Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Kupas Tuntas Aqidah Bada' Syiah (Bag. 4)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Pada beberapa edisi sebelumnya telah disebutkan konsep bada’ dalam keyakinan Syiah—yang identik dengan keyakinan Yahudi—diartikan sebagai penyesalan Tuhan karena telah terlanjur mengerjakan hal-hal yang kurang tepat. Selanjutnya dikupas masa kemunculan konsep bada’—dalam keyakinan Syiah—yang awalnya tidak dikenal di kalangan Islam. Kemudian, dibedah pula usaha Syiah dalam mencari dalil pembenaran keyakinan bada’. Pada edisi terakhir, topik bada’, ini akan dikupas usaha ulama Syiah dalam meyakinkan masyarakat agar meyakini kebenaran bada’.

Beragam Cara Syiah Menjajakan “Produk” Bada’

Diakui atau tidak, bada’ mempunyai pengaruh besar di kalangan intelektual Syiah. Kenyataan bahwa bada’ bertentangan dengan ayat-ayat suci al-Qur’an, dasar-dasar Uluhiyyah (ketuhanan) dan akal sehat, membuat mereka mencoba membikin penafsiran agar bada’ dapat diterima masyarakat, seperti yang dilakukan oleh Ibnu Babawaih al-Qummi. Dalam salah satu karyanya, at-Tauhid, ia menjelaskan:

لَيْسَ الْبَدَاءُ كَمَا يَظُنُّهُ جُهَّالُ النَّاسِ بِأَنَّهُ بَدَاءُ نَدَامَةٍ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ، وَلَكِنْ يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُقِرَّ للهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَنَّ لَهُ الْبَدَاءَ، مَعْنَاهُ أَنَّ لَهُ أَنْ يَبْدَأَ بِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ فَيَخْلُقُهُ قَبْلَ شَيْءٍ، ثُمَّ يَعْدِمُ ذَلِكَ الشَّيْءَ وَيَبْدَأَ بِخَلْقِ غَيْرِهِ.

Bada’ (yang diyakini Syiah) bukanlah seperti yang dipahami oleh orang-orang yang bodoh, (yang mengira) bahwa bada’ adalah timbulnya penyesalan, Maha Suci Allah dari semua itu, akan tetapi wajib bagi kita mengakui bahwa Allah boleh memiliki bada’, artinya adalah Dia berhak untuk memulai menciptakan makhluk-Nya sebelum menciptakan sesuatu, lalu meniadakannya, dan menciptakan yang lain.[1]

Usaha al-Qummi dalam menafsirkan bada’ tampaknya telah melenceng dari pembahasan, karena yang dijelaskannya bukanlah kata bada’, melainkan bad’ (memulai). Kita semua sependapat dengannya kalau dikatakan bahwa Allah SWT berhak menciptakan atau meniadakan apa saja yang dikehendaki-Nya, bukanlah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:

وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ

“Dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As-Sajdah [32]: 7)

إِنَّهُ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ

“Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk pada permulaannya kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali.” (QS. Yunus [10]: 4)

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (QS. Al-Qashash [28]: 68)

Sebagaimana al-Qummi, ath-Thusi juga berusaha menafsirkan bada’ dengan caranya sendiri. Dia mengatakan:

قَوْلُهُ: بَدَا للهِ فِيْهِ مَعْنَاهُ بَدَا مِنَ اللهِ فِيْهِ، وَهَكَذَا الْقَوْلُ فِيْ جَمِيْعِ مَا يُرْوَي مِنْ أَنَّهُ بَدَا للهِ فِيْ إِسْمَاعِيْلَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ بَدَا مِنَ اللهِ، فَإِنَّ النَّاسَ كَانُوْا يَظُنُّوْنَ فِيْ إِسْمَاعِيْلِ بْنِ جَعْفَرَ أَنَّهُ الْإِمَامُ بَعْدَ أَبِيْهِ، فَلَمَّا مَاتَ عَلِمُوْا بُطْلَاَن ذَلِكَ.

“Tampak pada Allah” artinya adalah “Tampak dari Allah.” Begitulah arti dari semua yang diriwayatkan. Tampak pada Allah dalam diri Isma’il, artinya adalah tampak dari Allah. Karena sebelumnya orang-orang menyangka bahwa Isma’il bin Ja’far-lah yang akan menjadi Imam, namun setelah kematiannya tampaklah pada mereka (bahwa perasangka mereka itu salah).[2]

Jadi, jika al-Qummi menafsirkan bada’ (tampak) dengan mengartikannya sebagai bad’ (memulai), maka ath-Thusi menafsirkan kalimat Bada lillahi (tampak kepada Allah) dengan Bada min Allahi (tampak dari Allah). Di sini berarti ath-Thusi telah menisbatkan bada’ kepada manusia, bukan pada Allah SWT. Sebab Bada min Allahi artinya adalah: dia mengetahui dari Allah SWT. tentang…

Penafsiran yang dilakukan ath-Thusi ini diikuti oleh tokoh Syiah kontemporer, Muhammad Husain Ali Kasyif al-Ghitha. Dalam bukunya ad-Dinu wa al-Islam, dia menyatakan sebagai berikut:

الْبَدَاءُ وَإِنْ كَانَ فِيْ جَوْهَرِ مَعْنَاهُ هُوَ ظُهُوْرِ الشَّيْءِ بَعْدَ خَفَائِهِ، وَلَكِنْ لَيْسَ المُرَادُ بِهِ هُنَا ظَهُوْرُ الشَّيْءِ للهِ جَلَّ شَأْنُهُ وَأَيُّ ذِيْ حَرِيْجَةٍ وَمَسْكَةٍ يَقُوْلُ بِهَذِهِ الْمُضِلَّةِ، بَلْ المُرَادُ ظُهُوْرُ الشَّيْءِ مِنَ اللهِ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ خَلْقِهِ بَعْدَ إِخْفَائِهِ عَنْهُمْ، وَقُلْنَا بَدَا للهِ أَيْ بَدَا حُكْمُ اللهِ أَوْ شَأْنُ اللهِ.

Bada’, kendati makna asalnya adalah “tampaknya sesuatu setelah kesamarannya,” namun bada’ di sini bukanlah tampaknya sesuatu kepada Allah, Maha Suci Dia. Siapakah kiranya yang mengatakan hal yang menyesatkan ini? Akan tetapi maksud bada’ adalah tampaknya sesuatu dari Allah pada orang yang dikehendaki-Nya setelah disembunyikan dari mereka. Kami mengatakan Bada lillahi artinya adalah tampak hukum Allah atau pekerjaan Allah.[3]

Dari pemaparan tokoh-tokoh Syiah dalam menafsirkan bada’ di atas, muncul beberapa keganjilan dan pertanyaan di benak kita: adakah arti bada’ yang dikehendaki dalam ajaran Syiah sejatinya memang demikian? Apakah suara sebagian tokoh-tokoh Syiah itu sudah mewakili suara bulat Syiah dan tidak bertentangan antara satu pernyataan dengan pernyataan yang lain? Ataukah tafsir dan takwil itu hanya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi keyakinan yang sesungguhnya (taqiyyah)?

Untuk mengetahui jawaban dari semua keganjilan itu, maka kita mesti menelaah secara seksama akan hadis bada’ yang ditafsirkan oleh para tokoh Syiah itu, yakni hadis yang telah kemukakan di atas, yang diriwayatkan oleh al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi dan diafiliasikan kepada Imam Ali at-Taqi AS sebagai berikut:

نَعَمْ يَا اَبَا هَاشِمْ بَدَا للهِ فِيْ أَبِيْ مُحَمَّدْ بَعْدَ أَبِيْ جَعْفَرَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَالَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ لَهُ…

“Benar wahai Abu Hasyim, tampak kepada Allah dalam diri Abu Muhammad setelah kematian Abu Ja’far AS. sesuatu yang belum diketahui-Nya.[4]

Dari hadis ini, kita mengajukan pertanyaan, bisakah kata Bada lillahi dan ma lam yakun ya’rif lahu (tampak pada Allah SWT apa yang belum diketahui-Nya) diartikan Bada min Allahi (tampak dari Allah)? Masihkah kata Bada lillahi dan ma lam yakun ya’rif lahu membutuhkan takwil untuk memahami arti yang sesungguhnya? Lihat pula ‘perkataan’ Nabi Luth AS dalam riwayat dari Imam Baqir AS berikut:

قَالَ: تَأْخُذُوْنَهُمْ السَّاعَةَ، فَإِنِّيْ اَخَافُ أَنْ يَبْدُوَ لِرَبِّيْ فِيْهِمْ…

Artinya: “Siksalah mereka saat ini juga! Karena aku takut muncul pada diri Tuhan pemikiran lain (yang belum ada sebelumnya) pada mereka…

Jika memang bada’ dalam Syiah ini memiliki arti sebagaimana yang disampaikan ath-Thusi, maka sudah pasti bada’ tidak akan menjadi jalan keluar dari masalah yang mereka hadapi. Bukankah para Imam mengetahui hal-hal yang ghaib? Tidakkah mereka telah mendapatkan informasi langsung dari Allah SWT. mengenai peristiwa yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi? Bagaimana mungkin Imam Ja’far AS. atau Imam Ali at-Taqi AS. yang maksum bisa menentukan putra tertuanya sebagai pengganti, kalu beliau-beliau sudah tahu bahwa tak lama kemudian putra pertamanya ini akan meninggal? Tidakkah ini menunjukan bahwa sebenarnya kedua Imam ini tidak tahu pasti siapa yang akan menjadi penggantinya? Di sini tampak jelas bahwa doktrin bada’ bertentangan dengan akidah Syiah yang disebut ‘Ishmah al-Imam’ (kemaksuman Imam), sebab jika para Imam telah maksum, maka seharusnya bada’ tak lagi diperlukan.

Takwil yang dilakukan ath-Thusi terhadap kata-kata bada lillahi (yang berarti menisbatkan bada’ kepada Allah) dengan mengartikannya sebagai bada min Allahi (yang berarti menisbatkan bada’ kepada manusia) adalah pentakwilan yang sangat jauh dan bahkan bertentangan. Di sini dapat kita lihat bahwa rupanya ath-Thusi terjebak dalam lingkaran kebingungan. Kebingungan itu pada gilirannya mendorong dia untuk mengingkari keberadaan bada’ dalam sekte Syiah Imamiyah alias Itsna Asyariyah. Hal ini ia ungkapkan dalam bukunya yang lain, Talkhis al-Mufashshal. Dia menyatakan:

إِنَّهُمْ لَا يَقُوْلُوْنَ بِالْبَدَاءِ، وَإِنَّمَا الْقَوْلُ بِالْبَدَاءِ مَا كَانَ إِلَّا فِيْ رِوَايَةٍ رَوَوْهَا عَنْ جَعْفَر الصَّادِقْ أَنَّهُ جَعَلَ إِسْمَاعِيْلَ الْقَائِمَ مَقَامَهُ، فَظَهَرَ مِنْ إِسْمَاعِيْل مَالَمْ يَرْتَضِهِ مِنْهُ، فَجَعَلَ الْقَائِمَ مُوْسَى فَسُئِلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: بَدَا للهِ فِيْ أَمْرِ إِسْمَاعِيْلَ، وَهَذِهِ رِوَايَةٌ، وَعِنْدَهُمْ أَنَّ خَبَرَ الْوَاحِدِ لَا يُوْجِبُ عِلْمًا وَلَا عَمَلاً.

Sesungguhnya mereka (Syiah Imamiyah alias Itsna Asyariyah) tidak mempunyai bada’. Bada’ hanya ada dalam riwayat yang diambil dari Ja’far ash-Shadiq, karena dia terlanjur menjadikan Isma’il sebagai penggantinya. Kemudian tampak pada diri Isma’il sesuatu yang tidak disukainya, akhirnya dia menjadikan Musa sebagai penggantinya. Ketika dia ditanya tentang hal ini, dia menjawab “Tampak pada Allah dalam diri Isma’il” Begitulah riwayat (yang ada). Menurut mereka (Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah) bahwa Khabar Wahid tidak perlu diketahui dan tak wajib diamalkan.[5]

Apa yang disampaikan ath-Thusi ini jelas bertentangan dengan kenyataan sejarah awal lahirnya doktrin bada’. Dalam al-Kafi terekam jelas bahwa kisah Imam Ja’far Shadiq dan dua putranya serta terpecah belahnya Syiah Imamiyah menjadi beberapa golongan, merupakan akibat dari peristiwa kekeliuran ramalan Imam Ja’far tersebut. Jadi, dari kebingungan ath-Thusi dalam melakukan takwil, lalu tanpa sadar akhirnya ia terpeleset pada pengingkaran doktrin bada’, menunjukan bahwa tampaknya doktrin tersebut merupakan momok Syiah yang sulit ditutup-tutupi.

Selanjutnya, pengingkaran ath-Thusi terhadap doktrin bada’ ini membuat pemuka Syiah yang lain geram. Al-Majlisi, salah satu ulama Syiah terkemuka, mengatakan bahwa ath-Thusi “kurang mengerti tentang ilmu hadis!” Padahal sebelumnya al-Majlisi menyebut ath-Thusi sebagai al-Muhaqqiq (ulama yang ‘mumpuni’ di bidangnya). Karena rumitnya permasalahan bada’ ini pula, Sulaiman bin Jarir (pemuka Syiah Sulaimaniyah-Zaidiyah) keluar dari Madzhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah. Dia berkata:

إِنَّ أَئِمَّةَ الرَّافِضَةِ وَضَعُوْا لِشِيْعَتِهِمْ مَقَالَتَيْنِ، لَا يُظْهِرُوْنَ مَعَهُمَا مِنْ أَئِمَّتِهِمْ عَلَى كَذَبٍ أَبَداً وَهُمَا الْقَوْلُ بِالْبَدَاءِ وَإِجَازَةِ التَّقِيَّةِ.

Sesugguhnya para Imam Rafidhah (Syiah Imamiyyah) membuat dua konsep untuk pengikut-pengikutnya, yang dengan keduanya mereka bisa melepaskan para Imam dari kedustaan selamanya, kedua konsep itu adalah bada’ dan kebolehan taqiyyah.[6]

Sulaiman bin Jarir juga mengungkapkan pengalamannya saat ia masih aktif dalam madzhab Syiah Imamiyah alias Itsna Asyariyah, sekaligus menyingkap kebatilan para tokoh Syiah di balik doktrin bada’ yang mereka agung-agungkan. Dia mengatakan:

إِنَّ أَئِمَّتَهُمْ لَمَّا أَحَلُّوْا أَنْفُسَهُمْ مِنْ شِيْعَتِهِمْ مَحَلَّ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ رَعِيَّتِهَا فِيْ الْعِلْمِ فِيْمَا كَانَ وَيَكُوْنُ وَالْأَخْبَارِ لِمَا يَكُوْنُ فَيْ غَدٍ، وَقَالُوْا لِشِيْعَتِهِمْ إِنَّهُ سَيَكُوْنُ غَدًا وَفِيْ غَابِرِ الْأَيَّامِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ جَاءَ ذَلِكَ الشَّيْءُ عَلَى مَا قَالُوْهُ، قَالُوْا لَهُمْ: أَلَمْ نُعْلِمْكُمْ أَنَّ هَذَا يَكُوْنُ فَنَحْنُ نَعْلَمُ مِنْ قِبَلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا عَلِمَتْهُ الْأَنْبِيَاءُ، وَبَيْنَنَا وَبَيْنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِثْلَ تِلْكَ الْأَسْبَابِ الَّتِيْ عَلَمَتْ بِهَا الْأَنْبِيَاءُ عَنِ اللهَ مَا عَلِمَتْ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الشَّيْءُ الَّذِيْ قَالُوْا إَنَّهُ يَكُوْنُ عَلَى مَا قَالُوْهُ، قَالُوْا لِشِيْعَتِهِمْ: بَدَا للهِ فِيْ ذَلِكَ فَلَمْ يُكَوِّنْهُ.

Sesugguhnya para Imam Rafidhah (Syiah Imamiyyah) ketika menjadikan dirinya seperti para nabi di hadapan para pengikut-pengikutnya, dengan mengaku mengetahui hal-hal yang telah lalu dan yang akan datang, serta mengetahui kabar hari esok, mereka berkata kepada para pengikutnya: akan terjadi suatu kejadian pada hari esok atau hari ini kejadian seperti ini dan seperti ini. Bila itu benar-benar terjadi seperti yang mereka katakan, mereka akan berkata: bukankah aku telah memberitahu kalian bahwa itu akan terjadi. Kami mengetahui dari Allah apa-apa yang diketahui oleh para Nabi. Antara kami dan Allah ada semacam sebab yang dengannya para Nabi mengetahui sesuatu. Tapi bila apa yang mereka kabarkan tidak menjadi kenyataan, mereka akan berkata pada para pengikutnya: tampak pada Allah dalam hal itu (sesuatu yang sebelumnya belum jelas) hingga dia meninggalkannya.[7]

Ibnu Babawaih al-Qummi dalam kitabnya at-Tauhid malah mengutip perkataan Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) AS. sebagai berikut:

عَنْ مَنْصُوْر بن حَازِمْ قَالَ: سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ عليه السّلام: هَلْ يَكُوْنُ الْيَوْمَ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ فِيْ عِلْمِ اللهِ تَعَالَى بِالْأَمْسِ؟ قَالَ: لَا، مَنْ قَالَ هَذَا فَأَخْزَاهُ اللهُ، قُلْتُ: أَرَأَيْتَ مَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَلَيْسَ فِيْ عِلْمِ اللهَ؟ قَالَ: بَلىَ، قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ.

Dari Manshur bin Hazim, dia berkata: “Aku bertanya pada Abu Abdillah AS, apakah ada pada hari ini sesuatu yang belum diketahui oleh Allah kemarin? Beliau menjawab: “Tidak ada, siapa pun yang mengatakan ini, mudah-mudahan Allah SWT. menghinakannya. Aku bertanya lagi “Bagaimana pendapatmu, bukankah semua yang terjadi dan yang akan terjadi sudah diketahui oleh Allah SWT?. Beliau menjawab: “Benar, (bahkan) sebelum menjadikan makhluq.[8]

Dalam riwayat ini jelas Imam Ja’far ash-Shadiq menolak bada’. Beliau menyatakan dengan tegas bahwa Allah SWT. tidak mungkin belum mengetahui segala hal yang akan diperbuat-Nya. Namun, apakah tidak mungkin riwayat semacam ini hanya dibuat-buat untuk menutup-nutupi akidah Syiah yang sebenarnya, sebagaimana yang sering mereka lakukan dengan alasan taqiyyah? Walhasil, riwayat ini bertentangan dengan riwayat al-Kulaini sendiri, padahal dia juga meriwayatkan hadis di atas dalam al-Kafi-nya. Lalu riwayat manakah yang benar?[9] Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga.



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Lihat, At-Tauhid, hlm. 335.

[2] Al-Ghaibah, hlm. 55.

[3] Ad-Dinu wa Islam, hlm. 173.

[4] Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 327.

[5] Lihat, Talkhis al-Mufasshal, hlm. 250.

[6] Lihat, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1139-1140, al-Qummi, Al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 78, dan an-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 64.

[7] Lihat, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1140, al-Qummi, Al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 78, dan an-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 64-65.

[8] Lihat, at-Tauhid, hlm. 334, dan Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 148.

[9] Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1150.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Bada' Syiah (Bag. 3)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Pada dua edisi sebelumnya telah disebutkan konsep bada’ dalam keyakinan Syiah—yang identik dengan keyakinan Yahudi—diartikan sebagai penyesalan Tuhan karena telah terlanjur mengerjakan hal-hal yang kurang tepat. Selanjutnya dikupas masa kemunculan konsep bada’—dalam keyakinan Syiah—yang awalnya tidak dikenal di kalangan Islam. Pada edisi ini akan dibedah usaha Syiah dalam mencari dalil pembenaran keyakinan bada’.

