dengan masyarakat.

“Muslim di Indonesia moderat. Orang Indonesia baik,” ujar Muhammad Husein. Dia mengaku tak risau hidup di Indonesia meski mayoritas berasal dari kaum Muslimin Ahlus sunah wal Jamaah.D

Meski kelompok Syiah memiliki komunitas di Indonesia, Muhammad Husein menerangakan, tidak memiliki koneksi.

“Kami tidak kenal dan kami tidak menghubungi organisasi Syiah yang ada di Indonesia,” ujarnya yang langsung berseri-seri ketika kami tanyakan tentang Karbala.

Ketika ditanyakan perihal rumor praktik nikah  nikah mut’ah yang banyak dilakukan para imigran Syiah, ketiganya terdiam sejenak.

Tak lama kemudian, Hussein menjawab, “Itu tidak benar.”

Tindakan Kriminal

Berbeda dengan pengakuan warga,  para imigran diakuai warga biasa berkumpul di sebuah hotel berinisial HK di pinggir Jalan Raya Puncak.

Namun sayang, saat kami datangi lokasi keesokan harinya, para imigran menolak untuk diwawancara. Pihak warga di sekitar lokasi pun terlihat irit bicara saat kami mengorek informasi lebih jauh.

Beberapa wanita lokal di hotel tersebut langsung bersembunyi ke dalam ketika mengetahui kedatangan kami.

Tepat di samping hotel berinisial HK, kami juga menemui hotel berinisial HM. Di sana, tampak satu dua-perempuan berpakaian minim di tengah Puncak yang dikenal sebagai kawasan berhawa dingin.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani, memiliki sejumlah data tentang tindakan kriminal para imigran.

“Ada banyak, seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, baik dengan warga atau sesama imigran, termasuk pelecehan seksual,” ujarnya saat kami temui di kantor Kecamatan Cisarua.

Keresahan para warga, kata Yanyan, sebenarnya dipicu oleh para imigran sendiri. Seperti sikap enggan untuk berbaur karena merasa hanya menumpang transit.

“Apalagi adat dan budaya mereka berbeda,” ujar Yanyan yang menjelaskan “kehidupan” para imigran banyak berlangsung di malam hari.

Hal senada juga dikatakan warga setempat. Masyarakat mengaku resah dengan sikap para imigran karena dinilai tidak relijius. Padahal Bogor dikenal sebagai kabupaten dengan mayoritas Muslim.

“Saat Jum’atan, mereka gak shalat Jum’at,” ujar seorang warga yang ditemui di desa Batulayang.

Yanyan menjelaskan, rata-rata para imigran memegang surat sertifikat UNHCR. Namun tidak sedikit di antara mereka mengantongi surat yang habis masa berlakunya. “Ada juga yang datang tanpa surat-surat,” ujarnya saat ditemui Kecamatan Cisarua.

Yanyan menerangkan, para imigran di Kecamatan Cisarua tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Bogor di antaranya; Kopo, Cisarua, Batulayang, Cibeureum, Tugu Utara, Tugu Selatan, Citeko, dan Leuwimalang.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak senang.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan pihak setempat. Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.*/ Laporan Azeza Ibrahim Rizki dan Andi Ryansah wartawan JITU (hidayatullah.com)

Manfaatkan Moment Maulud Nabi, Tokoh Syiah Blusukan ke Banjarnegara (Foto)

Syiahindonesia.com - Awal tahun ini, umat Islam dikejutkan dengan "Blusukan" Tokoh syiah nasional di kota Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tokoh yang terjun langsung adalah ketua umum ABI (Ahlul Bait Indonesia) Hasan Dalil Alaydrus dan juga seniman "SUSYI", Haddad Alwi.

Mereka memanfaatkan moment maulid yang oleh sebagian umat Islam merayakannya. Nahasnya, banyak masyarakat Ahlus Sunnah tidak kenal siapa mereka. Padahal, sejatinya mereka adalah da'i-da'i syiah yang sedang turun gunung, menjemput bola, mencari simpati untuk merangkul Ahlus Sunnah dengan metode "dakwah taqorrub", dakwah pendekatan.

Kaum muslimin perlu mawas diri dari makar yang selalu mereka perbuat. Sikap lembut mereka terhadap Ahlus Sunnah adalah cara yang biasa mereka gunakan dalam berdakwah. Namun disisi lain, segala upaya yang mereka kerahkan adalah tertuju pada misi untuk men-syiahkan kaum Muslimin di seantero Indonesia. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut dokumentasi berupa foto-foto berlangsungnya acara Maulud Nabi di salah satu daerah Banjarnegara: