Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Umat Islam Nusantara Mesti Bersatu Menentang Syiah

Oleh Abdul Shakur Muhamad Zamani

Syiahindonesia.com – Gerakan Syiah Iraniyyah menyasarkan Indonesia dan Malaysia sebagai tapak gerak kerja sesat mereka di rantau Nusantara.

Justeru, umat Islam mesti bersatu di dalam perkara usul dan menghormati khilaf fiqh demi menghalang gerakan Syiah yang berusaha menyesatkan umat Islam di Nusantara.

Ketua Unit Kajian Syiah Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA), Ustaz Mohamad Ismail, berkata demikian dalam Ijtima’ Ulama’, Rakerda (Rapat Kerja Daerah) dan Pengukuhan Pengurus MUI Provinsi Riau di Dewan Serindit, Kompleks Perumahan Gabenor Riau di sini semalam.

Dalam pembentangannya, Ustaz Mohamad berkongsi maklumat latar belakang gerakan penyebaran Syiah di Malaysia dan langkah kerajaan Malaysia dalam membenteras penyebaran fahaman sesat itu.

Turut membentang kertas kerja di Ijtima’ ini ialah Ustaz Dr Abdul Chair (Khair) Ramadhan, ahli MUI Pusat dan penulis buku, “Syiah menurut Syiah, Ancaman Nyata NKRI” dan Ustaz Dr Musthafa Umar, Ketua Komisi Fatwa, MUI cawangan Riau.

Ustaz Mohamad hadir ke majlis itu atas jemputan Majlis Ulama Indonesia (MUI) cawangan Riau. (islamweb.net/syiahindonesia.com)

Pemuda Muhammadiyah : Ketimbang Bikin Kontroversi, Lebih Baik Menag Atasi Syiah

Syiahindonesia.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin diminta fokus urusan umat ketimbang membuat kontroversi terkait pembacaan Al Quran dengan irama macopat/langgam jawa.

"PWPM Sumut mendesak agar Menag Lukman Hakim Saifuddin lebih fokus terhadap urusan keumatan ketimbang urusan sepele," jelas Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Utara, M. Basir Hasibuan, dikutip dari RMOL (Rabu, 20/5).

Mengingat banyaknya masalah yang mendera umat, Menteri Lukman jangan sampai membuat kebijakan yang menyulut kontroversi. Seperti pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa saat peringatan Isra' Mi'raj di Istana Jumat malam lalu.

"Penggunaan langgam Jawa dalam acara Isra' Mi'raj menuai kontroversi di kalangan ulama. Seolah-olah diperbolehkan menggunakan langgam Jawa, Batak, Aceh, Madura," ungkapnya.

Apalagi perubahan penggunaan langgam dikhawatirkan akan mengurangi makna. "Sedikit saja bunyi hurufnya berbeda, maknanya berbeda," ungkapnya.

Karena pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa tersebut menuai polemik, Menag disibukkan untuk mengklarifikasi. Apalagi Menag mengakui bahwa itu atas permintaannya.

"Ketimbang urusan yang sepele, Pemuda Muhammadiyah mendesak Menag lebih fokus pada penataan kurikulum pesantren agar anak muda tidak tersusupi ISIS, penataan ibadah haji dan urusan Syiah yang jelas mendangkalkan aqidah umat Islam," tandasnya.(RMOL/Islamedia/YL/syiahindonesia.com)

Jika Aparat Tidak Mau Membubarkan Syiah, Maka Umat Islam Harus Siap Membubarkannya

Demo Anti Syiah, Bandung (19/05/15)
Syiahindonesia.com - Dalam aksi Long March ‘Selamatkan Indonesia dari Makar Syiah’ pada Selasa (19/05) kemarin di Bandung, ada satu orasi yang menarik tentang perumpamaan aliran sesat Syiah, yang disampaikan oleh perwakilan dari Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat Ustadz Agung.

