Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Jika Syiah Bisa Menjawabnya, Sebuah Renungan Untuk Syiah

Oleh: Ustadz Musyaffa' Ad Dariny

Cobalah jawab, mana yang seharusnya lebih tahu tentang Islam yang dibawa Nabi, keluarga beliau, ataukah para sahabat beliau?! Bukankah seharusnya keluarga beliau adalah orang yang paling banyak tahu tentang Islam?!

Kita katakan:

1. Kalau kaidah ini mutlak benarnya, tentunya tidak ada kerabat Nabi -shollalohu alaihi wasallam- yg masuk neraka, namun ternyata ada, diantaranya paman beliau: Abu Lahab, Abu Jahal, Abu Thalib dll.

2. Orang yang paling banyak tahu tentang Islam adalah orang yang paling banyak bersama beliau dan orang yang paling banyak mengambil ilmu dari beliau, baik dia itu keluarga beliau atau yang lainnya.

Ketika di rumah, maka keluarga yang sedang bersama beliau yang lebih tahu... Ketika di luar rumah, maka orang yang bersama beliau yang lebih tahu.

3. Keluarga beliau mencakup istri beliau,hampir setiap hari beliau bersama istrinya, lalu mengapa mereka dicampakkan oleh kaum Syiah?

4. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- tidak membedakan dalam menyampaikan Risalah Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh perkataan Sahabat Ali -rodhiyallohu anhu-:

"Tidak ada kitab (khusus) yang kami baca, selain kitabulloh dan apa yang ada dalam lembaran ini, di dalamnya ada aturan hukum qishosh dan umur-umur unta", lalu beliau menyebutkan beberapa hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. [HR. Bukhori]

5. Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- lebih banyak menyampaikan Islam di luar rumah, baik di masjid beliau ataupun di tempat lain. Sehingga tidak otomatis keluarga beliau lebih tahu ilmu beliau daripada orang lain.

6. Sebagaimana telah biasa terjadi, orang yang paling tahu tentang ilmu seseorang adalah orang yang paling banyak mengambil ilmu dari orang tersebut, dan itu tidak mengharuskan dari keluarganya.

Bahkan seringkali seorang murid kesayangan atau teman akrab seseorang lebih banyak tahu tentang ilmu orang tersebut daripada keluarganya sendiri.

7. Ajaran para Ahlul Bait tidak bertentangan dengan ajaran para Sahabat Nabi, ajaran mereka sama dan saling melengkapi, sehingga tidak perlu dipertentangkan.

Sungguh mencintai Ahlul Bait adalah tuntutan iman kita... Tapi mencintai mereka tidak mengharuskan kita meninggalkan atau membenci atau merendahkan para sahabat Nabi lainnya.

Karena mereka adalah satu generasi yang saling melengkapi dan tidak mngkin dipisahkan, Wallohu a'lam.(iz)

Sumber: Koepas.org

Fatwa Ulama Syiah Halalkan Mut'ah (Zina) Berjama'ah Di Masjid

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Jika ingin bersenang-senang dan kehilangan akal sehat mungkin Syiah-lah tempatnya. Telah banyak hal dalam ajaran Syiah yang mengguncang akidah dan akal sehat kita. Kok ada ya ajaran separah itu sesatnya dan sejauh itu menyimpangnya, termasuk zina berjamaah yang dilakukan di dalam Masjid Syiah (Husainiyah). Mari kita baca fatwa tersebut secara seksama.



Bismillahirrahmanirrahim

Yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin, As-Sayyid Al-Mujahid, Muqtada Ash-Shadr, semoga Allah menjaga Anda,

