Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Fakta; Seorang Ulama Syiah tidak Bisa Baca Al-Quran dengan Benar (Video)

Sebuah video yang diunggah di Youtube ini menunjukkkan bagaimana pemimpin Syiah tak mampu melantunkan ayat suci Alquran dengan benar. Dalam video ini, terlihat Alquran dilantunkan tanpa tajwid dan diucapkan dengan nada datar.

Dalam video ini, Syaikh Utsman Al-Khamis Al Tamimi menjelaskan bagaimana ketidakmampuan pemimpin Syiah untuk membaca Alquran dengan benar. Dan itu menurutnya bukan karena mereka ajam (non-Arab). Sebab banyak juga muslim yang bukan Arab namun mampu melantunkan Alquran dengan benar. Ia mencontohkan seperti muslim dari Indonesia, Tajikistan, Nigeria, Cina, Amerika dan lainnya.

Ketidakmampuan membaca Alquran dengan benar itu menunjukkan orang Syiah tidak pernah mempelajari Alquran. (news.firmadani.com)

Berikut Videonya:


Pemimpin Tertinggi Syiah Terjangkit Kanker Prostat Stadium 4

Teheran - Pemimpin tertinggi Syiah di Iran, Ayatolah Ali Khamenei, saat ini mengidap kanker prostat stadium 4. Demikian dilansir islammemo dari surat kabar Figaro, Selasa (3/3/2015) hari ini.

Jika kanker yang dideritanya telah memasuki stadium 4 berarti kanker ini telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Karena usia Khamenei sudah cukup lanjut (76 tahun), para dokter memperkirakan kemungkinan hidup orang yang paling berkuasa di Iran ini hanya dua tahun.

Seperti diberitakan Figaro, kesimpulan ini didapatkan setelah Khamenei menjalani operasi pengangkatan prostat pada bulan September tahun lalu. Penyakit yang telah dideritanya sejak 10 tahun yang lalu bukan sudah menjadi rahasia publik. Namun demikian, informasi terperinci tentang penyakit ini masih diawasi secara ketat. (msa/dakwatuna)

Syiah Indonesia dan Iran

Oleh: Dr. H. Abdul Chair Ramadhan

Dalam acara “Majelis Taqarrub Ilallah” juga saya buktikan bahwa Syiah Iran merekrut berbagai preman-preman untuk menjadi tameng menghadang acara-acara sosialisasi tentang kesesatan Syiah, seperti yang terjadi di Karawang (2014), Bintaro (2014), Sentul (2015) hingga kasus Az-Zikra.

Fakta telah berbicara, bahwa kelompok Syiah menggunakan tangan-tangan para preman, ditambah lagi dengan maraknya para imigran Syiah di berbagai wilayah seperti kawasan Bogor (Puncak) dan Kalimantan. Selain itu sejumlah pasukan siap mati mereka organisasikan, seperti Pasukan Badar pimpinan Mayor (Laut) Isa Al-Mahdi Al-Habsyi, Pasukan Garda Kemerdekaan yang didirikan oleh Prof. Dawam Rahardjo, dan sejumlah pasukan lainnya yang tersebar di berbagai daerah.

Wacana pembunuhan terhadap para ulama Ahlus Sunnah dan tokoh-tokoh pegiat anti Syiah barangkali bukan “omong kosong”.  Terbukti pada tahun 2013 Syiah telah mengirim 16 orang untuk berlatih militer di Libanon dengan kekhususan sebagai penembak jitu.

Dalam masalah ini, saya siap untuk bermubahalah dengan siapa saja yang menolak pernyataan ini: bahwa Organisasi Syiah yang ada di Indonesia seperti IJABI ataupun ABI semuanya menginduk kepada Rahbar Iran.

Penamaan Republik Islam Iran harus kita tolak, jangan menyebut Revolusi Islam Iran dan jangan pula mengatakan Republik Islam Iran, cukup katakan Revolusi Iran dan Republik Iran.

Saya ingin mengatakan pada para pendukung dan simpatisan Syiah. Tidak benar jika dikatakan “tidak Sunni tidak Syiah tapi Jumhur Islamiyah”. Pernyataan seperti itu adalah bahasa kamuflase Syiah dalam ranah taqiyyah. Kelak nanti ketika mereka (baca: Syiah) kuat taqiyyah akan berubah menjadi tabiah, yakni mobilisasi untuk melakukan perlawanan yang lebih dahsyat terhadap Islam dan NKRI.

Takutlah akan catatan sejarah yang akan menuliskan nama-nama pendukung dan simpatisan Syiah di Republik Indonesia yang akan menjadi bahan bacaan generasi selanjutnya. Terlebih lagi tanggung jawab kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan bagaimana kita ketika berhadapan dengan sang idola Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassallam yang telah mewasiatkan kepada umat yang memiliki ilmu tentang kewajiban untuk membela sahabat-sahabat beliau Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dari caci-maki Syiah Rafidhah, jika tidak maka laknat Allah, laknat seluruh malaikat dan seluruh manusia kepadanya (Lihat: Baca Qanun Asasi Nahdlatul Ulama).

Syukur Alhamdulillah, penjelasan dari Ustad Ahmad Sobri Lubis yang mewakili FPI sangat memuaskan. Beliau berkali-kali menegaskan bahwa FPI tidak akan membiarkan Syiah melaknat para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, Syiah Rafidah harus ditindak oleh aparat penegak hukum.

Sebelumnya, saya mendengar ceramah Habib Rizieq Syihab dalam acara Maulid di Jl. Wedana Jakarta Timur, beberapa hari yang lalu, dikatakan bahwa Syiah tidak ada yang baik. Istilah Habib Rizieq, Syiah sama dengan “kecoa” suka dengan kotoran. Selanjutnya, Habib Rizieq Syihab mengatakan jika mereka menyerang, umat kita harus siap! Suatu pernyataan yang sangat mendukung bagi umat Islam dalam rangka melawan radikalisme Syiah.

