Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Bantahan Klaim Kafir Syiah Terhadap Abu Bakar dan Umar RA

Syiahindonesia.com - Betapa banyak dari kita mendapatkan orang syiah begitu membenci Abu Bakr dan Umar rahiyallahu anhuma, lebih dari itu kebencian mereka telah melampui batas hingga mengkafirkan mereka dan menyatakan keduanya kekal di neraka dan dikekalkan di nerakan jahannam.

Sebenarnya dapat kami buktikan syiah adalah agama kontradiksi dan bertolak belakang. Akan saya buktikan kontradiksi mereka, melalui kitab-kitab syiah yang ada. Saya tidak ingin membuktikannya dari kitab-kitab sunni, karena sunni menyatakan dengan tegas bahwasanya keduanya adalah manusia terbaik setelah Rasulullah dari ummat ini. Akan tetapi saya akan buktikan kontradiksi mereka dari kitab-kitab syiah sendiri.

Syiah berteriak bahwasanya Abu Bakr dan Umar adalah manusia kafir, akan tetapi saya akan membuktikan

Bahwasanya Abu Bakr dan Umar adalah muslim mu’min.

Thoyyib, inilah bukti-bukti yang ada dalam kitab mereka sendiri, saya tidak melakukan khiyanat ilmiyyah sebagaimana yang dilakukan oleh dedengkot syiah baik Jalaluddin Rahmat (yang mana khiyanat ilmiyyahnya diketahui banyak orang dan dibongkar oleh Ustadz Idrus Ramli dalam sebuah seminar) ataupun istirinya sendiri Emilia Renita Az ( yang mana kami bongkar sendiri khiyanat ilmiyyah yang dilakukan olehnya dalam sebuah artikel  yang membahas nikah mut’ah dalam kitab sunnni, dan pada akhirnya dia telah menghapus artikel tersebut karena ketahuan akan khiyanat ilmiyyah yang dilakukan olehnya).  Untuk para syiah silahkan mengecheck langsung kitabnya dan membacanya, kami harapkan dari para syiah “jangan malas-malas untuk membaca karena yang kami dapati syiah adalah orang yang sangat malas untuk membaca buku dan hanya bersandarkan kepada copy paste dan yang sangat na’if mereka gemar menuduh orang dengan melakukan khiyanat ilmiyyah padahal mereka belum melihat kitab mereka sendiri, dan justru diri mereka sendiri yang melakukan khiyanat ilmiyyah. Apa mungkin dedengkot syiah tidak mengerti akan kitab mereka sendiri ??? “

Thoyyib, kita mulai saja pemaparan bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar bukanlah kafir sebagaimana yang termaktub dalam kitab-kitab syiah.

1- Ali bin Abi Tholib –imam ma’shum menurut mereka- telah shalat dibelakang Abu Bakr radhiyallahu anhu. Menurut kesepatakan syiah dan sunni, shalat dibelakang orang kafir adalah haram dan tidak sah jika dia mengetahui akan kekufurannya. Pertanyaannya untuk para syiah, jika Ali bin Abi tholib adalah ma’shum maka tidak mungkin beliau shalat dibelakang orang kafir. Bukankah ini menunjukkan bahwasanya Abu Bakr adalah muslim mu’min ??

Jika syiah menjawab, Ali bin Tholib tidak pernah shalat dibelakang Abu Bakr. Anda jangan memfitnah yang tidak-tidak.

Maka kami jawab: Thoyyib, kami dapat membuktikan Ali shalat dibelakang Abu Bakr radhiyallahu anhu dan akan ana buktikan bukan dari kitab sunni akan tetapi langsung dari kitab  syiah.

Disebutkan dalam kitab Al Ihtijaj karangan Ath Thobarsi:

أسماء بنت عميس قالت لجاريتها: اذهبي إلى منزل علي وفاطمة عليهما السلام، واقرأيهما السلام، وقولي لعلي " إن الملأ يأتمرون بك ليقتلوك فاخرج إني لك من الناصحين " فجاءت فقال أمير المؤمنين عليه السلام " قولي لها: إن الله يحول بينهم وبين ما يريدون. ثم قام وتهيأ للصلاة، وحضر المسجد، وصلى خلف أبي بكر، وخالد بن الوليد يصلي بجنبه، ومعه السيف

“Asma bintu ‘Umais berkata kepada budak perempuannya: Pergilah ke rumah Ali dan Fatimah alaihimas salam, dan sampaikanlah salam untuk mereka berdua. Dan katakanlah kepada Ali “Sesungguhnya orang-orang telah berkumpul (bermusyawarah) untuk membunuhmu, maka keluarlah sesungguhnyaaku adalah orang yang menasihatimu. Maka datanglah budaknya (kepada Ali), maka Akli berkata: “katakanlah kepada Asma’ bintu Umais: Sesungguhnya Allah membatasi antara mereka dan apa yang mereka inginkan. Kemudia Ali bangun dan menyiapkan diri untuk shlat dan kemudian datang ke masjid, dan shalat dibelakang Abu Bakr, dan Kholid bin Walid shalat disampingnya dan disisinya ada pedang” Al Ihtijaj 10/18

2- Ali telah membaiat kepada Abu Bakr dan Umar. Seandainya Ali adalah imam ma’shum, mengapa beliau membaiat Abu Bakr dan Umar (yang mana menurut syiah keduanya adalah kafir) ?? Sedangkan membaiat orang kafir untuk menjadi pemimpin adalah haram. Dari sini juga terdapat dua kemungkinan, kemungkinan pertama Ali tidaklah ma’shum karena dia telah melakukan kesalahan karena telah membaiat Ali.  Kemungkinan kedua Abu Bakr dan Umar adalah orang muslim mu’min pemimpin kaum muslimin.

Disebutkan oleh Imam besar syiah Muhammad Husain Alu Kasyif Al Ghito’ dalam kitabnya “Ashlu Asy Syi’ah Wa Ushuuluhaa”:

وحين رأى أنَّ المتخلّفين  أعني الخليفة الأول والثاني ـ بذلا أقصى الجهد في نشركلمة التوحيد ، وتجهيز الجنود ، وتوسيع الفتوح ، ولم يستأثروا ولم يستبدوا ، بايع وسالم

“Dan tatkala Ali Radhiyallahu anhu melihat 2 kholifah, yakni: Kholifah pertama (Abu Bakr) dan kholifah kedua (Umar) telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyebarkan kalimat tauhid dan mempersiapkan pasukan, dan menyebarkan penaklukan, dan mereka tidaklah egois dan tidak mendahulukan pendapat sendiri, lanta Ali membaiatnya dan menerimanya” Ashlu Asy Syiah Wa Ushuuluhaa  11/12

Lihatlah Ali telah membaiat Abu Bakr dan Umar, seandainya Abu Bakr dan Umar kafir tentulah Ali tidak akan mungkin berbaiat kepadanya. Disinilah bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhuma adalah muslim mu’min, jika syiah tidak mau menerima maka secara tidak langsung syiah tidak menyatakan Ali adalah orang yang ma’shum.

3- Ali bukan hanya membaiat Abu Bakr dan Umar melainkan menyatakan bahwasanya Abu Bakr lebih berhak untuk memegang khilafah. Disebutkan dalam sebuah kitab syiah “Syarh Nahji Al Balaghah” milik Ibnu Abdil Hadid, bahwasanya Ali berkata:

 و إنا لنرى أبا بكر أحق الناس بها إنه لصاحب الغار و ثاني اثنين و إنا لنعرف له سنه و لقد أمره رسول الله ص بالصلاة و هو حي

“Sesungguhnya kami melihat Abu Bakr lebih berhak dengan kekholifahan itu, karena sesungguhnya dia adalah seseorang yang tinggal di gua kedua di antara dua orang (bersama Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam) dan kami mengetahui akan kehidupannya dan sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menjadi imam shalat sedangkan Rasulullah tatkala itu masih hidup” Syarh Nahj Al Balaghoh 243/3

4- Ali membujuk Umar agar tidak pergi memerangi musuh dengan dirinya sendiri (cukuplah Umar mengutus pasukan dan Umar tidak usah ikut berperang). Karena Ali takut jika Umar wafat dikarenakan hal tersebut, sedangkan Umar adalah Marja’ (tempat rujukan utama) kaum muslimin tatkala itu. Ali berkata kepada Umar, sebagaimana yang disebutkan dalam “Nahju Al Balaghah”:

 إِنَّكَ مَتَى تَسِرْ إِلَى هَذَا اَلْعَدُوِّ بِنَفْسِكَ فَتَلْقَهُمْ فَتُنْكَبْ لاَ تَكُنْ لِلْمُسْلِمِينَ كَانِفَةٌ دُونَ أَقْصَى بِلاَدِهِمْ لَيْسَ بَعْدَكَ مَرْجِعٌ يَرْجِعُونَ إِلَيْهِ فَابْعَثْ إِلَيْهِمْ رَجُلاً مِحْرَباً وَ اِحْفِزْ مَعَهُ أَهْلَ اَلْبَلاَءِ وَ اَلنَّصِيحَةِ فَإِنْ أَظْهَرَ اَللَّهُ فَذَاكَ مَا تُحِبُّ وَ إِنْ تَكُنِ اَلْأُخْرَى كُنْتَ رِدْءاً لِلنَّاسِ وَ مَثَابَةً لِلْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya kapan engkau pergi dirimu menuju musuh kemudian engkau bertemu dengan mereka maka akan dapat celaka. Maka tidak ada tempat berlindung untuk kaum muslimin selain negri mereka yang jauh. Tidak ada marja’ (tempat rujukan) setelah mu yang mana kaum muslimin merujuk padanya. Maka cukuplah engkau mengutus seseorang yang pintar berperang dan ajaklah bersamanya orang yang pintar menasihati. Jika Allah berkehendak untuk mengunggulkannya maka itulah yang engkau inginkan dan jika malah terjadi suatu hal yang lain maka engkau adalah penolong manusia dan tempat bersandarnya kaum muslimin” Nahju Al Balaghah

