Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Kupas Tuntas Aqidah Raj'ah Syiah (Bag. 3)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Landasan Raj’ah

Tidak sebagaimana yang kita duga, ternyata dalil raj’ah yang mereka adopsi dari al-Qur’an cukup banyak, kendati Syiah tidak berhasil menafsirkan satu ayat pun dengan penafsiran yang mengarah pada raj’ah, tanpa melakukan distorsi terhadap nash. Setelah ayat-ayat yang telah diuraikan pada edisi sebelumnya, kini giliran ayat 185 surat Ali Imran yang dijadikan sasaran dalil raj’ah, yakni firman Allah SWT.:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran [03]: 185)

Mengenai ayat ini, al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar dan al-‘Ayasyi dalam tafsir al-‘Ayasyi, memberikan komentar sebagai berikut:

لَمْ يَذُقِ الْمَوْتَ مَنْ قُتِلَ، وَلَابُدَّ أَنْ يَرْجِعَ حَتَّى يَذُوْقَ الْمَوْتَ

Tidak merasakan mati orang yang dibunuh, oleh karenanya dia harus kembali (hidup) hingga merasakan kematian.[1]

Dari penakwilan al-‘Ayasyi dan al-Majlisi ini, kiranya tak ada sanggahan yang perlu untuk dimunculkan, karena secara gamblang, kekeliruannya dapat dimasukan dalam kategori dharuri (pengetahuan aksioma). Barangkali karena itulah, Mamduh Farhan al-Buhairi dalam karyanya Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim serta Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari dalam Ushul Madzhab Asy-Syi’ah menanggapi dengan mengatakan bahwa “pentakwilan semacam itu adalah penakwilan awam yang tidak mengerti bahasa Arab yang digunakan al-Qur’an. Ia membeda-bedakan maut (kematian) dengan qatl (pembunuhan), dia mengatakan bahwa qatl tidak termasuk maut. Sesungguhnya Imam Ali dan putra-putra beliau sudah cukup sengsara dengan pedihnya pembunuhan. Masihkah mereka akan dihidupkan kembali ke dunia hanya sekadar untuk merasakan sakitnya kematian? Begitukah bentuk dan ekspresi mereka kepada Ahlul Bait?.[2]

Sebagai dalil tambahan untuk akidah ini, Syiah juga menafsiri kata al-Ma’ad yang terdapat dalam surat al-Qashash ayat 85 dengan raj’ah:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. (QS. Al-Qashash [28]: 85).

Di antara orang yang menafsiri al-Ma’ad dalam ayat tersebut dengan raj’ah adalah Ibnu Ibrahim dan Abdullah Syibr, dua tokoh Syiah terkemuka.[3] Sepintas, barangkali mereka melihat kecocokan antara doktrin raj’ah dengan makna yang dikandung oleh kalimat Ma’ad tersebut, sehingga mereka mencomot ayat ini begitu saja tanpa melakukan kajian secara teliti dan cermat terlebih dahulu. Karenanya, dalil yang mereka kira dapat mengukuhkan raj’ah, pada gilirannya menjadi senjata makan tuan bagi mereka dan merobohkan akidah tersebut.

Jika kita menelaah kata Ma’ad dari prespektif kebahasaan, maka kata tersebut setidaknya memiliki empat arti, yaitu Akhirat, Haji, Makkah dan Surga. Demikian sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Fairuz Abadi dalam al-Qamus al-Muhith. Jadi, dalam kamus versi apa pun, tidak ada kata Ma’ad yang memiliki arti kembali ke dunia.[4] Karena keberagaman arti ini, maka para pakar tafsir Ahlussunnah tidak sepakat dalam menentukan arti Ma’ad dalam ayat ini. Di antara mereka ada yang mengartikanyya dengan hari kiaamat (akhirat), ada lagi yang menafsiri dengan surga, dan ada pula yang memaknainya dengan Makkah.[5] Artinya, Rasulullah SAW. akan kembali lagi ke Makkah setelah beliau di usir oleh penduduknya.

Jika misalnya arti Ma’ad yang dikehendaki dalam ayat tersebut adalah yang terakhir, maka janji Allah SWT. sudah ditepati pada saat penaklukan Makkah (Fathu Makkah) tahun 8 (delapan) Hijriyah. Karena itu, Rasulullah SAW. tidak perlu hidup lagi (raj’ah) untuk kembali ke tempat kelahirannya itu.

Dari perspektif Sabab an-Nuzul (pemicu turunnya ayat), Imam al-Muqatil meriwayatkan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah ketika Rasulullah keluar dari Gua Tsur. Ketika itu, beliau tidak melewati jalan Makkah karena takut diketahui oleh orang karif Quraisy. Ketika sudah merasa berada di tempat yang aman, beliau kembali melalui jalan-jalan Makkah dan singah di Juhfah, suatu tempat antara Makkah dan Madinah. Beliau pun terkenang dan merindukan tempat kelahirannya itu. Maka turunlah Malaikat Jibril sambil bertanya: “Apakah engkau merindukan tempat kelahiranmu Muhammad? Rasulullah SAW. menjawab: “Ia.” Maka Jibril AS. berkata, sesungguhnya Allah SWT. berfirman kepadamu:

إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ

Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali (Makkah). (QS. Al-Qashash [28]: 85).[6]

Jika dari segi arti kebahasaan, penafsiran dan sabab an-nuzul ayat tak ada indikasi apa pun yang menunjuk pada arti raj’ah yang dikehendaki Syiah, lalu dari sisi manakah mereka menetapkan ayat di atas sebagai dalil bagi raj’ah?

Ayat lain yang dijadikan tameng oleh Syiah untuk doktrin raj’ah adalah ayat 11 dari surat Ghafir. Salah satu mufassir Syiah, Abdullah Syibr, misalnya, memberikan penafsiran terhadap ayat itu sebagai berikut:

(قَالُوْا رَبَّنَا اَمَتَّنَا اِثْنَتَيْنِ) فِي الدُّنْيَا وَفِي الرَّجْعَةِ اَوْ الْقَبْرِ اَوْ خَلَقَهُمْ نُطَفًا اَمْوَاتًا ثُمَّ اَمَاتَهُمْ (وَاَحْيَيْتَنَا اِثْنَتَيْنِ) فِي الْقُبْرِ وَالرَّجْعَةِ اَوْ فِي الْقَبْرِ وَحِيْنَ الْبَعْثِ.

(Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali) di dunia dan pada waktu raj’ah atau di alam kubur atau Allah menjadikan mereka mani yang mati, kemudian Allah mematikan mereka. (dan Telah menghidupkan kami dua kali [pula]) di alam kubur dan pada waktu raj’ah atau di alam kubur dan pada hari kebangkitan.[7]

Andai tidak menyematkan doktrin raj’ah, barangkali penafsiran dari Abdullah Syibr untuk ayat di atas nyaris sama dengan penafsiran umat Islam. Bandingkan penafsiran Abdullah Syibr di atas—selain  raj’ah —dengan komentar beberapa ulama Umat Islam berikut ini:

قَوْلُهُ تَعَالَى:” قالُوا رَبَّنا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ” اخْتَلَفَ أَهْلُ التَّأْوِيلِ فِي مَعْنَى قَوْلِهِمْ:” أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ” فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ: كَانُوا أَمْوَاتًا فِي أَصْلَابِ آبَائِهِمْ، ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ثُمَّ أَمَاتَهُمُ الْمَوْتَةَ الَّتِي لَا بُدَّ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ أحياهم للبعث والقيامة، فهاتان حياتان موتتان، وَهُوَ قَوْلُهُ تَعَالَى:” كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْواتاً فَأَحْياكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ” [البقرة: 28]. وَقَالَ السُّدِيُّ: أُمِيتُوا فِي الدُّنْيَا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ فِي الْقُبُورِ لِلْمَسْأَلَةِ، ثُمَّ أُمِيتُوا ثُمَّ أُحْيُوا فِي الْآخِرَةِ. وَإِنَّمَا صَارَ إِلَى هَذَا، لِأَنَّ لَفْظَ الْمَيِّتِ لَا يَنْطَلِقُ فِي الْعُرْفِ عَلَى النُّطْفَةِ. وَاسْتَدَلَّ الْعُلَمَاءُ مِنْ هَذَا فِي إِثْبَاتِ سُؤَالِ الْقَبْرِ، وَلَوْ كَانَ الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ لِلرُّوحِ دُونَ الْجَسَدِ فَمَا مَعْنَى الْإِحْيَاءِ وَالْإِمَاتَةِ؟

Para pakar takwil berbeda pendapat mengenai arti perkataan orang kafir (Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali [pula]). Berkata Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Qatadah dan al-Dhahhak “Mereka mati ketika berada dalam tulang punggung ayahnya, kemudian Allah menghidupkan mereka, lalu mematikan mereka di dunia dengan kematian yang tidak boleh tidak harus terjadi, selanjutnya Allah menghidupkan mereka pada hari kiamat, itulah arti dua kehidupan dan dua kematian dan ini adalah firman Allah SWT. (Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali). (QS. Al-Baqarah [2]: 28). Imam as-Sudi berpendapat: “Merka dimatikan di Dunia lalu dihidupkan kembali di alam kubur untuk ditanyakan, kemudian mereka dimatikan kembali dan dihidupkan lagi di Akhirat”. As-Sudi berpendapat sedemikian sebab kata mayyit tidak bisa di ucapkan pada mani. Dengan pendapat (as-Sudi) ini, para ulama menetapkan adanya pertanyaan kubur. Andaikan pahala dan siksa hanya untuk ruh, lalu apa arti menghidupkan dan mematikan?[8]

Ayat lain yang dijadikan dalil raj’ah adalah ayat 234 surat al-Baqarah berikut:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; Maka Allah berfirman kepada mereka: “Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka”. (QS. Al-Baqarah [2]: 243)

Ayat ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan raj’ah yang—menurut syiah—akan terjadi nanti menjelang hari akhir. Sebab terdahulu[9] yang lari dari kematian saat virus ganas menyerang negeri mereka. Kemudian Allah SWT. berfirman kepada mereka, “Matilah kalian!” Maka matilah umat itu. Lalu Allah SWT. menghidupkan mereka kembali sebagai peringatan bagi umat-umat setelahnya, bahwa lari dari kematian tidak memberikan kontribusi apa pun untuk kelangsungan hidup mereka. Selain itu, ayat ini juga menggambarkan kekuasaan Allah SWT. yang bisa menghidupkan dan mematikan sesuai dengan kehendak-Nya.[10]

Di balik kelemahan-kelemahan dalil dari doktrin raj’ah ini, lantaran sudah jelas jika tidak ada nash sharih yang mereka angkat dengan menggunakan pendekatan dan metodologi ilmiah yang absah, maka Syiah selanjutnya membuat metodologi alternatif khusus untuk kalangan mereka sendiri. Mereka menyatakan bahwa dalil-dalil raj’ah (dan doktrin-doktrin Syiah yang lain) yang dianggap lemah oleh suara mayoritas, justru menunjukan terhadap kekuatan dan keabsahannya. Tentunya, metodologi seperti ini tidak dapat diberlakukan secara umum, apalagi dimasukan ke dalam perangkat analisa keilmuan. Sebab, selain tidak logis, agaknya metodologi ini dibuat hanya untuk mengelabui kaum awam Syiah saja. Mengenai hal ini, Al-Hur al-Amili dalam kitab Al-Iqadz min al-Haj’ah bi al-Burhan ala ar-Raj’ah mengatakan sebagai berikut:

لَمْ يَقُلْ بِصِحَّتِهَا أَحَدٌ مِنَ العَامَّةِ (وَهُمْ مَا سِوَى الشِّيْعَةِ الإمَامِيَّةِ) وَكُلُّ مَا كَانَ كَذَلِكَ فَهُوَ حَقٌّ.

Tidak ada satu orang awam pun yang membenarkan raj’ah (yang dikehendaki dengan orang awam adalah selain Syiah Imamiyah), Jadi, apapun yang tidak dibenarkan orang awam pasti benar adanya.[11]

Lebih lanjut, Syiah menegaskan bahwa pendapat apapun yang berseberangan dengan golongan umat Islam dipastikan benar menurut Syiah, seperti yang—menurut Syiah—disampaikan oleh Imam mereka berikut:

واللِه مَا هُمْ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا أَنْتُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَنْتُمْ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا هُمْ عَلَيْهِ فَخَالِفُوْهُمْ فَمَا هُمْ مِنَ الحَنَيفِيَةِ عَلَى شَيْءٍ.

