Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Inilah Alasan Imigran Syiah Tidak Segera Dideportasi

Syiahindonesia.com - Ribuan pengungsi imigran syiah membanjiri wilayah Indonesia. Balikpapan salahsatunya. Menurut penelusuran Fajar Shadiq, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang melaporkan dari Balikpapan, ada sekitar 300 imigran asal Afghanistan di Kota Balikpapan. Sementara di seluruh Indonesia jumlahnya lebih dari 6.000 imigran.

Keruan saja, segenap masyarakat menolak kedatangan imigran ilegal ke kota yang mereka tinggali. Pasalnya, selain tidak ada dokumen yang lengkap, hanya mengandalkan selembar kertas sertifikat dari UNHCR, mereka juga memiliki paham dan ideologi yang bertolak belakang dengan umat Islam di Indonesia.

Pengungsi Afghanistan ini terang-terangan mengaku beragama Syiah. Masyarakat khawatir, mereka akan menyebarkan pengaruhnya ke Indonesia. Apalagi, imigran Syiah, khususnya yang berada di Balikpapan, tidak semuanta tertampung di Rumah detensi Imigrasi (Rudenim).

Banyak pihak bertanya-tanya, kenapa pihak imigrasi tidak mendeportasi mereka? Ditemui di Balikpapan, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rumah Detensi Imigrasi Lamaru Balikpapan, Edu Andarius Aria menyatakan bahwa saat ini pihak keimigrasian juga terbentur dengan hukum yang dibuatnya sendiri.

“Kita ini terbentur dengan hukum, karena para pencari suaka itu ada payung hukumnya. Di luar itu ada konvensi tentang HAM, ada konvensi tentang pengungsi tahun 1951, walaupun kita tidak ikut meratifikasi,” ujar Edu saat ditemui di Rudenim Lamaru Balikpapan pada Kamis, (11/12) lalu.

Meskipun Indonesia tidak ikut meratifikasi konvensi internasional tentang pengungsi, tetapi ada hukum positif kita yang sudah mengatur di sini.Ada aturan imigrasi yang menyatakan bahwa pencari suaka tidak bisa dideportasi. Yaitu berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor IMI-1489.UM.08.05 Tahun 2010. (azm/arrahmah.com/syiahindonesia.com)

Sejarah Syiah Hautsi di Yaman Bag. 2

Demontrasi Massal Pengikut Hautsi dan Awal Mula Peperangan

Syiahindonesia.com - Pada tahun 2004 M, terjadi pemberontakan kelompok Syiah Al Hautsi, atas perintah Husein Badruddin Al Hautsi, mereka menguasai jalan-jalan kota Yaman, dengan satu tuntutan agar ekspansi Amerika terhadap Irak dihentikan, namun penguasa menyambut demontrasi dengan kekerasan. Disebutkan pula bahwa ketika itu Husein Badruddin Al Hautsi mengaku dirinya adalah Imam Mahdi, bahkan menganggap dirinya sebagai Nabi. Akibatnya pemerintah Yaman memutuskan untuk mendeklarasikan perang terbuka terhadap kelompok Syiah Hautsi, sampai-sampai pemerintah Yaman ketika itu mengerahkan 30,000 tentara, pesawat-pesawat tempur, dan tank-tank. Peperangan pun semakin berkobar dengan terbunuhnya pimpinan kelompok Hautsi yaitu Husain Badruddin Al Hautsi, ratusan orang ditawandan persenjataan yang sangat banyak berhasil disita dari orang-orang Hautsi.

Kondisi pun semakin genting, paska terbunuhnya Husain Al Hautsi tampuk kepemimpinan diambil alih oleh ayahnya yaitu Badruddin Al Hautsi.Hal ini semakin memperjelas bahwa secara diam-diam kelompok Syi'ah telah mempersenjatai diri mereka dengan sangat rapi, dimana mereka sanggup menghadapi tentara Yaman hingga bertahun-tahun lamanya.

Pada tahun 2008 M, Qatar mengambil peran sebagai mediator antara pihak Hautsi dengan pemerintah Yaman, yang menghasilkan perjanjian perdamaian sesuai wasiat Yahya Al Hautsi dan Abdul Karim Al Hautsi - saudara kandung Husain Badruddin Al Hautsi- ntk pindah ke Qatar dan menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Yaman.Akan tetapi perjanjian damai ini tidak berselang lama, peperangan pun mulai babak baru, bahkan orang-orang Hautsi terang-terang memperluas kekuasaannya ke beberapa provinsi sekitar Sha'dah dan berupaya sampai ke pinggiran pantai laut merah agar dapat menguasai wilayah pesisir, salah satunya adalah pelabuhan supaya dapat menyuplai kebutuhan mereka dari luar Yaman.

