Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Syiah Irak Akan Eksekusi Mati 7000 Muslim Sunni

Tariq Al-Hashimi, wakil presiden masa Nouri Al-Maliki. (sqspcdn.com)
Syiahindonesia.com- Kondisi keamanan dan kemanusiaan di Irak seperti akan terus memburuk. Militer pemerintah bekerja sama dengan milisi Syiah melakukan banyak pembantaian dan pelanggaran HAM. Parahnya, keluar putusan eksekusi mati 7000 warga Sunni.

Seperti dilansir situs resmi persatuan ulama sedunia, IUMS Online, Jumat (26/6/2015) hari ini, kepala pengadilan pidana Irak, Baligh Hamdi, mengatakan bahwa ada lebih dari 7000 narapidana yang sudah divonis mati, namun eksekusi belum dilaksanakan hingga sekarang. Sebab penundaan eksekusi adalah sikap presiden Irak, Fuad Masum, yang belum menyetujui pelaksanaannya.

Sementara itu, perdana menteri Haider Al-Abadi sudan menandatangani pelaksanaan eksekusi. Al-Abadi sudah menginstruksikan departemen kehakiman untuk melaksanakan eksekusi tersebut dalam jangka wakt 30 hari ke depan.

Semua narapidana itu, seperti ditegaskan IUMS Online, adalah warga Sunni. Sikap Al-Abadi yang demikian adalah tidak memedulikan undang-undang amnesty umum yang baru akan divoting parlemen. Amnesty itu diharapkan bisa memperkecil jumlah yang dieksekusi.

Senada dengan Al-Abadi, otoritas ulama Syiah juga menolak undang-undang amnesty umum, bahkan mengancam demonstrasi jika undang-undang itu disahkan.

IUMS Online menerangkan bahwa hampir semua narapidana berasal dari provinsi-provinsi Baghdad, Al-Anbar, Shalahudin, Ninawa, Diyala, Kirkuk, Basrah, dan sebagainya. Mereka ditangkap dan diadili dengan undang-undang anti terorisme yang keluar tahun 2005.

Undang-undang itu menjadi dalih kelompok Syiah untuk menindas warga Sunni, bahkan menteri dan wakil presiden Sunni pun tidak terkecualikan. Tokoh yang ditahan dan dihukum mati dengan undang-undang ini misalnya adalah Tariq Al-Hashimi (wakil presiden masa Nouri Al-Maliki), dan anggota parlemen Ahmad Al-Alwani. (msa/dakwatuna/syiahindonesia.com)

Sikap Syeikh Ali Jumah terhadap Syiahisasi di Negeri Sunni

Syeikh Ali Jumah
Oleh: Mahmud Budi Setiawan

“اتَّقُوا اللهَ فِيْنَا وَفِيْ أَنْفُسِكُمْ…أَنَّنَا نُحِبُّ أَهْلَ الْبَيْتِ…خُطَطُكُمْ لِتَحْوِيْلِ أَهْلِ السُّنَّةِ إِلَى شِيْعَة فِي مِصْرَ لَنْ تُفْلِحَ أَبَدًا”.

 “Bertakwalah pada Allah baik pada diri kita maupun kalian. Kita sama-sama mencitai Ahlul Bait. (Namun)Usaha kalian dalam menyebarkan ideologi Syi`ah di Mesir, tidak akan berhasil selamanya.”

Begitulah petikan dari Syeikh Ali Jum`ah ketika masih menjadi Mufti Mesir, yang penulis dapat dari situs resmi Dār Al Iftā` Mesir.

Syeikh Ali Jumah  mengingatkan, ‘penyebaran idielogi Syiah di wilayah Sunni hanya akan membuat stabilitas keamanan masyarakat terganggu.

Statemen ini beliau katakan dalam Aula Muhammad Abduh, ketika sedang menyampaikan kuliah yang diselenggarakan Majma` Buhuts Al Islami di Al-Azhar sebagai peringatan atas bahaya pemikiran Syi`ah(9 Oktober 2012).

Ada lima poin penting yang beliau paparkan mengenai perbedaan mendasar Syiah dengan Sunni.

Pertama, akidah al-badā` (idiologi Syi`ah yang menyatakan bahwa Allah telah menetapkan sesuatu kemudian mengubah pendapatnya dan menarik kembali keputusannya. Pendapat ini sangat ditentang Ahlu Sunnah).

Kedua, tahrīf (penyimpangan) Al Qur`an. Syiah meyakini, dalam Al Qur`an yang diyakini oleh Ahlus Sunnah ada tahīf-nya. Ada ulama Syi`ah yang bernama Syaikh An-Nuri sampai mengarang kitab yang berjudul: “Fashlu al-Khithāb fī Tahrīfi Kitābi Rabbi al-Arbāb (Penjelasan tentang penyimpangan dalam Kitab Al Qur`an)”. Pandangan ini sangat ditolak oleh Sunni.