Demi Allah, mereka tidak sama dengan kalian, kalian juga tidak sama dengan mereka, janganlah kalian bersepaham dengan mereka, sebab mereka tidak berada di jalan lurus sama sekali.[12]

Jadi, ‘metodologi keilmuan’ spesifik yang hanya berlaku bagi kalangan Syiah ini dibentuk guna menghindar dari berbagai kritik yang banyak dilancarkan untuk doktrin ini, sekaligus untuk menjaga reputasi dan supremasi ulama-ulama Syiah dimata para pengikut mereka. Andai mereka mampu berdialog secara ilmiah dalam mempertahankan dali-dalil al-Qur’an yang mereka kenakan pada doktrin-doktrin mereka, tentu mereka tidak perlu memilih jalan senaif ini.

Akar Pemikiran Raj’ah

Mengamati doktrin khurafat dan sangat asing “dalam Islam“ ini, tentu kita timbul tanya, dari manakah Syiah mengadopsi pemikiran khurafat semacam raj’ah ini? Para pakar telah memastikan bahwa akidah raj’ah dalam madzhab Syiah ini memiliki akar yang kuat dari ajaran dan tradisi Yahudi-Kristen. Rupanya, kesimpulan ini tidak hanya dimunculkan oleh para pengkaji Syiah terkemuka sekaliber Dr. Al-Qifari, al-Buhairi atau yang lain. Bahkan kalangan orientalis pun memiliki kesimpulan yang sama. Hal ini tak lain karena memang otensitas dan kejelasan data yang menunjukan terhadap kebenaran fakta tersebut. Dalam hal ini, Ignaz Golziher, seorang orientalis beragama Yahudi asal Hungaria dan pernah menjadi mahasiswa di al-Azhar Mesir, menyatakan sebagai berikut:

إنَّ فِكْرَةَ الرَّجْعَةِ ذَاتِهَا لَيْسَتْ مِنْ وَضْعِ الشِّيْعَةِ أَوْ مِنْ عَقَائِدِهِمْ الَّتِيْ اخْتُصُّوْا بِهَا، وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ قَدْ تَسَرَّبَتْ إِلَى الإِسْلَامِ عَنْ طَرِيْقِ المُؤَثَّرَاتِ اليَهُوْدِيَّةِ وَالمَسِيْحِيَةِ.

Sesungguhnya pemikiran raj’ah bukanlah asli ciptaan Syiah atau akidah mereka. Dimungkinkan pemikiran itu terserap ke dalam Islam (Syiah) melalui pengaruh Yahudi dan Kristen.[13]

Seorang sejarawan dan pemikir terkemuka, Ahmad Amin, juga mengatakan hal yang sama. Dalam Fajr al-Islam, ia menyatakkan sebagai berikut:

اليَهُوْدِيَّةُ ظَهَرَتْ فِيْ التَّشَيُّعِ بِاالقَوْلِ بِاالرَجْعَةِ.

“Yudaisme muncul dalam Tasyayyu’ di balik topeng raj’ah.”[14]

Jika kita merunut kembali hingga ke akar tumbuhnya sekte Syiah, maka apa yang disampaikan oleh para pakar tadi tidaklah aneh, sebab Abdullah bin Saba’ yang menjadi peletak pertama pemikiran Syiah adalah orang Yahudi tulen dari Yaman. Bisa dipastikan bahwa orang inilah yang telah mengajarkan doktrin raj’ah kepada para pengikutnya. Imam ath-Thabari, sejarawan Muslim terkemuka, mengatakan bahwa Abdullan bin Saba’ masuk Islam pada periode Sayyidina Usman RA, kemudian dia berpindah dari satu negeri ke negeri lain sambil berusaha memperkenalkan ajaran Yahudinya, yang dikemas dengan bungkus Islam. Pertama-pertama dia berdakwah di Hijaz, kemudian ke Bashrah, ke Kufah dan terakhir dia mempengaruhi kaum Muslimin di Syam, dia pun berpindah ke Mesir, dan di negeri ini dia berdakwah antara lain seperti berikut ini:

لَعَجَبَ مِمَّنْ يَزْعُمُ أَنَّ عِيْسَى يَرْجِعُ وَيُكَذِّبُ بِأَنَّ مُحَمَّدًا يَرْجِعُ؟ وَقَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ القُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. فَمُحَمَّدٌ أَحَقُّ بِالرُّجُوْعِ مِنْ عِيْسَى, قَالَ: فَقُبِلَ ذَلِكَ عَنْهُ وَوَضَعَ لَهُمْ الرَّجْعَةَ فَتَكَلَّمُوْا فِيْهَا.

“Aku heran kepada orang yang meyakini Isa AS akan kembali (ke dunia), namun dia mendustakan jika Muhammad akan kembali, sedangkan Allah telah berfirman, “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” Maka Muhammad lebih berhak untuk kembali dari pada Isa. (Rawi) berkata, “Maka diterimalah doktrin itu darinya.” Dia (Abdullan bin Saba’) mengajarkan (faham) raj’ah pada mereka hingga mereka meyakininya.[15]

Paparan data dan fakta sebagaimana tersaji pada beberapa edisi tampak jelas menunjukkan bahwa ulama-ulama Syiah telah mempersiapkan landasan-landasan untuk menetapkan raj’ah (inkarnasi) sebagai salah satu akidah inti, yang mereka adopsi dari al-Qur’an al-Karim. Namun, karena mereka tidak mendapatkan nash sharih (teks definitif) untuk menopang akidah raj’ah sebagaimana yang mereka inginkan—seperti biasa—mereka memelintir beberapa ayat suci Al-Qur’an yang sebenarnya sudah jelas maksud dari artinya, bahkan terkadang mereka berani “memperkosa” Al-Qur’an dari maksud yang sesungguhnya.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Lihat, Tafsir al-‘Ayasyi, juz 1 hlm. 210 dan Bihar al-Anwar, juz 53 hlm. 71.

[2] Mamduh Farhan al-Buhairi, asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim, hlm. 199 dan Dr. Nashir bin Abdullah al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1116.

[3] At-Tasyayyu’, hlm. 224.

[4] Al-Qamu al-Muhith, juz 1 hlm. 302.

[5] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Takwil al-Qur’an, juz 19 hlm. 638-641.

[6] Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Gha’ib, juz 12 hlm. 115.

[7] Tafsir Abdullah Syibr, hlm. 44.

[8] Lihat, Tafsir al-Qurthubi, juz 15 hlm. 298.

[9] Dalam satu riwayat dikatakan bahwa kejadian itu terjadi pada masa Nabi Hizqil AS.

[10] Fakhruddin ar-Razi, Mafatih al-Ghaib, juz 3 hlm. 394 dan at-Tasyayyu’, hlm. 223.

[11] Al-Iqadz min al-Haj’ah, hlm. 69.

[12] Lihat, al-Iqadz min al-Huj’ah, hlm. 70 dan Ushul Madzhab asy-Syiah, juz 2 hlm. 1118.

[13] Al-Aqidah wa asy-Syi’ah, hlm. 215.

[14] Ahmad Amin, Fajru al-Islam, hlm. 276.

[15] Lihat, Tarikh ath-Thabari, juz 5 hlm. 98; al-Asy’ari, Maqalat al-Islamiyyin, juz 1 hlm. 50. Lebih lengkapnya bisa juga dirujuk dalam Ar-Radd al-Kafi, hlm. 172.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Raj'ah Syiah (Bag. 2)

Ritual sesat Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Landasan Raj’ah Syiah

Dalam menetapkan raj’ah (inkarnasi) sebagai salah satu akidah inti, ulama-ulama Syiah telah mempersiapkan landasan-landasannya yang mereka adopsi dari al-Qur’an al-Karim. Namun, tidak berbeda dengan nash-nash al-Qur’an yang mereka jadikan landasan untuk kategori akidah-akidah yang lain, tampaknya dalam konteks ini mereka juga tidak mendapatkan nash sharih (teks definitif) untuk menopang akidah raj’ah sebagaimana yang mereka inginkan. Seperti biasa, ketika mereka sudah tidak mendapatkan apa yang mereka dari al-Qura’an, maka cara satu-satunya adalah dengan mentakwil dengan takwilan yang jauh. Mereka memelintir beberapa ayat suci yang sebenarnya sudah jelas maksud dari artinya. Dalam presfektif Siah, dalil raj’ah yang paling kuat adalah sebagai berikut:

وَحَرَامٌ عَلَى قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا أَنَّهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Sungguh tidak mungkin atas (penduduk) suatu negeri yang telah Kami binasakan, untuk kembali (ke dunia). (QS. Al-anbiya’ [21]: 95)

Ketika menafsiri ayat ini, al-Qummi dalam tafsir-nya menyatakan demikian:

هَذِهِ الْآَيةُ مِنْ أَعْظَمِ الْأَدِلَّةِ عَلَى الرَّجْعَةِ؛ لِأَنَّ أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَام ِلَا يُنْكِرُ أَنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ هَلَكَ وَمَنْ لَمْ يُهْلِكْ.

Ayat ini merupakan dalil paling kokoh akan adanya raj’ah, karena sesungguhya tidak seorang pun dari orang Islam yang mengingkari bahwa semua manusia akan dibangkitkan kembali di hari kiamat, baik yang dihancurkan maupun yang tidak.[1]

Dilihat dari pernyataan al-Qummi ini, tampaknya dia mengartikan raj’ah dengan “kehidupan pada hari kiamat (setelah kematian)”, bukan kehidupan di dunia. Padahal penafsiran al-Qummi ini tertera di bawah judul “A’zhamu Ayatin Dallatin ‘ala ar-raj’ah” (Dalil paling kuat akan adanya raj’ah).

Dalam penafsiran kali ini, rupanya al-Qummi terperosok pada tafsir yang sejatinya tidak ia kehendaki, sebab apa yang dia paparkan dari ayat ke-95 surat al-Anbiya’ itu telah menyimpang dari arti raj’ah yang diyakini oleh sekte Syiah. Sepertinya, upaya menyelinap masuk pada dalil-dalil umat Islam untuk melegitimasi doktrin-doktrin Syiah, tidak selalu bisa dijalankan secara mulus oleh ulama-ulama Syiah. Karena diakui atau tidak, dalam konteks ini, ayat-ayat ke-95 surat al-Anbiya’ di atas memang tidak mengarah kepada raj’ah sama sekali, malah secara teks, ayat tersebut jelas menginformasikan kepada kita bahwa tidak akan ada yang dapat kembali ke dunia setelah kematian, sebab arti dari ayat ini, menurut Ibnu Abbas, Abu Ja’far al-Baqir, Imam Qatadah dan yang lain, adalah:

حَرَامٌ عَلَى أَهْلِ كُلِّ قَرْيَةٍ أُهْلِكُوْا بِذُنُوْبِهِمْ أَنَّهُمْ يُرْجَعُوْنَ إِلَى الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

Haram atas semua pendudk desa yang telah dihancurkan disebabkan dosa-dosa mereka kembali ke dunia sebelum hari kiamat.[2]

Sebagaimana dijelaskan dalam ilmu Gramatika Arab, kalimat “La” (la yarji’un) dalam ayat tersebut (QS. Al-Anbiya’ [21]: 95) berfungsi sebagai shilah (penyambung). Maka, “La” dalam ayat itu dibebaskan dari makna. Ia berfungsi sebagai tambahan yang bertujuan untuk memperkuat kata Haramun yang disebut di awal ayat. Uslub (pola susunan kata) semacam ini adalah salah satu dari sekian uslub yang digunakan al-Qur’an dan telah digunakan oleh para penyair Arab kenamaan, karena memang memiliki nilai keindahan tersendiri bagi mereka yang memiliki cita rasa bahasa yang tinggi. Ayat lain yang menggunakan “La” sebagai shilah (tambahan, dibebaskan dari makna) adalah ayat 12 surat al-A’raf berikut:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ

Allah berfirman: Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu. (QS. Al-A’raf [7]: 12)[3]

Tentang kedudukan “La” dan maknanya dalam surat al-Anbiya’ ayat 95 tersebut masih diperselisihkan oleh para pakar tafsir, hanya saja mereka sepakat bahwa maksud ayat tersebut adalah: Haram (tidak mungkin) bagi penduduk desa yang telah dihancurkan oleh Allah untuk kembali ke dunia.[4]

Jika kita amati lebih lanjut, sebenarnya kandungan makna dari ayat 95 surat al-Anbiya’ itu sama dengan maksud surat Yasin ayat 31 dan 50 berikut:

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ

Tidakkah mereka mengetahui berapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa orang-orang (yang telah kami binasakan) itu tiada  kembali kepada mereka. (QS. Yaasin [36]: 31)

فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَى أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ

Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat-pun dan tidak  (pula) dapat kembali kepada keluarganya. (QS. Yasin [36]: 50)

