Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Agendakan Dialog Sunni-Syiah, Menag Anggap Ahlus Sunnah Indonesia Tak Paham Syiah

Kemenag RI, Lukman Hakim Saifudi
Syiahindonesia.com - Senin (1/2) lalu, Duta Besar Republik Syiah Iran untuk Indonesia H E Valiollah Mohammadi berkukunjung ke Kementerian Agama RI. Kedatangan Duta Besar Negeri Mullah ini didampingi para Diplomat Kedutaan Iran, antara lain: Maktabifarah, Famouri, dan Ali Pahlevani R.

Dalam pertemuan tersebut, Dubes Iran mengajak kerjasama terkait dialog ulama dua negara. Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan Ideologi Sunni terbesar di dunia, sedang Iran adalah syiah terbesar. “Kami berharap, para ulama dua negara, mampu ketemu, duduk bersama dan berdialog. Hal ini untuk mengurangi kesalahpahaman masyarakat kita,” urainya.

Kerjasama juga bisa dilakukan di bidang Seni dan pariwisata Islami. Valiollah menilai, Indonesia dan Iran sangat kaya akan seni. “Sertifikasi makahan halal pun bisa kita kerja samakan,” tuturnya.

Menag Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, Kemenag siap bekerja sama dengan Pemerintah Islam Iran. Menurutnya,  beberapa hal yang berhubungan dengan Kemenag, akan dipelajari secara seksama. Sedangkan yang berhubungan dengan kementerian lainnya, akan dikoordinasikan dengan kementerian terkait.

Menag menjelaskan bahwa Kemenag mempunyai proyek 5.000 Doktor di berbagai disiplin ilmu yang bisa dikerjasamakan dengan Iran. Menag juga menyambut baik usulan Dubes tentang dialog antarulama.

“Dialog Ulama Indonesia dan Iran, antara Sunni-Syiah memang diperlukan untuk meminimalisir kesalahpahaman di masyarakat. Perbedaan Sunni-Syiah adalah masalah klasik dan telah terjadi ratusan tahun silam. Sering kali, masyarakat kita salah paham,” ungkapnya sebagaimana dilansir kemenag.go.id (1/2/16).

Tentang penyelenggaraan Ibadah Haji, Menag mengatakan, bahwa Ibadah Haji adalah masalah kompleks yang membutuhkan penanganan komplek pula. “Kami  siap bekerja sama dengan Iran,”  tandasnya. (g-penk/mkd/mkd)

Makin Akrab, Kemenag Jalin Kerjasama dengan Kedubes Iran

Kedubes Iran mengunjungi Kemenag
Syiahindonesia.com - Duta Besar Republik Syiah Iran untuk Indonesia H E Valiollah Mohammadi mengunjungi Kementerian Agama RI. Kedatangan Duta Besar Negeri Mullah ini didampingi para Diplomat Kedutaan Iran, antara lain: Maktabifarah, Famouri, dan Ali Pahlevani R.

Sebagaimana diketahui bahwa Iran adalah Negara yang penduduknya bermayoritaskan Syiah Imamiyah, bahkan pengikut Syiah di Indonesia juga berkiblat ke arah Iran.

Sayangnya, kedatangan Dubes Iran beberapa hari lalu diterima Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang didampingi Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri  Gunaryo, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, dan Kasubdit Ketenagaan Dit Diktis Imam Safei.


Kerjasama itu dalam bidang ilmu, pertukarang pelajar, seni dan pariwisata

Valiollah mengajak Kemenag untuk lebih pro aktif dalam menjalin kerja sama Indonesia – Iran. Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa dikerjasamakan. Di bidang Pendidikan Islam, Valiollah mengajak kerjasama di bidang pertukaran mahasiswa, dosen, dan lain sebagainya. “Kami di Iran, mempunyai intansi yang menjadi wadah Syiah, Sunni, dan Syiah-Sunni. Instansi ini dapat dijadikan contoh bahwa Syiah dan Sunni bisa kerjasama,” terangnya, Senin (01/02).

Kerjasama lainnya di bidang Ilmu Al-Quran dan Haji. Valiollah berharap dapat  memperoleh pengalaman dan ilmu dari Indonesia  dalam menyelenggarakan ibadah haji. 

Kerjasama juga bisa dilakukan di bidang Seni dan pariwisata Islami. Valiollah menilai, Indonesia dan Iran sangat kaya akan seni. “Sertifikasi makahan halal pun bisa kita kerja samakan,” tuturnya sebagaimana dirilis resmi dalam situs kemenag.go.id (1/2/16).

Menag Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, Kemenag siap bekerja sama dengan Pemerintah Islam Iran. Menurutnya,  beberapa hal yang berhubungan dengan Kemenag, akan dipelajari secara seksama. Sedangkan yang berhubungan dengan kementerian lainnya, akan dikoordinasikan dengan kementerian terkait. (nisyi/syiahindonesia.com)

Selalu Bela Syiah, Mayoritas Ulama Madura Tolak Said Aqil Siraj

Said Aqil Siraj
Syiahindonesia.com - Kekecewaan mendalam sebenarnya dialami warga nahdliyyin madura terhadap Said Agil Siraj (SAS). Hampir 10 Tahun pernah konflik dengan syiah khususnya di wilayah Sampang, Namun saat mencapai puncaknya pada tahun 2012-2013 yang lalu SAS justru berpihak membela syiah.

Salah seorang ulama Sampang yang juga Pengurus Wilayah GP Anshor Jatim KH. Jakfar Shodiq saat di hubungi NUGarisLurus.Com mengungkapkan sedikit kronologi konflik Nahdliyyin dengan syiah yang sudah sejak tahun 2004 namun sama sekali tidak ada pembelaan PBNU terhadap warga Nahdliyyin.

“Kasus syiah Sampang sudah sejak tahun 2004 sampai dengan tahun  2012-2013 mencapai puncaknya.Hampir tidak ada sama sekali pembelaan dari PBNU kepada PCNU Sampang,” Kata Kyai Jakfar kepada NUGarisLurus.Com, Senin 8 Februari 2016.

“Setiap PBNU datang hanya menampung. terakhir pada bulan puasa 2012. kita sudah siap -siap dengan kyai -kyai khos yang datang hanya petugas dari PBNU. Sama sekali tidak serius, “ungkapnya.

Menurut kyai Jakfar mayoritas atau 100% ulama madura menolak Said Agil Siraj (SAS) karena pembelaannya terhadap syiah yang disebuah media massa justru menyebut bahwa NU Sampang memalukan. “Itu kan bentuk pembelaan SAS kepada Syiah, “Lanjut pengurus Bassra dan AUMA Madura yang menjadi pengurus Ansor sejak 1994 ini.

“Saya bicara dengan Rais PCNU Sampang Kyai Safik. Saat syiah diusir dari GOR Sampang, SAS telpon langsung Rais Syuriah minta dihentikan pengusiran. SAS kebakaran jenggot, “lanjutnya menceritakan kejadian saat itu.

Mayoritas ulama Madura atau hampir 100% menolak SAS karena pembelaannya terhadap syiah namun tidak mau membela warga Nahdliyyin Sampang.

“Mayoritas atau hampir 100% ulama Madura tolak SAS. Saat kasus Syiah Sampang SAS tidak pernah ke lokasi menemui para ulama. Namun Hanya sekali ke pendopo dan tidak mengundang para ulama, “tutupnya. (nugarislurus.com)

Keajaiban Perang di Suriah: Para Malaikat, Tentara Allah, Turun Membantu Mujahidin

Illustrasi; Mujahidin Suriah tengah laksanakan shalat berjama'ah
Syiahindonesia.com - Perang di Suriah, entah kenapa, media di Indonesia khususnya seperti tak berminat untuk memblowupnya.

Kecamuk perang di Suriah dan banyaknya korban gugur, khususnya dari kalangan warga sipil Muslim, luput dari berita. Bahkan, ironisnya, umumnya media menyebut Mujahidin yang melawan rezim Basyar Asad sebagai “pemberontak”.

Karena sunyi dari berita dan tayangan inilah, otomatis publik–khususnya umat Islam di Indonesia–tidak begitu ngeh dengan apa yang terjadi di Suriah sesungguhnya.

Padahal, seperti diceritakan relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan dan medis di salah satu front di jabal Akrod, perang di Suriah sungguh luar biasa. Karena itulah, kenapa, misalnya, dengan kehendak Allah, bumi Syam (Suriah) dipilih sebagai tempat perang yang melibatkan banyak pihak.

Akankah perang Suriah berlangsung lama, bahkan kelak menjadi cikal bakal peperangan menjelang kiamat tiba? Wallahu A’lam. Yang jelas, keterlibatan banyak pihak (negara) dalam konflik di Suriah ini, boleh jadi ada skenario yang Allah kehendaki dalam peperangan ini.

Tim Ketiga Relawan HASI, setidaknya, merasakan keberkahan bumi Syam. Panggilan jihad benar-benar mereka saksikan di wilayah tempat mereka mengemban tugas.

Saat mereka bertugas di Jabal Akrod, banyak kisah dan pengakuan yang mereka dengar sendiri, betapa pertolongan Allah benar-benar turun di Bumi Jihad Suriah.

Koordinator Tim Ketiga HASI,  Abu Yahya, menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Asad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan Mujahidin.

Saat diwawancara oleh Mujahidin Suriah dan relawan HASI, mantan tentara Asad itu, menjawab pertanyaan kenapa pasukan Asad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada Mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah)  maupun persenjataan, Mujahidin jauh kalah dibanding tentara Asad.

Mantan tentara Asad itu menjelaskan sembari terkejut dan heran lalu balik bertanya. “Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berpikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang,” ungkapnya seperti diceritakan kembali oleh Abu Yahya dalam presentasi Laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Selasa (11/12/2012).

Untuk diketahui, wilayah Jabal Akrod mempunyai sebuah tapal batas dengan tentara Asad yang jumlahnya ribuan. Tapal batas tersebut hanya dijaga oleh ratusan Mujahidin. Begitu pentingnya tapal batas tersebut mempengaruhi situasi di Jabal Akrod, jika pasukan Asad mampu membobolnya.

“Namun, hingga kita pulang mereka tidak mampu membobol tapal batas, Allah menurunkan pertolongannya. Sebab, di sana dijaga oleh para Mujahidin yang sangat ikhlas mencari ridho Allah, sangat menjaga ke-Islamannya, sedikit bicara, menundukkan pandangan, dan menjauhi sikap ashobiyah (fanatisme kelompok),” papar Ustadz Oemar Mitha, penerjemah yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan HASI.

Peristiwa-peritistiwa luar biasa seperti di atas pun tidak hanya terjadi satu kali.  Pada kejadian yang lain, Mujahidin hendak melakukan perang dengan konvoi 50 truk yang berisi tentara Basyar Asad.

Hingga pada satu titik terjadilah baku tembak antara Mujahidin dengan tentara Asad. Mujahidin memang sudah bertekad  untuk menghabisi dan memukul mundur tentara Bashar Asad.

Di luar dugaan, tiba-tiba saja muncul kejadian di luar perkiraan mereka. Helikopter dan pesawat tempur datang seperti hendak memerangi Mujahidin. Mujahidin yakin, ini bantuan dari pihak Bashar Asad untuk menghabisi mereka.

Ingat, hingga kini Mujahidin Suriah sama sekali tidak memiliki alat tempur seperti pesawat. Mereka bertempur hanya via jalur darat dengan persenjataan yang kalah canggih jika dibandingkan milik rezim Asad.

Mengukur jumlah personel dan persenjataan yang terbatas, komando Mujahidin menyerukan agar segera mengosongkan tempat pertempuran dan masuk ke gunung-gunung untuk mengatur strategi.

Anehnya, ketika Mujahidin sudah menarik diri, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Berondongan dan desingan peluru seperti enggan berhenti walau tidak ada satu Mujahidin pun tersisa di lokasi pertempuran. Komandan Mujahidin sampai bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya yang sedang berperang melawan tentara Bashar Asad?

Ia pun mengecek jumlah personel untuk memastikan kemungkinan ada Mujahidin tertinggal dan melakukan perlawanan terhadap tentara Asad. Namun hasil perhitungannya, seluruh Mujahidin sudah berada di gunung.

Hingga datang matahari terbit dan mereka yakin kondisi telah aman, barisan Mujahidin pun turun dari gunung-gunung. Dan, betapa terkejutnya mereka melihat sebagian tentara Asad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya baru menghadapi pertempuran hebat.

Tentu kejadian ini menjadi seribu tanya bagi Abu Yahya, relawan HASI yang menghabiskan waktu selama satu bulan, 4 November-4 Desember 2012, di Desa Salma, Jabal Akhrod, Suriah. Ia mendapatkan kisah ini langsung dari Mujahidin.

“Lantas siapa yang berada di dalam pesawat dan helikopter untuk melawan tentara Suriah?” tanya Abu Yahya yang diliputi rasa heran audiens yang hadir.

Banyak peristiwa-peristiwa lain yang belum sempat diceritakan relawan HASI secara lengkap mengingat keterbatasan waktu.

Namun, kisah-kisah tersebut sudah cukup mengukuhkan keyakinan perihal munculnya ayaturrahman fii jihadil-Syam (keajaiban perang di Bumi Syam).

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (QS Al-Anfal: 10). Allahu Akbar! (arrahmah.com/salam-online.com)

KH. Ma'ruf Nyatakan Quraisy Shihab Seorang Pendukung Syiah

KH. Ma’ruf Amin
Syiahindonesia.com - Pengurus Lembaga Penelitian dan Pengkajian (LPPI) Indonesia Bagian Timur, Hj. Rosmeinita Arif, MA yang tinggal di Jakarta Utara, bersama Muh. Istiqamah silaturrahim ke rumah pribadi Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat KH. Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin, Senin (10 /3/ 2014) malam.

Pada saat pertemuan itu diungkapkan beberapa hal tentang Syiah Indonesia dan tokoh-tokohnya. Diantara yang cukup signifikan, meski disebut pada point ke-5, adalah pernyataan Kyai Ma’ruf bahwa Quraisy Syihab mendukung Syiah, “Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syiah dalam bukunya, Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?“

Berikut ini adalah point-point yang diutarakan oleh KH. Ma’ruf Amin sebagaimana ditulis oleh Muh. Istiqamah dari LPPI Makassar Rabu (12/3/2014).

Pertama, Meskipun dalam pengurus MUI Pusat ada tokoh yang mendukung Syiah seperti Prof. Umar Shihab, Buku Panduan MUI, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tetap harus diterbitkan karena ada amanah fatwa MUI tahun 1984 untuk mewaspadai masuknya ajaran Syiah di Indonesia. Dan alhamdulillah buku itu sudah tersebar luas di masyarakat.

Fatwa 1984 tersebut masih menggantung, Syiah bagaimana yang harus diwaspadai. Karena itu, dalam buku ini kami jelaskan dan gambarkan bentuk ajaran dan pergerakan Syiah di Indonesia yang harus diwaspadai.

Kedua, Saya sebenarnya pernah diakali untuk pergi ke Iran tapi saya tidak pernah mau. Makanya yang lain pergi ke Iran, saya tidak. Karena itu, sepulang dari Iran Umar Shihab mendukung Syiah.

Ketiga, Syiah di Indonesia yang kita temukan, tidak bisa kita pungkiri memang mempraktekkan makian kepada sahabat-sahabat Nabi.

Keempat, Untuk Fatwa Nasional tentang kesesatan Syiah, kami butuh bukti lapangan orang Syiah memaki sahabat. Karena Jalaluddin Rakhmat itu sering menyangkal jika dituduh memaki sahabat.

Bukan literatur, kalau literaturnya ada. Seperti di Sampang, bukti lapangannya ada, mencaci maki sahabat Nabi. Di Jawa Timur, mereka (pemerintahnya) berani, Ulamanya bersatu. Meskipun waktu itu ada tekanan dari (beberapa orang) Kemenag, saya tetap mendukung fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah karena sudah prosedural (Baca disini:http://www.lppimakassar.com/2012/11/mui-pusat-mengesahkan-dan-mendukung.html).Begitu juga saya mendukung MUI Daerah untuk keluarkan fatwa serupa kalau sudah menemukan bukti lapangan.

Kelima, Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syiah dalam bukunya “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?,”

Nah, lalu Tim Penulis Pesantren Sidogiri mematahkan semua argumen Quraish Shihab dalam buku bantahan yang mereka tulis, namun sayang, buku ini tidak terlalu menyebar. (azm/arrahmah.com)