Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Mengapa Syiah Suka Berbohong?

Pasangan misionaris Syiah Indonesia. Jalal & Emilia Renita
Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.

Syiahindonesia.com - Berbohong dan berdusta adalah ciri khas sekte Syiah. Bagi Syiah, mengarang-ngarang periwayatan hadis dan teks-teks keagamaan yang tidak memiliki dasar periwayatan yang sahih demi melakukan pembenaran pada ajaran sekte Syiah atau menambah-nambah teks baru pada periwayatan yang awalnya sahih dan menyelewengkan penafsiran pada teks-teks yang pada mulanya benar; adalah hal yang biasa mereka lakukan, sehingga yang dijadikan dalil justru penafsirannya dan bukan teks aslinya. Hal itu dilakukan dalam rangka menjustifikasi ajaran-ajaran Syiah yang penuh dengan penyelewengan.

Terkait fenomena “dusta mania” sekte Syiah ini, Syaikhul Islam pernah menulis, “Para ulama sepakat bahwa Rafidhah (Syiah) adalah sekte yang paling pendusta dan pembohong sejak dari zaman dahulu kala. Oleh karena itu para tokoh-tokoh Islam menandai sekte ini dengan cirikhas mereka berupa kegemaran berbohong.”

“وقد اتفق أهل العلم بالنقل والرواية والإسناد علي أن الرافضة أكذب الطوائف والكذب فيهم قديم ولهذا كان أئمة الإسلام يعلمون امتيازهم بكثرة الكذب”.

Syaikh Ihab Uwaidat menyebutkan beberapa penyebab utama mengapa berdusta menjadi fenomena khusus di dalam sekte Syiah, sebagai berikut:

    Ideologi atau akidah Syiah tidak berdasar dan tidak berdalil, tidak ada landasannya dari Al Quran maupun dari Sunnah, dan tidak ada prakteknya dalam kehidupan keluarga rasulullah dan para sahabat nabi. Ideologi Syiah tidak pernah ditemukan dalam kehidupan Rasulullah dan para khalifah-khalifah pengganti Rasulullah. Itulah mengapa sekte Syiah harus mengarang-ngarang berbagai kedustaan untuk dijadikan dalil dan landasan bagi ideologi mereka. Ideologi dan akidah Syiah adalah ideologi yang penuh dengan kebohongan dan berdasarkan dalil-dalil yang dikarang-karang.
    Sekte Syiah adalah perpanjangan dari agama Yahudi. Sekte Syiah adalah hasil evolusi dari agama Yahudi. Sebab para pendiri utama Syiah adalah tokoh-tokohYahudi model Abdullah bin Saba’. Dan ciri khas Yahudi adalah suka berdusta dan berbohong. Maka sekte Syiahpun tidak bisa terlepas dari ciri khas pendirinya yang sangat suka berbohong dan berdusta.
    Ideologi syiah bertujuan untuk meruntuhkan Islam. Oleh karenanya, Syiah perlu melindungi dirinya dengan bergam dalil-dalil dusta dalam rangka mengibuli masyarakat awam yang tidak mengerti benar hakikat Syiah.
    Ideologi syiah adalah adalah ideologi yang super aneh di mata ummat Islam. Dan para pendiri Syiah sepanjang sejarah memiliki target yang sangat jelas, yaitu ingin menghancurkan Negara Islam dan melumatkan ummat Islam dalam rangka membalas dendam kehancuran Imperium Persia di tangan ummat Islam, pada masa lalu. Untuk mewujudkan tujuan-tujuan nista  itu, sekte syiah harus melakukan cara-cara makar dan tipu-tipu dan berbagai kebohongan-kebohongan lainnya. Dari sanalah muculnya asal-muasal sekte Syiah yang mengkristal dalam pilar-pilar penting ideologi Syiah, yaitu ideologi dusta dan makar, yang menjadi doktrin super penting di dalam ajaran sekte Syiah.

Kewajiban Taqiyyah Dalam Ideologi Syiah

Sekte Syiah menamakan “berdusta” dengan sebutan yang lebih lembut, yaitu taqiyyah. Apakah yang dimaksud dengan taqiyyah?

Taqiyyah dalam ideologi syiah ialah tampil dengan wajah yang bukan sebenarnya agar dapat menipu orang lain. Dengan dasar itu pemeluk Syiah selalu menafikan hal-hal yang diimaninya secara diam-diam.

Normalnya seluruh agama mencela berbohong, bahkan sudah menjadi fitrah yang tertanam di dalam jiwa setiap manusia untuk mencela sifat dusta, naturnya manusia tidak suka dengan kebohongan. Namun berbeda dengan sekte Syiah, dimana berdusta bukan lah tindakan tercela melainkan tindakan yang fardhu dan wajib dilakukan oleh setiap pemeluk sekte Syiah di dalam keseharian hidupnya Taqiyah itu dilakukan tanpa harus merasa bersalah.