Dalam orasinya, Ustadz Agung mengatakan bahwa jika ada aparat Polisi atau TNI gadungan (palsu-red), pasti TNI dan Polisi gadungan itu akan disiksa oleh aparat yang sesungguhnya.

“Maka jika ada ‘Islam’ gadungan seperti Syiah, Ahmadiyah, maka halal untuk disiksa,” ucapnya dengan suara yang lantang dan disambut pekikan  takbir dari massa aksi.

    ...jika masyarakat menemukan pengajian-pengajian atau majelis-majelis yang menyesatkan, maka laporkan kepada aparat yang berwenang untuk dibubarkan

Ustadz Agung kemudian mengatakan jika masyarakat menemukan pengajian-pengajian atau majelis-majelis yang menyesatkan, maka laporkan kepada aparat yang berwenang untuk dibubarkan.

“Jika aparat tidak mau atau tidak bisa membubarkannya, maka kita harus siap membubarkannya berdasarkan syariat Islam,” ujarnya.

“Jika TNI atau Polisi diinjak-injak harga diri dan kehormatannya pasti akan marah, nah bagaimana kalau ada orang yang menginjak-injak, melecehkan Allah, Rosul, Al-Quran dan Islam? Jadi sangat wajar kalau umat Islam marah ketika Allah, Rosul, Al-Quran dan Islam diinjak-injak oleh kelompok sesat seperti Syiah,” pungkasnya.

Aksi Long March ‘Selamatkan Indonesia dari Makar Syiah’ ini diikuti oleh gabungan ormas Islam yang ada di Jawa Barat. Menurut panitia, aksi ini hanya merupakan awal dari aksi-aksi besar lainnya dalam rangka menyadarkan masyarakat terutama umat Islam akan ancaman dan bahaya Syiah. (syahid/voa-islam.com/syiahindonesia.com)

Serukan Syiar Kristen, Emilia Renita Bangga Berkata “Haleluya”

Syiahindonesia.com - Sudah terlalu banyak bukti yang menunjukan loyalitas Emilia Renita dan para pengikutnya kepada kaum kafir Kristen.

Setelah beberapa hari lalu Emilia dan para antek-antek usai merayakan hari paskah di sebuah gereja bersama-sama orang kristen katolik (baca disini), kali ini istri Jalaludin Rahmat ini membuat geger di socmed dengan menyiarkan seruan orang kristen, "Haleluya". Entah apa yang dia pikirkan, apakah ia sudah di baptis oleh pendeta-pendeta katolik di hari paskah itu? ataukah memang sejatinya dia asli beragama kristen? entahlah...

Seruan Emilia Renita itu tertulis dalam sebuah status Facebooknya pada tanggal 16 Mei 2015. Dalam postingan status tersebut, dia mencaci maki ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah) dengan menyebutnya sebagai ormas odong-odong.

"Seperinya 4 bulan lalu bersama Ormas Odong2 ANNAS memamerkan baju Anti Syiah, apa skarang Mau pake Rompi Orange bertuliskan tersangka ??" tulisnya.

Sambil menghina ANNAS, Emilia dengan bangga menyuarakan syiar yang biasa orang kristen lakukan, “Haleluya.”

Apa Sebenarnya Hakikat Kata “Haleluya” Itu?   

Kata“Haleluya” merupakan suatu kata yang sangat populer di kalangan orang Kristen, baik dari kalangan Pentakosta maupun Protestan. Seluruh umat Kristen pasti pernah mengucapkan kata ini, baik di dalam momen ibadah gerejawi, doa pribadi, ataupun di dalam kehidupan sehari-hari. Ia adalah istilah Kristen yang berarti ungkapan untuk menyatakan pujian, rasa syukur, atau rasa sukacita.
Seorang tokoh kristen terkenal Pdm.Yohannes Nahuway, M.Th mengungkapkan bahwa apabila seseorang mengucapkan kata haleluya, maka secara otomatis semua orang tahu bahwa dia adalah seorang Kristen. (lihat: artikelnya disini)

Kalau Emilia Renita Mengaku Muslim, Mengapa Menyiarkan Syiar Kristen?