Ketiga, perbedaan terkait mengenai keadilan sahabat serta celaan mereka terhadap sahabat-sahabat yang mulia.

Banyak sekali bukti tertulis dalam kitab-kitab mereka yang mencela para sahabat. Ada sekitar 110 jilid kitab rujukan inti Syi`ah yang lima di antaranya mencela para sahabat nabi, yang kemudian berusaha dilenyapkan agar mereka tidak mendapat pertentangan dari yang lain.

Keempat, perbedaan terkait masalah taqiyah.

Menurut Syeikh Ali Jumah, Syiah tidak segan-segan melakukan kebohongan demi membela pendapatnya. Sedangkan Ahlus Sunnah mengecam keras hal itu.

Kelima, Ahlus Sunnah tidak mengakui kemaksuman seorang pun kecuali para nabi. Adapun Imam Ahlul Bait mereka memang takwa dan berilmu, namun tidak sampai maksum dan bukan sebagai sumber hukum. Demikianlah beberapa poin penting yang disampaikan beliau dalam kuliahnya.

Sebenarnya banyak sekali usaha yang menginginkan terjadinya rekonsiliasi antara paham Ahlus Sunnah dan Syiah.

Di antara ulama yang berusaha mewujudkannya: Syeikh. Mahmud Syaltut, Syeikh, Manshur Rajab, Syaikh. Abdul Aziz Isa, Syeikh Al-Baquri, bahkan Syeikh Yusuf Al-Qardhawi dan masih banyak yang lainnya.

Hanya saja usaha ini menjadi sia-sia lantaran dilanggar sendiri oleh Syiah yang jelas-jelas memiliki ideologi berbeda dengan Ahlus Sunnah.

Kalau antara Syiah dan Sunni memang bisa benar-benar menyatu, maka tidak mungkin dalam sejarah pahlawan sekaliber Nuruddin Mahmud Zanki, Asaduddin Syirkuh, Imam Al-Ghazali dengan madrasah Nidhamiyahnya, Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang notabene merupakan bagian dari Ahlus Sunnah –secara bertahap dan bijak- mengubah ideologi Al-Azhar (atau Mesir) dari Syiah menjadi Sunni kembali (baca: Muhammad Shallābi, Shalāhuddīn al-Ayyūbi wa juhūduhu fī al-Qaḍā `ala al-Daulah al-Fāṭimiyah wa Tahrīri Baiti al-Maqdis).

Sikap ulama Mesir terhadap Syiah –baik tempo dulu maupun sekarang- semestinya bisa menjadi pelajaran berharga bagi Bangsa Indonesia untuk mewaspadai ideologi Syiah.

Bagaimana mungkin minyak dan air bisa menyatu? Kalau ideologi ini dibiarkan berkembang, maka sangat mungkin terjadi apa yang dipaparkan oleh Syaikh Ali Jum`ah bahwa penyebaran Syi`ah dalam komunitas Sunni hanya akan merusak stabilitas keamanan. Semoga kita bisa terhindar dari fitnah besar ini. Wallāhu a`lam.*

Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang notabene merupakan bagian dari Ahlus Sunnah –secara bertahap dan bijak- mengubah ideologi Al-Azhar (atau Mesir) dari Syiah menjadi Sunni

Penulis alumni PKU VIII UNIDA Gontor 2014.

(hidayatullah.com/syiahindonesia.com)

Syiah Hina Ummul Mukminin Aisyah RA., Syeikh Al-Azhar: "Itu Perbuatan Setan"

Syaikh Al-Azhar, Dr. Ahmad Thoyyib. (islammemo.cc)
Syiahindonesia.com - Syaikh Al Azhar, Dr. Ahmad Toyib dalam sebuah acara di televisi Mesir menyampaikan pandangannya tentang Syiah di mata Sunni dan cara menyikapinya.

Seperti dilansir laman Islammemo.cc, Syaikh Ahmad Thayyib mengatakan, penghinaan yang dilakukan Syiah terhadap istri Rasulullah Saw., Aisyah ra. yang juga putri dari Khalifah Abu Bakar ra. merupakan perbuatan setan. Menurutnya, menghina Aisyah ra. sama saja menghina Nabi Muhammad Saw.