Saat ini, seruan mereka sudah semakin jelas, konfrontasinya pun semakin nyata, bahkan pembahasaannya saat ini mengarah kepada ancaman sekelompok orang yang ingin menguasai Yaman secara keseluruhan, bukan hanya sekedar pemisahan sebagian syi'ah dari negeri Yaman.

Sebab-sebab Yang Menopang Kekuatan Syiah Hautsi

Begitu banyak banyak justifikasi yang mencerahkan kita dalam memahami duduk permasalahan tersebut, boleh jadi yang paling menonjol adalah,

Pertama, tidak mungkin kelompok kecil (Syiah Hautsi) yang berada di negeri Yaman, memiliki pertahanan yang sangat kokoh dalam jangka waktu yang relative panjang, melainkan mereka mendapat sokongan dari luar Yaman. Jika persoalan itu dianalisa, kita akan dapati bahwa negara yang berperan dalam upaya menyokong kekuatan Hautsi adalah Iran, yaitu daulahItsna 'Asyariyah yang dengan segala sarana berusaha untuk menyebarkan madzhab mereka, sekiranya gerakan Syiah Hautsi mampu memberi perlawanan untuk menguasai pemerintahan Yaman,niscaya hal ini akan menjadi sebuah kemenangan yang besar bagi Iran, lebih-lebih mereka akan leluasa mengepung salah satu kubu terbesar yaitu Saudi, Saudi pun akan terkepung dari arah utara oleh di Iraq, dari arah timur oleh Kuwait dan Bahrain, begitu juga dari arah selatan oleh Yaman, dari sini Iran akan memberikan tekanan yang luar biasa, baik hubungannya terhadap dunia Islam yang sunni maupun hubungannya terhadap Amerika.

Data ini bukan sekedar teori, akan tetapi berdasar realita yang memiliki penguat yang sangat banyak, salah satunya adalah perubahan yang mengejutkan dari Badruddin Al Hautsi dari pemikiran Zaidiyah yang moderat kepada pemikiran Itsna 'Asyariah yang menyimpang, padahal lingkungan Yaman tidak pernah mengenal pemikiran yang diusung oleh Syiah Itsna 'Asyariyah di sepanjang sejarah Yaman, apalagi Iran telah merangkul Badruddin dengan segala daya upaya, bahkan ia disambut sebagai tamu kehormatan di Teheran selama bertahun-tahun hingga Badruddin mendapatkonsep "Wilayatul Faqih" yang digagas oleh Khameini sebagai solusi tepat untuk merambah kepemerintahan hatta meski tidak dari keturunan Fatimah radhialllahu 'anha, padahal pemikiran ini tidak terdapat dalam ajaran Zaidiyah.

Seperti halnya Iran sebagai negara kuat yang mampu mengulurkan bantuan politik, ekonomi serta militer terhadap Al Hautsi, dan Al Hautsi pun mengokohkan bantuandari Iran dengan membangun berbagai media Syi'ah Iran seperti saluran-saluran tv yang sangat banyak semisal; Al'Alam, AlKautsar dan yang selainnya,demi kepentingan kelompok Hautsi.

Sebagaimana halnya Hautsi sendiri bermediasi dengan Marja' tertinggi syi'ah Iraq Ayatullah AsSistani, seorang Itsna 'Asyari yang masih asing bagi masyarakat Yaman, namun ini hanya sekedar pengukuhan terhadap madzhab mereka.Disamping itu, pemerintahan Yaman menyatakan bahwa sumber persenjataan yang kebanyakan di milikikelompok Hautsi adalah buatan Iran. Pemerintah Yaman sendiri menyinnggung tanpa terang-terangan sehubungan adanya bantuan Iran terhadap pemberontak Hautsi, tentu saja Iran mengingkari perihal bantuan tersebut, namun sudah dimaklumi bahwa demikian ini hanya permainan politik mereka, terlebih pada ranah aqidah "Taqiyyah" Itsna 'Asyariyah yang melegalkan kedustaan tanpa adanya batasan.

Kedua, diantara faktoryang mendukung kelancaran gerakan kelompok Hautsi di Yaman adalah empati sebagian masyarakat karena ikatan nasab kepada gerakan pemberontak, meskipun tidak sampai condong kepada pemikiran menyimpang mereka, yang demikian karena factor buruknya perekonomian dan sosial yang berlaku di masyarakat tersebut. Secara global, Yaman tergolong sangat lemah dalam infrastruktur bangunan, sedangkan kondisi kefakiran yang sangat buruk melanda sebagian besar penduduknya, nampaknya wilayah-wilayah tersebut tergolong lebih banyak (penduduknya) daripada wilayah lain, namun tidak ada perhatian pemerintah terhadap wilayah tersebut sebagaimana perhatian yang tercurahkan atas kota-kota besar lainnya di Yaman.

