Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Syi’ah No, Ahlul Bait “Yes”

Syiahindonesia.com - Dalam sebuah diskusi, ketika perbedaan dalam hal Aqidah sangat jelas, salah seorang mengatakan “sudah, al-ikhtilafu rahmah, al-ikhtilafu rahmah, yang penting kita utamakan persatuan!”

Ya, betapa menyedihkannya sebagian kawan Sunni di Indonesia ini, yang entah dengan dasar apa menyambut seruan Syi’ah untuk bersatu, demi persatuan? Ada apakah dengan sebagian Sunni di Indonesia? Apakah mereka sudah mulai putus asa dari rahmat Allah? Dan tergiur dengan “revolusi Islam” yang sukses di Iran? Entahlah!

Betapa kagetnya saya pernah  membaca berita di Eramuslim.com, tentang terbentuknya Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin). Namun, Alhamdulillah, Majelis Ulama Indonesia tidak hadir dan menyatakan Syi’ah di luar Islam. Alhamdulillah.

Sungguh, tidak ada satu orang pun yang menginginkan sebuah perpecahan, namun sebagai kaum yang beriman tentulah kita harus percaya dengan firman-Nya dan sabda rasul-Nya yang sahih.

Adanya perpecahan dalam tubuh umat Islam (dan juga umat-umat yang lainnya) telah dinashkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah (banyak hadits yang menyatakan bahwa umat Islam akan berpecah menjadi 73 golongan).

Allah berfirman :

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” [QS. Yunus : 19].

Ini merupakan iradah kauniyyah dari Allah ta’ala. Namun Allah tidak menghendaki adanya perselisihan itu. Allah mencintai agar hamba-hamba-Nya selalu bersatu. Dan inilah yang disebut iradah syar’iyyah dari Allah ta’ala. Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” [QS. Ali 'Imran : 103].

Tali agama Allah, diperjelas lagi oleh nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, agar kita termasuk ke dalam golongan yang selamat, siapakah golongan selamat itu? Nabi bersabda:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

”Ia adalah golongan yang mengikuti jejakku dan jejak para shahabatku”

Dari Al-‘Irbadl bin Sariyyah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بعد صلاة الغداة موعظة بليغة ذرفت منها العيون ووجلت منها القلوب فقال رجل إن هذه موعظة مودع فماذا تعهد إلينا يا رسول الله قال أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبد حبشي فإنه من يعش منكم يرى اختلافا كثيرا وإياكم ومحدثات الأمور فإنها ضلالة فمن أدرك ذلك منكم فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi nasihat kepada kami pada suatu hari setelah shalat Shubuh dengan satu nasihat yang jelas hingga membuat air mata kami bercucuran dan hati kami bergetar. Seorang laki-laki berkata : ‘Sesungguhnya nasihat ini seperti nasihat orang yang hendak berpisah. Lalu apa yang hendak engkau pesankan kepada kami wahai Rasulullah ?’. Beliau bersabda : ‘Aku nasihatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun (yang memerintah kalian) seorang budak Habsyiy. Orang yang hidup di antara kalian (sepeninggalku nanti) akan menjumpai banyak perselisihan. Waspadailah hal-hal yang baru, karena semua itu adalah kesesatan. Barangsiapa yang menjumpainya, maka wajib bagi kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafaa’ Ar-Raasyidiin yang mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia erat-erat dengan gigi geraham”.

Maka, jelaslah bagi kita agar bersatu dan memang Allah menyuruh kita bersatu dengan landasan kesamaan Aqidah yang sesuai Al-Qur’an dan As Sunnah yang sahih! Kalau dengan yang berlainan Aqidah, maka tidak ada kata persatuan dan toleransi terhadap Aqidah sesat yang mengaku-ngaku bagian dari Islam!

Akankah berhasil dan mencapai kejayaan sebagaimana pada masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah jikalau Ahlus Sunnah bersekutu dengan Syi’ah atau dengan golongan sesat lainnya yang sudah jelas kesesatannya?

Akankah bertambah mutu jika kita bersekutu dengan sesuatu yang sesat? Sungguh itu justru upaya menghancurkan diri sendiri!