Pimpinan tertinggi di Al-Azhar Mesir ini kemudian mewanti-wanti para anak muda dan masyarakat, apabila ada orang yang datang lalu menghina para sahabat dengan alasan cinta kepada Ahlul Bait, maka ketahuilah, tindakannya itu merupakan perbuatan setan. “Itu hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh dan para pendengki,” tegasnya. (msy/imo/dawkatuna)

NU & Muhammadiyah Akan Dicaplok Syiah Lewat Muktamar, Benarkah?


Ormas Islam Dicaplok Musuh Islam Lewat Muktamar

Musibah bagi Umat Islam Indonesia kemungkinan akan tambah mendera. Betapa tidak. Dua ormas besar Islam, NU dan Muhammadiyah, ditengarai akan dicaplok Antek Syiah, Liberal, dan Jaringan Yahudi lewat Muktamarnya masing-masing pekan pertama Agustus 2015.

NU akan bermuktamar di Jombang Jawa Timur, 1-5 Agustus 2015. Kubu-kubu di antara mereka saling memperjuangakan tokoh liberal. (lihat artikel nahimunkar.com atau fp hartonoahmadjaiz, “Muktamar NU Perebutkan Kyai Liberal Pendukung Syiah dan Ahmadiyah?”

Sedang Muhammadiyah akan bermuktamar di Makassar 3-7 Agustus 2015.

Dikabarkan, Muhammadiyah kini memiliki tiga calon yang akan dipilih dalam Muktamar Muhammadiyah di Makassar 3-7 Agustus 2015, mereka itu tampaknya terindikasi bahkan terkontaminasi faham sesat yang mengusung syiah dan faham liberal yang telah diharamkan MUI, bahkan diduga sebagai Jaringan Yahudi.

Ada yang terang-terangan menentang fatwa sesatnya syiah. Ada yang dengan gaya liberalnya mencela Islam dengan apa yang dia sebut Islam Syari’at. Dan ada yang menganggap syiah itu tidak berbeda secara prinsipil dengan Islam, dan dibalik itu dia mesra dengan Yahudi, hingga diduga sebaga jaringan Yahudi di Indonesia.

Mereka itu adalah:

    Prof Dr Syafiq A Mughni (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni University of California dan Pesantren Persis),
    Dr Haedar Nashir (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Fisipol UGM)
    dan Dr Abdul Mu’thi (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Flinders University Australia).

Celoteh mereka cukup menyakitkan. Di antaranya:

“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” kata Prof Dr Syafiq A Mughni.

Syafiq juga pernah berkunjung ke Israel, bahkan diberitakan sebagai sosok yang jadi jaringan Yahudi di Indonesia (?), sebagimana berita “Siapa Saja Jaringan Israel di Indonesia?” ini:
Tokoh Muhammadiyah yang pernah berkunjung ke Israel diantaranya Syafiq Mugni, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Dari PP Muhammdiyah Dr. Habib Cirzin pernah pula berkunjung ke Israel.

Syafiq Mugni  Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, saat bertemu dengan Shimon Peres menghadiahkan kepada Peres sebuah tutup kepala yang dikenal bernama ”kippa” bertuliskan kata “shalom“,  yang dalam bahasa Ibrani artinya ”kedamaian”. Para tamu Indonesia itu tampak gembira sekali ketika Peres langsung memasang kippa tersebut di kepalanya.

Selanjutnya, mereka melanjutkan pembicaraan seputar berbagai topik termasuk ekonomi, politik, agama dan perayaan hari jadi  Israel ke 60 bulan Mei 2008 mendatang. Bahkan, kemungkinan membuka hubungan diplomatik antara Indonesia-Israel.

Shimon Peres menyatakan, Israel berbahagia bisa berhubungan dengan Indonesia serta mengundang para pemimpinnya. Peres akan mengundang kembali para tokoh Indonesia untuk doa perdamaian di saat Negeri Zionis ini akan memperingati hari jadinya ke 60 nanti bulan Mei 2008. Dalam kesempatan itu, Peres juga mengatakan, musuh Israel bukanlah Islam, tapi “teror”, ucapnya.

Syafiq Mugni dalam kesempatan itu menjelaskan tentang Indonesia menyangkut perkembangan ekonominya, demokrasi dan sistem kependidikannya. Menurut Syafiq,  dirinya berharap Muslim Indonesia semakin toleran, meski sebagaian juga masih ada yang menentang demokrasi. Sementara itu, Wakil NU Abdul A’la (kini menjabat rector di IAIN Surabaya?, red nm) mengakui masih ada kelompok kecil “ekstrimis” Muslim di Indonesia

Sementara itu Dr Haedar Nashir, sangat ‘enggan’ bicara soal Syiah bahkan karya besarnya malah menyorot soal Islam Syariat. Haidar pun menyatakan perlu diwaspadai tumbuhnya gerakan Islam Syariat.