Parahnya lagi berdusta dan bertaqiyyah adalah merupakan kewajiban seperti wajibnya shalat dan kewajiban-kewajiban agama lainnya yang akan diganjar pahala bila dilakukan dan akan berdosa besar bila ditinggalkan. Lebih parahnya lagi 90% inti ajaran Syiah ada di taqiyyah, sebagaimana yang dikatakan oleh tokoh agama mereka dan tokoh muhaddis senior mereka Muhammad bin Ali bin Husein yang biasanya digelar Al-Shaduq,

“Kami meyakini bahwa taqiyyah wajib. Meninggalkan taqiyyah sama seperti meninggalkan shalat… Kewajiban taqiyyah tidak boleh diangkat sampai keluarnya Al-Qa’im (Imam Mahdi). Barang siapa yang meninggalkan taqiyyah sebelum keluarnya Al-Qa’im maka dianggap murtad dan keluar dari agama Allah dan agama Imamiah dan menyalahi Allah dan Rasulnya dan para Imam.”

“واعتقادنا في التقية أنها واجبة من تركها كان بمنزلة من ترك الصلاة.. والتقية واجبة لا يجوز رفعها إلى أن يخرج القائم فمن تركها قبل خروجه فقد خرج من دين الله وعن دين الإمامية وخالف الله ورسوله والأئمة “.

Muhammad bin Husein bin Hur Al-‘Amiliy di dalam ensiklopedia hadisnya yang bernama “Wasail Syiah” juga menuliskan sebuah bab yang berjudul “Kewajiban Memperhatikan Taqiyyah dan Memeliharanya-
باب وجوب الاعتناء والاهتمام بالتقية ……”

Perhatikanlah kata “wajib” pada bab tersebut dan makna kewajiban ini. “Kewajiban memperhatikan taqiyyah dan memelihara taqiyyah,” bermakna bahwa Syiah menjadikan berdusta sebagai manhaj dan metode tarbiyah yang senantiasa mereka pelihara dan pertahankan serta harus diwariskan dan menjadi materi penting dalam mendidik generasi-generasi selanjutnya.

Dalam buku Syiah yang bernama Al-Kafi, diriwayatkan bahwa Abu Ja’far mengatakan, “Taqiyyah adalah ajaran agama saya dan agama nenek moyang saya, orang yang tidak bertaqiyyah bukanlah orang yang beriman.”

“التقية من ديني ودين آبائي ولا إيمان لمن لا تقية له “.

Syiah juga meyakini bahwa, “Taqiyyah adalah tanda orang beriman.”

“إن التقية آية المؤمن ”

Sebagaimana sekte Syiah juga meyakini bahwa, “Taqiyyah adalah amalan terbaik seorang mukmin”

. وعن أمير المؤمنين قال: “التقية من أفضل أعمال المؤمنين”.

Sekte Syiah juga mengimani bahwa, “Allah akan mengampuni semua dosa seorang mukmin dan menyucikannyq dari dosa-dosanya, baik di dunia maupun di akherat, selain dua dosa: yaitu dosa meninggalkan taqiyyah dan dosa melalaikan hak-hak saudara seagama.”

عن علي بن الحسين قال: “يغفر الله للمؤمن كل ذنب ويطهره منه في الدنيا والآخرة ما خلا ذنبين: ترك التقية وتضييع حقوق الإخوان “.[وسائل الشيعة]

Bahkan demi mensyariatkan taqiyyah, mereka sengaja mengarang hadis palsu yang dinisbahkan kepada Rasulullah secara dusta  yang berbunyi, “Meninggalkan taqiyyah sama dengan meninggalkan shalat.”

“تارك التقية كتارك الصلاة ”

Hal seperti ini sudah sangat keterlaluan, karena mereka melakukan dusta terhadap nabi. Bagaimana mungkin nabi memerintahkan berdusta dan menyamakan dosa meninggalkan berdusta sama dengan dosa meninggalkan shalat? (Bersambung..) (firmadani.com/syiahindonesia.com)

Inilah Alasan Mengapa Syiah Sangat Membenci Umar bin Khattab

Pasangan pembesar Syiah di Indonesia
Oleh: Ustadz Syafruddin Ramly, Lc.

Pertanyaan itu terus terngiang di benak hati kaum Muslimin.

Umar bin Khathab dan para sahabat senior berhasil menaklukkan Imperium Majusi dan memadamkan api suci buatan iblis sesembahan bangsa Persia, dan kebencian mereka kepada Umar dijadikan menjadi bagian dari ajaran sekte syiah, seperti kata penulis buku “Sejarah Peradaban Iran”.

