Slide

Syiah Indonesia

Syubhat Dan Bantahan

Data & Fakta

Hakikat Syiah

Kajian Utama

Dokumen Rahasia

Tanya Jawab

Ulama Syiah: "Setiap orang selain Syiah Itsna Asyariyah adalah Kafir, tempatnya di Neraka"

Syiahindonesia.com - Syiah berkata: setiap orang yang bukan Syiah Itsna Asyariyah, atau tidak mengimani salah satu imam Dua Belas, atau mengingkarinya maka dia telah kafir, dan di akhirat tempatnya adalah neraka.

Lihat: kitab Jami’ Ahaditsh asy-Syiah, oleh Brojurdi (1/429) (nisyi/syiahindonesia.com)

Ulama Syiah: "Ali bin Abi Thalib sang pemilik Surga dan Neraka"

Syiahindonesia.com - Di Dalam buku "Ilal Asy-Syara'i" karya seorang ulama Syiah yang sangat masyhur, Abu Ja'far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih Al-Qummi yang wfat tahun 381 H, terdapat teks berikut ini:

"Jika Hari Kiamat telah tiba didatangkanlah sebuah mimbar yang dilihat oleh semua makhluk, seorang laki-laki berdiri di atasnya, satu malaikat berdiri di samping kanannya dan satu malaikat lagi berdiri di samping kirinya.

Malaikat yang di samping kananya menyeru dan berkata, 'Wahai semua makhluk, inilah Ali bin Abi Thalib sang pemilik Surga, ia memasukkan ke dalam surga siapa saja yang ia kehendaki',

Kemudian Malaikat yang di samping kirinya menyeru dan berkata, 'Wahai semua makhluk, inilah Ali bin Abi Thalib sang pemilik Neraka, ia memasukkan ke dalam Neraka siapa saja yang ia kehendaki'."


Apakah seorang Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi yang mulia, mempunyai keberanian dan sikap lancang terhadap Allah dan mendahului hak tunggal Allah Azza Wajalla untuk memasukkan hamba-hamba-Nya ke dalam Surga dan Neraka-NYA?!!!, ini tidak lain kedustaan yang diada-adakan oleh seorang ulama Syiah, berdusta atas nama Ali bin Abi Thalib....!!

padahal banyak sekali ayat-ayat yang sangat jelas di dalam Al-Qur'an bahwa Allah-lah pencipta dan pemilik surga dan neraka, Allah-lah yang berhak memasukkan hamba-hamba-Nya ke dalam surga dan neraka, namun beginilah sebenarnya aqidah syiah yang sangat jauh dari tuntunan Al-Qur'an! (lppimakassar.com/syiahindonesia.com)

silakan lihat langsung teks asli dari kitab Ilal Asy-Syara'i, karya ulama Syiah di bawah ini:


Inilah Alasan Imigran Syiah Tidak Segera Dideportasi

Syiahindonesia.com - Ribuan pengungsi imigran syiah membanjiri wilayah Indonesia. Balikpapan salahsatunya. Menurut penelusuran Fajar Shadiq, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang melaporkan dari Balikpapan, ada sekitar 300 imigran asal Afghanistan di Kota Balikpapan. Sementara di seluruh Indonesia jumlahnya lebih dari 6.000 imigran.

Keruan saja, segenap masyarakat menolak kedatangan imigran ilegal ke kota yang mereka tinggali. Pasalnya, selain tidak ada dokumen yang lengkap, hanya mengandalkan selembar kertas sertifikat dari UNHCR, mereka juga memiliki paham dan ideologi yang bertolak belakang dengan umat Islam di Indonesia.

Pengungsi Afghanistan ini terang-terangan mengaku beragama Syiah. Masyarakat khawatir, mereka akan menyebarkan pengaruhnya ke Indonesia. Apalagi, imigran Syiah, khususnya yang berada di Balikpapan, tidak semuanta tertampung di Rumah detensi Imigrasi (Rudenim).

Banyak pihak bertanya-tanya, kenapa pihak imigrasi tidak mendeportasi mereka? Ditemui di Balikpapan, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rumah Detensi Imigrasi Lamaru Balikpapan, Edu Andarius Aria menyatakan bahwa saat ini pihak keimigrasian juga terbentur dengan hukum yang dibuatnya sendiri.

