Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Ayo Download dan Cetak Poster "Cara Mudah Mengenal Ajaran Sesat Syiah" GRATIS!!!

Syiahindonesia.com - Download dan Cetak Poster "Cara Mudah Mengenal Ajaran Sesat Syiah"

Poster ini berisi tentang Perbedaan antara Sunni dan Syiah yang ditulis ulang dari buku Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" hal. 85-87.

File ini boleh disebarluaskan dan tidak untuk kepentingan komersil.

Link download:
Gambar: https://farm9.staticflickr.com/8669/16169026128_f85fec4272_o.png
PDF (langsung cetak): https://app.box.com/s/hq2242rkumgougk3jkzru24jc137ykho


Kelakuan Imigran Syiah di Bogor; Dunia Malam, Nikah Mut'ah dan Kriminal

Syiahindonesia.com - Menonton televisi, makan, pergi ke tempat hiburan malam nampaknya menjadi pemandangan sehari-hari para imigran Syiah asal Afghanistan di kawasan Puncak Bogor.

Mereka bahkan sanggup menempuh jarak kiloan meter dari kawasan pedalaman Cisarua untuk sampai di Jalan Raya Puncak, untuk membeli kebutuhan sehari-sehari.

Salah satu imigran Syiah Afghanistan di daerah Bogor adalah Ali Rezaei (26 tahun) megaku sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Pria dengan potongan rambut bergaya mohawk dan bercelana pendek ini bahkan  mengaku sangat kerasan tinggal di Bogor karena masyarakatnya terkenal ramah.

“Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya ramah. Saya suka Cisarua, Bogor,” ujarnya sembari menenteng sejumlah belanjaan di tangannya.

Pria yang bisa bicara bahasa Inggris cukup fasi mengaku tak memiliki banyak kegiatan yang dilakukannya di Bogor. Setiap hari hanya tidur, makan, menonton TV, dan belanja.

Ali mengaku, bisa menjadi imigran di Indonesia atas bantuan lembaga PBB untuk para pengungsi alias UNHCR. Untuk kebutuhan sehari-hari, Ali mengaku mendapatkan kiriman uang dari keluarganya di Afghanistan. Ali juga mendapatkan biaya hidup dari UNHCR.

“UNHCR memberi saya makan dan tempat tinggal,” ujar imigran Syiah beretnis Hazara ini.

Saat ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Afghanistan,  Ali menegaskan keinginan itu hanya akan menjadi masalah bila terwujud. Karena itu, dalam waktu dekat, dirinya belum mau kembali ke Afghanistan.

“Itu masalah buat saya. Saya tidak mau kembali ke Afghanistan sekarang sebab masih ada Taliban. Itu masalah yang sangat besar di suku Hazara. Al-Qaidah tidak suka dengan Hazara,” ujarnya.

Hal senada juga dikatakan tiga orang imigran Syiah di Bogor yang lain; Muhammad Husein, Ahmad Husein, dan Haidri. Berbeda dengan Ali, Muhammad Husein dan kawan-kawan mengaku berasal dari Pakistan.

Saat ditemui, ketiganya langsung mengajak masuk ke sebuah warung kopi. Di situlah, mereka biasa “nongkrong” menghirup udara malam kawasan Puncak.

Kala itu Ahmad Husein langsung menaruh tasnya di atas meja, dan memesan kopi dengan bahasa Inggris dicampur Indonesia.

Bersama rekan-rekannya, Ahmad Husein mengaku sudah tinggal selama satu tahun di Bogor.

“Kami tidak bekerja karena tidak mendapat izin dari UNHCR,” ujarnya yang menolak untuk difoto.

Karbala dan Nikah Mut’ah

Muhammad Husein membantah jika imigran Syiah di Bogor meresahkan. Ia mengklaim para imigran Syiah sangat dekat dengan masyarakat.

“Muslim di Indonesia moderat. Orang Indonesia baik,” ujar Muhammad Husein. Dia mengaku tak risau hidup di Indonesia meski mayoritas berasal dari kaum Muslimin Ahlus sunah wal Jamaah.D

Meski kelompok Syiah memiliki komunitas di Indonesia, Muhammad Husein menerangakan, tidak memiliki koneksi.

“Kami tidak kenal dan kami tidak menghubungi organisasi Syiah yang ada di Indonesia,” ujarnya yang langsung berseri-seri ketika kami tanyakan tentang Karbala.

Ketika ditanyakan perihal rumor praktik nikah  nikah mut’ah yang banyak dilakukan para imigran Syiah, ketiganya terdiam sejenak.

Tak lama kemudian, Hussein menjawab, “Itu tidak benar.”

Tindakan Kriminal

Berbeda dengan pengakuan warga,  para imigran diakuai warga biasa berkumpul di sebuah hotel berinisial HK di pinggir Jalan Raya Puncak.

Namun sayang, saat kami datangi lokasi keesokan harinya, para imigran menolak untuk diwawancara. Pihak warga di sekitar lokasi pun terlihat irit bicara saat kami mengorek informasi lebih jauh.

Beberapa wanita lokal di hotel tersebut langsung bersembunyi ke dalam ketika mengetahui kedatangan kami.

Tepat di samping hotel berinisial HK, kami juga menemui hotel berinisial HM. Di sana, tampak satu dua-perempuan berpakaian minim di tengah Puncak yang dikenal sebagai kawasan berhawa dingin.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani, memiliki sejumlah data tentang tindakan kriminal para imigran.