5- Ali memuji Umar bin Khottob radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau telah melakukan kebaikan dan orang yang selalu melakasanakan ketaatan Allah dan selalu bertakwa kepadaNya. Ali berkata sebagaimana yang disebutkan dalam kitab yang sama “Nahju Al Balaghah”:

فقد قوم الأود و داوى العمد و أقام السنة و خلف الفتنة ذهب نقي الثوب قليل العيب أصاب خيرها و سبق شرها أدى إلى الله طاعته و اتقاه بحقه

“Dia telah meluruskan kebengkokan-kebengkokan dan telah menghilangkan penyakit-penyakit dan telah menegakkan sunnah dan membelakangi fitnah. Dia pergi dalam pakaian yang bersih, dia adalah orang yang tidak banyak celaan. Dia telah melakukan kebenaran dan melampaui kesalahan-kesalahan yang lalu. Dia telah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan bertakwa kepadanya dengan menjalankan hak-hakNya” Nahj Al Balaghah

6- Ali sangat menjunjung tinggi Abu Bakr dan Umar radhiyallahu anhum. Disebutkan dalam kitab syiah “Asy Syaafii Fii Al Imaamah” bahwasanya Ali ditanya siapakah khulafa ar rasyidin, maka beliau menjawab:

هما حبيباي وعماي أبو بكر وعمر، إماما الهدى، وشيخا الإسلام، ورجلا قريش، والمقتدى بهما، بعد رسول الله (صلى الله عليه وسلم)، فمن اقتدى بهما عصم، ومن اتبع آثارهما هدي إلى صراط مستقيم، ومن تمسك بهما فهو من حزب الله، وحزب الله هم المفلحون

“Mereka berdualah adalah kecintaanku dan kedua pamanku, yakni Abu Bakr dan Umar. Mereka berdua adalah Imam petunjuk, syaikhul islam, orang dari quraisy, yang mana mereka berdua diikuti setelah Rasulullah shallallahu alihi wa sallam maka barang siapa yang mengikuti keduanya maka dia telah teguhkan, dan barangsiapa yang mengikuti jalan keduanya maka dia telah diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan keduanya maka dia temasuk dari kelompok Allah dan kelompok Allah adalah orang-orang yang beruntung” Asy Syafi Fii Al Imamah 49/7

Ini hanya sedikit dari kami, dan inilah bukti bahwasanya Abu Bakr dan Umar bukanlah Kafir sebagaimana yang dikatakan syiah. Disinilah bukti akan kontradiksi ajaran mereka maupun ucapan mereka. Setelah melihat bukti-bukti ini, adakah orang syiah yang masih menganut ajaran sesat “syiah”?? Jawabannya: bisa jadi ada, dan itu hanyalah orang-orang yang dungu dan bodoh kuadrat. (alamiry.net/syiahindonesia.com)

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Berdialog dengan Seorang Ustadz Sunni, Emilia Renita Selalu Ngeles

Syiahindonesia.com - Langsung saja, kali ini admin akan mengajak para pembaca yang budiman untuk sedikit menyimak betapa seorang Emilia Renita sangat kaku dan berbelit-belit dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di diskusikan dalam sebuah dialog bersama salah seorang Ustadz Sunni bernama Muhammad Abdurrahman al-Amiri, seorang aktifis dakhwah yang juga produktif menulis artikel-artikel seputar kesesatan Syiah di blognya, alamiry.net.

Berikut dialog antara Muhammad Abdurrahman al-Amiri dengan dedengkot Syiah Indonesia, Emilia Renita AZ. Selamat menyimak;

***

Alhamdulillah dialog tadi malam mengenai syiah sudah ada dalam website "Kajian Al Amiry". Semua pemirsa dan penyimak dapat mengetahui mana yang haq dan mana yang bathil. Berikut isinya:

Alhamdulillah, dialog kami (Muhammad Abdurrahman Al Amiry) bersama Pembesar Syiah Indonesia (Emilia Renita Az) telah berlangsung. Dan banyak ikhwah yang menyaksikan dialog kami berdua. Dan yang menyaksikan dialog tersebut ada yang dari kalangan sunni maupun syi’i (Walaupun dialog berjalan kurang lancar karena adanya komentar lain yang bermunculan baik dari sunni maupun syiah). Akan tetapi dialog sudah di saring, yang hendak melihat dialog lengkapnya silahkan kunjungi akun facebook Al Amiry. Berikut adalah ringkasan dialog yang berlangsung antara kami dan Emilia Renita Az tadi malam.

=> Kami (Al Amiry) berkata:

“Jumat malam sebagaimana yang dijanjikan Emilia Renita Az”

Jikalau malam ini juga tidak ditanggapi olehnya, maka dialog dianggap selesai dan cara yang akan dilakukan oleh kami untuk membongkar kesesatan dan kekufuran syiah bukan dengan cara dialog melainkan hanya bantahan apa yang dikatakan olehnya tanpa melakukan dialog.

Tema yang belum dituntaskan adalah "Nikah Mut'ah".

Bagaimana seorang syiah terutama dedengkotnya (Emilia Renita) tidak menerima syariat nikah mut'ah dan bahkan menyatakan mut'ah adalah amalan jorok yang mana pelakunya tidak bisa menjaga iffah.

Padahal secara nash, dalam kitab-kitab syiah banyak riwayat yang melaknat dan mengancam orang yang tidak melakukan nikah mut'ah.

Seandainya nikah mut'ah adalah ibadah kenapa harus malu untuk menyatakan "Iya"

Sebagaimana nikah syari yang dilakukan oleh sunni, mereka bangga dengan nikah syari yang mana diumumkan dengan walimatul ursy.

Kenapa dedengkot syiah malu ataukah ini taqiyyah yang dilakukan olehnya ??

Pembahasan belum selesai, kalau malam ini juga tidak ditanggapi, maka dialog dianggap selesai karena dialog yang dilakukan olehnya, kami anggap tidak fair. Karena ditunda tanpa kejelasan bahkan jauh dari hari yang ditetapkan”.

===============

Setelah beberapa waktu muculnya undangan ini, akhirnya Emilia Renita menangapi. Akan tetapi yang lucu dan sedikit menggelitik diri saya adalah ternyata si Emilia malah menanggapi kami dengan dalil akan kebolehan nikah mut’ah dengan cara pembawaan dalil yang serampangan. Padahal yang jadi tema pokok pembahasan adalah “Mengapa Emilia menolak amalan nikah mut’ah sedangkan dia adalah pembesar syiah” sebagaimana beberapa hari yang lalu dia menyatakan bahwasanya Nikah Mut’ah adalah amalan jorok dan yang melakukan nikah mutah adalah orang yang tidak bisa menjaga iffahnya. Maka kami katakan kepadanya:

=> Al Amiry:

Anda wahai Emilia telah keluar dari pembahasan.

Ingat, anda telah mengatakan bahwasanya anda tidak mau nikah mut'ah seharusnya anda membawakan dalil akan keharaman nikah mut'ah dalam kitab-kitab syiah bukan malah memabawakan dalil yang membolehkan nikah mutah.

Bukan kah anda yang menyatakan bahwasanya mutah itu jorok ?? Kenapa sekarang anda malah membolehkannya ?? Kontradiktif

Bukankah ini kebalik??

Kalau anda membawakan dalil yang membolehkan mut'ah, maka ana bertanya kepada anda, berapa kali anda mut'ah ?? Sudah 4 kali kah ?? sehingga derajat anda seperti nabi ??

=> Emilia:

Saya tidak pernah bilang mut'ah itu jorok.. Saya ini syiah yang TIDAK MUNGKIN MENGHARAMKAN NIKAH MUT'AH, karena itu ada dalil kuat untuk MENGHALALKANNYA. Tapi saya jelaskan saya tidak melakukannya karena tidak semua yang halal dalam al-qur'an harus kita lakukan. NIKAH MUT'AH adalah solusi buat para wanita menjaga iffahnya.

=> Al Amiry:

Thoyyib. Perkataan anda yang pertama wahai Emilia: “Tapi saya jelaskan saya tidak melakukannya karena tidak semua yang halal dalam al-qur'an harus kita lakukan. NIKAH MUT'AH adalah solusi buat para wanita menjaga iffahnya”.

Tanggapan kami: Memang semua yang halal tidak harus dilakukan, akan tetapi nikah mut’ah dalam ajaran syiah bukan hanya sekedar halal tapi “wajib”. Karena ada riwayat syiah yang mengancam orang-orang yang tidak melakukan nikah mutah. Jadi anda pun wajib melakukannya karena mut’ah bukan hanya sekedar halal tapi wajib karena ada ancaman bagi yang meninggalkan mut’ah. Salah satu ancaman dalam kitab syiah bagi orang yang tidak melakukan nikah mut'ah:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَمَتَّعْ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَجْدَعُ

"Barang siapa yang keluar dari dunia (wafat) dan dia tidak nikah mut'ah maka dia datang pada hari kiamat sedangkan kemaluannya terpotong" Tafsir manhaj ash shadiqin 2/489

Perkataan anda yang kedua: “NIKAH MUT'AH adalah solusi buat para wanita menjaga iffahnya”.

Tanggapan kami: Kemarin anda menyatakan yang nikah mutah adalah orang yang tidak menjaga iffah.. Sekarang anda malah menyatakan bahwasanya nikah mut’ah adalah jalan untuk menjaga iffah. Sungguh perkataan yang aneh alias “kontradiktif”

=> Emilia:

Dimana dan kapan saya bilang," nikah mutah adalah orang yang tidak menjaga iffahnya" ?

Ini saya berikan lagi jawaban saya kemarin. tolong jangan dibalik-balik atau mengambil kesimpulan sendiri, Perkataan saya: "... Itu pertanyaannya vulgar Banget . Aku ga pernah mut'ah, & aku ga minat mut'ah. Apa ga ada pertanyaan yang lebih normal? Aku ini syiah, yang sangat menjaga iffaah. Aku jg ga tersentuh laki2 selain muhrimku. Jd jangan memfitnah aneh-aneh. Aku ga seburuk yang kalian tuduhkan kpdku"

Jika anda menyatakan tidak mau mut'ah berarti sama saja anda menyatakan mut'ah adalah haram ..( dan BUKAN BERARTI SAYA MENGHARAMKAN NIKAH MUT'AH )

=> Al Amiry:

Thoyyib.. Lantas perkataan anda yang di atas silahkan ditafsirkan.

