Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Mencermati Investasi Iran dan RUU Perlindungan Umat Beragama

Di sela-sela Konferensi Asia Afrika 2015 di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menerima Presiden Iran dan sepakat kerjasama berbagai bidang

Oleh : DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.
Komisi Kumdang MUI Pusat & Litbang MIUMI

“Tulisan ini merupakan kerisauan penulis, semakin hari semakin banyak ditemui adanya tantangan dan ancaman yang demikian sistemik. Kita selalu dihadapkan pada kenyataan pilihan politik yang cenderung menggeser kepentingan yang jauh lebih penting.  Ketika masa kampanye banyak sekali orang yang kelihatan baik berupaya menjadi orang penting. Menjadi orang penting adalah baik, namun jauh lebih penting menjadi orang baik.”

   
Pada tanggal 24 Mei yang lalu telah tercapai kesepakatan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Iran. Kedua Negara telah melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan di berbagai bidang mulai dari industri, investasi, perdagangan, bea barang, hingga perbankan. Iran dan Indonesia juga sudah mencapai kesepakatan final untuk membangun 48 pembangkit listrik di Tanah Air. Iran juga akan membangun proyek kilang di Indonesia. Berdasarkan rencana awal, kilang diproyeksikan akan memiliki kapasitas kilang 300.000 barel per hari. Direncanakan akan dibangun di Jawa Barat atau Jawa Timur dengan investasi sebesar U$ 4 miliar.

Perlu diketahui bahwa produksi minyak Iran mencapai titik terendah karena sanksi embargo dan ekonomi, ekspor minyaknya merosot tajam hingga 50 persen sejak awal 2012 menjadi 1,0 juta barel perhari. Oleh karena itu, Iran menjual minyaknya di pasar gelap yang diperkirakan mencapai 80 persen dari total penjualannya. Untuk kepentingan meningkatkan pendapatannya dari sektor minyak, maka Iran menempuh investasi pengilangan minyak di Indonesia untuk mengolah 300.000 barel per hari minyak mentah dari Iran. Pembangunan kilang minyak ini membutuhkan biaya investasi sekitar US$ 3 miliar. Sebanyak 70 persen dibiayai oleh Indonesia dan sisanya oleh Iran. Investasi model Iran ini, tidak tepat disebut “investasi” tapi lebih tepat dikatakan “numpang olah”. Seharusnya, pembiayaan investasi lebih banyak oleh Iran bukan sebaliknya.

Beberapa hal yang menjadi perhatian bagi kita semua, yakni arus investasi dan perdagangan Iran bukan hanya ditujukan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) baik secara nasional maupun perkapita, namun juga terkait dengan penguatan arus Syiahisasi. Akan timbul opini di masyarakat luas, bahwa Syiah bukanlah ancaman baik bagi akidah maupun bagi Negara. Bahkan Menko Perekonomian menyerukan persatuan Sunni dan Syiah ketika berkunjung ke Iran dalam rangka kerjasama investasi dan perdagangan atas perintah Presiden Joko Widodo. Sejalan dengan itu, akan tercipta “Syiah Relasional”,  yakni pebisnis Sunni yang karena terikat hubungan kerjasama dengan Iran akan mendukung dakwah Syiah di Indonesia.  Syiah Relasional juga akan banyak terjadi di kalangan elite pemerintahan sebagai pihak yang terlibat dalam kerjasama investasi dan perdagangan. Dengan penguatan arus investasi dan perdagangan Iran di Indonesia, pasti akan memberikan kemudahan bagi juru dakwah Syiah dalam  melakukan Syiahisasi. Di sisi lain pemerintah pasti tidak akan menganggap Syiahisasi sebagai suatu hal yang berbahaya. Inilah bentuk kelicikan Syiah Iran dan ketidakcerdasan elite pemerintah serta kaum pebisnis. Jika kaum pebisnis dan pemeritah menganggap peningkatan ekonomi melalui kerjasama dengan Iran adalah hal yang perlu diprioritaskan, maka persoalan antara Sunni dengan Syiah dianggap telah selesai. Tidak akan dibenarkan adanya aktivitas penolakan terhadap dakwah Syiah, dan tidak menutup kemungkinan akan dikriminalisasikan. Iran melalui kekuatan bargaining positionnya dipastikan akan mengembangkan program Syiahisasi dengan meningkatkan aktivitas dakwah di Indonesia dan tentu dengan dukungan pemerintah dan para tokoh Agama ternama.