Syiah Mencari Pembenaran Bada’

Setelah Syiah terlanjur mematok bada’ sebagai doktrin dan kepercayaan keagamaan yang harus diakui oleh seluruh pengikut mereka, maka untuk menguatkan doktrin ini, para tokoh-tokoh Syiah berusaha mencari-cari dalil dari kitab suci al-Qur’an, untuk menguatkan hujjah (pembenaran) mereka. Mereka menjadikan ayat ke-39 sari surat ar-Ra’d sebagai dalil – yang mereka anggap – paling kuat dan paling mewakili atas kebenaran konsep bada’:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (الرعد ]13[: 39).

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh al-Mahfuzh). (QS. Ar-ra’d [13]: 39).

Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa orang pertama yang menggunakan ayat ini sebagai dalil bada’ adalah seorang pemuka Syiah bernama al-Mukhtar bin Abi Ubaid al-Tsaqafi. Para tokoh Syiah-pun selanjutnya menggunakannya sebagai tameng atas kekeliuran mereka. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ayat ini jelas tidak bisa dijadikan pembenaran bagi akidah bada’, sebab penghapusan atau penetapan apapun yang dikehendaki Allah SWT merupakan pelaksanaan atas semua rencana yang telah ditulis-Nya pada zaman Azali dalam Ummul Kitab. Sengaja Allah SWT melakukan semua itu karena al-Mahwu (menghapus) dan al-Itsbat (menetapkan) merupakan bagian dari skenario drama kehidupan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Jadi, Allah SWT benar-benar tahu tentang apa yang akan terjadi. Bagaimana mungkin Allah SWT tidak tahu terhadap apa yang akan terjadi, sebagaimana dinyatakan Syiah, sedang Dia telah menegaskan dalam Kitab-Nya:

وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا (الطلاق ]65[: 12).

Dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. Ath-Thalaq [65]: 12)

Dia SWT memerintahkan malaikat-malaikat-Nya untuk mengatakan:

وَمَا نُنَزِّلُ إِلَّا بِأَمْرِ رَبِّكَ لَهُ مَا بَيْنَ أَيْدِينَا وَمَا خَلْفَنَا وَمَا بَيْنَ ذَلِكَ وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا (مريم ]19[: 64).

Dan tidaklah Kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa. (QS. Maryam [19]: 64).

Mereka juga menjadikan pergantian Syariat atau yang lazim disebut Nasikh dan Mansukh sebagai bagian dari dalil bada’, seperti Tahwilu al-Qiblah (perpindahan kiblat), iddah perempuan yang ditinggal mati suaminya dan lain-lain.

Upaya untuk memperkuat doktrin ini selanjutnya dilakukan dengan bersusah payah, melalui pendekatan-pendekatan ilmiah yang mereka anggap mungkin, meski harus melakukan pemaksaan-pemaksaan, penalaran, dan analogi yang rumit. Mufassir kenamaan Indonesia, Dr. Quraish Shihab, juga menyinggung hal ini dalam bukunya Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Pada halaman 169-183. Dalam hal ini, beliau mengutip beberapa tulisan ulama Syiah yang menyatakan bahwa bada’ itu memiliki persamaan arti (sinonim) dengan Nasakh yang sering dipakai oleh Ahlussunnah. Dalam kutipan itu juga ditegaskan bahwa tidak ada ulama Syiah yang berpendapat bahwa bada’ itu memiliki arti munculnya sesuatu yang sebelumnya belum jelas bagi Allah SWT.

Di sini, tampak bahwa Dr. Quraish Shihab juga mengerahkan segala kemampuannya, memperjuangkan dengan berbagai cara, bagaimana sekira eksistensi bada’ bisa diakui dan keberadaannya dapat dianggap absah sebagaimana konsep Nasikh-Mansukh yang digunakan Ahlussunnah. Secara halus dan perlahan, Dr. Qurais Shihab hendak masuk pada poin kunci yang beliau tuju, bahwa Ahlussunnah tidak perlu mengkritisi bada’, sebab konsep itu pada dasarnya tidak berbeda dengan Nasakh, atau bisa disamakan dengan penambahan umur yang (dilakukan Allah SWT) disebabkan seseorang gemar bersedekah atau rajin mempererat hubungan famili (ber-silatur-rahim) dan lain-lain.

Dalam kajiannya tentang bada’, Dr. Quraish Shihab tidak masuk pada kajian terhadap dalil-dalil yang dipegang oleh masing-masing dari kedua belah pihak, yakni Syiah sebagai pihak yang pro dan Ahlussunnah sebagai pihak yang kontra. Beliau hanya mengutip komentar-komentar dari para tokoh Syiah tanpa menelaah lebih mendalam terhadap pernyataan-pernyataan itu, di samping Dr. Quraish Shihab hanya menampilkan data yang timpang: memaparkan data dari satu arah dan mengabaikan data dari arah yang berseberangan (yang muncul dari kalangan Syiah sendiri). Karena itulah tak ada koreksi, komparasi atau tarjih dari Dr. Quraish Shihab terkait dengan kenyataan bahwa dalam Syiah juga terjadi silang pendapat yang tak mungkin dikompromikan dalam tema ini.

Jika kita telaah lebih seksama, maka sebetulnya secara substansial, konsep dan arti Nasikh-Mansukh tidak ditemukan dalam bada’. Mansukh merupakan hukum sementara yang dibatasi masa berlakunya oleh Allah SWT, yang apabila waktu tersebut telah habis, maka akan segera diganti dengan hukum lain yang telah dipersiapkan sebelumnya (Nasikh).[1] Sekali lagi ini merupakan bagian dari skenario yang telah dituliskan oleh Allah SWT pada zaman azali, dan telah ada dalam ‘Ilmu-Nya. Naskh akan sangat kontras dengan bada’ manakala ditinjau dari kenyataan bahwa Isma’il bin Ja’far saat itu masih belum menjadi Imam. Andai saja Ismail meninggal setelah ia sempat menjadi Imam, barangkali masih ada peluang untuk menyamakan bada’ denagan Naskh, karena pemberlakuan hukum sementara masih akan kelihatan, namun nyatanya sejarah menyuguhkan cerita yang berbeda kepada kita.

Maka, apa yang disampaikan oleh Dr. Quraish Shihab rupanya perlu ditinjau ulang, karena riwayat bada’ yang termaktub dalam kitab al-Kafi tampaknya tidak bisa dipaksakan agar memakai arti Nasakh:

نَعَمْ يَا اَبَاهَاشِمْ, بَدَا للهِ فِيْ أَبِيْ مُحَمَّدْ بَعْدَ أَبِيْ جَعْفَرَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَالَمْ يَكُنْ يَعْرِفُ لَهُ…

“Benar wahai Abu Hasyim, tampak pada Allah dalam diri Abu Muhammad setelah kematian Abu Ja’far AS sesuatu yang belum diketahui-Nya.[2]

Dapatkah bada’ di sini disamakan dengan Naskh, atau dengan penambahan umur seseorang sebab ia rajin bersedekah dan mempererat tali persaudaraan? Jika Dr. Quraish Shihab bersikukuh memegang pendapat ulama-ulama Syiah yang datang setelah al-Kulaini yang menyamakan bada’ dengan Naskh, maka itu adalah hak pribadi beliau. Lalu manakah yang benar? Al-Kulaini yang disebut sebagai ‘Bukhari-nya’ Syiah yang meriwayatkan badaa lillaahi maa lam yakun ya’rif (tampak pada Allah sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui-Nya), atau para ulama Syiah belakangan yang jelas-jelas berseberangan dengannya?

Apa pun namanya, toh Syiah mengaplikasikan bada’ dalam rangka untuk menutupi kesalahan ramalan para Imam yang maksum. Dengan mudah mereka akan mengatakan “bada’” setiap kali menjumpai apa yang disampaikan Imamnya ternyata tidak menjadi kenyataan.

Hal lain yang perlu dicatat di sini adalah, bahwa Nasikh-Mansukh telah berlalu dengan meninggalnya Rasulullah SAW.[3]

Berbeda dengan Syiah yang terus memberlakukannya sesuai kebutuhan dan kepentingan mereka, kapan dan di mana pun.



Riwayat-riwayat yang dinisbatkan kepada Ahlul Bait

Untuk lebih meyakinkan ucapan para tokoh Syiah dalam menyelipkan beberapa riwayat yang diafiliasikan kepada Ahlul Bait, berikut kami kutip beberapa hadits Syiah berkenaan dengan bada’, yang antara lain ditulis oleh al-Kulaini dalam al-Kafi-nya:

عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ الْجَعْفَرِيِّ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ أَبِي الْحَسَنِ عليه السلام بَعْدَ مَا مَضَى ابْنُهُ أَبُو جَعْفَرٍ وَ إِنِّي لَأُفَكِّرُ فِي نَفْسِي أُرِيدُ أَنْ أَقُولَ: كَأَنَّهُمَا أَعْنِي أَبَا جَعْفَرٍ وَ أَبَا مُحَمَّدٍ فِي هَذَا الْوَقْتِ كَأَبِي الْحَسَنِ مُوسَى وَ إِسْمَاعِيلَ ابْنَيْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عليه السلام وَ إِنَّ قِصَّتَهُمَا كَقِصَّتِهِمَا, إِذْ كَانَ أَبُو مُحَمَّدٍ الْمُرْجَى بَعْدَ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام فَأَقْبَلَ عَلَيَّ أَبُو الْحَسَنِ قَبْلَ أَنْ أَنْطِقَ فَقَالَ: نَعَمْ يَا أَبَا هَاشِمٍ بَدَا لِلَّهِ فِي أَبِي مُحَمَّدٍ بَعْدَ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام مَا لَمْ يَكُنْ يُعْرَفُ لَهُ ,كَمَا بَدَا لَهُ فِي مُوسَى بَعْدَ مُضِيِّ إِسْمَاعِيلَ مَا كُشِفَ بِهِ عَنْ حَالِهِ وَ هُوَ كَمَا حَدَّثَتْكَ نَفْسُكَ وَ إِنْ كَرِهَ الْمُبْطِلُونَ, وَ أَبُو مُحَمَّدٍ ابْنِي الْخَلَفُ مِنْ بَعْدِي عِنْدَهُ عِلْمُ مَا يُحْتَاجُ إِلَيْهِ وَ مَعَهُ آلَةُ الْإِمَامَةِ.

