Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 5)

Invasi Israel dan Sikap Syi’ah

Syiahindonesia.com - Akan tetapi pada tahun 1982 M, tepatnya tanggal 6 Juni tahun itu, terjadilah peristiwa yang mengacaukan semua skenario mereka. Mereka semua dikejutkan oleh invasi Zionis Israel atas seluruh Lebanon Selatan, bahkan Israel sempat mengepung Beirut demi mengusir Yasir Arafat beserta segenap pemimpin Fatah dan milisi-milisi Palestina agar keluar dari selatan Lebanon. Jelaslah bahwa kesepakatan antara militer Israel dan pihak Nasrani Maranis telah terjadi dalam rangka mengusir orang-orang Palestina yang menjadi suatu kekuatan kompresif dalam masyarakat Lebanon. Terjadilah berbagai pembataian warga Palestina, yang paling besar di antaranya adalah Pembantaian Shabra dan Shatila, yang menewaskan tiga ribu orang Palestina, dan Zionis Israel –atas bantuan Nashrani Maranis- pun berhasil mengusir orang-orang Palestina dari selatan Lebanon dan Beirut.

Peristiwa ini pada awalnya sesuai dengan harapan Syi’ah,sebab mereka sejak dahulu menuntut agar orang-orang Palestina dikeluarkan dari selatan Lebanon, sebagai langkah awal pendirian negara mereka di sana. Akan tetapi pihak Zionis tidak lantas kembali ke markas mereka setelah mengusir orang-orang Palestina, namun tetap bercokol di Lebanon dan melakukan pendudukan militer atas seluruh wilayah selatan.

Kejadian ini menghancurkan harapan-harapan kaum Syi’ah untuk mendirikan negara mereka, mengingat bahwa mereka saat itu masih terpecah menjadi kelompok sekuler dan konservatif. Yang pada akhirnya kelompok konservatif memutuskan untuk memisahkan diri dari Harakah AMAL, dan melanjutkan kontak mereka dengan para pemimpin di Iran untuk mendapat dukungan mereka. Mereka lantas membentuk sebuah lembaga yang terdiri dari 9 orang untuk berangkat ke Teheran dan berjumpa dengan Al Khumaini. Mereka menyatakan keimanan mereka terhadap ajaran wilayatul faqih, yang konsekuensinya mengimani kekuasaan l Khumaini sebagai ‘faqih’ yang dimaksud, yang akan mengurus masalah kaum Syi’ah di Lebanon. Al Khumaini menyetujui lembaga tersebut dan mereka kembali lagi ke Lebanon demi memisahkan diri secara total dengan Harakah AMAL, dan membentuk harakah baru yang dikenal saat itu dengan nama Harakah AMAL Al Islamiyyah, dibawah kepemimpinan Abbas Al Musawi.

Iran memiliki campur tangan kuat dalam berdirinya harakah baru ini. Bahkan Iran sempat mengirim 1500 tentara revolusinya ke Suriah, lalu dari Suriah ke lembah Bikkaa di Lebanon. Mereka semua dikirim untuk melatih kemiliteran Harakah AMAL Al Islamiyyah,memberi bantuan finansial dan militer yang cukup kepada mereka. Dengan demikian, harakah yang baru ini mendapat dukungan dari dua negara besar di kawasan tersebut, yaitu Iran dan Suriah, dan di saat yang sama Suriah tetap mendukung Harakah AMAL yang nasionalis.

Berdirinya Hizbullah dan Penguasaan atas wilayah selatan

Perang sipil di Lebanon masih berkecamuk, sementara kekuatan Harakah AMAL Al Islamiyyah semakin bertambah hingga Abbas Al Musawi mengumumkan berdirinya Hizbullah pada bulan Februari tahun 1985 M sebagai ganti dari Harakah AMAL Al Islamiyyah. Tiga bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1985 M, Harakah AMAL yang dipimpin oleh Nabieh Barrie melakukan pembantaian terhadap warga Palestina yang menewaskan ratusan orang, dalam rangka pembersihan etnis Palestina yang masih ada di selatan Lebanon dan Bikkaa. Dari situ, mulai terjadi perselisihan di antara harakah AMAL dan Hizbullah, yang berakhir dengan perang besar di antara keduanya. Hizbullah berhasil menumpas Harakah AMAL tahun 1988 M. Hasilnya, 90% anggota Harakah AMAL beralih ke Hizbullah dibawah kendali Iran, sesuai dengan aturan wilayatul faqih dan didukung penuh oleh kekuatan Suriah. Bersamaan dengan itu, Harakah AMAL keluar dari sayap militer, dan hanya menjadi gerakan politik saja.

Meskipunwilayah tersebut telah dikuasai oleh Hizbullah, hanya saja ia mendapati bahwa markaz kekuatan pusatnya –yang berada di selatan Lebanon- masih dikuasai oleh Yahudi. Inilah yang mendorong Hizbullah untuk menguasai sebagian wilayah di Beirut, agar memiliki markaz sebagai titik tolak setiap gerakan. Hizbullah tidak bergerak ke Beirut timur tempat komunitas Nashrani, akan tetapi ke Beirut barat, terutama bagian selatannya. Hizbullah mulai menduduki tempat-tempat tersebut dengan kekuatan senjata, dan seluruh tempat itu adalah kantong-kantong Ahlisunnah.

Hizbullah kadang membangun fasilitas-fasilitasnya di tempat umum, dan kadang di tanah milik Ahlussunnah, akan tetapi Pemerintah Lebanon hanya berpangku tangan melihat itu semua, sampai wilayah selatan Beirut menjadi Syi’ah tulen, dan dikuasai sepenuhnya oleh Hizbullah.

Pada tahun 1989 M, Al Khumaini meninggal dunia dan menyerahkan jabatan pimpinan revolusinya kepada Ali Al Khamanei. Kondisi Hizbullah sendiri tidak mengalami perubahan, sebab ia masih terikat dengan aturan wilayatul faqih yang baru yang dipegang oleh Ali Khamanei. Pada tahun yang sama, pihak-pihak yang bertikai di Lebanon atas perantara Saudi bertemu di Thaif, untuk membikin kesepakatan dalam rangka menghentikan perang saudara di Lebanon. Di tahun yang sama pula, terjadi pembunuhan terhadap tokoh Sunni terbesar di Lebanon, yaitu Syaikh Hasan Khalid rahimahullah, selaku mufti Lebanon dari kalangan Sunni sejak tahun 1966 M. Ini dimaksudkan agar Ahlisunnahkehilangan kepemimpinan mereka, dan di waktu yang sama, Hizbullah muncul sebagai simbol Islam di Lebanon.


Perang Melawan Yahudi dan Berubah Sikap Terhadap Ahlussunnah

Hizbullah mulai mempersiapkan rencana untuk menggempur Yahudi demi membebaskan wilayah-wilayah mereka dan merencanakan sebagai tempat berdirinya negara Syi’ah. Demi tercapainya tujuan tersebut, kucuran dana pun mengalir deras dari Iran, di samping dari Suriah. Israel pun mengalami kekhawatiran hingga mereka melakukan pembunuhan terhadap Abbas Al Musawi yang menjadi Sekjen Hizbullah pada tahun 1992 M. Jabatan Sekjen akhirnya diambil alih oleh Hasan Nashrullah.

Di tahun yang sama, muncullah tokoh Sunni baru, dan Ahlisunnah Lebanon pun mulai berkumpul di sekitarnya. Dialah Rafiq Al Hariri yang menjabat sebagai PM Lebanon tahun 1992 hingga 1996 M. Ia mulai membangun kembali Lebanon, dan mendapat dukungan penuh dari banyak warga Lebanon.

Pada tahun 1996 M, Zionis Israel melakukan agresi brutal atas Lebanon, yang dikenal dengan operasi ‘Grapes of Wrath’. Sejak itu, jiwa patriotisme warga Lebanon mulai berkobar untuk melepaskan diri dari penjajahan Israel. Hizbullah mengumumkan pembentukan pasukan-pasukan Lebanon untuk melawan musuh Zionis. Pasukan tersebut adalah gabungan dari berbagai kelompok Lebanon yang bermacam-macam, akan tetapi mayoritas anggotanya dari Ahlisunnahyang mencapai 38%, Syi’ah 25%, Druz 20% dan Nashrani 17%.