Dengan ini, saya mengajak kepada rekan-rekan Ahlus Sunnah di tanah air, agar MENOLAK Syi’ah, dengan jalan yang paling mudah ialah mengingkarinya di dalam hati! Lantas, apapun yang diupayakan oleh “Muhsin” walapun ada embel-embel Sunni, maka itu sama sekali tidak merepresentasikan Ahlus Sunnah! Malah, semua yang hadir dalam pendirian “Muhsin” dan mengaku sebagai Sunni, perlulah dipertanyakan ke-sunni-annya!

Sebagaimana judul tulisan saya ini, Syi’ah No, Ahlul Bait “Yes”. Barangkali ada yang bertanya, mengapa kata yes-nya ditandai dengan kutip?

Sungguh, Ahlus Sunnah menghormati, memuliakan, dan mencintai Ahlul Bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan perlulah kiranya dipahami Ahlul-Bait adalah orang-orang yang diharamkan menerima shadaqah/zakat, yang terdiri dari : istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya serta seluruh muslim dan muslimah keturunan Bani Haasyim (termasuk di dalamnya keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas).

Ini adalah pendapat paling ‘adil yang mengambil semua hadits sahih yang berkaitan dengan Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Namun begitu, sebagaimana kata Asy-Syaikh DR. Shaalih Al-Fauzan berkata : “…kita diperintahkan untuk mencintai mereka (Ahlul-Bait), menghormati, dan memuliakan mereka selama mereka ber-ittiba’ kepada sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang shahihah, dan istiqamah di dalam memegang dan menjalankan syari’at agama. Adapun jika mereka menyelisihi sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tidak istiqamah di dalam memegang dan menjalankan syari’at agama, maka kita tidak diperbolehkan mencintai mereka, sekalipun mereka Ahlul-Bait Rasul…” [Syarh Al-‘Aqidah Al-Washithiyyah, hal. 148].

Oleh karena itu, orang-orang yang mengaku punya nasab dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam namun ternyata mereka termasuk golongan penyeru bid’ah dan penggalak kesyirikan (seperti kebanyakan habaaib di tanah air); kita tidak perlu mencintai mereka. Bahkan, mereka menjadi ‘musuh’ kita dalam agama, karena pada hakekatnya mereka merongrong dan ingin merubuhkan sendi-sendi agama dari dalam.

Syi’ah jelas pandai berkilah, dan sebagaimana kata Prof. Baharun (beliau pemerhati Syi’ah) sebagaimana dilansir dalam berita Eramuslim.com, bahwa katanya “Jalaluddin itu sedang taqiyyah…” Mereka (Syi’ah di Indonesia) pun menamai dirinya Ikatan Jemaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi).

Lihatlah, maka saya gunakan tanda kutip di kata Ahlul Bait, sebab Syi’ah pandai berkilah lagi dusta! Mengaku Mazhab Ahlulbaitlah, namun sungguh perbedaan nama tidak akan merubah hakikat kebusukan makna di dalamnya. Bukankah sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga?

Syi’ah BUKAN Islam! Bagaimana mungkin, mengaku bernabikan Muhammad shallallahu alaihi wa sallam namun jauh sekali dari sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam? Bahkan, semoga Allah melaknat Imam Al-Khomainiy yang berkata :

لقد جاء الأنبياء جميعاً من أجل إرساء قواعد العدالة في العالم؛ لكنَّهم لم ينجحوا حتَّى النبي محمد خاتم الأنبياء، الذي جاء لإصلاح البشرية وتنفيذ العدالة وتربية البشر، لم ينجح في ذلك….

“Sungguh semua Nabi telah datang untuk menancapkan keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan termasuk Nabi Muhammad, penutup para Nabi, dimana beliau datang untuk memperbaiki umat manusia, menginginkan keadilan, dan mendidik manusia – tidak berhasil dalam hal itu….” [Nahju Khomainiy, hal 46].

