Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Waspadalah! Buku Anak ini Adalah Buku Syiah

Syiahindonesia.com - Adalah tugas sebagai orang tua untuk menjaga aqidah anak tercinta, jangan sampai anak kita terjerumus ke jalan yang tidak di ridhoi Allah, karena hanya Islam lah Agama yang di ridhoi Allah.

Mulai dari hal terkecil dengan mensortir bacaan anak-anak kita, yang mungkin saja disisipi oleh faham-faham syi'ah, seperti yang ada pada buku yang akan kita kaji, yaitu buku yang berjudul "Senyumlah Buda" penerbit DAR! Mizan.

Seperti biasa Syiah mengelabuhi mata umat Islam dengan konten berbungkuskan Islami, lalu kemudian mereka membubuhi ajaran menyimpang dari aliran yang sudah di anggap oleh MUI Jatim ini sebagai aliran sesat.

Diantara pemahaman sesat Syiah yang berada dalam buku ini adalah pernyataan di halaman 85:

"Kenabian telah berakhir pada Nabi Muhammad Saw, dan tidak ada Nabi setelah beliau. Orang yang memerintahkanku itu adalah salah seorang di antara keturunannya dan salah seorang di antara imam-imam kami, kaum Syi'ah."

Berikut Screen Shotnya:



(erlandhinonews.blogspot.com/syiahindonesia.com)

Kritik Tafsir Ayat Tathir Syiah (Bag. 2)

Syiahindonesia.com - Artikel ini kelanjutan dari : Kritik Tafsir Ayat Tathir Syiah (Bag. 1)

2-    Tidak adanya dalalah (petunjuk) nash dalam ayat tersebut  atas “ishmah”.

Yang demikian itu tampak jelas dari beberapa sisi, diantaranya;

Pertama; Tidak ada kesesuaian makna secara lughawi (bahasa)

Penafsiran ini tidak dibangun berdasarkan pondasi yang benar, karenanya ia gugur secara bahasa, sedangkan Al Qur’an turun dengan bahasa Arab. Sekiranya kata “Tathir” dan “idzhabu rijs” bermakna “Ishmah” dalam bahasa ini, niscaya nash (Al Qur’an) akan menyatakan berdasarkan yang mereka katakan.

Namun, sekiranya kata tersebut tidak bermakna seperti itu berdasarkan bahasa yang dengannya Al Qur’an diturunkan, maka apa jawabannya? Berikut dalil dari apa yang saya katakan:

1.    Tidak ada kaitannya sama sekali antara “Ar Rijsu” dengan “Al Khatha’” dalam bahasa Al Qur’an.

Tidak dikenal dalam bahasa Al Qur’an –yang merupakan intisari dari bahasa Arab- penggunaan kata “Ar Rijsu” untuk makna Al Khatha’ (salah) dalam berijtihad. Ar Rijsu sendiri bermakna Al Qadzar (kotor), An Natin (busuk) dan yang semisalnya.

Raghib Al Ashfahani mengatakan dalam “Mufradat Alfadz Al Qur’an” sehubungan dengan kata “Ar Rijsu”

“Ar Rijsu” maknanya adalah sesuatu yang kotor, seperti perkataan rajulu rijsin atau rijaalu arjaas (laki-laki kotor). Allah berfirman;

 “Adalah kotor termasuk perbuatan syaitan…”  

Menurut syara’, Ar Rijsu berarti khamer dan judi. Orang kafir juga disebut Rijsu karena kesyirikan dengan akal (bathiniyah) adalah perkara yang paling buruk, Allah berfirman:

 “Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada)…” 

Dan juga dalam firman Allah:

 “Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” 

Ada juga yang mengatakan bahwa Ar Rijsu juga berarti “An Natin” (kotor), ada juga yang mengartikan adzab, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (jiwanya dianggap kotor)” 

Juga dalam firman Allah;

"atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - …”

Saya katakan; Karena itu, para ahli fikih sepakat bahwa khamer adalah najis, namun mereka berbeda pendapat apakah maksud najis disini maknawi atau dzati? Sebab ayat diatas mensifatinya dengan kata Ar Rijsu, sementara mereka memahami berdasarkan yang Allah sifatkan terhadap khamer, Al Anshab (berkurban untuk berhala), Al Azlam (mengundi nasib dengan anak panah) dan judi dengan lafazh Ar Rijsu” yang berarti kotor dan najis. Pendapat yang menyatakan bahwa itu adalah najis maknawi, ini selaras dengan firman Allah;

“Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis (jiwanya dianggap kotor)” 

Sementara salah dalam berijtihad tidak mungkin disifati dengan kotor atau najis, karena salah dalam berijtihad bukan termasuk Ar Rijsu.