Serangan-serangan pasukan Lebanon mengakibatkan ditarik mundurnya pasukan Zionis dari sebagian besar wilayah selatan Lebanon pada tahun 2000, kecuali daerah pertanian Shebaa. Hizbullah akhirnya menduduki seluruh wilayah tersebut, dan menolak keinginan Tentara Nasional Lebanon untuk menyebarkan pasukannya di wilayah tersebut. Bahkan Hizbullah mulai merampas fasilitas-fasilitas milik Ahlisunnahdi wilayah selatan dan di pegunungan Lebanon. Tidak sampai di situ, Hizbullah juga berani mengganggu sejumlah masjid, seperti Masjid Nabi Yunus, dan tanah-tanah wakaf milik masjid tersebut yang terdapat di daerah Al Jeyah.


Rafiq Al Hariri dan Gerakan Syi’ah

Di tahun yang sama yaitu ditahun keluarnya Yahudi dari Lebanon, Rafiq Al Hariri diangkat kembali menjadi PM Lebanon. Kesempatan ini digunakan olehnya untuk menampakkan jati diri dan keluarganya, dan menjadi simbol Sunni cukup dikenal yang menjadi pesaing terkuat sesungguhnya bagi gerakan Syi’ah di Lebanon.

Kekuatan Hizbullah terus bertambah, dan ia masih mencari kesempatan untuk mendirikan negara Syi’ah yang didukung oleh Iran dan Suriah. Akan tetapi terangkatnya pamor Rafiq Al Hariri menjadi masalahbesar bagi gerakan Syiah di Lebanon.

Pada tahun 2004 M, Al Hariri mengundurkan diri dari jabatan PM akibat perselisihan antara dia dengan orang-orang Suriah yang jumlahnya cukup banyak di tubuh tentara Lebanon. Kemudian terjadilah peristiwa berdarah yang sangat mengejutkan, tepatnya pada 14 Februari 2005 M dengan terbunuhnya Rafiq Al Hariri ketika berada dalam kendaraannya di Beirut, di tengah tersebarnya berbagai agen intelijen internasional yang beroperasi di Lebanon, seperti CIA, Perancis, Suriah, Iran dan Lebanon sendiri. Dengan demikian, AhlisunnahLebanon kembali kehilangan salah satu tokoh kharismatik mereka.

Pasca terbunuhnya Rafiq Al Hariri Lebanon guncang, sementara tuduhan internasional mengarah kepada Suriah.Dari situ masyarakat internasional menuntut agar Suriah menarik diri dari Lebanon. Maka Hizbullah melakukan demonstrasi besar-besaran pada 8 Maret 2005 demi mempertahankan keberadaan Suriah di Lebanon. Hal ini mendapat respon balik dari Gerakan Al Mustaqbal, yang merupakan gerakan keluarga Al Hariri di bawah pimpinan Sa’ad Al Hariri. Ia mendapat dukungan dari Democratic Gathering Bloc pimpinan seorang Druz yaitu Walid Jumblat, dan Hizbul Quwwah Al Lubnaniyyah yang mewakili kaum Maronis pimpinan Sameer Ja’ja’. Ketiganya melakukan demonstrasi besar pada tanggal 14 Maret 2005 dengan tuntutan keluarnya Suriah dari Lebanon. Sebab itulah demonstrasi tersebut disebut demonstrasi 14 Maret, dan berhasil mengeluarkan Suriah dari Lebanon di bulan yang sama. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 6)

Dilema Hizbullah dan Perang tahun 2006

Syiahindonesia.com - Setelah keluarnya Suriah, Hizbullah menghadapi dilema di Lebanon, lebih-lebih dengan makin kuatnya persaingan antar golongan pasca terbunuhnya Al Hariri. Sebab itulah Hizbullah memilih untuk beraliansi secara politik bersama kekuatan-kekuatan lain untuk ikut serta dalam pemilu parlemen Lebanon bulan Mei 2005 M. Ia bergabung dengan ketiga kelompok lain yaitu Gerakan Al Mustaqbal yang Sunni, Gerakan Jumbalat yang Druz –meski mereka sangat memusuhi kedua gerakan ini-, di samping itu,mereka juga bergabung dengan Gerakan politik Harakah AMAL. Aliansi ini dikenal dengan aliansi kwartet.Secara keseluruhan mereka berhasil meraih 72 kursi di Parlemen dari total 128 kursi. Dengan demikian, mereka menjadi mayoritas di parlemen, yang akhirnya menjadi bagian dari pemerintah Lebanon yang dipimpin oleh Fuad Seniora.

Hizbullah telah menekan dirinya sendiri, dan beraliansi dengan kelompok Sunni meski mereka berseberangan. Ini semua demi menampakkan bahwa Hizbullah ikut serta dalam kepentingan Nasional. Padahal Hasan Nashrullah sendiri tidak pernah hadir dalam sidang-sidang parlemen maupun muktamar umum mereka. Ia hanya mengirim utusannya dan bersikap kepada semua pihak sebagai atasan, sebagai persiapan untuk menjadi pemimpin masa depan atas mereka semua.

Bukti terbesar atas asumsi ini adalah terlibatnya Hizbullah dalam operasi militer melawan Zionis Israelyang terjadi pada tanggal 12 Juli 2006. Hizbullah berhasil menawan dua tentara Israel dan menewaskan delapan lainnya. Semua itu ia lakukan tanpa konsultasi sedikit pun dengan negara yang ia menjadi bagian dalam pemerintahannya; dan juga tidak berkonsultasi dengan faksi-faksi lain yang menjadi sekutunya dalam parlemen. Padahal operasi militer inilah yang menyeret negara seluruhnya –dan bukan hanya Hizbullah- dalam perang melawan tentara Israel.

Pada akhirnya terjadilah perang besar yang terkenal pada bulan Juli 2006 M. Israel terus-menerus menyerang Lebanon selama 33 hari penuh, dengan target menghancurkan bungker-bungker Hizbullah sekaligus Lebanon. Hizbullah melakukan serangan balik kepada Israel dengan menembakkan roket-roket, sehingga korban tewas dari rakyat Lebanon sangat banyak dalam perang ini.

Ketidak berhasilan tentara Israil menghentikan serangan roket Hizbullah dianggap sebagai ‘kemenangan besar’ bagi Hizbullah, sebab Yahudi telah menghentikan serangan udara mereka tanpa berhasil melumpuhkan sistem kekuatan roket Hizbullah, maupun membebaskan dua orang pasukannya yang ditawan Hizbullah.

Perang pun berakhir seiring dengan kehancuran besar yang dialami oleh rakyat Lebanon atas negerinya. Kehancuran tersebut merata di setiap daerah di Lebanon. Di samping itu, rakyat Lebanon merasakan eksistensi Syi’ah yang semakin kuat, yang tercermin melalui Hizbullah yang tetap memegang senjata canggih produk Iran-nya, dan didukung penuh oleh Suriah. Hal ini sengaja diciptakan agar semua orang merasa bahwa negara mereka sedang mengarah ke seorang tokoh Syi’ah tertentu, seiring dengan banyaknya simpati dari umat Islam secara umum atas Hizbullah dalam melawan Yahudi (Israil).

Menurut anda, apakah yang terjadi di Lebanon setelah itu?
Apa langkah-langkah yang ditempuh oleh Syi’ah selanjutnya dalam skenario mereka?
Bagaimana visi Hasan Nashrullah sehubungan dengan masa depan Lebanon?
Mengapa Hizbullah kalah dalam pemilu parlemen bulan Juni 2009 M, padahal Hizbullah semakin kuat?
Dan apa yang semestinya diperbuat oleh segenap umat Islam dalam menyikapi permasalahan ini?

KISAH HIZBULLAH 3

Dalam dua makalah sebelumnya, kita telah membicarakan berkenaan dengan kisah Hizbullah 1 dan 2 sekaligus pendirinya, hubungan Hizbullah-Iran dan Hizbullah-Suriah, serta megaproyek mereka untuk mendirikan Negara Syi’ah di Lebanon. Pembahasan kita berakhir pada meletusnya perang Lebanon tahun 2006 M di mana Zionis Israel gagal menghancurkan kekuatan Hizbullah, dan gagal membidik pemimpinnya. Hal ini mengakibatkan kegembiraan luar biasa di dunia Islam, dan kebanggaan besar bagi pemuda-pemuda Islam. Lebih-lebih mengingat mereka belum pernah menyaksikan kemenangan hakiki melawan Yahudi dalam peperangan sejak tahun 1973 M, yaitu sejak lebih dari 30 tahun! Orang-orang pun saling memberikan selamat kepada Hizbullah dan pemimpinnya, Hasan Nashrullah. Bahkan sebagian mengira bahwa Hasan Nashrullah adalah pemimpin gerakan seluruh umat Islam. Mereka seakan lupa latar belakang orang ini, yaitu Syi’ah Itsna Asyariah; yang memiliki permusuhan abadi terhadap Ahlisunnah, baik hal itu ia nampakkan ataupun tidak.