Selain ayat 95 surat al-Anbiya’, ayat lain yang sering dimanfaatkan Syiah dan ditunjuk sebagai dalil raj’ah, sebagaimana yang disampaikan al-Alusi, adalah ayat 83 surat an-Naml:

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ

Dan (Ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalm kelompok-kelompok). (QS. An-Naml [27]: 83)

Dalam menafsiri ayat ini, salah satu tokoh tafsir Syiah terkemuka, Abdullah Syibr, menulis sebuah riwayat yang diafiliasikan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq AS. Menurut riwaya itu, ayat ini turun berkenaan dengan raj’ah.[5] Ath-Thabrisi, penafsir kenamaan Syiah yang lain, juga menegaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa Syiah Imamiyah menggunakan ayat ini sebagai dalil atas keabsahan akidah raj’ah. Lebih lanjut, dia mengutip alsan ulama Syiah yang menjadikan ayat 83 dari surat an-Naml ini sebagai dalil sharih atas akidah raj’ah:

إِنَّ دُخُوْلَ “مِنْ” فِي الْكَلَامِ يُوْجِبُ التَّبْعِيْضَ فَدَلَّ بِذَلِكَ عَلَى أَنَّهُ يُحْشَرُ قَوْمٌ دُوْنَ قَوْمٍ وَلَيْسَ ذَلِكَ صِفَةَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ الَّذِيْ يَقُوْلُ فِيْهِ سُبْحَانَهُ: {وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا}

Sesungguhnya masuknya “min” dalam kalam itu mewajibkan adanya tab’idh (pembagian). Dengan begitu, ayat tersebut menunjukan bahwa akan dikumpulkan sebagian kaum, sementara kaum yang lain tidak akan dikumpulkan. Ini bukanlah ciri-ciri hari kiamat yang dijelaskan oleh Allah dengan “Dan Kami kumpulkan mereka semua, maka kami tidak membiarkan satu orang-pun dari mereka.”[6]

Jika kedua huruf “min” dalam ayat ini diartikan sebagai “at-Tab’idh” (min yang bermakna sebagian) semua, maka sudah barang tentu akan merusak kandungan arti serta maksud yang hendak disampaikannya. Namun jika yang dimaksud ath-Thabrisi adalah “min” yang pertama, maka pendapatnya sama dengan pendapat ulama Ahlusunnah. Jadi maksud ayat itu adalah Allah SWT akan mengumpulkan sebagian umat, tidak kesemuanya.

Selanjutnya, di sini juga penting untuk menjelaskan makna min yang kedua agar pengertian isi ayat 83 surat an-Naml ini menjadi jelas dan mendapatkan pemahaman yang komprehensif. Huruf jar min yang kedua dari ayat di atas bermakna bayan (menjelaskan maksud kalimat sebelumnya). Bayan di sini berfungsi untuk memperjelas maksud kalimat fauja. Dengan demikian, maka arti keseluruhan ayat ini adalah Allah akan mengumpulkan umat-umat yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya.

Sejauh pemaparan ini, kita bertanya, kalimat manakah yang menunjuk terhadap arti ”raj’ah” secara khusus, sebagaimana yang dikemukakan ath-Thabrisi dan ulama-ulama Syiah yang lain?[7] Jadi di sini tak ada kesimpulan yang dapat kita ambil dari ayat ini, selain penegasan bahwa raj’ah ternyata tidak memiliki landasan-landasan teoritis, baik dari nash al-Qur’an maupun hadits Nabi SAW.. Hal ini menunjukan bahwa akidah ini memang sengaja dibuat-buat, tak ubahnya akidah-akidah Syiah yabg lain.

Selain dapat dilakukan dengan menguraikan arti ayat di atas, kepalsuan akidah raj’ah juga dapat dibuktikan dengan melakukan pembacaan dengan mengikut-sertakan ayat selanjutnya. Dari sini akan tampak lebih jelas, bahwa yang dimaksud mengumpulkan umat dalam konteks ayat ini bukanlah mengumpulkan mereka di alam dunia, sebab ayat setelahnya merekam firman Allah SWT. yang diucapkan dihadapan mereka:

وَيَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ (83) حَتَّى إِذَا جَاءُوا قَالَ أَكَذَّبْتُمْ بِآيَاتِي وَلَمْ تُحِيطُوا بِهَا عِلْمًا أَمَّاذَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (84) وَوَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ بِمَا ظَلَمُوا فَهُمْ لَا يَنْطِقُونَ (85)

Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok). Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: “Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?” Dan jatuhlah perkataan (azab) atas mereka disebabkan kezaliman mereka. Maka mereka tidak dapat berkata (apa-apa). (QS. An-Naml [27]: 83-85)

Ayat 83-85 dari surat an-Naml tersebut memberikan pemaparan yang demikian lugas, bahwa orang-orang yang berdosadikumpulkan secara khusus, lalu Allah SWT. berfirman sebagaimana termaktub dalam ayat tersebut, agar mereka merasa bahwa diri mereka salah, dan agar mereka merasa hina-dina di hadapan kebesaran-Nya.[8] Jadi, ayat-ayat tersebut sama sekali tidak connected dengan akidah raj’ah yang dikehendaki Syiah.

Di samping itu, tafsir yang diajukan ath-Thabrisi di atas rupanya bukan merupakan suara bulat dari kalangan Syiah. Terbukti bahwa ternyata ulama Syiah yang lain mengajukan penafsiran yang bertolak-belakang dengan rumusan ath-Thabrisi. Muhammad Jawwad Mughniyah, seorang tokoh Syiah kontemporer, adalah salah satu di antara ulama Syiah yang membentangkan rumusan tafsir yang dapat mementahkan kesimpulan ath-Thabrisi. Dalam hal ini, Muhammad Jawwad Mughniyah memunculkan pemahaman yang berbeda dengan ath-Thabrisi, terkait dengan makna huruf min yang terdapat dalam ayat tersebut. Dia mengatakan:

«مِنْ» هُنَا بَيَانِيَةٌ وَلَيْسَتْ لِلتَّبْعِيْضِ تَمَامًا كَخَاتَمٍ مِنْ حَدِيْدٍ، وَالْمَعْنَى: أَنَّ فِي الْأُمَمِ مُصَدِّقِيْنَ وَمُكَذِّبِيْنَ بِآيَاتِ اللهِ وَبَيِّنَاتِهِ، وَهُوَ يَحْشُرُ لِلْحِسَابِ وَالْجَزَاءُ جَمِيْعَ الْمُكَذِّبِيْنَ بِلَا اِسْتِثْنَاءٍ، وَخَصَّهُمْ بِالْحَشْرِ مَعَ أَنَّهُ يَعُمُّ الْجَمِيْعَ؛ لِأَنَّهُ تَعَالَى قَصَدَ التَّهْدِيْدَ وَالْوَعِيْدَ.

Hurufjar min di sini bermakna bayan, bukan tab’idh, seperti kata-kata “cincin terbuat dari besi.” Arti ayat itu adalah: “Di antara umat-umat ini ada yang membenarkan ada pula yang mendustakan ayat-ayat Allah dan bukti (kekuasaan)Nya. Dia akan mengumpulkan semua pendusta tanpa terkecuali untuk dihisab dan diberi pembalasan. Allah mengumpulkan mereka secara khusus untuk menggertak dan mengancam mereka, padahal perkumpulan itu meliputi semua manusia.[9]

Secara tersurat, penafsiran gramatikal dari Muhammad Jawwad Mughniyah ini dengan sendirinya telah menggerogoti konsep raj’ah, atau paling tidak mengilustrasikan betapa ulama Syiah tidak memiliki komitmen yang mapan terhadap akidah yang mereka yakini. Yang jelas, di sini Muhammad Jawwad Mughniyah tampak telah mematikan langkah dan telah menghabisi pendahulunya, yakni ath-Thabris. Tentunya, kita berharap, semoga komitmen Muhammad Jawwad Mughniyah timbul dari kinsyafan batinnya, bukan dari pengaruh doktrin taqiyyah yang selalu digunakan untuk menutup-nutupi jati dirinya.

Dari sekian banyak kelemahan, kontradiksidan kerancuan tafsir, inkonsistensi pendapat serta penyelewengan takwil dalam rangka mengukuhkan akidah raj’ah dengan nash al-Qur’an, agaknya Syiah semakin terjebak dalam lingkaran kebingungan yang tak berkesudahan. Sepertinya, kondisi inilah yang menggiring mereka untuk juga menarik ayat 17, 21, 22, dan 23 dari surat ‘Abasa sebagai salah satu dalil raj’ah; suatu pilihan yang diputuskan tanpa pertimbangan nalar yang sehat Dalam tafsir-Nya, al-Qummi mengomentari ayat-ayat itu sebagai berikut:

قُتِلَ الإِنسَانُ مَا أَكْفَرَهُ قَالَ: هُوَ أَمِيْرُ المُؤْمِنِيْنَ، قَالَ: مَا أَكْفَرَهُ أَيْ مَاذَا فَعَلَ وَأَذْنَبَ حَتَّى قَتَلُوْهُ..”ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ، ثُمَّ إِذَا شَاء أَنشَرَهُ” (عبس ]80[: 21-22). قَالَ: فِي الرَّجْعَةِ “كَلَا لَمَّا يَقْضِ مَا أَمَرَهُ” (عبس ]80[: 23) أَيْ لَمْ يَقْضِ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَا قَدْ أَمَرَهُ، وَسَيَرْجِعُ حَتَّى يَقْضِيْ مَا أَمَرَهُ.

(Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya) Al-Qummi berkata: Dia adalah Amir al-Mukminun. Ma akhfarahu artinya adalah: Dosa apa yang telah diperbuatnya, hingga mereka membunuhnya?. (Kemudian Dia mematikannya dan memasukannya ke dalam kubur, kemudian bila Dia menghendaki, Dia mengbangkitkannya kembali). (QS.’Abasa [80]: 21-22). (Sekali-kali jangan; menusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya) (QS. ‘Abasa [80]: 23). Maksudnya, Amirul Mukminin belum melaksanakan perintah Allah, dan akan kembali untuk melaksanaka perintah-Nya..[10]

Sungguh, kita tak habis pikir, kenapa pilihan ulama Syiahuntuk mengukuhkan raj’ah juga jatuh pada ayat itu, padahal yang dimaksud dengan kata insan dalam ayat ke 17 tersebut adalah orang kafir. Agaknya, kekuatan nafsu Syiah untuk mengesankan agar raj’ah memiliki landasan yang absah dari al-Qur’an, membuat mereka meninggalkan nalar yang jernih dan tidak bisa berpikir logis. Di sini, jika al-Qummi menafsiri kata insan tersebut dengan Imam Ali bin Abi Thalib RA., maka dia telah menghina Imamnya sendiri, yang dia anggap suci.

Lalu bagaimana arti yang sesungguhnya dari ayat tersebut? Mengenai hal ini, ulama Islam melakukan penafsiran dengan teliti dan cermat, dengan memperhatikan inidikasi-indikasi dan dalil-dalil yang ada; memadukan teks dan konteks secara sempurna, sehingga memunculkan pemahaman yang komprehensif, benar dan terarah. Di sini, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari mengartikulasikan kata ma akfarahu pada dua makna, sebagaimana dipaparkan dalam tafsirnya, sebagai berikut:

وَفِيْ قَوْلِهِ: (أَكْفَرَهُ) وَجْهَانِ: أَحَدُهُمَا: التَّعَجُّبُ مِنْ كُفْرِهِ مَعَ إِحْسَانِ اللهِ إِلَيْهِ، وَأَيَادِيْهِ عِنْدَهُ. وَالْآخَرُ: مَا الَّذِيْ أَكْفَرَهُ، أَيْ: أَيُّ شَيْئٍ أَكْفَرَهُ.

Firman Allah “akhfarahu” mempunyai dua arti: Pertama bermkana “Heran atas kekufuran merka, padahal Allah telah berbuat baik dan menganugerahkan pemberian yang banyak pada mereka.” Kedua bermkasud “Apakah yang membuat mereka kufur?”[11]

Jadi, dari segi pemaknaan literal ayat, Syiah telah menghadirkan makna yang sama sekali tidak sikron dengan ayat yang diartikannya, baik secara teks maupun konteks. Karenanya, dalam pembahasan ini, mengatakan bahwa ulama-ulama Syiah telah terjebak dalam kekacauan pemikiran dan kebingungan cukup logis. Akan tetapi di samping itu ada alasan lain yang agaknya lebih abash untuk mendeteksi akar dari kekacauan ini. Bahwa rupanya, ulama-ulama Syiah yang menafsiri ayat di atas dengan Sayyidina Ali RA., sangat dimungkinkan terpengaruh oleh logika sekte Syiah Kamiliyah, yaitu kelompok Syiah yang mengkafirkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. sebab beliau tidak mau berjuang untuk mengambil kekhalifahan yang telah dirampas oleh khalifah-khalifah sebelum beliau. Kelompok Syiah ini juga mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi yang lain, dikarenakan mereka tidak menyerahkan khilafah kepada Imam Ali RA..