Lebih ditegaskan lagi bahwa kesepakatan damai yang dimediasi oleh Qatar pada tahun 2008 M, antara pemerintah Yaman dan kelompok Hautsi yang memutuskan bahwa pemerintah Yaman berencana mengembalikan kemakmuran wilayah Sha'dah, sedangkan Qatar akan memberikan modal terhadap proposal kemakmuran tersebut,namun semua ini terhenti karena perang, dan bukti dari realitanya bahwa masyarakat yang hidup dalam kondisi termarginalkan dan ditelantarkan akan melakukan protes bahkan sewenang-wenang meski kepada siapapun yang tidak sesuai dengan keyakinan dan prinsip mereka.

Ketiga, diantara factor yang mendukung berlangsungnya pemberontakan adalah adanya dukungan dari kabilah-kabilah yang mendominasi Yaman. Yaman sendiri merupakan wilayah yang banyak didominasi oleh suku-suku dan kabilah-kabilah, bahkan terdapat keseimbangan yang urgen di berbagai kabilah berbeda, dan banyak sekali refrensi yang menunjukkan bahwa para pemberontak dari kelompok Hautsi mendapat sokongan dari beberapa kabilah yang menolak tatanan kepemerintahan, karena adanya dendam antara mereka dan sistem pemerintahan yang menggeser pandangan terhadap agama atau madzhab.

Keempat, diantara faktor yang mendukung hal ini adalah kondisi alam di Yaman berupa pegunungan, sehingga membuat kekuatan pemerintah untuk menduduki wilayah tersebut menjadi sulit, disamping itu tidak adanya kemampuan pasukan serta banyaknyarelungdan gua-gua,tidak ada penilitian ilmiah yang menjelaskan jalan-jalan di sekitar pegunungan, serta tidak adanya peralatan tekhnis dan satelit buatan yang mampu mengintai pergerakan mereka secara detail.

Kelima,Factor pendukung lainnya adalah sibuknya pemerintahan Yaman dalam menyelesaikan Isu seruan yang menginginkan Yaman Selatan terpisah dari Yaman Utara,sertaadanya demonstrasi yang menyerukan terhadap masalah itu, disertai dengan munculnya mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim AlBedh dari tempat tinggalnya di Jerman yang sama-sama menyerukanpemisahan. Tidak diragukan lagi, kondisi semacam ini semakin mencerai beraikan pemerintahan, pasukan dan intelejen Yaman, sehingga kontrol mereka terhadap kelompok Hautsi semakin melemah.

Keenam, ada beberapa analisa yang menjelaskan tentang keberlangsungan pemberontakan,bahwa pemerintahan Yaman sendiri menginginkan agar permasalahan itu tetap berlangsung! Sebab pemberontakan tersebut dapat dijadikan alasan yang akan menghasilkan berbagai keuntungan negara, diantara kuntungan yang paling besar adalah terjalinnya kerja sama dengan Amerika yang biasa dikenal dengan sebutan ‘perang kontra terorisme’, apalagi Amerika mengisyaratkan adanya kaitan antara tandhim AlQaedah dengan kelompok pemberontak Al Hautsi.

Saya sendiri berpendapat bahwa analisa ini sangat jauh, karena manhaj yang dianut oleh tandhim AlQaedah sangat bertolak belakang dengan manhajyang dianut Itsna 'Asyariah, selain itu tentunya Amerika ingin mengokohkan kuku-kukunya diseluruh dunia Islam dengan beragam alasan guna merealisasikan tujuannya, sementara dari hubungan ini Yaman berupaya memperoleh konsolidasi politik serta ekonomi atau paling tidak mengesampingkan terungkapnya berbagai files tentang HAM dan kediktatoran serta files lain yang hendak diungkap oleh Barat.

Di samping keuntungan yang diperoleh Yaman dari hubungannya dengan Amerika, Yaman juga akan memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan Saudi, dimana Saudi akan berupaya membantu Yaman dalam hal politik, militer serta ekonomi dalam rangka melawan gerakan Syi'ah Hautsi, sementara dengan berlangsungnya permasalahan itu akan semakin memperlancar bantuan untuk Yaman, bahkan bukan hanya sokongan dari Saudi yang akan diperoleh Yaman, tapi akan meluas ke Qatar, Emirates dan yang lainnya.

Meskipun faktor-faktor tersebut dapat dialihkan, namun permasalahan masih tetap berlanjut, bahkan kondisi yang saya lihat semakin membahayakan, sudah selayaknyalah Yaman mengambil sikap tegas terhadap peristiwa ini, menyebarkan pemikiran Islami yang shahih dalam rangka menghadapi berbagai pemikiran menyimpang, dan menaruh perhatian yang besar terhadap masyarakatdi wilayah-wilayah tersebut sehingga dapat menghimpun loyalitas mereka secara alamiah kepada Yaman dan pemerintahannya.