Hizbullah dan Kudeta Pemerintahan

Keluarnya Hizbullah dari perang Lebanon 2006 M dengan harapan dapat memanfaatkan momentum besar tersebut. Ia segera menetapkan untuk mengkudeta pemerintah Lebanon yang tidak lain ia adalah bagian darinya. Pada tanggal 30 Desember 2006 M, Hizbullah menggalang aksi besar-besaran di sekitar istana pemerintahan. Mereka bahkan mendirikan lebih dari 600 tenda agar aksi tersebut bertahan lebih lama. Mereka menuntut agar PM Sunni Fuad Seniora mengundurkan diri, padahal menurut undang-undang Lebanon, penggantinya juga harus Sunni; akan tetapi keinginan Hizbullah tadi menandakan bahwa mereka mampu merubah-rubah keadaan semau mereka, dan siapa saja yang akan menggantikan PM harus taat dan mendengar terhadap instruksi ‘pemimpin masa depan’ Lebanon, yang digambarkan sosok Hasan Nashrullah. Akan tetapi pemerintah tidak menggubris ‘instruksi’ Hasan Nashrullah tersebut, hingga aksi berkemah tadi berlangsung hingga 18 bulan berturut-turut!

Keadaan semakin runyam ketika Hizbullah melakukan operasi militer anarkis, dengan mengerahkan pasukan bersenjatanya untuk mengepung Beirut barat secara total, yang merupakan wilayah penduduk Ahlisunnah. Mereka mengancam akan menduduki wilayah tersebut, atau tidak akan melonggarkan kepungan sampai PM yang dimaksud mengundurkan diri. Hal itu terjadi pada 9 Mei 2008 M.

Rupanya masalah ini tidak lagi sekedar ‘bisikan hati’. Sesungguhnya masalah ini merupakan percobaan nyata di lapangan dengan bergeraknya milisi-milisi untuk menguasai titik-titik utama di ibukota Beirut. Bahkan ini sangat menarik perhatian, tatkala Walid Jumblat mengungkap apa yang terjadi enam hari sebelum pengepungan, tepatnya tanggal 3 Mei 2008M. Ia mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa dirinya menemukan dokumen surat-menyurat antara menteri pertahanan Lebanon Ilyas Almur dengan pihak intelijen tentara nasional Lebanon. Dokumen tersebut melaporkan adanya sejumlah kamera milik Hizbullah yang dipasang di airport Beirut. Jumblat juga menyebutkan bahwa di saat yang sama ketika persenjataan dilarang masuk ke Lebanon, ternyata arus pengiriman senjata mengalir deras dari Iran kepada Hizbullah. Artinya, tidak lama lagi Hizbullah akan menjadi satu-satunya kelompok bersenjata di Lebanon yang persenjataannya jauh lebih besar daripada tentara nasional Lebanon.

Kesepakatan Doha dan kesalahan Nashrullah

Pengepungan Beirut barat berlanjut selama 13 hari, hingga ditandatanganinya kesepakatan Doha untuk mengakhiri perang dan menyudahi aksi mereka. Akan tetapi, seiring dengannya bubar pula aliansi kwartet yang terbentuk antara gerakan Al Mustaqbal yang Sunni, Hizbullah dan Harakah AMAL yang Syi’ah, serta Partai Demokratik yang Druz. Mereka semua mendapati bahwa aliansi semacam ini adalah sangat sulit dipertahankan, dan berbagai kepentingan Ahlisunnah dan Syi’ah pasti akan saling kontradiktif. Dari sini, mulai lah kedua belah pihak saling melempar tuduhan dan bersaing ketat. Gerakan Al Mustaqbal atau Aliansi 14 Maret, kini meyakini bahwa Syi’ah sangat mungkin mengambil alih kekuasaan secara total di Lebanon. Hizbullah pun mulai menuduh Gerakan Al Mustaqbal sebagai kaki tangan Amerika dengan maksud menurunkan pamor mereka di mata rakyat Lebanon dan gerakan-gerakan Nasionalis lainnya. Tuduh-menuduh terus berlanjut antara kedua belah pihak, dan semakin menguat dari waktu ke waktu seiring dengan makin dekatnya Pemilihan anggota parlemen baru pada bulan Juni 2009 M. Akhirnya, Gerakan Al Mustaqbal yang dipimpin oleh Sa’ad Al Hariri ikut serta dalam Pemilu melawan Hizbullah yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah. Masing-masing pihak mulai memamerkan kapabilitasnya untuk memimpin sekaligus menjatuhkan lawan politiknya.

Hasan Nashrullah telah membuat kekeliruan besar yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang pakar politikus sepertinya. Akan tetapi Allah berkehendak untuk menyingkap apa yang ada di balik tabir… Dalam pidatonya menjelang Pemilu pada tanggal 29 Mei 2009 M, – yang teks pidatonya ada dalam situs resmi Hizbullah di internet-, bahwa jika kelompoknya menang dalam Pemilu, maka ia akan memasukkan persenjataan ke Lebanon dari Suriah dan Iran. Ia telah menampakkan bahasa Syi’ahnya yang kental, bahkan mengatakan: “Yang saya tahu ialah bahwa Republik Islam Iran, khususnya Imam pemimpin Revolusi yang mulia: Sayyid Al Khamenei tidak akan pelit untuk memberikan segalanya bagi Lebanon”.

Ia mengatakan secara jelas kepada rakyat Lebanon, bahwa pendanaan yang akan menjamin stabilitas dan kejayaan mereka akan datang dari pihak Syi’ah, dan ini adalah bujukan sekaligus ancaman, dan suatu hal yang menarik perhatian akan kuantitas Hizbullah dan relasinya.

“Pesan” tersebut sampai ke rakyat Lebanon, namun dalam bentuk yang berlawanan dari yang diharapkan Hasan Nashrullah. Rakyat Lebanon akhirnya sadar akan bahaya Syi’ah. Mereka tahu bahwa naiknya kelompok Hizbullah ke kursi pemerintahan, berarti bertambahnya kekuatan bagi Hizbullah, bukan bagi Lebanon. Di samping itu, kemungkinan berdirinya sebuah negara Syi’ah yang loyal kepada Iran dan Suriah menjadi dekat sekali. Dari sinilah rakyat Lebanon takut terhadap arah Hizbullah, dan ketakutan tersebut nampak di kotak-kotak suara saat Pemilu hingga mereka memberikan suaranya ke Aliansi 14 Maret, padahal Sa’ad Al Hariri tidaklah secakap bapaknya, mendiang Rafiq Al Hariri. Akan tetapi rakyat Lebanon telah menyadari sendiri akan bahaya momen ini, dan tidak ada lagi waktu untuk mengatakan bahwa Pemilu ini akibat tekanan Amerika, sebab ternyata Pemilu ini adalah pemilu yang bersih dan tidak ada satu pihak pun yang mengritik ketransparanannya.

Akhirnya Aliansi 14 Maret menang dalam Pemilu dengan merebut 14 kursi lebih banyak dari Hizbullah. Ini adalah angka yang besar dalam pemilu Lebanon, dan ini berarti bahwa masalah-masalah akan semakin jelas. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Hizbulloh

Sikap kita terhadap Hizbullah

Setelah saya memaparan kisah yang panjang ini (baca: kisah hizbulloh lengkap), saya Hendak mengajak pembaca sekalian untuk merenung dan memberi catatan atas beberapa hal, yang nantinya akan menjawab sejumlah pertanyaan membingungkan yang terlintas di benak setiap muslim saat menyaksikan peristiwa-peristiwa tadi. Mungkin ada di antara pembaca yang sependapat dengan pandangan saya, dan mungkin juga tidak; akan tetapi saya sampaikan kepada semuanya bahwa saat kita memberikan catatan, hendaknya kita menyingkirkan perasaan kita, dan memutuskan dengan akal kita. Jika kita ingin memberi analisa yang tepat, kita harus menelusuri akar masalah, mempelajari sejarah baik yang dahulu maupun sekarang, mengaitkan hal-hal satu sama lain, membaca apa yang tertulis dalam buku-buku, dan meneliti tujuan masing-masing golongan serta latar belakang dan akidah mereka. Ketika itulah berbagai asumsi yang dahulu kita yakini kebenarannya akan berubah, dan boleh jadi kita menyerang apa yang dahulu kita bela, atau membela apa yang dahulu kita serang!!