Kami adalah sekumpulan kaum Mukminat Zainabiyat para penolong Jaisy al-Imam al-Mahdi. Kami ingin bertanya kepada Anda wahai yang mulia Hujjatul Islam wal Muslimin, Muqtada Ash-Shadr, bahwa sekumpulan lelaki dari pasukan Jaisyul Imam mengundang kami untuk menghadiri acara mut’ah berjamaah di salah satu husainiyah (tempat beribadah kaum Syiah). Mereka mengatakan bahwa pahala mut’ah secara berjamaah lebih banyak 70 kali dari mut’ah sendiri-sendiri. Namun kami telah bertanya kepada salah satu perwakilan Syeikh Muhammad al-Ya’qubi tentang mut’ah berjamaah, beliau menolak segala hal yang berkaitan dengan mut’ah jenis ini dan beliau mengatakan bahwa hal itu termasuk bid’ah. Maka apakah boleh kami mut’ah secara berjamaah? Sebagai untuk diketahui bahwa mut’ah ini hanya berlangsung beberapa jam saja (kurang dari semalam). Tujuan dari acara ini adalah meredam gejolak syahwat pasukan Jaisyul Imam dimana mereka tidak sanggup menikah karena sibuknya mereka berperang dengan para nawashib (ahlus sunnah -penerj). Dan uang sewa mut’ahnya dipergunakan kembali untuk membeli perlengkapan berupa senjata untuk pasukan Jaisyul Imam. Mohon berikan jawaban Anda kepada kami. Jazakumullahu Khaira Jaza’ al-Muhsinin.

Zainabiyah
Azhar Hasan al-Farthusi
Wakil Zainabiyyat
17 Syawal 1426 H

Jawaban

Bismihi Ta’ala
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa nikah mut’ah adalah halal lagi berberkah dalam ajaran kita. Para Nawashib (ahlussunnah) berusaha menanamkan keraguan dan mencegah kita untuk melakukan itu karena takutnya mereka akan bertambah banyaknya jumlah anak-anak sekte kita, yang dengannya jumlah kita bertambah dan kita menjadi kekuatan yang besar.

Karena itu, kami mengajak seluruh pengikut sekte kita agar tidak sedikitpun ragu dari segala hal yang berkaitan dengan mut’ah. Pelaksanaan acara-acara seperti ini juga termasuk perkara yang dibolehkan oleh marja’ kita yang agung dengan tetap mewaspadai masuknya seorang yang bukan kaum Muslimin atau orang-orang umum ke dalam acara-acara tersebut supaya tidak melihat aurat kaum Mukminat. Mungkin inilah juga sebabnya yang membuat Sayyid al-Ya’qubi membenci mut’ah model ini.

Inilah, dan yang juga telah maklum bahwa mut’ah dengan salah seorang tentara Jaisyul Imam lebih banyak pahalanya dari selainnya karena dia telah mengorbankan darahnya demi sang Imam. Oleh karena itu, kami mengajak para Zainabiyyat agar tidak pelit (menyewakan kemaluannya) kepada mereka dimana Allah telah memberi karunia kepada Anda wahai para Mukminat berupa pemberian tubuh dan harta Anda (karena uang melacurnya dikembalikan kepada para tentara -penerj) untuk dinikmati dan dipergunakan oleh mereka.

Selain itu, kami mengharapkan saudari zainabiyyah untuk meminta izin pelaksanaan acara itu kepada salah satu perwakilan kami yang kapabel agar diawasi dan diperhatikan oleh para tentara tersebut. Wa Jazakumullahu Khaira Jaza’ al-Muhsinin.

(Cap Fatwa Muqtada Ash-Shadr)
Ttd Muqtada Ash-Shadr
23 Syawal 1426 H

[Muh. Istiqamah/lppimakassar]

Dedengkot Syiah Bahrudin Alias Abu Haidar Abi Telah Meninggal

Jakarta (Syiahindonesia.com) - Seorang ustadz Syiah bernama Bahrudin, telah di jemput ajalnya tadi malam, Selasa 19 Agustus 2014 jam 19.30 WIB di RS Fatmawati, Jakarta, sebagaimana di lansir dalam situs resmi IJABI.

Dedengkot Syiah yang juga eksis di Facebook dengan nama Abu Haidar Abi ini merupakan salah satu da'i Syiah yang menyebarkan ajaran-ajaran Syiah di Indonesia bersama dengan barisan Jalaludin Rahmat sebagai Anggota Dewan Syura IJABI. Hal ini juga tersinalir dari aktifitas-aktifitasnya di Facebook dengan akun @abuhaidar.abi, yang memposting ajaran-ajaran Syiah.

