Slide

Syiah Indonesia

Events

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Syubhat dan Bantahan

Keluarga Alumni Lembaga Dakwah Kampus Gelar Diskusi Bedah Syiah

Foto by: kiblat.net
Syiahindonesia.com - Syiah lahir dari gerakan politik yang kemudian dilembagakan dengan seperangkat sistem keyakinan sebagai ideologinya. Selanjutnya hingga kini, Syiah adalah gerakan yang menghalalkan segala cara untuk eksis, merekrut pengikut, melakukan infiltrasi, dan akhirnya meraih serta mewujudkan kekuasaan otoriter.

Demikian sekelumit bahasan diskusi tentang Peta dan Kontra Syiah yang diselenggarakan Keluarga Alumni Lembaga Dakwah Kampus (KA-LDK) di Gedung Global Halal Centre Bogor, Senin (8/2).

Sebanyak limapuluhan orang mengikuti acara yang menghadirkan narasumber Dr Farhat Umar, Hasan Rifai MSi, dan Ir Arif Wibowo tersebut. Para peserta merupakan alumni aktivis LDK Institut Pertanian Bogor, Universitas Nasional Sebelas Maret Solo, Universitas Tadulako Palu, Universitas Brawijaya Malang, dan lain-lain.

Hasan Rifai yang sampai sekarang aktif sebagai da’i di sekitar Kampus IPB Darmaga, memaparkan historis munculnya Syiah.

“Ketika perselisihan di kalangan sahabat Nabi sudah selesai, ada kelompok yang terus berupaya memelihara konflik bahkan melanjutkan perang. Mereka membuat kubu pro-Ali versus pro-Muawiyah. Kelompok inilah yang disebut syi’i atau syiah,’’ papar Hasan.

Dalam perkembangannya, kelompok yang mengklaim sebagai ‘’ahlul bait’’ itu menyusun teori imamah berdasarkan garis keturunan Ali bin Abi Thalib. Awalnya, Syiah berbilang-bilang macamnya sesuai teori politik imamah dan teologi masing-masing.

Farhat Umar dalam paparannya mengatakan, secara teori memang pernah ada Syiah yang dekat dengan Sunni, yaitu Ja’fariyah dan Zaidiyah. Namun dalam kenyataan saat ini, yang eksis di dunia adalah Syiah Rafidhoh atau Syiah Imamah Itsna Asy’ariyah.

Syiah Rafidhoh memiliki perangkat keyakinan yang sesat. Misalnya, bahwa Mushaf Al Qur’an Ustmaniyah yang digunakan umat Islam saat ini hanyalah sepertiga dari aslinya; Shahabat Nabi yang mukmin hanyalah Abu Dzar Alghifary, Salman Alfarisi, dan Miqdad bin Aswad; Kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Ustman tidak sah.

Mereka juga mengamalkan perkara-perkara salah seperti nikah mut’ah, taqiyah, sholat berkiblat ke Qom, dan sebagainya. Di lapangan, mereka bisa ditemui dalam beragam sosok, mulai dari sekaliber tokoh seperti pentolannya Jalaluddin Rachmat hingga para pengikutnya. Para pengikut ini ada yang masuk kategori mengikuti tataran pemikiran ajarannya dan ada pula yang mengamalkan semua ajaran Syiah.

Farhat yang juga Koordinator KA-LDK mengungkapkan, Syiah menggunakan sejumlah jargon untuk meredam tentangan atas mereka. Misalnya mengatakan, Syiah hanyalah salah satu mazhab dalam Islam sebagaimana mazhab empat; Tidak semua Syiah sesat, misalnya Zaidiyah; Jangan mudah mengkafirkan orang lain; Jangan mau diadu domba dan dipecah-belah, dan sebagainya.

Sedang Arif Wibowo menyebutkan, reaksi umat terhadap perkembangan Syiah seringkali terlalu reaktif dan justru menguntungkan kelompok sesat tersebut. “Ada daerah yang sebenarnya masih bersih dari pengaruh Syiah, tetapi karena para daĆ­ menggembar-gemborkan bahayanya aliran ini, akibatnya malah segelintir masyarakat penasaran dan akhirnya tertarik mengikuti Syiah. Ada pula sekelompok masyarakat, mayoritas para intelektual dan aktivis kampus, secara tidak sadar mengkaji dan menggeluti pemikiran berbau Syiah.