Silahkan ditafsirkan oleh anda, Langsung saja to the point dengan pernyataan yang jelas.

Saya tanya kepada anda “apakah dengan kalimat diatas, anda mendukung mutah atau malah mengharamkannya.. ??”

Jika anda menyatakan ada syariat mut'ah, kenapa anda malah tidak mau mut'ah ??

Sedangkan dengan jelas, ada nash riwayat akan laknat yang tidak nikah mut'ah..

=> Emilia:

Makanya dibaca dong, ustad.. Kan MUT'AH ITU JENIS-JENIS PERNIKAHAN dalam Islam yang tertulis dalam al-Qur'an, sehingga syarat-syaratnya sama dengan nikah daim juga. Sebagai istri tentu saya tidak bisa nikah mut'ah dan YA, BUAT SAYA NIKAH MUT'AH ITU HARAM KARENA SAYA ISTRI ORANG. Sebagaimana DAGING KAMBING juga HARAM buat orang yang sakit darah tinggi dll, misalnya.

" Juga Jika anda menyatakan ada syariat mut'ah, kenapa anda malah tidak mau mut'ah ?? " - Ya karena secara syar'i, nikah mut'ah tidak bisa dilakukan seorang istri yang bersuami

"Sedangkan dengan jelas, ada nash riwayat akan laknat yang tidak nikah mut'ah.." _ saya tidak pernah menemukan tuh, riwayat laknat untuk yang tidak nikah mut'ah. mohon dibuktikan

=> Al Amiry:

Perkataan anda wahai Emilia: “Ya, nikah mut’ah itu haram karena saya istri orang, Ya karena secara syar'i, nikah mut'ah tidak bisa dilakukan seorang istri yang bersuami”.

Maka kami tanggapi: Tadi anda, katakan bahwasanya anda tidak melakukan nikah mut’ah karena “semua yang halal tidak wajib dilakukan” sekarang anda malah beralasan “karena saya istri orang”.

Berganta-ganti alasan kah ??

Thayyib, kedua-duanya akan kami jawab.

Adapun Alasan Emilia yang pertama: “Semua yang halal tidak wajib dilakukan”.

Maka tanggapan kami: Ini sudah kami, jawab. Yang dipermasalahkan dalam tema “bukan halal atau tidak halalnya mut’ah”. Akan tetapi yang jadi masalah adalah “nikah mut’ah bukan hanya sekedar halal dalam ajaran syiah akan tetapi wajib”. Karena ada hukuman bagi orang yang tidak melakukan nikah mut’ah, seperti dilaknat dan kemaluannya akan terpotong pada hari kiamat.

Adapun alasan Emilia yang kedua: “YA, BUAT SAYA NIKAH MUT'AH ITU HARAM KARENA SAYA ISTRI ORANG, Ya karena secara syar'i, nikah mut'ah tidak bisa dilakukan seorang istri yang bersuami”

Maka tanggapan kami: “Justru, ulama anda sepakat akan kebolehan nikah mut’ah bagi seorang wanita yang sudah nikah alias sudah punya suami”. Disebutkan dalam kitab syiah:

يجوز للمتزوجة ان تتمتع من غير أذن زوجها ، وفي حال كان بأذن زوجها فأن نسبة الأجر أقل ،
شرط وجوب النية انه خالصاً لوجه الله

“Diperbolehkan bagi seorang istri untuk bermut’ah (kawin kontrak dengan lelaki lain) tanpa izin dari suaminya, dan jika mut’ah dengan izin suaminya maka pahala yang akan didapatkan akan lebih sedikit, dengan syarat wajibnya niat bahwasanya ikhlas untuk wajah Allah” Fatawa 12/432

Jadi, adanya jalaluddin atau tidak adanya jalaluddin itu bukanlah masalah bagi anda untuk nikah mutah lagi menurut ajaran syiah. Akantetapi menagapa anda malah berpegang teguh tidak mau mut’ah sedangkan ada ancamannya ??

Dan perktaan anda wahai Emilia: “Saya tidak pernah menemukan riwayat yang melaknat orang yang tidak nikah mut'ah. mohon dibuktikan”

Maka kami tanggapi: “Thoyyib, akan kami buktikan riwayat yang melaknat orang yang tidak melakukan nikah mut’ah” Disebutkan dalam salah satu kitab syiah:

أن الملائكة لا تزال تستغفر للمتمتع وتلعن من يجنب المتعة إلى يوم القيامة

"Bahwasanya malaikat akan selalu meminta ampun untuk orang yang melakukan nikah mutah dan melaknat orang yang menjauhi nikah mutah sampai hari kiamat" Jawahir Al kalam 30/151

Riwayat lainnya:

أن المتعة من ديني ودين آبائي فالذي يعمل بها يعمل بديننا والذي ينكرها ينكر ديننا بل إنه يدين بغير ديننا. وولد المتعة أفضل من ولد الزوجة الدائمة ومنكر المتعة كافر مرتد

"Nikah mutah adalah bagian dari agamku dan dagama bapak-bapakku dan orang yang melakukan nikah mutah maka dia mengamalkan agama kami, dan yang mengingkari nikah mutah dia telah mengingkari agama kami, dan anak mutah lebih utama dari anak yang nikah daim dan yang mengingkari mutah kafir murtad” Minhaj Ash Shodiqin hal. 356

Kasihan kalau pembesar syiah tidak mengetahui fatwa seperti ini.

Karena sudah ada fatwa ittifaq dari ulama-ulama syiah akan kebolehan istri bermutah tanpa izin suami, maka mengapa anda tidak melakukan mut’ah ?? Sedangkan sudah ada jelas nash riwayat yang melaknat orang yang tidak ingin mut’ah.

Kami ulangi riwayat yang sudah disebutkan paling atas akan ancaman syiah yang tidak melakukan nikah mut'ah:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا وَلَمْ يَتَمَتَّعْ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ أَجْدَعُ

"Barang siapa yang keluar dari dunia (wafat) dan dia tidak nikah mut'ah maka dia datang pada hari kiamat sedangkan kemaluannya terpotong" Tafsir manhaj ash shadiqin 2/489

===================================

Lama tidak dijawab olehnya, akhirnya Emilia lari dari tema pembahasan. (Entah apa yang membawanya lari dari tema pembahasan)

=> Emilia berkata:

MANA LEBIH AFDOL ANTARA PERNYATAAN UMAR DENGAN AYAT TSB DI BAWAH INI ?

BUATAN UMAR : Aṣ-ṣhalātu khayru min an-naūm [ Solat itu lebih baik dari tidur ]

Al `Ankabuut 29:45

Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

RIWAYAT UMAR MERUBAH AZAN SUBUH

dirawikan oleh Imam Malik dalam kitab Al-Muwattha', pada bab "Tentang Seruan Untuk Shalat", bahwa muazin mendatangi Umar bin Khaththab untuk memberitahu tentang tibanya waktu shalat Subuh. Ketika dijumpainya Umar masih tidur, si muazin berkata: "Ash-shalatu khayrun min an-naum". Maka Umar memerintahkan agar kalimat itu dimasukkan ke dalam azan Subuh.

Shahih Al-Bukhari (Bab "Azan") atau permulaan Bab "Shalat" (Pasal tentang sifat atau cara Azan) dari Shahih Muslim
Khalifah Umar adalah orang yang pertama yang menambahkan perkataan
"al-Solah Khairun mina n-Naum." Ianya tidak dilakukan oleh Rasulullah
SAWA.[al-Halabi, al-Sirah, hlm.110]

Al-'Allamah Az-Zarqani — ketika sampai pada hadis ini dalam Syarh Al-Muwattha' — menulis sebagai berikut: Berita tentang ini dikeluarkan oleh Ad-Daruquthni dalam Sunan-nya yang dirawikan melalui Waki' dalam kitabnya, Al-Mushannaf, dari Al-'Amri, dari Nafi', dari Ibn Umar, dari Umar bin Khaththab.

Az-Zarqani menulis selanjutnya: Ad-Daruqutni juga merawikannya dari Sufyan, dari Muhammad bin 'Ajlan, dari Nafi', dari Ibn Umar bahwa Umar berkata kepada muazin: "Jika engkau sudah menyerukan Hayya 'alal-falah di waktu azan Subuh, maka katakanlah: Ash-shalatu khayrun min an-naum (dua kali)."

=> Al Amiry:

Beginilah, percumanya kalau dialog bersama syiah. Lari dari tema karena gak bisa jawab.

Adapun riwayat "AshSholatu khoirun minan naum” dalam shalat shubuh itu bukan Umar bin Khottob yang buat melainkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Adapun kalau Umar yang buat, maka sah-sah saja.. Karena sunnah khulafa ar rasyidin harus dipegang. Rasulullah bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

"Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnah ku dan sunnah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk. Dan berpegang teguhlah dan gigitlah dengan gigi graham kalian" HR Tirmidzi abu dawud dll

Adapun riwayat tadi, maka bukan Umar radhiyallahu anhu yang membuatnya. Tapi langsung dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lihat riwayat ini:

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي سُنَّةَ الْأَذَانِ؟، قَالَ: فَمَسَحَ مُقَدَّمَ رَأْسِي، وَقَالَ: " تَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، تَرْفَعُ بِهَا صَوْتَكَ، ثُمَّ تَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، تَخْفِضُ بِهَا صَوْتَكَ، ثُمَّ تَرْفَعُ صَوْتَكَ بِالشَّهَادَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ "،

"Dari Muhammad bin abdil malik, bin Abi mahdzurah dari bapaknya dari kakenya. Dia berkata: Wahai Rasulullah ajarkan aku sunnahnya azan. Rasul bersabda: Kamu katakan: Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar Allahu akbar.. Asyhadu an laa ilaaha illallah.. (hingga lafadz azan yang terkahir yang ada dalam riwayat) Kemudianpada akhir hadits, Rasulullah bersabda: Jika kamu dalam shalat shubuh, maka katakanlah Ash sholatu khoirun minan naum, ashhaltu khoirun minan naum, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laailaaha Illalah" HR Abu Dawud

Lihat akhir hadits diatas. Jadi sangat jelas bukan Umar yang membuat-buat, akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Jadi anda jangan lari cerita.. Tema yang pertama saja belum anda tuntaskan sudah mau lari cerita.