Haleluya, Syalom, dan Puji Tuhan  dan syiar kristen lainnya merupakan ucapan yang tidak pantas bagi seorang muslim. Hal ini karena ucapan tersebut adalah dzikirnya orang nashrani, dan ucapan tersebut sangat tidak layak di ucapkan oleh orang muslim.

Rasulullah sudah mengajarkan kepada kaum muslimin tentang ucapan-ucapan atau dzikir yang baik seperti Subhanallah, Alhamdulilla, Allahu akbar, dan lafadz-lafadz dzikir yang lainnya.

Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sebaik-baik perkataan adalah Subhanallah Wal Hamdulilah La Ilaha Illallahu Allahu Akbar, (Maha Suci Allah, Segala puji bagi Allah, Tidak ada ilah selain Allah dan Allah maha besar) " (Hadits Imam Ahmad Bin Hanbal Nomor 15816)

Selain itu, ucapan Haleluya merupakan tabi’at orang kristen, dan menirunya tidaklah diperkenankan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, ” Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi). (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut screen shot status Emilia Renita yang di ambil pada tanggal 20/05/2015:


Aqidah Kufur Syiah Tentang al-Quran

Syiah dan Rukun Iman

Sebagaimana terhadap kenabian (nubuwwah)—yang telah kami bahas sebelumnya—keyakinan Syiah tentang kitabullah juga berbeda dengan umat Islam sebagai berikut:

Iman Kepada kitabullah

 Syiah percaya terhadap kitab-kitab Allah Swt. yang diturunkan kepada para nabi-Nya. Malah, mereka berpendapat bahwa para Imam Dua Belas telah membaca kitab-kitab tersebut dalam semua bahasa aslinya.[1] Mengenai hal ini, dalam suatu riwayat Syiah dijelaskan:

وَإِنَّ عِنْدَنَا عِلْمَ التَّوْرَاةِ وَالانْجِيلِ وَالزَّبُورِ وَبَيَانَ مَا فِي الالْوَاح

“Sesungguhnya kami mempunyai pengetahuan tentang Taurat, Injil, Zabur dan penjelasan (arti) dari apa yang terdapat dari Lauh al-Mahfuz.”[2]

 Selain itu, Syiah juga meyakini bahwa kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa As., Zabur kepada Nabi Dawud As., Injil kepada Nabi Isa As., dan al-Quran pada Nabi Muhammad saw., sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut:

عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ أَبِي الْعَلاءِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ الله (عَلَيْهِ السَّلام) يَقُولُ إِنَّ عِنْدِي الْجَفْرَ الابْيَضَ قَالَ قُلْتُ فَأَيُّ شَيْ ءٍ فِيهِ قَالَ زَبُورُ دَاوُدَ وَتَوْرَاةُ مُوسَى وَإِنْجِيلُ عِيسَى وَصُحُفُ إِبْرَاهِيمَ (عَلَيْهِ السَّلام) وَالْحَلالُ وَالْحَرَامُ

Dari al-Husen bin Abi al-Ala’, dia berkata, “Aku mendengar Abu Abdillah AS. Berkata, ‘Sesungguhnya aku mempunyai al-Jafr putih.’ Aku bertanya, ‘Apa isinya?’ Beliau menjawab, ‘(Isinya adalah) Zabur Daud, Taurat Musa, Injil Isa dan Shuhuf Ibrahim serta halal dan haram…’.”[3]

  Al-Jafr adalah kitab yang terbuat dari kulit yang konon berisi ilmu para nabi, ilmu para Imam dan ilmu ulama Bani Isra’il. Dalam riwwayat lain disebutkan bahwa al-Jafr adalah kitab dari kulit sapi jantan. (Lihat, al-Kafi, juz 1, hlm. 239) ikuti pembahasan lebih lanjut mengenai kitab ini.