Siapa saja yang mengatakan bahwa ayat diatas merupakan nash untuk mensucikan dari kesalahan, maka ia telah menyatakan sesuatu yang tidak dikenal dalam bahasa Arab. Karena ayat ini tidak bisa dijadikan hujjah atas kema’shuman dari kesalahan, bahkan tidak bisa dijadikan dalil untuk kema’shuman sama sekali. Karena kama’shuman itu hanya memiliki satu definisi, artinya orang yang tidak ma’shum dari kesalahan, maka dia juga tidak ma’shum dari dosa, sebab keduanya (dosa dan kesalahan) saling berkaitan.

2.    “At Tathir” dan “Idzhabur rijs” (menghilangkan dosa) tidak berarti ma’shum dari dosa, dalil yang cukup jelas dalam masalah ini yang ditujukan kepada selain Ahlulbait adalah firman Allah;

“Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…” 

Mereka (orang-orang yang disebutkan dalam ayat diatas) adalah kaum yang melakukan kemaksiatan, sekiranya makna At Tathir adalah ma’shum (terjaga) dari dosa, niscaya Allah tidak akan menyatakannya untuk orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka dan mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Namun Allah mensifati mereka dengan tazkiyah (pensucian) sebagai tambahan dari tathir (pembersihan)  Tazkiyah (pensucian) lebih tinggi kedudukannya daripada tathir (pembersihan). Dalam ayat diatas, mereka disifati dengan tazkiyah, namun demikian mereka tidak ma’shum, sementara para imam yang ma’shum tidak disifati dengan tazkiyah (pensucian) dan hanya disifati dengan tathir (pembersihan) saja, yang secara makna kata tathir lebih rendah daripada tazkiyah, lantas bagaimana para imam menjadi ma’shum dengan hanya disifati tathir?

Allah berfirman:

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: "Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda'wakan dirinya) bersih.”

Kedua putri Luth (dalam ayat diatas) tidaklah ma’shum padahal keduanya adalah Ahlulbait Luth yang mereka (kaumnya Luth) sifati dengan “At Tathir” dan mereka hendak mengusirnya. Tathir (pembersihan) terhadap keluarga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sama dengan Tathir (pembersihan) terhadap keluarga Luth ‘alaihi salam.

Allah berfirman berkenaan dengan para sahabat yang senantiasa mengunjungi masjid Quba’;

“Di dalamnya masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.”  Para ulama sepakat bahwa mereka tidaklah ma’shum dari dosa.

Allah juga berfirman setelah melarang mendatangi wanita ketika haidh;

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Allah berfirman berkenaan dengan Ahli Badar yang berjumlah tiga ratus tiga belas orang;

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)”

Kata “rijzu” dengan “rijsu” maknanya saling berdekatan, sementara kata “yuthahhirukum” dalam dua ayat diatas maknanya sama, namun mereka tidak ma’shum dari dosa.

Firman Allah yang ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin:

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” 

Allah juga berfirman sehubungan dengan orang-orang Munafik dan Yahudi;

“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka.” 

Bukanlah makna ayat diatas “Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menjaga mereka dari dosa”, sama sekali tidak bisa ditafsirkan dengan ishmah kecuali kalau memang benar-benar maknanya demikian. Dan juga dapat dipahami dari lafazh ayat diatas bahwa orang-orang mukmin selain para imam adalah ma’shum dari dosa, tetapi tidak ada satupun yang mengatakan demikian. Jadi, ayat tersebut sama sekali tidak dapat dijadikan dalil atas kema’shuman para imam.