===============

Lama tidak dijawab oleh Emilia, maka kami katakan:

=> Al Amiry:

Ikhtitam (Penutupan) dari ana:

"Karena tidak ada tanggapan lagi dari emilia renita, dan karena jawabannya wara-wari. Gak pernah connect dan lari-lari tema karena gak bisa jawab. Yang dari awal sampai akhir, lari cerita terus bahkan bertentangan dengan fatwa ittfaq dari ulama syiah.

Bahkan, malah lari cerita ke Azan.. Sangat miris, jika dialog sama mereka yang seperti ini. Tidak pernah fokus dan selalu locat-loncat. Padahal dulu, dia sendiri yang minta dialog agar fokus pada tema dan gak loncat-loncat. Ternyata dia sendiri yang melanggar permintaannya.

Maka karena waktu sudah larut, kami hendak off. Walhasil, ternyata dialog yang kami lakukan berjam-jam tidak membuah kan hasil yang jelas dari Emilia.. Bahkan sikap Emilia sangat bertentangan dengan nash-dan ulama-ulama syiah.

Inilah bukti tidak konsekuennya dia dalam ajaran syiah, itulah sebab taqiyyah yang ada dalam syariat syiah. Jadi biasakanlah selalu jujur dan jangan selalu bohong, Karena kebohongan juga akan kecium bau busuknya dan ujung-ujungnya akan mengundang kontradiktif.

Akhir kalam, ana hendak off. Dan para penonton dan penyimak sangat bisa mengambil faidah dan bisa menilai mana yang benar dan mana yang koneskuen dan mana yang tidak.

Jazakumullah khoiran atas perhatian antum semua. Insya Allah dialog akan segera diterbitkan dan disusun dalam website "Kajian Al Amiry". Wassalam alaikum Ya ikhwaanii Al Kiraam. Baarokallahu fiikum ikhwaanii As Sunniyyin.

===============

=> Emilia:

“Ma'aaf internet mati, jadi baru bisa nyambung lagi sekarang. Tapi saya sudah menjawab semua yang ditanyakan , dan TIDAK menjawab beberapa fitnah yang dituduhkan juga pertanyaan yang mengulang-ulang. Kalau saya memberikan artikel tentang azan sebetulnya untuk menyentil mereka yang juga memberikan kepada buku SD, gambar kaos dll yang sebetulnya ga related ke perbincangan kita. Masa mereka bisa, saya ga bisa? Ga nyambungnya saya, hanya supaya kalian juga introspeksi betapa ga nyamannya, diskusi dengan adab seperti itu. Terima kasih kepada kalian yang menghormati majelis ilmu ini terutama Ust yang memfasilitasi diskusi ini dan semua yang mendoakan saya.. Doa yang sama dari saya untuk semua. Terima kasih. Allahummuwaffiq..”

Selesai dialog..

===============

Beberapa komentar dari orang lain dalam dialog:

è Beneer-bener diskusi keren,,!!! Ujung-ujungnya Ibu Syiah pusing mau jawab apa,,akhirnya mencong sana mencong sini,,kpan-kapan kita lanjut lagi,,tapi penonton hendaknya menyimak saja,,jangan banyak Comment,,yo...!!!

è “Saya saat ini ada di majelis bersama sekitar 20an orang rekan saya sedang menyimak. Dan kami bersama guru kami sependapat.. Syi'ah memang bodoh”

è Gini aja teman-teman, gimana kalau di adakan dialog di darat, Ustad Al Amiry vs Emilia Renita Az laknatulloh, insya Alloh ana siap menangung biayanya. Gimana antum-antum semua setuju?

è “Terbukti hanya orang-orang bodoh dan Tolol saja yg mau termakan rayuan agama abal-abal syiah laknatulah ini...sekian dan terima gajih!!!”

è “Satu satu bunda selesaikan... Jangan mengalihkan tema pembahasan yg belom Kelar... Jangan kayak anak smp bu, ...”

è Alhamdulillah, saya sudah sukses melaksanakan nikah mut'ah, sekali langkah belasan tahun tak berakhir... semoga setiap muslim sukses melaksankan amaliah syar'i' yang menjadi hak dan pilihannya. Seandainya Saudara Al-Amiry membuka hatinya untuk mengimani Islam Muhammadi yang syari'atnya terbukti oetentik-valid-teruji, tentu saudara2 seiman tidak akan memaksa Sdr Al-Amiry untuk melaksanakan amaliah apapun yg tidak wajib, dan juga tidak akan pernah menghalanginya untuk melaksankan amaliah yg tidak haram..” (komentar dari syiah)

è Kalau anda ingin berdebat dengan pembesar syiah panggil dulu pembesar dari kalangan anda, kalau menanggapi saya saja anda sudah ketar ketir apalagi menanggapi pembesarnya. Ilmu itu sesuai tingkatan dan anda bahkan belum bisa membedakan halal dan wajib. (Komentar dari syiah yang kepanasan karena Al Amiry hanya menanggapi Emilia Renita adapun dia selalu dicuekin oleh Al Amiry kecuali hanya beberapa kali)

è Hahaha...!!! Alfan Arrasuli menganggap Ustad Al-Amiry ketar ketir menjawab pertanyaannya.... Padahal, justru ustadz Al-Amiry MALU dan JIJIK untuk jawab pertanyaan si Arrasuli yang HANYA SYEITHON yang bisa pahami

è “Aduh..jangan ganti topik dulu dong bunda.. Sat usatu diselesaikan dulu sampai tuntas..tas..jangan nggantung gini dunk...apa ini salah satu strategi ngeles ya?”

è “Pritt priit..! satpam lewat..! yang lain diem ajj..!! atau banned.wkwkwk”

è “Pernyataan Bu Emilia Renita Az diatas kontadiktif dengan pernyataan yang telah lalu. Yaa ikhwah, jangan memperkeruh suasana. Biarkan mereka berdua (Ustadz Al-Amiry dan Bu Emilia) berdiskusi”.

è Ibarat anak sekolah yang lagi ngerjain test essay, yang penting lembar jawaban penuh dengan tulisan..nggak penting jawabanya nyambung apa enggak, menjawab pertanyaan apa enggak, bener apa enggak tp yg penting penuh tulisan...*jangan-jangan tulisannya juga cuma copy paste lagi”

è “Yang menjaga iffahnya itu lohh.. kok di tanya sudah mut'ah berapa kali di bilang fitnah, seharusnya bangga sebagai syiah .. hhe

è Ibu Renitaa.. kok malah kemana-mana jawabannya ?? Malah anda bertanya diluar tema ??? Kan anda sebagai IBUNDA PARA PENGIKUT SYIAH.. Mohon jawab dengan JELAS dan TEGAS pertanyaan dari ustadz Al-amiry, semua orang akan menilai setiap jawaban dan argumen anda, semoga setiap orang yang membaca ini akan terbuka mata hati dan pikirannya APA dan BAGAIMANA SYIAH SEBENARNYA..

è Nyimak* Tapi pasti sudah memprediksi endingnya. Syiah pasti mbulet dan ujung2nya kabur kaya yg sudah-sudah. Dengan alasan debat tidak ada manfaatnya”

è “Baik nya semua diam,biarkan debat one by one. Ane pusing ni ol di hp. Sayang kalau dilewatkan debat ini”

è “Bantahnya yang ilmiah dong, jangan cuma bantah bilang itu fitnah, ini fitnah, tapi lihat sendiri di kitab2 syiah anda, jangan2 anda gak pernah baca kitab2 ulama anda sendiri, karen sibuk mencari2 dalil di kitab sunni, dan ditafsirkan dengan penafsiran yahudi .. hehe”

è BAIK BAGI SEMUANYA, JANGAN KOMENTAR LAGI, DAN ARRASULI JANGAN DITANGGAPI.... BIARKAN USTADZ AL-AMIRY BERBICARA KEPADA DEDENGKOT SYI'AH SI RENITA ITU, BIAR SEMAKIN JELAS KEBENARAN DAN KEBATHILAN....

è Masak yang di ajak diskusi ini betul istri jalaludin rahmat... (kok tu la lit banget...) gitu.. hehhee...

è Ini yang diajak diskusi Emilia Renita Az Ratu Syi'ah apa anak PAUD ya? Jawabanya wara wiri.

è Penutup saya untuk Emilia Az > Teruslah anda menebarkan kesesatan anda dengan menerbitkan buku-buku anda, di saat itu pula SAYA akan jauh lebih gencar memperingati MANUSIA INDONESIA akan bahaya anda dan suami anda...! Jika anda hanya bisa melalui buku. Saya, selain lewat buku, akan juga melalui dakwah langsung.

è Apa nya yg nggak menarik wahai pak Abdi Mahdi (Abdi Mahdi adalah orang syiah)? diskusinya ya? ya jelas nggak menarik lah..Lha wong jawabanya muter-muter nggak karu-karuan kayak gitu..nunggunya aja udah beberapa hari yg lalu, eh tanggapanya nggak memuaskan...tapi sebagai penonton yg smart pasti udah taulah..udah bisa menilai mana yg haq dan yang bathil...

è Padahal cemilan masih banyak nih...... Capek deh!!!! terima kasih Ustdz Muhammad Abdurrahman Al Amiry

è Yah,,, bu Emil. Ustadz Al amiry dah Off, anda baru muncul.. Telat. jazakallah Ustadz Al amiry.. atas penyampaian ilmunya. ana tunggu kelanjutannya. Barakallahufiikum.