“Kita ini terbentur dengan hukum, karena para pencari suaka itu ada payung hukumnya. Di luar itu ada konvensi tentang HAM, ada konvensi tentang pengungsi tahun 1951, walaupun kita tidak ikut meratifikasi,” ujar Edu saat ditemui di Rudenim Lamaru Balikpapan pada Kamis, (11/12) lalu.

Meskipun Indonesia tidak ikut meratifikasi konvensi internasional tentang pengungsi, tetapi ada hukum positif kita yang sudah mengatur di sini.Ada aturan imigrasi yang menyatakan bahwa pencari suaka tidak bisa dideportasi. Yaitu berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Imigrasi Nomor IMI-1489.UM.08.05 Tahun 2010. (azm/arrahmah.com/syiahindonesia.com)

Sejarah Syiah Hautsi di Yaman Bag. 2

Demontrasi Massal Pengikut Hautsi dan Awal Mula Peperangan

Syiahindonesia.com - Pada tahun 2004 M, terjadi pemberontakan kelompok Syiah Al Hautsi, atas perintah Husein Badruddin Al Hautsi, mereka menguasai jalan-jalan kota Yaman, dengan satu tuntutan agar ekspansi Amerika terhadap Irak dihentikan, namun penguasa menyambut demontrasi dengan kekerasan. Disebutkan pula bahwa ketika itu Husein Badruddin Al Hautsi mengaku dirinya adalah Imam Mahdi, bahkan menganggap dirinya sebagai Nabi. Akibatnya pemerintah Yaman memutuskan untuk mendeklarasikan perang terbuka terhadap kelompok Syiah Hautsi, sampai-sampai pemerintah Yaman ketika itu mengerahkan 30,000 tentara, pesawat-pesawat tempur, dan tank-tank. Peperangan pun semakin berkobar dengan terbunuhnya pimpinan kelompok Hautsi yaitu Husain Badruddin Al Hautsi, ratusan orang ditawandan persenjataan yang sangat banyak berhasil disita dari orang-orang Hautsi.

Kondisi pun semakin genting, paska terbunuhnya Husain Al Hautsi tampuk kepemimpinan diambil alih oleh ayahnya yaitu Badruddin Al Hautsi.Hal ini semakin memperjelas bahwa secara diam-diam kelompok Syi'ah telah mempersenjatai diri mereka dengan sangat rapi, dimana mereka sanggup menghadapi tentara Yaman hingga bertahun-tahun lamanya.

Pada tahun 2008 M, Qatar mengambil peran sebagai mediator antara pihak Hautsi dengan pemerintah Yaman, yang menghasilkan perjanjian perdamaian sesuai wasiat Yahya Al Hautsi dan Abdul Karim Al Hautsi - saudara kandung Husain Badruddin Al Hautsi- ntk pindah ke Qatar dan menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Yaman.Akan tetapi perjanjian damai ini tidak berselang lama, peperangan pun mulai babak baru, bahkan orang-orang Hautsi terang-terang memperluas kekuasaannya ke beberapa provinsi sekitar Sha'dah dan berupaya sampai ke pinggiran pantai laut merah agar dapat menguasai wilayah pesisir, salah satunya adalah pelabuhan supaya dapat menyuplai kebutuhan mereka dari luar Yaman.

Saat ini, seruan mereka sudah semakin jelas, konfrontasinya pun semakin nyata, bahkan pembahasaannya saat ini mengarah kepada ancaman sekelompok orang yang ingin menguasai Yaman secara keseluruhan, bukan hanya sekedar pemisahan sebagian syi'ah dari negeri Yaman.

Sebab-sebab Yang Menopang Kekuatan Syiah Hautsi

Begitu banyak banyak justifikasi yang mencerahkan kita dalam memahami duduk permasalahan tersebut, boleh jadi yang paling menonjol adalah,

Pertama, tidak mungkin kelompok kecil (Syiah Hautsi) yang berada di negeri Yaman, memiliki pertahanan yang sangat kokoh dalam jangka waktu yang relative panjang, melainkan mereka mendapat sokongan dari luar Yaman. Jika persoalan itu dianalisa, kita akan dapati bahwa negara yang berperan dalam upaya menyokong kekuatan Hautsi adalah Iran, yaitu daulahItsna 'Asyariyah yang dengan segala sarana berusaha untuk menyebarkan madzhab mereka, sekiranya gerakan Syiah Hautsi mampu memberi perlawanan untuk menguasai pemerintahan Yaman,niscaya hal ini akan menjadi sebuah kemenangan yang besar bagi Iran, lebih-lebih mereka akan leluasa mengepung salah satu kubu terbesar yaitu Saudi, Saudi pun akan terkepung dari arah utara oleh di Iraq, dari arah timur oleh Kuwait dan Bahrain, begitu juga dari arah selatan oleh Yaman, dari sini Iran akan memberikan tekanan yang luar biasa, baik hubungannya terhadap dunia Islam yang sunni maupun hubungannya terhadap Amerika.

