Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Kisah Dungunya Seorang Ustadz Syiah Di Kalimantan

Syiahindonesia.com - Syiah nyaris tak ada bedanya dengan Yahudi. Mereka tahu ilmu tapi tidak mau mengamalkannya,ngeyel, bahkan mendustakan Allah dan Rasul-Nya, seperti itulah Syiah.

Dibawah ini akan kami paparkan sepenggal kisah yang kami kutip dari genSyiah.com tentang seorang ustadz Syiah yang sepertinya ia tahu kalau ia berada dalam kesesatan, namun mungkin karena begitu lezatnya kesesatan itu, ia masih saja berpegang pada prinsip sesatnya.

Berikut kisahnya:

Setelah selesai shalat isya’, beberapa menit kemudian datanglah beberapa wanita-wanita Syiah kerumah Aisyah. Aisyah lihat mereka bersama seorang lelaki dan penampilannya juga luar biasa islaminya. Berjubah putih dan memakai imamah hitam.

Aisyah senyum saja dan sudah tau bahwa ini lah orang yang akan orang-orang syiah ini andalkan untuk “mendakwahi” kami sekeluarga.

Wanita-wanita itu beri salam dan Aisyah jawab salamnya dengan senyum tapi Aisyah tidak langsung persilahkan masuk rumah.

Aisyah: “afwan ukh, tunggu dulu. Sebelum masuk rumah, Aisyah harUstadz Syiahminta izin dulu kepada mahram Aisyah. Sebab kalian membawa seorang lelaki.”

Mereka mengangguk saja dan senyam senyum manis.

Aisyah: “bang, apakah laki-laki ini boleh masuk?”

Abang: “boleh.. Biar abang yang menemani kalian.”

Kemudian masuklah mereka semua. Dan memperkenalkan laki-laki yang ada bersama mereka, ternyata benar bahwa laki-laki itu yang membimbing mereka dan yang mengisi dakwah di pengajian mereka.

Singkat cerita, setelah basa basi selama 3-4 menit maka dakwah mereka (Syiah) pun di mulai.
Tamu: “mbak Aisyah nama lengkapnya siapa?”

Aisyah: “Aisyah bintu umar al muhsin bin abdul rahman salsabila. Kenapa ya ukh?”

Tamu: “waaaw panjang juga ya hehe.. Oh enggak hanya kami ingin memanggil mbak dngn nama yang lain. Bagaimana jika kami panggil dengan salsa saja?”

Aisyah sudah menyadari bahwa mereka tidak akan suka dengan nama Aisyah. Sebab serupa dengan nama istri Rasulullah, dan mereka sangat benci kepada Ummul Mukminin.. Na’udzu billah min dzalik

Aisyah: “(sambil senyum) boleh juga, tapi boleh tau alasannya apa ya ukh?”

Tamu: “kami tidak menyukai nama itu sebab ……….” (dia cerita cukup panjang dan intinya menjelek-jelekan Ummul Mukminin).

Tiba-tiba si laki-laki yang mereka ajak itu (Ustad Syiah) angkat suara.

Ustadz Syiah: “Aisyah itu adalah pendusta dan pezina. Semoga Allah membakarnya di neraka.”
Mendengar ucapan orang bodoh ini mata Aisyah spontan tertutup dan hati Aisyah terasa bergetar.. Kemudian Aisyah tundukkan kepala dan mengucap istighfar seraya memohon kepada Allah agar dikuatkan mendengar fitnahan dari mulut-mulut yang masih jahil. Kemudian setelah tenang, Aisyah angkat kepala dan senyum pada mereka dan membuat situasi seolah-olah Aisyah tidak tau tentang hal itu.

Aisyah: “masya Allah, benarkah begitu ustad?”

Ustadz Syiah: “Benar. Dialah penyebab wafatnya Rasulullah, dia yang meracuni Rasulullah hingga wafat.. Semoga laknat selalu menyertainya.”