Ya Allaah, betapa kurang ajar! Tidak hanya mencela lagi mencerca Abu Bakr, Umar radlyallaahu anhu, Aisyah radlyallaahu anha, ataupun mengkafirkan Mu’awiyyah! Dan beberapa sahabat rasul lainnya. Tapi Nabi Muhammad pun dikorbankan demi ajaran dan untuk mensukseskan imaamah (versi Syi’ah) padahal hal tersebut memang bukan berasal dari Al-Qur’an dan penjelasan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya, tidak hanya masalah Aqidah saja yang kita beda jauh, dalam hal fikih pun kalau kita mau menelusuri jelas banyak kesesatannya dalam fikih Syi’ah. Misalnya, Syi’ah melazimkan perangai Jahiliyah seperti meratap, lantas bolehnya meludah di Masjidil Haram, memakan tanah kuburan Al Husain, bolehnya membaca Al-Qur’an di toilet, dan lainnya.

Saudaraku seaqidah, Kembalilah kepada urusan kalian yang pertama ! itulah yang ditegaskan rasulullah! Agar kita terhindar dari fitnah dan menuju kejayaan yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya, yakni Al-Qur’an dan As Sunnah! Allah ta’ala telah berfirman :

وَعَدَ اللّهُ الّذِينَ آمَنُواْ مِنْكُمْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكّنَنّ لَهُمْ دِينَهُمُ الّذِي ارْتَضَىَ لَهُمْ وَلَيُبَدّلَنّهُمْ مّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لاَ يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

”Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS. An-Nuur : 55].

Dicabutnya kekuasaan kaum muslimin oleh Allah dengan keruntuhan Daulah ’Utsmaniyyah pada tahun 1924 adalah merupakan musibah yang diakibatkan oleh kesalahan kaum muslimin sendiri ketika mereka mulai jauh dari syari’at Allah. Allah berfirman :

وَمَآ أَصَابَكُمْ مّن مّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُواْ عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” [QS. Asy-Syuuraa : 30].

Bisa kita lihat di masa itu (bahkan hingga sekarang) aneka kesyirikan dan bid’ah merajalela. Budaya taqlid terhadap kuffar sudah bukan hal yang aneh jadi pemandangan.

Maka, Orientasi yang harus dilakukan oleh semua komponen dakwah Islam adalah menegakkan Dakwah Tauhid dan juga dakwah kepada (Al-Qur’an dan) As-Sunnah karena itu adalah sebab yang akan mengakibatkan keberhasilan Islam sebagaimana pernah terjadi pada masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Segala sesuatu hendaknya diletakkan secara proporsional, sehingga melahirkan pemahaman dan pengamalan sesuai yang diinginkan syari’at. Dan telah terang dalam syari’at kita yang lurus, Syi’ah bukan Islam. Maka patutlah kita mengatakan tidak untuk Syi’ah!

Wa Allaahu A’lam.

Usup Supriyadi

Sumber: Eramuslim.com

Saudi Jatuhkan Hukuman Mati Bagi Ulama’ Syiah

Syiahindonesia.com - Pengadilan di Arab Saudi menghukum mati seorang ulama terkemuka Syiah, Nimr Baqir al-Nimr.

Nimr Baqir al-Nimr diadili di Riyadh tahun lalu karena sering menyebarkan masalah pemahaman sesat dan merusak kesatuan, lansir BBC Indonesia (15/10/14)

Saudara laki-lakinya mengatakan Nimr dihukum Pengadilan Kejahatan Khusus Riyadh yang mengadili kasus terorisme.

Nimr Baqir adalah Ulama Syiah yang mendukung unjuk rasa anti pemerintah besar-besaran yang meletus di Provinsi Timur di 2011.

Penangkapannya dilakukan dua tahun lalu, saat dirinya dibekuk oleh polisi Saudi hingga memicu bentrokan selama beberapa hari.

Provinsi Timur yang kaya minyak adalah pusat konflik dunia antara agama Islam dengan Syiah. Silang pendapat dalam masalah keyakinan dan hal yang prinsipil telah mengeluarkan Syiah dari ajaran Islam itu sendiri.

Unjuk rasa dimulai pada bulan Februari 2011 setelah dimulainya konflik besar di negara tetangga Bahrain, yang sebagian besar penduduknya Syiah dan keluarga kerajaan Sunni.