Kondisi demikian perlu dicermati dan dikritisi oleh umat. Terkait dengan hal ini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) sedang menggodok draft Rancangan Undang-Undang Perlindungan Agama (RUU PUB). Untuk kepentingan penggodokan draft RUU PUB memang terkesan agak tertutup, hal ini adalah lumrah mengingat draft RUU PUB cukup sensitif. Sehingga Kemenag sangat berhati-hati, untuk itulah beberapa kali FGD digelar guna mengakomodir berbagai pendapat, saran dan masukan yang membangun dalam rangka finalisasi RUU PUB. Dalam FGD ketiga kami (MIUMI) dimintakan pendapat, saran dan masukannya, pada hari Selasa yang lalu. Kami mengapresiasi langkah Kemenag ini, dengan catatan Kemenag harus terbebas dari pengaruh (inflitrasi) berbagai kelompok yang selama ini cenderung berseberangan dengan Islam, seperti kaum sekular, pluralis, liberal dan aliran sesat.

Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan beberapa hal yang dibahas dalam FGD kemarin di Kemenag Lapangan Banteng. Dimaksudkan agar umat mengetahui substansi draft RUU PUB, tentunya substansi yang mesti dikritisi. Hal ini sangat diperlukan dalam rangka mengawal RUU PUB agar sesuai dengan arah dan tujuannya dan tidak merugikan umat dan Agama Islam.

Dalam draftRUU PUB terdapat keinginan Kemenag untuk mendirikan Majelis Agama pada setiap Agama yang diakui di Indonesia dan harus berbentuk badan hukum Ormas, berkedudukan di Ibu Kota Negara (Pasal 6). Selanjutnya, disebutkan bahwa kewenangan Majelis Agamasalah satunya adalah melakukan penilaian terhadap paham keagamaan yang menyimpang.(Pasal 7 ayat 1). Majelis Agama ini apabila dibentuk dikhawatirkan akan menegasikan peranan Majelis Ulama Indonesia (MUI), khususnya MUI Pusat.  Dikatakan demikian, oleh karena kewenangan penilaian terhadap penyimpangan ajaran Agama selama ini adalah kewenangan MUI, apabila kewenangan itu diberikan kepada Majelis Agama yang baru, maka menurut hukum yang terkuat dan diakui adalah Majelis Agama tersebut. Kita ketahui MUI kedudukannya sedang diupayakan melalui Peraturan Presiden. Dalam hukum ditentukan apabila ada dua peraturan perundang-undangan yang mengatur sesuatu hal yang sama, maka yang berlaku adalah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (lex superiori derogate lex inferiori). Diumpamakan lain, semisal dalam satu kasus terdapat dua peraturan perundang-undangan yang setingkat, maka yang diakui adalah undang-undang yang terbaru (lex posteriori derogate lex priori). Dalam kasus aquo, kedudukan Majelis Agama (Islam) yang baru tentu lebih kuat dibandingkan dengan MUI Pusat.