Pertama: Berdirinya negara Syi’ah di Lebanon merupakan sesuatu yang sangat mungkin terjadi bahkan mungkin segera terlaksana, mengingat fasilitas yang dimiliki Hizbullah bukanlah fasilitas suatu kelompok atau golongan kecil, akan tetapi fasilitas suatu negara. Apalagi dukungan Suriah dan Iran atas berdirinya negara Syi’ah yang loyal kepada keduanya sangatlah besar. Negara ini kelak meliputi Lebanon selatan, lembah Bikkaa yang berada di timur laut Lebanon. Wilayahnya bisa jadi meluas hingga mencakup Lebanon utara yang Sunni, termasuk menguasai Beirut barat dan selatan. Adapun wilayah-wilayah Nasrani, maka masih diperselisihkan, dan tidak menutup kemungkinan jika Hizbullah menerima berdirinya dua negara di bumi Lebanon, yaitunegara Syi’ah dan negara Nasrani.

Bahkan seribu tahun sebelumnya, Syi’ah Isma’iliyyah pernah menawarkan kepada salibis saat memasuki Syam, untuk membagi-bagi wilayah Ahlussunnah di antara mereka: salibis menguasai Suriah dan Lebanon, sementra Syi’ah menguasai Palestina dan Yordania; akan tetapi salibis menolak, sebab mereka ingin menguasai seluruh wilayah Syam!

Berdirinya sebuah negara Syi’ah di Lebanon bukanlah masalah sepele bagi Ahlussunnah. Silakan baca kembali kisah Ahlussunnah di Iran dan Irak, dan telaah kembali sikap Harakah AMAL yang lalu berganti menjadi Hizbullah terhadap Ahlussunnah di Lebanon. Baca pula tarikh daulah Buwaihiyyah, Hamdaniyyah, dan Ubeidiyyah –yang menamakan dirinya dengan dusta sebagai Fathimiyyah-, serta Shafawiyyah… pelajarilah sejarah mereka agar Anda tahu bahwa berdirinya sebuah negara Syi’ah yang kuat, berarti penindasan terhadap Ahlussunnah di barisan yang pertama, sebab masalahnya adalah masalah akidah, dan semua fakta yang ada mengarah kesana.

Perang Demi Sejumlah Kepentingan

Kedua, perang Hizbullah melawan Yahudi adalah perang karena bebepa kepentingan, bukan perang atas dasar akidah. Sebab Yahudi memasuki wilayah Lebanon selatan tahun 1982 M, yaitu wilayah yang pada awalnya hendak dijadikan cikal bakal Negara Syi’ah Raya. Maka, ia harus melawan demi eksistensinya, sebagaimana peperangan pada umumnya yang terjadi di dunia. Perang ini bukanlah perang demi meninggikan kalimat Allah, sebab kalimat Allah yang diyakini kaum Syi’ah adalah kalimat yang batil dan menyimpang. Mereka menganggap bahwa para imam mereka ma’shum, bahkan kedudukan para imam lebih tinggi dari para rasul, lantas kebaikan apa yang diharapkan dibalik keyakinan semacam ini?!!

Coba kita asumsikan bahwa Syi’ah memiliki markas di Utara Lebanon, sedangkan Ahlussunnah di selatannya. Apakah Anda mengira bahwa Syi’ah akan berperang demi menyelamatkan wilayah Lebanon yang ditempati Ahlussunnah? Ini merupakan sesuatu yang sangat mustahil… bahkan boleh jadi akan terjadi kesepakatan untuk membagi bumi Lebanon secara damai dengan Yahudi, dan ini bukan sekedar omong kosong tanpa bukti; sebab Syi’ah telah mendiami Lebanon sejak puluhan tahun, adakah mereka tergerak untuk memerangi Yahudi di Palestina? Padahal dalam syair-syair mereka katakan bahwa Palestina adalah bumi yang dijajah Zionis.

Al ‘Allamah DR. Musthafa As Siba’I –rahimahullah-seorang pemerhati dari Ikhwanul Muslimin di Suriah pernah berusaha mengadakan pendekatan Sunnah-Syi’ah ketika meletus perang Arab-Israel tahun 1948 M. Beliau berupaya mendorong Syi’ah agar bersekutu dengan Ahlussunnah untuk membebaskan bumi Palestina, akan tetapi mereka menolak dan enggan, hingga DR. Musthafa sangat kecewa, sehingga beliau membuat tulisan yang berjudul “As Sunnah Wamakanatuha fii At Tasyri’ Al Islami” (Kedudukan Sunnah dalam Syariat Islam) bahwa pendekatan antara Sunnah dengan Syi’ah adalah sesuatu yang tidak akan terwujud, sebab mereka memahaminya sebagai pengalihan Ahlussunnah menjadi Syi’ah, bukan untuk bertemu di tanah yang dimiliki bersama.[1]

Ketika meletusnya perang tahun 1967 M, ternyata Syi’ah yang mendudui wilayah Palestina Utara tidak tergerak sedikit pun. Bahkan Musa Ash Shadr mengelu-elukan slogannya yang terkenal pada bulan Maret 1973 M bahwa: “Senjata adalah perhiasan kaum lelaki”, namun saat meletus perang di bulan Oktober 1973 M, yakni 6 bulan setelah Musa mengucapkan slogan tersebut, tidak ada seorag Syi’ah pun yang ikut serta dalam memerangi Yahudi di Palestina!...Kita semua menyaksikan perang Gaza pada tahun 2009 M lalu,bisa saja rudal-rudal Hizbullah ditembakkan untuk menahan gempuran Yahudi atas Gaza, akan tetapi kita tidak mendengar selain ucapan saja, dan tidak ada satu rudal pun yang ditembakkan untuk menyerang Zionis.

Dari sinilah kaum Zionis tahu bahwa bahaya Hizbullah hanya sebatas wilayah yang dikuasainya saja, dan untuk periode ini, baik Hizbullah maupun Iran tidak punya kepentingan dengan Palestina. Sebagaimana yang diketahui Amerika bahwa slogan-slogan anti-AS yang diserukan Iran tidak ada hakikatnya, namun sekedar mencari simpati kaum muslimin lewat media massa. Jika tidak percaya, silakan perhatikan bagaimana proyek Syi’ah di Irak yang berjalan mulus dengan dukungan murni Amerika… bahkan Amerika sesungguhnya tidak menentang rencana pendirian Negara Syi’ah Raya yang meliputi Iran, Irak, Lebanon dan Suriah, sebab negara ini akan mewujudkan keseimbangan bagi sejumlah kekuatan yang ada di wilayah Islam, dan otomatis akan menghadang kekuatan Islam Sunni yang berupa kebangkitan Islam di sejumlah negara kawasan itu, terutama Mesir, Arab Saudi, dan Yordania. Itulah negara-negara yang Amerika selalu berusaha menekan kekuatannya, baik secara politik, militer, maupun ekonomi.

Antara Kemenangan & Kebenaran Manhaj

Ketiga, kemenangan tidak berarti kebenaran suatu manhaj, dan pengorbanan besar tidak selalu menandakan keikhlasan! Berapa banyak pihak yang menang sedangkan mereka adalah pelaku bid’ah. Bahkan Syi’ah Qaramithah pernah berkuasa di muka bumi selama seabad atau lebih, padahal mereka telah membantai jama’ah haji, mencongkel Hajar Aswad dari tempatnya, dan berbuat kerusakan di muka bumi. Persia dan Romawi juga pernah berkuasa di muka bumi, demikian pula Tartar, Inggris, dan Amerika; padahal manhaj mereka semuanya rusak.  Termasuk para penguasa muslim yang kejam dan bengis, yang menyimpang dari ajaran Islam yang lurus, mereka juga pernah menguasai rakyat mereka selama puluhan tahun.

Sesungguhnya setiap kemenangan dan berkuasanya suatu kaum, tidak harus menunjukkan bahwa yang bersangkutan berada diatas manhaj yang benar. Akan tetapi kaum muslimin harus melihat ucapan dan perbuatannya, apakah sesuai Al Qur’an dan Sunnah, atau sebaliknya. Sebab, berapa banyak orang yang terkorban dalam peperangan, tabah laksana pahlawan, akan tetapi mereka menjadi penghuni neraka? Karena ia melakukan semua itu tidak untuk Allah. Bahkan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita mendengar ada seseorang yang berperang melawan kaum musyrikin bahkan sempat mengobrak-abrik barisan lawan, hingga orang-orang mengiranya sebagai orang Islam terhebat, akan tetapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada mereka bahwa lelaki itu termasuk penghuni Neraka! Ketika para sahabat mengikutinya, mereka mendapatinya dalam keadaan naza’ (sakaratul maut)sembari mengatakan: “Sesungguhnya aku berperang demi kaumku”[2]Ia tidak berperang karena Allah, ia berperang demi kepentingan, sementara kemenangan serta ketabahannya di medan perang dibangun atas prinsip yang batil.