Kebencian Iran dan rakyat Iran terhadap Umar bin Khathab bukanlah disebabkan karena Umar merampok kekuasaan yang diklaim Syiah harusnya menjadi hak Ali bin Abi Thalib dan Fatimah putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan karena Umar telah menaklukkan Iran dan memangkas habis imperium dinasti Sasaniah

Dalam catatan sejarah, Umar juga terbukti sangat dicintai oleh keluarga baginda nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ali sendiri menikahkan putri tercintanya kepada Umar dan bahkan Ali memberi nama salah seorang putranya dengan nama Umar dan memberi nama putranya hang lain dengan nama Abu Bakar.

Sudah menjadi pengetahuan umum, betapa besarnya unsur Yahudi di dalam sekte Syiah. Syiah adalah sekte buatan Yahudi dan Abdullah bin Saba’ serta para sekutunya.

Syiah amat benci kepada Umar karena Umar mengusir Yahudi dari semenanjungArab, dan saking bencinya mereka dengan Umar maka mereka menggelar pembunuh Umar dengan gelar kebesaran yaitu “Baba Syuja’uddin” yang artinya “Bapak Agama Yang Pemberani” dan mereka juga membuatkan monumen khusus untuk sang pembunuh di Iran sana.

Dan itu juga lah mengapa orang Syiah sangat suka dengan nama “Piruz” atau “Fairuz” lengkapnya “Piruz Nahavandi” mama asli dari Abu Lu’lu’ Si Hamba Persia penyembah api yang membunuh Umar. Sebagaimana mereka juga enggan melewati  pintu Masjidil Haram yang bernama “Pintu Umar”.

Untuk diketahui juga, Syiah diciptakan bertugas menjalankan misi untuk mem-bully dan mengutuk para khalifah pengganti rasulullah, sahabat-sahabat nabi, dan istri-istri rasulullah sebagai sumber utama penukilan ajaran Islam ini, dan juga untuk mengutuk berbagai penaklukan  yang dilakukan oleh para pemimpinan Islam pada masa lalu.

Sudah menjadi maklumat umum bahwa Yahudi sangat benci dengan penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh ummat Islam dan bangsa Arab, yang mana pada masa lalu bangsa Arab bukanlah bangsa yang dianggap oleh Imperium Persia yang maha gagah itu. Sebagaimana Syiah juga tidak pernah punya wilayah taklukkan sepanjang sejarahnya.

Catatan Penting

Jika setiap Yahudi, apapun kewarganegaraannya, pasti pro Israel dan support Israel dan menjadi bagian dari negara Israel; maka demikian juga halnya dengan penganut Syiah seluruh dunia pasti menginduk ke Iran (Negara Faqih) apapun paspornya. Mereka pasti akan berusaha keras untuk mempelajari bahasa Persia. Ini adalah bukti bahwa darah Persia pagan/Majusi begitu melekat dalam daging mereka.

Hikmahnya, Umar dan para sahabat lainnya sukses menghapus imperium persia penyembah api dan memadamkan api suci milik iblis yang berabad-abad pernah mereka tuhankan, sehingga api itu tidak akan pernah bisa menyala lagi sampai hari kiamat kelak; maka  iblispun menyalakan api dendam di dalam dada setiap penganut sekte Syiah, dendam kesumat kepada Allah, Rasulullah, para Sahabat Nabi, Islam, dan kaum Muslimin sampai kiamat tiba. (firmadani.com/syiahindonesia.com)

Teroris Syiah Syabiha Culik dan Bunuh 2 Anak Muslim

Syiahindonesia.com - Aktivis melaporkan bahwa jenazah dua anak laki-laki Muslim bersepupu (usia keduanya sekitar 15 tahun) ditemukan di dekat An–Nuzha, sebuah lingkungan mayoritas Syiah Alawiyah di Homs.

Pada tanggal 21 Mei 2015, beberapa teroris Syiah Syabiha menculik dua anak laki-laki di lingkungan Shammas, ketika mereka berjalan di sebelah Universitas Akomodasi, saksi mata melaporkan pada Selasa (26/5) seperti dilansir Zaman Alwasl.

Aktivis Jawad Al–Faori merinci bahwa saksi bercerita tentang sebuah mobil yang berhenti di samping kedua korban. Pengemudi berpura-pura bertanya tentang alamat, kemudian 4 orang keluar dari mobil dan menyeret para korban ke mobil dengan paksa.

Al–Faori menyebutkan bahwa mobil melaju sangat cepat. Hari berikutnya, dua anak laki-laki ditemukan tewas dan jenazah mereka dibuang di sisi lingkungan An-Nuzha. Tubuh mereka menunjukkan tanda-tanda pembunuhan kejam meskipun usia mereka yang masih terbilang kecil. (antiliberalnews.com/syaihindonesia.com)

Aqidah Nyleneh Syiah tentang Hari Akhir

Illustrasi
Syiahindonesia.com - Keyakinan Syiah tentang al-Qur’an dan klaim mereka tentang kitab-kitab yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. telah selesai dibahas pada dua edisi sebelumnya. Pada edisi ini hendak ditampilkan keyakinan Syiah tentang hari Akhir. Selamat membaca, semoga Anda “semakin kenal” dengan berbagai penyimpangan Syiah.