Di sisi lain peranan MUI Daerah akan dilemahkan dengan hadirnya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). FKUB menjadi mitra konsultatif resmi Pemerintah Daerah (Pasal 8) dan berwenang memberikan rekomendasi atas pendirian Rumah Ibadah (Pasal 9 ayat 2 huruf a) yang hanya cukup dengan bukti foto copi KTP sebanyak 90 orang penganut Agama (Pasal 14 ayat 2 huruf a)  dan dukungan masyarakat setempat sebanyak 60 orang saja, dan disahkan oleh Lurah/Kepala Desa (Pasal 14 ayat 2 huruf b).Terdapat pula pengaturan bantuan luar negeri yang berpotensi menguntungkan bagi dakwah Syiah maupun agama lain yang melakukan tindakan misionaris. Bantuan luar negeri ini belum diimbangi dengan  rumusan pengawasan yang ketat, sebagaimana dapat dilihat pada Pasal 28.Dalam kasus Syiah, bantuan keuangan kepada kaum dhuafa menjadi alat untuk konversi akidah Sunni ke akidah Syiah. Bantuan keuangan adalah terkait dengan kegiatan dakwah Syiah. Terlebih lagi kerjasama proyek investasi dan perdagangan akan digalakkan, akan sejalan dengan perlindungan hukum yang optimal bagi proyek Syiahisasi.

 Di sisi lain, terdapat ancaman hukum bagi setiap orang (termasuk ormas-ormas Islam) yang mengungkap kesesatan Syiah Iransebagai salah satu bentuk peniadaan keyakinan terhadap agama yang diakui atau telah diregistrasi dan diancam pidana paling lama  4 (empat) tahun (Pasal 31 ayat 1).Dalam Pasal 35 juga disebutkan adanya ancaman pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun terhadap tindakan membujuk, menghasut, dan memprovokasi  oran lain untuk menolak keberadaan kelompok umat beragama tertentu dengan cara lisan dan/atau tulisan yang mengakibatkan timbulnya keresahan. Kelompok umat beragama “tertentu” sangat identik dengan aliran keagamaan, salah satunya adalah Syiah.

Saya bersama pengurus Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat memprotes sebagian besar ketentuan dalam RUU PUB yang berjumlah 12 Bab dan 41 Pasal, karena berpotensi merugikan umat dan Agama Islam. Catatan saya, draft RUU PUB memberikan ruang hidup bagi aliran sesat di Indonesia, kemudahan dalam melakukan dakwah aliran sesat dan kegiatan para misionaris Agama untuk kepentingan konversi Agama. Draft RUU PUB juga tanpa didukung dengan Naskah Akademik, terungkap dalam FGD bahwa Naskah Akademik belum ada.

Lebih lanjut,  melihat sistematika substansi draft RUU PUB, tidak sesuai dengan tata cara pembentukan peraturan perundang-undangan (baca: undang-undang). Dalam hati, saya sempat bertanya, apakah Kemenag tidak memiliki staf ahli yang cakap dalam perumusan peraturan perundang-undangan, apalagi yang sangat fundamental menyangkut kehidupan umat dan Agama.
Dalam pertemuan FGD tersebut, kami menegaskan bahwa yang seharusnya dilindungi bukan hanya umat penganut ajaran Agama tetapi juga Agama itu sendiri. Perlindungan terhadap Agama oleh Negara adalah mutlkak, karena Negara Indonesia bukan Negara Sekular. Selaras dengan ini, tindak pidana yang terjadi juga banyak diarahkan secara langsung terhadap Agama bukan hanya yang berhubungan/bersinggungan dengan Agama.

Saya tegaskan bahwa dalam kasus Syiah Iran, yang diserang adalah ajaran Agama Islam secara langsung dan ini merupakan tindak pidana asal (predicate crime), adapun penodaan dan/atau penistaan terhadap para isteri dan sahabat Nabi Muhammad SAW adalah tindak pidana lanjutan. Oleh karena itu, RUU PUB harus memberikan jaminan terhadap kemurnian ajaran Islam. Dalam kepentingan penguatan akidah Ahlussunnah wal Jamaah, saya menolak kriminalisasi terhadap para juru dakwah dan termasuk Ormasnya dalam mengungkap kesesatan suatu aliran Agama, khususnya Syiah Iran sebagai “the New Rafidhah”.