Berdasarkan pergulatannya di dunia pergerakan kampus, Arif menjelaskan bagaimana Syiah merekrut pengikut dari kalangan kampus melalui pesona karya-karya ilmiah Ali Syariati, Murtadha Muthahari, Muhammad Al Baqir, dan lain-lain.

‘’Ali Syariati ini sebenarnya lebih condong sebagai intelektual sosialis ketimbang Syiah. Tapi oleh Syiah dijadikan entry point untuk merekrut pengikut dari kalangan intelektual,’’ kata Direktur Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo itu.

Arif menyarankan, dakwah meng-counter Syiah harus menggunakan pendekatan sesuai level mad’u. Untuk kalangan awam dan anak-anak, ia menyerukan agar internalisasi martabat shahabat Nabi terus digencarkan. Misalnya dengan menyebut lengkap sumber hukum Islam: Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas. Juga mensosialisasikan do’a dan syair-syair tentang Khalifah yang Empat.

Untuk kalangan fans dan newbi, Arif merekomendasikan pendekatan kajian ilmiah. Terutama tentang konteks sejarah suksesi Bani Tsaqifah. ‘’Peristiwa suksesi ini yang dimanipulasi Syiah untuk menyusun teori imamah,’’ ujar peserta Program Kaderisasi Ulama Baznas-Dewan Dakwah tersebut.

Sedang untuk kalangan klothokan (diehard) Syiah seperti Jalaluddin Rakhmat, kiranya tidak perlu ada diskusi (tadrib) lagi. Percuma.

Di akhir diskusi para narasumber berpesan, isyu Syiah ‘digoreng’ oleh intelijen untuk menguras energi dan fokus gerakan Islam. ‘’Dulu kita disibukkan dengan NII, sekarang Gafatar, Syiah…,’’ kata Hasan Rifai.

Ia menambahkan, selain tetap menanggulangi dampak gerakan-gerakan sesat, gerakan Islam juga harus mempunyai agenda untuk diperjuangkan. ‘’Jangan hanya reaktif,’’ tandasnya. Sementara Farhat Umar menegaskan perlunya penguatan jaringan antarkekuatan umat lewat kerjasama dan sinergi untuk meredam ajaran ini. (kiblat.net)

Pemahaman Menyimpang Syiah dalam Novel "Yang Lebih Wangi Dari Bunga"

Syiahindonesia.com - Berikut kami ulas pemahaman menyimpang Syiah dalam buku berjudul "Novel Yang Lebih Wangi Dari Bunga"yang diterbitkan oleh Citra:

Judul        : Yang Lebih Wangi dari Bunga
Judul Asli    : Mohammad: Prophet of Faith and Generous Forgiveness
Penulis        : Ebrahim Hassan Beigi
Penerbit    : Citra
Cetakan    : I, Desember 2013/Safar 1435
E-mail        : penerbit_citra14@yahoo.com
Facebook    : penerbit citra



Novel ini berisi tentang:
1.    Bahira bersumpah atas nama berhala
2.    Nabi Muhammad tahu bahwa ia akan diangkat menjadi Nabi dan pernikahannya dengan Khodijah sudah direncanakan
3.    Ali penerus Rasulullah S.A.W.
4.    Al-Qur’an tidak suci
5.    Ketikami’roj, di langit pertama yang ditemui Rasulullah adalah Nabi Ibrahim, Musa dan
Isa
6.    Mi’raj dimulai sejak waktu maghrib
7.    Abdurrah bin Auf mabuk-mabukan dan salah membaca ayat Al-Qur’an
8.    Kekuatan Ali bagaikan Raksasa
9.    Seperti inikah pelaksanaan baiat terhadap kaum perempuan?
10.    Ali mengetahui hal gaib


Bagi yang ingin menelaah langsung buku Syiah ini, silahkan bisa di melihat dan download gratis resume kami dari novel "Yang Lebih Wangi Dari Bunga" pada link berikut:

Lihat buku: http://www.4shared.com/web/preview/pdf/DViWWT9cce?