Ali bin Muhammad dari Ishaq bin Muhammad dari Abi Hasyim al-Ja’fari, dia berkata: “Aku ada di samping Abu al-Hasan AS setelah kematian putranya, Abu Ja’far. Sebenarnya aku berfikir ingin berkata (pada Abu al-Hasan) “Sesungguhnya nasib Abu Ja’far dan Abu Muhammad (dua putra Abu al-Hasan) sama seperti kisah Musa dan Isma’il, dua putra Ja’far bin Muhammad AS, karena ternyata Abu Muhammad menjadi pengganti Abu Ja’far AS. Lalu Abu al-Hasan berpaling padaku sebelum aku sempat berkata-kata: “Benar wahai Abu Hasyim, tampak pada Allah dalam diri Abu Muhammad setelah kematian Abu Ja’far AS sesuatu yang belum diketahui-Nya, sebagaimana tampak pada Allah dalam diri Musa setelah kemaitan Isma’il sesuatu yang tersingkap tentang diri Musa, seperti yang diucapkan hatimu, walaupun orang-orang yang ingkar tidak menyukainya. Abu Muhammad, Anakku, adalah pengganti setelahku. Pada dirinya terdapat ilmu-ilmu yang ia butuhkan, dan bersamanya pra-syarat imamah.[4]

مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى عَنِ الْحَجَّالِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ثَعْلَبَةَ عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَعْيُن عَنْ أَحَدِهِمَا عليهما السلام قَالَ: مَا عُبِدَ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِثْلِ الْبَدَاءِ.

Artinya: Tidak ada penyembahan kepada Allah yang lebih baik dari pada bada’.[5]

وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ أَبِي عُمَيْرٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الله عَلَيْهِ السَّلام: مَا عُظِّمَ اللهُ مِثْلَ الْبَدَاءِ.

Artinya: Tidak ada pengagungan kepada Allah seperti halnya bada’.[6]

Lebih jauh, mereka membuat riwayat bahwa Allah SWT telah meminta anak Adam untuk menerima bada’ sejak dalam kandungan ibunya. Disebutkan dalam al-Kafi fi al-Furu’ (juz 6 hlm. 13-14): setelah dua malaikat yang bertugas menulis qadha’ dan qadar Allah SWT meniupkan ruh kehidupan pada janin, Allah SWT berfirman:

اُكْتُبَا عَلَيْهِ قَضَائِي وَ قَدَرِي وَ نَافِذَ أَمْرِي, وَاشْتَرِطَا لِيَ الْبَدَاءَ فِيمَا تَكْتُبَانِ, فَيُمْلِي أَحَدُهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ فَيَكْتُبَانِ جَمِيعَ مَا فِي اللَّوْحِ وَ يَشْتَرِطَانِ الْبَدَاءَ فِيمَا يَكْتُبَانِ.

Tulislah padanya qadha’ dan qadar-Ku, serta laksanakan perintah-Ku! Buatlah perjanjian untuk-Ku agar menerima bada’ atas apa yang kalian tulis, maka salah satunya mendiktekan apa-apa yang ada pada Lauh dan ditulis oleh yang lain, serta membuat perjanjian untuk menerima bada’.[7]

Bahkan dengan berani mereka membuat riwayat yang menceritakan bahwa Nabi Luth AS meminta kepada malaikat yang mendatanginya untuk segera menyiksa kaumnya yang durhaka, karena takut Allah SWT berubah pikiran dan mengubah rencana-Nya. Runyamnya, riwayat ini mereka sandarkan kepada Imam al-Baqir:

قَالَ لَهُمْ لُوطٌ: يَا رُسُلَ رَبِّي فَمَا أَمَرَكُمْ رَبِّي فِيهِمْ؟ قَالُوا: أُمْرِنَا أَنْ نَأْخُذَهُمْ بِالسَّحَرِ, قَالَ: فَلِي إِلَيْكُمْ حَاجَةٌ, قَالُوا وَ مَا حَاجَتُكَ؟ قَالَ: تَأْخُذُونَهُمُ السَّاعَةَ, فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَبْدُوَ لِرَبِّي فِيهِمْ. فَقَالُوا: يَا لُوطُ, إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَ لَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ.

Nabi Luth berkata kepada para malaikat: “Wahai para utusan Tuhan, apa yang Tuhan  perintahkan kepada kalian mengenai umatku? Para utusan menjawab: “Kami diperintahkan untuk meyiksa mereka pada waktu tengah malam.” Nabi Luth berkata: “Aku punya keperluan pada kalian.” Para utusan berkata: “Apa keperluanmu?” Nabi Luth berkata: “Siksalah mereka saat ini juga! Karena aku takut muncul pada diri Tuhan pemikiran lain (yang belum ada sebelumnya) pada mereka.” Para utusan menjawab: “Wahai Luth! Siksa akan ditimpakan pada waktu subuh, bukankah subuh sudah hampir menjelang?”[8]



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Lihat, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1143-1147

[2] Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 327.

[3] Lihat, At-Tasyayyu’, hlm. 233.

[4] Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 327.

[5] Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 146.

[6] Ibid

[7] Ar-Raddu al-Kafi, hlm. 206.

[8] Al-Kafi fi al-Furu’, juz 5 hlm. 546.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Bada' Syiah (Bag. 2)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Pada edisi sebelumnya telah disebutkan konsep bada’ dalam keyakinan Syiah—yang identik dengan keyakinan Yahudi—diartikan sebagai penyesalan Tuhan karena telah terlanjur mengerjakan hal-hal yang kurang tepat. Pada edisi ini akan dikupas masa kemunculan konsep bada’—dalam keyakinan Syiah—yang awalnya tidak dikenal di kalangan Islam.

Munculnya Bada’

Doktrin bada’ sama sekali tidak dikenal dalam Islam periode awal, dan setelah dikaji ulang juga tidak ditemukan sumbernya, baik dalam al-Qur’an maupun hadits. Ternyata, doktrin serupa (bada’) sebelumnya memang berkembang dalam ajaran keagamaan Yahudi. Maka, penalaran yang paling mendekati kebenaran mengenai awal mula munculnya doktrin ini adalah, bahwa bada’ memang bersumber dari doktrin Yahudi.

Kesimpulan ini semakin rasional jika kita kembali pada kenyataan bahwa pionir dari sekte Syiah memang seorang Yahudi tulen, yakni Abdullan bin Saba’. Dalam beberapa reverensi ditemukan penjelasan bahwa dalam upaya mensosialisasikan ajaran Yahudi—untuk dikonversikan menjadi Syiah, Abdullah bin Saba’ berusaha memperkenalkan bada’ pada kalangan pengikutnya, di samping terus mengajak kaum Muslimin untuk membela hak Imam Ali RA, yang menurutnya telah dirampas oleh khalifah-khalifah sebelumnya.

Dalam hal ini, Abdullah bin Saba’ meyakinkan para pengikutnya bahwa Allah SWT. juga bisa memiliki ide-ide baru, menyesal atau berbuat salah, karena itulah golongan Syiah Sabaiyah (pengikut Ibnu Saba’) mempercayai bahwa Allah SWT. bisa memiliki sifat bada’. Selanjutnya, istilah bada’ semakin populer setelah dijadikan akidah resmi oleh golongan Kaisaniyah, atau golongan yang juga dikenal dengan sebutan Mukhtariyah (pengikut al-Mukhtar bin Abi Ubaid ats-Tsaqafi). Disebutkan bahwa yang menyebabkan mereka memasukan bada’ sebagai salah satu akidah pokok adalah kesalahan ramalan al-Mukhtar bin Abi Ubaid ketika mengabarkan kepada pasukannya bahwa Allah SWT. telah berjanji akan memberikan kemenangan kepada mereka dalam menghadapi pasukan Mush’ab bin Zubair. Pasukan yang dipimpin panglima Ahmad bin Symith itu dipukul mundur oleh Mush’ab. Mereka mendatangi al-Mukhtar dan menagih janji Tuhan itu: “Mana kemenangan yang dijanjikan Tuhan?!” Al-Mukhtar pun menjawab:

هَكَذَا وَعَدَنِيْ رَبِّيْ، ثُمَّ بَدَا فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى قَدْ قَالَ: “يَمْحَقُ اللهُ مَا يَشاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ اُمُّ الْكِتَابِ.

“Demikianlah janji Allah kepadaku, namun Dia mempunyai pemikiran lain, sesungguhnya dia benar-benar telah berfirman: “Allah menghapus dan menetapkan apa yang dikehendakinya, sedangkan disisinya Ummu al-Kitab.”

Al-Mukhtar berkilah sedemikian sebab sebelumnya ia telah menyampaikan kepada seluruh pengikutnya bahwa dirinya bisa mengetahui hal-hal yang ghaib. Namun, ketika ‘pengetahuan terhadap hal-hal ghaib’ itu sedang tidak berfungsi, maka ia mencari celah, bagaimana sekira kepercayaan para pengikutnya tidak pudar, dan akhirnya ia menunjuk ayat di atas sebagai justifikasi bagi pilihannya tersebut.[1]

Sementara Syiah Itsna Asyariyah percaya bahwa imamah akan selalu diwasiatkan kepada putra tertua dari Imam sebelumnya, kecuali Imam Husain AS, karena memang ada Nash langsung dari Rasulullah SAW. seperti yang diriwayatkan dalam kitab mereka:

الحَسَنُ وَ الْحُسَيْنُ إِمَامَانِ قَامَ أَوْ قَعَدَا.