Bagaimana dengan calon kuat ketiga yakni Dr. Abdul Mu’thi soal Syiahnya a.l.: Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’thi menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia.

Demikianlah, Umat Islam Indonesia akan ditambahi dengan pemimpin Ormas Islam yang justru dapat diduga tidak akan menguntungkan Islam, tetapi menguntungkan musuh-musuh Islam.

Oleh karena itu ada ulasan yang beredar, di antaranya tulisan berikut ini.

***
AWAN MENDUNG HITAM MENYELIMUTI MUHAMMADIYAH MASA DEPAN?
MENCOBA MENYELUSURI PARA TOKOH CALON KETUA UMUM MUHAMMADIYAH 2015, WOW


“Tiga tokoh tersebut adalah Prof Dr Syafiq A Mughni (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni University of California dan Pesantren Persis), Dr Haedar Nashir (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Fisipol UGM) dan Dr Abdul Mu’thi (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Flinders University Australia),” jelas Najib.

“Pak Syafiq mempunyai jaringan ke luar dan ke dalam. Mas Mu’thi, masih muda dan lincah. Sedangkan Pak Haedar Nashir menjaga kekuatan ke dalam,” kata mantan anggota KPU Provinsi Jatim itu.

Dari ketiga ‘jago’ calon Ketua Umum Muhammadiyah kita ingin menelusuri bagaimana pendapatnya soal Agama Syiah. Seperti Prof. Dr, Syafiq A Mughni soal Syiah yang amat digadang-gadang calon kuat Ketua Umum Muhammadiyah 2015 walaupun basis almamater pendidikannya bukan berasal sekolah atau pesatren asli Muhammadiyah sbb.:

“Syiah memang lebih cenderung kepada amaliah yang terkait langsung dengan Ali bin Abi Thalib, tapi hal itu bukan berarti sesat, karena itu hanya konsekuensi dari sebuah kultus individu,” Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A Mughni di Surabaya sebagaimana dikutip dari Antara, Rabu (29/8).

Menurut Syafiq, perbedaan yang sangat menonjol terkait Syiah itu masalah kepemimpinan setelah Nabi Muhammadiyah harus dijabat Ali bin Abi Thalib.
“Dari sudut ajaran Islam, saya memang tidak sepakat dengan Syiah, tapi perbedaan itu juga ada dalam paham-paham lain yang ada di dalam Islam,” katanya

Calon kuat lainnya DR. Haidar Nashir, walau pun ejak kecil Haedar memang aktif di organisasi Muhammadiyah, tahun 1977 saat duduk di bangku SMA, Haedar sudah aktif di organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) di Bandung, Jawa Barat. Bahkan sejak masuk kuliah di STPMD, Haedar tetap aktif di IPM DIY dan berlanjut di Pemuda Muhammadiyah.

Dari hasil telusuran dari google terkesan tokoh yang satu ini sangat ‘enggan’ bicara soal Syiah bahkan karya besarnya malah menyorot soal Islam Syariat seperti yang diulas oleh a.l.

Budhy Munawar-Rachman menelaah bedah buku Balai Penelitian dan
Pengembangan Agama Jakarta (27 Pebruari 2014), untuk memahami lebih jauh dan mendalam karya Dr. Haedar Nashir, Islam Syariat: Reproduksi Salafiyah Ideologis di Indonesia (Bandung: Mizan, 2013).

Diharapkan tulisan ini dapat membantu mengerti kedalaman analisis yang telah dikembangkan oleh Haedar Nashir, dan dari sini mengembangkan lebih lanjut studi-studi mengenai gerakan, yang disebut oleh Haedar Nashir sebagai ”Islam Syariat.”

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil suatu kesimpulan, bahwa tujuan utama dari gerakan Islam Syariat adalah membangun dan mendirikan negara Islam. Keyakinan mereka tegas, bahwa ajaran Islam adalah sudah lengkap, sempurna dan mencakup segala macam persoalan. Semua gerakan dan pikiran diarahkan untuk menegakkan syariat Islam. Kelompok yang tidak sejalan dengan keyakinannya sering diberi label sebagai musyrik, kâfir, fâsik dan dzâlim. Menolak, tidak setuju atau membantah cara pandang ini, menurut mereka, sudah masuk dalam katagori musyrik jahiliyah, sebab telah dianggap menyekutukan Tuhan dengan mengakui otoritas selain-Nya dan menggunakan sistem selain sistem-Nya.