Diskusi yang cukup alot itu, alhamdulillah pihak Kemenag menerima pendapat, saran dan masukan yang disampaikan, agar beberapa pasal yang mengandung multitafsir, kabur/bias dan berpotensi merugikan dihilangkan dan diganti dengan rumusan yang lebih adil dan tidak merugikan umat dan Agama Islam. Kita apresiasi Kemenag yang menerima pendapat, saran dan masukan dimaksud. Namun, FGD masih terus berlanjut, pihak Kemenag dijadwalkan akan mengundang beberapa pihak dalam acara yang sama. Kita wajib memantau dan mengawasi jalannya proses pembentukan RUU PUB hingga pembahasannya di DPR. Dimaksudkan agar RUU PUB yang akan dihasilkan untuk kemudian diundangkan menjadi Undang-Undang tidak merugikan umat dan Agama Islam serta tidak memberi celah aliran sesat mengambil manfaat. Semoga Kemenag tetap istiqamah dalam mengemban amanat.

Ulama Syiah: Bulan Tidak Bersinar Karena Ditampar Oleh Malaikat Jibril (Video)

Tertawalah !! Kebodohan pendeta syiah satu ini tidak tanggung-tanggung. Video ini kami dapatkan dari grup whatsapp “Menelanjangi syi’ah khusus video” yang diasuh oleh syaikh Khalid Al-Wushabi hafidzahullah. Di dalamnya banyak video kesesatan-kesesatan syi’ah dan kebodohan mereka yang dapat membuat diri ini tergelitikkan.

Salah satunya video dibawah ini:



Bulan tidak bersinar lagi karena ditampar oleh malaikat disebabkan dia ragu dengan wilayah Ali?? Khurafat dan dongeng yang tidak tanggung-tanggung akan kebodohannya.

Cukup, para pembaca yang menilai sendiri akan kebodohan mereka. (alamiry.net/syiahindonesia.com)

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Mengapa Syiah Suka Berbohong?

Pasangan misionaris Syiah Indonesia. Jalal & Emilia Renita
Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.

Syiahindonesia.com - Berbohong dan berdusta adalah ciri khas sekte Syiah. Bagi Syiah, mengarang-ngarang periwayatan hadis dan teks-teks keagamaan yang tidak memiliki dasar periwayatan yang sahih demi melakukan pembenaran pada ajaran sekte Syiah atau menambah-nambah teks baru pada periwayatan yang awalnya sahih dan menyelewengkan penafsiran pada teks-teks yang pada mulanya benar; adalah hal yang biasa mereka lakukan, sehingga yang dijadikan dalil justru penafsirannya dan bukan teks aslinya. Hal itu dilakukan dalam rangka menjustifikasi ajaran-ajaran Syiah yang penuh dengan penyelewengan.

Terkait fenomena “dusta mania” sekte Syiah ini, Syaikhul Islam pernah menulis, “Para ulama sepakat bahwa Rafidhah (Syiah) adalah sekte yang paling pendusta dan pembohong sejak dari zaman dahulu kala. Oleh karena itu para tokoh-tokoh Islam menandai sekte ini dengan cirikhas mereka berupa kegemaran berbohong.”

“وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد علي أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب”.

Syaikh Ihab Uwaidat menyebutkan beberapa penyebab utama mengapa berdusta menjadi fenomena khusus di dalam sekte Syiah, sebagai berikut:

    Ideologi atau akidah Syiah tidak berdasar dan tidak berdalil, tidak ada landasannya dari Al Quran maupun dari Sunnah, dan tidak ada prakteknya dalam kehidupan keluarga rasulullah dan para sahabat nabi. Ideologi Syiah tidak pernah ditemukan dalam kehidupan Rasulullah dan para khalifah-khalifah pengganti Rasulullah. Itulah mengapa sekte Syiah harus mengarang-ngarang berbagai kedustaan untuk dijadikan dalil dan landasan bagi ideologi mereka. Ideologi dan akidah Syiah adalah ideologi yang penuh dengan kebohongan dan berdasarkan dalil-dalil yang dikarang-karang.
    Sekte Syiah adalah perpanjangan dari agama Yahudi. Sekte Syiah adalah hasil evolusi dari agama Yahudi. Sebab para pendiri utama Syiah adalah tokoh-tokohYahudi model Abdullah bin Saba’. Dan ciri khas Yahudi adalah suka berdusta dan berbohong. Maka sekte Syiahpun tidak bisa terlepas dari ciri khas pendirinya yang sangat suka berbohong dan berdusta.
    Ideologi syiah bertujuan untuk meruntuhkan Islam. Oleh karenanya, Syiah perlu melindungi dirinya dengan bergam dalil-dalil dusta dalam rangka mengibuli masyarakat awam yang tidak mengerti benar hakikat Syiah.
    Ideologi syiah adalah adalah ideologi yang super aneh di mata ummat Islam. Dan para pendiri Syiah sepanjang sejarah memiliki target yang sangat jelas, yaitu ingin menghancurkan Negara Islam dan melumatkan ummat Islam dalam rangka membalas dendam kehancuran Imperium Persia di tangan ummat Islam, pada masa lalu. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan nista  itu, sekte syiah harus melakukan cara-cara makar dan tipu-tipu dan berbagai kebohongan-kebohongan lainnya. Dari sanalah muculnya asal-muasal sekte Syiah yang mengkristal dalam pilar-pilar penting ideologi Syiah, yaitu ideologi dusta dan makar, yang menjadi doktrin super penting di dalam ajaran sekte Syiah.

Kewajiban Taqiyyah Dalam Ideologi Syiah

Sekte Syiah menamakan “berdusta” dengan sebutan yang lebih lembut, yaitu taqiyyah. Apakah yang dimaksud dengan taqiyyah?

Taqiyyah dalam ideologi syiah ialah tampil dengan wajah yang bukan sebenarnya agar dapat menipu orang lain. Dengan dasar itu pemeluk Syiah selalu menafikan hal-hal yang diimaninya secara diam-diam.

Normalnya seluruh agama mencela berbohong, bahkan sudah menjadi fitrah yang tertanam di dalam jiwa setiap manusia untuk mencela sifat dusta, naturnya manusia tidak suka dengan kebohongan. Namun berbeda dengan sekte Syiah, dimana berdusta bukan lah tindakan tercela melainkan tindakan yang fardhu dan wajib dilakukan oleh setiap pemeluk sekte Syiah di dalam keseharian hidupnya Taqiyah itu dilakukan tanpa harus merasa bersalah.

Parahnya lagi berdusta dan bertaqiyyah adalah merupakan kewajiban seperti wajibnya shalat dan kewajiban-kewajiban agama lainnya yang akan diganjar pahala bila dilakukan dan akan berdosa besar bila ditinggalkan. Lebih parahnya lagi 90% inti ajaran Syiah ada di taqiyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh tokoh agama mereka dan tokoh muhaddis senior mereka Muhammad bin Ali bin Husein yang biasanya digelar Al-Shaduq,

“Kami meyakini bahwa taqiyyah wajib. Meninggalkan taqiyyah sama seperti meninggalkan shalat… Kewajiban taqiyyah tidak boleh diangkat sampai keluarnya Al-Qa’im (Imam Mahdi). Barang siapa yang meninggalkan taqiyyah sebelum keluarnya Al-Qa’im maka dianggap murtad dan keluar dari agama Allah dan agama Imamiah dan menyalahi Allah dan Rasulnya dan para Imam.”

“واعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها كان بمنزلة من ترك الصلاة.. والتقية واجبة لا يجوز رفعها إلى أن يخرج القائم فمن تركها قبل خروجه فقد خرج من دين الله وعن دين الإمامية وخالف الله ورسوله والأئمة “.