Bukannya kita sok tahu tentang niat Hizbullah, sebab tidak ada yang mengetahui isi hati seorang pun kecuali Allah. Akan tetapi kita berbicara tentang keyakinan yang mereka nyatakan, dan bid’ah yang mereka tampakkan. Silakan merujuk kembali makalah yang berjudul: “Saitharah As Syi’ah” (Kekuasaan Syi’ah), niscaya anda akan mendapatkan bagaimana Syi’ah menang dan berkuasa, akan tetapi kemenangannya sama sekali bukan diatas prinsip yang benar, namun semuanya berdasarkan penyimpangan dari jalan yang lurus.

Sikap Ahlussunnah

Keempat, Meskipun perang antara Hizbullah dan Zionis adalah perang demi kepentingan tertentu, bukan berarti kaum muslimin Ahlussunnah tidak perlu mengambil sikap dalam masalah ini. Bahkan dalam hal ini saya berbeda pendapat dengan banyak senior saya dalam masalah ilmu dan dakwah, yang memandang agar masalah ini dibiarkan saja tanpa campur tangan, sebab kedua belah pihak adalah kaum yang sesat. Seorang muslim hendaknya berperan positif dan dapat menilai antara maslahat dan mudharat. Perang ini terjadi antara Zionis yang benar-benar menjajah bumi Palestina, dan Hizbullah yang hidup di bumi yang sebagiannya dijajah oleh Zionis. Dari sini, melemahkan kaum Zionis pada dasarnya merupakan salah satu dari tujuannya, mengingat jelasnya permusuhan kaum Zionis, dan membebaskan bumi Lebanon dari cengkeraman Zionis adalah suatu keharusan.Setelah itu, kaum muslimin hendaknya mulai mengatur masalah mereka dengan strategi yang bisa menjaga hak-hak mereka tanpa terseret kepada Yahudi maupun Hizbullah.

Dulu saya pernah menganggap luar biasa sikap Ahlussunnah di Lebanon tahun 1997 M, saat mereka bergabung dalam jumlah besar ke pasukan perlawanan Lebanon yang berusaha mengusir Yahudi dari Lebanon. Padahal komandonya adalah Hizbullah, dan Hizbullah banyak memanfaatkan perjuangan Ahlussunnah setelah itu dan tidak mau mengakuinya; namun masih saja pandangan kaum muslimin dalam hal ini seperti itu.

Bahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah membantu seorang lelaki musyrik yang datang kepadanya untuk menuntut haknya yang dirampas Abu Jahal. Nabi saat itu tidak mengatakan: “Nantinya lelaki ini akan menggunakan harta yang dirampas Abu Jahal untuk bertaqarrub kepada Latta dan ‘Uzza”, namun beliau tetap membantunya dalam hal ini, kemudian di kesempatan lain beliau mendakwahinya ke jalan Allah.[3]

Kita tidak akan mencampur susu dengan nila, kita tahu bahwa proyek Syi’ah Hizbullah di Lebanon sangat berbahaya, namun di saat yang sama kita juga tahu akan bahaya proyek Zionis di wilayah tersebut.

Kelima, Hasan Nasrullah adalah tokoh kharismatik,artinya, ia adalah sosok yang punya karakter khusus yang dapat mempengaruhi orang-orang di sekitarnya, dapat memimpin massa, dan menggelorakan semangat. Dia termasuk politikus nomor wahid, sangat cerdas dan pandai berbicara… Menurut saya, boleh-boleh saja ia dikagumi sebagai politikus dan ahli strategi. Saya tidak mengkhawatirkan jika ada orang yang mengagumi cara berpidatonya, atau caranya mempermainkan neraca politik… ini semua tidak masalah untuk dirasakan oleh kaum muslimin. Bahkan kalau pun mereka (kaum muslimin) menirunya dalam sebagian hal tersebut, itu juga tidak mengapa.Tapi, yang tidak bisa diterima ialah bila kita mengaguminya sebagai pemimpin Islam yang mengobarkan jihad sesuai perintah Allah. Sebab untuk menjadi pemimpin model ini syaratnya harus memiliki akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Ia harus mengikuti Sunnah Nabi dan tunduk pada ayat-ayat Allah, dan semua syarat ini tidak dimiliki oleh Hasan Nasrullah!

Akidah Hasan Nashrullah

Hasan Nashrullah adalah penganut madzhab Syi’ah Itsna ‘Asyriah. Artinya, ia mempercayai sepenuhnya keyakinan madzhab ini. Dia percaya bahwa para sahabat semuanya merebut khilafah dari ‘Ali bin Abi Thalib dan menyerahkannya kepada Abu Bakar, Umar, kemudian Utsman –semoga Allah meridhai mereka semua-. Dia juga meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi wasiat kepada para imam mereka yang dua belas dengan menyebut nama-nama mereka secara langsung. Dia juga meyakini bahwa para imam semuanya ma’shum, dan imam yang kedua belas telah masuk gua Sirdab dan masih hidup hingga saat ini, dan akan keluar pada suatau hari nanti. Dia juga meyakini bahwa taqiyyah yaitu seseorang menampakkan ucapan/perbuatan yang berbeda dengan keyakinan, merupakan sembilan persepuluh (90%) agama Syi’ah.

Dia juga meyakini bahwa Ahlussunnah adalah golongan yang memusuhi Ahli Bait, padahal Ahlussunnah lah yang lebih menghargai Ahli Bait daripada Syi’ah, namun caranya sesuai ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia juga meyakini bahwa para tokoh imam berhak mengambil seperlima dari penghasilan pribadi setiap penganut Syi’ah. Dia juga meyakini bahwa nikah mut’ah adalah halal; artinya, boleh saja baginya bila seorang pemuda mendatangi pacarnya, atau gadis lain lalu menikahinya selama sehari atau satu jam, demi melampiaskan syahwatnya kepada wanita itu lalu mencerainya. Dia juga meyakini teori wilayatul faqih, dan berangkat dari sini, haram baginya untuk menyelisihi pemimpin revolusi Iran: Ali Khamenei dalam perintah apa pun, demikian dan demikian…

Semua yang saya sebutkan tadi merupakan sebagian dari akidah Hasan Nashrullah yang telah mendarah daging. Sekiranya ada yang mengatakan: “Kita tidak pernah mendengar dia mencaci-maki sahabat, atau menuduh Umahatul Mukminin dengan tuduhan keji?”, maka saya katakan kepada orang-orang tersebut: “Bukan suatu keharusan bagi kita untuk mendengar semua itu darinya agar kita yakin bahwa dia memang mengatakan seperti itu, sebab semua hal tadi merupakan konsekwensi dari ajaran Syi’ah Itsna ‘Asyriyah”. Mungkin anda sendiri tidak pernah mendengar tetangga anda yang muslim mengatakan “Laa ilaaha illallaah,Muhammadun Rasulullah,” akan tetapi anda tahu bahwa tetangga anda meyakini ucapan tersebut, karena dia seorang muslim. Demikian pula seorang Syi’ah Itsna ‘Asyriyah, ia mau tidak mau harus mengimani semua yang saya sebutkan tadi, sebab kalau tidak, dia akan berada di luar madzhab Syi’ah. Sekirnaya Hasan Nashrullah menghargai dan menghormati para sahabat, maka ia tidak mungkin bisa membenarkan pokok-pokok ajaran Syi’ah Itsna ‘Asyriyah, demikian pula dengan jabatan Khalifah yang dipegang oleh Ali, Hasan, Husein, dan imam-imam lainnya.

Jadi, seorang tokoh yang menganut berbagai kesesatan dan bid’ah tadi, sama sekali tidak layak untuk kita kagumi, maupun kita jadikan sebagai pemimpin Islam teladan. Kita hanya boleh mengambil sedikit hal darinya, sebagaimana kita ambil dari orang lain; bukan karena dia itu Islami, tapi karena dia adalah manusia yang memiliki potensi dan keahlian.

Sejarah Islam telah menyaksikan bagaimana kaum Salibis menjajah Palestina dan Syam sebelum ini, dan hal itu terjadi di depan mata daulah Syi’ah yang kuat, yaitu Daulah ‘Ubeidiyyah yang saat itu menguasai Mesir. Pun demikian, kaum muslimin yang sejati di zaman itu tidak menjadikan para pemimpin Daulah Ubeidiyyah sebagai teladan mereka, sebab para pemimpin tadi adalah orang yang rusak akidahnya, meskipun mereka adalah pakar-pakar politik, dan ahli strategi perang. Kaum muslimin hanya melahirkan teladan-teladan mereka yang sejati, hingga muncullah tokoh-tokoh seperti Imaduddien Zanky, Nuruddien Mahmud, dan Shalahuddien Al Ayyubi.