“Hasan dan Husain merupakan dua Imam ketika duduk ataupun ketika berdiri.”[2]

Komitmen Syiah Itsna Asyariyah ini terus berlangsung hingga periode Imam Ja’far Shadiq (Imam keenam Syiah). Beliau—menurut kepercayaan Syiah—juga berwasiat bahwa yang akan menggantinya kelak adalah putra tertuanya, Isma’il bin Ja’far. Namun ternyata Isma’il meninggal saat ayahnya masih hidup. Akhirnya, imamah diwasiatkan kepada adiknya, yaitu Musa bin Ja’far.[3] Tentunya, keputusan ini dengan sendirinya mendekonstruksi kepercayaan awal, bahwa wasiat hanya bisa diberikan kepada putra tertua. Di sini mereka mencari solusi agar bisa keluar dari masalah yang tengah dihadapi. Akhirnya mereka membuat hadits bada’ yang dinisbatkan kepada Ja’far al-Shadiq AS sebagai berikut:

مَا بَدَا لِلّهِ بَدَاءٌ كَمَا بَدَا لَهُ فِيْ إسماعيل اِبْنِيْ.. إِذِ اخْتَرَمَهُ قَبْلِيْ لِيُعْلِمَ بِذَلِكَ أَنَّهُ لَيْسَ بِإِمَامٍ بَعْدِيْ.

“Tidak ada perubahan rencana Allah yang lebih besar daripada pengubahan rencananya dari Isma’il anakku… sebab Dia telah mengambilnya lebih dahulu sebelum aku, itu semua agar Dia memberitahu bahwa Isma’il tidak akan menjadi Imam sepeninggalku.[4]

Syiah Itsna Asyariyah sangat resah, sebab kasus ‘salah tunjuk’ yang terjadi pada Imam Ja’far Ash-Shadiq ini benar-benar membuat mereka kehilangan muka. Mereka terlanjur membikin satu kepercayaan yang menyatakan bahwa para Imam adalah orang-orang yang ma’shum serta mengetahui hal-hal yang ghaib, sebagaimana tertulis dalam kitab-kitab hadits mereka:

يَعْلَمُوْنَ مَاكَانَ وَمَا يَكُوْنُ وَلَا يَخْفَى عَلَيْهِمُ الشَّيْئُ.

“Para Imam itu mengetahui segala apa yang telah terjadi di masa lampau dan yang akan terjadi di kemudian hari. Tidak sesuatu pun yang samar dari mereka.”[5]

Akan tetapi kemudian Imam Ja’far yang ‘maksum’ masih bisa salah dalam hal ini. Maka di sini, bada’ menjadi satu-satunya solusi terbaik. Dengan mengatakan bahwa Allah SWT. mempunyai pertimbangan lain yang sebelumnya tidak terpikirkan, Syiah telah mengelabuhi para pengikutnya yang awam. Kasus ini juga bisa dijadikan sebagai titik awal munculnya bada’ dalam doktrin Syiah Itsna Asyariyah, sebagaimana telah terjadi pada Syiah Mukhtariyah. Dengan demikian, berarti bada’ pada kelompok ini baru muncul pada abad ke-3 hijriyah.

Karena memang tidak maksum, maka ramalan-ramalan para ‘Imam Syiah’ seringkali luput dari sasaran dan tidak menjadi kenyataan, seperti ramalan Ja’far ash-Shadiq. Dalam salah satu riwayat Syiah, dinyatakan bahwa orang-orang Syiah akan berjaya 70 tahun kemudian, namun ternyata setelah 70 tahun berlalu, janji itu tidak kunjung menjadi kenyataan. Akhirnya umat Syiah menanyakan hal ini kepada tokoh-tokoh terkemuka mereka, dan pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya ditanggapi dengan enteng dan cukup menjawab dengan bada’.[6]

Dalam Tafsir al-Qummi disebutkan riwayat yang mengemukakan satu trik yang hendaknya digunakan sebagai salah satu cara dalam upaya antisipatif jika suatu ketika terdapat desakan akibat pernyataan Imam yang kontradiktif:

إِذَا حَدَّثْنَاكُمْ بِشَيْءٍ فَكَانَ كَمَا نَقُوْلُ فَقُوْلُوْا: صَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ، وَإِنْ كَانَ بِخِلَافِ ذَلِكَ فَقُوْلُوْا: صَدَقَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ تُؤْجَرُوْا مَرَّتَيْنِ…

“Bila kami mengabarkan kepada kalian tentang sesuatu dan benar-benar terjadi, maka katakanlah “Maha Benar Allah dan Rasul-Nya.” Namun bila tidak terjadi, maka katakanlah, “Maha Benar Allah dan Rasul-Nya,” kalian akan mendapatkan pahala dua kali.”[7]

Begitulah, totalitas Syiah terhadap doktrin bada’ memang benar-benar melekat, hingga doktrin ini teraplikasi dalam ritual keseharian mereka. Sebagai contoh, jika warga Iran akan memasuki makam Imam Ali at-Taqi, (Imam yang kesepuluh) dan Imam Hasan al-Askari (Imam yang kesebelas), mereka selalu mengucapkan salam sebagai berikut:

السَّلَامُ عَلَيْكُمَا يَامَنْ بَدَا للهِ فِيْ شَأنِكُمَا.

“Semoga keselamatan atas kalian berdua, wahai Imam yang Allah mengubah rencana-Nya dalam diri kalian.”

Jika ditelusuri lebih jauh, fungsi bada’ dalam keberagaman Syiah, seperti halnya taqiyyah, rupanya memang sangat krusial dalam rangka menjaga kedok dan doktrin-doktrin mereka yang lain, seperti imamah, ‘Ishmah al-Imam (kemaksuman imam), dan yang lain. Sebab ternyata, apa yang menimpa Imam Ja’far ash-Shadiq juga menimpa Imam Ali bin Muhammad (Ali at-Taqi). Putra tertua beliau (Imam Ali bin Muhammad), yakni Muhammad Abu Ja’far, juga meninggal saat Imam Ali at-Taqi masih hidup. Imamah-pun diwasiatkan kepada adiknya, yaitu Al-Hasan Abu Muhammad al-Askari. Yang aneh, justru perpindahan imamah dari Muhammad Abu Ja’far kepada Al-Hasan lebih populer di kalangan masyarakat Syiah daripada perpindahan ke-imamah-an Isma’il kepada Musa bin Ja’far. Padahal kedua putra Imam Ja’far Shadiq-lah sebenarnya yang menjadi cikal bakal lahirnya doktrin bada’ sebagai akidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Rujuk kembali dalam Al-Tabshir fi-ad-Din, hlm. 120, al-Farqu baina al-Firaq, hlm. 50-52, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1136-1137.

[2] Lihat, al-Tasyayyu’ wa al-Tashih, hlm. 184

[3] Permasalahan ini, seperti telah kami kemukakan pada edisi awal kajian ini, merupakan awal mula perpecahan dalam Syiah Itsna Asyariyah; sebagian tetap meyakini bahwa yang berhak menggantikan Isma’il adalah putra tertuanya, sebab imamah tidak boleh berpindah kepada saudaranya yang lain, selain Imam Husain AS, golongan ini disebut Isma’iliah, golongan yang lain tetap meyakini ke-imamah-an Musa bin Ja’far.

[4] Ibnu Babawaih, al-Tauhid, hlm. 336.

[5] Ushul al-Kafi, juz 1 hlm. 260

[6] Keterangan lebih rinci bisa di rujuk dalam Tafsir al-‘Ayasyi, juz 2 hlm. 218, al-Gha’ibah li ath-Thusi, hlm. 263, Bihar al-Anwar, juz 4 hlm. 214, dan Ushul Madzhab asy-Syi’ah juz 2 hlm. 1138.

[7] Lihat, Tafsir al-Qummi, juz 1 hlm. 310.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Bada' Syiah (Bag. 1)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Konsep Bada’ Versi Syiah

Syiahindonesia.com -
Bada’ bisa diartikan sebagai “timbulnya pemikiran baru, misalnya, kita telah mengambil satu keputusan, dengan berbagai pertimbangan yang matang. Buah pertimbangan ini selanjutnya dipublikasikan, agar menghasilkan karya yang nyata. Namun tidak lama berselang, terlintas dibenak kita bahwa keputusan yang telah diambil ternyata kurang tepat, sehingga mengharuskan untuk menghapus keputusan tadi dan menggantinya dengan hasil ide yang baru.” Hal semacam ini lumrah terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebab kesalahan dalam mengambil sikap adalah hal yang manusiawi. Tapi bagaimana kalau bada’ dengan arti ini diafiliasikan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu, akan segala apa yang ada di alam ini, sebagaimana firman-Nya:

وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

“Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar dzarrah (atom) di bumi ataupun di langit.” (QS. Yunus [10]: 61)

لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (سبا ]34[: 3)

“Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Saba’ [34]: 3)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Al-An’am [6]: 59)

Bada’ adalah salah satu akidah Syiah yang memiliki tempat tersendiri dalam keyakinan mereka. Betapa akidah ini memiliki urgensitas yang setara dengan akidah-akidah Syiah yang lain, sampai-sampai ada riwayat dalam kitab hadis mereka yang menyatakan sebagai berikut:

مَاعُبِدَ اللهُ بِشَيْءٍ مِثْلَ البَدَاءِ.

“Tidak ada penyembahan kepada Allah yang lebih baik daripada bada’.”[1]

Dalam riwayat lain dari Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As juga disebutkan:

مَاعُظِّمَ اللهُ مِثْلَ الْبَدَاءِ.

“Tidak ada pengagungan kepada Allah seperti bada’.”[2]

Dalam konteks pembahasan ini, al-Kulaini membuat satu bab khusus yang menampilkan hadis-hadis tentang bada’. Dia memasukan bab ini di bawah judul yang menjelaskan Tauhid (Kitab at-Tauhid). Dia menulis tak kurang dari 16 (enam belas) hadis yang diafiliasikan kepada para Imam, diantaranya adalah sebagai berikut:

عَنْ مُرَازِمِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ الله عَلَيْهِ السَّلامُ يَقُولُ: مَا تَنَبَّأَ نَبِيٌّ قَطُّ حَتَّى يُقِرَّ للهِ بِخَمْسِ خِصَالٍ: بِالْبَدَاءِ وَالْمَشِيئَةِ وَالسُّجُودِ وَالْعُبُودِيَّةِ وَالطَّاعَةِ.