Dari argumen Haedar Nashir, tampaknya secara sosiologis bisa ditelusuri bahwa munculnya Islam Syariat adalah suatu reaksi terhadap masalah-masalah yang mengiringi modernitas, yang dianggap keluar terlalu jauh dari ajaran Islam. Kecenderungan ini merupakan gejala ideologi, yang merupakan respon terhadap pandangan benturan antarbudaya (the clash of civilization). Kemunculan Islam Syariat merupakan perlawanan terhadap modernitas dan masyarakat sekuler, khususnya dalam kehidupan sosial-politik, dengan cara melakukan kekerasan politik, sampai penggunaan teror.

Dalam sebuah pemberitaan terbaru, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan ada banyak kebijakan yang tertuang dalam bentuk peraturan-peraturan daerah (perda) syariah yang mengandung unsur-unsur diskriminatif bahkan mendorong terciptanya kekerasan di wilayah publik.

Haidar pun menyatakan perlu diwaspadai tumbuhnya gerakan Islam Syariat, yakni faksi yang mengusung semangat anti-nasionalisme, anti-demokrasi, dan menolak konsep negara-bangsa yang secara utopia mencoba menghidupkan kembali isu Negara Islam atas dasar sistem Khilafah Islam.

Faksi Islam Syariat ini, menurutnya juga mengidap apa yang disebut sebagai hypocracy in democracy, kemunafikan terhadap demokrasi. Di satu sisi secara tegas menolak demorkasi tetapi menikmati kehidupan di bawah alam demokrasi.


Bagaimana dengan calon kuat ketiga yakni Dr. Abdul Mu’thi soal Syiahnya a.l.: Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’thi menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syiah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam. “Fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan,” ujar Muthi kepada Tempo, Kamis, 19 Desember 2013.

Muthi menanggapi desakan Front Jihad Islam (FJI) yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syiah di Yogyakarta. FJI mengklaim mencatat 10 organisasi berhaluan Syiah di DIY. (Baca: Front Jihad Desak MUI Yogya Nyatakan Syiah Sesat)

Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kebangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan, khususnya untuk Syiah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. “Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,” ujar dia.

Dijelaskan secara rinci oleh Habib Rizieq, sosok yang berada di sebelah kirinya adalah Ayatullah Ali Tashkiri, seorang ulama Syiah Iran yang sering mewakili Iran dalam dialog internasional Sunni-Syiah. Menurut Habib Rizieq, Tasykiri adalah seorang Syiah moderat yang juga sering disebut Syeikh Dr Yusuf Al Qaradhawi dalam kitabnya.

Sementara di sebelah kanannya, kata Habib Rizieq, adalah seorang ulama Sunni bermazhab Hanafi. “Ana lupa namanya,” kata Habib Rizieq.

Di ujung kanan adalah Dr. Abdul Mu’thi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah. Mu’thi sekarang menjabat sebagai Sekretaris PP Muhammadiyah. Sementara di sebelahnya adalah Usman Shahab, seorang ustad Syiah di Indonesia.

Berada di ujung kiri adalah Imam Addaraquthni, seorang tokoh muda Muhammadiyah pendiri Partai Matahari Bangsa (PMB). Selain di Muhammadiyah, Imam sekarang adalah Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Selanjutnya Habib Rizieq menjelaskan, di belakang Hadad Alwi berdiri Sekjen PBNU Ir H Iqbal Sulam. Iqbal sekarang menjabat sebagai salah satu Ketua PBNU. Sementara duduk di bagian depan adalah Anggota Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis, bersama Hasan Dalil, seorang tokoh Syiah Indonesia.

“Kenapa Ustadz? Apa ada yang aneh? Kan ana sudah kasih tahu secara terbuka bahwa ana dkk pernah ke Iran beberapa tahun lalu? Apa ada yang sengaja eksploitasi foto tersebut untuk benarkan tuduhan ana Syiah? Mereka bodoh dan kekanak-kenakanan Ustadz. Jangan panik,” kata Habib dalam broadcast-nya kepada Pemimpin Umum Suara Islam KH Muhamad Al Khaththath yang menanyakan perihal foto tersebut.


Suka atau tidak suka dengan para calon tersebut semua tergantung pada utusan peserta yang berhak untuk memilih plus di bawah Ketua Panitia Pemilihan Anggota Pimpinan Pusat Muktamar ke-47 Muhammadiyah.