Pemerintah Saudi menyangkal melakukan diskriminasi terhadap Syiah dan menyalahkan Iran karena memicu ketidakpuasan. (Nisyi/Syiahindonesia.com)

Syaikh Utsman Al-Khumais Membantah Kebodohan Ulama’ Syiah Dalam Masalah Wudhu

Syiahindonesia.com - Berikut ini adalah terjemahan dari ceramah Syaikh Utsman Al-Khumais dalam masalah “mencuci kaki atau membasuh kaki dalam wudhu” sebagai bantahan atas perkataan Ulama’ Syiah yang bernama Yasir Al-Habib. Vidio ini sendiri kami dapatkan dari Youtube dengan judul bahasa arab yang artinya “Asy-Syaikh Utsman Al-Khumais mengisi kuliah gratis dalam rangka membantah kebodohan Yaser Al-Khobits (keji)” dan sebenarnya merupakan acara yang disiarkan oleh TV Al-Manhaj, berikut terjemahan lengkapnya:

“Kita akan membahas masalah membasuh kedua kaki dalam wudhu yang dilakukan oleh Syiah, dan sebenarnya perbuatan tersebut tidaklah benar, dikarenakan :

1.    Ayat wudhu dalam Al-Qur'an  adalah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Pada ayat tersebut tepatnya pada kata “وُجُوهَ”, nash al-qur'an mengatakan " وُجُوهَكُمْ " huruf Ha' berharakat fathah dan ini berkedudukan sebagi Maf'ul bihi, dan pada kalimat "أَيْدِيَكُمْ" huruf Ya' berharakat fathah dan ini berkedudukan sebagai Maful bihi juga. Kata "أَيْدِيَكُمْ" ma'thuf (hokum I’rabnya diikutkan..pen) kepada " وُجُوهَكُمْ " dan ini berarti wajah dan kedua tangan itu di cuci, karena fiil amrnya adalah "اغْسِلُوا". Kemudian diteruskan dengan " وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ " huruf Ba' adalah huruf Jar dan huruf Sin-nya berharakat kasrah, dan fiil amrnya adalah "امْسَحُوا" (basuhlah) kepala. Kemudian lanjutan ayat adalah " وَأَرْجُلَكُمْ " huruf Lam berharakat fathah, dan tidak dibaca " وَأَرْجُلِكُمْ " dengan meng-kasrah-kan huruf Lam, namun mem-fathah-kan huruf Lam. Jika huruf Lam berharakat fathah maka artinya kata “أَرْجُل” yang berarti kaki mengikuti isim yang di-fathah sebelumnya yaitu " وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ " yang berati kaki juga di cuci bukan dibasuh.

Dan sebenarnya dalam kaidah Bahasa Arab jenis hukum yang sama (sama dalam i'rab, dalam hal ini kata "وُجُوهَ, أَيْدِيَ dan أَرْجُلَ) itu berurutan dengan artian seharusnya adalah " فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ" akan tetapi Allah swt memasukkan bagian yang dibasuh di antara bagian yang dicuci (memasukkan kalimat "وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ" diantara ma'ful-maf'ul bih dari fiil فَاغْسِلُوا) dengan tujuan ketertiban, karena dalam wudhu urutan tertibnya adalah seperti itu, yakni mencuci wajah mencuci tangan membasuh kepala baru mencuci kaki.

2.    Kenyataan yang dilakukan Nabi Muhammad saw dulu.

Beliau saw tidak pernah membasuh kakinya sekalipun, sedangkan beliau saw adalah yang menerangkan makna Al-Qur'an itu. Tidak ada riwayat satupun yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw membasuh kaki dalam wudhu, yang ada adalah beliau saw mencuci kaki dalam wudhu.

3.    Faidah dari kalimat " إِلَى الْكَعْبَيْنِ" .

Membasuh itu tidak ada pembatasan, seperti "امْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ " (perintahnya hanya membasuh kepala saja tanpa ada kalimat pembatasan sampai bagian mana....Pen.). Akan tetapi nash ayat mengatakan " إِلَى الْكَعْبَيْنِ" menunjukkan semua ini (bagian yang dibatasi sampai mata kaki.. Pen) adalah dicuci, karena jika membasuh maka tidak akan ada kalat " إِلَى الْكَعْبَيْنِ" dan bisa membasuh sampai atas (karena membasuh itu tidak ada batasan.. pen), dengan arti kaki itu dicuci bukan di basuh. bahkan Nabi Muhammad saw bersabda :

ويل للأعقاب من النار

Artinya : “Celakalah tumit-tumit dari api neraka.”  (HR. Bukhari no. 96 dan Muslim no. 241).
kata "أعقاب" bermakna bagian atas kaki, dan bagian ini cara tidak dibasuh, karena jika boleh membasuh maka Nabi Muhammad saw tidak akan bersabda sedemikian.