Dari Murazim bin Hakim, dia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As. Mengatakan, ‘Seorang Nabi tidak resmi menjadi Nabi hingga mengakui lima perkara karena Allah, Mengakui bada’, masyi’ah, sujud, ubudiyah, dan taat’.”[3]

Di samping itu ada pula riwayat yang berbunyi demikian:

عَنِ الرَّيَّانِ بْنِ الصَّلْتِ قَالَ: سَمِعْتُ الرِّضَا عَلَيْهِ السَّلامُ يَقُولُ: مَا بُعِثَ نَبِيٌّ قَطُّ إِلا بِتَحْرِيمِ الْخَمْرِ وَأَنْ يُقِرَّ للهِ بِالْبَدَاءِ.

Dari ar-Rayyan bin as-Shalt, dia berkata, “Aku mendengar ar-Ridha As. Mengatakan, ‘Tidak ada satu Nabi-pun yang diangkat menjadi Nabi kecuali mengharamkan Khamr dan mengakui bada’ pada Allah’.”

Arti penting doktrin bada’ bagi penganut Syiah sangat sangat tampak dalam kitab-kitab mereka. Ibnu Babawaih al-Qummi dalam al-I’tiqaadaat, dan at-Tauhiid, begitu juga al-Majlisi dalam Bihaar al-Anwaar. Demikian pula halnya dengan para pemuka Syiah kontemporer, mereka juga mengambil bagian dalam hal ini. Ada sedikitnya 25 (dua puluh lima) buku khusus tulisan tokoh-tokoh Syiah kontemporer yang membahas bada’, sebagaimana disampaikan oleh penulis adz-Dzarii’ah ilaa Tashaanifi asy-Syii’ah (Juz 3, hlm. 56-57).[4] Menurut mereka, akidah ini berlandaskan ayat suci al-Qur’an berikut:

يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh al-Mahfuzh).” (QS. Ar-ra’d [13]: 39).

Jika kita cermati lebih lanjut, maka tidak akan kita temukan sangkut paut antara bada’ dengan ayat ke 39 surat ar-Ra’d di atas. Sebab pada masa turunnya wahyu, kaum Muslimin tidak mengenal istilah ini, bahkan seluruh umat Islam tidak mendengar dan tidak tahu apa yang dikehendaki dengan bada’. Istilah bada’ hanya dikenal di kalangan Syiah. Sebenarnya, kata dasar (mashdar) dari badaa – yabduu – badaa’an, artinya azh-Zhuhuur ba’da al-khafaa’ (faham setelah tidak tahu). Atau bisa diartikan nasya’a fiihi ra’yun (munculnya ide baru). Al-Qur’an juga menggunakan kata-kata ini dalam beberapa ayat berikut:

وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ

“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar [39]: 47)

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا كَسَبُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan (jelaslah) bagi mereka akibat buruk dari apa yang telah mereka perbuat dan mereka diliputi oleh pembalasan yang mereka dahulu selalu memperolok-olokannya.” (QS. Az-Zumar [39]: 48)

وَبَدَا لَهُمْ سَيِّئَاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokannya.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 33)

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali-Imran [3]: 118)

فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا

“Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya.” (QS. Al-A’raf [7]: 22)

Kendati demikian, akan tetapi kata badaa – yabduu yang digunakan al-Qur’an dan diungkapkan oleh para sahabat tidak pernah dipakai sebagai nama untuk menyebut Istilah secara khusus, terlebih untuk arti bagi doktrin yang diyakini oleh Syiah. Dan, yang penting untuk menjadi catatan di sini adalah, bahwa yang menjadi khitaab (mitra dialog) dalam ayat-ayat di atas adalah manusia, bukan Dzat Allah SWT, dan kata badaa – yabduu dalam al-Qur’an tidak ada yang memiliki arti “timbulnya pemikiran baru”.[5]

Memang, dalam ayat ke-35 surat Yusuf, ada kata bada’ yang menggunakan arti timbulnya ide baru:

ثُمَّ بَدَا لَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا رَأَوُا الْآيَاتِ لَيَسْجُنُنَّهُ حَتَّى حِينٍ

“Kemudian timbul pikiran pada mereka setelah melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), bahwa mereka harus memenjarakannya sampai sesuatu waktu.” (QS. Yusuf [12]: 35)

Namun, kendati demikian, kalimat bada’ pada ayat tersebut tetap dinisbatkan kepada manusia, bukan pada Allah SWT. Maka adalah benar, bahwa seluruh ulama Islam tidak ada yang berpendapat bahwa Allah SWT. memiliki sifat bada’. Karena bada’ pada hakikatnya adalah pelecehan pada sifat Uluhiyyah, dan bada’ tidak pantas bagi Allah SWT. Sekali lagi, bada’ tidak pernah dikenal pada periode awal Islam. Tampaknya, hanya Syiah dan Yahudi saja yang berpendapat bahwa Allah SWT. bisa memiliki pandangan-pandangan baru yang tak pernah terbesit sebelumnya. Dalam Taurat disebutkan ayat berikut:

رَآى الرَّبُّ أَنَّ شَرَّ الْإِنْسَانِ قَدْ كَثُرَ فِيْ الْأَرْضِ، وَأَنَّ كُلَّ تَصَوُّرِ أَفْكَارِ قَلْبِهِ إِنَّمَا هُوَ شَرِيْرُ كُلِّ يَوْمٍ، فَحَزِنَ أَنَّهُ عَمِلَ الْإِنْسَانَ فِيْ الْأَرْضِ وَتَأَسَّفَ فِيْ قَلْبِهِ. فَقَالَ الرَّبُّ: أَمْحُوْ عَنْ وَجْهِ الْأَرْضِ الْإِنْسَانَ الَّذِيْ خَلَقْتُهُ، الْإِنْسَانَ مَعَ بَهَائِمَ وَدُبَابَاتٍ وَطُيُوْرِ السَّمَاءِ، لِأَنِّيْ حَزِنْتُ أَنِّيْ عَمِلْتُهُمْ.

“Tuhan melihat bahwa tingkah laku manusia semakin menjijikan di muka bumi, dan semua yang terbayang di hatinya tiap hari hanyalah perbuatan-perbuatan jahat, maka Tuhan-pun susah dan merasa bersedih hati karena telah membuat manusia di muka bumi, Dia pun berfirman, ‘Aku akan membersihkan bumi dari manusia yang telah Ku-ciptakan, manusia bersama hewan, binatang dan burung-burung terbang’.”[6]

Dalam Samuel I (15: 10) disebutkan penjelasan sebagai berikut:

“Tuhan pernah berkata pada Samuel: ‘Aku menyesal setelah aku menjadikan Saul sebagai Raja, karena dia telah berpaling muka dan tidak menjalankan perintah-Ku sama sekali’.”

Banyak ayat-ayat lain dalam perjanjian lama yang menjelaskan penyesalan Tuhan karena terlanjur melakukan suatu hal, yang andaikan Dia tahu akan berakibat tidak baik, pasti Dia akan meninggalkannya. Tampak dari kutipan di atas, bahwa bada’ dalam Yahudi dan Syiah diartikan sebagai penyesalan Tuhan karena telah terlanjur mengerjakan hal-hal yang kurang tepat.

Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan kata bada’ yang dinisbatkan kepada Allah SWT:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ ثَلَاثَةً فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَبْرَصَ وَأَقْرَعَ وَأَعْمَى بَدَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَبْتَلِيَهُمْ فَبَعَثَ إِلَيْهِمْ مَلَكًا…

“Bahwa Abu Hurairah bercerita pada Abdurrahman bin Abi Amrah, dia (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya ada tiga orang Bani Israil, salah satunya ditimpa penyakit belang, sedang satunya lagi sakit hingga rambutnya habis dan yang lain buta. Allah menakdirkan untuk mencoba mereka, maka diutuslah pada mereka malaikat…”[7]

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengomentari kalimat bada’ dalam hadis di atas sebagai berikut:

قَوْله : ( بَدَا لِلَّهِ ) بِتَخْفِيفِ الدَّال الْمُهْمَلَة بِغَيْرِ هَمْز أَيْ سَبَقَ فِي عِلْم اللَّه فَأَرَادَ إِظْهَاره ، وَلَيْسَ الْمُرَاد أَنَّهُ ظَهَرَ لَهُ بَعْد أَنْ كَانَ خَافِيًا لِأَنَّ ذَلِكَ مُحَال فِي حَقّ اللَّه تَعَالَى، وَقَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِم عَنْ شَيْبَانَ بْن فَرُّوخ عَنْ هَمَّام بِهَذَا الْإِسْنَاد بِلَفْظِ “أَرَادَ اللَّه أَنْ يَبْتَلِيهِمْ”، فَلَعَلَّ التَّغْيِير فِيهِ مِنْ الرُّوَاة… وَأَوْلَى مَا يُحْمَل عَلَيْهِ أَنَّ الْمُرَاد قَضَى اللَّه أَنْ يَبْتَلِيهِمْ، وَأَمَّا الْبَدْء الَّذِي يُرَاد بِهِ تَغَيُّر الْأَمْر عَمَّا كَانَ عَلَيْهِ فَلَا.

Maksud perkataan Rasulullah SAW. bada’ lillaahi dengan huruf Dal tanpa titik dan Alif tanpa Hamzah adalah: Telah tertulis dalam pengetahuan Allah dan hendak ditampakkan. Bada’ di sini tidak berarti: “Tampak pada Allah setelah tidak jelas,” karena hal demikian mustahil terjadi pada Allah. Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Syaiban bin Farrukh, dari Hammam dengan sanad ini (sama dengan sanad Imam Bukhari), menggunakan kalimat yang artinya “Allah ingin mencoba mereka.” Barangkali perubahan ini muncul dari para Rawi… Yang lebih tepat, kalimat ini diartikan, “Allah menetapkan untuk mencoba mereka.” Bada’ di sini tidak bisa diartikan “merubah hal-hal yang telah ditetapkan.” [8]



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Al-Kafi, Juz 1, hlm. 146.