Sampai di sini, agaknya dimaklumi, bahwa Syiah memang tidak mampu menghadirkan hujjah yang berakar untuk akidah-akidah yang diyakininya, sehingga kadang nalar mereka jauh dari jangkauan logika yang sehat. Bahkan, akibat heran dengan penafsiran-penafsiran bebas ala Syiah ini, Dr. Nashir bin Abdillah al-Qifari mengatakan: “Barangkali orang pertama yang menggunakan ayat ini (ayat dalam surat ‘Abasa) sebagai dalil raj’ah adalah orang ‘Ajam (non-Arab) yang tidak mengerti bahasa al-Qur’an, karena terdorong oleh rasa fanatik dan kepentingan pribadi belaka.”[12]

Setelah penafsiran-penafsiran telah terbantahkan tadi, ayat 21-22 surat ‘Abasa yang juga dijadikan penguat bagi akidah raj’ah juga tidak bertaring. Ayat tersebut jelas tidak menunjukan arti raj’ah versi Syiah, karena memang tidak ada kalimat tegas (sharih) yang mengindikasikan arti itu. Yang tepat adalah, bahwa arti kalimat ansyarahu pada ayat tersebut di arahkan pada kehidupan di hari kiamat, sebab hanya itu yang paling mendekati pada arti yang sesungguhnya, baik ditinjau dari zhahir-nya teks ayat maupun konteksnya.

Selanjutnya, ulama Syiah mulai melangkah pada titik puncak dari pemeliharaan ayat di atas, yaitu ayat ke 23 dari surat ‘Abasa, dan inilah rupanya alasan ‘terkuat’, kenapa mereka menggunakan ayat-ayat dari surat ini sebagai dalil raj’ah. Yakni karena Imam Ali AS. belum pernah melaksanakan perintah Allah SWT. dengan sempurna, jadi beliiau perlu dibangkitkan kembali untuk menyempurnakan perintah pada masa raj’ah (inkarnasi).

Jika diamati lebih cermat, sebetulnya pernyataan sedemikian merupakan bentuk penghinaan lain terhadap Sayyidina Ali RA.. Bagaimana mungkin mereka mangaku mencintai Ahlul Bait, jika mereka malah mencela Imam Ali RA. dengan menyebutnya sebagai orang yang tidak becus melaksanakan perintah Allah SWT., sehingga harus dihidupkan kembali kelak menjelang hari akhir?[13] Bukankah—dalam  pandangan Syiah—para Imam adalah orang yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan, terjauhkan dari kekeliuran, salah dan lupa? Mungkinkah orang yang memiliki sifat sedemikian rupa, akan lalai dalam melaksanakan tugasnya? Tentu saja jawabannya adalah tidak. Dan jika itu memang ‘harus terjadi’ (sekali lagi, dalam presfektif Syiah). Maka runtuhlah doktrin kemaksuman imam dalam Syiah.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Tafsir al-Qummi, juz 2 hlm. 76 dan Ushul Madzhab as-Syi’ah, juz 2 hlm. 1111.

[2] Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hlm. 205.

[3] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, juz 12 hlm. 41 dan Ushul Madzhab as-Syi’ah, juz 2 hlm. 1111.

[4] Ibid, juz 18 hlm. 524.

[5] Tafsir Abdullah Syibr, hlm. 369.

[6] Tafsir ath-Thabrisi, juz 5 hlm. 251-252.

[7] Ushul Madhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1113-1114.

[8] Ibnu Katsir,Tafsir al-Qur’an al-Azhim, juz 6 hlm. 215.

[9] Muhammad Jawwad al-Mughniyah, At-Tafsir al-Mubin, hlm. 441.

[10] Lihat, Tafsir al-Qummi, juz 2 hlm. 405.

[11] Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan, Juz 24, hlm. 222.

[12] Ushul Madzhab asy-Syi’ah, Juz 2, hlm. 1115.

[13] Ibid, juz 2 hlm. 1116.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Kupas Tuntas Aqidah Raj'ah Syiah (Bag. 1)

Ritual Asyura Syiah di Iran
Syiahindonesia.com - Selain imamah, ‘ishmah imam, dan Mahdiyyah, yang telah dikupas tuntas pada beberapa edisi sebelumnya, Syiah meyakini doktrin lain sebagai ajaran mereka yang disebut Raj’ah (inkarnasi) [1].

Raj’ah

raj’ah adalah salah satu pokok ajaran Syiah. Syiah Imamiyah sepakat meyakini doktrin ini sebagai salah satu ajaran mereka.[2] Dalam Syiah, raj’ah merupakan kelanjutan dan episode kehadiran al-Mahdi, di mana menurut keyakinan mereka, semua Imam Ahlul Bait dan orang-orang yang memusuhinya pasca kedatangan al-Mahdi akan dibangkitkan kembali dari kematian, mereka akan berhadap-hadapan dalam suatu medan pertempuran.

Pada saat itu, konon Allah SWT. akan memberi kesempatan kepada Ahlul Bait dan pengikutnya untuk membalas dendam kepada orang-orang yang selama ini tidak menyukai ajaran Syiah. Mereka akan membunuh Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawiyah berikut para sahabat Nabi yang lain radhiyallahu ‘anhum, yang dianggap telah merampas kursi khilafah yang seharusnya dipegang oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Digambarkan oleh Syiah, bahwa dalam pertempuran itu Imam Ali AS. akan menjadi pimpinan Ahlul Bait dengan didukung oleh orang-orang Syiah yang lain. Tidak hanya orang Syiah yang akan membela Imam Ali AS. waktu itu, namun juga para Nabi dan Rasul akan ikut berperang di bawah bendera Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib AS.. Dalam kitab tafsir Syiah yang otoritatif, Tafsir al-Ayasi, dijelaskan:

لاَ يَبْعَثُ اللهُ نَبِيّاً وَ لاَ رَسُلاً إِلَّا رَدَّ إِلَى الدُّنْيَا مِنْ آدَمَ فَهَلُمَّ جَرَا حَتَّى يُقَاتِلَ بَيْنَ يَدَيْ عَلِيِّ ابْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Tidaklah Allah SWT. mengutus seorang nabi maupun rasul, kecuali ia akan dikembalikan (oleh Allah) ke alam dunia mulai dari Nabi Adam dan seterusnya sehingga berperang di hadapan Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu.[3]

Raj’ah yang dikehendaki oleh Syiah di sini bukanlah kebangkitan dari kubur pada hari kiamat, sebagaimana keyakinan kaum Muslim pada umumnya, namun raj’ah versi Syiah ini adalah kebangkitan dari alam kubur ke alam dunia, untuk melaksanakan prosesi balas dendam. Kemudian mereka yang telah dibangunkan akan mati kembali, dan setelah itu hari kiamat akan tiba.

Jadi, anggapan sementara kalangan yang mengira bahwa raj’ah (inkarnasi) ala Syiah, secara substansial sama dengan kebangkitan kembali dari alam kubur versi umat Islam dan umat Islam non-Syiah, adalah anggapan yang salah. Maka dari itu, di sini perlu diketengahkan, bagaimana sebenarnya pemahaman Syiah mengenai raj’ah (kehidupan kembali di alam dunia setelah kematian). Mengenai hal ini, Ibnu Babawaih al-Qummi meriwayatkan hadits yang diafiliasikan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq AS.. Katanya, beliau mengatakan:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُؤْمِنُ بِكَرَّتِنَا – رَجْعَتِنَا – وَيَسْتَحِلَّ مُتْعَتَنَا

Bukan dari golongan kami orang yang tidak percaya pada adanya raj’ah dan tidak menghalalkan mut’ah.[4]

Senada dengan pernyataan Ibnu Babawaih al-Qummi barusan, dalam kitab Hayat al-Qulub, al-Majlisi mengatakan:

وَيَرْجِعُ لِلدُّنْيَا يَوْمَ ظُهُوْرِ حَضْرَةِ الْقَائِمِ عليه السلام مَنْ مَحَضَ الْإِيْمَانَ مَحْضاً أَوْ مَحَضَ الْكُفْرَ مَحْضاً، فَيَرْجِعُ أَعْدَاؤُهُ لِيَنْتَقِمَ مِنْهُمْ فِي هَذَا الْعَالِمِ وَيُشَاهِدُوْنَ مِنْ ظُهُوْرِ كَلِمَةِ الْحَقِّ وَعُلُوِّ كَلِمَةِ أَهْلِ الْبَيْتِ مَا أَنْكَرُوْهُ عَلَيْهِمْ، فَتَكُوْنُ رَجْعَةُ الْكُفَّارِ لِيَنَالَهُمْ عِقَابٌ شَدِيْدٌ.

Setelah tampaknya Imam Mahdi, maka orang yang memurnikan imannya dan orang yang memurnikan kafirnya akan dikembalikan (dihidupkan) ke alam dunia, musuh-musuh al-Mahdi akan hidup kembali supaya al-Mahdi dapat membalas dendam kepada mereka di alam ini, agar mereka menyaksikan kebenaran Ahlul bait yang dahulu mereka ingkari. Maka, tujuan dibangkitkannya orang kafir adalah agar mereka merasakan siksa yang pedih.[5]

Dalam dunia Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah, raj’ah merupakan salah satu akidah yang disepakati eksistensi dan urgensitasnya. Hal ini antara lain dinyatakan secara tegas oleh Syarif al-Murtadha, seorang ulama Syiah yang digelari Alam al-Huda dikalangan pengikutnya. Ketika menjawab pertanyaan seputar raj’ah, Syarif al-Murtadha mengatakan:

بِأَنَّ الَّذِيْ تَذْهَبُ إِلَيْهِ الشِّيْعَةُ الْإِمَامِيَةُ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يُعِيْدُ عِنْدَ ظُهُوْرِ الْمَهْدِيْ قَوْماً مِمَّنْ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ مِنْ شِيْعَتِهِ وَقَوْماً مِنْ أَعْدَائِهِ.

Sesungguhnya Syiah Imamiyah menyepakati bahwa setelah kedatangan al-Mahdi, Allah SWT. akan menghidupkan kembali pendukung dan musuh-musuh al-Mahdi yang telah mati.[6]

Ungkapan senada juga diucapkan oleh Imamu Mutakallimi asy-syi’ah wa Fuqaha’iha (pemuka pakar teologi dan ahli fikih Syiah), Muhammad bin an-Nu’man al-Mufid, sebagai berikut:

اِتَّفَقَتْ الْإِمَامِيَةُ عَلَى وُجُوْبِ رَجْعَةِ كَثِيْرٍ مِنَ الْأَمْوَاتِ إِلَى الدُّنْيَا قَبْلَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Syiah Imamiyah sepakat mewajibkan (keyakinan) bahwa sebelum hari kiamat, banyak orang-orang yang mati akan hidup kembali ke dunia.[7]

Ibnu Babawaih al-Qummi, pemuka pakar hadits Syiah (Ra’isu Muhaddits as-Syi’ah), atau yang biasa disebut sebagai ash-Shaduq (yang terpercaya) di kalangan Syiah, juga meluncurkan pernyataan senada:

اِعْتِقَادُنَا يَعْنِي مَعْشَرَ الْإِمَامِيَةِ فِي الرَّجْعَةِ أَنَّهَا حَقٌّ.

Keyakinan kita, yakni golongan Syiah Imamiyah, bahwa keyakinan akan raj’ah merupakan keyakinan yang haq.[8]

Lebih lanjut, al-Majlisi dalam karya besarnya, Bihar al-Anwar, juga memberikan penegasan yang serupa. Setelah menyebutkan hadits-hadits tentang raj’ah, ia menyatakan sebagai berikut:

اِعْلَمْ يَا أَخِيْ أَنِّي لَا أَظُنُّ أَنَّكَ قَدْ تَرْتَابُ بَعْدَ مَا مَهَّدْتُ وَأَوْضَحْتُ لَكَ بِالْقَوْلِ فِي الرَّجْعَةِ الَّتِيْ أَجْمَعَتْ عَلَيْهِ الشِّيْعَةُ فِي جَمِيْعِ الْأَعْصَارِ وَاشْتَهَرَتْ بَيْنَهُمْ كَالشَّمْسِ فِي رَابِعَاتِ النَّهَارِ.. وَكَيْفَ يَشُكُّ مُؤْمِنٌ بِأَحْقِيَةِ الْأَئِمَّةِ الْأَطْهَارِ فِيْمَا تَوَاتَرَتْ عَنْهُمْ مِنْ مِائَتَيْ حَدِيْثٍ رَوَاهَا نَيْفٌ وَأَرْبَعُوْنَ مِنَ الثِّقَاتِ الْعِظَامِ وَالْعُلَمَاءِ الْأَعْلَامِ فِي أَزْيَدَ مِنْ خَمْسِيْنَ مِنْ مُؤَلَّفَاتِهِمْ.