3.    Lafadz “Al Ahlu” secara bahasa

Asal penggunaan kata “ahlu” secara bahasa bermakna isteri dari seorang laki-laki, dan orang yang terkumpul bersama mereka dalam satu tempat tinggal yang bukan kerabat berdasarkan nasab kecuali melalui jalur pernikahan, berikut dalilnya.

Kata “ahlu” secara umum berarti sesuatu yang selalu melaziminya, Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, (yaitu) pertengkaran penghuni neraka.”

Ahli neraka adalah penghuni yang selalu melaziminya, ini seperti firman Allah;

“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.”

Kalimat “Ahlul Kitab” dan “Ahlud Dzikir” artinya adalah orang yang selalu bergelut dengan kitab dan orang selalu melazimi zikir, “Ahlul Madinah” dan “Ahlul Qura” artinya penduduknya dan yang tinggal disana, seperti firman Allah:

“Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu.”

Juga firman Allah;

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa…”

Begitu halnya dengan “Ahlul Balad” (penduduk negeri), Allah berfirman:

“Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya…”

Dan setiap lafadz yang disandarkan kepada kata “Ahlu”, seperti yang difirmankan Allah:

“Maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan…”

Firman Allah;

"Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu". 

Firman Allah;

“Tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya…” 

Firman Allah;

“Hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?"  Ahlu safiinah artinya adalah para penumpang yang berada dalam kapal tersebut. (Team Syiahindonesia.com)

Ayatu at-tathir wa ‘alaqotuha bi ‘ishmatil aimmah karya Dr. ‘Abdul Hadi al-Husaini

Kritik Tafsir Ayat Tathir Syiah (Bag. 1)

Syiahindonesia.com - Ayat At Tathhir…

Adalah firman Allah:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Ini adalah dalil terkuat dari Al Qur’an yang mereka (Syi’ah) jadikan hujjah, jika diperhatikan ternyata ayat tersebut tidak tertulis lengkap, padahal secara lengkap awal pembicaraan ayat tersebut ditujukan kepada Ummahatul mukminin –radhiallahu ‘anhunna- yaitu;

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak…”

Karena itu, penyebutan sebagai “ayat tathhir” merupakan bentuk pemalsuan, sebab itu bukanlah ayat melainkan hanya potongan ayat.

Yang penting, mereka menyatakan bahwa makna membersihkan dan menghilangkan dosa dalam ayat diatas adalah terjaga dari kesalahan, kelalaian dan dosa. Karena itu, Ahlulbait ma’shum (terjaga) dari semua itu. Sedangkan yang dimaksud Ahlulbait adalah orang-orang tertentu, mulai dari Ali bin Abi Thalib, kemudian Fathimah, Al Hasan dan Al Husain –radhiallahu ‘anhum-, sementara selain mereka tidak termasuk Ahlulbait. 

Kritikan dari penafsiran ayat ini

Berhujjah dengan ayat ini dalam masalah kema’shuman para imam adalah tertolak, baik dilihat dari segi dalil manapun, diantaranya;

1-    Tidak benar “ayat tathhir” dijadikan dalil untuk kema’shuman para imam.

Sesunggunya keyakinan agama yang paling mendasar dan pokok yang paling penting, haruslah ditetapkan dengan dalil Al Qur’an yang jelas dan pasti sesuai dengan makna yang diumaksud, sebagaimana dalil dalam firman Allah;

 “Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)…”  yang menununjukkan keesaan Allah, dan dalil;

 “Muhammad itu adalah utusan Allah…”  menunjukkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan firman Allah;

 “Dan agar mendirikan shalat…”  menunjukkan kewajiban dan disyareatkannya shalat. Tidak benar jika perkara-perkara penting ini dibangun diatas dalil yang sifatnya masih zhan (sangkaan) dan samar. Jika tidak, maka anda membalut keraguan dalam dasar agama dengan membangunnya diatas perkara yang masih samar dan hal-hal yang masih praduga, hal ini dilarang berdasarkan firman Allah;

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya…”  

Dalam ayat ini, Allah mensyaratkan supaya agama Allah dibangun diatas ayat-ayat Muhkamat yang jelas, tidak mengandung kesamaran dan praduga, sebagaimana ayat-ayat tadi yang menunjukkan keesaan Allah, kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan kewajiban shalat, ayat-ayat ini juga disebut sebagai ummul kitab (pokok-pokok isi Al Qur’an) sebagai sumber dan pokok sandaran yang terbebas dari kesamaran, keraguan dan praduga. 