è Harusnya kalo diskusi gini face to face ya..biar nggak ada alasan buat 'ngeles' atau ngabur..dari tadi ditungguin nggak nongol-nongol. Eh giliran dah kelar baru nongol...taqiyah oh taqiyah... *

è Persoalan nikah Mut'ah gak usah jauh jauh di FB ini dulu ada yg nikah mut'ah...nama akun nya jjihad ali dan sang cewek akun nya UUT Utami..kedua akun ini udah hilang kenapa bisa hilang? maluuuuu!! kok bisa Malu? karena kebongkar ama gw !! kok gw bisa bongkar?? karena gw mengunakan ilmu Taqiyah ala syion juga ceritanya begini ::: UUt utami sengaja gw dekati,hingga kenalah hati nya menganggap gw sebagai teman nya,dia bercerita semua,kadang kita inbox-inboxan sampai malam... dan puncak nya adalah UUT utami dengan kepercayaan nya kpd gw bercerita bahwa dia baru saja melangsungkan nikah mut'ah via phone dengan akun JJIHAD ALI( yg org syiah disebut ustad) ...pengakuan nya gw SS dan demi Alloh gak ada rekayasa apalagi fitnah !!! uut mengakui bahwa dia menikah mut'ah via phone....semenjak SS nya gw tayangin secara jelas di publik FB uut marah super pakai bangattttt.merasa dilecehkan !! pertanyaan nya : kalau nikah mut'ah itu bernilai ibadah kok merasa dilecehkan? . seharus nya bangga donk !! dah melakukan sebuah kebajikan ...tapi ini malah kebalik doi malu hingga menonaktifkan akun nya sendiri,Mngkin Si istri jalaludin no rahmat ini pasti taulah si UUT LOL (Kisah orang yang nikah mut’ah akan tetapi malu tatkala ketahuan oleh orang banyak)

è Dakwah sudah disampaikan oleh ustadz Muhammad Al Amiry, maka kita sebagai penuntut ilmu ,Mari kita Bantu dengan doa... Doakan ibu Emilia Renita Az ini agar diberi hidayah oleh Alloh Dan menjadi ahlus sunnah yang kelak memerangi syiah ...bukan Hal yang mustahil saudaraku..karena tidak Ada yg mustahil ketika Alloh sudah berkehendak... Doakan beliau ibu emilia renita disetiap waktu mustajab... Doakan agar hidayah menyapa nya... Dan doa ku untuk mu wahai ustadz Muhammad abdurrahman ..smoga Alloh menjaga antum Dan memberkahi ilmu antum...

===============

Walhasil, Emilia tetap terjatuh dalam salah satu dari 2 kesalahan.

Kesalahan peratama: Menghalalkan mut'ah (walaupun perkataannya kontradiktif dengan perkataan yang kemarin)

Kesalahan kedua: Tidak mau nikah mut'ah yang mana ajaran syiah jelas mengancam penganutnya yang tidak melakukan nikah mut'ah.

Kesalahan pertama diancam oleh sunni, kesalahan kedua diancam oleh syiah. Dan sampai sekarang Emilia Renita Az tidak memiliki mauqif (sikap) yang jelas dan tegas untuk memilih salah satu dari keduanya.

Sekian.. Anda semua dapat melihat mana yang haq dan mana yang bathil. Sehingga hatilah-hatilah wahai saudaraku akan bahaya dan kesesatan syiah. Karena kedunguan syiah adalah penyakit yang sangat memalukan. Bentengi kelurga kita semua dengan benteng keimanan yang kuat.

Wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Sumber: Facebook

Mengapa Syiah Hanya Mencintai Husein Saja, Bukan Anak Ali yang Lain?

Syiahindonesia.com - Tahukah Anda, mengapa syiah senantiasa memuja dan menyembah Husein saja dan tidak mencintai anak-anak Fatimah yang lainnya?

Informasi berikut ini bisa jadi akan membuat Anda dan kaum muslimin sedunia kaget setengah mati, khususnya Syiah-syiah non Iran.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut diatas mari kita lihat daftar anak kandung laki-laki Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, sebagai berikut:

1.Hasan bin Ali bin Abi Thalib
2.Husein bin Ali bin Abi Thalib
3.Muhsin bin Ali bin Abi Thalib
4.Abbas bin Ali bin Abi Thalib
5.Hilal bin Ali bin Abi Thalib
6.Abdullah bin Ali bin Abi Thalib
7.Jakfar bin Ali bin Abi Thalib
8.Usman bin Ali bin Abi Thalib
9.Ubaidillah bin Ali bin Abi Thalib
10.Abu Bakar bin Ali bin Abi Thalib
11.Umar bin Ali bin Abi Thalib

Pernahkah Anda melihat bendera atau umbul-umbul Syiah yang bertulisan “Wahai Hasan…” atau يا حسن ?

Kenapa mereka hanya meminta kepada Husein saja, padahal Hasan juga anak kandung Ali bin Abi Thalib yang juga terlahir dari rahim Fatimah binti Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, baik Hasan maupun Husein sama-sama Ahlu Bait.

Pernahkah anda wahai Syiah-syiah non Persia mempertanyakan hal ini?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ketahuilah informasi berikut ini:

Tahukah Anda bahwa 12 imam syiah seluruhnya berasal dari keturunan Husein saja?

Syiah hanya mensakralkan Husein saja, namun tidak mensakral Hasan dan tidak juga mensakralkan anak-anak Ali bin Abi Thalib yang lainnya yang semuanya diredhai Allah.

Jawabannya adalah: karena Husein menikahi wanita Persia Iran putri raja Yazdegerd yang bernama Shahrbanu atau yang dikenal dengan Syahzinan. Konon ketika Kekaisaran Persia ditaklukkan dan terbunuhnya Kaisar Yazdegerd maka putri-putrinya ditawan.

Saat itu Umar menghadiahkan putri sang Kaisar yang bernama Syahzinan kepada Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Husein pun menikahinya. Oleh karena itulah Syiah begitu mensakralkan Husein dan para imam Syiah yang terlahir dari rahim Syahzinan berdarah Persia, dan bukan seperti klaim mereka bahwa mereka mencintai keluarga nabi Muhammad yang berasal dari Arab.

Hakikatnya, mereka sangat mencintai Ahlu Bait kaisar yang menjadi moyang 12 imam yang semuanya berasal dari ibu berdarah Persia, mereka sangat fanatis dalam mencitai dan memuja kakek anak-anak Husein sang kaisar Persia, bukan sang nabi yang berasal dari Arab.

Imam-imam yang mereka sakralkan dan mereka anggap maksum satu level dengan nabi-nabi itu hanyalah imam-imam yang berasal dari keturunan raja Persia Yazdegerd, tidak ada yg berasal dari Arab.

Mereka mencintai Husein dan para imam-imamnya karena mereka meyakini bahwa di dalam darah imam itu mengalir darah Persia keturunan kaisar.

Mereka hanya mencintai Ahlu Bait kaisar raja Persia, bukan Ahlu Bait nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. (firmadani.com/syaihindonesia.com)

Fatwa Syiah; Tayammum Sah Dengan Menyentuh Kemaluan Wanita

Illustrasi Tayammum
Syiahindonesia.com - Bodoh dan agama porno itulah agama syi’ah. Selalu mengait-ngaitkan sesuatu dengan sesuatu yang tabu, walaupun itu adalah ibadah.

Laa haula wa laa quwwata illaa billah. Sempat-sempatnya tayammum dikaitkan dengan kemaluan seorang wanita.

Mereka membolehkan tayammum dengan cara menepukkan kedua tangan diatas kemaluan seorang wanita. Agama apa ini kecuali agama porno. Mari kita menyimak salah satu perkataan pendeta besar besar mereka “Al-Hilli”.

Al-Hilli berkata pada kitabnya “Nihayah Al-Ihkam”:

الفرج ولو قلنا أن مس الفرج حدث لو ضرب يده على فرج امرأة عليه تراب ، صح التيمم

“Walaupun kita katakan bahwasanya menyentuh kemaluan adalah hadats akan tetapi seandainya seseorang menepukkan telapak tangannya diatas kemaluan seorang wanita yang ada debunya, maka tayammumnya sah” (Nihayah Al Ihkam hal. 208)

Berikut Screen Shotnya:



Saya rasa tak perlu, saya berkomentar lagi dalam permasalahan ini. Cukup para pembaca saja yang menilai akan kehinaan mereka sebagai budak seks dan hawa nafsu.

Semoga bermanfaat. Wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

(alamiry.net/syaihindonesia.com)

Aqidah Kufur Syiah Tentang al-Quran (Bag. 2)

Syaihindonesia.com - Selain meyakini bahwa al-Qur’an yang ada sekarang tidak orisinal, Syiah juga mengklaim telah memiliki kitab-kitab yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. untuk kalangan mereka sendiri—di samping  Mushaf Fatimah yang telah diterangkan sebelumnya—adalah sebagai berikut:

B. Al-Jafr

Dalam anggapan Syiah, al-Jafr adalah kitab yang terbuat dari kulit yang konon berisi ilmu-ilmu para nabi, ilmu para Imam dan ilmu para ulama Bani Isra’il. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa al-Jafr adalah kitab yang terbuat dari kulit sapi jantan.[1] Kitab ini ada dua macam, ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah. Masing-masing warna menunjukkan terhadap kandungan isinya; al-Jafr al-Abyadh (kitab al-Jafr putih) berisi kedamainan, sedangkan al-Jafr al-Ahmar (kitab al-Jafr merah) berisi pembantaian. Mengenai hal ini, al-Kulaini meriwayatkan suatu hadits dari Abu al-Ala’ sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ الْعَلَاءِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ عليه السلام يَقُوْلُ: إِنَّ عِنْدِي الْجَفْرَ الْأَبْيَضَ، قَالَ: فَقُلْتُ: أَيُّ شَيْءٍ فِيْهِ؟ قَالَ: زَبُوْرُ دَاوُدَ، وَتَوْرَاةُ مُوْسَى، وَإِنْجِيْلُ عِيْسَى، وَصُحُفُ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمُ السَّلَام، َواْلحَلَاُل وَاْلحَرَامُ .. وَعِنْدِي اْلجَفْرُ الْأَحْمَرُ، قَالَ: قُلْتُ: وَأَيُّ شَيْءٍ فِيْ اْلجَفْرِ الْأَحْمَرِ؟ قَالَ: السِّلَاحُ، وَذَلِكَ إِنَّمَا يَفْتَحُ لِلدَّمِ يَفْتَحُهُ صَاحِبُ السَّيْفِ لِلْقَتْلِ، فَقَالَ لَهُ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي الْيَعْفُوْرِ: أَصْلَحَكَ اللهُ. أَيَعْرِفُ هَذَا بَنَو اْلحَسَنِ؟ فَقَالَ: أَيْ وَاللهِ كَمَا يَعْرِفُوْنَ اللَّيْلَ أَنَّهُ لَيْلٌ، وَالنَّهَارُ أَنَّهُ نَهَارٌ وَلَكِنَّهُمْ يَحْمِلُهُمْ الحَسَدُ وَطَلَبُ الدُّنْيَا عَلَى الُجحُوْدِ وَالْإِنْكَارِ، وَلَوْ طَلَبُوا الحَقَّ بِاْلَحقِّ لَكَانَ خَيْراً لَهُمْ.