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa aku kira kau tidak akan ragu-ragu setelah ku jelaskan panjang lebar tentang raj’ah yang telah disepakati oleh Syiah dalam setiap kurun, dan sangat jelas sejelas sinar matahari di seperempat siang. . . Bagaimana mungkin seorang mukmin ragu-ragu akan berhaknya para Imam suci (atas anugerah ini), yang diabadikan dalam dua ratus hadits, diriwayatkan oleh empat puluh lebih ulama besar terpercaya, dan ditulis di lima puluh lebih karangan mereka.[9]

Dari pemaparan di atas, agaknya cukup jelas bagaimanakah yang sebetulnya pandangan Syiah terhadap akidah raj’ah, baik berkenaan dengan wujud nyata atau proses kejadiannya kelak, kepercayaan sekaligus kesepakatan mereka terhadap doktrin tersebut. Karena itulah, maka perlu dimaklumi jika kemudian Syiah amat kesulitan untuk menyembunyikan keyakinan yang ganjil ini, baik dengan taqiyyah atau yang lain. Akhirnya, Syiah mencari jalan keluar, bagaimana sekira doktrin raj’ah dalam Syiah tidak terkesan demikian ekstrem dan mengerikan. Hal ini mereka tempuh dengan melakukan penafsiran ulang terhadap raj’ah, dengan menjauh dari dan bahkan bertolak belakang dengan penafsiran dan pendefinisian raj’ah yang telah paten dan dipatok baku oleh para ulama Syiah, sebagaimana kami kemukakan di atas.

Dr. Quraish Shihab termasuk salah satu di antara penulis yang berupaya memberikan ‘arti baru’ bagi raj’ah. Hal tersebut beliau tempuh dengan cara berupaya mempopulerkan arti raj’ah pinggiran yang dimunculkan oleh segelintir orang-orang Syiah, dan berusaha mengecilkan suara mayoritas dan kesepakatan para ulama Syiah akan arti, maksud dan tujuan dari akidah raj’ah yang sesungguhnya. Dalam hal ini, Dr. Quraish Shihab menulis:

Perlu dicatat bahwa kendati ulama-ulama Syiah memahami ayat-ayat dari riwayat-riwayat yang berbicara tentang akan adanya orang-orang tertentu yang akan dihidupkan Allah SWT. di pentas bumi ini setelah kematian mereka, namun tidak semua penganut aliran tersebut memahaminya dalam arti kehidupan sosok-sosok tertentu setelah kematian mereka. Ath-Thabarsi juga menulis setelah uraiannya yang penulis kutip sebelum ini, bahwa: “Ada sekelompok dari penganut Imamiyah yang mentakwilkan apa yang diriwayatkan dari berita-berita dalam arti kembalinya kekuasaan Negara, wewenang memerintah dan mencegah bukan kembalinya sosok manusia dan kehidupan setelah kematian.”[10]

Syekh Muhammad Husain Kasyif al-Ghitha’ juga mengisyaratkan hal serupa. Dia menulis dalam menampik kecaman sementara orang menyangkut kepercayaan raj’ah. Bahwa “Apakah orang yang menggebu-gebu tanpa kontrol menyerang Syiah berkaitan dengan persoalan raj’ah – dahulu dan sekarang – apakah mereka mengetahui makna raj’ah bagi siapa yang berpendapat demikian dari kelompok Syiah?[11]

Komentar ulama besar Syiah di atas yang menyatakan bahwa ‘bagi siapa yang berpendapat demikian dari kelompok Syiah” mengisyaratkan bahwa ada orang di kalangan Syiah pun yang tidak berpendapat demikian.[12]

Mengamati kata demi kata dari tulisan Dr. Quraish Shihab ini, akan sangat tampak pada kita bahwa sesungguhnya Dr. Quraish Shihab sendiri tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa raj’ah, dengan arti yang telah disepakati oleh umat Syiah, memang menjadi keyakinan mereka secara umum. Sementara sagilintir pendapat yang dikutip oleh Dr. Quraish Shihab tetaplah tidak dapat mewakili arti doktrin raj’ah yang diyakini dengan sepenuh hati oleh para pengikut Syiah.

Setelah diuraikan secara jelas, bagaimana sebenarnya keyakinan dan komitmen Syiah terhadap doktrin raj’ah, maka selanjutnya perlu dipaparkan pula, bagaimanakah proses raj’ah menurut keyakinan Syiah itu tejadi. Rupanya, literature-literatur Syiah yang memaparkan tentang proses terjadinya raj’ah ini, semakin memperkukuh pernyataan semula,bahwa raj’ah versi Syiah memang punya arti dan kepentingan tersendiri, yang sejalan dengan doktrin-doktrin mereka yang lain. Mengenai hal ini antara lain dinyatakan sebagai berikut:

إِذَا آنَ قِيَامُ الْقَائِمِ وَمُطِرَ النَّاسُ فِي جُمَادِى الْآخِرَةِ وَعَشْرَةِ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ مَطَرًا لَمْ يَرَ النَّاسُ مِثْلَهُ ,فَيُنْبِتُ اللهُ بِهِ لُحُوْمَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي أَبْدَانِهِمْ فِي قُبُوْرِهِمْ ,فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِمْ مِنْ قَبْلِ جُهَيْنَةَ يَنْفَضُّوْنَ رُؤُوْسَهُمْ مِنَ التُّرَابِ.

Bila telah tiba saatnya al-Mahdi keluar dari kegaibannya, dan turun hujan yang tak pernah ada hujan seperti itu sebelumnya pada bulan Jumadal akhirah serta sepuluh hari di bulan Rajab, maka Allah SWT. akan mengembalikan lagi daging-daging orang mukmin ke dalam tubuh mereka di alam kubur. Seakan-akan aku melihat mereka datang dari Juhainah, sambil membersihkan abu dari kepala mereka.[13]

Sementara itu, penjelasan proses terjadinya raj’ah dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah diilustrasikan sebagai berikut:

إِنَّ الْحُسَيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَرْجِعُ إِلَى الدُّنْيَا مَعَ خَمْسَةٍ وَسَبْعِيْنَ أَلْفاً مِنَ الرِّجَالِ.

Sesungguhnya Imam al-Husain akan kembali lagi ke dunia bersama 75.000 (tujuh puluh lima ribu) laki-laki.[14]

Selanjutnya, al-Jaza’iri mengutip riwayat yang diafiliasikan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq AS.. Konon, beliau berkata sebagai berikut:

إِنَّ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَرْجِعُ مَعَ ابْنِهِ الْحُسَيْنِ عَلَيْهِ السَّلَامُ رَجْعَةً، وَتَرْجِعُ مَعَهُ بَنُوْ أُمَيَّةَ، مُعَاوِيَةُ وَآلُ مُعَاوِيَةَ، وَكُلُّ مَنْ قَاتَلَهُ، فَيُعَذِّبُهُمْ بِالْقَتْلِ وَغَيْرِهِ، وَيُرْجِعُ اللهُ مِنْ أَهْلِ الْكُوْفَةِ ثَلَاثِيْنَ أَلْفاً، وَمِنْ سَائِرِ النَّاسِ سَبْعِيْنَ أَلْفاً، وَيَتَلَاقُوْنَ فِي الْحَرْبِ مَعَ مُعَاوِيَةَ فِي ذَلِكَ الْمَكَانِ، ثُمَّ يُحْيِيْهِمُ اللهُ سُبْحَانَهُ مَرَّةً فَيُعَذِّبُهُمْ مَعَ فِرْعَوْنَ وَآلِ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ، ثُمَّ يَرْجِعُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَرَّةً أُخْرَى مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَجَمِيْعِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ.

Sesungguhnya Amirul Mukmini AS. Akan kembali (ke dunia) bersama putranya, Imam Husain AS.. Bani Umayyah, Muawiyah, keluarga Muawiyah sera semua orang-orang yang yang telah memeranginya juga akan kembali ke dunia bersama Imam Ali AS., maka beliau akan menyiksa mereka dengan pembantaian dan (bentuk penyiksaan) yang lain. Allah SWT. akan mengembalikan 30 ribu dari penduduk Kufah serta 70 ribu dari Negara lain, kemudian mereka berhadap-hadapan dengan Muawiyah di medan perang, kemudian Allah SWT akan menghidupka mereka lagi (Muawiyah cs), lau menempatkan mereka bersama Fir’aun dan penduduknya dalam siksa yang sangat pedih. Allah SWT juga akan menghidupkan Amirul Mukminin AS. sekali lagi bersama dengan Nabi Muhammad SAW dan semua Nabi ‘alaihim as-salam”.[15]

Dari sini, kita telah melihat gambaran yang cukup transparan mengenai doktrin Syiah yang satu ini. Karena itu dapatlah kita simpulkan, bahwa al-Mahdi dan raj’ah merupakan satu paket doktrin untuk diputar dalam satu episode drama Syiah. Al-Mahdi dan raj’ah merupakan setting narasi yang meggambarkan dendam kesumat orang-orang Syiah yang terpendam selama ribuan tahun terhadap ‘musuh-musuh’ mereka. Dalam status mereka sebagai kelompok minoritas dan minim dukungan, mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan isi hati mereka yang sedang membara, hingga bertakhayyul untuk bisa melumat para musuh dengan mengarang cerita fiktif al-Mahdi al-Muntadzar. Dari balik skenario ini, Syiah melakukan indoktrinasi terhadap para pengikut mereka, agar selalu tabah dan tidak beranjak dari keyakinan semula. Cerita fiktif al-mahdi dan raj’ah menjanjikan kemenangan akhir dan happy ending bagi Syiah.

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Inkarnasi berarti penjelmaan roh dalam wujud makhluk lain (terutama manusia).

[2] Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hlm. 51.

[3] Lihat, Tafsir al-Ayasi, juz 1 hlm. 281 dan ar-Radd al-Kafi, hlm. 170.

[4] Ibnu Babawaih al-Qummi, Man la Yahdhuru al-Faqih, juz 3 hlm. 458, dan Tafsir ash-Shafi li al-Kasyani, juz 1 hlm. 347.

[5] Al-Majlisi, Hayatu al-Qulub, juz 3 hlm. 303.

[6] Lihat, A’yan asy-Syi’ah, juz 1 hlm. 132, percetakan Damaskus.

[7] Lihat, Awa’il al-Maqalat, hlm. 52.

[8] Lihat, Al-Huj’ah, hlm. 39-40.

[9] Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 13 hlm. 225.

[10] Majma’ al-Bayan, juz 4 hlm. 234 (dikutip oleh Dr. Quraish Shihab dalam Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan!Mungkinkah?)), hlm.196.

[11] Muhammad Husain Ali Kasyif al-Ghitha’, Ashlu asy-Syi’ah waa Ushuliha, hlm. 100. (dikutip oleh Dr. Quraish Shihab dalam Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?, hlm. 197).

[12] Dr. Quraish Shihab dalam Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan!Mungkinkah?, hlm. 197.

[13] Lihat, Al-Irsyad li al-Mufid, hlm. 363; ath-Thabrisi, I’lam al-Wara, hlm. 462; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 13 hlm. 223 dan ash-Shirath al-Mustaqim, juz 2 hlm. 251.

[14] Lihat, Al-Irsyad li al-Mufid, hlm.363; ath-Thabrisi, I’lam al-Wara, hlm. 462; al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 13 hlm. 223 dan ash-Shirath al-Mustaqim, juz 2 hlm. 251.

[15] Ibid, hlm. 103.

Aqidah Kufur Syiah Tentang Imam Mahdi (Bag. 2)

Syiahindonesia.com - Keyakinan Syiah tentang Mahdiyyah (2-Tamat)

Berbagai data dan fakta yang telah dikemukakan pada edisi sebelumnya menunjukkan secara jelas bahwa apa yang akan dilakukan al-Mahdi—versi Syiah—sama sekali tidak mencerminkan keteladanan keluarga Rasulullah SAW. Semua yang dilakukan al-Mahdi Syiah, mulai dari merubah Syari’at, memperkenalkan al-Qur’an baru, melakukan pembantaian dan lain sebagainya, adalah benar-benar menyimpang dari ajaran yang yang diteladankan oleh Rasulullah SAW. dan para keluarga beliau yang mulia.