Tentang hari Akhir, Syiah—seperti pada rukun Iman yang lain—juga punya pandangan yang jauh berbeda dengan umat Islam. Sudah menjadi suatu kelaziman, bahwa Syiah mesti menghubungkan segala urusan agama dengan doktrin sentral mereka, yakni imamah. Percaya pada keberadaan hari akhir tidak sah jika tidak percaya pada imamah. Menurut Syiah, bagaimana beriman kepada hari akhir dapat diterima tanpa keimanan kepada para Imam Ahlul Bait, padahal urusan akhirat sepenuhnya berada di genggaman mereka. Merekalah yang berhak memasukan seseorang ke dalam surga atau neraka. Hal ini telah dinyatakan­ oleh al-Kulaini dalam al-Kafi sebagai berikut:

الآخِرَةِ لِلْإِمَامِ يَضَعُهَا حَيْثُ يَشَاءُ وَ يَدْفَعُهَا اِلَى مَنْ يَشَاءُ جَائِزٌ لَهُ ذَلِكَ مِنَ اللهِ.

“Akhirat adalah milik Imam, dia boleh meletakannya di manapun dia suka, dan memberikan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Hal itu sudah direstui oleh Allah.”[1]

Syiah mengigau sedemikan karena dalam keyakinan mereka, Allah SWT. Menciptakan surga dan neraka hanya untuk menghormati a’immat Ahl al-Bait (para Imam Ahlul Bait). Dalam hal ini, salah satu pemuka ulama Syiah, Ibnu Babawaih, menyatakan sebagai berikut:

وَ يَجِبُ أَنْ يُعْتَقَدَ أَنَّهُ لَوْ لَا هُمْ لَمَا خَلَقَ اللهُ سُبْحَانَهُ السَّمَاءَ وَ الأَرْضَ وَ لَا اْلجَنَّةَ وَ لَا النَّارَ, وَ لَا آدَمَ وَ لَا حَوَّاءَ, وَ لَا الْمَلاَ ئِكَةَ, وَ لَا شِيْئاً مِمَّا خُلِقَ.

“Wajib diyakini bahwa andai bukan karena para Imam, Allah tidak akan menciptakan langit, bumi, surga, neraka, Adam, Hawa, malaikat dan segala apa yang Dia ciptakan.”[2]

Bagi Syiah, para Imam memegang peran yang demikian sentral, baik mengenai urusan dunia maupun urusan akhirat seseorang, juga mengenai kehidupan dan kematiannya. Syiah percaya, bahwa sesaat sebelum orang mukmin meninggal dunia, para Imam ikut andil dalam proses keluarnya ruh. Mereka meyakini bahwa para Imam hadir saat seseorang menghadapi ajal. Para Imam itulah yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) kepada orang-orang yang mempercayai wilayah (kepemimpinan Ali dan keturunannya), sehingga keluarnya ruh tidak terlalu menyiksa. Syiah juga percaya bahwa para Imam bisa membuat orang yang akan meninggal semakin menderita disebabkan keengganannya mengakui wilayah.[3]

Kepercayaan semacam itu demikian menjiwai penganut Syiah, hingga tradisi dan amaliyah keseharian mereka sesak dengan khurafat, takhayyul dan mitos. Hal itu dapat kita lihat, semisal setelah orang Syiah meninggal, biasanya kerabatnya memasukkan debu kuburan Sayyidina Husain Radhiyallahu ‘anhu ke dalam kafannya. Mereka percaya bahwa abu tersebut akan menjadi perisai dari api neraka.

Lebih dari semua itu, Syiah juga percaya bahwa saat seseorang masuk ke liang lahad, pertanyaan pertama yang diajukan malaikat adalah berkenaan dengan Ahlul Bait. Al-Majlisi memberikan ilustrasi yang amat lugas tentang hali itu:

أَوَّلُ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ العَبْدُ حُبُّنَا أَهْلَ البَيْتِ.