Dari Abi al-Ala’, dia berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah AS. Berkata: “Sesungguhnya Aku mempunyai al-Jafr putih”. Aku bertanya: “Apa isinya?”. Beliau menjawab: “(Isinya adalah) Zabur Daud, Taurat Musa, Injil Isa dan Shuhuf Ibrahim – semoga keselamatan atas mereka semua – serta halal dan haram. . . Aku juga mempunyai al-Jafr merah. Aku bertanya: “Apa isinya?” beliau menjawab: “(Isinya adalah) pedang. Kitab ini dibuka hanya untk menumpahkan darah, yang akan dipakai oleh sang pemilik pedang untuk membunuh. Maka berkatalah Abdullah bin Abi Ya’fur kepada Abu Abdillah, “Mudah-mudahan Allah menjagamu, apakah putra-putra al-Hasan tahu akan hal ini?” Beliau menjawab: “Ia, demi Allah, sebagaimana mereka tahu bahwa malam itu malam, dan siang itu siang, tetapi (sayang) mereka telah diliputi dengki dan mencintai dunia hingga mereka mengingkarinya. Andaikan mereka mencari kebenaran dengan kebenaran, tentu akan lebih baik bagi mereka.[2]

Terkait dengan kitab ini, Sayyid Husain al-Musawi dalam bukunya Lillahi tsumma li at-Tarikh berkisah, bahwa beliau pernah bertanya kepada Imam al-Khu’i, salah satu tokoh Syiah kontemporer, tentang al-Jafr merah: “Siapa yang akan membukanya dan darah siapa yang akan ditumpahkan?” Al-Khu’i menjawab:

فَقَالَ: يَفْتَحُهُ صَاحِبُ الزَّمَانِ – عَجَّلَ اللهُ فَرَجَهَ، وَيُرِيْقُ بِهِ دِمَاءَ اْلعَامَّةِ النَّوَاصِبِ -أهل السنة- فَيُمَزِّقُهُمْ شَذَرَ مَذَرَ، وَيَجْعَلُ دِمَاءَهُمْ تَجْرِيْ كَدَجْلَةٍ وَاْلفُرَاتِ، وَلَيَنْتَقِمَنَّ مِنْ صَنَمَيْ قُرَيْشٍ -يَقْصُدُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ- وَابْنَتَيْهِمَا -يَقْصُدُ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ- وَمِنْ نَعْثَلْ -يَقْصُدُ عُثْمَانَ- وَمِنْ بَنِي أُمَيَّةِ وَاْلعَبَّاسِ فَيَنْبُشُ قُبُوْرُهُمْ نَبَشاً.

Maka dia (al-Khu’i) menjawab “Al-Jafr merah akan dibuka oleh Shahib al-zaman (Imam Mahdi) – mudah-mudahan Allah mempercepat keluarnya. Dia akan menumpahkan darah Ahlussunnah, mencincang habis tubuh mereka, membuat darah mereka mengalir seperti aliran sungai Tigris dan Eufrat. Dia akan membalas dendam kepada dua berhala Quraisy (maksudnya Abu Bakar dan Umar) juga kedua putr mereka (Aisyah dan Hafshah), kepada si Srigala (Utsman), juga kepada Bani Umayyah dan Bani Abbas, lalu menggali kubur-kubur mereka.[3]

Apa yang disampaikan al-Khu’i tersebut tampaknya terlalu berlebihan dan bersumber dusta. Pernyataan itu sekaligus memberi gambaran yang sangat jelas, betapa benci Syiah kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad SAW. Sayyid Husain al-Musawi sendiri rupanya amat heran terhadap kepercayaan tersebut: bagaimana mungkin seorang Ahul Bait akan melakukan perbuatan keji seperti yang dilukiskan al-Khu’i itu? Bukankah mereka adalah manusia-manusia pilihan yang menjunjung tinggi rasa kasih sayang? Tanpa melihat dari sudut pandang bahwa pernyataan Syiah itu hanya sebatas mitos, adalah hal yang sangat keterlaluan jika al-Mahdi al-Muntadzar sampai menggali kuburan para sahabat, lalu melampiaskan dendam kesumatnya pada orang yang sudah mati. Tak jauh beda dari apa yang disampaikan al-Khu’i, Al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar juga mengeluarkan riwayat berikut:

عَنْ جَعْفَرٍ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ اْلقَائِمَ يَسِيْرُ فِي اْلعَرَبِ فِي الجْفرِ الأَحْمَرِ ، قَالَ ( أي الراوي ، وَهُوَ رَفِيْدُ مَوْلَى ابْنِ هُبَيْرَةَ ) قُلْتُ : جُعِلْتُ فِدَاكَ ، وَمَا فِي الَجْفرِ الأَحْمَرِ ؟ قَالَ : فَأَمَرَّ أُصْبُعَهُ عَلَى حَلْقِهِ ، قَالَ : هَكَذَا ، يَعْنِي الذِّبْحَ.

Dari Ja’far, dia berkata: “Sesungguhnya al-Mahdi akan menyisiri Bangsa Arab (sesuai hukum yang tertera) dalam alJafr merah, (Rawi berkata) Aku bertanya: “Apa isi al-Jafr merah itu?” Lalu beliau meletakkan jari pada lehernya, sambil berkata “Begini – khrk” (maksudnya menyembelih).[4]

C. Al-Jami’ah



Kitab lain yang diyakini oleh Syiah sebagai kitab ‘samawi’ adalah al-Jami’ah. Konon, kitab ini didektekan  Rasulullah SAW.  kepada Imam Ali As. Panjangnya mencapai 70 hasta. Di dalamnya berisi segala apa yang dibutuhkan oleh umat manusia. Mengenai kitab ini, al-Kulaini dalam al-Kafi kembali meriwayatkan hadits dari Imam Ja’far ah-Shadiq sebagai berikut:



ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَإِنَّ عِنْدَنَا اْلجَامِعَةَ وَمَا يُدْرِيْهِمْ مَا الْجَامِعَةُ؟ قَالَ: قُلْتُ: جُعِلْتُ فِدَاكَ وَمَا الْجَامِعَةُ؟ قَالَ: صَحِيْفَةٌ طُوْلُهَا سَبْعُوْنَ ذِرَاعًا بِذِرَاعٍ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وآله وَإِمْلَائُهُ  مِنْ فَلْقِ فِيْهِ وَخَطِّ عَلَيٍّ بِيَمِيْنِهِ، فِيْهَا كُلُّ حَلَالٍ وَحَرَامٍ وَكُلُّ شَيْئٍ يَحْتَاجُ النَّاسُ إِلَيْهِ حَتَّى اْلاَرْشُ فِيْ اْلخَدَشِ.

. . .Lalu Imam Ja’far As. Berkata: “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya kami mempunyai al-Jami’ah. Tahukah mereka apa itu al-Jami’ah? Aku berkata: “Aku menjadi tebusanmu. (katakan) apakah al-Jami’ah itu?” beliau berkata: “Al-Jami’ah adalah lembaran yang panjangnya mencapai 70 hasta seukuran hasta Rasulullah  SAW. Sedangkan pendikteannya dilakukan langsung melalui bibir beliau (yang mulia), dan ditulis oleh Imam Ali As. Dengan tangan kanannya. Shahifah ini berisi penjelasan tentang halal dan haram serta segala apa yang dibutuhkan oleh umat manusia hingga penjelasan mengenai diyatnya luka.”[5]



Riwayat mengenai al-Jami’ah ini juga disinggung oleh al-Majlisi dalam Bihar-nya, juga dalam Basha’ir al-Darajat dan Wasail asy-Syiah. Sayyid Husain al-Musawi—seorang tokoh Syiah yang telah bertaubat dari ke-Syiah-annya—mengomentari al-Jami’ah sebagai berikut:

لَسْتُ أَدْرِيْ إِذَا كَانَتْ الْجَامِعَةُ حَقِيْقَةً أَمْ لَا؟ وَ فِيْهَا كُلُّ مَا يَحْتَاجُهُ النَّاسُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ؟ فَلِمَاذَا أُخْفِيَتْ إِذَنْ؟ وَ حُرِمْنَا مِنْهَا وَ مِّمَا فِيْهَا مِمَّا يَحْتَاجُهُ النَّاسُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مِنْ حَلَالٍ وَ حَرَامٍ وَ أَحْكَامٍ؟ أَ لَيْسَ هَذَا كِتْمَانًا لِلْعِلْمِ.