Inilah yang harus menyibukkan kita sekarang… jika kita telah menyaksikan megaproyek Syi’ah, dan telah matang dan berhasil di Iran, Irak serta Lebanon. Lantas di manakah megaproyek Sunni yang menyamai megaproyek Syi’ah, agar kemudian bisa mengunggulinya?!

Kita mengharap kepada salah satu dari sekian banyak pemimpin negara Islam agar merancang megaproyek Sunni tadi, yang berpijak kepada Al Qur’an dan Sunnah, dan berjalan di atas manhaj As Salafus Shalih. Mega proyek yang akan melindungi hak-hak kaum muslimin di muka bumi, dan mendukung Ahlussunnah yang tertindas di Iran, Irak, Lebanon, dan Suriah; dan yang akan tegar menghadapi program-program Zionis dan penjajahan mereka atas negari-negari Islam.

Toh kalau tidak ada seorang pemimpin pun yang mau memikul tanggung jawab ini, maka kita mengajak seluruh rakyat untuk merevisi kembali manhaj mereka dan mengintrospeksi diri agar kembali dengan pasrah dan taat kepada Allah. Sebab Allah tidak akan membiarkan umat tanpa seorang pemimpin yang mukhlis, kecuali jika umat itu sendiri yang menerlantarkan dan menyia-nyiakan agama Allah, sebagaimana mereka menguasai kalian, karena Allah tidakakan berbuat zhalim sedikit pun… maka bela lah agama Allah, agar Allah membela kalian, dan tolonglah ajaran-Nya agar Dia menolong kalian, serta kembalilah kepadaNya, agar Dia menerima kalian, mengampuni dosa kalian, dan membimbing kalian ke jalan yang lurus… (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

 [1]Lihat, Musthafa As Siba’I “As Sunnah wa makanatuha fii At Tasyri’ Al Islami” hal; 24, Cet. Daar Al Waraaq, Al Maktab Al Islami.
[2]Lihat Ibnu Hisyam, “Sirah An Nabawiyah” tahqiq; Mushtahafa As Saqa dan yang lain, Daar Al Ma’rifah Bairut, Juz pertama, hal; 524, 525. Laki-laki tersebut bernama Quzman, salah seorang sekutu Bani Zhafar.
[3]Ibid, Juz Pertama, hal; 389, 390 

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 3)

Rencana Menegakan Daulah Syi’ah

Syiahindonesia.com - Kembali ke kisah lebanon . .
Musa Ash Shadr berhasil di kirim ke Lebanon untuk merencanakan pendirian negara Syi’ah. Dia yang dipilih, sebab dia memiliki asal usul Lebanon, selain menguasai bahasa Persi, dia juga lihai berbahasa Arab. Ia senantiasa berkoordinasi dengan Khomeini, bahkan keduanya memiliki hubungan yang lebih kuat dari sekedar relasi politik; sebab putera Khomeini yang bernama Ahmad Al Khomeini, menikahi puteri saudari kandung Musa Ash Shadr. Sedangkan Musa Ash Shadr menikahi cucu Al Khumeini, di samping itu, Musthafa Al Khumeini juga merupakan salah satu sahabat terdekat Ash Shadr.

Musa Ash Shadr menuju Lebanon Selatan yang merupakan kantong Syi’ah. Di sana ia mulai melancarkan misinya atas nama sosial, tanpa menonjolkan masalah agama. Ia mulai mendirikan yayasan-yayasan sosial untuk membantu kaum fakir miskin.

Kemudian mendirikan sekolah-sekolah dan klinik-klinik medis denganmenampakkan perspektif syi’ah-nya sedikit demi sedikit. Ia lalu mendirikan lembaga-lembaga peradilan Ja’fari, yang mengadili kaum syi’ah berdasarkan madzhab Itsna ‘Asyariah mereka. Karakter multi golongan yang ada di Lebanon sangat mendukung untuk beroperasi secara luas, lebih-lebih mengingat lemahnya pengaruh pemerintah dan militer Lebanon.

Musa Ash Shadr adalah sosok yang dapat bermain di semua peran. Ia siap menggandeng tangan siapa saja demi mewujudkan keinginannya. Sejak awal ia tahu bahwa Nashrani Maronis adalah golongan terkuat di Lebanon, dan pesaingnya adalah golongan Sunni. Padahal perlu kita ketahui bahwa Ahlisunnahkala itu bukanlah kaum fundamentalis yang berpegang teguh dengan sunnah atau agama Islam. Mereka tak lain adalah orang-orang berfaham Nasionalis-Sosialis-sekuler, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat Allah.

Musa Ash Shadr pun mulai mendekati golongan Nashrani, sebab Syi’ah sebagaimana yang kita ketahui sejak awal, tak lain adalah pemberontakan atas ajaran Islam Sunni.Syi’ah hanyalah penentang sejarah Islam sejak Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khatthab radhiyallaahu ‘anhuma, kemudian berlanjut di setiap negara Islam yang menaungi umat ini. Intinya, pemikiran syi’ah sejak semula merupakan pemikiran yang konfrontatif terhadap Ahlisunnah.

Dari sini, Musa Ash Shadr berusaha merangkul Sharel Al Halew, Presiden Lebanon dari Nashrani Maroniswaktu itu, anehnyaia tidak mau merangkul pemimpin-pemimpin Sunni untuk mengumpulkan kekuatan kaum muslimin, justeru malah menganggap bahwa Sharel Al Halew sebagai sekutu yang pantas untuk menentang penguasa Sunni. Ia mulai mendekatinya dan memprovokasinya,hingga pada tahun 1967 M terjadilah kesepakatan mendirikan Dewan Tinggi Syi’ah yang bertindak sebagai wakil Syi’ah di Lebanon. Sharel Al Halew bahkan sepakat untuk menetapkan undang-undang nomor 72/76 yang memutuskan bolehnya menjadikan rujukan-rujukan Syi’ah dunia (di Iran, Irak dan lainnya) sebagai rujukan Dewan Syi’ah dalam menetapkan fatwa, hukum dan undang-undangnya. Mereka tidak harus mengikuti hukum yang berlaku di Lebanon!

Dewan ini benar-benar berhasil berdiri tahun 1969 M, dan tentu saja Musa As Shadr adalah pemimpin pertama dalam dewan ini. Pemerintah Lebanon mengakui keberadaan majelis tersebut pada tahun 1970, bahkan pemerintah menggelontorkan dana sebanyak 10 juta Dollar sebagai bantuan untuk wilayah selatan Syi’ah.

Musa Ash Shadr juga tak lupa menjual dirinya kepada Amerika. Dalam pertemuannya dengan Dubes Amerika, Ash Shadr menyebutkan bahwa ia akan menghadapi gerakan Nashiri yang berpaham Komunis bersama pemuda-pemuda Syi’ah di Lebanon. Kedekatan hubungannya dengan orang-orang Amerika telah cukup dikenal, hingga ia dituduh oleh orang-orang dekatnya Al Khumaini. Sebab Al Khumaini ketika itu menganggap Amerika sebagai bahaya besar, sebab Amerika mendukung penuh pemerintahan Shah Iran.

Namun dalam perkembangannya, pada tahun 1970 M, terjadilah peristiwa di luar harapan Musa Ash Shadr,yaitu terjadinya pembantaian para pengungsi Palestina di Yordania, yang popular dengan sebutan peristiwa “Ailul Aswad”. Sebab itulah orang-orang Palestina di bawah komando Fatah diungsikan ke Lebanon.Meskipun Syi’ah tidak suka, pengungsian tersebut menempati wilayah selatan Lebanon (berbatasan dengan Palestina) karena orang-orang Palestina adalah Ahlisunnah, dan hal ini berarti akan menghambat rencana besar pendirian negara Syi’ah. Padahal gerakan Fatah ketika itu menganut faham Sosialis-sekuler yang sangat jauh dari ajaran Islam.

Pun demikian, pada periode ini Musa Ash Shadr sempat memanfaatkan gerakan Fatah. Ia menjalin hubungan solidaritas dengan Fatah, dengan harapan bahwa Fatah kelak dapat mentraining militer Syi’ah. Sebagai persiapan pembentukan milisi-milisi bersenjata yang dapat mempengaruhi masa depan Lebanon,secara kebetulan Fatah saat itu juga sedang mencari sekutu untuk menghadapi kaum Komunis, hingga terjadilah simbiosis mutualisme.