Sedangkan bagi dunia Islam global, hendaknya memberikan dukungannya terhadap Yaman di tengah konflik ini, sekiranya tidak, maka mega proyek Syi'ah akan mengepung dunia Islam dari segala penjuru.Dan yang paling urgen adalah mengembalikan nilai-nilai dan kemaslahatan Yaman, sebab kemaslahatan ini akan mengarahkan kepada persatuan, gagasan yang baik, bahkan kepada persatuan kaum Muslimin di atas kitabullah serta sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,dengan begitu kita akan keluar dari segala kemelut dan mendapat solusi dari berbagai permasalahan yang ada. (team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.


Sejarah Syiah Hautsi di Yaman Bag. 1

Kisah Orang-orang Hautsi

Syaihindonesia.com - Kisah Hautsi telah mendominasidi sebagian besar media di lima tahun terakhir, padahal kisah ini tergolong kisah-kisah yang masih membingungkan,karena banyaknya analisa yang saling berbenturan serta penafsiran yang saling berlainan,sehingga hakikat antara protagonis dan antagonis, pembela dan penyerang menjadi kabur.

Lantas siapa sebenarnya orang-orang Hautsi itu?Kapan mereka muncul?Apa yang mereka targetkan? Mengapa mereka memerangi pemerintahan Yaman? Apa efek yang ditimbulkan terhadap kekuatan dunia luar dari berbagai peristiwa sehubungan dengan kisah mereka? Beberapa pertanyaan diatas merupakan tema pembahasan kita, dan saya berharap agar jalan kita dalam mengurai benang kusut dari kisah ini mendapat titik terang.

Pada pembahasan yang lalu dalam "Qishshah Al Yaman", kita telah bercerita tentang sejarah pemerintahan Yaman secara ringkas, dalam kisah itu kita dapati Syi'ah Zaidiyah memiliki bagian di pemerintahan Yaman dalam rentan waktu yang cukup panjang, lebih dari beberapa abad lamanya mereka telah menguasai Yaman, yaitu sejak tahun 1962 M paska meletusnya revolusi Yaman. Kami juga telah menjelaskan perbedaan madzhab Zaidiyah yang tersebar di Yaman dan madzhab Itsna 'Asyari yang tersebar di Iran, Iraq dan Lebanon. Bahkan telah kami rinci dengan skema yang lebih besar dalam beberapa makalah yang lalu semisal; “Ushul AsSyi'ah”,“Saitharah AsSyi'ah” dan “Khathar AsSyi'ah”, begitu juga dalam makalah “Mauqifuna Min As Syi'ah.”

Dalam pembahasan lalu juga telah kami sebutkan bahwa Syi'ah Zaidiyah memiliki kesamaan jauh lebih besar dengan Ahlisunnah daripada kesamaan mereka dengan Itsna 'Asyariyah Imamiyah, bahkan pokok ajaran Itsna 'Asyariyah Imamiyah tidak mengakui keimamahan Zaid bin Ali penggagas madzhab Zaidiyah, sedangkan di sisi lain orang-orang Zaidiyah tidak mengakui segala kesesatan keyakinan sekte Itsna 'Asyariyah yang menyimpang, mereka juga tidak sepakat tentang pembatasan hanya dua belas imam saja, tidak mengklaim kema'shuman para imam Syi'ah, tidak meyakini taqiyyah, raj'ah, bada', tidak mencela para sahabat dan bid'ah-bid'ah munkar lainnya yang semisal dengan itu.

Kami katakan demikian karena memang dalam sejarah Yaman sama sekali tidak pernah di dapati sejarah tentang sekte Itsna 'Asyariyah, akan tetapi hal ini mulai berubah di tahun-tahun terakhir yang perubahannya memiliki keterkaitan erat dengan kisah orang-orang Hautsi.

Pokok Cerita

Cerita ini bermula di provinsi Sha'dah (sejauh 240 KM selatan Shan'a) dimana terdapat banyak sekali populasi orang-orang Zaidiyah di Yaman. Pada tahun 1986 M terbentuklah "Ittihadus Syabab", sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengedukasikan madzhab syi'ah kepada para pengikutnya, Badruddin Al-Khoutsi - adalah seorang pembesar ulama' Zaidiyah waktu itu - termasuk salah seorang pengajar dalam lembaga tersebut.

Pada tahun 1990 M terjadi Wahdah Yamaniyah (Persatuan Yaman) sehingga terbukalah medan frontal bagi multi partai, dimana "Ittihadus Syabab" berubah menjadi "Hizbul Haq" yang merupakan kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman, lalu muncul Husan Badruddin Al-Huutsi –putra Badruddin Al Hautsi- sebagai salah seorang politisi terkemuka, kemudian terpilih sebagai majlis perwakilan pada tahun 1993 M dan tahun 1997 M.