[2] Ibid

[3] Ibid, Juz 1, hlm. 148.

[4] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, Juz 2, hlm. 1134.

[5] Ar-Raddu al-Kafi, hlm. 199-200.

[6] Kitab Kejadian (Bab 6: 5-7), edisi Bahasa Arab.

[7] Shahih Bukhari, hadis No. 3205.

[8] Lihat, Fath al-Bar Syarh Shahih al-Bukhari, Juz 6, hlm. 502.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Raj'ah Syiah (Bag. 3)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Landasan Raj’ah

Tidak sebagaimana yang kita duga, ternyata dalil raj’ah yang mereka adopsi dari al-Qur’an cukup banyak, kendati Syiah tidak berhasil menafsirkan satu ayat pun dengan penafsiran yang mengarah pada raj’ah, tanpa melakukan distorsi terhadap nash. Setelah ayat-ayat yang telah diuraikan pada edisi sebelumnya, kini giliran ayat 185 surat Ali Imran yang dijadikan sasaran dalil raj’ah, yakni firman Allah SWT.:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran [03]: 185)

Mengenai ayat ini, al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar dan al-‘Ayasyi dalam tafsir al-‘Ayasyi, memberikan komentar sebagai berikut:

لَمْ يَذُقِ الْمَوْتَ مَنْ قُتِلَ، وَلَابُدَّ أَنْ يَرْجِعَ حَتَّى يَذُوْقَ الْمَوْتَ

Tidak merasakan mati orang yang dibunuh, oleh karenanya dia harus kembali (hidup) hingga merasakan kematian.[1]

Dari penakwilan al-‘Ayasyi dan al-Majlisi ini, kiranya tak ada sanggahan yang perlu untuk dimunculkan, karena secara gamblang, kekeliruannya dapat dimasukan dalam kategori dharuri (pengetahuan aksioma). Barangkali karena itulah, Mamduh Farhan al-Buhairi dalam karyanya Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim serta Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari dalam Ushul Madzhab Asy-Syi’ah menanggapi dengan mengatakan bahwa “pentakwilan semacam itu adalah penakwilan awam yang tidak mengerti bahasa Arab yang digunakan al-Qur’an. Ia membeda-bedakan maut (kematian) dengan qatl (pembunuhan), dia mengatakan bahwa qatl tidak termasuk maut. Sesungguhnya Imam Ali dan putra-putra beliau sudah cukup sengsara dengan pedihnya pembunuhan. Masihkah mereka akan dihidupkan kembali ke dunia hanya sekadar untuk merasakan sakitnya kematian? Begitukah bentuk dan ekspresi mereka kepada Ahlul Bait?.[2]

Sebagai dalil tambahan untuk akidah ini, Syiah juga menafsiri kata al-Ma’ad yang terdapat dalam surat al-Qashash ayat 85 dengan raj’ah:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (QS. Al-Qashash [28]: 85).

Di antara orang yang menafsiri al-Ma’ad dalam ayat tersebut dengan raj’ah adalah Ibnu Ibrahim dan Abdullah Syibr, dua tokoh Syiah terkemuka.[3] Sepintas, barangkali mereka melihat kecocokan antara doktrin raj’ah dengan makna yang dikandung oleh kalimat Ma’ad tersebut, sehingga mereka mencomot ayat ini begitu saja tanpa melakukan kajian secara teliti dan cermat terlebih dahulu. Karenanya, dalil yang mereka kira dapat mengukuhkan raj’ah, pada gilirannya menjadi senjata makan tuan bagi mereka dan merobohkan akidah tersebut.

Jika kita menelaah kata Ma’ad dari prespektif kebahasaan, maka kata tersebut setidaknya memiliki empat arti, yaitu Akhirat, Haji, Makkah dan Surga. Demikian sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Fairuz Abadi dalam al-Qamus al-Muhith. Jadi, dalam kamus versi apa pun, tidak ada kata Ma’ad yang memiliki arti kembali ke dunia.[4] Karena keberagaman arti ini, maka para pakar tafsir Ahlussunnah tidak sepakat dalam menentukan arti Ma’ad dalam ayat ini. Di antara mereka ada yang mengartikanyya dengan hari kiaamat (akhirat), ada lagi yang menafsiri dengan surga, dan ada pula yang memaknainya dengan Makkah.[5] Artinya, Rasulullah SAW. akan kembali lagi ke Makkah setelah beliau di usir oleh penduduknya.

Jika misalnya arti Ma’ad yang dikehendaki dalam ayat tersebut adalah yang terakhir, maka janji Allah SWT. sudah ditepati pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah) tahun 8 (delapan) Hijriyah. Karena itu, Rasulullah SAW. tidak perlu hidup lagi (raj’ah) untuk kembali ke tempat kelahirannya itu.

Dari perspektif Sabab an-Nuzul (pemicu turunnya ayat), Imam al-Muqatil meriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah ketika Rasulullah keluar dari Gua Tsur. Ketika itu, beliau tidak melewati jalan Makkah karena takut diketahui oleh orang karif Quraisy. Ketika sudah merasa berada di tempat yang aman, beliau kembali melalui jalan-jalan Makkah dan singah di Juhfah, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Beliau pun terkenang dan merindukan tempat kelahirannya itu. Maka turunlah Malaikat Jibril sambil bertanya: “Apakah engkau merindukan tempat kelahiranmu Muhammad? Rasulullah SAW. menjawab: “Ia.” Maka Jibril AS. berkata, sesungguhnya Allah SWT. berfirman kepadamu:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah). (QS. Al-Qashash [28]: 85).[6]

Jika dari segi arti kebahasaan, penafsiran dan sabab an-nuzul ayat tak ada indikasi apa pun yang menunjuk pada arti raj’ah yang dikehendaki Syiah, lalu dari sisi manakah mereka menetapkan ayat di atas sebagai dalil bagi raj’ah?

Ayat lain yang dijadikan tameng oleh Syiah untuk doktrin raj’ah adalah ayat 11 dari surat Ghafir. Salah satu mufassir Syiah, Abdullah Syibr, misalnya, memberikan penafsiran terhadap ayat itu sebagai berikut:

(قَالُوْا رَبَّنَا اَمَتَّنَا اِثْنَتَيْنِ) فِي الدُّنْيَا وَفِي الرَّجْعَةِ اَوْ الْقَبْرِ اَوْ خَلَقَهُمْ نُطَفًا اَمْوَاتًا ثُمَّ اَمَاتَهُمْ (وَاَحْيَيْتَنَا اِثْنَتَيْنِ) فِي الْقُبْرِ وَالرَّجْعَةِ اَوْ فِي الْقَبْرِ وَحِيْنَ الْبَعْثِ.

(Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali) di dunia dan pada waktu raj’ah atau di alam kubur atau Allah menjadikan mereka mani yang mati, kemudian Allah mematikan mereka. (dan Telah menghidupkan kami dua kali [pula]) di alam kubur dan pada waktu raj’ah atau di alam kubur dan pada hari kebangkitan.[7]

Andai tidak menyematkan doktrin raj’ah, barangkali penafsiran dari Abdullah Syibr untuk ayat di atas nyaris sama dengan penafsiran umat Islam. Bandingkan penafsiran Abdullah Syibr di atas—selain  raj’ah —dengan komentar beberapa ulama Umat Islam berikut ini:

قَوْلُهُ تَعَالَى:” قالُوا رَبَّنا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ” اخْتَلَفَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي مَعْنَى قَوْلِهِمْ:” أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ” فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ: كَانُوا أَمْوَاتًا فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ثُمَّ أَمَاتَهُمُ الْمَوْتَةَ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ أحياهم للبعث والقيامة، فهاتان حياتان موتتان، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى:” كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْواتاً فَأَحْياكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ” [البقرة: 28]. وَقَالَ السُّدِيُّ: أُمِيتُوا فِي الدُّنْيَا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ فِي الْقُبُورِ لِلْمَسْأَلَةِ، ثُمَّ أُمِيتُوا ثُمَّ أُحْيُوا فِي الْآخِرَةِ. وَإِنَّمَا صَارَ إِلَى هَذَا، لِأَنَّ لَفْظَ الْمَيِّتِ لَا يَنْطَلِقُ فِي الْعُرْفِ عَلَى النُّطْفَةِ. وَاسْتَدَلَّ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذَا فِي إِثْبَاتِ سُؤَالِ الْقَبْرِ، وَلَوْ كَانَ الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ لِلرُّوحِ دُونَ الْجَسَدِ فَمَا مَعْنَى الْإِحْيَاءِ وَالْإِمَاتَةِ؟

Para pakar takwil berbeda pendapat mengenai arti perkataan orang kafir (Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali [pula]). Berkata Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Qatadah dan al-Dhahhak “Mereka mati ketika berada dalam tulang punggung ayahnya, kemudian Allah menghidupkan mereka, lalu mematikan mereka di dunia dengan kematian yang tidak boleh tidak harus terjadi, selanjutnya Allah menghidupkan mereka pada hari kiamat, itulah arti dua kehidupan dan dua kematian dan ini adalah firman Allah SWT. (Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali). (QS. Al-Baqarah [2]: 28). Imam as-Sudi berpendapat: “Merka dimatikan di Dunia lalu dihidupkan kembali di alam kubur untuk ditanyakan, kemudian mereka dimatikan kembali dan dihidupkan lagi di Akhirat”. As-Sudi berpendapat sedemikian sebab kata mayyit tidak bisa di ucapkan pada mani. Dengan pendapat (as-Sudi) ini, para ulama menetapkan adanya pertanyaan kubur. Andaikan pahala dan siksa hanya untuk ruh, lalu apa arti menghidupkan dan mematikan?[8]