Saya berharap dalam muktamar Muhammadiyah yang akan datang bisa:

  1.     Mampu memilih ketua umumnya yang MUSLIM lagi istiqamah sekaligus sebagai KHALIFAH dalam organisasi ini sesuai dengan tuntunan Islam yang memberikan pencerahan a.l. semangat kekhalifahan QS. 38:26, 6:165 dan 35:39. Jangan sampai terpilih ketua umumnya seperti ormas tetangga sebelah kita;
  2.     Mampu mencetak kader politisi dan teknokrat lainnya yang benar-benar berjiwa Muslim Muhammadiyah sehingga tidak ada lagi kader yang jadi sekuler atau liberal atau aliran agama lainnya seperti agama syiah atau ahmadiyahnya? kader Muhammadiyah mampu mengisi dan menjadi pemimpin parpol apa saja sepanjang tidak melanggar prinsip ajaran Islam dan semangat kemuslimannya.
  3.     Selain menyusun program kerja yang erat kaitannya dengan kemaslahatan umat misalnya bisnis, kesejahteraan dan kesehatan serta kependidikkan dsb, juga pembenahan organisasi secara jelas, transparan dan terkendali serta terotonomisasi. jangan lupa membenahi aset kekayaan dan harta Muhammadiyah dengan menciptakan paket aplikasi inventarisasi aset dan kekayaan Myhammadiyah secara terpadu dan terintegrasi se nasional.
  4.     Menyederhanakan penyelenggaraan muktamar sehingga tidak terkesan hura-hura dan mewah seperti pengurangan peserta muktamar, ya cukup yang ikut sebagai utusan muktamar dari level provinisi saja tak perlu lah utusannya sampai kabupaten/kota.

Workshop Registrasi Online Muktamar Muhammadiyah ke-47 dan Muktamar Aisyiyah ke-47 di Unismuh Makassar pada Minggu (11/1/2015).

Elfizon Anwar‎Suara Muhammadiyah

28 April · Kota Tangerang ·

(nahimunkar.com)

Mewaspadai Ekspansi Ideologi & Revolusi Syi'ah Iran di Indonesia

Oleh: Al-Ustadz DRS. A. Subki Saiman, MA & Dr. (cand) H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH, MM.
(Peneliti Ahli Lembaga Kajian Strategis Al-Maqhasid Syariah)

Perang melalui pena, perang pemikiran kami yakini bagian dari Jihad fi Sabilillah, dengannya kami sangat mengharapkan balasan keridhoan dari Allah SWT, membuat hati Baginda Nabi Besar Muhammad SAW bahagia, begitupun para ahlul bait dan sahabat-sahabatnya. Ini adalah perjuangan akbar melawan gerakan-gerakan, manuver, propaganda dan provokasi yang dikendalikan oleh satu negara “Republik Syi’ah Iran.”

Saksikanlah wahai pengikut Syi’ah Rafidhah, kami akan tetap menentang segala bentuk penyebaran dakwah terselubung anda, camkan!. Menjadi hak anda untuk melakukan itu kapan dan dimana saja, tapi anda harus ingat suatu saat kelak, rekonstruksi sistem hukum akan mewujudkan pelarangan Syi’ah di indonesia sebagaimana berlaku di Malaysia.

Syi’ah semakin berani menunjukkan eksistensinya dalam memutarbalikkan fakta, menghasut, dan memfitnah, mencela, mencaci-maki bahkan sampai mengkafirkan Sahabat Nabi Muhammad SAW, khususnya Khulafaur Rasyidin. Salah satu alat propaganda mereka adalah menanamkan kebencian kepada Sahabat Nabi Muhammad SAW baik secara langsung maupun tidak langsung, terbuka maupun tertutup.

Propaganda itu dilakukan melalui ceramah di media TV internal mereka (TV Ahlul Bait Indonesia), you tube, berbagai website dan penerbitan buku, hal ini dilakukan guna menarik massa dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Penerbit Nur Al-Huda -Islamic Cultural Center (ICC) & Rausyan Fikr (Yogya) yang tergolong paling militan dalam penyebaran buku-buku provokasi dimaksud.

Syi’ah melembagakan Ritual Bid’ah Majelis Karbala, mengusung kebenaran padahal penuh dengan kedustaan belaka. Majelis Karbala adalah sebagai alat menarik massa, mensyi’ahkan kaum Sunni! Tragedi Karbala sejatinya mereka (Syi’ah) yang seharusnya bertanggungjawab! Merekalah yang berkhianat meminta Syaidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra datang ke Kuffah tapi mereka melakukan penghianatan yang keji! Mukhtar at-Tsaqafi adalah dalang penghianat, dia yang menerima kedatangan Muslim bin Aqil selaku utusan Syaidinia Husain ra, tapi dia yang meninggalkan Muslim bin Aqil hingga ia terbunuh.

Mukhtar at-Tsaqafi juga pernah melakukan upaya makar terhadap terhadap Syaidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Pasca peristiwa berdarah Karbala dia memanfaatkan situasi dan kondisi kesedihan umat dengan memimpin pembalasan darah. Dia menjual nama Muhammad Al-Hanafiah ra saudara seayah Syaidina Husain ra, dengan mengatakan bahwa dia telah mendapatkan restu dari Muhammad Al-Hanafiah ra.