4.    Ada riwayat yang mengatakan bahwa Ali bin Abu Thalib ra mencuci kaki dalam wudhu dan hal ini banyak yang ditabrak sendiri oleh kalangan Syiah, karena mereka mengatakan dalam wudhu itu membasuh kaki, namun Ali bin Abu Thalib ra sendiri mencuci kakinya dalam wudhu. Dari situ munculah berbagai kebohongan klasik di antaranya mereka mengatakan bahwa “Ali bin Abi Thalib ra mencuci kaki karena Taqiyyah”. Dan hal ini sama dengan mereka menuduh bahwa Ali bin Abi Thalib ra adalah seorang pengecut yang tidak berani menerapkan syariat Allah swt. Kita katakan bahwasanya Ali bin Abi Thalib ra mencuci kaki itu bukan karena Taqiyyah namun murni karena mengikuti syariat Nabi Muhammad saw dan mengikuti perintah Al-Qur'an.

Tidak boleh dalam wudhu membasuh kaki kecuali ketika memakai kaos kaki atau sepatu (yang dikenal dengan istilah al-Mashu ala Khuffain... pen), jika tidak dalam keadaan seperti itu maka tidak boleh membasuh kaki karena asli perintahnya adalah mencuci kaki sebagaimana mencuci wajah dan kedua tangan. wallahu a'lam”

----(selesai)----

Demikian semoga bermanfaat, dan kita tetap yakin bahwa Syiah itu bukan Islam.

Diterjemahkan oleh akhukum Abu Dawud Ulinnuha Arwani

Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=MR1y1D7okIY

Tim Penguji: Disertasi Jalaluddin Rakhmat Membuat Kita Menolak Al-Quran!

Syiahindonesia.com - Itulah penilaian yang dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus terhadap disertasi doktoral Jalaluddin Rakhmat yang diujikan pada 12 September 2013 lalu di gedung Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.

Wakil Ketua MUI Sulawesi Selatan yang juga merupakan Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini tentu tidak serampangan dalam memberikan penilaian pada disertasi seseorang, apatah lagi kepada seorang mahasiswa doktoral. Yang juga notabene seorang “Ustadz Besar” di kalangan Syiah. Bahkan dianggap sebagai cendikiawan Muslim.

Mengapa bisa demikian?,

Mari kita coba membuka lagi lembaran ucapan-ucapan para ulama terdahulu, agaknya sangat pas dengan ungkapan Prof. Abd. Rahim Yunus di atas. Ialah ungkapan Imam Abu Zur’ah rahimahullah, “Sesungguhnya tujuan mereka mencela para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah untuk mendongkel (menolak) al-Qur`ân dan Sunnah. Kalau pembawa dan penyampai agama ini adalah orang-orang yang murtad, bagaimana kita menerima apa yang mereka sampaikan.”

Bagi Anda yang telah membaca dua seri pertama dari rangkaian tulisan ini tentu akan paham. Terutama pada bagian yang kedua.

Ucapan yang diungkapan oleh Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus lebih terpatnya berbunyi seperti ini, "Kerangka berfikir yang dibangun oleh Kang Jalal membuat kita menolak Al-Qur'an", mengapa?
Karena Jalaluddin Rakhmat dalam disertasinya tersebut -sesuai dengan ungkapan Imam Abu Zur’ah di atas- selalu berusaha menjatuhkan sahabat.