Ulama-ulama Syiah menegaskan bahwa al-Mahdi memang diperintahkan untuk mengambil jalan lain yang tidak dilalui oleh Rasulullah SAW. Dia diperintahkan untuk berbuat tegas kepada musuh-musuhnya. Jika al-Mahdi tidak mengikuti Rasulullah SAW, maka sudah jelas dia bukanlah seorang Muslim, karena telah membuang ajaran Nabinya SAW. Jika yang dianggap musuh adalah Ahlussunnah lantaran menolak ajaran Syiah, maka sebenarnya mereka telah membuang teladan terbaik yang pernah dicontohkan oleh Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib RA yang mereka sebut sebagai Washiyyu Rasulillah SAW di mana beliau tidak pernah mengkafirkan lawan-lawan politiknya. Jadi, jelaslah bahwa al-Mahdi—versi  Syiah—dan pengikutnya bukan pecinta Ahlul Bait.[1]



Al-Mahdi Syiah adalah fiktif

Terlepas dari keberagaman versi al-Mahdi dalam perspektif Syiah dan riwayat-riwayat palsu mereka, sebetulnya ada sisi lain yang menjadikan cerita itu tidaklah aneh, bahkan mungkin bisa menarik, yakni pernyataan sebagian kelompok Syiah bahwa al-Mahdi hanyalah tokoh fiktif belaka. Dengan begitu, maka cerita-cerita mengerikan itu tidak akan beranjak dari alam khayal ke alam nyata, tak ubahnya film horor yang sering kita tonton di layar kaca.

Sayyid Husain al-Musawi dalam Lillahi tsumma li at-Tarikh mengungkapkan pernyataannya sebagai berikut:

“Ahmad al-Katib telah menulis tema ini dan dia menjelaskan tentang Imam kedua belas yang hakikatnya tidak ada, tidak memiliki eksistensi dan wujud. Dia telah menyajikan pembahasan yang memuaskan dalam tema ini. Akan tetapi saya berkata, ‘Bagaimana dia dinyatakan ada, sedangkan kitab-kitab kami yang muktabar menyatakan bahwa Hasan al-Askari—Imam yang kesebelas—telah meninggal dan tidak memiliki seorang anak laki-laki pun! Mereka menyelidiki para istri dan budak perempuannya ketika beliau wafat, namun mereka tidak mendapatkan seorang pun dari mereka yang hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Lihatlah tentang hal ini dalam kitab al-Ghaibat karya ath-Thusi pada halaman 74, al-Irsyad karya al-Mufid pada halaman 354, A’lam al-Wari karya Fadhal ath-Thabrasi pada halaman 380 dan al-Maqalat wa al-Firaq karya al-Asy’ari al-Qummi pada halaman 102.[2]

Pasca wafatnya Imam al-Hasan al-Askari (30 th) pada tahun 260 H, para pengikut Syiah Imamiyah kebingungan, karena mereka melihat bahwa mata rantai imamah tampaknya akan segera terputus sebab Imam al-Askari tidak memiliki anak laki-laki, hingga mereka terpecah menjadi 14 golongan. Tak satupun dari mereka yang dapat membuktikan adanya putra sang Imam. Sementara Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ‘terlanjur’ membuat doktrin bahwa dunia tidak boleh absen dari kehadiran seorang Imam, sehingga mereka pun membuat cerita bahwa Imam al-Askari telah meninggalkan pengganti, yaitu anak laki-lakinya yang akan meneruskan kepemimpinan setelah beliau. Semua orang tidak boleh membahas keberadaannya, dilarang menyebut namanya, bahkan tidak boleh menanyakan di mana tempatnya. Mereka mengeluarkan statemen bahwa kelahiran al-Mahdi memang dirahasiakan oleh Allah SWT.

Di antara 14 golongan Syiah, hanya 3 golongan saja yang bersedia menerima keberadaan al-mahdi, sedangkan yang lain tetap membantah opini bahwa Imam al-Askari memiliki putra. Di antara 3 golongan ini ada yang berpendapat bahwa dua tahun sebelum wafat, al-Askari dikarunia putra bernama Muhammad. Kepadanyalah imamah diwasiatkan. Golongan kedua berpendapat bahwa putra al-Askari dilahirkan delapan bulan kemudian setelah wafatnya al-Askari. Dan sungguh merupakan dusta yang luar biasa bila dikatakan bahwa beliau memiliki putra saat masih hidup. Sedangkan golongan ketiga berpendapat bahwa al-Askari telah meninggalkan pengganti, tapi siapapun tidak boleh membahasnya, tidak boleh menanyakan tempat dan namanya. Golongan ini akhirnya banyak mendapat dukungan daripada yang lain. Di samping itu, tak bisa dimungkiri bahwa ada juga kelompok pecahan Syiah yang berpendapat bahwa Imam al-Askari tidak memiliki putra sama sekali, sebab mereka telah berusaha mencari data dan fakta keberadaannya, namun hasilnya tetap nihil.

Kendati demikian, mereka yang meyakini keberadaan al-Mahdi juga memperselisihkan kapan dia menghilang (ghaib), apakah terjadi tiga hari, tujuh hari, atau empat hari setelah kelahirannya? Atau mungkin dia sebenarnya ada di sekitar kita, namun kita saja yang tidak melihatnya? Ada pula yang mengabarkan jika dia bersembunyi di sebuah gua di Samarra. Lalu, cerita manakah yang dapat kita percaya dari beragam cerita yang membingungkan ini? Yang jelas, bahwa pernyataan al-Hasan Askari tidak memiliki putra memang tertera dalam kitab Syiah sendiri, seperti al-Maqalat wa al-Firaq karya Sa’ad bin Abdullah al-Asy’ari al-Qummi (halaman 102) dan Firaq asy-Syi’ah karya Hasan bin Musa al-Nubakhti (halaman 96). Pada buku yang disebut terakhir dapat penjelasan sebagai berikut:

لَمْ يُرَ لَهُ خَلَفٌ وَلَمْ يُعْرَفْ لَهُ وَلَدٌ ظَاهِرٌ, فَاقْتَسَمَ مَا ظَهَرَ مِنْ مِيْرَاثِهِ أَخُوْهُ جَعْفَرٌ وَ أُمُّهُ.

“Beliau (al-Askari) tidak meninggalkan pengganti, tidak diketahui punya anak, harta peninggalannya diwariskan kepada Ja’far, saudaranya, juga pada ibunya.”[3]

Riwayat-riwayat tentang al-Mahdi yang berbenturan di atas, pada gilirannya menyampaikan kita pada satu titik temu, bahwa orang yang pertama menyuarakan jika al-Askari punya putra dan bersembunyi di gua Samarra adalah Utsman bin Sa’id al-Umri. Dia mengatakan putra al-Askari itu menghilang pada waktu berumur empat tahun. Orang ini juga mengambil harta benda dari pengikut Syiah atas nama zakat, khumus dan hak Ahlul Bait. Dia juga mengklaim bahwa dirinya adalah satu-satunya perantara antara para pengikut dengan Imam yang ghaib, membawakan harta dan menanyakan berbagai masalah yang ditanyakan umat kepadanya.

Setelah Utsman meninggal dia digantikan oleh putranya yang bernama Muhammad bin Utsman, yang wafat pada tahun 305 H, lalu dia digantikan oleh al-Husain bin Ruh an-Nubakhti, yang meninggal pada tahun 326 H. Sebelum al-Husain bin Ruh an-Nubakhti wafat, ia bepesan agar yang menjadi penghubung dengan Imam yang ghaib sesudahnya adalah Ali bin Muahammad as-Samiri, yang meninggal tahun 329 H. Dengan demikian Ali bin Muhammad as-Samiri, berakhir pulalah hubungan umat dengan al-Mahdi, Shahih az-Zaman yang ghaib, sebab pengikut Syiah meyakini bahwa kematian Ali bin Muhammad as-Samiri menyebabkan terjadinya Ghaibat al-Kubra.[4]

Paparan data yang tersaji pada edisi lalu dan sekarang cukup sebagai bukti bahwa cerita Imam Mahdi versi Syiah tidak lebih dari sekadar bunga rampai riwayat ganjil dan kumpulan “hadis aneh-aneh”. Bagi orang berhati jernih dan berakal sehat tentu saja akan timbul semacam keanehan atau keasingan yang sukar dipercaya. Namun masuk akal jika dikatakan bahwa keyakinan Syiah tentang Imam Mahdi memang sengaja dibangun dari beragam khurafat, mitos, dan hikayat dari negeri antah-berantah. Pasalnya, teologi Syiah kebanyakan memang dibangun di atas reruntuhan mitos yahudi, Nashrani, dan Parsi. Mitos al-mahdiyyah misalnya, dibangun sebagai ajaran dan akidah Syiah guna memberikan kesan bahwa mereka kelak akan bangkit dari keterpurukan setelah mengalami pengucilan berabad-abad.

Dengan doktrin al-Mahdiyyah, Syiah mengajarkan kepada umatnya, bahwa mereka akan mengakhiri sejarah ini dengan Muntazhar muncul kelak, mereka akan mengauasai dunia, membalas dendam terhadap musuh-musuhnya tanpa perlawanan sedikit pun. Dengan demikian, doktrin ini menjadi kelengkapan dari doktrin raj’ah yang akan kami jelaskan pada topik pembahasan berikutnya.

 By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1059-1075.

[2] Sayyid Husain al-Musawi, Lillahi tsumma li at-Tarikh, hlm. 84.

[3] Al-Hasan bin Musa al-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 96.

[4] Lihat: an-Nubakhti, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 79-94, Ibnu Hazm azh-Zhahiri, al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal, juz 5 hlm. 21-22, al-Bandari, at-Tasyayyu’, hlm. 213 dan Ushul Madzah asy-Syi’ah, juz 3 hlm. 1011-1012.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)

Aqidah Kufur Syiah Tentang Imam Mahdi (Bag. 1)

Illustrasi muslim menunggang kuda
Syiahindonesia.com - Keyakinan Syiah tentang Mahdiyyah (1)

Mahdiyyah (percaya akan keberadaan Imam Mahdi dan kebangkitannya versi Syiah) juga menjadi salah satu tiang penyangga doktrin imamah dalam Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah. Al-Mahdi adalah salah satu model terpenting dalam sekte ini. Tanpa konsep ini, barangkali Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah tak akan ada atau paling tidak akan kehilangan muka, sebab dengan demikian para Imam tidak lengkap menjadi dua belas. ‘Kegaiban’ Imam ke-12 inilah salah satu poin kunci yang menjadikan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah tetap langgeng, dan di balik ‘topeng’ konsep ini pula Wilayat al-Faqih berdiri.

Tapi, Imam Mahdi tidak hanya milik orang Syiah. Sebab Ahlussunnah juga percaya bahwa kelak akan muncul sosok penegak keadilan yang bergelar Imam Mahdi. Namun, adakah konsep Imam Mahdi yang dibangun Syiah sama dengan Imam Mahdi Ahlussunnah? Yang jelas jawabannya adalah tidak sama, baik dalam hal kepribadiannya maupun hal-hal yang akan dilakukannya.

Imam Mahdi Versi Syiah

Mayoritas umat Syiah sepakat bahwa Imam al-Mahdi kelak akan datang menjelang hari kiamat tiba, sama dengan keyakinan kaum Muslimin pada umumnya. Namun perlu dicatat, bahwa persamaan konsep mahdiyyah ini hanya terbatas pada titik itu saja: keyakinan akan kehadiran Imam Mahdi, tidak lebih. Sementara pada aspek yang lain, seperti sosok, misi dan perannya, amat jauh berbeda, sejauh timur dan barat.

Orang-orang Syiah yakin bahwa Imam Mahdi pernah hadir ke dunia, lahir dari keluarga keturunan Rasulullah SAW. Namun akhirnya dia dapat bersembunyi—entah mengapa dan untuk apa—hingga hari ini, dan akan datang lagi nanti sebelum hari akhir. Konon, kelak dia akan menegakkan keadilan di muka bumi.

Mengenai eksistensi al-Mahdiyyah ini, semua aliran Syiah sepakat. Akan tetapi kemudian mereka sendiri berbeda pendapat mengenai siapa yang sesungguhnya menjadi al-Mahdi? Syiah Sabaiyah (penganut faham Abdullah bin Saba’) mengatakan bahwa al-Mahdi tak lain adalah Imam Ali radhiyallahu ‘anhu Kelompok ini berpendapat bahwa Imam Ali radiyallahu ‘anhu tidak dibunuh juga tidak mati. Sabaiyah berpendapat bahwa Imam Ali radhiyallahu ‘anhu tidak akan mati sebelum berhasil menguasai Semenanjung Arabia dan sebelum memenuhi seantero jagad raya dengan keadilan.