“Pertanyaan pertama yang diajukan pada seorang hamba adalah kecintaan kita kepada Ahlul Bait.”[4]

Lebih lanjut, al-Majlisi dalam karyanya yang lain, al-I’tiqadat, juga mengatakan sebagai berikut:

فَيَسْأَلُهُ مَلَكَانِ عَنْ مَنْ يَعْتَقِدَهُ مِنْ الْأَئِمَّةِ وَاحِدًا بَعْدَ وَاحِدٍ, فَإِنْ لَمْ يُجِبْ عَنْ وَاحِدٍ مِنْهُمْ يَضْرِبَانِهِ بِعَمُودٍ مِنْ نَارٍ يَمْتَلِئُ قَبْرَهُ نَارًا اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Maka dua malaikat itu menanyainya tentang Imam yang dia (orang yang berada didalam kubur) percayai satu persatu. Jika ia tidak bisa menjawab satu saja, dua malaikat itu akan memukulnya dengan tongkat dari api yang akan membuat kuburannya terbakar hingga hari kiamat.”[5]

Ulama Syiah yang lain, Muhammad al-Husaini al-Jalali, juga mengatakan:

وَ أَمَّا إِذَا كَانَ فِي حَيَاتِهِ مُعْتَقِدًا بِهِمْ (يعني الإثني عشر) فَإِنَّهُ يَسْتَطِيْعُ الرَدَّ عَلَى أَسْئِلَتِهِمْ (أسئلة الملائكة) وَ يَكُوْنُ فِي رَغَدٍ إِلَى يَوْمِ الحَشْرِ.

“Jika sewaktu hidup ia mempercayai para Imam (Dua Belas), maka ia akan dapat menjawab semua pertanyaan malaikat, dan akan mendapatkan kenikmatan hingga hari pengumpulan.”[6]

Lebih jauh, mengenai hari kebangkitan, Syiah juga mempunyai kepercayaan tersendiri. Mereka meyakini bahwa tidak semua orang akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, namun akan ada sekelompok orang yang akan masuk surga tanpa dikumpulkan di Padang Mahsyar terlebih dahulu. Mereka adalah penduduk Qum, kota suci Syiah di Iran. Dalam hal ini, ulama Syiah rupanya cukup bersemangat membikin riwayat aspal (asli tapi palsu) guna mengesankan keutamaan kota ini, antara lain apa yang diungkapkan oleh Syekh Abbas al-Qummi, salah seorang ulama Syiah kontemporer yang membidangi hadits dan sejarah. Ia mengatakan sebagai berikut:

أَنَّ أَهْلَ مَدِيْنَةِ قُمْ يُحَاسَبُوْنَ فِيْ حُفَرِهِمْ وَ يُحْشَرُوْنَ مِنْ حُفَرِهِمْ إِلَى الخَنَّةِ.

“Sesungguhnya penduduk kota Qum akan dihisab di kuburnya, dan digiring ke surga dari kuburnya.”[7]

عَنْ أَبِي الحَسَنِ الرِّضَا قَالَ: إِنَّ لِلْجَنَّةِ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابٍ, وَ لِأَهْلِ قُمْ وَاحِدٌ مِنْهَا فَطُوْبِى لَهُمْ ثُمَّ طُوْبَى.

“Dari Abu Hasan ar-Ridha, ia berkata: “Sesungguhnya surga memiliki delapan pintu, satu pintu untuk penduduk kota Qum. Alangkah bahagianya mereka, sungguh alangkah bahagianya mereka.”[8]

Masih berkenaan dengan kota Qum, al-Majlisi menambahkan komentarnya sebagai berikut:

وَ هُمْ خِيَارٌ شِيْعَاتِنَا مِنْ بَيْنِ سَائِرِ البِلَادِ خَمَّرَ اللهُ تَعَالَى وِلاَيَتَنَا فِي طِيْنَتِهِمْ.

“Dari sekian negara, penduduk Qum-lah pengikut kita yang paling baik. Allah SWT. Selalu menutupi wilayah kita dengan tanah air Qum.”[9]



Tegasnya, segala urusan akhirat, mulai dari hisab, timbangan amal, melewati jembatan, surga dan neraka, semuanya ditangani oleh para Imam, sebagaimana perkataan yang mereka afiliasikan kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As, yang diklaim Syiah sebagai imam ke-6, sebagai berikut:

إِلَيْنَا الصِّرَاطُ وَ إِلَيْنَا المِيْزَانُ وَ إِلَيْنَا حِسَابُ شِيْعَتِنَا.

“Kamilah yang akan mengurusi shirath, timbangan amal dan perhitungan amal pendukung kita.”[10]

Senada dengan pernyataan di atas, seorang ulama besar Syiah, al-Hur al-Amili, menetapkan bahwa di antara pokok hukum Syiah Imamiyah adalah beriman bahwa perhitungan semua amal makhluk akan ditangani oleh para Imam.[11]

Jadi, sebagaimana telah kami nyatakan sebelumnya, bahwa yang diinginkan Syiah dengan mengusung doktrin imamah tidak hanya hendak mendominasi kekuasaan duniawi secara politis, baik dengan bertopeng dibalik doktrin mahdiyyah, Ghaibah, Wilayat al-Faqih dan sebagainya. Dengan imamah, Syiah juga hendak mendominasi wilayah kiamat dan akhirat, yang seharusnya merupakan hak prerogatif Allah SWT. Inilah puncak ke-ekstrimitas sebuah ideologi. Padahal di dalam al-Qur’an telah dijelaskan antara lain sebagai berikut:

فَلِلَّهِ ٱلأخِرَةُ وَٱلأُولَىٰ

“Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.” (QS. An-Najm [53]: 25)

لَهُ ٱلحَمدُ فِي ٱلأُولَىٰ وَٱلأخِرَةِ وَلَهُ ٱلحُكمُ وَإِلَيهِ تُرجَعُونَ

“Bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Qashash [28]: 70)

إِنَّ إِلَينَا إِيَابَهُم ثُمَّ إِنَّ عَلَينَا حِسَابَهُم

“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 25-26).