Muhammad bin Husein bin Hur Al-‘Amiliy di dalam ensiklopedia hadisnya yang bernama “Wasail Syiah” juga menuliskan sebuah bab yang berjudul “Kewajiban Memperhatikan Taqiyyah dan Memeliharanya-
باب وجوب الاعتناء والاهتمام بالتقية ……”

Perhatikanlah kata “wajib” pada bab tersebut dan makna kewajiban ini. “Kewajiban memperhatikan taqiyyah dan memelihara taqiyyah,” bermakna bahwa Syiah menjadikan berdusta sebagai manhaj dan metode tarbiyah yang senantiasa mereka pelihara dan pertahankan serta harus diwariskan dan menjadi materi penting dalam mendidik generasi-generasi selanjutnya.

Dalam buku Syiah yang bernama Al-Kafi, diriwayatkan bahwa Abu Ja’far mengatakan, “Taqiyyah adalah ajaran agama saya dan agama nenek moyang saya, orang yang tidak bertaqiyyah bukanlah orang yang beriman.”

“التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له “.

Syiah juga meyakini bahwa, “Taqiyyah adalah tanda orang beriman.”

“إن التقية آية المؤمن ”

Sebagaimana sekte Syiah juga meyakini bahwa, “Taqiyyah adalah amalan terbaik seorang mukmin”

. وعن أمير المؤمنين قال: “التقية من أفضل أعمال المؤمنين”.

Sekte Syiah juga mengimani bahwa, “Allah akan mengampuni semua dosa seorang mukmin dan menyucikannyq dari dosa-dosanya, baik di dunia maupun di akherat, selain dua dosa: yaitu dosa meninggalkan taqiyyah dan dosa melalaikan hak-hak saudara seagama.”

عن علي بن الحسين قال: “يغفر الله للمؤمن كل ذنب ويطهره منه في الدنيا والآخرة ما خلا ذنبين: ترك التقية وتضييع حقوق الإخوان “.[وسائل الشيعة]

Bahkan demi mensyariatkan taqiyyah, mereka sengaja mengarang hadis palsu yang dinisbahkan kepada Rasulullah secara dusta  yang berbunyi, “Meninggalkan taqiyyah sama dengan meninggalkan shalat.”

“تارك التقية كتارك الصلاة ”

Hal seperti ini sudah sangat keterlaluan, karena mereka melakukan dusta terhadap nabi. Bagaimana mungkin nabi memerintahkan berdusta dan menyamakan dosa meninggalkan berdusta sama dengan dosa meninggalkan shalat? (Bersambung..) (firmadani.com/syiahindonesia.com)

Inilah Alasan Mengapa Syiah Sangat Membenci Umar bin Khattab

Pasangan pembesar Syiah di Indonesia
Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.

Pertanyaan itu terus terngiang di benak hati kaum Muslimin.

Umar bin Khathab dan para sahabat senior berhasil menaklukkan Imperium Majusi dan memadamkan api suci buatan iblis sesembahan bangsa Persia, dan kebencian mereka kepada Umar dijadikan menjadi bagian dari ajaran sekte syiah, seperti kata penulis buku “Sejarah Peradaban Iran”.

Kebencian Iran dan rakyat Iran terhadap Umar bin Khathab bukanlah disebabkan karena Umar merampok kekuasaan yang diklaim Syiah harusnya menjadi hak Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan karena Umar telah menaklukkan Iran dan memangkas habis imperium dinasti Sasaniah

Dalam catatan sejarah, Umar juga terbukti sangat dicintai oleh keluarga baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ali sendiri menikahkan putri tercintanya kepada Umar dan bahkan Ali memberi nama salah seorang putranya dengan nama Umar dan memberi nama putranya hang lain dengan nama Abu Bakar.

Sudah menjadi pengetahuan umum, betapa besarnya unsur Yahudi di dalam sekte Syiah. Syiah adalah sekte buatan Yahudi dan Abdullah bin Saba’ serta para sekutunya.