Merendahkan, mendiskreditkan, melecehkan dan bahkan mengecam para sahabat, murid-murid didikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Usaha itupun dibumbuinya dengan berbagai kecurangan ilmiah seperti yang dicontohkan pada bagian pertama dari serial tulisan ini; yaitu selalu membawa teks pada bukan maksudnya. Dalam hal ini kecaman dia terhadap sahabat Nabi. Bahkan menuduh mereka kafir karena tindakannya yang tidak pantas. Seperti melarang meriwayatkan hadis. Padahal semua itu disimpulkannya setelah memotong dan membawa teks atau perkataan ulama pada yang bukan maksudnya (perkataan ibnu hazm). Mari kita lhihat sekali lagi,

Berikut ini paparan Tim Penguji lainnya, Dr. Hamzah Harun Ar-Rasyid,

Kemudian saya sebutkan tadi terjadi tahmilun nash lima la yahtamil (menggiring teks pada yang bukan maksudnya). Apa kesimpulannya setelah mengemukakan itu semua? Disini dikatakan, “Apa yang dilakukan sahabat besar itu, membakar kitab-kitab sunnah  dan melarang meriwayatkan sunnah sangat sulit untuk kita fahami apapun alasan yang mereka kemukakan. Bisakah kita membenarkan tindakan mereka? betulkah cukup bagi kita untuk menggunakan Al-Qur’an saja?” saya kira itu kesimpulan yang sangat lain. karena seperti yang saya katakan tadi, hadis-hadis itu tidak bisa dibawa pada pemahaman seperti itu.

Pada halaman tujuh, untuk memperkuat hasil analisisnya itu Kang Jalal mengutip, 400 tahun kemudian Ibnu Hazm menjawab pertanyaan itu,

ولو أن امرأ قال لا نأخذ إلا ما وجدنا في القرآن لكان كافرا بإجماع الأمة وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

(Jika ada seseorang yang mengatakan kami tidak mengambil kecuali apa yang kami dapati dalam Al-Quran, maka ia telah kafir dengan ijma’ umat. Dan seorang berkata ini kafir, musyrik, halal darah dan hartanya)

Nah, saya sebenarnya setelah membuka, ternyata apa yang dikatakan oleh Ibnu Hazm disini sebenarnya tidak seperti apa yang difahami oleh Kang jalal. Bahkan Kang Jalal membuang beberapa redaksi untuk menggiring pemahamannya seperti itu

ولو أن امرأ قال لا نأخذ إلا ما وجدنا في القرآن لكان كافرا بإجماع الأمة

ada sambungannya

ولكان لا يلزمه إلا ركعة ما بين دلوك الشمس إلى غسق الليل وأخرى عند الفجر لأن ذلك هو أقل ما يقع عليه اسم صلاة ولا حد للأكثر في ذلك

(Dan tidak mengharuskannya kecuali satu rakaat antara tergelincirnya matahari sampai gelapnya malam dan waktu lain saat fajar karena itulah arti shalat yang paling minimal dan tidak ada batasan untuk banyaknya)
baru sampai kepada

وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

dipotong lagi

وإنما ذهب إلى هذا بعض غالية الرافضة ممن قد اجتمعت الأمة على كفرهم

(Dan yang berpendapat seperti ini adalah sebagian Ghulat Rafidhah dimana umat telah bersepakat atas kekafiran mereka)

*teks berwarna merah adalah redaksi yang dipotong oleh Jalaluddin Rakhmat, bisa dilihat pada Kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, Ibnu Hazm, Juz 2, hal. 80, Dar al-Afaaq al-Jadidah, Beirut. Bisa juga dilihat di Maktabah Syamilah.

Jadi sebenarnya perkataan Ibnu Hazm ini bukan tentang Abu Bakar dan Umar, tapi sebenarnya yang dimaksud disini adalah inkarus sunnah (golongan penolak sunnah Nabi) seperti yang dikatakan tadi bahwa ketika ada orang yang hanya mengambil Al-Qur’an dan menafikan hadis, itu tidak masuk akal. Kenapa tidak masuk akal? Karena kalau Al-Qur’an saja, kita hanya bisa shalat dua kali sehari, waktu pagi dan petang. Karena tidak ada itu dalam Al-Qur’an Kaifiyyat Ash-Shalah (tata cara shalat) dan seterusnya dan seterusnya.