Aku tidak tahu apakah al-Jami’ah itu ada atau tidak, dan apakah di dalamnya memuat segala apa yang dibutuhkan umat manusia hingga hari kiamat?. (kalau memang ada) mengapa kitab itu disembunyikan? Kenapa kita tak diperbolehkan melihat dan mengetahui isinya, padahal sangat dibutuhkan oleh manusia, baik itu hal-hal yang menjelaskan tentang perkara halal, haram, atau hukum-hukum (yang lain)? Bukankah ini adalah penyembunyian terhadap ilmu?[6]

D. Shahifah an-Namus



Selain tiga kitab di atas, Syiah masih memiliki kitab ‘samawi’ lain yang mereka yakini, yaitu kitab an-Namus. Konon, an-Namus adalah dua kitab besar; yang pertama memuat nama-nama seluruh pengikut Ahlul Bait. Barangsiapa yang namanya tidak tercantum dalam kitab ini, berarti ia bukan  orang Syiah. Sedangkan yang kedua memuat nama orang-orang yang memusuhi Syiah, mulai dari generasi pertama hingga datangnya hari kiamat. Mengenai hal-ihwal kitab ini, Sayyid Husain al-Musawi dalam Lillahi tsumma li at-Tarikh, mengutip al-Majlisi yang meriwayatkan suatu hadits Syiah dari ar-Ridha As. Sebagai berikut:

عَنِ الرِّضَا عليه السلام فِيْ حَدِيْثِ عَلاَمَاتِ الْإِمَامِ قَالَ : وَ تَكُوْنُ صَحِيْفَةٌ عِنْدَهُ فِيْهَا أَسْمَاءُ شِيْعَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ صَحِيْفَةٌ فِيْهَا أَسْمَاءُ أَعْدَائِهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Hadits dari ar-Ridha As. Berkenaan tanda-tanda datangnya Imam, beliau berkata: “Dia memegang Shahifah yang berisikan nama-nama pengikutnya hingga hari kiamat, dan shahifah yang berisikan nama-nama musuhnya hingga hari kiamat.[7]



Namun, Sayyid Husain al-Musawi kemudian menyangsikan kebenaran dari riwayat tersebut. Beliau menyatakan sangat tidak masuk akal jika semua nama-nama orang Syiah, berikut nama orang-orang yang memusuhi mereka, dari periode pertama hingga terakhir, tercantum dalam kitab itu dengan lengkap.



Pada riwayat yang ditulis al-Majlisi dalam al-Bihar-nya, an-Namus merupakan oleh-oleh Rasulullah SAW. saat melakukan Mi’raj ke langit. Beliau diberi dua Shahifah; satu berisi nama-nama Ashhab al-Yamin (orang-orang yang beruntung) dan yang lain berisi nama-nama Ashhab as-Syimal (orang-orang yang celaka). Kitab itu kemudian diberikan kepada Imam Ali AS., lalu kepada Hasan AS. Dan kepada seluruh Imam Ahlul Bait hingga sekarang ada ditangan al-Mahdi al-Muntadzar.[8]

Masih dalam konteks ini, al-Majlisi selanjutnya menyebutkan kisah seorang perempuan yang datang kepada Abu Abdillah (Ja’far ash-Shadiq) As. Dan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

إِنَّ لِيْ ابْنَ أَخٍ وَ هُوَ يَعْرِفُ فَضْلَكُمْ وَ إِنِّيْ أُحِبُّ أَنْ تُعَلِّمَنِيْ أَمِنْ شِيْعَتِكُمْ؟ قَالَ: وَ مَا اسْمُهُ؟ قَالَتْ: فُلَان بن فلان, قَالَتْ: فَقَالَ: يَا فُلَانَةُ,  هَاتِي النَّامُوسَ, فَجَاءَتْ بِصَحِيْفَةٍ تَحْمِلُهَا كَبِيْرَةٍ فَنَشَرَهَا ثُمَّ نَظَرَ فِيْهَا فَقَالَ: نَعَمْ هُوَ ذَا اِسْمُهُ وَ اسْمُ أَبِيْهِ هَا هُنَا.

Saya mempunyai keponakan yang mengetahui keutamaan Anda. Saya ingin Anda memberitahu Saya, apakah dia termasuk golongan Anda? Abu Abdillah bertanya: “Siapa namanya?” Perempuan itu menjawab: “Fulan bin Fulan.” Abu Abdillah berkata: “Hai Fulanah, ambilkan an-Namus! Maka dia pun mengambil Shahifah besar, lalu Abu Abdillah menggelar dan menelitinya. Beliau kemudian berkata: “Ia, ini namanya dan nama ayahnya ada disini.”[9]

Kemudian, diakhir pembahasannya tentang Shahifah an-Namus, Sayyid Husain al-Musawi menyatakan pendapatnya sebagai berikut:

إن عقول العامة من الناس لا يمكنها أن تقبل هذه الرواية و أمثلها فكيف يقبلها العقلاء؟! إن من المحال أن يقول الأئمة عليهم السلام مثل هذا الكلام الذي لا يقبله عقل و لا منطق, و لو اطّلع عليه – أي على هذه الرواية – أعداؤنا لتكلّموا بما يحلو لهم, و لطعنوا بدين الإسلام, و لتكلّموا و تندّروا بما يشفي غيظ قلوبهم, و لا حول و لا قوّة الّا بالله.

Orang-orang awam saja tidak mungkin akan menerima cerita semacam ini, apalagi orang-orang berakal? Adalah mustahil jika para Imam akan mengucapkan perkataan semacam itu, yang sama sekali tidak masuk akal. Bila musuh-musuh kita membaca riwayat ini, tentu mereka akan mengucapkan perkataan yang dapat membuka peluan kemenangan (bagi mereka) dan menyudutkan agama Islam, serta akan mengucapkan kata-kata yang bias memuaskan kebencian hati mereka. Laa haula walaa Quwwata illaa Billah.[10]

E. Al-Abithah

Dalam pandangan orang-orang Syiah, kitab ‘samawi’ yang satu ini berisi ancaman kepada orang-orang Arab. Sebagaimana dimaklumi, bahwa perselisihan antara Persia dan Arab sudah terjadi sejak ratusan tahun silam, dimana dalam rentang waktu yang cukup panjang itu, orang-orang Syiah selalu dikucilkan, diusir dan dikejar-kejar. Sudah barang tentumereka benci pada orang-orang Arab, hingga dalam kitab al-‘Abithah ini, orang Arab menjadi prioritas utama sebagai tempat pelampiasan dendam kesumat mereka. Mengenai kitab ini, al-Majlisi kembali meriwayatkan hadits dari Imam Ali AS. Sebagai berikut:

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ عليه السلام قَالَ: …وَ أَيْمُ الله! إِنَّ عِنْدِيْ لَصُحُفًا كَثِيْرَةً قَطَائِعَ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه و آله, وَ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ إِنَّ فِيْهَا لَصَحِيْفَةً يُقَالُ لَهَا العَبِيْطَةُ, وَ مَا وَرَدَ عَلَى الْعَرَبِ أَشَدَّ مِنْهَا, وَ إِنَّ فِيْهَا لَسِتِّيْنَ قَبِيْلَةً مِنْ الْعَرَبِ بَهْرَجَةً مَالَهَا فِيْ دِيْنِ اللهِ مِنْ نَصِيْبٍ.

Dari Amirul mukminin AS. Dia berkata: “. . . Demi Allah! Aku mempunyai beberapa lembaran (wahyu) yang banyak serta bersifat pasti milik Rasulullah SAW. Di dalamnya terdapat shahifah yang disebut al-‘Abithah. Shahifah inilah yang paling keras terhadap orang-orang Arab. Di dalamnya berisi 60 kabilah Arab yang tidak punya andil sedikit pun dalam agama Allah.[11]

Dari riwayat diatas, sekilas kita dapat merasakan, betapa fanatisme golongan dan kesukuan dari orang-orang Syiah demikian kental, mengalahkan fanatisme keagamaan mereka. Hal itu terbukti, bahwa dalam literature-literatur Syiah amat sulit untuk menjumpai cacian, hujatan apalagi ancaman terhadap orang-orang Yahudi atau Nashrani. Berbeda dengan cercaan, hinaan dan ancaman terhadap orang-orang Ahlussunnah sebagaimana yang akan kita lihat nanti.

Bagaimana mungkin seorang Muslim dapat berpikir, bahwa di dunia ini tak ada seorang pun yang berhak dikatakan Muslim sejati selain Syiah? Sebab, 60 kabilah Arab – yang ditunjuk – tidak mengikuti agama Allah sedikit pun itu mewakili semua kaum Muslimin pada masa Rasulullah SAW. Dari sini menjadi tampak jelas, bahwa kebencian orang Syiah juga mengarah kepada agama Islam yang telah disebarkan oleh orang-orang Arab.