Seiring berjalannya zaman, terjadi peristiwa perseteruan besar antara Badruddin Al Hautsi dengan para ulama' Syiah Zaidiyah Yaman mengenai fatwa sejarah yang telah disepakati ulama-ulamaZaidiyah Yaman, yang diprakarsai oleh Marja’ Syiah Majduddin AlMuayyadi,bahwa pada hari ini syarat keturunan Hasyim menjadi imam sudah tidak relevan, dan rakyat berhak memilih siapa saja yang layak menjadi imam Syiah, tanpa harus dari keturunan Hasan maupun Husein radhiyallahu 'anhuma.

Badruddin Al Hautsi menolak keras fatwa ulama-ulama Zaidiyah, terlebih Badruddin adalah penganut sekte "Jarudiyah",salah satu sekte Syiah Zaidiyah yang memiliki pola pikir serupa dengan Syiah Itsna 'Asyariyah.

Permasalahan itu semakin memanas dipihak Badruddin Al Hautsi,dimana dia mulai terang-terangan membela madzhab Itsna 'Asyari, bahkan dia menulis buku yang berjudul "AzZaidiyah Fii Al Yaman". Dalam bukunya itu, dia mengulas adanya hubungan dekat antara Syiah Zaidiyah dan Syiah Itsna ‘Asyar. Karena adanya perlawanan yang sengit terhadap pemikirannya yang menyimpang dari Zaidiyah, akhirnya dia terdesak dan hijrah menuju Teheran, dan menetap di sana selama beberapa tahun.

Meskipun Badruddin Al Hautsi telah meninggalkan Yaman, namun pemikiran-pemikirannya tentang Itsna Asyariyah mulai tersebar,khususnya di distrik Sha'dah dan beberapa distrik lainnya.Peristiwa ini terjadi sejak akhir-akhir tahun 90-an, tepatnya sejak tahun 1997 M.

Di tahun yang sama, Husain Badruddin Al Hautsi memisahkan diri dari “Hizbu Al Haq”dan membentuk kelompok sendiri.Pada awalnyakelompok ini hanya kelompok pemikiran keagamaan, bahkan kelompok ini sempat bahu membahu dengan pemerintah dalam membendung arus Islam Sunni yang diwakili oleh Partai Tajammu' AlYamani LiiAl Ishlah, namun tidak lama kelompok ini akhirnya mengambil wacana untuk melawan kepemerintahan yaitu sejak tahun 2002 M.

Pada tahun itu pula, para ulama(Zaidiyah) Yaman mengajukan kepada Presiden Ali Abdullah Shalih supaya memulangkan Badruddin Al Hautsi ke Yaman, presiden pun menyutujuinyadan memulangkan Badruddin Al Hautsi ke Yaman. Badruddin mulai mengajarkan pemikiran-pemikirannya kepada murid dan pendukungnya.Yang jelas, pemerintah Yaman sama sekali tidak menaruh perhatian kepada kelompok ini, bahkan tidakmeyakinisedikitpun akan adanya berbagai macam problem yang sangat serius di balik itu semua. (team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 2

Zaidiyah Lebih Dekat Kepada Sunni

Dari sini, meski terhitung sebagai salah satu madzhab Syi'ah, Zaidiyah memiliki banyak kesamaan dengan Ahlisunnah daripada kesamaan mereka denganSyi'ah, yang terkadang sulit untuk membedakan antara salah seorang dari mereka dengan pengikut Ahlisunnah.Saya (dr Raghib) telah berinteraksi dengan mereka di Yaman, ternyata mereka sangat menghormati dan memuliakan para sahabat, mereka shalat dibelakang orang-orang sunni di masjid yang sama, mereka tidak memiliki bid'ah-bid'ah seperti yang dimiliki oleh Syiah Itsna 'Asyariyah yang cukup dikenal, seperti yang telah kami jelaskan di makalah sebelumnya, yaitu“Ushul As Syi'ah” dan “Saitharah As Syi'ah.”

Bahkan diantara mereka terdapat beberapa ulama' agung yang menjadi rujukan para penuntut ilmudari kalangan Ahlusunnah, semisal Imam AsSyaukani, penulis kitab “Nail AlAuthar”dan seorang pengikut Zaidiyah Yaman.

Kita kembali kepadacerita AlMakmun yang telah berhasil melumpuhkan kekuatan revolusi yang diprakasai oleh Muhammad bin Ibrahim Thabathaba, namun ia gagal melumpuhkan revolusi Ibrahim bin Muhammad di wilayah Yaman. Boleh jadi gagalnya Al Makmun menumpas revolusi di Yaman karena faktor jauhnya kota Yaman dari Baghdad, bisa juga karena faktor alam Yaman yang letak geografisnya adalah pegunungan terjal, selain itu tabiat kesukuan yang menjadikan kontrol pengawasan dari pusat juga menjadi masalah yang pelik.