Download buku: http://download1521.mediafire.com/l6ot3i1kn0jg/0micd2amt04nq6c/PDF+Novel+Yang+Lebih+Wangi+Dari+Bunga.pdf

Peneliti: Arham

Agendakan Dialog Sunni-Syiah, Menag Anggap Ahlus Sunnah Indonesia Tak Paham Syiah

Kemenag RI, Lukman Hakim Saifudi
Syiahindonesia.com - Senin (1/2) lalu, Duta Besar Republik Syiah Iran untuk Indonesia H E Valiollah Mohammadi berkukunjung ke Kementerian Agama RI. Kedatangan Duta Besar Negeri Mullah ini didampingi para Diplomat Kedutaan Iran, antara lain: Maktabifarah, Famouri, dan Ali Pahlevani R.

Dalam pertemuan tersebut, Dubes Iran mengajak kerjasama terkait dialog ulama dua negara. Menurutnya, Indonesia adalah negara dengan Ideologi Sunni terbesar di dunia, sedang Iran adalah syiah terbesar. “Kami berharap, para ulama dua negara, mampu ketemu, duduk bersama dan berdialog. Hal ini untuk mengurangi kesalahpahaman masyarakat kita,” urainya.

Kerjasama juga bisa dilakukan di bidang Seni dan pariwisata Islami. Valiollah menilai, Indonesia dan Iran sangat kaya akan seni. “Sertifikasi makahan halal pun bisa kita kerja samakan,” tuturnya.

Menag Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, Kemenag siap bekerja sama dengan Pemerintah Islam Iran. Menurutnya,  beberapa hal yang berhubungan dengan Kemenag, akan dipelajari secara seksama. Sedangkan yang berhubungan dengan kementerian lainnya, akan dikoordinasikan dengan kementerian terkait.

Menag menjelaskan bahwa Kemenag mempunyai proyek 5.000 Doktor di berbagai disiplin ilmu yang bisa dikerjasamakan dengan Iran. Menag juga menyambut baik usulan Dubes tentang dialog antarulama.

“Dialog Ulama Indonesia dan Iran, antara Sunni-Syiah memang diperlukan untuk meminimalisir kesalahpahaman di masyarakat. Perbedaan Sunni-Syiah adalah masalah klasik dan telah terjadi ratusan tahun silam. Sering kali, masyarakat kita salah paham,” ungkapnya sebagaimana dilansir kemenag.go.id (1/2/16).

Tentang penyelenggaraan Ibadah Haji, Menag mengatakan, bahwa Ibadah Haji adalah masalah kompleks yang membutuhkan penanganan komplek pula. “Kami  siap bekerja sama dengan Iran,”  tandasnya. (g-penk/mkd/mkd)

Makin Akrab, Kemenag Jalin Kerjasama dengan Kedubes Iran

Kedubes Iran mengunjungi Kemenag
Syiahindonesia.com - Duta Besar Republik Syiah Iran untuk Indonesia H E Valiollah Mohammadi mengunjungi Kementerian Agama RI. Kedatangan Duta Besar Negeri Mullah ini didampingi para Diplomat Kedutaan Iran, antara lain: Maktabifarah, Famouri, dan Ali Pahlevani R.

Sebagaimana diketahui bahwa Iran adalah Negara yang penduduknya bermayoritaskan Syiah Imamiyah, bahkan pengikut Syiah di Indonesia juga berkiblat ke arah Iran.

Sayangnya, kedatangan Dubes Iran beberapa hari lalu diterima Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang didampingi Kepala Biro Hukum dan Kerjasama Luar Negeri  Gunaryo, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, dan Kasubdit Ketenagaan Dit Diktis Imam Safei.