Pada tahun 1971 M, Hafizh Asad menduduki kursi kepresidenan di Suriah. Ia dari kelompok ‘Alawiyyin Syiah Nushairiyyah, yang berada di luar Islam meskipun secara politik dihitung sebagai ‘muslim’. Mereka adalah sekte yang menuhankan Ali bin Abi Thalib–Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka katakan-. Akan tetapi, dengan sigap Musa Ash Shadr menfatwakandengan menyatakan bahwa kaum ‘Alawiyyin adalah Syi’ah, dan menganggap Hafiz Asad sebagai seorang muslim! Hal ini menyebabkan makin eratnya hubungan Ash Shadr dengan Suriah dan pemerintahan yang berkuasa di sana. Musa Ash Shadr menjadi mata rantai penghubung antara Hafiz Asad dan pemimpin-pemimpin Revolusi Iran, hingga Hafiz Asad pun mendukung penggulingan Shah Iran, bahkan mendukung Iran pasca Revolusi saat berperang melawan Irak, sebab ia sangat memusuhi Saddam Husein.

Demikianlah Musa Ash Shadr menanamkan benih-benih negara Syi’ah-nya yang baru. Ia memiliki kerja sama yang sangat kuat dengan para tokoh agama di seluruh dunia, khususnya Al Khumaini, demikian pula dengan kaum Nashrani Lebanon, Amerika, Suriah, bahkan dengan Fatah yang dianggap bagian dari Ahlisunnah.

Pada tahun 1974 M, Musa Ash Shadr mendirikan Harakah Al Mahrumin yang menyerukan agar kaum fakir miskin mendapat hak-hak yang lebih banyak. Mulanya, banyak kaum Nashrani di selatan yang bergabung dalam gerakan tersebut. Mereka menyangka bahwa gerakan tersebut bersifat nasionalis yang bertujuan mengentaskan kemiskinan di Lebanon dari krisis ekonomi. Akan tetapi mereka akhirnya keluar setelah mencium aroma Syi’ah yang kuat dari gerakan tersebut. Tak lama kemudian, Ash Shadr membuat kesepakatan dengan Yasir Arafat sebagai pemimpin Fatah untuk melatih kemilitran Harakah Al Mahrumin, dibawah pengawasan pemerintah Lebanon yang lemah.

Pada bulan Juli tahun 1975 M, Ash Shadr mengumumkan pembentukan sayap militer Harakah Al Mahrumindengan menamakan dirinya sebagai “Afwaaj Al Muqaawamah Al Lubnaaniyyah”, yang disingkat Harakah AMAL yang diketuai langsung oleh dirinya.

Tak lama setelah itu Musa Ash Shadr berbalik menentang orang-orang Palestina, dan menuntut pengusiran warga Palestina yang berfaham Sunni dari wilayah selatan yang berlatar belakang Syi’ah. Kita akan menyaksikan selanjutnya, bagaimana anggota Harakah AMAL membantai orang-orang Palestina tersebut dalam Serangan atas Kamp pengungsian yang terkenal sejak tahun 1985 M hingga 1988 M.

Memasuki tahun 1975 M, Lebanon mulai terjadi perang saudara yang membingungkan. Perang ini demikian rumit karena terkait dengan berbagai faktor internal dan eksternal. Kita mungkin membutuhkan berbagai analisa khusus untuk dapat memahaminya dengan jelas.


Musa Ash Shadr Dan Berbagai Permusuhan

Setelah terbentuknya Dewan Perwakilan Tinngi Syi’ah dan Harakah AMAL, Musa Ash Shadr menjadi sebuah kekuatan yang sangat berarti dan menggugah kesadaran banyak orang, sebab Musa Ash Shadr tidak lagi menutupi kekuatan tersebut atau menyembunyikannya. Bahkan iasering kali mengancam dengan terang-terangan dalam berbagai liputan persnya untuk mengerahkan massanya ke rumah-rumah orang kaya di Lebanon jika mereka tidak memenuhi tuntutannya. Bahkan ia berani mengritik sebagian tindakan Al Khumaini, dan menjalin hubungan dengan pihak-pihak internasional tanpa merujuk ke marja’ agama yang dikirim ke Lebanon. Masalah semakin meruncing saat ia mengunjungi Iran dan bertemu Shah secara langsung. Ia meminta agar Shah memberikan amnesti kepada 12 tokoh agama yang telah divonis mati, akhirnya Al Khumeini menganggapnya telah keluar dari kesepakatan internasional Syi’ah, dan kerjasama dengan Shah yang notabene adalah musuhnya kaum revolusioner.

Konflik semakin memuncak pada tahun 1978, ketika secara tiba-tiba terjadi krisis hubungan antara Suriah dan Ash Shadr. Hal ini dikarenakan Suriah mengalami banyak tekanan dari negara-negara sekitar dan Amerika, setelah Anwar Sadat melakukan kunjungan ke Zionis Israel tahun 1977 M. Suriah berharap agar Lebanon menjadi pembela utamanya, sebab Suriah memiliki pasukan di Lebanon saat itu. Suriah juga berharap agar Ash Shadr tidak bersekutu dengan selain Suriah.

Namun Ash Shadr merasa bila dirinya telah kuat dan posisi Suriah lemah, karenanya ia sengaja mempererat hubungannya dengan negara-negara Arab dan melanggar peringatan Suriah. Ia mulai mengunjungi Kuwait, kemudian Al Jazair, dan terakhir berangkat ke Libya pada bulan Agustus 1978 M, yang diiringi sebuah kejutan besarkarena Libya mengumumkan bahwa Ash Shadr telah angkat kaki dari wilayahnya pada tanggal 25 Agustus 1978 M, akan tetapi ia tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di muka bumi!!

Ini merupakan peristiwa yang mengherankan. Sebab Musa Ash Shadr bukanlah anak kecil yang gampang tersesat di airport, dan bukan pula orang biasa yang disikapi masa bodoh oleh Libya kemana perginya. Akan tetapi yang jelas ia telah diculik atau dibunuh.

Saat itu memang banyak musuh yang mengintai Musa Ash Shadr, dan banyak di antara mereka yang dituding berada di balik pembunuhannya. Yang paling utama ialah tokoh-tokoh Revolusi yang setahun kemudian muncul di Iran. Dan tentu mereka tidak menginginkan keberadaan tokoh-tokoh kharismatik yang memiliki multi relasi sebagai saingan Al Khumaini yang berada di garda terdepan negara Syi’ah baru.Apalagi membuatgeram pemerintah Suriah saat itu, berarti memberi lampu hijau bagi rencana pembunuhan, sebab pemerintah Suriah memang terkenal berdarah dingin dalam menghadapi para penentangnya. Libya sendiri ketika itu berhubungan erat dengan tokoh-tokoh revolusi Iran, dan siap mendukung mereka pasca revolusi untuk melawan Irak. Adapun kekuatan internal Lebanon yang mendapat manfaat dari tersingkirnya Musa Ash Shadr juga cukup banyak, sebab perang saudara di Lebanon saat itu memang sedang puncak-puncaknya.

Hilangnya Musa Ash Shadr memang misterius dan membingungkan, bahkan para politikus berlomba-lomba memecahkannya, akan tetapi tak satu pun dari mereka yang dapat memberikan jawaban pasti. Yang jelas, Musa Ash Shadr telah meninggalkan medan pertempuran yang menyala di belakangnya, dan meninggalkan Harakah AMAL yang melanjutkan cita-citanya, dan meninggalkan jabatan kosong di Dewan Perwakilan Tinggi Syi’ah… tepat setahun kemudian terjadilah revolusi Iran untuk menggulingkan Shah, dan empat tahun berikutnya militer Zionis menguasai wilayah Lebanon selatan.

Lalu dari ‘rahim’ pergolakan yang rumit tadi lahirlah Hizbullah yang Syi’ah, untuk melanjutkan megaproyek Ash Shadr, akan tetapi yang jelas dengan pengarahan dari Iran.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? 
Bagaimana pula nasib Harakah AMAL? 
Dan bagaimana sikap Syi’ah terhadap orang-orang Palestina di Lebanon selatan? 
Bagaimana pamor Hizbullah tiba-tiba mencuat?
Siapakah sebenarnya Hasan Nashrullah, dan bagaimana akidah serta pemikirannya? (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Kisah Hizbulloh Lengkap (Bag. 4)

Syiahindonesia.com - Kebanyakan kaum muslimin merasa simpati dalam menghukumi berbagai perkara, tokoh, organisasi, dan negara. Mereka tidak meneliti apa yang ada di balik itu semua, tidak membaca apa yang tertulis dalam buku-buku, dan tidak menelusuri asal-usulnya. Hal ini menjerumuskan mereka dalam berbagai kekeliruan dan salah persepsi yang berakibat fatal, yang baru disadari setelah musibah dan bencana yang diakibatkannya terjadi… dan ketika itu, penyesalan mungkin tiada berguna lagi.