Karena itu,khalifah AlMakmun lebih memilih jalan diplomasi dengan memberikan wilayah Yaman kepada Ibrahim bin Muhammad AzZaidi dengan syarat tetap berada dibawah naungan daulah Abasiyah.Semua itu berhasil terealisasi, sementara Yaman yang bersubordinasi dengan kekhilafahan Abbasiyah sempat berlangsung hingga kurang lebih seratus tahun, namun hal ini disertai dengan semakin tersebar dan mengakarnya madzhab Zaidiyah di Yaman.

Setelah terjadinya peristiwa-peristiwa ini selama kurang lebih sepuluh tahun,tepatnya tahun 284 H, di saat melemahnya pengaruh kekuasaan daulah 'Abbasiyah, Yahya bin Husain ArRussi berhasil mendirikan daulah Zaidiyah di Yaman yang lebih dikenal dengan Daulah Bani Russi atau Daulah Aimmah, yang pada akhirnya Daulah tersebut memisahkan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah dan berbasis di kota Sha'dah, wilayah utara Yaman. Dari sebagian wilayah yang ada di Yaman, bukan hanya Daulah Bani Russi ini saja yang pertama kali memutuskan untuk memisahkan diri dari kekhalifahan Abbasiyah, sebab pada tahun 230 H, orang-orang Ya'far juga memisahkan diri dan membuat Daulah tersendiri yang berpusat di kota Shan’a, bedanya orang-orang Ya'far adalah orang-orang sunni, bukan Zaidi.

Dakwah Syiah Isma'iliyah di Yaman

Bersamaan dengan berdirinya Daulah Bani Russi yang bermadzhab Zaidi, muncul pula dakwah Syiah Isma'iliyah di Yaman, akan tetapi mereka berada di wilayah selatan Yaman. Seperti yang telah kami sebutkan di makalah-makalah sebelumnya semisal; “Ushul As Syi'ah” dan “Saitharah As Syi'ah”, bahwa Isma'iliyah hanyalah sebuah frasa dari madzhab Syi'ah yang sangat parah penyelewengannya, sampai-sampai mayoritas para ulama' Ahlisunnah membuat pernyataan bahwa mereka telah keluar dari Islam. Mereka menguasai wilayah selatan Yamansejak tahun 290 H, tapi daulah mereka jatuh dalam waktu relatif singkat pada tahun 304 H.Dari peristiwa ini,wilayah Yaman pun terbagi antara orang-orang Ya'far yang berpusat di kota Shan’a dan orang-orang Zaidiyah Bani Russi yang berpusat di kota Sha'dah, kondisi semacam ini berlangsung sepanjang abad keempat Hijriah.

Pada abad kelima Hijriah, daulah Ya'fariyah tumbang, sementara daulah Zaidiyah mulai melemah meski eksistensinya masih ada, namun mulai bermunculan pula daulah-daulah baru lainnya yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah. Muncul satu daulah sunni yaitu Daulah Najahiyin (Bani Najah) yang berpusat di Zabid (sebelah barat Yaman) dan berlangsung sejak tahun 403 H hingga tahun 555 H, di sekitar daulah ini muncul pula beberapa daulah Isma'iliyah yang mengancam, semisal daulah Bani Shalih yang berpusat di Shan'a semenjak tahun 439 H hingga tahun 532 H, ada juga daulah Bani Zurai' yang berpusat di 'Adn sejak tahun 467 H hingga tahun 569 H, begitu juga daulah Bani Hatim yang telah berhasil menguasai Shan’a sejak tahun 533 H hingga tahun 569 H.

Kekuatan dan bantuan daulah-daulahIsma'iliyah ini ditopang oleh daulah Ubaidiyyah yang lebih dikenal dengan Daulah Fathimiyah yang saat itu tengah menguasai Mesir dan sebagian wilayah Syam,karena itu daulah-daulah Isma'iliyah tersebut tidak bertahan lama dan kemudian tumbang bersamaan dengan tumbangnya Daulah Ubaidiyah di tangan seorang pahlawan Islam, Shalahuddin AlAyyubi pada tahun 567 H.

Dengan lenyapnya beberapa daulah Isma'iliyah dari Yaman,maka Yaman memulai frase baru yang penuh kebahagiaan dengan hadirnya kepemerintahan sunni yang direpresentasikan oleh daulah Ayyubiyah sejak tahun 569 H hingga tahun 626 H, kemudian daulah Bani Rusul yang juga sunni dari tahun 626 H hingga tahun 858 H.

Meskipun demikian, kepemerintahan daulah Zaidiyah tidak sepenuhnyalenyap dari Yaman, bahkan mereka semakin menunjukkan eksistensinya di Sha'dah dan memiliki rentan waktu pertumbuhan yang sangat urgen yang lebih dikenal dengan sebutan daulah Bani Russ kedua, yaitu pada tahun 593 H hingga tahun 697 H di tengah-tengah kepemerintahan Dinasti Ayyubiyah dan Rasuliyah.