Keyakinan kelompok ini bermula dari perkataan pionir mereka, Abdullah bin Saba’, saat dia mendapatkan informasi bahwa Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu telah dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam. Ketika itu ia mengatakan :

كَذَبَتْ, لَوْ جِعْنَا بِدِمَاغِهِ فِيْ سَبْعِيْنَ صُرَّةً, وَأَقَمْتَ عَلَى قَتْلِهِ سَبْعِيْنَ عَدْلًا لَعَلِمْنَا أَنَّهُ لَمْ يَمُتْ وَلَمْ يُقْتَلْ، وَلَا يَمُوْتُ حَتَّى يَمْلِكَ الأَرْضَ.

“Kamu bohong, andaikan engkau datang padaku dengan membawa tujuh puluh kantong berisi otak Imam Ali AS dan kamu membawa tujuh puluh orang terpercaya yang bersaksi atas kematian Ali, maka aku tetap yakin bahwa Ali tidak mati, tidak pula dibunuh, dia tidak akan mati hingga menguasai bumi.“[1]

Kepercayaan akan kembalinya al-Mahdi Saba’iyah di atas berbeda dengan al-Mahdi versi Syiah Kurabiyah (pengikut Abu Kuraib adh-Dharir). Kelompok ini adalah pecahan dari Syiah Kaisaniyah. Perbedaannya dari Syiah Sabaiyah adalah terletak pada sosok al-Mahdi itu sendiri. Imam Mahdi yang mereka yakini bukanlah Imam Ali AS, melainkan putranya, yaitu Muhammad bin al-Hanafiyah. Syiah Kurabiyah yakin bahwa Muhammad bin al-Hanafiyah masih hidup. Konon, beliau sekarang berada di gunung Radhwa, yaitu gunung yang terletak di antara Mekah dan Madinah. Beliau dijaga oleh singa di samping kanannya dan harimau di samping kirinya. Kedua binatang ini akan terus menjaga beliau hingga tiba saatnya untuk keluar.[2]

Sekte Syiah lain berpendapat bahwa Imam al-Mahdi adalah Ja’far ash-Shadiq AS, Imam keenam Syiah. Karena menurut aliran Syiah versi ini, beliau belum mati dan tidak akan mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa al-Mahdi itu bukan Imam Ja’far ash-Shadiq AS, melainkan putranya, Ismail AS. Syiah yang lain mengatakan bahwa al-Mahdi adalah Musa bin Ja’far al-Shadiq. Sedangkan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah berpendapat bahwa al-Mahdi al-Muntadzar adalah Muhammad bin al-Hassan al-Askari.[3]

Dari pemaparan sekilas di atas, maka amat jelas bagi kita, bahwa dalam tubuh Syiah sendiri terjadi dikotomi yang luar biasa pelik dan rumit mengenai konsep al-Mahdi. Pertentangan ini, selain mustahil dikompromikan, juga absurd untuk diunggulkan (di-tajrih) antara pandangan Syiah yang satu dengan yang lain. Sebab semua versi yang beragam tersebut sama-sama tidak memiliki landasan yang absah untuk diunggulkan, apalagi untuk diakui; semua berangkat dari unsur fanatisme pada sosok yang dikagumi dan mitos yang berkembang pada masing-masing aliran Syiah.

Terlepas dari perbedaan pelik berikut aneka faktor pemicunya di atas, ada beberapa poin penting yang perlu dikemukakan, terkait dengan apa yang dilakukan al-Mahdi (versi Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah) ketika ia muncul kelak. Poin-poin itu antara lain:

a. Membawa Syari’at dan al-Qur’an baru

Al-Mahdi akan datang dengan membawa syari’at baru yang berbeda dengan syari’at Nabi Muhammad SAW. Menurut pandangan Syiah, al-Mahdi akan menerapkan syari’at Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS. Dia tidak akan mengambil jizyah (pajak) sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW. Penjelasan ini amat melimpah dalam literatur-literatur Syiah, sebab sudah menjadi keyakinan mereka secara umum:

قال أبو عبد الله: إِذَا قَامَ قَائِمُ آلِ مُحَمَّدٍ حَكَمَ بِحُكْمِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَنَ وَلَا يَسْأَلُ بَيِّنَةً.

Abu Abdilla AS berkata, “Apabila datang pembela keluarga Muhammad (al-Mahdi), maka dia akan memberlakukan hukum Daud dan Sulaiman tanpa bantuan saksi.[4]

إِذَا قَامَ قَائِمُ آلِ مُحَمَّدٍ حَكَمَ بَيْنَ النَّاسِ بِحُكْمِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى بَيِّنَةٍ.

Apabila datang pembela keluarga Muhammad, maka dia akan menetapkan keputusan berdasarkan hukum Daud AS dan dia tidak memerlukan saksi.[5]

وَلَا يَقْبَلُ صَاحِبُ هَذَا الأَمْرِ الجِزْيَةَ كَمَا قَبِلَهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.

Pemegang urusan ini (al-Mahdi) tidak akan menrima jizyah (hasil pungutan pajak) sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW.[6]

Riwayat-Riwayat mengenai al-Mahdi versi Syiah sangat kental dengan nuansa ajaran (baca: mitos) Yahudi. Riwayat-riwayat itu mengesankan seakan-akan syari’at Nabi Muhammad SAW tidak cukup untuk memberi solusi terhadap semua persoalan umat. Hal ini tidaklah aneh, sebab orang pertama yang menabur benih-benih tasyayyu’ adalah seorang Yahudi tulen, Abdullah bin Saba’. Dalam konteks ini, Ibnu Babawaih berikut ulama Syiah yang lain bertutur dengan lugas, bahwa al-Mahdi akan memberlakukan tiga hukum yang tidak pernah diajarkan oleh orang-orang sebelumnya, termasuk Nabi Muhammad SAW.

إِنَّهُ يَحْكُمُ بِثَلَاثٍ لَمْ يَحْكُمْ بِهَا أَحَدٌ قَبْلَهُ: يَقْتُلُ الشَّيْخَ الزَّانِيْ, وَيَقْتُلُ مَانِعَ الزَّكَاةِ، وَيُوْرِثُ الأَخَ أَخَاهُ فِيْ الأَظِلَّةِ.

Sesungguhnya dia akan memberlakukan tiga hukum yang sebelumnya tidak pernah diterapkan oleh siapapun: yaitu membunuh orang tua yang berzina, membunuh orang yang tidak mau membayar zakat dan memberi warisan kepada saudaranya yang menetap dalam satu naungan.[7]

أَنَّهُ يَقْتُلُ مَنْ بَلَغَ الْعِشْرِيْنَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فِيْ الدِّيْنِ.

Dia akan membunuh pemuda berumur 20 (dua puluh) yang tidak memahami ilmu agama.[8]

Dalam riwayat lain terdapat pernyataan berbeda dengan pernyataan di atas, bahwa al-Mahdi akan memberlakukan semua hukum-hukum Nabi pembawa kitab Allah SWT; yakni Nabi Musa, Dawud, Isa dan Muhammad SAW:

إِذَا قَامَ الْقَائِمُ قَسَمَ بِالسَّوِيَةِ، وَعَدِلَ فِيْ الرَّعِيَةِ، وَاسْتَخْرَجَ التَّوْرَاةَ وَسَائِرَ كُتُبِ اللهِ تَعَالَى مِنْ غَارٍ بِأَنْطَاكِيَةَ، حَتَّى يَحْكُمَ بَيْنَ أَهْلِ التَّوْرَاةِ بِالتَّوْرَاةِ، وَبَيْنَ أَهْلِ الْإِنْجِيْلِ بِالْإِنْجِيْلِ، وَبَيْنَ أَهْلِ الزَّبُوْرِ بِالزَّبُوْرِ، وَبَيْنَ أَهْلِ الْقُرْآنِ بِالْقُرْآنِ.

Apabila pembela keluarga Nabi Muhammad telah datang dia akan memberi bagian dengan adil, berbuat adil kepada rakyat, mengeluarkan Taurat dan kitab-kitab Allah yang lain dari Antokia, hingga memberi keputusan pada pembaca Injil dengan Injil, kepada pembaca Zabur dengan Zabur, dan kepada pembaca al-Qur’ab dengan al-Qur’an.[9]

Selain riwayat-riwayat ganjil di atas, masih ada beberapa tumpukan riwayat lagi yang menceritakan keanehan-keanehan seputar kemunculan al-mahdi. Barangkali, ketika kita menyimak riwayat-riwayat di atas, di lubuk hati kita timbul semacam keanehan atau keasingan yang sukar dipercaya. JIka perasaan semacam itu memang muncul, maka sebetulnya tak perlu dirisaukan, sebab teologi Syiah kebanyakan mamang dibangun di atas reruntuhan mitos yahudi, Nashrani, dan Parsi. Mitos al-mahdiyyah misalnya, dibangun sebagai ajaran dan akidah Syiah guna memberikan kesan bahwa mereka kelak akan bangkit dari keterpurukan setelah mengalami pengucilan berabad-abad.

Dengan doktrin al-Mahdiyyah, Syiah mengajarkan kepada umatnya, bahwa mereka akan mengakhiri sejarah ini dengan Muntadzar muncul kelak, mereka akan mengauasai dunia, membalas dendam terhadap musuh-musuhnya tanpa perlawanan sedikit pun. Dengan demikian, doktrin ini menjadi kelengkapan dari doktrin raj’ah yang akan kami jelaskan pada sub bagian berikutnya.

Skenario happy ending ini dipersiapkan antara lain guna memompa semangat penganut Syiah agar terus berjuang dan berdakwah menyebarkan ajaran Syiah sekaligus merekrut pengikut. Di samping itu, sebagaimana yang telah menjadi suatu kelaziman, bahwa doktrin ini diusung juga untuk menopang imamah; doktrin Syiah yang membawa misi untuk mendominasi dunia, mendirikan kerajaan Syiah dengan agama dan ajaran baru, menyulap setiap wilayah Islam layaknya negeri para Mulla: Iran. Penjelasan mengenai hal ini, ulama Syiah banyak mengutip, hadits yang diafiliasikan kepada Imam Ja’far ash-Shadiq AS sebagai berikut:

عَنْ أَبِيْ بَصِيْرٍ قَالَ: قَالَ أَبُوْ جَعْفَرٍ عَلَيْهِ السَّلَامُ: يَقُوْمُ القَائِمُ بِأَمْرٍ جَدِيْدٍ، وَكِتَابٍ جَدِيْدٍ، وَقَضَاءٍ جَدِيْدٍ.

Dari Abi Bashir, dia berkata: Abu Ja’far AS berkata: “Akan datang sang pembela (keluarga Muhammad SAW) dengan membawa perkara baru, kitab baru, dan undang-undang baru.[10]

لَكَأَنِّيْ أَنْظُرُ إِلَيْهِ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالمَقَامِ يُبَايِعُ النَّاسَ عَلَى كِتَابٍ جَدِيْدٍ.

Aku benar-benar seperti melihat dia (al-Mahdi) antara Rukun Yamani dan Maqam Ibrahim sedang membaiat orang banyak untuk menerima kitab baru.[11]

عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ أَنَّهُ قَالَ: إذَا قَامَ قَائِمُ آلِ مُحَمَّدٍ ضَرَبَ فَسَاطِيْطَ يُعَلِّمُ فِيْهِ الْقُرْآنَ عَلَى مَا أُنْزِلَ فَأَصْعَبُ مَا يَكُوْنُ عَلَى مَنْ حَفِظَهُ اليَوْمَ لِأَنَّهُ يُخَالِفُ فِيْهِ التَّأْلِيْفَ.

Dari Abu Ja’far AS, dia berkata: Apabila pembela keluarga Muhammad datang, maka dia akan mendirikan perkemahan, lalu mengajarkan al-Qur’an yang asli. Inilah hal yang paling berat bagi orang-orang yang menghafalnya, sebab al-Qur’an (yang diajarkan al-Mahdi) berbeda susunannya.[12]



b. Merobohkan Masjid al-Haram lalu membongkar kuburan Abu Bakar RADIYALLAHU ‘ANHU dan Umar RADIYALLAHU ‘ANHU

Ath-Thusi, penulis al-Istibshar dan at-Tahdzhib (dua kitab utama kaum Syiah), menyatakan bahwa al-Mahdi kelak akan merobohkan Masjid al-haram dan Masjid Nabawi.[13] Tujuannya untuk mengembalikan kepada bentuk semula, persis sebagaimana model pada zaman Nabi SAW. Syiah juga percaya bahwa al-Mahdi juga akan mengeluarkan jasad sahabat Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhu, lalu menyalib dan membakar keduanya, kemudian menghambur-hamburkan abunya:

أَنَّ الْقَائِمَ يَهْدِمُ الْمَسْجِدَ الحَرَامَ حَتَّى يَرُدَّهُ إِلَى أَسَاسِهِ، وَمَسْجِدَ الرَسُوْلُ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَسَاسِهِ، وَيَرُدَّ الْبَيْتَ إِلَى مَوْضِعِهِ وَإِقَامَتِهِ عَلَى أَسَاسِهِ.