Ayat lain yang dijadikan dalil raj’ah adalah ayat 234 surat al-Baqarah berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka”. (QS. Al-Baqarah [2]: 243)

Ayat ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan raj’ah yang—menurut syiah—akan terjadi nanti menjelang hari akhir. Sebab terdahulu[9] yang lari dari kematian saat virus ganas menyerang negeri mereka. Kemudian Allah SWT. berfirman kepada mereka, “Matilah kalian!” Maka matilah umat itu. Lalu Allah SWT. menghidupkan mereka kembali sebagai peringatan bagi umat-umat setelahnya, bahwa lari dari kematian tidak memberikan kontribusi apa pun untuk kelangsungan hidup mereka. Selain itu, ayat ini juga menggambarkan kekuasaan Allah SWT. yang bisa menghidupkan dan mematikan sesuai dengan kehendak-Nya.[10]

Di balik kelemahan-kelemahan dalil dari doktrin raj’ah ini, lantaran sudah jelas jika tidak ada nash sharih yang mereka angkat dengan menggunakan pendekatan dan metodologi ilmiah yang absah, maka Syiah selanjutnya membuat metodologi alternatif khusus untuk kalangan mereka sendiri. Mereka menyatakan bahwa dalil-dalil raj’ah (dan doktrin-doktrin Syiah yang lain) yang dianggap lemah oleh suara mayoritas, justru menunjukan terhadap kekuatan dan keabsahannya. Tentunya, metodologi seperti ini tidak dapat diberlakukan secara umum, apalagi dimasukan ke dalam perangkat analisa keilmuan. Sebab, selain tidak logis, agaknya metodologi ini dibuat hanya untuk mengelabui kaum awam Syiah saja. Mengenai hal ini, Al-Hur al-Amili dalam kitab Al-Iqadz min al-Haj’ah bi al-Burhan ala ar-Raj’ah mengatakan sebagai berikut:

لَمْ يَقُلْ بِصِحَّتِهَا أَحَدٌ مِنَ العَامَّةِ (وَهُمْ مَا سِوَى الشِّيْعَةِ الإمَامِيَّةِ) وَكُلُّ مَا كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ حَقٌّ.

Tidak ada satu orang awam pun yang membenarkan raj’ah (yang dikehendaki dengan orang awam adalah selain Syiah Imamiyah), Jadi, apapun yang tidak dibenarkan orang awam pasti benar adanya.[11]

Lebih lanjut, Syiah menegaskan bahwa pendapat apapun yang berseberangan dengan golongan umat Islam dipastikan benar menurut Syiah, seperti yang—menurut Syiah—disampaikan oleh Imam mereka berikut:

واللِه مَا هُمْ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا أَنْتُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَنْتُمْ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا هُمْ عَلَيْهِ فَخَالِفُوْهُمْ فَمَا هُمْ مِنَ الحَنَيفِيَةِ عَلَى شَيْءٍ.

Demi Allah, mereka tidak sama dengan kalian, kalian juga tidak sama dengan mereka, janganlah kalian bersepaham dengan mereka, sebab mereka tidak berada di jalan lurus sama sekali.[12]

Jadi, ‘metodologi keilmuan’ spesifik yang hanya berlaku bagi kalangan Syiah ini dibentuk guna menghindar dari berbagai kritik yang banyak dilancarkan untuk doktrin ini, sekaligus untuk menjaga reputasi dan supremasi ulama-ulama Syiah dimata para pengikut mereka. Andai mereka mampu berdialog secara ilmiah dalam mempertahankan dali-dalil al-Qur’an yang mereka kenakan pada doktrin-doktrin mereka, tentu mereka tidak perlu memilih jalan senaif ini.

Akar Pemikiran Raj’ah

Mengamati doktrin khurafat dan sangat asing “dalam Islam“ ini, tentu kita timbul tanya, dari manakah Syiah mengadopsi pemikiran khurafat semacam raj’ah ini? Para pakar telah memastikan bahwa akidah raj’ah dalam madzhab Syiah ini memiliki akar yang kuat dari ajaran dan tradisi Yahudi-Kristen. Rupanya, kesimpulan ini tidak hanya dimunculkan oleh para pengkaji Syiah terkemuka sekaliber Dr. Al-Qifari, al-Buhairi atau yang lain. Bahkan kalangan orientalis pun memiliki kesimpulan yang sama. Hal ini tak lain karena memang otensitas dan kejelasan data yang menunjukan terhadap kebenaran fakta tersebut. Dalam hal ini, Ignaz Golziher, seorang orientalis beragama Yahudi asal Hungaria dan pernah menjadi mahasiswa di al-Azhar Mesir, menyatakan sebagai berikut:

إنَّ فِكْرَةَ الرَّجْعَةِ ذَاتِهَا لَيْسَتْ مِنْ وَضْعِ الشِّيْعَةِ أَوْ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِيْ اخْتُصُّوْا بِهَا، وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ قَدْ تَسَرَّبَتْ إِلَى الإِسْلَامِ عَنْ طَرِيْقِ المُؤَثَّرَاتِ اليَهُوْدِيَّةِ وَالمَسِيْحِيَةِ.

Sesungguhnya pemikiran raj’ah bukanlah asli ciptaan Syiah atau akidah mereka. Dimungkinkan pemikiran itu terserap ke dalam Islam (Syiah) melalui pengaruh Yahudi dan Kristen.[13]

Seorang sejarawan dan pemikir terkemuka, Ahmad Amin, juga mengatakan hal yang sama. Dalam Fajr al-Islam, ia menyatakkan sebagai berikut:

اليَهُوْدِيَّةُ ظَهَرَتْ فِيْ التَّشَيُّعِ بِاالقَوْلِ بِاالرَجْعَةِ.

“Yudaisme muncul dalam Tasyayyu’ di balik topeng raj’ah.”[14]

Jika kita merunut kembali hingga ke akar tumbuhnya sekte Syiah, maka apa yang disampaikan oleh para pakar tadi tidaklah aneh, sebab Abdullah bin Saba’ yang menjadi peletak pertama pemikiran Syiah adalah orang Yahudi tulen dari Yaman. Bisa dipastikan bahwa orang inilah yang telah mengajarkan doktrin raj’ah kepada para pengikutnya. Imam ath-Thabari, sejarawan Muslim terkemuka, mengatakan bahwa Abdullan bin Saba’ masuk Islam pada periode Sayyidina Usman RA, kemudian dia berpindah dari satu negeri ke negeri lain sambil berusaha memperkenalkan ajaran Yahudinya, yang dikemas dengan bungkus Islam. Pertama-pertama dia berdakwah di Hijaz, kemudian ke Bashrah, ke Kufah dan terakhir dia mempengaruhi kaum Muslimin di Syam, dia pun berpindah ke Mesir, dan di negeri ini dia berdakwah antara lain seperti berikut ini:

لَعَجَبَ مِمَّنْ يَزْعُمُ أَنَّ عِيْسَى يَرْجِعُ وَيُكَذِّبُ بِأَنَّ مُحَمَّدًا يَرْجِعُ؟ وَقَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ القُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. فَمُحَمَّدٌ أَحَقُّ بِالرُّجُوْعِ مِنْ عِيْسَى, قَالَ: فَقُبِلَ ذَلِكَ عَنْهُ وَوَضَعَ لَهُمْ الرَّجْعَةَ فَتَكَلَّمُوْا فِيْهَا.

“Aku heran kepada orang yang meyakini Isa AS akan kembali (ke dunia), namun dia mendustakan jika Muhammad akan kembali, sedangkan Allah telah berfirman, “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” Maka Muhammad lebih berhak untuk kembali dari pada Isa. (Rawi) berkata, “Maka diterimalah doktrin itu darinya.” Dia (Abdullan bin Saba’) mengajarkan (faham) raj’ah pada mereka hingga mereka meyakininya.[15]

Paparan data dan fakta sebagaimana tersaji pada beberapa edisi tampak jelas menunjukkan bahwa ulama-ulama Syiah telah mempersiapkan landasan-landasan untuk menetapkan raj’ah (inkarnasi) sebagai salah satu akidah inti, yang mereka adopsi dari al-Qur’an al-Karim. Namun, karena mereka tidak mendapatkan nash sharih (teks definitif) untuk menopang akidah raj’ah sebagaimana yang mereka inginkan—seperti biasa—mereka memelintir beberapa ayat suci Al-Qur’an yang sebenarnya sudah jelas maksud dari artinya, bahkan terkadang mereka berani “memperkosa” Al-Qur’an dari maksud yang sesungguhnya.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Lihat, Tafsir al-‘Ayasyi, juz 1 hlm. 210 dan Bihar al-Anwar, juz 53 hlm. 71.

[2] Mamduh Farhan al-Buhairi, asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim, hlm. 199 dan Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1116.

[3] At-Tasyayyu’, hlm. 224.

[4] Al-Qamu al-Muhith, juz 1 hlm. 302.

[5] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Takwil al-Qur’an, juz 19 hlm. 638-641.

[6] Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Gha’ib, juz 12 hlm. 115.

[7] Tafsir Abdullah Syibr, hlm. 44.

[8] Lihat, Tafsir al-Qurthubi, juz 15 hlm. 298.

[9] Dalam satu riwayat dikatakan bahwa kejadian itu terjadi pada masa Nabi Hizqil AS.

[10] Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, juz 3 hlm. 394 dan at-Tasyayyu’, hlm. 223.

[11] Al-Iqadz min al-Haj’ah, hlm. 69.

[12] Lihat, al-Iqadz min al-Huj’ah, hlm. 70 dan Ushul Madzhab asy-Syiah, juz 2 hlm. 1118.

[13] Al-Aqidah wa asy-Syi’ah, hlm. 215.

[14] Ahmad Amin, Fajru al-Islam, hlm. 276.

[15] Lihat, Tarikh ath-Thabari, juz 5 hlm. 98; al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, juz 1 hlm. 50. Lebih lengkapnya bisa juga dirujuk dalam Ar-Radd al-Kafi, hlm. 172.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)