Daulah Aimmah Shan'a

Pada abad kesepuluh Hijriyah,pemerintahan di wilayah Yaman terbagi menjadi dua, yaitu pemerintahan Utsmaniyah dan pemerintahan Zaidiyah, Utsmani memerintah sejak tahun 945 H hingga 1333 H (388 tahun), peta kekuasaan mereka terutama berada di sebelah selatan. Sementara Bani Russi yang bermadzhab Zaidiyah menguasai wilayah Sha'dah yang berafeliasi ke Shan'a, sehingga pada masa itu daulah ini lebih dikenal dengan daulah Aimmah Shan'a yang berlangsung semenjak tahun 973 H hingga tahun 1382 H (409 tahun) sampai mereka mampu menguasai seluruh Yaman setelah konflik yang terjadi dengan pemerintahan Utsmani, konflik ini berakhir pada tahun 1333 H dengan kemenangan ada di pihak Zaidiyah.

Daulah Zaidiyah memerintah Yaman hingga tahun 1382 H/1962 M, tatkala terjadi revolusi Yaman yang dengannya kepemerintahan Syiah Zaidiyah berakhir di Yaman, yaitu dimulai semenjak tahun 284 H atau lebih dari seribu tahun!

Dalam proses akselerasi ini, kita melihat bahwa madzhab Zaidiyah telah mengakar kuat di tengah masyarakat Yaman, bahkan mereka telah memiliki kepemerintahan sepanjang rentan waktu tersebut baik di saat kuat atau lemah, meski di sekitar mereka muncul beberapa daulah sunni dan Ismaili walaupun pengaruh manhaj isma'ili ini tidakberlangsung lama, sebab di Yaman daulah ini hanya bertahan sekitar seratus tiga puluhan tahun dan tidak mampu menguasai Yaman secara keseluruhan dalam jangka waktu yang panjang.

Sebagaimana yang kita perhatikan, pada saat itu Syi'ah Itsna 'Asyariyah (Imamiah) belum memiliki eksistensi di wilayah Yaman, dari sini kita dapati bahwa jumlah pengikut Zaidiyah mendekati tiga puluh persen dari penduduk Yaman,sementara prosentase jumlah pengikut sekte Itsna 'Asyariyah sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan jumlah masyarakat Yaman, meski disana tidak ada sensus yang akurat dalam masalah ini.

Bersamaan dengan itu, sekarang kita mendengar berbagai problematikasehubungan dengan orang-orang Hautsi yang mendominasi wilayah Yaman bagian selatan, terkhusus wilayah Sha'dah. Kita juga mendengarItsna 'Asyariyah sebagai madzhab mereka dan intervensi Iran terhadap mereka.

Lalu darimana datangnya madzhab Itsna 'Asyariyah ke Yaman?
Bagaimana masalah itu muncul sampai terjadi pertempuran berkepanjangan antara pemerintahan Yaman dengan para pengikut Hautsi?

(team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.

Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 1

Yaman merupakan salah satu negara besar, yang telah menyumbangkan kekuatan pentingterhadap Islam sejak masa awal agama ini. Masyarakat Yaman masuk Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berbondong-bondong, mereka memiliki andil besar dalam perjalanan ummat islam, bahkan para pahlawan dan mujahid-mujahidnya memiliki tanda khusus dalam futuhat Islamiyah (pembebasan negeri-negeri). Diantara peran besar mereka dalam pembebasan negeri-negeri adalah kesungguhan mereka yang sangat luar biasa dalam pembebasan negeri Syam, Mesir Afrika Utara, Andalusia dan negeri-negeri lainnya.
         
Partisipasi masyarakat Yaman tidak hanya sekedar peran mereka dalam pembebasan-pembebasan negeri saja,namun mereka juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan ilmu dan Ulama. Betapa banyak para ulama yang bersafar ke Yaman untuk mendapatkan ilmu dari para ulama dan pemikir mereka. Bukankah hal itu ditunjukkan oleh kepedulian Imam Ahmad, meski dalam keadaan yang sangat kekurangan, beliau tetap mengadakan perjalanan ke Yaman dalam rangka menyempurnakan penelitian ilmiahnya disana,hal ini memaksabeliau untuk melakukan perjalanan dari Baghdad menuju Yaman dengan berjalan kaki. Dengan kesulitan seperti ini, beliau lakukan tidak lain hanya karena suatu hal yang sangat penting, yaitu untuk melengkapi beberapa ilmu yang beliau miliki.