F. Lauh Fathimah

Lauh Fathimah ini berbeda dengan Mushaf Fathimah. Jika Mushaf Fathimah menurut salah satu riwayatnya diturunkan melalui malaikat yang menghibur Sayyidah Fathimah az-Zahra ‘alaiha as-salam, maka Lauh Fathimah adalah kitab yang diturunkan kepada Rasulullah SAW., lalu beliau menghadiahkannya kepada Sayyidah Fathimah ‘alaiha as-salam. Kitab ini berisi berbagai macam rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Kitab ini tidak boleh dibaca siapapun kecuali orang-orang yang berhak. Mengenai kitab ini, al-Wafi dan al-Kafi memunculkan riwayat sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ بَصِيْرٍ عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ أَبِيْ لِجَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيْ: إِنَّ لِيْ إِلَيْكَ حَاجَةً مَتَى يَخَفُّ عَلَيْكَ أَنْ أَخْلُوَ بِكَ فَأَسْأَلَكَ عَنْهَا؟ قَالَ لَهُ جَابِرْ: فِيْ أَيِّ الْأَحْوَالِ أَحْبَبْتَ، فَخَلَا بِهِ فِي بَعْضِ اْلأَيَّامِ فَقَالَ لَهَ: يَا جَابِرُ، أَخْبِرْنِي عَنِ اللَّوْحِ الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي يَدِ أُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَمَا أَخْبَرَتْكَ بِهِ أُمِّي أَنَّهُ فِي ذَلِكَ اللَّوْحِ مَكْتُوْبٌ، فَقَالَ جَابِرُ: أَشْهَدُ بِاللهِ أَنِّي دَخَلْتُ عَلَى أُمِّكَ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام فِي حَيَاةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَهَنَّيْتُهَا بِوِلَاَدةِ اْلحُسَيْنِ فَرَأَيْتُ فِيْ يَدَيْهَا لَوْحًا أَخْضَرَ ظَنَنْتُ أَنَّهُ مِنْ زُمُرِّد وَرَأَيْتُ فِيْهِ كِتَابًا أَبْيَضَ شِبْهَ لَوْنِ الشَّمْسِ فَقُلْتُ لَها: بِأَبِي َوَأُمِّي أَنْتَ يَا بِنْتَ رَسُوْلِ اللهِ مَا هَذَا اللَّوْحُ؟ فَقَالَتْ: هَذَا لَوْحٌ أَهْدَاهُ اللهُ تَعَالَى ِإِلَى رَسُوْلِهِ صلى الله عليه وسلم، فِيْهِ اسْمُ أَبِي وَاسْمَ بَعْلِيْ وَاسْمُ ابْنِي وَاسْمُ الْأَوْصِيَاءِ مِنْ وَلَدِيْ، وَأَعْطَانِيْهِ أَبِيْ لِيُبَشِّرَنِي بِذَلِكَ. قَالَ جَابِرٌ: فَأَعْطَتْنِيْهِ أُمُّكَ فَاطِمَةُ عليها السلام فَقَرَأْتُهُ وَاسْتَنْسَخْتُهُ، فَقَالَ أَبِيْ: فَهَلْ لَكَ يَا جَابِرُ أَنْ تَعْرِضَهُ عَلَيَّ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَمَشَى مَعَهُ أَبِي إِلَى مَنْزِلِ جَابِرٍ فَأَخْرَجَ صَحِيْفَةً مِنْ رِقٍّ فَقَالَ: يَا جَابِرَ، اُنْظُرْ فِي كِتاَبِكَ لِأُقْرِأَ عَلَيْهِ، فَنَظَرَ جَابِرُ فيِ نُسْخَتِهِ وَقَرَأَ أَبِي، فَمَا خَالَفَ حَرْفٌ حَرْفًا، فَقَالَ جَابِرُ: أَشْهَدُ بِاللهِ أَنِّي هَكَذَا رَأَيْتُهُ فِي اللَّوْحِ مَكْتُوْبًا:”بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ هَذَا كِتَابٌ مِنَ اللهِ الْعَزِيْزِ اْلحَكِيْمِ لمِحُمَّدٍ نَبِيِّهِ وَنُوْرِهِ وَسَفِيْرِهِ وَحِجَابِهِ وَدَلِيْلِهِ، نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ مِنْ عِنْدِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، عَظِّمْ يَا مُحَمَّد أَسْماَئِي وَاشْكُرْ نَعَمَائِي..” 

“Dari Abi Bashir dari Abu Abdillah, dia berkata: “Ayahku berkata pada Jabir bin Abdillah al-Anshari “Aku punya keperluan padamu, kapan kau punya kesempatan, hingga aku berbicara empat mata dengan kamu?” Jabir berkata pada ayahku “Kapanpun kau mau.” Maka suatu saat ayahku berbicara empat mata dengan Jabir, lalu beliau bertanya: “Jabir, ceritakan padaku tentang Lauh yang engkau lihat ditangan ibuku Fathimah, putri Rasulullah SAW., dan tentang isi Lauh itu seperti yang pernah diceritakan ibu padamu! Jabir berkata: “Aku bersaksi dengan nama Allah bahwa aku pernah menemui Ibumu Fathimah ‘alaiha as-salam saat Rasulullah SAW. Masih ada. Aku mengucapkan selamat pada ibumu atas kelahiran Husain, lalu aku melihat Lauh berwarna hijau ditangannya. Aku menduga jika Lauh itu terbuat dari Zamrud. Aku juga menyaksikan tulisan putih laksana cahaya matahari, aku bertanya pada Ibumu: “Ayah Ibuku menjadi tebusanmu wahai putri Rasulullah, Lauh apakah ini? Ibumu menjawab: Lauh ini pemberian Allah SWT. kepada Rasulullah SAW. Didalamnya terdapat nama ayahku, suamiku, anakku, dan nama-nama anakku yang akan menjadi pengganti setelahku, kemudian ayahku memberikannya padaku agar aku senang. Jabir berkata: “Lalu Ibumu Fathimah ‘alaiha as-salam memberikannya padaku, maka akupun membaca dan menyalinnya. Ayahku berkata pada Jabir: “Hai Jabir, bisakah kau memperlihatkannya padaku? Jabi menjawab: “tentu”. Maka jalanlah ayahku bersama Jabir menuju rumahnya. Selanjutnya Jabir mengeluarkan lembaran yang terbuat dari kulit. Ayahku berkata: “Hai Jabir, lihatlah lembaranmu! Aku akan membacanya (dengan hafalanku)! Maka Jabir pun melihat salinan yang ada ditangannya. Sementara ayahku mulai membaca, dan bacaanya tidak keliru satu huruf pun. Maka Jabir berkata: “Aku bersaksi demi Allah, seperti itulah Lauh yang kulihat, (disitu) tertulis: “Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kitab ini dari Allah, Dzat yang Maha Mulia dan Bijaksana, (diberikan) kepada Muhammad; Nabi, cahay, duta, hijab dan petunjuk-Nya. Dibawa oleh Jibril dari sisi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Hai Muhammad! Agungkan nama-Ku dan syukuri nikmat-nikmat-Ku![12]

Di samping kitab-kitab suci Syiah yang telah kami paparkan diatas, masih ada dua lagi kitab Syiah yang diafiliasikan kepada Rasulullah SAW. Konon, keduanya berupa lembaran-lembaran kecil yang berada di ujung pedang Rasulullah SAW. Lembaran itu disebut Dzu’abat as-Saif dan Shahifat ‘Ali. Menurut Syiah, Shahifah Ali ini sebenarnya berada dalam Dzu’abat as-Saif. Mengenai hal ini, al-Majlisi mengeluarkan suatu riwayat dalam al-Bihar-nya:

عَنْ أَبِيْ بَصِيْر عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ عليه السلام أَنَّهُ كَانَ فِيْ ذُؤَابَةِ سَيْفِ رَسُوْلِ االلهِ صلى الله عليه و آله صَحِيْفَةٌ صَغِيْرَةٌ فِيْهَا الأَحْرُفُ الَّتِيْ يَفْتَحُ كُلُّ حَرْفٍ مِنْهَا أَلْفَ حَرْفٍ. قَالَ أَبُوْ بَصِيْرٍ: قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ: فَمَا خَرَجَ مِنْهَا إِلَّا حَرْفَانِ حَتَّى السَّاعَةَ.



Dari Abi Bashir, dari Abi Abdillah AS.: Bahwa sesungguhnya di ujung pedang Rasulullah SAW. Ada Shahifah kecil yang didalamnya terdapat huruf-huruf, dimana dari setiap hurufnya terbuka seribu huruf. Abu Bashir berkata: Abu Abdillah berkata: “Tidak keluar darinya kecuali dua huruf hingga hari kiamat.”[13]

Dalam riwayat lain juga dinyatakan:

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ عليه السلام قَالَ: وُجِدَ فِيْ ذُؤَابَةِ سَيْفِ رَسُوْلِ االلهِ صلى الله عليه و سلّم صَحِيْفَةٌ فَإِذَا فِيْهَا مَكْتُوبٌ: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ, إِنَّ أَعْتَى النَّاسَ عَلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَتَلَ غَيَرَ قَاتِلِهِ, وَ مَنْ ضَرَبَ غَيْرَ ضَارِبِهِ, وَ مَنْ تَوَلَّى غَيْرَ مَوَالِيْهِ فَهُوَ كَافِرٌ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ تَعَلَى عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليه و آله, وَ مَنْ أَحْدَثَ حَدَثاً أَوْ آوَى مُحْدِثًا لَمْ يَقْبَلِ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَ لَا عَدْلًا.

Dari Abi Abdillah AS., dia berkata: Dalam Dzu’abah as-Saif Rasulullah SAW. Ditemukan lembaran berisi “Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya manusia yang paling durhaka kepada Allah pada hari kiamat adalah orang yang membunuh orang lain yang bukan pembunuhnya, memikul orang yang tidak memikul kepadanya, dan orang yang tidak mencintai walinya. Dia ingkar kepada yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW., barang siapa yang membuat perkara bid’ah, maka Allah tidak menerima darinya bayaran dan tebusan di hari kiamat kelak.”[14]

Yang perlu dijadikan catatan akhir dari pemaparan di atas, bahwa kitab-kitab ‘samawi’ Syiah tersebut tidak pernah muncul kepermukaan, karena semua kitab-kitab itu hanya sekedar fiktif belaka. Untuk itulah mereka selalu membungkus cerita itu dengan ending yang sama: bahwa kitab-kitab tersebut kini berada digenggaman Imam al-Mahdi yang tengah bersembunyi. Adakah argumentasi lain dari Syiah selain dalih kegaiban Al-Mahdi dan pengakuan dusta (taqiyyah) akan keaslian Quran umat Islam?



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1]Al-Kulaini, al-kafi, juz 1 hlm. 239.

[2]Ibid, juz 1 hlm. 240.

[3]Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 26.

[4]Al-majlisi, Bihar al-Anwar, juz 13 hlm. 181.

[5]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1, hlm. 239.

[6]. Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 60.

[7]Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 60 dan al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 25 hlm. 117.

[8]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 26 hlm. 124-125 dan Muhammad bin al-Hasan bin Furukh ash-Shaffar, Bashair ad-Darajat, hlm. 52.

[9]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 26 hlm. 121 dan Muhammad bin al-Hasan bin Furukh ash-Shaffar, Bashair ad-Darajat, hlm. 46.

[10]Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 61.

[11]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 26 hlm. 37.

[12]Dikutip oleh Al-Qifari dalam Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 725-726.

[13]Al- Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 26 hlm. 56.

[14]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 27 hlm. 65, 104 dan 375.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)