Setelah kami paparkan awal lahirnya Hizbullah Syi’ah secara rinci, kami juga paparkan tentang Lebanon, dan kali ini kami akan mencoba untuk melanjutkan. Saya percaya bahwa saya sedang menelusuri jalan yang penuh duri. Usaha saya untuk memberikan gambaran yang benar bagi kaum muslimin pasti menghadapkan saya kepada gelombang penolakan dan kritikan dari kaum muslimin yang bersimpati kepada tokoh mana saja yang dianggap sukses di masa-masa yang sensitif dalam sejarah umat ini; meskipun tokoh tersebut adalah pengikut Syi’ah yang rusak, yang meyakini kebebasan berpendapat dalam mengritik, mencela, menentang dan bahkan menjatuhkan para sahabat yang mulia.

Saya yakin bahwa saya akan menghadapi perlawanan serius dari pihak Syi’ah sendiri, yang mendorong media-media massa Sunni agar menyerukan supaya ‘masalah ini’ ditutup dan jangan dibicarakan sama sekali, sembari memalingkan mereka kepada Zionis Israel dan Amerika saja. Padahal di saat yang sama Syi’ah terus melanjutkan skenario mereka. Kaum muslimin baru akan tercengang, saat Syi’ah berhasil mendirikan sebuah Daulah besar, yang setara dengan Daulah Buwaihiyyah tempo dulu, atau lebih besar lagi!!

Perpecahan Harakah AMAL Pasca Ash Shadr

Setibanya Musa Ash Shadr dari Qum (Iran) dan Najaf (Irak), ia berusaha merekrut orang-orang Syi’ah Lebanon menjadi sebuah eksistensi yang saling melengkapi, yang bisa diajak mendirikan sebuah daulah di masa depan. Ia begitu perhatian dengan sisi religius dan madzhabiyah kelompok ini, hingga pada tahun 1969 M, ia mendirikan Dewan Tinggi Syi’ah. Ia juga perhatian dengan sisi militer mereka, hingga mendirikan Harakah AMAL, yang merupakan singkatan dari Afwaajul Muqaawamah Al Lubnaaniyyah. Ia juga menjalin hubungan diplomasi dengan pihak Nashrani Maronis, demikian pula dengan Amerika Serikat dan Suriah, di samping tentunya dengan pihak-pihak yang mengirimkannya ke Lebanon, yang tokoh dari itu semua adalah Al Khumaini, yang saat itu masih berada di Irak.

Bersamaan dengan semakin bertambahnya kekuatan Ash Shadr, konflik kepentingan pun mulai muncul, terjadilah perselisihan antara dirinya dengan pemimpin revolusi Iran (sebelum berdirinya), juga dengan salah seorang tokoh pendukungnya yaitu Presiden Suriah Al Alayiyyah Hafizh Asad.Peristiwa ini berakhir pada tnggal 25 Agustus 1978 M secar tiba-tiba, dengan menghilangnya Musa Ash Shadr di Libya ketika kunjungan resminya.

Musa Ash Shadr meninggalkan kekosongan besar, sementara orang-orang Syi’ah berusaha menertibkan kembali organisasi mereka, akhirnya jabatan Dewan Tertinggi Syi’ah diambil alih oleh Abdul Amir Qublan, yang sebelumnya adalah wakil Musa Ash Shadr. Abdul Amir Qublan masih menjabat sebagai wakil ketua Dewan, padahal jabatan ketua sampai saat ini masing kosong! Sedangkan marja’ mereka di Lebanon merujuk kepada salah seorang syaikh mereka, yaitu Husein Fazhlullah.Di saat yang sama kondisi sayap militer Syi’ah yang dikenal dengan sebutan Harakah AMAL terpecah menjadi dua kelompok:

Kelompok pertama adalah Syi’ah Sekuler yang ingin mengatur jalannya permainan tanpa merujuk ke kaidah-kaidah madzhab Itsna Asyariyah. Mereka tidak ingin terikat dengan tokoh-tokoh rujukan agama di luar Lebanon, alias ingin menempuh jalur nasionalisme. Kelompok ini dipimpin oleh Nabieh Barrie, salah satu pemimpin Lebanon terkenal.

Kelompok kedua ialah mereka yang ingin menyempurnakanlangkah Musa Ash Shadr, yaitu ingin mendirikan Negara berlandaskan madzhab Syi’ah yang menetapkan keyakinan dan kesesatan Syi’ah dengan kekuatan senjata, sekaligus melebarkan kekuasaan mereka sekuat kemampuan. Kelompok ini bekerja sama dengan tokoh-tokoh revolusi Iran yang merencanakan kudeta di Iran, akan tetapi kelompok ini masih membutuhkan seorang pemimpin yang mengarahkan mereka.


Al Musawi, Nashrullah, dan Strategi Iran

Di masa-masa yang sulit ini, ada dua orang yang datang dari Najaf, Irak. Keduanya telah mendalami akidah Syi’ah di sana, keduanya memiliki pengaruh sangat besar dalam mempertahankan eksistensi langkah doktrin Musa Ash Shadr. Kedua orang itu adalah Abbas Al Musawi dan Hasan Nashrullah.

Keduanya berhasil menyusup dengan cepat ke barisan Harakah AMAL, dan dapat menduduki sebagian pusat-pusat kepemimpinan, padahal Hasan Nasrallah kala itu baru berusia 18 tahun.

Pada tahun 1979 M, terjadilah revolusi Iran dan Shah berhasil ditumbangkan. Al humaini pun tiba dari Paris (setelah diusir dari Irak tahun 1978 M) dan memegang tampuk kekuasaan di Teheran. Ia mulai menertibkan keadaan dan menyingkirkan pesaing-pesaingnya. Ia berbalik kepada pihak-pihak yang dahulu mendukungnya dari ormas-ormas Iran. Al Khumeini menetapkan dirinya untuk tidak tinggal di kota suci Qum seperti yang diramalkan banyak orang, namun justeru menetap di ibukota Teheran.


Setelah masalah-masalah di Iran mulai stabil, Al Khumaini mulai mengarahkan perhatiannya ke Lebanon dan Irak. Keduanya merupakan wilayah yang memiliki massa Syiah cukup besar, di saat yang sama, keduanya merupakan bagian dari skenario Syi’ah untuk mendirikan negara Syi’ah di wilayah tersebut.

Kondisi di Irak saat itu masih sangat sulit, karena Saddam Hussein memerintah tangan besi. Al Khumaini sendiri merasakan hal itu, sebab ia pernah tinggal selama 14 tahun di Irak yang berakhir dengan keluarnya dia secara terpaksa ke Paris. Dari sini, Al Khumaini tahu persis bahwa Organisasi Syi’ah di Irak tidak mampu menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Sebab itulah Al Khumaini memilih solusi militer, dan segera memulai perang total terhadap pemerintah Irak pada tahun 1980 M–ketia itu revolusi Iran belum genap satu tahun- Ini semua karena ambisinya untuk menjatuhkan pemerintahan Irak dan menyerahkan roda pemerintahan kepada Syi’ah, yang dengan begitu, Irak akan tergabung dalam negara Syi’ah Raya yang diimpikan Al Khumaini.

Sementara di Lebanon yang sarat dengan berbagai kelompok dan sekte agama, di sana masih butuh persiapan dan perlu sejumlah tokoh loyalis penuh kepada Al Khumaini dan pemerintahannya. Karena itulah, Al Khumaini selalu mengontak kedua orang tadi yang bermadzhab Syi’ah Itsna Asyariyah, yangberiman dengan ajaran Wilayatul Faqihyang berhasil mendudukkan Khomeini ke kursi pemerintahan. Kedua orang itu adalah Abbas Al Musawi dan Hasan Nashrullah, dari sinilah Iran mulai memberi dukungan langsung kepada mereka, meski kepemimpinan Harakah AMAL masih di tangan Nabieh Barrie yang berpaham sekuler.

Pada tahun 1981 M, diadakan muktamar Harakah AMAL yang keempat untuk memberikan solusi atas perselisihan internal mereka, yang masing-masing selama ini berusaha menguasai daerah selatan. Muktamar tersebut berakhir dengan tetap dipilihnya Nabieh Barrie sebagai pemimpin Harakah AMAL, dan Abbas Al Musawi menjadi wakilnya. Ini merupakan langkah penting untuk mengendalikan kondisi di selatan Lebanon. (nisyi/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.