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 409.

[2]Ibnu Babawaih, al-I’tiqadat, hlm. 106-107.

[3]Ibid, hlm. 93-94.

[4]Mulla Muhammad Baqir Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 27 hlm. 79 dan Ibnu Babawaih, Uyunu Akhbar ar-Ridha, hlm. 222.

[5]Mulla Muhammad Baqir Al-Majlisi, al-I’tiqadat, hlm. 95.

[6]Muhammad al-Husaini al-Jalali, al-Islam Aqidah wa Dustur, hlm. 77.

[7]Syekh Abbas al-Qummi, al-Kuna wa al-Alqab, juz 3 hlm. 71. Bandingkan dengan Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 218.

[8]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 215, dan Syekh Abbas al-Qummi, Safinat al-Bihar, juz 1 hlm. 446.

[9]Bihar al-Anwar, juz 60 hlm. 216.

[10]Muhammad bin Abdul Aziz al-Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm. 337.

[11]Dr. Nashir bin Abdullah Ali al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 769.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Bantahan Klaim Kafir Syiah Terhadap Abu Bakar dan Umar RA

Syiahindonesia.com - Betapa banyak dari kita mendapatkan orang syiah begitu membenci Abu Bakr dan Umar rahiyallahu anhuma, lebih dari itu kebencian mereka telah melampui batas hingga mengkafirkan mereka dan menyatakan keduanya kekal di neraka dan dikekalkan di nerakan jahannam.

Sebenarnya dapat kami buktikan syiah adalah agama kontradiksi dan bertolak belakang. Akan saya buktikan kontradiksi mereka, melalui kitab-kitab syiah yang ada. Saya tidak ingin membuktikannya dari kitab-kitab sunni, karena sunni menyatakan dengan tegas bahwasanya keduanya adalah manusia terbaik setelah Rasulullah dari ummat ini. Akan tetapi saya akan buktikan kontradiksi mereka dari kitab-kitab syiah sendiri.

Syiah berteriak bahwasanya Abu Bakr dan Umar adalah manusia kafir, akan tetapi saya akan membuktikan

Bahwasanya Abu Bakr dan Umar adalah muslim mu’min.

Thoyyib, inilah bukti-bukti yang ada dalam kitab mereka sendiri, saya tidak melakukan khiyanat ilmiyyah sebagaimana yang dilakukan oleh dedengkot syiah baik Jalaluddin Rahmat (yang mana khiyanat ilmiyyahnya diketahui banyak orang dan dibongkar oleh Ustadz Idrus Ramli dalam sebuah seminar) ataupun istirinya sendiri Emilia Renita Az ( yang mana kami bongkar sendiri khiyanat ilmiyyah yang dilakukan olehnya dalam sebuah artikel  yang membahas nikah mut’ah dalam kitab sunnni, dan pada akhirnya dia telah menghapus artikel tersebut karena ketahuan akan khiyanat ilmiyyah yang dilakukan olehnya).  Untuk para syiah silahkan mengecheck langsung kitabnya dan membacanya, kami harapkan dari para syiah “jangan malas-malas untuk membaca karena yang kami dapati syiah adalah orang yang sangat malas untuk membaca buku dan hanya bersandarkan kepada copy paste dan yang sangat na’if mereka gemar menuduh orang dengan melakukan khiyanat ilmiyyah padahal mereka belum melihat kitab mereka sendiri, dan justru diri mereka sendiri yang melakukan khiyanat ilmiyyah. Apa mungkin dedengkot syiah tidak mengerti akan kitab mereka sendiri ??? “

Thoyyib, kita mulai saja pemaparan bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar bukanlah kafir sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab syiah.

1- Ali bin Abi Tholib –imam ma’shum menurut mereka- telah shalat dibelakang Abu Bakr radhiyallahu anhu. Menurut kesepatakan syiah dan sunni, shalat dibelakang orang kafir adalah haram dan tidak sah jika dia mengetahui akan kekufurannya. Pertanyaannya untuk para syiah, jika Ali bin Abi tholib adalah ma’shum maka tidak mungkin beliau shalat dibelakang orang kafir. Bukankah ini menunjukkan bahwasanya Abu Bakr adalah muslim mu’min ??