Syiah amat benci kepada Umar karena Umar mengusir Yahudi dari semenanjungArab, dan saking bencinya mereka dengan Umar maka mereka menggelar pembunuh Umar dengan gelar kebesaran yaitu “Baba Syuja’uddin” yang artinya “Bapak Agama Yang Pemberani” dan mereka juga membuatkan monumen khusus untuk sang pembunuh di Iran sana.

Dan itu juga lah mengapa orang Syiah sangat suka dengan nama “Piruz” atau “Fairuz” lengkapnya “Piruz Nahavandi” mama asli dari Abu Lu’lu’ Si Hamba Persia penyembah api yang membunuh Umar. Sebagaimana mereka juga enggan melewati  pintu Masjidil Haram yang bernama “Pintu Umar”.

Untuk diketahui juga, Syiah diciptakan bertugas menjalankan misi untuk mem-bully dan mengutuk para khalifah pengganti rasulullah, sahabat-sahabat nabi, dan istri-istri rasulullah sebagai sumber utama penukilan ajaran Islam ini, dan juga untuk mengutuk berbagai penaklukan  yang dilakukan oleh para pemimpinan Islam pada masa lalu.

Sudah menjadi maklumat umum bahwa Yahudi sangat benci dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh ummat Islam dan bangsa Arab, yang mana pada masa lalu bangsa Arab bukanlah bangsa yang dianggap oleh Imperium Persia yang maha gagah itu. Sebagaimana Syiah juga tidak pernah punya wilayah taklukkan sepanjang sejarahnya.

Catatan Penting

Jika setiap Yahudi, apapun kewarganegaraannya, pasti pro Israel dan support Israel dan menjadi bagian dari negara Israel; maka demikian juga halnya dengan penganut Syiah seluruh dunia pasti menginduk ke Iran (Negara Faqih) apapun paspornya. Mereka pasti akan berusaha keras untuk mempelajari bahasa Persia. Ini adalah bukti bahwa darah Persia pagan/Majusi begitu melekat dalam daging mereka.

Hikmahnya, Umar dan para sahabat lainnya sukses menghapus imperium persia penyembah api dan memadamkan api suci milik iblis yang berabad-abad pernah mereka tuhankan, sehingga api itu tidak akan pernah bisa menyala lagi sampai hari kiamat kelak; maka  iblispun menyalakan api dendam di dalam dada setiap penganut sekte Syiah, dendam kesumat kepada Allah, Rasulullah, para Sahabat Nabi, Islam, dan kaum Muslimin sampai kiamat tiba. (firmadani.com/syiahindonesia.com)

Teroris Syiah Syabiha Culik dan Bunuh 2 Anak Muslim

Syiahindonesia.com - Aktivis melaporkan bahwa jenazah dua anak laki-laki Muslim bersepupu (usia keduanya sekitar 15 tahun) ditemukan di dekat An–Nuzha, sebuah lingkungan mayoritas Syiah Alawiyah di Homs.

Pada tanggal 21 Mei 2015, beberapa teroris Syiah Syabiha menculik dua anak laki-laki di lingkungan Shammas, ketika mereka berjalan di sebelah Universitas Akomodasi, saksi mata melaporkan pada Selasa (26/5) seperti dilansir Zaman Alwasl.

Aktivis Jawad Al–Faori merinci bahwa saksi bercerita tentang sebuah mobil yang berhenti di samping kedua korban. Pengemudi berpura-pura bertanya tentang alamat, kemudian 4 orang keluar dari mobil dan menyeret para korban ke mobil dengan paksa.

Al–Faori menyebutkan bahwa mobil melaju sangat cepat. Hari berikutnya, dua anak laki-laki ditemukan tewas dan jenazah mereka dibuang di sisi lingkungan An-Nuzha. Tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda pembunuhan kejam meskipun usia mereka yang masih terbilang kecil. (antiliberalnews.com/syaihindonesia.com)