Jadi yang dikatakan disini

وقائل هذا كافر مشرك حلال الدم والمال

(dan seorang berkata ini kafir, musyrik, halal darah dan hartanya)

Tidak bisa dibawa bahwa sebenarnya Abu Bakar dan Umar itu halal darahnya. Tapi kalau dibaca disini (disertasi Jalal) seolah-olah seperti itu.

Saya harapkan kepada promotor untuk membaca sekali lagi disertasi ini supaya bisa obyektif, karena kang Jalal sendiri mengatakan bahwa metodologi Kang Jalal itu harus obyektif.

*Selesai dari Dr. Hamzah Harun* (Baca disini: Kecurangan Ilmiah Doktoral Jalaluddin Rakhmat: Abu Bakar dan Umar Kafir dan Halal darahnya!)

Selain memakai cara culas di atas dalam mengecam dan menuduh Kafir para sahabat , terutama Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhuma. Jalaluddin Rakhmat juga membuang banyak riwayat yang tidak mendukung analisanya.

Dalam konteks ini, Jalaluddin Rakhmat hanya memuat riwayat yang mendukung kesimpulannya (riwayat yang melarang menulis hadis) lalu membuang riwayat-riwayat yang tidak mendukung kesimpulannya, Padahal riwayat-riwayat dari Nabi yang memerintahkan dan mengindikasikan untuk menulis dan menghafal hadis-hadis beliau sangatlah banyak dan melimpah.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Hamzah Harun penilainnya terhadap disertasi Jalaluddin Rakhmat,

“Kemudian, ketika misalnya mengutip hadis tentang larangan menulis hadis, itu banyak sekali disebutkan, lagi-lagi ini tidak sesuai, disini benar atau tidak, apa betul ada hadis begitu atau tidak. Ini tidak pernah dipertanyakan. Yang kedua, hadis yang kontradiktif (yang sebaliknya menyuruh menulis hadis), itu sangat banyak, tapi itu tidak dikutip. Informasi tentang itu sangat banyak tapi tidak ditampilkan secara proporsinal. Itu salah satu kelemahannya juga.” (Baca disini: Memalukan, Seminar Hasil Doktoral Jalaluddin Rakhmat Penuh Kecurangan Ilmiah)

Padahal cara seperti ini adalah “trik” orang-orang Yahudi Bani Israil dahulu, sebagaimana yang Allah sifatkan dalam surat al-Baqarah ayat 85,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

“Apakah kalian beriman dengan sebagian kitab dan menginkari sebagian yang lainnya?” (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com/Syiahindonesia.com)

Memalukan, Seminar Hasil Doktoral Jalaluddin Rakhmat Penuh Kecurangan Ilmiah

Syiahindonesia.com - Seminar Hasil Doktoral Jalaluddin Rakhmat di gedung Pascasarjana UIN Alauddin Makassar (12/9/13) penuh kecurangan ilmiah. Hal ini terungkap dari pemaparan para tim penguji yag terdiri dari Prof. Dr. Abd. Rahim Yunus, Prof. Dr. Arifuddin Ahmad dan Dr. Hamzah Harun (Kepala Litbang Depag Sulsel).

Hal ini sesuai dengan prediksi kita, tentunya setelah melihat kebiasaan buruk Jalaluddin Rakhmat yang terhampar di berbagai karya-karyanya, mulai dari artikel, makalah, ceramah dan buku-bukunya.
Dan juga setelah melihat komentar para ulama muktabar seperti Imam Asy-Syafi’i tentang kebiasaan orang-orang Syiah yang dengan entengnya suka berdusta. Merekalah kelompok sempalan Islam yang paling berani bersaksi palsu dan paling bohong dalam pengakuannya. Begitu ucapan sang Imam yang mazhabnya paling laris di Indonesia ini.