Sesungguhnya al-Mahdi akan merobohkan Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi, lalu mengembalikannya pada fondasi semula. Dia juga akan membongkar Baitullah dan mengembalikannya pada fondasi semula, serta akan meletakannya pada posisi asalnya.[14]

كَذَلِكَ يَتَّجِهُ إلِىَ قَبْرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبَيْهِ وَيَبْدَأُ – كَمَا تَقُوْلُ أَخْبَارُهُمْ – “بِكَسْرِ الْحَائِطِ الَّذِيْ عَلَى الْقَبْرِ… ثُمَّ يُخْرِجُهُمَا غَضَّيْنِ رُطْبَيْنِ فَيَلْعَنُهُمَا وَيَتَبَرَّأُ مِنْهُمَا وَيَصْلُبُهُمَا ثُمَّ يُنْزِلُهُمَا وَيُحْرِقُهُمَا ثُمَّ يُذْرِيْهُمَا فِيْ الرِّيْحِ.

Demikian pula, al-Mahdi akan pegi ke makam Rasulullah SAW dan makam dua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar). Mula-mula dia akan menghancurkan tembok makam… kemudian dia mengeluarkan dua sahabat Rasul yang kelihatannya masih segar itu, lalu dia melaknati keduanya, berlepas diri darinya, kemudian menyalibnya, menurunkannya (dari tiang salib), lalu membakarnya dan menghambur-hamburkan abunya.[15]

Dalam riwayat lain disebutkan:

أَوَّلُ مَا يَبْدَعُ بِهِ الْقَائِمُ… يُخْرِجُ هَذَيْنِ رُطْبَيْنِ غَضَّيْنِ فَيُحْرِقُهُمَا وَيُذْرِيْهُمَا فِيْ الرِّيْحِ, وَيُكَسِّرُ الْمَسْجِدَ.

Yang dilakukan al-Mahdi pertama kali… mengeluarkan dua orang yang masih segar ini, lalu membakarnya dan meghambur-hamburkan abunya. Dia juga akan merobohkan Masjid (An-Nabawi).[16]

Tampak dengan jelas dari riwayat-riwayat di atas, bagaimana Syiah menggambarkan sang Imam yang ditunggu-tunggu layaknya monster, yang memangsa dengan ganas. Tugas yang kelak dilakukan al-Mahdi, rasanya bukan tugas yang diberikan oleh Allah SWT, melainkan tugas yang diberikan oleh Syiah sendiri, yang sangat muak dengan para sahabat Nabi SAW. Artinya, mitos mahdiyyah dimunculkan guna melampiaskan dendam mereka yang memuncak kepada para sahabat sejati Nabi SAW. Dan dalam hal ini, mereka rupanya merasa perlu untuk membuat proyek hadits-hadits palsu, sebagaimana dikemukakan di atas, atau bahkan ayat-ayat al-Qu’an palsu. Syiah bercerita, bahwa ketika Rasulullah SAW. melakuan Isra’, Allah SWT. berfirman seperti ini:

وَهَذَا اْلقَائِمُ… هُوَ الَّذِيْ يَشْفِيْ قُلُوْبَ شِيْعَتِكَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ وَالْجَاحِدِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ، فَيُخْرِجُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (يَعْنُوْنَ خَلِيْفَتَيْ رَسُوْلِ اللهِ) طُرِيَّيْنِ فَيُحْرِقُهُمَا.

“Pembela ini (al-Mahdi). . . dialah yang menyembuhkan sakit hati pengikutmu dari (kekejaman) orang-orang lalim, pembelot dan orang-orang kafir. Dia akan mengeluarkan Lata dan Uzza (maksudnya adalah Dua Khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar) yang masih segar lalu membakarnya.”[17]

Kemudian sikap kita terhadap riwayat-riwayat mahdiyyah di atas, barangkali tak akan jauh dari tanggapan Dr. Nashir bin Abdullah bin Ali al-Qifari. Dalam Ushul Madzhab asy-Syi’ah Itsna ‘Asyariyah: ‘Aradh wa Naqdh, beliau mengatakan:

Jelas, bahwa tanduk-tanduk al-Mahdi yang diceritakan dalam kitab-kitab mereka adalah gambaran kebencian mereka kepada Islam, hingga mereka berandai-andai kalau saja mereka punya kesempatan untuk menghancurkan Mekah, Madinah, dan membongkar kuburan sahabat Abu Bakar RA dan Umar RA. Ketika mereka merasa tidak mungkin melakukan semua itu, mereka mulai meratapi diri sendiri, dan untuk mengobati kekesalannya pada agama Islam, dan kepada kaum Muslimin yang telah menaklukan dan menghilangkan kerajaannya (Persia), mereka membuat mimpi-mimpi yang sebenarnya malah membongkar rencana mereka, andai nanti mereka punya kesempatan.[18]



c. Membalas dendam kepada bangsa Arab dan Nawashib (para anti-Syiah)

Di antara tugas-tugas al-Mahdi—yang diberikan oleh Syiah sendiri—adalah melakukan balas dendam kepada bangsa Arab secara khusus, dan kepada nawashib (orang-orang anti-Syiah) secara umum.[19] Menurut kepercayaan Syiah, Abu Abdillah AS telah memberitakan hal ini kepada mereka:

عَنْ الْحَارِثِ بْنِ الْمُغِيْرَةَ وَذَرِيْحِ الْمَحَارِبِيْ قَالَا: قَالَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: مَا بَقِيَ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ الْعَرَبِ إِلَّا الذَّبْحُ.

Dari al-Harits bin al-Mughirah dan Dzarih al-Maharibi, keduanya mengatakan: “Yang tersisa antara kita dan orang Arab hanyalah pembantaian.[20]

Dalam rangka balas dendam ini, al-Mahdi akan memanggil 3000 orang Quraisy, lalu memenggal kepala mereka.[21] Mereka juga mengatakan bahwa Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha akan dibangkitkan dari kuburannya untuk diqishash oleh al-Mahdi, sebab beliau—kata mereka—telah menyakiti Sayyidah Marriatul Qibthiyah radhiyallahu ‘anha. Mereka beranggapan, mestinya yang meng-qishash Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah Rasulullah SAW sendiri, namun beliau tidak melakukannya, sebab beliau diutus sebagai rahmat untuk alam semesta. Kelak, al-Mahdi akan melaksanakan qishash tersebut, sekaligus membalaskan dendam Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha.[22]

Al-Mahdi juga akan membunuh Nawashib (anti-Syiah) yang selama ini menentang aqidah mereka, kecuali mereka mau eksodus ke Syiah. Al-Majlisi memberi penjelasan mengenai hal ini sebagai berikut:

فَإِذَا قَامَ الْقَائِمُ عَرَضُوْا كُلَّ نَاصِبٍ عَلَيْهِ فَإِنْ أَقَرَّ بِالإِسْلَامِ وَهِيَ الْوِلَايَةُ وَإِلَّا ضُرِبَتْ عُنُقَهُ أَوْ أَقَرَّ بِالْجِزْيَةِ فَأَدَّاهَا كَمَا يُؤَدِّيْ أَهْلُ الذِّمَّةِ.

Apabila datang pembela keluarga Muhammad SAW, mereka akan menyerahkan Nawashib kepadanya. Bila dia bersedia menerima Islam, yaitu wilayah (maka dia akan memaafakannya). Namun bila tidak bersedia, maka dia akan membunuhnya, atau dia bersedia membayar pajak sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Dzimmah.[23]

Kebencian yang memuncak membuat Syiah tidak hanya ‘menugaskan’ al-Mahdi untuk membunuh anti-Syiah. Dalam rangka pelampiasan dendam ini, Syiah juga ‘menugaskan’ al-Mahdi untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa.

إِذّا خَرَجَ الْقَائِمُ قَتَلَ ذَرَارِيَّ قَتَلَةِ الْحُسَيْنِ بِفِعْلِ آبَائِهَا.

Apabila al-Mahdi keluar, maka dia akan membunuh keturunan pembunuh Husain sebab perbuatan bapak-bapaknya.[24]

Tampaknya, tugas al-Mahdi tak lain kecuali untuk melakukan balas dendam kepada orang-orang yang tidak menyukai ajaran Syiah. Cerita al-Mahdi versi Syiah adalah cerita pembunuhan dan pembantaian. Al-Ghaibah karya an-Nu’mani, secara gamblang menggambarkan kekejaman al-Mahdi sebagai berikut:

Andaikan orang-orang mengetahui apa yang akan dilakukan al-Mahdi kelak, tentu mereka tidak akan sudi melihatnya, sebab dia akan membunuh banyak orang …hingga orang-orang akan mengatakan: Dia bukan keturunan Nabi Muhammad, kalau dia keturunan beliau tentu dia punya rasa kasih sayang.[25]

Maka, apa yang akan dilakukan al-Mahdi—versi Syiah—sama sekali tidak mencerminkan keteladanan keluarga Rasulullah SAW. Semua yang dilakukan al-Mahdi Syiah, mulai dari merubah Syari’at, memperkenalkan al-Qur’an baru, melakukan pembantaian dan lain sebagainya, adalah benar-benar menyimpang dari ajaran yang yang diteladankan oleh Rasulullah SAW dan para keluarga beliau yang mulia.

Ulama-ulama Syiah menegaskan bahwa al-Mahdi memang diperintahkan untuk mengambil jalan lain yang tidak dilalui oleh Rasulullah SAW. Dia diperintahkan untuk berbuat tegas kepada musuh-musuhnya. Jika al-Mahdi tidak mengikuti Rasulullah SAW, maka sudah jelas dia bukanlah seorang Muslim, karena telah membuang ajaran Nabinya SAW. Jika yang dianggap musuh adalah Ahlussunnah lantaran menolak ajaran Syiah, maka sebenarnya mereka telah membuang teladan terbaik yang pernah dicontohkan oleh Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib RA yang mereka sebut sebagai Washiyyu Rasulillah SAW di mana beliau tidak pernah mengkafirkan lawan-lawan politiknya. Jadi, jelaslah bahwa al-Mahdi—versi Syiah—dan pengikutnya bukan pecinta Ahlul Bait.[26]



By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

[1] Lihat, Firaq asy-Syi’ah, hlm. 23, al-Maqalat wa al-Firaq, hlm. 21, at-Tasyayyu’ baina Mafhum al-Aimmah wa al-Mafhum al-Farisi, hlm. 212.

[2] Periksa, Ushul Madzhabasy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1000.

[3] Lihat, at-Tasyayyu’, hlm. 212.

[4] Al-Kulaini, al-Kafi, juz 1 hlm. 397.

[5]Al-Irsyad, hlm. 413. A’lam al-Wara, hlm. 433.

[6] Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz. 52 hlm. 349.

[7] Ibnu Babawaih, al-Kishal, hlm. 169, al-Majlisi. Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 152.

[8] Lihat, A’lam al-Wara, hlm. 431, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 152.

[9]Lihat, An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 157, Bhiar al-Anwar, juz 52 hlm. 351.

[10] An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 157, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 351. Ilzam an-Nashib, juz 2 hlm. 283.

[11] An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 176. Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 135.

[12] Lihat, Al-Mufid, al-Irsyad, hlm. 365, Haqiqat asy-Syi’ah, hlm. 154.

[13] An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 282.

[14]An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 282, al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 338.

[15]Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 386.

[16]Ibid.

[17]Ibnu Babawaih, ‘Uyunu Akhbar ar-Ridha, juz 1 hlm. 58, Al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 379.

[18] Ketika orang Syiah mengungkapkan kata-kata Nashib, maka yang dikehendaki adalah orang-orang yang mendahulukan dan mengutamakan Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman daripada Ali, baik segi kekhilafahan maupun keyakinan. (lihat, Haqiqat asy-Syi’ah, hlm. 19).

[19] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah Itsna ‘Asyariyah: ‘Aradh wa Naqdh, juz 2 hlm. 1065.

[20]An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 155, al-Majlisi, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 34.

[21]Al-Irsyad, hlm. 411, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 338.

[22] ‘Ilal asy-Syarayi’, hlm. 579-580, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 314-315.

[23] Lihat, Tafsir al-Furat, hlm. 100, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 373.

[24]‘Ilal asy-Syarayi’, hlm. 229, ‘Uyunu Ahbar ar-Ridha, juz 1 hlm. 273, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 313.

[25]An-Nu’mani, al-Ghaibah, hlm. 154, Bihar al-Anwar, juz 52 hlm. 354.

[26] Al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi’ah, juz 2 hlm. 1059-1075.

(sigabah.com/syiahindonesia.com)