Berikut beberapa screen shot yang diambil dari update status Facebook yang merupakan bagian pemahaman aliran Syiah:

 













Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah, dalam keadaan sebagai seorang Muslim hakiki yang memegang jalan para sahabat dan para salafusholeh, dan bukan jalannya orang-orang sesat yang jauh dari petunjuk. Allahumma Ammin. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Syiah Di Singapura Shalat Fardhu 3 Kali Sehari

Singapura (Syiahindonesia.com) -  Syi’ah dan Ahmadiyah di negeri Singapura diberi 1 bangunan tempat ibadah khusus. Mereka dilarang mendirikan rumah ibadah lain atau berdakwah diluar bangunan tersebut. Penganutnya juga tidak disebut sebagai muslim. Negara dan masyarakat menyebut mereka sebagai Syi’ah atau Ahmadiyah.

Yang menarik, di tempat ibadah milik Syi’ah, penganutnya tidak menyelenggarakan “sholat” jum’at. Untuk ibadah harian, mereka hanya melaksanakan “sholat” subuh, zuhur dan magrib.

Di Singapura, Syi’ah betul-betul menampakkan perbedaanya dengan Islam. Sehingga kaum muslimin tidak mudah tertipu. Berbeda dengan Syi’ah di Indonesia. Mereka secara terang-terangan menjalankan ritual ajaran syi’ah mengatas namakan Islam atau Ahlul Bait. Andaikan mereka tidak buka-bukaan, tentu kaum muslimin di Indonesia tidak mudah dikelabui. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Sumber: Gensyiah.com

Syiah Adalah Bathil, Sesat Dan Kafir

Bogor (Syiahindonesia.com) - Sekitar 60 orang dari kalangan du’at di seluruh Indonesia menghadiri undangan berupa seminar Daurah Syar’iyyah yang diselenggarakan AQL Islamic Centre bekerjasama dengan al-Haiah al-‘alamiyah Li al-Ta’rif bi al-Islam, di Puncak, Bogor.

Dauroh yang diadakan selama 2 hari pada tanggal 12-14 Agustus itu, menghadirkan Syeikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi, salah seorang ulama dari Arab Saudi sebagai pemateri utama, serta beberapa tokoh agama di Indonesia seperti Ust. Bahtiar Nashir, Ust. Farid Ahmad Okbah, dan Ust. Muhammad Zaitun.

Dauroh dengan tema ‘Alaikum Bisunnati” , membahas seputar kesesatan Syiah dan beberapa persamaannya dengan tasawwuf.

Dalam Dauroh yang di ketuai oleh Syaikh Kholid Al-Hamudi, pemateri Syaikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi mejelaskan bahwa Syiah sangatlah berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari kelompok sesat yang lain, karena ajaran sesat ini disebarkan tidak dengan menggunakan dakwah, melainkan dengan tindakan ekstrim seperti peng-kafiran ataupun pembunuhan, hal ini disebabkan karena arah dari tujuan disebarkannya ajaran ini adalah karena sejatinya mereka menginginkan adanya sebuah Daulah Syiah.

Beberapa ringkasan dari materi dauroh oleh syaikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi.

Setiap agama haruslah mempunyai sumber pegangan, baik agama itu benar maupun bathil.
Yahudi misalnya, mereka punya sumber agama mereka berupa at-Taurot, Talmud, sumber Hukum-Hukum Tak-tertulis yang menerangkan Taurat, kitab suci asal hukum-hukum Yahudi.
Nashroni, mereka punya sumber agama berupa kitab suci dan tradisi orang Nashroni.
Pun demikian dengan Islam, agama samawi ini mempunyai sumber hukum yang telah disepakati oleh ulama berupa al-Quran, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.

Jika kita sudah mengetahui sumber-sumber agama islam ini, maka harus ada metode untuk dapat memahami sumber-sumber ini, sehingga kita dapat beramal dengannya dan bisa menerapkannya dalam kehidupan.
Lantas bagaimana kita memahami sumber ini?

Jawabannya adalah, dalam memahaminya terjadi perbedaan diantara umat islam sampai mereka berpecah belah menjadi kelompok yang bermacam-macam, dan jumlahnya hingga mencapai 73 golongan.

Perhatikanlah golongan syiah beserta bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan! Darimana datangnya bid’ah-bid’ah tersebut?!