“Ada banyak, seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, baik dengan warga atau sesama imigran, termasuk pelecehan seksual,” ujarnya saat kami temui di kantor Kecamatan Cisarua.

Keresahan para warga, kata Yanyan, sebenarnya dipicu oleh para imigran sendiri. Seperti sikap enggan untuk berbaur karena merasa hanya menumpang transit.

“Apalagi adat dan budaya mereka berbeda,” ujar Yanyan yang menjelaskan “kehidupan” para imigran banyak berlangsung di malam hari.

Hal senada juga dikatakan warga setempat. Masyarakat mengaku resah dengan sikap para imigran karena dinilai tidak relijius. Padahal Bogor dikenal sebagai kabupaten dengan mayoritas Muslim.

“Saat Jum’atan, mereka gak shalat Jum’at,” ujar seorang warga yang ditemui di desa Batulayang.

Yanyan menjelaskan, rata-rata para imigran memegang surat sertifikat UNHCR. Namun tidak sedikit di antara mereka mengantongi surat yang habis masa berlakunya. “Ada juga yang datang tanpa surat-surat,” ujarnya saat ditemui Kecamatan Cisarua.

Yanyan menerangkan, para imigran di Kecamatan Cisarua tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Bogor di antaranya; Kopo, Cisarua, Batulayang, Cibeureum, Tugu Utara, Tugu Selatan, Citeko, dan Leuwimalang.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak senang.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan pihak setempat. Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.*/ Laporan Azeza Ibrahim Rizki dan Andi Ryansah wartawan JITU (hidayatullah.com)

Manfaatkan Moment Maulud Nabi, Tokoh Syiah Blusukan ke Banjarnegara (Foto)

Syiahindonesia.com - Awal tahun ini, umat Islam dikejutkan dengan "Blusukan" Tokoh syiah nasional di kota Banjarnegara, Jawa Tengah.

Tokoh yang terjun langsung adalah ketua umum ABI (Ahlul Bait Indonesia) Hasan Dalil Alaydrus dan juga seniman "SUSYI", Haddad Alwi.

Mereka memanfaatkan moment maulid yang oleh sebagian umat Islam merayakannya. Nahasnya, banyak masyarakat Ahlus Sunnah tidak kenal siapa mereka. Padahal, sejatinya mereka adalah da'i-da'i syiah yang sedang turun gunung, menjemput bola, mencari simpati untuk merangkul Ahlus Sunnah dengan metode "dakwah taqorrub", dakwah pendekatan.

Kaum muslimin perlu mawas diri dari makar yang selalu mereka perbuat. Sikap lembut mereka terhadap Ahlus Sunnah adalah cara yang biasa mereka gunakan dalam berdakwah. Namun disisi lain, segala upaya yang mereka kerahkan adalah tertuju pada misi untuk men-syiahkan kaum Muslimin di seantero Indonesia. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut dokumentasi berupa foto-foto berlangsungnya acara Maulud Nabi di salah satu daerah Banjarnegara:







Pemerintah Sudan Telah Menerapkan Hukuman Bagi Para Pencela Sahabat Nabi saw

Syaihindonesia.com - Berita terkini dari Sudan:

Dengan izin Allah, Pemerintah Sudan telah menetapkan undang-undang perdata bagi siapa saja yang mencela sahabat Nabi Muhammad saw, berikut rinciannya:

1. Pasal ke 125
Siapa saja yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi Muhammad saw maupun salah seorang dari isteri-isteri beliau, maka akan dikenakan sanksi 5 tahun penjara, dan pabila ia bersikeras maka akan di jerat dengan hukuman mati.

2. Pasal ke 126
a. Dianggap telah melakukan perbuatan kekafiran (murtad) bagi siapa saja yang mencela al-Quran al Karim.
b. Dianggap telah melakukan perbuatan kekafiran (murtad) bagi siapa saja yang mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi Muhammad saw.
c. Dianggap telah melakukan perbuatan kekafiran (murtad) bagi siapa saja yang mencela Aisyah radhiyallahu 'anha.
Dan ketiga point di atas hukumannya adalah mati.
Walhamdulillahi rabbil 'alamin. (FP: @Arabic.CIMS, nisyi, syiahindonesia.com)

Hadirilah Tabligh Akbar "Umat Islam Bersatu Menolak Syiah" di Bogor

Tabligh Akbar "Umat Islam Bersatu Menolak Syiah" di Bogor

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prop. Jawa Timur No. Kep-01/SKF/MUI/JTM/2012 Fatwa MUI Tahun 1984 tentang Aliran Sesat Syi'ah

Narasumber:
1. Habib Achmad Bin Zein Alkaf (Anggota komisi ukhuwah Islamyah MUI Jatim, Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jatim A'wan Syuriah P.W.N.U Jatim
2. Ustadz Ibrohim Bafadhol Lc, Mpdi (Pakar dan Pengamat Aliran Sesat di Bogor, Pemateri tetap di Radio Fajri -Bogor)

Tanggal : Ahad, 12 Robi'ul Awal 1436 H (1 Februari 2015)
Waktu   : Pukul 08:30 WIB - Dzuhur
Tempat  : Masjid Jami' Assa'adah. Jl. Alternatif Sentul 88, Perum Mutiara Sentul, Cibinong, Kab. Bogor.

Cp: Ust. Miftah (081316134671)