Data ini bukan sekedar teori, akan tetapi berdasar realita yang memiliki penguat yang sangat banyak, salah satunya adalah perubahan yang mengejutkan dari Badruddin Al Hautsi dari pemikiran Zaidiyah yang moderat kepada pemikiran Itsna 'Asyariah yang menyimpang, padahal lingkungan Yaman tidak pernah mengenal pemikiran yang diusung oleh Syiah Itsna 'Asyariyah di sepanjang sejarah Yaman, apalagi Iran telah merangkul Badruddin dengan segala daya upaya, bahkan ia disambut sebagai tamu kehormatan di Teheran selama bertahun-tahun hingga Badruddin mendapatkonsep "Wilayatul Faqih" yang digagas oleh Khameini sebagai solusi tepat untuk merambah kepemerintahan hatta meski tidak dari keturunan Fatimah radhialllahu 'anha, padahal pemikiran ini tidak terdapat dalam ajaran Zaidiyah.

Seperti halnya Iran sebagai negara kuat yang mampu mengulurkan bantuan politik, ekonomi serta militer terhadap Al Hautsi, dan Al Hautsi pun mengokohkan bantuandari Iran dengan membangun berbagai media Syi'ah Iran seperti saluran-saluran tv yang sangat banyak semisal; Al'Alam, AlKautsar dan yang selainnya,demi kepentingan kelompok Hautsi.

Sebagaimana halnya Hautsi sendiri bermediasi dengan Marja' tertinggi syi'ah Iraq Ayatullah AsSistani, seorang Itsna 'Asyari yang masih asing bagi masyarakat Yaman, namun ini hanya sekedar pengukuhan terhadap madzhab mereka.Disamping itu, pemerintahan Yaman menyatakan bahwa sumber persenjataan yang kebanyakan di milikikelompok Hautsi adalah buatan Iran. Pemerintah Yaman sendiri menyinnggung tanpa terang-terangan sehubungan adanya bantuan Iran terhadap pemberontak Hautsi, tentu saja Iran mengingkari perihal bantuan tersebut, namun sudah dimaklumi bahwa demikian ini hanya permainan politik mereka, terlebih pada ranah aqidah "Taqiyyah" Itsna 'Asyariyah yang melegalkan kedustaan tanpa adanya batasan.

Kedua, diantara faktoryang mendukung kelancaran gerakan kelompok Hautsi di Yaman adalah empati sebagian masyarakat karena ikatan nasab kepada gerakan pemberontak, meskipun tidak sampai condong kepada pemikiran menyimpang mereka, yang demikian karena factor buruknya perekonomian dan sosial yang berlaku di masyarakat tersebut. Secara global, Yaman tergolong sangat lemah dalam infrastruktur bangunan, sedangkan kondisi kefakiran yang sangat buruk melanda sebagian besar penduduknya, nampaknya wilayah-wilayah tersebut tergolong lebih banyak (penduduknya) daripada wilayah lain, namun tidak ada perhatian pemerintah terhadap wilayah tersebut sebagaimana perhatian yang tercurahkan atas kota-kota besar lainnya di Yaman.

Lebih ditegaskan lagi bahwa kesepakatan damai yang dimediasi oleh Qatar pada tahun 2008 M, antara pemerintah Yaman dan kelompok Hautsi yang memutuskan bahwa pemerintah Yaman berencana mengembalikan kemakmuran wilayah Sha'dah, sedangkan Qatar akan memberikan modal terhadap proposal kemakmuran tersebut,namun semua ini terhenti karena perang, dan bukti dari realitanya bahwa masyarakat yang hidup dalam kondisi termarginalkan dan ditelantarkan akan melakukan protes bahkan sewenang-wenang meski kepada siapapun yang tidak sesuai dengan keyakinan dan prinsip mereka.