Jika kita membicarakan Yaman, tentu kita tidak hannya berbicara seputar Ulama, Mujahid serta para cendekia mereka saja, namunkita juga berbicara mengenai keumuman masyarakat Yaman. Secara umum, merekamerupakan masyarakat yang memiliki hati yang paling baik dan paling lembut di muka bumi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang  memberi kesaksian terhadap mereka,kesaksian yang lebih baik dari dunia dan seisinya, yaitu ketika utusan dari Yaman datang ke Madinah Al Munawarah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Penduduk Yaman telah datang kepada kalian, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, iman itu ada pada Yaman dan hikmah juga ada pada Yaman.”[1]
         
Saya kira ini adalah mu’jizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pernah saya saksikan sendiri. Sungguh saya (Dr Raghib) telah bergaul dengan masyarakat Yaman, dan sering sekali mengunjungi Yaman, dalam pergaulanku dengan mereka, saya dapati mereka sebagaimana yang disifatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa mereka adalah orang-orang yang berhati lembut, bahkan betapa banyak saya mendo’akan mereka dengan do’a yang pernah dipanjatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,ketika beliau menyatakan; “Ya Allah, berkahilah Syam kami, Ya Allah berkahilah Yaman kami.”[2]



Masuknya Islam ke Yaman dan Kisah Zaidiyyin

Syiahindonesia.com - Sebagaimana yang kami ceritakan sebelumnya, bahwa masuknya Islam ke negeri Yaman bermulasejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab itulah Yaman menjadi wilayah Islam yang memiliki peran penting dalam Daulah Islamiyah, terlebih pada masa Al Khulafa’ Ar Rasyidin dan masa kekhalifahan bani Umayyah serta awal kekhilfahan bani Abasiyah.

Pada masa kekhalifahan Al Makmun dari bani Abasiyah, tepatnya tahun 199 H, salah seorang pengikut Zaidiyah bernama Muhammad bin Ibrahim Thaba’thaba’ membelot, dan memerintahkan keponakannya, Ibrahim bin Muhammad pergi menuju Yaman guna memperoleh banyak dukungan. Zaidiyah adalah sekte yang mengikuti manhaj yang digagas oleh Zaid bin Ali bin Al Husain bin Ali bin Abi Thalib, yaitu manhaj yang masih tergolong ke dalam syi'ah meskipun terdapat kedekatan yang signifikan antara Zaidiyah dengan Ahlussunnah.Syiah Zaidiyah tidakmenyatakan berbagai perkara bid'ah dan khurafat sebagaimana yang dinyatakan oleh Syi'ah Itsna Asyariyah (Syi'ah Iran, Iraq, Lebanon dan negara teluk) bahkan mereka mengamalkan Al Qur'an dan Sunnah seperti umumnya kaum muslimin, hanya saja mereka memiliki beberapa pemikiran khusus dalam masalah imamah. Mereka membatasi keimamahan hanya dari garis keturunan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu dengan Fatimah binti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, namun mereka tidak membatasi secara person tertentu dari garis keturunan tersebut, bahkan mereka mengatakan; seseorang yang memenuhi syarat-syarat keimamahan seperti dari garis keturunan Fatimah, berilmu, bertakwa juga baik pola pikirnya, hendaknya ia mengajukan diri, apabila orang-orang membaiatnya maka keimamahannya dianggap sah. Bahkan mereka melegalkan adanya dua imam sekaligus pada dua wilayah yang berbeda, karena itu sebagaimana dinyatakan dalam setiap tingkatan sejarah, mereka selalu muncul dalam jumlah yang banyak.

Terlebih, banyak ulama' Ahlussunnah yang menganggap Zaid bin Ali termasuk jajaran pembesar ulama' dan imam Ahlisunnah. Beliau juga pernah memerintahkan keluar (membelot) dari imam yang fasik, memiliki perhatian yang sangat besar terhadap para sahabat radhiallahu ‘anhum dan sangat memuliakan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma, akan tetapi beliau berpandangan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu lebih mulia daripada mereka berdua, namunpandangan ini tidak benar dengan segala kemuliaan tetap bagi Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Meskipun demikian Zaid bin Ali tetap berpendapat sahnya kekhilafahan Abu Bakar dan Umar, karena menurutnya keimamahan seorang yang mafdhul (tidak utama) tetap sah meskipun adayang lebih utama.Pendapat itu kemudian menjadi perbedaan yang sangat mendasar dengan pokok ajaran Syi'ah Itsna 'Asyariyah yang menolak keimamahan Abu Bakar dan Umar radhiallahu 'anhuma, bahkan cara mendekatkan diri mereka kepada Allah adalah dengan melaknat keduanya sebagaimana yang dinyatakan mereka. (team/syiahindonesia.com)

[1]Al Bukhari, kitab Al Maghazi; bab “Qudum Al Asy’ariyin dan Ahli Yaman”no.4128 dan Muslim, kitab Iman, bab ”Tufadhil Ahli Yaman Fiihi wa Rujhaanu Ahli Yaman Fiihi” no.52
[2]Al Bukhari, kitab Fitan, bab sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam “Al Fitnatu min Qibali As Syarq.” No 6681, Tirmidzi no.3953 dan Ahmad hadits no.5987

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.