Air mata Aisyah menetes mendengar ucapan ustadz Syiah ini. Hatinya tersayat-sayat layaknya ada seorang Seorang ibu dihina di depan anak-anaknya. Rasanya ingin melemparkan gelas yang ada didepannya ke wajah si “Ustadz” itu. Aisyah lihat abang Aisyah sudah mengepalkan tangannya dan menahan geram. Sebelumnya Aisyah sudah ingatkan kepada abang Aisyah bahwa diskusi ini tentu akan membuat hati panas, Aisyah minta abangnya tetap berabar, dan abangnya pun sudah menyetujuinya. Abang Aisyah berposttur tinggi besar dan mantan orang jahat di Kalimantan, tapi penjahat yang mendapat hidayah, Alhamdulillah. Dan kali ini ia bisa sedikit lebih tenang.
Aisyah: “astaghfirullah, sehebat itukah fitnahnya?”

Tamu: “kok fitnah mba? Itu nyatanya. Nih kami bawa kitab tafsirul iyas (kitab Syiah) didalamnya terdapat bukti. Bahkan abdullah bin abbas mengatakan Aisyah adalah seorang pelacur. Ini ada kitabnya.”

Dia keluarkan kitab tapi Aisyah lupa nama kitabnya, ada rijal-rijalnya gitu nama kitabnya. Ma’rifat rijal kalau tidak salah.

Dan Aisyah lihat memang isinya benar spt yang mereka ucapkan.

Singkat cerita, mereka terus menghina Aisyah dan para Sahabat. Sampai telinganya seperti sudah bengkak.

Akhirnya Aisyah tidak tahan dan katakan pada mereka.

Aisyah: “sebentar ustad, Aisyah mau ambil kitab Syiah punya Aisyah. Ada yang ingin Aisyah tanyakan mengenai isinya.”

Ustadz Syiah: “silahkan.”

Aisyah sudah siapkan satu soal yang akan menunjukkan jati diri mereka. Mereka orang yang cerdas atau cuma bisa ngomong besar.

Dan pertanyaan ini juga pernah ditanya oleh syaikh adnan kepada seorang syaikh Syiah, tapi syaikh Syiah malah bingung jawabnya.

Aisyah: “nih dia kitabnya.”

Ustadz Syiah: “oh saya juga punya itu, al ghaibah , kebetulan saya bawa hehe.”
Aisyah: “oh iya, kebetulan..”

Tamu: “hehe Allah memudahkan urusan kita hari ini.”

Aisyah tersenyum kecil melihat tingkah laku mereka.

Aisyah: “begini ustad, di dalam kitab ini ada di sebutkan tentang beberapa wasiat Rasul kepada Imam Ali. Benarkah ini ustad?”

Ustadz Syiah: “halaman berapa?”

Aisyah: “150 no 111”

Ustadz Syiah: “sebentar saya lihat.”

Ustadz Syiah: “ya. Benar. Lalu apa yang ingin ditanyakan dari wasiat yang mulia ini?”
Aisyah: “masih berlakukah wasiat ini ustad?”

Ustadz Syiah: “tentu, sampai hari kiamat.”

Aisyah: “didalam kitab ini Rasul berwasiat”

“yaa ‘aliy anta washiyyi ‘ala ahli baiti hayyihim wa mayyitihim wa ‘ala nisa-i. Fa man tsabbattuha laqiyatniy ghadan, wa man tholaqtuha fa ana baru-un minha”.

Ustadz Syiah: “hmmm,, hmmm,,”

Aisyah: “benarkah ini ustad?”

Ustadz Syiah: “bagaimana kamu mengartikan kalimat wasiat itu.”

Aisyah: “isi wasiat ini adalah
“wahai ‘aliy engkau adalah washiy ahlul baitku (penjaga ahlul bait) baik itu yang masih hidup maupun yang sudah wafat antara mereka, dan juga istri2ku. Siapa diantara mereka yang aku pertahankan, maka dia akan berjumpa denganku kelak. Dan barang siapa yang aku ceraikan maka aku berlepas diri darinya, ia tidak akan melihatku dan aku tidak akan melihatnya di padang mahsyar.” Benarkah ini ustad..?”

Ustadz Syiah: “benar ini wasiatnya.”

Aisyah: “yang ingin saya tanyakan, apakah Aisyah istri Rasulullah itu pernah dicerai oleh Rasulullah?”

Ustadz Syiah: “hhhmmm tidak..”

Aisyah: “apakah Aisyah di pertahankan Rasulullah sampai Rasulullah wafat?”
Ustadz Syiah: “hmmm ya benar..”

Aisyah: “lalu kenapa tadi ustad bilang Aisyah itu masuk neraka sedangkan dalam wasiat ini Aisyah tergolong orang yang masuk surga??”

Ustadz Syiah: “hmmm bukan seperti itu maksud dari wasiyat ini mba salsa. Hmmm hmmm..”
Aisyah senyum melihat tingkah si ustad dan Aisyah lirik wanita-wanita Syiah itu mulai hilang senyumnya.

Aisyah: “entahlah ustad  tapi inilah isi dari kitab Syiah dan ini adalah wasiyat dari Rasulullah. Berarti wasiyat ini tidak lagi di anggap oleh orang Syiah sendiri ya ustad?”

Ustadz Syiah: “oooh tidak begitu tapi,, tapi bukan begitu cara menafsirkannya.”

Dan akhirnya dia menjelaskan tentang penafsirannya tapi sedikitpun tidak masuk akal bahkan wanita-wanita Syiah itu sendiri pun terlihat bingung mendengar penjelasan si Ustadz Syiah itu.
Aisyah lirik abg Aisyah juga ikut tersenyum.

Abang: “ustad, saya tidak faham dengan penjelasan antum, mohon di ulangi ustad. Hehe..”
Si Ustadz Syiah mulai gerah.

Ustadz Syiah: “begini, intinya hadits wasiat ini dinilai oleh ahli ilmu hadits Syiah dan tentunya berdasarkan ilmu hadits Syiah adalah lemah sekali bahkan sampai derajat palsu.”
Wah ini ustad mulai aneh. Tadi katanya wasiat ini masih berlaku sampai hari kiamat, sekarang menyatakannya sebagai hadits palsu.

Aisyah diam beberapa saat memikirkan bagaimana cara membuat orang ini terdiam dan malu krn pendapatnya sendiri.

Aisyah: “sudah sudah cukup, mungkin ini terlalu rumit pertanyaannya. Nih ada pertanyaan lagi ustad.”

Seperti yang pernah saya dengar bahwa Syiah menganggap bahwa ali lah yang seharusnya menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah, apakah benar ?”

Ustadz Syiah: “ya benar sekali. Tapi abu bakar rakkus akan kekuasaan sampai-sampai dia berbuat kezaliman dan makar yang besar. Di ikuti pula oleh umar dan utsman.”

Aisyah: “apakah ada dalil yang menunjukkan ali sebagai orang yang dipilih Rasul menjadi khalifah sesudah wafatnya Nabi?”

Ustadz Syiah: “tentu ada, hadits ghodir khum , ketika Nabi sedang menunaikan haji wada’ disertai beberapa orang sahabat besar, Nabi berkata kepada buraidah “hai buraidah barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin..”

Aisyah: “ustad, kalau saya tidak mengamalkan dan sengaja menolak apa yang diperintahkan Nabi, kira-kira apa hukuman buat saya ustad?”

Ustadz Syiah: “mba salsa bisa dihukumi kafir karena mendustakan Nabi.”

Aisyah: “astaghfirullah. Berarti Imam Ali pun telah kafir dalam hal ini ustad. Sebab dia tidak mengindahkan perintah Nabi, jika memang ini dalil yang menunjukkan ali sebagai khalifah. Bahkan Imam Ali membai’at abu bakar, maka abu bakar pun di hukumi kafir, begitu juga umar, dan semua sahabat yang menyaksikan ketika itu semuanya kafir. Sebab yang menjadi pesan Rasul adalah man kuntu maulahu fa ‘aliyyun maulahu, siapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin.” Benarkah begitu ustad? Atau haditsnya palsu juga?”

Ustadz Syiah: “hmmmm. Haditsnya shahih.. Tapi bukan begitu juga maksudnya.”

Aisyah: “tapi tunggu ustad, sebelum ustad jelaskan maksudnya saya pengen tanya lagi biar kelar. Apakah setelah Imam Ali yang akan menjadi khalifah adalah anaknya al-Hasan?”

Ustadz Syiah: “ya benar sekali. Tidak bisa dipungkiri.”

Aisyah: “ada dalilnya? Shahih apa tidak?”

Ustadz Syiah: “ada, shahih jiddan.”

Aisyah: “bagaimana bunyinya?”

Ustadz Syiah: “wahai aliy engkau adalah khalifahku untuk umatku sepeninggalku, maka jika telah dekat kewafatanmu maka serahkanlah kepada anakku al hasan,” Hadits ini cukup panjang menjelaskan tentang 12 imam.”

Aisyah: “ustad coba lihat kembali kitab al ghaibah yang tentang wasiat Rasul tadi. Tidakkah isinya sama dengan yang baru saja ustad sebutkan?”

Ustadz Syiah: “sebentar..”

Ustadz Syiah: “oh iya sama.”

Aisyah: “bukankah tadi saat kita membahas tentang keberadaan Aisyah di surga, ustad katakan hadits ini palsu? Tapi sekarang saat membahas tentang dalil kekhalifahan Ali dan Hasan malah ustad balik katakan hadits ini shahih jiddan…???

Ustadz Syiah “*(&^)*()(%^&&*”

Aisyah melihat raut si Ustadz Syiah berubah dari biasanya. Mau senyum tapi tanggung. Mau pulang tapi malu.

Aisyah: “ustad, saya pernah dengar dari teman-teman saya bahwa Syiah itu suka taqiyah. Apakah ini bagian dari taqiyah itu?”

Abang: “hahahaha.. Ustad, akuilah bahwa Aisyah radhiAllahu ‘anha adalah penghuni surga, Abu Bakar adalah khalifah pertama, Umar kedua, Utsman ke tiga, Ali ke 4. Kita semua mencintai ahlul bait ustad. Ali juga setia kepada kepemimpinan abu bakar, umar dan utsman. Dan ali sangat mencintai ketiga sahabatnya. Bahkan sampai2 nama anak2 ali dari istrinya yang lain diberi nama umar abu bakar … apakah ustad mau menafikan itu semua?”

Ustadz Syiah: “hmmmmm.. (^&^^%(*( sebaiknya kami pulang saja.”

Aisyah: “tunggu ustad. Ustad belum menjawab pertanyaan kami.”

Ustadz Syiah: “sepertinya kalian sudah tau semua.”


Aisyah: “oh berarti ustad mengakui kebenaran ini?”

Ustadz Syiah: “Allahu a’lam, saya permisi dulu.”

Husna: “bagaimana dengan kalian? (teman-teman wanita Syiah)”

Tamu: “hmmm…” (lirik kanan kiri)

Salah satu dari wanita Syiah angkat suara “saya akan kembali lagi besok kesini dan saya harap husna mau menemani saya”

Ustadz Syiah: “baiklah kalau begitu kalian tinggal disini dan saya pamit. Wassalamu ‘alaikum..”

Kami: “wa’alaikumussalam warahmatullah.”

Selesai…

Dibawah ini adalah scan kitab al ghaibah tentang wasiat rasulullah kepada ali tentang istri dan juga 12 imam yg dinyatakan palsu kemudian shahih jiddan oleh sang ustad syiah.

ket: yang bergaris merah tentang Wasiat Istri Rasulullah
Yang bergaris biru tentang wasiat Kekhalifahan Ali dan Husain.

Semoga bermanfaat. (Nisyi/Syiahindonesia.com)


Muhsin Labib (Tokoh Syi’ah) Sebut Kemenag Tak Perlu Ada

Jakarta (Syiahindonesia.com) – Penghapusan Kementerian Agama (Kemenag) yang di issuekan oleh sejumlah media massa mengutip apa yang direncanakan oleh Presiden RI terpilih 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi) dalam susunan kabinetnya mendapat dukungan dari salah satu tokoh aliran sesat Syi’ah di Indonesia, Muhsin Labib.

Menanggapi wacana penghapusan Kemenag dalam kabinet Jokowi-Jusuf Kalla (JK), anggota Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu mengatakan, jika agama adalah bagian dari urusan negara, seperti halnya pariwisata dan ekonomi, maka diperlukan Kemenag. Sebaliknya, jika negara dan agama tidak berhubungan sama sekali, Kemenag tidak diperlukan.

“Kalau agama adalah bagian dari urusan negara, sebagaimana pariwisata dan ekonomi, perlu ada Kementerian Agama. Kalau negara dan agama tidak berhubungan sama sekali, Kementerian Agama tidak perlu, padahal sila 1 Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muhsin Labib di akun Twitternya, @muhsinlabib.

Pernyataan Muhsin itu didasari pada pertanyaan mendasar, yakni hubungan antara agama dan negara. “Apakah agama dan negara berdiri sendiri-sendiri dan tidak berhubungan, ataukah agama dan negara kadang berhubungan dan kadang tak berhubungan? Apakah agama adalah bagian dari urusan negara, atau negara adalah bagian dari urusan agama?,” tulisnya.

Sebelumnya, da’i asal Papua, ustadz Fadlan R Garamatan mengingatkan Jokowi untuk tidak menghilangkan Kemenag dalam kabinetnya. “Jika benar kabinet Jokowi tidak punya Kementrian Agama, maka itu berarti mengkerdilkan umat Islam, kesempatan pemurtadan umat Islam,” tulis ustadz Fadlan di akun Twitternya, ‏@fadlannuuwaar.

Menurut ustadz Fadlan, jika Jokowi menghilangkan Kemenag, maka Jokowi telah mengkerdilkan negeri Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. “Negeri mayoritas umat Islam dikerdilkan tanpa Kementerian Agama oleh Jokowi,” tegas ustadz Fadlan.

Seperti diketahui bersama, dalam jumpa pers di Kantor Transisi, Jakarta, pada Senin (15/9/2014) kemarin, Jokowi  yang didampingi dengan Wapres RI terpilih 2014-2019 Jusuf Kalla (JK) menyatakan akan menghapus jabatan wakil-wakil menteri, kecuali wakil menteri luar negeri.

Jokowi menyebut, dari 34 menteri maka 19 kementerian tak diubah karena dipertahankan seperti sekarang. Akan ada enam kementerian yang dengan penamaan baru, enam kementerian digabung, dan ada tiga kementerian baru. Namun belakangan, pihak Jokowi menyatakan tidak akan menghapus Kemenag. [GA/intelejen/Panjimas.com/Syiahindonesia.com]

Bandung Menjadi Tempat Perayaan Milad Imam Syiah (Foto)

Bandung (Syiahindonesia.com) - Beramal tanpa ilmu, barangkali kalimat ini sangat tepat ditunjukan untuk kaum Syiah. Amalan yang ada landasannya dari al-Quran dan as-Sunnah sebagiannya ditolak, tapi justru amalan yang tidak ada anjuran dari Allah dan Rasul-Nya malah dilakoni, begitulah syiah.

Pada tanggal 4 september 2014, kaum Syiah di Indonesia usai mengadakan perayaan milad salah satu imam mereka, yaitu Imam 'Ali bin Musa Ar-Ridha. Perayaan rutinitas mereka itu berlangsung di di Aula Muthahhari, Bandung.

Acara ini diselenggarakan oleh IJABI bersama Yayasan Muthahhari dengan dihadiri oleh beberapa orang Iran, dan satu diantaranya ada Hujjatul Islam Naili Pur, tak lupa juga Jalaludin Rahmat dedengkot Syiah Indonesiapun turut menghadiri acara perayaan ini.

Di dalam acara tersebut, Hujjatul Islam Naili Pur berkesempatan untuk menyampaikan beberapa patah kata atau mungkin juga bisa dibilang ceramah singkat.

Berikut beberapa dokumen berupa foto-foto acara Milad Imam Imam 'Ali bin Musa Ar-Ridha yang berlangsung di Aula Muthahhari, Bandung:



















Siapakah 'Ali bin Musa Ar-Ridha?

Ia adalah imam ke-8 kaum Syiah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa Syiah menolak seluruh kekhilafahan sepeninggal Nabi saw kecuali hanya 12 imam saja. Yaitu;

1.    Ali bin Abi Thalib
2.    Hasan bin Ali
3.    Husain bin Ali
4.    Ali bin Husain
5.    Muhammad bin Ali
6.    Ja’far bin Muhammad
7.    Musa bin Jafar
8.    Ali bin Musa (Ali ar-Ridha)
9.    Muhammad bin Ali
10.    Ali bin Muhamad
11.    Hasan bin Ali
12.    Muhammad bin Hasan, juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Syiah menganggap ke 12 imam itu ma’shum (terjaga dari dosa), mereka meyakini bahwa para imam memiliki kedudukan terpuji, derajat tinggi, dan khilafah di jagat raya sebagaimana perkataan salah seorang imam mereka:

“Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi, dan khilafah di jagat raya, seluruh partikel di dalamnya tunduk di bawah kuasanya.” (lihat kitab Tahrir al-Washilah, oleh al-Khumaini, hal. 52)
Syiah meyakini bahwa para imam ini mengetahui segalanya, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Lebih parah dari itu, keyakinan mereka tentang para imam ini sangat bathil, bahwa mereka berkeyakinan bahwa para imam yang 12 itu lebih afdhol ketimbang para nabi dan rasul, sebagaimana ulama mereka mengatakan;

“Dua belas imam Syiah lebih baik dari pada nabi dan rasul.” Lihat kitab al-Anwar an-nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (3/308)

Terkait keyakinan Syiah terhadap imam mereka yang ke-8 Ali bin Musa ar-Ridha, mereka memiliki beberapa keyakinan sesat seperti berikut ini:

1.    Mampu Menguasai Seluruh Bahasa

bu Shilat Harawi menceritakan ‘sesungguhnya Imam Ridha as berbicara dengan orang-orang menurut bahasa mereka. Maka akupun bertanya kepadanya tentang fenomena tersebut. Imam as pun berkata, ‘wahai Abu Shilat, aku adalah hujjah Allah bagi seluruh makhluk-Nya, dan Allah tidak akan mengangkat seorang hujjah satu kaum, namun ia tidak mengetahui bahasa mereka. Apakah tidak sampai padamu sabda Amirul Mukminin ‘sesungguhnya, kami telah diberikan dashlul khitab’ dan itu tidak lain adalah pengetahuan beliau as tentang berbagai bahasa’ (Al-manaqib , jilid 4, hal 362)

2.    Mengetahui kejadian masa depan

Diriwayatkan dari Husain, cucu Imam Musa Kadzim as, beliau berkata ‘ketika itu, para pemuda bani Hasyim  berada di keliling Abul Hasan (Imam Ali Ridha as) tiba-tiba lewat di hadapan kami, Ja’far bin Umar Alawi dalam keadaan compang camping. Kami pun saling memandang satu sama lain, dan kamipun menertawakan keadaannya, maka Imam Ali Ar-ridha as berkata ‘sesungguhnya dalam waktu tak lama lagi kalian akan melihatnya sebagai orang yang banyak harta dan pengikut’ tidak kurang dari satu bulan ataupun lebih (sedikit), hingga akhirnya ia menjadi walikota Madinah dan keadaan (ekonomi)nya membaik ’ (Biharul anwar, jilid 12, hal 13)

Begitulah keyakinan sesat Syiah terhadap para Imam mereka. Sejatinya, kesesatan mereka bermuara pada keyakinan imamah versi Syiah. Sebab, mereka akan senantiasa tunduk pada perkataan imam mereka walaupun itu adalah bathil. Dan sudah jadi hal umum bahwa seringkali Syiah berdusta atas nama para Imam mereka. wal ‘iyadzubillah. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Imam Ali Haramkan Nikah Mut’ah

Syiahindonesia.com - Ironis, kaum yang meninggikan bahkan mengkultuskan Imam Ali justru malah tidak mau mendengar perkataan sahabat Ali ra.

Syiah adalah kaum yang menghalalkan Nikah Mut’ah, bid’ah sesat yang diada-adakan Syiah hanya untuk melampiaskan hawa nafsu semata. Padahal, Islam dengan tegas melarang nikah mut’ah sesuai dengan sabda Nabi saw:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ، عَنِ الْحَسَنِ، وَعَبْدِ اللَّهِ ابني محمد بن علي، عَنْ أَبِيهِمَا، أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قِيلَ لَهُ: إِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ " لَا يَرَى بِمُتْعَةِ النِّسَاءِ بَأْسًا، فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ، وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ "

Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Az-Zuhriy, dari Al-Hasan dan ‘Abdullah – keduanya anak Muhammad bin ‘Aliy - , dari ayahnya : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu pernah dikatakan kepadanya : ‘Sesungguhnya Ibnu ‘Abbaas berpandangan nikah mut’ah itu tidak apa-apa’. Maka ia (‘Aliy) berkata : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai peliharaan/jinak pada hari Khaibar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6961]

Kalau melihat hadits diatas, justru larangan Nikah Mut’ah justru disampaikan oleh Ali ra, sahabat yang selama ini dikultuskan oleh kaum sesat Syiah. Tidaklah Syiah kecuali hanya menjadikan Mut’ah sebagai pelampiasan Nafsu belaka. Mereka berdusta atas nama Nabi dan para Imam mereka hanya untuk menghalalkan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya larang.

Berikut beberapa hadits terkait larangan Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak):

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ

Dari ‘Aliy bin Abi Thalib, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
Ia pernah mendengar Aliy bin Abi Thalib berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sesat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang kami... [sama dengan redaksi hadits yang di atas yaitu melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak]
[Muslim no.2510]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ
Dari ‘Aliy, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2511]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Dari ‘Aliy, bahwasanya ia mendengar Ibnu ‘Abbas lunak (tidak tegas) mengenai menikahi wanita secara Mut’ah. Lantas ia (‘Aliy) berkata, “Sebentar wahai Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarangnya pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2512]

أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Bahwasanya ia telah mendengar ‘Aliy bin Abi Thalib berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
[Muslim no.2513]

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ
Bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah dan (makan) daging keledai jinak pada masa Khaibar.
[Bukhari no.4723]

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ تَوَافَقَا فَعِشْرَةُ مَا بَيْنَهُمَا ثَلَاثُ لَيَالٍ فَإِنْ أَحَبَّا أَنْ يَتَزَايَدَا أَوْ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا فَمَا أَدْرِي أَشَيْءٌ كَانَ لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِلنَّاسِ عَامَّةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَبَيَّنَهُ عَلِيٌّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَنْسُوخٌ
Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapa saja laki-laki dan wanita yang sepakat (Mut’ah) maka pergaulan di antara keduanya adalah 3 (tiga) malam. Jika keduanya ingin untuk melebihkan atau saling meninggalkan, maka keduanya dapat berpisah.” Aku (perawi) tidak tahu apakah itu dikhususkan untuk kami atau untuk manusia secara umum.” Abu Abdullah berkata, “’Aliy telah menjelaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa ia (Mut’ah) telah manskuh (dihapus).”
[Bukhari no.4725]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ تَحْرِيمُ الْمُتْعَةِ كَالْإِجْمَاعِ إِلَّا عَنْ بَعْضِ الشِّيعَةِ وَلَا يَصِحُّ عَلَى قَاعِدَتِهِمْ فِي الرُّجُوعِ فِي الْمُخْتَلِفَاتِ إِلَى عَلِيٍّ وَآلِ بَيْتِهِ فَقَدْ صَحَّ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهَا نُسِخَتْ
Al-Khaththabiy berkata, “Pengharaman Mut’ah berdasarkan ijma’ kecuali dari sebagian Syiah, namun (hal ini) tidak sesuai dengan kaidah mereka (Syiah) dalam mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Dan telah Shahih dari ‘Aliy bahwasanya ia (Mut’ah) telah mansukh (dihapus).”[Fathul Baariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani] (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Yasir Al Habib Tokoh Syiah Menuntut Berdirinya Negara Syiah Di Kawasan Teluk Arab

Syiahindonesia.com - Yasir Al Habib, tokoh agama Syiah menuntut berdirinya negara Syiah di kawasan teluk Arab yang kaya akan minyak, karena menurutnya penganut Syiah di kawasan teluk mendapatkan penganiayaan dan penindasan.

Al Habib mengatakan dalam klip video yang diposting di situs "YouTube", bahwa Syiah harus memperluas krisis yang terjadi di Bahrain karena demonstrasi mereka menjadi krisis besar-besaran di kawasan Teluk, dan menuntut berdirinya sebuah negara khusus bagi mereka di Teluk yang mecakup negara Bahrain, Kuwait, Qatar, Emirat dan sebagian wilayah Saudi dan Oman, yang semuanya dipenuhi dengan ladang-ladang minyak. 

Dan dokumen-dokumen yang ada menyatakan hal yang senada bahwa Syiah di kawasan teluk Arab hanya memberikan loyalitasnya untuk Iran yang menjadi pusat Syiah, bukan kepada negara-negara yang mereka diami di dalamnya, oleh karena itu mereka terus menerus berbuat rusuh dan menciptakan ketegangan dan krisis di dalam negara yang mereka diami, seperti apa yang dilakukan Syiah di Bahrain yang didukung secara penuh oleh rezim Mullah di Teheran, Iran seperti dilansir Islammemo (15/9/14).

Bagi anda yang penasaran dengan statemen kontroversial Yasir Al Habib diatas, bisa lihat langsung dalam video berikut:




Sumber: Koepas.org