Begitupun pernyataan Luthfie Hakim yang menegaskan, bahwa dirinya bukan Syiah, adalah suatu pernyataan klarifikasi yang tepat. Sebab selama ini media Syiah selalu menggunakan nama besar FBR untuk kepentingan Syiahisasi.

Dengan pernyataan ini, maka FBR bukan alat Syiah dan FBR sangat mendukung gerakan perlawanan terhadap aksi-aksi brutal/premanisme dari manapun datangnya, FBR akan tampil di depan, bukan di belakang.

Kita berharap kedua kekuatan ini (FPI dan FBR) senantiasa aktif menjaga akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dari segala aksi penyimpangan dan penodaan agama, amin ya Robbal alamin.

Kepada Muhammad Al-Khaththat (Sekjen FUI) saya mengucapkan terima kasih yang sangat besar, jazakumullah khoiron katsier, semoga Suara Islam sebagai penyelenggara tetap Jaya, amin ya Robbal alamin. (hidayatullah.com)

Penulis Anggota Komisi Hukum dan perundang-undangan MUI Pusat

Pendukung Syiah Sebut Arifin Ilham sebagai Ustadz Iblis di Sosmed

Menanggapi maraknya pemberitaan penyerangan puluhan pembela Syiah ke kompleks Majeliz Az Zikra pimpinan Ustadz Muhammad Arifin Ilham, kalangan elit Syiah ramai-ramai menyangkal keterlibatan Syiah dalam serangan tersebut, bahkan menyanjung-nyanjung pimpinan majelis zikir itu dengan sebutan-sebutan mulia.

Namun, para penganut Syiah di kalangan akar rumput tak malu-malu atau segan menghujat Ustadz Arifin Ilham yang dikenal anti Syiah tersebut.

Dalam sebuah obrolan di status media sosial milik akun penganut Syiah bernama Ismail Amin, seorang penganut Syiah mengatakan bahwa Ustadz Arifin Ilham adalah ustadz iblis yang menimbulkan dan menumbuhkan kebencian.

Akun bernama Landau Grey Greylandau mengatakan, “Ustad iblis yg menimbulkan/menumbuhkan kebencian!”

Obrolan Facebook


Sementara akun Bin Ali Ali, mengatakan, “Topengnya terbuka sendiri, berkedok majelis zikir tapi penebar provokator…”

Ketika diingatkan oleh akun Akbar Anton untuk tidak menyebut “Ustadz Iblis”, akun lain bernama Muhammad Taufiq menjawab, “Okelah bukan ustadz iblis, (iblis pun tak sudi dilekatkan dengannya)’ ustadz hedon yang doyan duit dari genangan kotoran isu sektarian, mencoba mengalirkan dana segar ke Zikra dari Kadhafi Centre … kasian.”

Kebencian Syiah kepada para ulama Sunni memang tidak ditunjukkan oleh elit-elitnya, tetapi apa yang ada di dalam hati mereka dapat ditunjukkan dari kalangan akar rumputnya yang tanpa tedeng aling-aling menghujat para ulama dan tokoh Sunni. (kiblat.net)

Abdul Chair Ramadhan: "Ideologi Imamah Syiah Ancaman Negara"

Kelompok pembela dan pendukung Syiah seringkali mengklaim sebagai pecinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan menuduh kelompok yang anti terhadap aliran sesat itu sebagai ancaman NKRI. Padahal sejatinya ideologi Syiah adalah ancaman pasti bagi negara.

“Yang pasti ancaman ideologi imamah itulah ancaman NKRI,” kata Anggota Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat Dr. Abdul Chair Ramadhan, seusai menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Sabtu (28/02).

Abdul Chair menambahkan bahwa ideologi imamah yang menjadi rukun iman Syiah itu tidak bisa diadaptasikan dengan ideologi manapun. Pasalnya ideologi imamah itu mewajibkan berbaiat kepada wali al faqih yakni Rahbar Ali Khamenei, yang mengaku sebagai wakilnya imam mahdi yang keberadaan masih ghaib. Keberadaan wali al faqih sendiri telah dikuatkan dalam konstitusi Iran, yang menjadi pusat kebangkitan dan penyebaran Syiah.

“Jadi wali al faqih itu tidak akan hilang, tidak akan hapus sebagaimana diatur di dalam konstitusi Iran,” imbuhnya.

“Keberadaaan wilayatul faqih tidak dapat dihapuskan karena wilayatul faqih di dalamnya ada Rahbar sebagai wali Imam Mahdi yang dalam masa ghaib,” terang Abdul Chair.

Imamah merupakan salah satu diantara rukun iman Syiah. Rukun iman Syiah yang berjumlah lima itu adalah At Tauhid, An Nubuwwah, Al Imamah, Al Adlu, dan Al Ma’ad.

Dengan demikian, lanjut Chair, ideologi Imamah tidak dapat diadaptasikan dengan ideologi yang berlaku di Indonesia. Selain itu paham yang menjadi bagian akidah Syiah itu sangat berbahaya bagi NKRI.

Bagi penganut Syiah, lanjut Chair, kapan pun dimana pun mereka berada wajib menegakkan Imamah. Kewajiban itu tidak bisa dinegasikan dan tidak bisa dihilangkan.

“Ideologi imamah tidak dapat digantikan dengan sistem politik apapun. Karena ideologi imamah semua mengacu kepada Iran, maka kalau bicara ke Iran berarti sistem kepemimpinannya sistem imamah,” pungkasnya. (kiblat.net)