Sedangkan orang-orang yang berpegang dengan ayat-ayat mutasyabihat adalah orang-orang yang condong kepada kesesatan, sebagaimana digambarkan Allah dalam firmanNya;

 “Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah…”  

Allah juga berfirman;

 “Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”

Maka dalil yang sifatnya zhanni (dugaan) tidak dapat dijadikan pegangan, karena tidak bisa berfaidah untuk menetapkan lmu, sebab dalil untuk menetapkannya harus bersifat qath’I (pasti) sehingga dapat menggugurkan istidlal yang bersifat zhanni (dugaan) dan masih samar, karena itu ulama ushul mengatakan;

الدَلِيْلُ إِذَا تَطَرَّقَ عَلَيْهِ الْاِحْتِمَالُ سَقَطَ بِهِ الْاِسْتِدْلَالُ
“Apabila sebuah dalil masih memiliki banyak kemungkinan, maka ia gugur untuk dijadikan dalil.”

Kema’shuman para Imam termasuk keyakinan paling mendasar menurut Syiah Imamiyah, sebab keyakinan ini merupakan dasar dibangunnya pokok aqidah Imamiyah, jika pondasi dasar kema’shuman ini runtuh, maka runtuhlah perkara-perkara yang dibangun diatas pondasi Imamah. Karena itu, Syiah sangat menekakankan untuk mengimaninya dan mengingkari orang-orang yang menentangnya, bahkan mengkafirkan dan mengeluarkannya dari agama bagi orang-orang yang menyelisihinya.

Al Kulaini meriwayatkan bahwa Abu Abdillah berkata:
“Sesuatu yang datang dari Ali, harus diambil dan sesuatu yang dilarang harus ditinggalkan. Dan orang yang mengikuti hukum-hukumnya seperti mengikuti Allah dan rasulNya, dan orang yang menolaknya dalam perkara yang kecil maupun besar akan sampai kepada batasan syirik kepada Allah.”

Ibnu Babawaih Al Qumi mengatakan:
“Siapa saja yang mengingkari kema’shuman bagi para imam, berarti telah bodoh dan barangsiapa bodoh (mengenai hal itu) berarti dia kafir.”

Keyakinan inilah yang mengharuskan mereka mengkafirkan milyaran umat islam yang tidak berada diatas keyakinan mereka, mengkafirkan para tokoh umat Islam terutama para Khulafa Ar Rasyidin tanpa terkecuali, lebih-lebih generasi kaum Muslimin yang mengikuti Khulafa’ Ar Rasyidin sesuai dengan perbedaan waktu dan tempat, dan berbagai macam kerusakan-kerusakan yang tidak dapat diperhitungkan akibat dari keyakinan tersebut, mungkin yang lebih ringan adalah haramnya melakukan pernikahan dengan mereka dan memakan sembelihan mereka. Berdasarkan akidah ini pula, terbangun fatwa yang menghalalkan harta dan darah kaum Muslimin, serta bolehnya bahkan wajibnya memerangi mereka.

Akidah dengan segala kedudukan dan bahayanya ini, haruslah berdasarkan dalil-dalil yang jelas dan pasti, yang terbebas dari keraguan dan praduga, dalam hal apapun. Jika tidak, agama ini akan menjadi permainan dan pondasinya akan rentan untuk dimanipulasi oleh para penyeleweng.

Ayat diatas, yaitu “Ayat Tathir” tidak benar jika menunjukkan kema’shuman seseorang, lebih-lebih menunjukkan kema’shuman pribadi yang ditentukan. Pernyataan bahwa ayat diatas menunjukkan kema’shuman hanya sebatas prasangka dan praduga, sehingga batal pula istidlal yang digunakan untuk hal itu, sebab jika sebuah dalil yang masih memiliki banyak kemungkinan, maka ia gugur untuk dijadikan dalil.”

Ini sudah cukup untuk membantah hujjah dan menjatuhkan keyakinan yang berdalilkan dengan ayat diatas, sebab dalil dari pondasi yang jelas dapat digunakan untuk menetapkan sesuatu yang dimaksud.