Kebohongannya yang sangat kurang ajar dengan mengatakan bahwa Muhammad Al-Hanafiah ra adalah Imam Mahdi as dan dia adalah wakilnya! Tragedi Karbala telah menjadi ikon marketing agama Syi’ah, peringatan hari Asyura menjadi wajib bagi mereka. Mereka melebihkan hari Asyura dengan ratapan. Terlebih lagi tanpa puasa, sebagaimana sangat disunnahkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Apakah ini yang dinamakan madzhab Ahlul Bait, perlu diketahui penamaan ini hanyalah siasat mereka untuk menutupi jatidirinya “RAFIDHAH”! Mengapa demikian massif dan ofensifnya peringatan Tragedi Karbala itu dipropagandakan, jawabannya adalah membangkitkan rasa, paham dan semangat untuk membesarkan ajaran agama Syi’ah! Perlu dicatat upaya ini adalah salah satu dari sekian banyak strategi yang mereka kembangkan.

Khomeini sang Imam Besar Syi’ah mengatakan keberhasilan Revolusi Iran (1979) tidak lepas dari pelaksanaan tradisi Majelis Asyura yang telah berlangsung ratusan tahun di Iran. Mereka dengan licik telah memutarbalikkan fakta sejarah (distorsi), mereka menyembunyikan asal-muasal peringatan Karbala. Riwayat yang shahih menjelaskan bahwa penduduk Kuffah (Iraq) pada saat itu menyesali perbuatan para kaum lelaki mereka, kaum wanita ketika menyadari akibat penghianatan kaum lelaki mereka atas gugurnya Syaidina Husain ra di Karbala.

Mereka meratap, dan memukulkan kepala dan badan mereka dengan tangan mereka sendiri sebagai wujud penyesalan atas penghianatan besar kaum lelaki mereka. Pengakuan Khomeini tentang keberhasilan Revolusi Iran sangat identik dengan Ritual Karbala mengisyaratkan kepada kita bahwa terdapat potensi ekspansi Revolusi Iran ke berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia! Memang tidak secara langsung, akan tetapi ini dilakukan dengan sistematis dan terhubung secara emosional.

Pengembangan Ritual Karbala – yang sebenarnya hanya bersifat tradisi (budaya) Yahudi Persia – diberdayakan sedemikian rupa dengan label bagian dari agama serta mempunyai fadhilah yang besar bagi para pengikutnya JAMINAN BEBAS DARI SIKSA KUBUR DAN API NERAKA???. Di lain pihak, bagi kalangan yang tidak mengikuti Ritual Karbala tidak akan pernah mendapatkan pertolongan (syafaat) dari Syaidina Husain bin Ali bin Abi Thalib ra,  ketika menerima hukuman di akhirat (Neraka).

Melalui Imam Husain as seseorang yang pernah menangis dan meratap di peringatan Asyura yang berhak menerima pembebasan dari siksa Neraka. Kaum Syi’ah telah menjual nama Syaidina Husain ra suatu pelecehan besar, meniadakan hak Nabi Muhammad SAW sebagai pemegang kuasa syafaat dari Allah SWT. Sebenarnya, agenda besar dan terselubung dibalik itu semua adalah menjaring sebanyak mungkin pengikut, untuk kemudian menjadi kekuatan mereka dalam mendukung konsep Wilayatul Faqih, yang merupakan wakil Imam Mahdi as yang mereka klaim dalam masa ghaib sebagaimana tercantum secara jelas dalam Konstitusi (UUD) Republik Syi’ah Iran.

Sang Wilayatul Faqih atau lazim dipanggilkan Rahbar, adalah Ali Khamenei sebagai pengganti Khomeini. Semua organisasi Syiah di Indonesia bermuara pada kepentingan Iran, mewujudkan Syi’ah Global di semua negara Sunni.

ICC juga didirikan oleh Iran sebagai bentuk perpanjangan tangan dan pusat perekrutan. Melalui ICC pengiriman mahasiwa ke Universitas Iran dilakukan secara terbuka, termasuk mengadakan berbagai kursus gratis. ICC dibentuk langsung oleh Iran untuk kepentingan jangka panjang mereka sekaligus sebagai bayang-bayang negara Syi’ah Iran. Ini belum ditambah dengan banyaknya Masjid, Pesantren, Majelis Taklim baik dalam naungan IJABI LKAB, maupun ABI.