Baiklah, rasanya tak perlu lama-lama dalam pembukaan ini. Langsung saja kita to the point.
Otentisitas Sumber Yang Meragukan

Dr. Hamzah Harun memulai komentarnya,

“Kelemahan substansif yang ada dalam penelitian ini adalah, pertama, ketika kita berbicara tentang smber sejarah maka yang paling substansif untuk kita bahas adalah otentisitas dari sumber itu karena kalau kita membentuk sebuah argumen dan mendasarkannya pada sumber yang otentisitasnya kemudian hari terbantah maka semua bangunan argumentasi yang dibangun itu runtuh secara mutlak, dan inilah kelemahan dari penelitian ini. Ketika penulis berbicara tentang hadis, dari Aisyah, Abu Bakar, Umar dan sebagainya. Seakan-akan penulis tidak pernah mempersoalkan tentang otentisitas sumber itu, apakah riwayat itu benar bersumber dari Aisyah atau hanya disandarkan kepada Aisyah, saya tidak menemukan penulis menyoal hal itu, padahal ini yang paling substansif. Karena jangan-jangan Aisyah tidak pernah mengatakan itu, tetapi hanya disandarkan kepadanya, ini tidak pernah disoal, dan ini banyak sekali. Ini kelemahan yang paling substansif dari tulisan-tulisan yang sekian banyak ini. Jadi ini mohon menjadi perhatian serius jika ingin menjadikan sebuah sumber menjadi landasan argumentatif, maka pertama harus dikonstruksi, harus dibuktikan, atau paling tidak dikomentari keabsahan dari literatur itu. Ini yang saya tidak temukan dari tulisan disertasi ini.”
Membuang Banyak Riwayat yang Tidak Mendukung Analisanya

Dr. Hamzah Harun melanjutkan,

“Kemudian, ketika misalnya mengutip hadis tentang larangan menulis hadis, itu banyak sekali disebutkan, lagi-lagi ini tidak sesuai, disini benar atau tidak, apa betul ada hadis begitu atau tidak. Ini tidak pernah dipertanyakan. Yang kedua, hadis yang kontradiktif (yang sebaliknya menyuruh menulis hadis), itu sangat banyak, tapi itu tidak dikutip. Informasi tentang itu sangat banyak tapi tidak ditampilkan secara proporsinal. Itu salah satu kelemahannya juga.”

Tergesa-gesa Menyimpulkan
“Apa yang saya dapatkan berkaitan dengan amanah ilmiah, saya mendapatkan Kang Jalal disini melakukan tahmilu an-nash ‘ala lima la yahtamil, menggiring nash/ teks kepada sesuatu yang sebenarnya bukan begitu maksudnya. Tapi Kang Jalal setelah memaparkan itu kemudian menyimpulkan bahwa menurut saya begini. Menurut saya itu terlalu cepat. Beberapa konteks hadis yang berkaitan dengan itu kemudian disimpulkan, dan kesimpulan itu sebenarnya –kalau kita lihat- kesimpulan yang tidak bisa diterima, terutama kepada kalangan Ahlus Sunnah, walaupun ternyata Kang Jalal bukan Ahlus Sunnah, Syiah.” Lanjut Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Depag Sulsel ini.

Tidak Faham Sejarah?
“Saya kaget ketika Kang Jalal menyebutkan bahwa Al-Hakim itu dia tiba di Irak pada tahun 41 hijriyah, lalu disini saya melihat, bagaimana bisa  tahun 41 hijriyah, padahal muhadditsin itu sendiri nanti setelah berakhir abad pertama. Lalu kemudian saya melihat-lihat, Al-Hakim bukan 41 hijriyah, tetapi sebenarnya adalah beliau lahir tahun 351 H dan meninggal tahun 405 H. Hal seperti ini, dalam disertasi seperti ini, seharusnya tidak terjadi.”

Plagiat Karya Ilmiah
“Kemudian, tentang Mahmud Abu Rayyan adalah seorang yang pernah datang di Al-Azhar lalu kemudian karena kekecewaannya beliau mengumpulkan beberapa hadis yang bisa dipelintir yang kemudian hadis-hadis itu banyak dikutip oleh a’da’ul Islam (musuh-musuh Islam), termasuk para orientalis juga banyak mengutip darinya. Makanya ketika saya melihat kerangka pikir yang Kang Jalal bangun disini, saya tadinya mengatakan mungkin hanya kebetulan, karena kerangka pikir yang ada disini persis dengan urutan-urutan hadis yang sebenarnya sudah dipaparkan oleh Mahmud Abu Rayyan, yang kemudian diikuti oleh beberapa penulis, termasuk misalnya Abdurrahman bin Sa’ad, kemudian Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimy.” (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com/Syiahindonesia.com)