Kerjasama itu dalam bidang ilmu, pertukarang pelajar, seni dan pariwisata

Valiollah mengajak Kemenag untuk lebih pro aktif dalam menjalin kerja sama Indonesia – Iran. Menurutnya, ada beberapa hal yang bisa dikerjasamakan. Di bidang Pendidikan Islam, Valiollah mengajak kerjasama di bidang pertukaran mahasiswa, dosen, dan lain sebagainya. “Kami di Iran, mempunyai intansi yang menjadi wadah Syiah, Sunni, dan Syiah-Sunni. Instansi ini dapat dijadikan contoh bahwa Syiah dan Sunni bisa kerjasama,” terangnya, Senin (01/02).

Kerjasama lainnya di bidang Ilmu Al-Quran dan Haji. Valiollah berharap dapat  memperoleh pengalaman dan ilmu dari Indonesia  dalam menyelenggarakan ibadah haji. 

Kerjasama juga bisa dilakukan di bidang Seni dan pariwisata Islami. Valiollah menilai, Indonesia dan Iran sangat kaya akan seni. “Sertifikasi makahan halal pun bisa kita kerja samakan,” tuturnya sebagaimana dirilis resmi dalam situs kemenag.go.id (1/2/16).

Menag Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, Kemenag siap bekerja sama dengan Pemerintah Islam Iran. Menurutnya,  beberapa hal yang berhubungan dengan Kemenag, akan dipelajari secara seksama. Sedangkan yang berhubungan dengan kementerian lainnya, akan dikoordinasikan dengan kementerian terkait. (nisyi/syiahindonesia.com)

Selalu Bela Syiah, Mayoritas Ulama Madura Tolak Said Aqil Siraj

Said Aqil Siraj
Syiahindonesia.com - Kekecewaan mendalam sebenarnya dialami warga nahdliyyin madura terhadap Said Agil Siraj (SAS). Hampir 10 Tahun pernah konflik dengan syiah khususnya di wilayah Sampang, Namun saat mencapai puncaknya pada tahun 2012-2013 yang lalu SAS justru berpihak membela syiah.

Salah seorang ulama Sampang yang juga Pengurus Wilayah GP Anshor Jatim KH. Jakfar Shodiq saat di hubungi NUGarisLurus.Com mengungkapkan sedikit kronologi konflik Nahdliyyin dengan syiah yang sudah sejak tahun 2004 namun sama sekali tidak ada pembelaan PBNU terhadap warga Nahdliyyin.

“Kasus syiah Sampang sudah sejak tahun 2004 sampai dengan tahun  2012-2013 mencapai puncaknya.Hampir tidak ada sama sekali pembelaan dari PBNU kepada PCNU Sampang,” Kata Kyai Jakfar kepada NUGarisLurus.Com, Senin 8 Februari 2016.

“Setiap PBNU datang hanya menampung. terakhir pada bulan puasa 2012. kita sudah siap -siap dengan kyai -kyai khos yang datang hanya petugas dari PBNU. Sama sekali tidak serius, “ungkapnya.

Menurut kyai Jakfar mayoritas atau 100% ulama madura menolak Said Agil Siraj (SAS) karena pembelaannya terhadap syiah yang disebuah media massa justru menyebut bahwa NU Sampang memalukan. “Itu kan bentuk pembelaan SAS kepada Syiah, “Lanjut pengurus Bassra dan AUMA Madura yang menjadi pengurus Ansor sejak 1994 ini.

“Saya bicara dengan Rais PCNU Sampang Kyai Safik. Saat syiah diusir dari GOR Sampang, SAS telpon langsung Rais Syuriah minta dihentikan pengusiran. SAS kebakaran jenggot, “lanjutnya menceritakan kejadian saat itu.

Mayoritas ulama Madura atau hampir 100% menolak SAS karena pembelaannya terhadap syiah namun tidak mau membela warga Nahdliyyin Sampang.

“Mayoritas atau hampir 100% ulama Madura tolak SAS. Saat kasus Syiah Sampang SAS tidak pernah ke lokasi menemui para ulama. Namun Hanya sekali ke pendopo dan tidak mengundang para ulama, “tutupnya. (nugarislurus.com)