Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Muhsin Labib (Tokoh Syi’ah) Sebut Kemenag Tak Perlu Ada

Jakarta (Syiahindonesia.com) – Penghapusan Kementerian Agama (Kemenag) yang di issuekan oleh sejumlah media massa mengutip apa yang direncanakan oleh Presiden RI terpilih 2014-2019, Joko Widodo (Jokowi) dalam susunan kabinetnya mendapat dukungan dari salah satu tokoh aliran sesat Syi’ah di Indonesia, Muhsin Labib.

Menanggapi wacana penghapusan Kemenag dalam kabinet Jokowi-Jusuf Kalla (JK), anggota Dewan Syura Ahlul Bait Indonesia (ABI) itu mengatakan, jika agama adalah bagian dari urusan negara, seperti halnya pariwisata dan ekonomi, maka diperlukan Kemenag. Sebaliknya, jika negara dan agama tidak berhubungan sama sekali, Kemenag tidak diperlukan.

“Kalau agama adalah bagian dari urusan negara, sebagaimana pariwisata dan ekonomi, perlu ada Kementerian Agama. Kalau negara dan agama tidak berhubungan sama sekali, Kementerian Agama tidak perlu, padahal sila 1 Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,” tulis Muhsin Labib di akun Twitternya, @muhsinlabib.

Pernyataan Muhsin itu didasari pada pertanyaan mendasar, yakni hubungan antara agama dan negara. “Apakah agama dan negara berdiri sendiri-sendiri dan tidak berhubungan, ataukah agama dan negara kadang berhubungan dan kadang tak berhubungan? Apakah agama adalah bagian dari urusan negara, atau negara adalah bagian dari urusan agama?,” tulisnya.

Sebelumnya, da’i asal Papua, ustadz Fadlan R Garamatan mengingatkan Jokowi untuk tidak menghilangkan Kemenag dalam kabinetnya. “Jika benar kabinet Jokowi tidak punya Kementrian Agama, maka itu berarti mengkerdilkan umat Islam, kesempatan pemurtadan umat Islam,” tulis ustadz Fadlan di akun Twitternya, ‏@fadlannuuwaar.

Menurut ustadz Fadlan, jika Jokowi menghilangkan Kemenag, maka Jokowi telah mengkerdilkan negeri Indonesia dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. “Negeri mayoritas umat Islam dikerdilkan tanpa Kementerian Agama oleh Jokowi,” tegas ustadz Fadlan.

Seperti diketahui bersama, dalam jumpa pers di Kantor Transisi, Jakarta, pada Senin (15/9/2014) kemarin, Jokowi  yang didampingi dengan Wapres RI terpilih 2014-2019 Jusuf Kalla (JK) menyatakan akan menghapus jabatan wakil-wakil menteri, kecuali wakil menteri luar negeri.

Jokowi menyebut, dari 34 menteri maka 19 kementerian tak diubah karena dipertahankan seperti sekarang. Akan ada enam kementerian yang dengan penamaan baru, enam kementerian digabung, dan ada tiga kementerian baru. Namun belakangan, pihak Jokowi menyatakan tidak akan menghapus Kemenag. [GA/intelejen/Panjimas.com/Syiahindonesia.com]

Bandung Menjadi Tempat Perayaan Milad Imam Syiah (Foto)

Bandung (Syiahindonesia.com) - Beramal tanpa ilmu, barangkali kalimat ini sangat tepat ditunjukan untuk kaum Syiah. Amalan yang ada landasannya dari al-Quran dan as-Sunnah sebagiannya ditolak, tapi justru amalan yang tidak ada anjuran dari Allah dan Rasul-Nya malah dilakoni, begitulah syiah.

Pada tanggal 4 september 2014, kaum Syiah di Indonesia usai mengadakan perayaan milad salah satu imam mereka, yaitu Imam 'Ali bin Musa Ar-Ridha. Perayaan rutinitas mereka itu berlangsung di di Aula Muthahhari, Bandung.

Acara ini diselenggarakan oleh IJABI bersama Yayasan Muthahhari dengan dihadiri oleh beberapa orang Iran, dan satu diantaranya ada Hujjatul Islam Naili Pur, tak lupa juga Jalaludin Rahmat dedengkot Syiah Indonesiapun turut menghadiri acara perayaan ini.

Di dalam acara tersebut, Hujjatul Islam Naili Pur berkesempatan untuk menyampaikan beberapa patah kata atau mungkin juga bisa dibilang ceramah singkat.

Berikut beberapa dokumen berupa foto-foto acara Milad Imam Imam 'Ali bin Musa Ar-Ridha yang berlangsung di Aula Muthahhari, Bandung:



















Siapakah 'Ali bin Musa Ar-Ridha?

Ia adalah imam ke-8 kaum Syiah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah bahwa Syiah menolak seluruh kekhilafahan sepeninggal Nabi saw kecuali hanya 12 imam saja. Yaitu;

1.    Ali bin Abi Thalib
2.    Hasan bin Ali
3.    Husain bin Ali
4.    Ali bin Husain
5.    Muhammad bin Ali
6.    Ja’far bin Muhammad
7.    Musa bin Jafar
8.    Ali bin Musa (Ali ar-Ridha)
9.    Muhammad bin Ali
10.    Ali bin Muhamad
11.    Hasan bin Ali
12.    Muhammad bin Hasan, juga dikenal dengan Muhammad al-Mahdi

Syiah menganggap ke 12 imam itu ma’shum (terjaga dari dosa), mereka meyakini bahwa para imam memiliki kedudukan terpuji, derajat tinggi, dan khilafah di jagat raya sebagaimana perkataan salah seorang imam mereka:

“Imam memiliki kedudukan terpuji, derajat yang tinggi, dan khilafah di jagat raya, seluruh partikel di dalamnya tunduk di bawah kuasanya.” (lihat kitab Tahrir al-Washilah, oleh al-Khumaini, hal. 52)
Syiah meyakini bahwa para imam ini mengetahui segalanya, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Lebih parah dari itu, keyakinan mereka tentang para imam ini sangat bathil, bahwa mereka berkeyakinan bahwa para imam yang 12 itu lebih afdhol ketimbang para nabi dan rasul, sebagaimana ulama mereka mengatakan;

“Dua belas imam Syiah lebih baik dari pada nabi dan rasul.” Lihat kitab al-Anwar an-nu’maniyah, oleh Nikmatullah al-Jazairi (3/308)

Terkait keyakinan Syiah terhadap imam mereka yang ke-8 Ali bin Musa ar-Ridha, mereka memiliki beberapa keyakinan sesat seperti berikut ini:

1.    Mampu Menguasai Seluruh Bahasa

bu Shilat Harawi menceritakan ‘sesungguhnya Imam Ridha as berbicara dengan orang-orang menurut bahasa mereka. Maka akupun bertanya kepadanya tentang fenomena tersebut. Imam as pun berkata, ‘wahai Abu Shilat, aku adalah hujjah Allah bagi seluruh makhluk-Nya, dan Allah tidak akan mengangkat seorang hujjah satu kaum, namun ia tidak mengetahui bahasa mereka. Apakah tidak sampai padamu sabda Amirul Mukminin ‘sesungguhnya, kami telah diberikan dashlul khitab’ dan itu tidak lain adalah pengetahuan beliau as tentang berbagai bahasa’ (Al-manaqib , jilid 4, hal 362)

2.    Mengetahui kejadian masa depan

Diriwayatkan dari Husain, cucu Imam Musa Kadzim as, beliau berkata ‘ketika itu, para pemuda bani Hasyim  berada di keliling Abul Hasan (Imam Ali Ridha as) tiba-tiba lewat di hadapan kami, Ja’far bin Umar Alawi dalam keadaan compang camping. Kami pun saling memandang satu sama lain, dan kamipun menertawakan keadaannya, maka Imam Ali Ar-ridha as berkata ‘sesungguhnya dalam waktu tak lama lagi kalian akan melihatnya sebagai orang yang banyak harta dan pengikut’ tidak kurang dari satu bulan ataupun lebih (sedikit), hingga akhirnya ia menjadi walikota Madinah dan keadaan (ekonomi)nya membaik ’ (Biharul anwar, jilid 12, hal 13)

Begitulah keyakinan sesat Syiah terhadap para Imam mereka. Sejatinya, kesesatan mereka bermuara pada keyakinan imamah versi Syiah. Sebab, mereka akan senantiasa tunduk pada perkataan imam mereka walaupun itu adalah bathil. Dan sudah jadi hal umum bahwa seringkali Syiah berdusta atas nama para Imam mereka. wal ‘iyadzubillah. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Imam Ali Haramkan Nikah Mut’ah

Syiahindonesia.com - Ironis, kaum yang meninggikan bahkan mengkultuskan Imam Ali justru malah tidak mau mendengar perkataan sahabat Ali ra.

Syiah adalah kaum yang menghalalkan Nikah Mut’ah, bid’ah sesat yang diada-adakan Syiah hanya untuk melampiaskan hawa nafsu semata. Padahal, Islam dengan tegas melarang nikah mut’ah sesuai dengan sabda Nabi saw:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ، عَنِ الْحَسَنِ، وَعَبْدِ اللَّهِ ابني محمد بن علي، عَنْ أَبِيهِمَا، أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قِيلَ لَهُ: إِنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ " لَا يَرَى بِمُتْعَةِ النِّسَاءِ بَأْسًا، فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ، وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ "

Telah menceritakan kepada kami Musaddad : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami Az-Zuhriy, dari Al-Hasan dan ‘Abdullah – keduanya anak Muhammad bin ‘Aliy - , dari ayahnya : Bahwasannya ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu pernah dikatakan kepadanya : ‘Sesungguhnya Ibnu ‘Abbaas berpandangan nikah mut’ah itu tidak apa-apa’. Maka ia (‘Aliy) berkata : “Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah melarang nikah mut’ah dan daging keledai peliharaan/jinak pada hari Khaibar” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6961]

Kalau melihat hadits diatas, justru larangan Nikah Mut’ah justru disampaikan oleh Ali ra, sahabat yang selama ini dikultuskan oleh kaum sesat Syiah. Tidaklah Syiah kecuali hanya menjadikan Mut’ah sebagai pelampiasan Nafsu belaka. Mereka berdusta atas nama Nabi dan para Imam mereka hanya untuk menghalalkan apa yang telah Allah dan Rasul-Nya larang.

Berikut beberapa hadits terkait larangan Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak):

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِفُلَانٍ إِنَّكَ رَجُلٌ تَائِهٌ نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِ حَدِيثِ

Dari ‘Aliy bin Abi Thalib, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
Ia pernah mendengar Aliy bin Abi Thalib berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang sesat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang kami... [sama dengan redaksi hadits yang di atas yaitu melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak]
[Muslim no.2510]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ
Dari ‘Aliy, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2511]

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Dari ‘Aliy, bahwasanya ia mendengar Ibnu ‘Abbas lunak (tidak tegas) mengenai menikahi wanita secara Mut’ah. Lantas ia (‘Aliy) berkata, “Sebentar wahai Ibnu ‘Abbas, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarangnya pada perang Khaibar dan (makan) daging keledai jinak.”
[Muslim no.2512]

أَنَّهُ سَمِعَ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ يَقُولُ لِابْنِ عَبَّاسٍ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ أَكْلِ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ
Bahwasanya ia telah mendengar ‘Aliy bin Abi Thalib berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang menikahi wanita secara Mut’ah pada perang Khaibar dan makan daging keledai jinak.”
[Muslim no.2513]

أَنَّ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِابْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ
Bahwasanya ‘Aliy Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Ibnu ‘Abbas, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang nikah Mut’ah dan (makan) daging keledai jinak pada masa Khaibar.
[Bukhari no.4723]

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا رَجُلٍ وَامْرَأَةٍ تَوَافَقَا فَعِشْرَةُ مَا بَيْنَهُمَا ثَلَاثُ لَيَالٍ فَإِنْ أَحَبَّا أَنْ يَتَزَايَدَا أَوْ يَتَتَارَكَا تَتَارَكَا فَمَا أَدْرِي أَشَيْءٌ كَانَ لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِلنَّاسِ عَامَّةً قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ وَبَيَّنَهُ عَلِيٌّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَنْسُوخٌ
Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Siapa saja laki-laki dan wanita yang sepakat (Mut’ah) maka pergaulan di antara keduanya adalah 3 (tiga) malam. Jika keduanya ingin untuk melebihkan atau saling meninggalkan, maka keduanya dapat berpisah.” Aku (perawi) tidak tahu apakah itu dikhususkan untuk kami atau untuk manusia secara umum.” Abu Abdullah berkata, “’Aliy telah menjelaskan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa ia (Mut’ah) telah manskuh (dihapus).”
[Bukhari no.4725]

وَقَالَ الْخَطَّابِيُّ تَحْرِيمُ الْمُتْعَةِ كَالْإِجْمَاعِ إِلَّا عَنْ بَعْضِ الشِّيعَةِ وَلَا يَصِحُّ عَلَى قَاعِدَتِهِمْ فِي الرُّجُوعِ فِي الْمُخْتَلِفَاتِ إِلَى عَلِيٍّ وَآلِ بَيْتِهِ فَقَدْ صَحَّ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهَا نُسِخَتْ
Al-Khaththabiy berkata, “Pengharaman Mut’ah berdasarkan ijma’ kecuali dari sebagian Syiah, namun (hal ini) tidak sesuai dengan kaidah mereka (Syiah) dalam mengembalikan perkara yang diperselisihkan kepada ‘Aliy dan Ahlul Baitnya. Dan telah Shahih dari ‘Aliy bahwasanya ia (Mut’ah) telah mansukh (dihapus).”[Fathul Baariy 9/173, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani] (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Yasir Al Habib Tokoh Syiah Menuntut Berdirinya Negara Syiah Di Kawasan Teluk Arab

Syiahindonesia.com - Yasir Al Habib, tokoh agama Syiah menuntut berdirinya negara Syiah di kawasan teluk Arab yang kaya akan minyak, karena menurutnya penganut Syiah di kawasan teluk mendapatkan penganiayaan dan penindasan.

Al Habib mengatakan dalam klip video yang diposting di situs "YouTube", bahwa Syiah harus memperluas krisis yang terjadi di Bahrain karena demonstrasi mereka menjadi krisis besar-besaran di kawasan Teluk, dan menuntut berdirinya sebuah negara khusus bagi mereka di Teluk yang mecakup negara Bahrain, Kuwait, Qatar, Emirat dan sebagian wilayah Saudi dan Oman, yang semuanya dipenuhi dengan ladang-ladang minyak. 

Dan dokumen-dokumen yang ada menyatakan hal yang senada bahwa Syiah di kawasan teluk Arab hanya memberikan loyalitasnya untuk Iran yang menjadi pusat Syiah, bukan kepada negara-negara yang mereka diami di dalamnya, oleh karena itu mereka terus menerus berbuat rusuh dan menciptakan ketegangan dan krisis di dalam negara yang mereka diami, seperti apa yang dilakukan Syiah di Bahrain yang didukung secara penuh oleh rezim Mullah di Teheran, Iran seperti dilansir Islammemo (15/9/14).

Bagi anda yang penasaran dengan statemen kontroversial Yasir Al Habib diatas, bisa lihat langsung dalam video berikut:




Sumber: Koepas.org

Astaghfirullah, Syiah Arab Praktekan Zina Mut’ah Di Puncak Bogor (Video)

Bogor - Syiahindonesia.com Belum puas dengan wanita-wanita mut’ah di daerah mereka (Syiah), kini Indonesia jadi tempat prostitusi zina mut’ah.

Dalam sebuah video yang diunggah di youtube, tampak bahwa ada beberapa hotel yang dijadikan tempat zina oleh orang-orang arab dengan dalih kawin kontrak. Belum diketahui secara pasti negara tempat orang-orang arab itu berasal, lantaran dalam video tersebut tidak dijelaskan secara detail domisili asal orang-orang berkebangsaan arab itu.

Mereka berkata bahwa apa yang mereka lakukan adalah diperbolehkan dalam agama mereka, “Islam”, karena “Islam” menghalalkan praktek kawin kontrak. Na’udzubillah. Hanya orang Syiah lah yang punya pemahaman sesat semacam ini.

Dalam video yang dipublis pada tanggal 20 April 2014 itu, terlihat bebarap PSK yang diwawancari terkait praktek prostitusinya. Salah seorang PSK yang tidak disebutkan namanya itu mengaku bahwa kebanyakan pelanggan maksiat itu adalah orang saudi. Tak tanggung-tanggung, mereka membayar PSK itu dengan uang yang besar.

“kalo kebanyakan sih orang saudi, tapi kalo aku memang sukanya orang saudi, dan kalo orang Indonesia aku kurang suka. Enggak tahu kenapa, mungkin karena uangnya kecil”, Pungkas salah seorang PSK yang di wawancarai

Berikut videonya:


Dalam video tersebut juga terekam salah seorang pelaku zina mut’ah yang hendak mengontrak seorang PSK bernama Rini. Dia mengatakan bahwa Itu adalah kontrak dengan Rini, dan mereka (Syiah Arab) telah memberinya (Rini) sebanyak 2 juta rupiah, sedang eskonya Rini akan mendapatkan 6 juta lagi.

Pria yang mengaku Islam itu berdalih bahwa pelaku zina mut’ah di Puncak Bogor itu tidak ingin melakukannya (Sex) dengan cara yang haram lantaran di Arab praktek Nikah Kontrak di haramkan. Karenanya mereka ingin melakukannya (Sex) dengan cara yang halal. Bahkan mereka berdalih bahwa 2 isteri yang mereka punya tidaklah mencukupi untuk memuaskan hawa nafsu mereka. wal iyadzubillah. (Nisyi/Syiahindonesia.com)