Seharusnya kita bersepakat atas sumber-sumber agama dan bersepakat pula dalam metode memahaminya agar kita bisa bersatu dan tidak berpecah belah. Jika terjadi perbedaan, maka kita bisa menerapkan firman Allah;

“dan jika kalian berselisih terhadap suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul-Nya (as-Sunnah).” [An-Nisa:59]

Oleh karena itu bisa kita dapati pada kaum-kaum salaf, jika mereka berbeda mereka bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah dengan barometer yang telah kita sebutkan diatas (al-Quran dan as-Sunnah).

Dalam pembahasan kali ini, kita akan mengkaji bagaimana metode syiah dalam memandang sumber-sumber agama mereka. Mereka mengklaim bahwa agama mereka ini termasuk dari madzhab dalam islam, sama seperti madzhab-madzhab yang lain seperti Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi, tak lain karena mereka berargumen bahwa sumber-sumber agama mereka sama dengan sumber-sumber agama Islam. Berikut ulasannya:

1. Al-quran menurut pandangan Syiah
a. Mereka meyakini bahwa al-Quran tidak bisa dijadikan hujjah tanpa adanya para wali (Imam Syiah)
b. Mereka meyakini bahwa para imam mereka mempunyai pengetahuan khusus mengenai al-Quran yang tidak seorangpun bisa menyamainya.
c. Mereka meyakini bahwa perkataan para imam itu bisa menghapus ayat-ayat al-Quran, dan perkataan mereka bisa menjadikan yang muqoyyad menjadi mutlaq, dan yang ‘amm menjadi khosh.

2. As sunnah menurut pandangan Syiah
As sunnah menurut mereka adalah apa saja yang berasal dari orang yang ma’shum, baik itu perkataan, perbuatan, maupun taqrir (persetujuan).1  Adapun yang dimaksud dengan orang yang ma’shum versi mereka Adalah rasulullah saw dan kedua belas imam mereka. Oleh karena itu, salah satu ulama konteporer mereka mengatakan bahwa, “sesungguhnya keyakinan terhadap kema’shuman para imam itu menjadikan hadits-hadtis yang berasal dari mereka itu shohih tanpa mensyaratkan tersambungnya sanad kepada Nabi sebagaimana yang disyaratkan oleh Ahlus Sunnah,2  hal ini karena imamah menurut mereka adalah penerus nubuwah,3  dan para imam itu sama seperti para Rasul, perkataan mereka adalah perkataan Allah dan perintah mereka adalah perintah Allah, mentaati mereka sama dengan mentaati Allah, dan bermaksiat kepada mereka sama dengan bermaksiat kepada Allah, dan para imam tidak berucap kecuali apa yang dari Allah dan apa yang diwahyukan Allah.4

3. Ijma’ menurut pandangan Syiah
Syiah tidak menganggap ijma’ para sahabat, kaum salaf dan ijma’nya umat islam sebagai sebuah ijma (kesepakatan). Dan dalam hal ini mereka mempunyai keyakinan yang berbeda-beda. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa perkataan imam adalah ijma’, dan yang lainnya berpendapat bahwa hal-hal yang menyelisihi umat islam itu terdapat petunjuk.

4. Adapun qiyas menurut syiah pastilah berbeda dengan jalan para sahabat dan salafus sholeh, hal ini karena al-Quran, as-Sunnah, dan ijma’ yang merupakan sumber-sumber Syiah ini berbeda dengan sumber-sumber Islam.

Dengan demikian, dapat disimpulkan dengan jelas bahwa agama Syiah sangatlah berbeda dengan ajaran Islam yang sebenarnya, sangat menyimpang jauh. Agama mereka bathil dan sesat, karena cara pandang mereka tentang sumber-sumber agama itu berbeda, maka berbeda pula agama yang mereka anut. Yang mengartikan bahwa Syiah itu bukan termasuk dari islam, juga bukan termasuk dari madzhab dalam Islam sebagaimana beberapa orang klaim dengan dalih bahwa madzhab dalam Islam tidak hanya berjumlah 4, namun 5. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Fote note:
[1] Muhammad Taqi Al Hakim, Al Ushul Al ‘Ammah Lil Fiqh Al Muqoron, hal 122
[2] Abdullah fayadh, Tarikh Al Imamiyah, hal 140
[3] Muhammad Ridha Al Mudhofar, ‘Aqoid Asyiah, hal 166
[4] Ibnu Babaweh, Al I’tiqodat, hal 106