Akan tetapi termasuk pengalihan yang bermanfaat, untuk mengangkat syubhat yang lain dari hal-hal yang serupa demi mendapatkan kebenaran dari sesuatu yang benar, maka tidak ada masalah untuk mendiskusikan dalalah (petunjuk dalil) dari suatu ayat secara terperinci. (Team Syiahindonesia.com)

Sumber: Ayatu at-tathir wa ‘alaqotuha bi ‘ishmatil aimmah karya Dr. ‘Abdul Hadi al-Husaini

Minta Keringanan Hukuman, Keluarga Penyerang Az-Zikra Merengek Minta Maaf

Keluarga Terdakwa merengek-rengek kepada Ustadz Syuhada di PN Cibinong
Syiahindonesia.com - Cibinong – Ada kejadian menarik dalam sidang perdana kasus penyerangan kompleks Muslim Az-Zikra. Di PN Cibinong, keluarga pelaku penyerangan menangis tersedu-sedu di hadapan Ustadz Ahmad Syuhada, juru bicara Majelis Az-Zikra.

Kejadian bermula saat juru bicara Az-Zikra Ustad Ahmad Syuhada melayani wawancara dengan para wartawan di halaman PN Cibinong.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba empat wanita keluarga penyerang Syiah segera mengerumuni Ustadz Ahmad Syuhada. Mereka meminta maaf atas aksi brutal yang dilakukan kerabat mereka. Apalagi akibat perbuatan mereka, Ketua Divisi Penegak Syariah Az-Zikra, Habib Faisal Salim Al-Kaff menjadi korban.

Suasana seketika berubah jadi haru. Pasalnya, sebagian di antara ibu-ibu itu ada yang sampai merengek-rengek di hadapan Ustadz Syuhada dan memohon agar tindakan kerabatnya dimaafkan.

“Mohon dimaafkan pak ustadz biar diringankan hukumannya,” kata ibu-ibu itu hampir bersamaan, yang seketika diiyakan oleh Ustadz Syuhada.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya pihak keluarga telah bertandang ke kediaman Ustadz Arifin Ilham untuk meminta maaf. Dengan penuh lapang dada, pimpinan Majelis Zikir Az-Zikra itu menerima permohonan maaf pihak keluarga. Namun, beliau mengingatkan agar proses hukum harus tetap ditegakkan. (kiblat.net/syiahindonesia.com)

Menyoal Kasus Az-Zikra, 34 Penyerang Syiah Dikenakan Pasal Berlapis

Sejumlah terdakwa berada di persidangan kasus Az-Zikra, Rabu, (22/04).
Syiahindonesia.com - Sidang perdana kasus penyerangan komplek Az-Zikra pimpinan Ustadz Arifin Ilham pada Rabu, (22/04) mengagendakan pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum.

Sebanyak 34 terdakwa pelaku penyerangan Az-Zikra menjalani sidang di Pengadilan Negeri Cibinong. Mereka menjalani sidang secara terpisah di dua ruang sidang yang berbeda.

Dalam dakwaannya, jaksa membacakan kronologi penyerangan dan pengeroyokan terhadap kepala Divisi Penegak Syariah Az-Zikra Faisal Salim. Dalam dakwaan itu terungkap bahwa penyerangan itu dikonsolidasikan oleh terdakwa, Ida Bagus Handoko.

Jaksa mendakwa para pelaku dengan 3 pasal berlapis, yaitu:

Pasal 170 ayat 1 KUHP tentang kekerasan bersama-sama terhadap orang atau barang, diancam dengan pidana penjara maksimum 5 (lima) tahun 6 (enam) bulan.

Pasal 351 ayat 1 jo 56 ayat 1, tentang penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan.

Pasal 335 ayat 1 jo 55 ayat 1, tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Menurut jaksa penuntut umum Rizal Jamaludin, ketigapuluh empat terdakwa terancam hukuman penjara 7 tahun.

“Semua didakwa dengan pasal yang sama,” kata Rizal kepada Kiblat.net di PN Cibinong pada Rabu (22/04).

Para terdakwa juga menolak didampingi penasiahat hukum yang ditunjuk pengadilan. (kiblat.net/syiahindonesia.com)