Jika syiah menjawab, Ali bin Tholib tidak pernah shalat dibelakang Abu Bakr. Anda jangan memfitnah yang tidak-tidak.

Maka kami jawab: Thoyyib, kami dapat membuktikan Ali shalat dibelakang Abu Bakr radhiyallahu anhu dan akan ana buktikan bukan dari kitab sunni akan tetapi langsung dari kitab  syiah.

Disebutkan dalam kitab Al Ihtijaj karangan Ath Thobarsi:

أسماء بنت عميس قالت لجاريتها: اذهبي إلى منزل علي وفاطمة عليهما السلام، واقرأيهما السلام، وقولي لعلي " إن الملأ يأتمرون بك ليقتلوك فاخرج إني لك من الناصحين " فجاءت فقال أمير المؤمنين عليه السلام " قولي لها: إن الله يحول بينهم وبين ما يريدون. ثم قام وتهيأ للصلاة، وحضر المسجد، وصلى خلف أبي بكر، وخالد بن الوليد يصلي بجنبه، ومعه السيف

“Asma bintu ‘Umais berkata kepada budak perempuannya: Pergilah ke rumah Ali dan Fatimah alaihimas salam, dan sampaikanlah salam untuk mereka berdua. Dan katakanlah kepada Ali “Sesungguhnya orang-orang telah berkumpul (bermusyawarah) untuk membunuhmu, maka keluarlah sesungguhnyaaku adalah orang yang menasihatimu. Maka datanglah budaknya (kepada Ali), maka Akli berkata: “katakanlah kepada Asma’ bintu Umais: Sesungguhnya Allah membatasi antara mereka dan apa yang mereka inginkan. Kemudia Ali bangun dan menyiapkan diri untuk shlat dan kemudian datang ke masjid, dan shalat dibelakang Abu Bakr, dan Kholid bin Walid shalat disampingnya dan disisinya ada pedang” Al Ihtijaj 10/18

2- Ali telah membaiat kepada Abu Bakr dan Umar. Seandainya Ali adalah imam ma’shum, mengapa beliau membaiat Abu Bakr dan Umar (yang mana menurut syiah keduanya adalah kafir) ?? Sedangkan membaiat orang kafir untuk menjadi pemimpin adalah haram. Dari sini juga terdapat dua kemungkinan, kemungkinan pertama Ali tidaklah ma’shum karena dia telah melakukan kesalahan karena telah membaiat Ali.  Kemungkinan kedua Abu Bakr dan Umar adalah orang muslim mu’min pemimpin kaum muslimin.

Disebutkan oleh Imam besar syiah Muhammad Husain Alu Kasyif Al Ghito’ dalam kitabnya “Ashlu Asy Syi’ah Wa Ushuuluhaa”:

وحين رأى أنَّ المتخلّفين  أعني الخليفة الأول والثاني ـ بذلا أقصى الجهد في نشركلمة التوحيد ، وتجهيز الجنود ، وتوسيع الفتوح ، ولم يستأثروا ولم يستبدوا ، بايع وسالم

“Dan tatkala Ali Radhiyallahu anhu melihat 2 kholifah, yakni: Kholifah pertama (Abu Bakr) dan kholifah kedua (Umar) telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyebarkan kalimat tauhid dan mempersiapkan pasukan, dan menyebarkan penaklukan, dan mereka tidaklah egois dan tidak mendahulukan pendapat sendiri, lanta Ali membaiatnya dan menerimanya” Ashlu Asy Syiah Wa Ushuuluhaa  11/12

Lihatlah Ali telah membaiat Abu Bakr dan Umar, seandainya Abu Bakr dan Umar kafir tentulah Ali tidak akan mungkin berbaiat kepadanya. Disinilah bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhuma adalah muslim mu’min, jika syiah tidak mau menerima maka secara tidak langsung syiah tidak menyatakan Ali adalah orang yang ma’shum.

3- Ali bukan hanya membaiat Abu Bakr dan Umar melainkan menyatakan bahwasanya Abu Bakr lebih berhak untuk memegang khilafah. Disebutkan dalam sebuah kitab syiah “Syarh Nahji Al Balaghah” milik Ibnu Abdil Hadid, bahwasanya Ali berkata:

 و إنا لنرى أبا بكر أحق الناس بها إنه لصاحب الغار و ثاني اثنين و إنا لنعرف له سنه و لقد أمره رسول الله ص بالصلاة و هو حي

“Sesungguhnya kami melihat Abu Bakr lebih berhak dengan kekholifahan itu, karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang tinggal di gua kedua di antara dua orang (bersama Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dan kami mengetahui akan kehidupannya dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menjadi imam shalat sedangkan Rasulullah tatkala itu masih hidup” Syarh Nahj Al Balaghoh 243/3