 Dalam riwayat lain juga disebutkan:

عَنْ سَمَاعَةَ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ قُلْتُ لأبِي عَبْدِ الله (عَلَيهِ السَّلام) قَوْلَ الله عَزَّ وَجَلَّ فَاصْبِرْ كَما صَبَرَ أُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ فَقَالَ نُوحٌ وَإِبْرَاهِيمُ وَمُوسَى وَعِيسَى وَمُحَمَّدٌ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِه) قُلْتُ كَيْفَ صَارُوا أُولِي الْعَزْمِ قَالَ … حَتَّى جَاءَ مُوسَى بِالتَّوْرَاةِ وَشَرِيعَتِهِ وَمِنْهَاجِهِ وَبِعَزِيمَةِ تَرْكِ الصُّحُفِ وَكُلُّ نَبِيٍّ جَاءَ بَعْدَ مُوسَى (عَلَيهِ السَّلام) أَخَذَ بِالتَّوْرَاةِ وَشَرِيعَتِهِ وَمِنْهَاجِهِ حَتَّى جَاءَ الْمَسِيحُ (عَلَيهِ السَّلام) بِالإنْجِيلِ وَبِعَزِيمَةِ تَرْكِ شَرِيعَةِ مُوسَى وَمِنْهَاجِهِ فَكُلُّ نَبِيٍّ جَاءَ بَعْدَ الْمَسِيحِ أَخَذَ بِشَرِيعَتِهِ وَمِنْهَاجِهِ حَتَّى جَاءَ مُحَمَّدٌ (صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِه) فَجَاءَ بِالْقُرْآنِ وَبِشَرِيعَتِهِ وَمِنْهَاجِهِ فَحَلالُهُ حَلالٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَحَرَامُهُ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَهَؤُلاءِ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Dari Sama’ah bin Mihran, dia berkata: “Aku bertanya pada Abu Abdillah AS. Tentang firman Allah SWT. “Maka bersabarlah kamu sebagaimana sabarnya para utusan Ulul ‘Azmi.” Beliau menjawab: “(Mereka adalah) Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW. aku kembali bertanya: “Bagaimana mereka menjadi Ulu al-‘Azmi?”. Beliau menjawab: “. . .hingga datanglah Musa dengan Taurat, syari’at dan ajarannya, serta kemauan untuk meninggalkan Shuhuf (Ibrahim). Semua nabi yang datang setelah Musa mengamalkan Taurat, syari’at dan ajarannya. Hingga datanglah al-Masih AS. Dengan membawa Injil serta kemauan untuk meninggalkan syari’at dan ajaran Musa, maka setiap nabi yang datang setelahnya melaksanakan syari’at dan ajaran al-Masih. Hingga datanglah SAW. dengan membawa al-Qur’an, syari’at dan ajarannya. Apa yang dihalalkannya menjadi halal hingga hari kiamat, dan apa yang diharamkannya menjadi haram hingga hari kiamat. Mereka adalah para utusan Ulul ‘Azmi.”[4]

Jadi, mengamati riwayat-riwayat Syiah diatas, memang tidak terdapat perbedaan antara Syiah dan Islam mengenai kitab-kitab Allah SWT. Yang diturunkan kepada para nabi. Hanya saja masalahnya, Syiah memiliki pandangan dan keyakinan lain mengenai al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang kini berada di tangan kaum Muslimin di seluruh dunia telah diubah oleh para sahabat. Karenanya, al-Qur’an itu kini berbeda dari al-Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah SAW.

Syiah berpendapat bahwa telah terjadi pengurangan dan penambahan pada al-Qur’an yang ada saat ini, terutama berkenaan dengan ayat-ayat yang menyebutkan para Imam Dua Belas. Jadi, Syiah memandang al-Qur’an tidak berbeda dengan Zabur, Taurat dan Injil, yang telah mengalami problem distorsi dan interpolasi (tahrif/perubahan). Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang asli kini berada pada Imam kedua belas, yakni al-Mahdi, dan akan datang nanti pada akhir zaman lalu membacakannya sesuai dengan yang dibacakan langsung oleh Rasulullah SAW.

Mengenai pengurangan, penambahan dan distorsi (tahrif) terhadap al-Qur’an ini, dalam kitab al-Imamah karya Muhammad bin Ja’far al-Ahwal, misalnya, dinyatakan bahwa Allah SWT  tidak pernah berfirman:

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (التوبة ]9[: 40)

Senada dengan pernyataan diatas, al-Kulaini juga mengutip beberapa riwayat yang diafiliasikan kepada Abi Abdillah, antara lain sebagai berikut:



عَنْ سَالِمِ بْنِ سَلَمَةَ قَالَ قَرَأَ رَجُلٌ عَلَى أَبِي عَبْدِ الله (عَلَيهِ السَّلام) وَأَنَا أَسْتَمِعُ حُرُوفاً مِنَ الْقُرْآنِ لَيْسَ عَلَى مَا يَقْرَأُهَا النَّاسُ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ الله (عَلَيهِ السَّلام) كُفَّ عَنْ هَذِهِ الْقِرَاءَةِ اقْرَأْ كَمَا يَقْرَأُ النَّاسُ حَتَّى يَقُومَ الْقَائِمُ (عجل الله تعالى فرجه الشريف) فَإِذَا قَامَ الْقَائِمُ (عجل الله تعالى فرجه الشريف) قَرَأَ كِتَابَ الله عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حَدِّهِ

Dari Salin bin Salamah, dia berkata: “Seorang laki-laki membaca (al-Qur’an) dihadapan Abu Abdillah AS. Aku mendengarkan beberapa bacaan yang tidak sama dengan bacaan orang-orang. Maka Abu Abdillah AS. Berkata: “Berhentilah membaca Qira’at ini! Bacalah seperti yang biasa dibaca oleh orang-orang! Hingga datang al-Qaim (al-Mahdi). Bila al-Qaim datang, dia akan membaca al-Qur’an sesuai aslinya.”[5]



Lebih dari itu, Syiah juga menuding bahwa Nabi Muhammad SAW. menyembunyikan sembilan perpuluh al-Qur’an.[6] Dalam kitab Ahwal ar-Rijal,[7] seperti dikutip al-Qifari, dijelaskan bahwa Abdullah bin Saba’ mengajarkan, sesungguhnya al-Qur’an yang ada sekarang hanya satu juz dari seluruh isi al-Qur’an yang ada. Tak ada yang tahu isi al-Qur’an seluruhnya kecuali Imam Ali AS.

Selain meyakini terjadinya tahrif al-Qur’an, Syiah juga mengklaim telah memiliki kitab-kitab yang diturunkan langsung oleh Allah SWT. untuk kalangan mereka sendiri. Namun di samping klaim tersebut, realitanya Syiah juga mengakui bahwa kitab-kitab samawi itu belum pernah dijumpai oleh siapapun, bahkan oleh kelompok-kelompok Syiah sendiri.



Pembahasan tentang kitab-kitab Allah SWT. yang diyakini oleh Syiah diturunkan kepada mereka,  insya Allah akan disampaikan pada edisi berikutnya.



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 227.

[2]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 5 hlm. 354. Dikutip antara lain oleh Dr. Shalih ar-Raqb dalam al-Wasyi’ah fi Kasyf Syana’i ‘Aqaid asy-Syi’ah, hlm. 107 dan Dr. Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qifari, Ushul al-Madzhab ar-Rafidhi, juz 2 hlm. 119.

[3]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 24.

[4]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 17.

[5]Al-Kulaini, al-Kafi, juz 2 hlm. 631-634. Demikian pandangan mereka mengenai problem distorsi dalam al-Qur’an. Pembahasan ini akan dikaji secara lebih rinci dalam sub bagian khusus: Syiah dan al-Qur’an.

[6]Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 712.

[7]Al-Jauzani, Ahwal ar-Rijal, hlm. 38 dan al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 712.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)