Konsep Wilayatul Faqih diberlakukan di berbagai negara dengan nama Marja at-Taqlid, sebagai perpanjangan Republik Syi’ah Iran! Lihatlah Lebanon (Hizbullah), Suria dan Irak mereka telah berhasil melemahkan dan mengembangkan kekuatan militer untuk menekan Sunni!. Kita harus membendung arus ekspansi mereka. “TIDAK ADA TAQRIB BAINA MADZAHIB ANTARA SUNNI DENGAN SYI’AH!” alasannya karena mereka telah menganggap kita – kaum Sunni – akan mati dalam keadaan jahiliyyah karena tidak berimam kepada imam mereka (keyakinan pada imam termasuk Rukun Iman Agama Syi’ah). 12 (dua belas) Imam yang mereka klaim, adalah suatu kebohongan, para imam bukan berpaham Syi’ah sebagaimana mereka katakan.

Menyakini paham Imam Syi’ah berarti menolak kekhalifahan Syaidina Abu Bakar ra, Syaidina Umar ra dan Syaidina Utsman ra, karena mereka dianggap oleh Syi’ah melakukan penghianatan terhadap Nabi Muhammad SAW yang menurut mereka telah mewasiatkan jabatan kepemimpinan (imam) kepada Syaidina Ali ra beserta keturunannya, terakhir imam ke-12 adalah Muhammad bin Hasan Askari (Imam Mahdi as yang saat ini diyakini sedang ghaib), padahal  Hasan Askari tidak memiliki anak sama sekali. Dengan mengedepankan taqrib mereka berlindung di balik ukhuwah Islamiyyah, mereka sah sebagai madzhab resmi dengan menggunakan nama samaran madzhab ahlul bait.

Mereka mengaku bukan Rafidhah & Ghulat, seakan mereka bagian dari Zaidiyyah. Padahal jelas-jelas Syi’ah yang di Iran, Lebanon, Suria, Irak dan negara lainnya, termasuk juga Indonesia adalah Imamiyyah – Itsna Asyariyah – Rafidhah. Jika memang mereka mengaku bagian dari Zaidiyah, mengapa Imam Zaid tidak dimasukkan dalam 12 imam mereka?, tentu suatu hal yang kontradiksi. Zaidiyah tidak mencaci-maki, melaknat apalagi mengkafirkan para sahabat, khususnya Khulafaur Rasyidin, tetapi mereka secara jelas dan nyata melakukan pencaci-makian, melaknat dan mengkafirkan.

Semoga umat Islam tidak terperdaya dengan segala bentuk penyembunyian jatidiri mereka, penuh kedustaan dengan taqiyyah-nya. Republik Iran juga Republik Taqiyyah menunggu datangnya Imam Fiktif mereka!.

Rasulullah SAW bersabda,

“Jika telah muncul fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah serta para sahabatku dicaci-maki, maka seorang alim harus menampilkan ilmunya. Siapa yang tidak melakukan hal itu maka ia akan terkena laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia”. Ditakhrij oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami’ fi Adab al-Rawi wa al-Sami’. (Kitab Muqaddimah Qanun Asasi Jam’iyah NU, hlm.25-26).

Al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, menulis kitab “Ar-Ra’at Al-Ghamidhoh fi Naqdh Kalam Ar-Rofidhoh”.  Al-Habib Salim bahkan telah “mengkafirkan Syiah Rofidhoh karena telah dianggap mencaci para khulafa’ rasyidin” di dalam kitab tersebut (hlm. 7-8 dan 11). Nubuat Nabi SAW, telah terbukti, masihkah kita berdiam diri, masihkah kita mengedepankan taqrib – ukhuwah Islamiyah?, masihkah kita tidak perduli? masihkah kita membiarkan hingga anak-anak keturunan kita menjadi target perekrutan mereka?.

Semua itu menjadi ancaman serius dan nyata, meniadakan Syi’ah Rafidhah sama saja kita mengingkari adanya matahari yang tiap hari kita lihat! (Ceramah Al-Habib Achmad bin Zein Al-Kaff). Syiah berbeda Rukun Iman dan Rukun Islamnya dengan kita, Syi’ah telah mengkafirkan sahabat mulia Nabi SAW yang dijamin masuk syurga oleh Allah, apakah masih kita katakan Syi’ah itu Islam? (Ceramah Al-Mukarrom Al-Ustadz M. Abu Jibriel AR). “Saksikanlah Wahai Semua Malaikat, Semua Manusia Bahwa Kami Telah Melaksanakan Kewajiban Perintah ALLAH SWT.”

Bagan Gerakan Sistematis Syi’ah Iran Di Indonesia (Ancaman Terhadap Aqidah & Negara)
Sumber: Buletin Lisan Hal

(Ukasyah/arrahmah.com/syiahindonesia.com)