4- Ali membujuk Umar agar tidak pergi memerangi musuh dengan dirinya sendiri (cukuplah Umar mengutus pasukan dan Umar tidak usah ikut berperang). Karena Ali takut jika Umar wafat dikarenakan hal tersebut, sedangkan Umar adalah Marja’ (tempat rujukan utama) kaum muslimin tatkala itu. Ali berkata kepada Umar, sebagaimana yang disebutkan dalam “Nahju Al Balaghah”:

 إِنَّكَ مَتَى تَسِرْ إِلَى هَذَا اَلْعَدُوِّ بِنَفْسِكَ فَتَلْقَهُمْ فَتُنْكَبْ لاَ تَكُنْ لِلْمُسْلِمِينَ كَانِفَةٌ دُونَ أَقْصَى بِلاَدِهِمْ لَيْسَ بَعْدَكَ مَرْجِعٌ يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ فَابْعَثْ إِلَيْهِمْ رَجُلاً مِحْرَباً وَ اِحْفِزْ مَعَهُ أَهْلَ اَلْبَلاَءِ وَ اَلنَّصِيحَةِ فَإِنْ أَظْهَرَ اَللَّهُ فَذَاكَ مَا تُحِبُّ وَ إِنْ تَكُنِ اَلْأُخْرَى كُنْتَ رِدْءاً لِلنَّاسِ وَ مَثَابَةً لِلْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya kapan engkau pergi dirimu menuju musuh kemudian engkau bertemu dengan mereka maka akan dapat celaka. Maka tidak ada tempat berlindung untuk kaum muslimin selain negri mereka yang jauh. Tidak ada marja’ (tempat rujukan) setelah mu yang mana kaum muslimin merujuk padanya. Maka cukuplah engkau mengutus seseorang yang pintar berperang dan ajaklah bersamanya orang yang pintar menasihati. Jika Allah berkehendak untuk mengunggulkannya maka itulah yang engkau inginkan dan jika malah terjadi suatu hal yang lain maka engkau adalah penolong manusia dan tempat bersandarnya kaum muslimin” Nahju Al Balaghah

5- Ali memuji Umar bin Khottob radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau telah melakukan kebaikan dan orang yang selalu melakasanakan ketaatan Allah dan selalu bertakwa kepadaNya. Ali berkata sebagaimana yang disebutkan dalam kitab yang sama “Nahju Al Balaghah”:

فقد قوم الأود و داوى العمد و أقام السنة و خلف الفتنة ذهب نقي الثوب قليل العيب أصاب خيرها و سبق شرها أدى إلى الله طاعته و اتقاه بحقه

“Dia telah meluruskan kebengkokan-kebengkokan dan telah menghilangkan penyakit-penyakit dan telah menegakkan sunnah dan membelakangi fitnah. Dia pergi dalam pakaian yang bersih, dia adalah orang yang tidak banyak celaan. Dia telah melakukan kebenaran dan melampaui kesalahan-kesalahan yang lalu. Dia telah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan bertakwa kepadanya dengan menjalankan hak-hakNya” Nahj Al Balaghah

6- Ali sangat menjunjung tinggi Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhum. Disebutkan dalam kitab syiah “Asy Syaafii Fii Al Imaamah” bahwasanya Ali ditanya siapakah khulafa ar rasyidin, maka beliau menjawab:

هما حبيباي وعماي أبو بكر وعمر، إماما الهدى، وشيخا الإسلام، ورجلا قريش، والمقتدى بهما، بعد رسول الله (صلى الله عليه وسلم)، فمن اقتدى بهما عصم، ومن اتبع آثارهما هدي إلى صراط مستقيم، ومن تمسك بهما فهو من حزب الله، وحزب الله هم المفلحون

“Mereka berdualah adalah kecintaanku dan kedua pamanku, yakni Abu Bakr dan Umar. Mereka berdua adalah Imam petunjuk, syaikhul islam, orang dari quraisy, yang mana mereka berdua diikuti setelah Rasulullah shallallahu alihi wa sallam maka barang siapa yang mengikuti keduanya maka dia telah teguhkan, dan barangsiapa yang mengikuti jalan keduanya maka dia telah diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan keduanya maka dia temasuk dari kelompok Allah dan kelompok Allah adalah orang-orang yang beruntung” Asy Syafi Fii Al Imamah 49/7

Ini hanya sedikit dari kami, dan inilah bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar bukanlah Kafir sebagaimana yang dikatakan syiah. Disinilah bukti akan kontradiksi ajaran mereka maupun ucapan mereka. Setelah melihat bukti-bukti ini, adakah orang syiah yang masih menganut ajaran sesat “syiah”?? Jawabannya: bisa jadi ada, dan itu hanyalah orang-orang yang dungu dan bodoh kuadrat. (alamiry.net/syiahindonesia.com)

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry