Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Syi’ah Houthi Jadi Khotib Jumat, Ratusan Jamaah Bubar Mencari Masjid Lain (Video)

Syiahindonesia.com - Sebuah video yang ditampilkan di media sosial awal pekan ini menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat Timur Tengah. Pasalnya, video tersebut menampilkan puluhan bahkan ratusan jamaah sholat Jumat yang keluar dari masjid Bilal bin Rabah.

Para jamaah berbondong-bondong keluar ketika khotib mulai menyampaikan khutbahnya. Mereka pun terlihat mencari masjid lain yang terletak tidak jauh dari masjid pertama.

Penyebab keluarnya para jamaah dari masjid dikarenakan sang khotib yang ternyata berasal dari kelompok pemberontak Hutsiyin, demikian seperti dikutip dari islammemo, Jumat (24/4/2015).

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu para pemberontak Hutsiyin berhasil menguasai ibukota Yaman, Sanaa. Akibatnya, mereka pun memiliki kekuasaan atas beberapa masjid yang ada di kota tersebut.

Tidak diketahui kapan pastinya peristiwa ini terjadi. Yang jelas, video ini memberikan gambaran bahwa masyarakat Yaman secara umum tidaklah menyukai kelompok Hutsiyin yang berakidah Syiah dan tidak mau bermakmum di belakang imam syiah. (gemaislam)

Berikut videonya:


Meruntuhkan Doktrin Syiah Perihal Pengkafiran Abu Bakar dan Aisyah ra

Syiahindonesia.com - Sudah menjadi rahasia umum bahwa salah satu dari doktrin sekte sesat Syiah adalah masalah pengkafiran terhadap Abu Bakar Ash-Shidiq dan putrinya Aisyah Ash-Shiddiqoh ra. Hal ini berangkat dari sifat hasad yang dimiliki oleh sekte tersebut. Dan jika ada seorang penganut Syiah yang mengingkari doktrin ini maka bisa dipastikan antara dia sedang bertaqiyah atau dia sedang meruntuhkan doktrin para rahbarnya sendiri. Dalam coretan sederhana ini penulis ingin mengajak kepada segenap umat Islam, dan juga kepada segenap orang yang sudah tertular virus zombie Syiah untuk berfikir akan benar-tidaknya doktrin tersebut.

Langkah pertama adalah kita wajib mengimani bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui, dari hal terkecil sampai hal terbesar, dari awal sampai akhir semuanya telah diketahui Allah, karena salah satu sifat Allah adalah “Al-Aliim”. Dan barangsiapa yang mengingkari bahwa Allah mempunyai sifat “Al-Aliim” maka sama dengan dia merendahkan Allah dan juga mengingkari Al-Qur’an. Berangkat dari sifat “Al-Aliim” yang dimiliki oleh Allah, maka Allah tidak akan pernah keliru dalam segala hal, terutama apa yang tercantum dalam Al-Qur’an.

Langkah kedua adalah kita perlu tahu bahwa tokoh-tokoh yang nama atau isyarohnya (Kata yang menunjukan kepada sosok tokoh tersebut) Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, maka keadaan agama mereka tetap seperti itu sampai akhir hayat mereka. Misalkan ketika Allah menyebutkan nama Fir’aun dengan kekafirannya, maka keadaan Fir’aun tetap dalam kekafiran sampai akhir hayatnya. Begitu juga ketika Allah menyebutkan nama Luqman Al- Hakim dengan keislaman yang dia pegang, maka sampai meninggal dunia pun Luqman tetap menjadi seorang muslim. Hal ini karena Allah tahu bahwa sosok yang dia sebut adalah sosok yang tetap dalam keagamaannya sampai akhir hayatnya, baik itu sosok masa lampau atau sosok yang masih hidup tatkala Al-Qur’an tersebut diturunkan.
Bingung? Jangan bingung kita uraikan di bawah ini. Allah berfirman mengenai keagamaan Fir’aun dengan menyebut langsung nama Fir’aun :

اِذهَب إِلَى فِرعَونَ إِنَّهُ طَغى

“Pergilah kepada fir’aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas” (QS. An-Naziat 17)
Maka keadaan fir’aun tetap melampau batas sampai menjelang mautnya baru ketika nafas sudah dikerongkongannya dia terpaksa mengakui kebenaran risalah Nabi Musa as berharap bias selamat. Namun nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan menjadi beras lagi, penyesalan tiada guna yang menyebabkan dia masuk neraka.

Contoh lain ketika Allah menyebutkan kaum Tsamud dengan keagamaan mereka, maka bisa dilihat bahwa kaum Tsamud mati dalam keadaan kafir juga. Ini mengenai keadaan para pembangkang dalam Al-Qur’an maka matinya pun tetap dalam kekafiran.

Sekarang kita lihat keadaan orang-orang yang beriman, sebut saja kisah Maryam dan Luqman Al-Hakim yang hidup dalam keadaan beriman dan mulia, maka mereka meninggalkan dunia ini pun masih tetap dalam keadaan beriman dan mulia. Dan tidak akan pernah ditemui ayat yang menyatakan kekafiran mereka diakhir hayatnya.

Itulah bukti-bukti dan rumus bahwa tokoh yang disebutkan dalam Al-Qur’an baik nama ataupun Isyarohnya dengan kondisi keagamaan mereka, maka mereka pun meninggalkan dunia tetap dalam keadaan yang sama. Kecuali yang telah Allah ceritakan kronologi kehidupannya dan ada ayat yang jelas membahas perpindahan keyakinannya, semisal kisah Balqis dari penyembah matahari menjadi muslimah sejati.

Logika sederhana ini mari kita bawa untuk membahas Abu Bakar Ash-Shidiq dan putrinya Aisyah Ash-Shidiqoh ra. Allah berfirman mengenai Abu Bakar ra :

إِلاَّ تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُواْ السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya : “Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “jangan engkau bersedih sesungguhnya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya dan membantu dengan bala tentara (malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah yang tinggi, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah 40)

Ayat ini adalah ayat yang menerangkan ihwal hijrah Nabi Muhammad saw disertai sahabatnya yakni Abu Bakar ra. Dan dalam ayat ini jelas bahwa Abu Bakar adalah seorang muslim dan termasuk orang yang “menolong Nabi Muhammad saw serta da’wahnya”, serta setia terhadap Nabi Muhammad saw. Maka ketika melihat rumus di atas bias dipastikan keadaan Abu Bakar ra tetap sebagai penolong agama, tetap menjadi mukmin sejati hingga akhir hayatnya. Sebagai buktinya adalah tidak ada satu ayat atau satu hadits pun yang menerangkan tentang kekafiran Abu Bakar yang telah disanjung Allah dalam ayat ini.

Begitu juga dengan keadaan istri-istri nabi, dalam hal ini perihal Aisyah ra. Aisyah adalah istri nabi yang mendapatkan tazkiyah “pensucian” dari atas lagit ketujuh, sebagaimana yang telah difirmankan Allah :

إِنَّ الَّذينَ جاؤُو بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ وَ الَّذي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذابٌ عَظيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang datang membawa berita bohong itu adalah golongan kamu juga. Janganlah kamu kata bahwa perbuatan mereka itu membawa akibat buruk bagi kamu, bahkan itu adalah mem­baikkan. Setiap orang akan men­dapat hukuman dari sebab dosa yang dibuatnya itu. Dan orang yang mengambil bagian terbesar akan mendapat siksaan yang besar pula.” (QS. An-Nur 11)
Ayat ini adalah isyaroh mengenai kesucian Aisyah, dan hal ini sampai akhir hayatnya ibunda Aisyah tetap dalam keadaan mulia dan suci. Sungguh keji orang yang mengatakan “Aisyah zina dengan Thalhah dan Zubair”, seharusnya mereka bertaqwa kepada Allah sebelum bara api neraka masuk ke mulutnya, karena Aisyah lebih pantas dan layak dihormati daripada ibu kandungnya sendiri.

Jadi kesimpulannya adalah, Allah menyebut Isyaroh Abu Bakar dan Aisyah ra dengan Isyaroh yang baik dan keadaan agama yang sangat mulia, maka sampai akhir hayatnya Abu Bakar dan Aisyah ra tetap menjadi orang yang mulia dan baik agamanya. Sebagai buktinya adalah peran Abu Bakar ra dalam membasmi para pengikut Musailamah Al-Kadzab, di mana Syiah ketika itu kalau memang Syiah adalah ada sejak zaman Nabi dan pemeluk Islam yang baik?.Dan sebagai buktinya adalah ketundukan Ali dan keluarga kepada Abu Bakar ra yang saat itu menjadi khalifah, Ali tidak pernah memberontak karena memang Ali tahu bahwa Abu Bakar adalah orang mulia. Jika benar Abu Bakar telah kafir, maka Ali akan memberontak karena kepemimpinan orang kafir terhadap orang islam itu haram, namun Ali tidak memberontak dan Ali tunduk sebagai bentuk pengakuan akan kemuliaan dan keabsahan Abu Bakar sebagai Khalifah.

Begitu juga bukti mengenai Aisyah, tatkala perang Jamal dimenangkan Ali, Ali tidak membunuh Aisyah ra karena Ali tahu akan kemuliaan Aisyah dimata Nabi Muhammad saw. Jika memang Aisyah kafir seperti yang dituduhkan Syiah saat ini, maka Ali pasti membunuhnya karena membunuh kafir harbi apalagi saat perang itu adalah tindakan mulia. (syiahindonesia.com)

Abu Dawud Ulinnuha Arwani
Al-Madinah Al-Munawwarah

Belajar dari Abbasiyah: Syiah Berkuasa Saat Muslim Sunni Melemah

Syiahindonesia.com - Kekhalifahan Islam Abbasiyah telah berkuasa sejak tahun 775 H, namun pada saat itu kelompok Syiah belum berkuasa. Hingga pada akhirnya, beberapa dekade kemudian Dinasti Abbasiyah mengalami fragmentasi, dan Syiah mengambil kesempatan.

“Semuanya (pada awalnya) masih Kekhalifahan Abbasiyah, tetapi daerah-daerah mulai menjadi pemerintahan otonom, desentralisasi,” jelas pakar sejarah Islam, Alwi Alatas, beberapa waktu lalu.

Setelah terjadi desentralisasi, daerah-daerah otonom Kekhalifahan Abbasiyah melakukan pola pewarisan kekuasaan melalui garis keturunan keluarga. Saat itu sekitar tahun 778-909 H, belum ada Syiah, baru pada tahun 909 H mulai muncul Syiah Fathimiyah yang saat itu masih kecil.

“Masih belum besar, tapi kemudian mereka melebar, makin kuat kekuasaannya. Bahkan nanti ada masa-masa Syiah Fathimiyah lebih besar dan lebih kuat dari Abbasiyah,” jelas penulis yang telah menulis 25 buku ini.

Beliau melanjutkan, Syiah menjadi lebih besar kekuasaannya, bukan semata-mata karena Syiahnya kuat. Akan tetapi, pada masa itu Sunni sedang mengalami kelemahan.

“Sebagaimana kita alami di masa kini,” lontarnya.

Pawa awal abad ke-11 H, tahun 999 H Syiah Fathimiyyah mencapai ke Mesir, mereka memindahkan pusat kekuasaan ke Kairo, yaitu pada paruh kedua abad ke-10. Mereka menguasai wilayah Afrika Utara, Mesir, sebagian Syam, dan Hijaz. Namun meski demikian, Syiah Fatimiyyah hanya kuat dalam politik dan militer.

“Syiah tidak sampai mengakar ke masyarakat, masyarakat Mesir dan ulama-ulamanya masih banyak yang Sunni. Berbeda dengan yang terjadi di Iran,” katanya.

Dia kembali menegaskan bahwa kuatnya Syiah pada masa itu dikarenakan kaum muslimin pada saat itu mengalami kelemahan. Hal ini juga persis dengan apa yang terjadi menjelang perang Salib, Muslim Sunni juga mengalami kelemahan.

“Bahkan tantangan Sunni dalam sejarah sama Syiah dulu, baru dengan Perang Salib, satu rangkaian sebenarnya,” ungkap Ustadz Alwi.

Lanjutnya, pada tahun 1058 terjadi pemberontakan al Basasiri di Baghdad. Ketika itu Turki Saljuk yang Sunni bermazhab Hanafi mulai masuk hingga ke Baghdad. Turki Saljuk sat itu diangkat oleh Khalifah Abbasiyah untuk menghadapi Fathimiyah karena memiliki militer yang kuat.

“Namun, karena baru awal-awal kekuasaan Turki Saljuk masih mundur maju dari Baghdad, Saljuk pernah mundur ke wilayah Timur karena ada urusan di sana, mereka belum establish,” ujar pria yang tengah menempuh studi doktoral di IIUM Malaysia ini.

Kekuasaan Al-Basasiri yang dijatuhkan Saljuk di Baghdad, ternyata bekerjasama dengan Fathimiyah. Dinasti Fathimiyah memberikan dukungan senjata, nasehat militer, dan dukungan lainnya kepada Al-Basasiri.

Kelompok Al-Basasiri ketika itu berhasil menjatuhkan Baghdad, lalu menguasainya selama satu tahun. Bahkan, Khalifah Abbasiyah ditahan, tetapi tidak sampai dibunuh.

“Selama satu tahun Al-Basasiri menguasai Baghdad, Sunni ketika itu habis. Doa-doa di Baghdad diberikan kepada pengasa Fathimiyah di Mesir. Meski tidak total, masih ada Saljuk,” beber Ustadz Alwi.

Satu tahun kemudian, Turki Saljuk masuk Baghdad, Al-Basasiri ditumbangkan dan ditahan. Khalifah diangkat kembali, sementara wilayah Syam dan Hijaz direbut.

“Sehingga Fathimiyah hanya menguasai Mesir, bahkan ancaman Saljuk hingga ke wilayah utara. Mengancam Kristen Byzantium,” ujarnya.

Turki Saljuk sendiri ketika itu yang menonjol adalah wazirnya, Nizamul Mulk seorang Sunni berasal dari Persia. Nizamul Mulk merupakan wazirnya Tugril Bek, Aid Arsalan, dan Malik Syah.

“Nizamul Mulk pada saat itu adalah salah satu tokoh Sunni Revival selain Imam Ghazali. dari ulamanya adalah Imam Ghazali dari Umaronya Nizamul Mulk,” imbuhnya.

Sumbangan terbesar Nizamul Mulk adalah madrasah Nizhamiyah. Dia yang banyak menundang ulama-ulama besar untuk mengajar di Nizhamiyah.

“Kemudian, pada tahun 1092 Nizamul Mulk dibunuh oleh Assasins. Satu bulan kemudian Sultan Malik Syah meninggal dunia., Turki Saljuk pecah. Singkat ceritanya begitu,” ungkapnya.

Setelah Turki Saljuk Pecah mulailah dunia Islam memasuki masa perang Salib. Meski Saljuk pecah, proyek Sunni Revival juga tidak berhenti, pemikiran Imam Ghazali dan madrasah-madrasah terus dihidupkan oleh Saljuk.

“Bukan madrasah Nizhamiyah saja, bahkan para amir berlomba-lomba membuat madrasah sampai nanti pada zamannya Shalahuddin Al Ayubi,” tegas Ustadz Alwi. (kiblat.net)

Dahulu Muslim Sunni Pernah Kalah oleh Syiah, Mengapa?

Syiahindonesia.com - Sejarawan Islam, Ustadz Alwi Alatas menegaskan, dari sudut pandang sejarah, inti masalah mengapa kaum muslimin pada masa lampau sempat dikalahkan Syiah Fathimiyah dan pasukan salib karena disebabkan oleh masalah internalnya sendiri.

Apa yang terjadi pada masa lalu, rupanya terulang pada hari ini.

“Begitu pula kita pada hari ini, banyak persamaan pada masa dulu. Sesama Sunni ribut, gontok-gontokan, susah bersatu, dan banyak hal-hal lain juga,” kata akademisi yang rajin menulis di media-media Islam ini.

Menurutnya, penyelesaian masalah Ahlussunnah pada masa itu adalah membenahi masalah internal, seperti dilakukan oleh para ulama salah satunya oleh Imam Al-Ghazali.

Ustadz Alwi berpendapat, metode ulama ketika itu dalam menghadapi Syiah, dapat ditiru oleh Sunni pada masa kini, tanpa mengabaikan cara-cara lain yang bersifat turunan.

“Inti solusi kita pada hari ini dalam menghadapi Syiah adalah menyelesaikan masalah internal yang ada di tengah Ahlussunnah,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan, pertarungan Ahlussunnah dengan Syiah pada masa kekhalifahan Abbasiyah dan masa kini merupakan pertarungan yang sangat panjang. Konflik tersebut, tidak diselesaikan dalam kurun waktu satu tahun atau sepuluh tahun ke depan.

“Ketika Fathimiyah kuat dari awal abad 11 H sampai akhir abad itu, Baru mulai akhir abad ke-11 H baru ada solusi serius menghadapi Syiah, setelah satu abad baru dilakukan,” ucapnya

Dalam menghadapi Syiah, senjata utama yang digunakan Ahlussunnah pada masa Imam Ghazali hingga era Shalahudin Al-Ayubbi dengan pembenahan ilmu.

“Senjata utama yang mereka gunakan ketika itu adalah madrasah, selain menggabungkan pemimpin yang adil dan kesalehan, pelan-pelan dengan dakwah mengubah masyarakat oleh Nuruddin Zanki yang terkenal kesalehan dan keadilannya,” pungkasnya. (kiblat.net)

Hadirilah Tabligh Akbar "Selamatkan Keluarga Kita dari Bahaya Syiah dan Liberalisme" di Yogyakarta

Syiahindonesia.com - Hadirilah Tabligh Akbar "Selamatkan Keluarga Kita dari Bahaya Liberalisme" di Yogyakarta

Pemateri :
1. Ust. Dr. Adian Husaini, M.SI (Inisiator MIUMI)
2. Ust. Agus Hasan Bashori, LC., M.AG

Hari/tgl : Ahad, 26 April 2015
Waktu : Ba'da isya 19.15 WIB - Selesai
Tempat : Masjid Jogokariyan Yogyakarta

Gratis untuk umum.

Cp: 0838 4028 5764


 (nisyi/syiahindonesia.com)