Ketiga, diantara factor yang mendukung berlangsungnya pemberontakan adalah adanya dukungan dari kabilah-kabilah yang mendominasi Yaman. Yaman sendiri merupakan wilayah yang banyak didominasi oleh suku-suku dan kabilah-kabilah, bahkan terdapat keseimbangan yang urgen di berbagai kabilah berbeda, dan banyak sekali refrensi yang menunjukkan bahwa para pemberontak dari kelompok Hautsi mendapat sokongan dari beberapa kabilah yang menolak tatanan kepemerintahan, karena adanya dendam antara mereka dan sistem pemerintahan yang menggeser pandangan terhadap agama atau madzhab.

Keempat, diantara faktor yang mendukung hal ini adalah kondisi alam di Yaman berupa pegunungan, sehingga membuat kekuatan pemerintah untuk menduduki wilayah tersebut menjadi sulit, disamping itu tidak adanya kemampuan pasukan serta banyaknyarelungdan gua-gua,tidak ada penilitian ilmiah yang menjelaskan jalan-jalan di sekitar pegunungan, serta tidak adanya peralatan tekhnis dan satelit buatan yang mampu mengintai pergerakan mereka secara detail.

Kelima,Factor pendukung lainnya adalah sibuknya pemerintahan Yaman dalam menyelesaikan Isu seruan yang menginginkan Yaman Selatan terpisah dari Yaman Utara,sertaadanya demonstrasi yang menyerukan terhadap masalah itu, disertai dengan munculnya mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim AlBedh dari tempat tinggalnya di Jerman yang sama-sama menyerukanpemisahan. Tidak diragukan lagi, kondisi semacam ini semakin mencerai beraikan pemerintahan, pasukan dan intelejen Yaman, sehingga kontrol mereka terhadap kelompok Hautsi semakin melemah.

Keenam, ada beberapa analisa yang menjelaskan tentang keberlangsungan pemberontakan,bahwa pemerintahan Yaman sendiri menginginkan agar permasalahan itu tetap berlangsung! Sebab pemberontakan tersebut dapat dijadikan alasan yang akan menghasilkan berbagai keuntungan negara, diantara kuntungan yang paling besar adalah terjalinnya kerja sama dengan Amerika yang biasa dikenal dengan sebutan ‘perang kontra terorisme’, apalagi Amerika mengisyaratkan adanya kaitan antara tandhim AlQaedah dengan kelompok pemberontak Al Hautsi.

Saya sendiri berpendapat bahwa analisa ini sangat jauh, karena manhaj yang dianut oleh tandhim AlQaedah sangat bertolak belakang dengan manhajyang dianut Itsna 'Asyariah, selain itu tentunya Amerika ingin mengokohkan kuku-kukunya diseluruh dunia Islam dengan beragam alasan guna merealisasikan tujuannya, sementara dari hubungan ini Yaman berupaya memperoleh konsolidasi politik serta ekonomi atau paling tidak mengesampingkan terungkapnya berbagai files tentang HAM dan kediktatoran serta files lain yang hendak diungkap oleh Barat.

Di samping keuntungan yang diperoleh Yaman dari hubungannya dengan Amerika, Yaman juga akan memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan Saudi, dimana Saudi akan berupaya membantu Yaman dalam hal politik, militer serta ekonomi dalam rangka melawan gerakan Syi'ah Hautsi, sementara dengan berlangsungnya permasalahan itu akan semakin memperlancar bantuan untuk Yaman, bahkan bukan hanya sokongan dari Saudi yang akan diperoleh Yaman, tapi akan meluas ke Qatar, Emirates dan yang lainnya.

Meskipun faktor-faktor tersebut dapat dialihkan, namun permasalahan masih tetap berlanjut, bahkan kondisi yang saya lihat semakin membahayakan, sudah selayaknyalah Yaman mengambil sikap tegas terhadap peristiwa ini, menyebarkan pemikiran Islami yang shahih dalam rangka menghadapi berbagai pemikiran menyimpang, dan menaruh perhatian yang besar terhadap masyarakatdi wilayah-wilayah tersebut sehingga dapat menghimpun loyalitas mereka secara alamiah kepada Yaman dan pemerintahannya.

Sedangkan bagi dunia Islam global, hendaknya memberikan dukungannya terhadap Yaman di tengah konflik ini, sekiranya tidak, maka mega proyek Syi'ah akan mengepung dunia Islam dari segala penjuru.Dan yang paling urgen adalah mengembalikan nilai-nilai dan kemaslahatan Yaman, sebab kemaslahatan ini akan mengarahkan kepada persatuan, gagasan yang baik, bahkan kepada persatuan kaum Muslimin di atas kitabullah serta sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam,dengan begitu kita akan keluar dari segala kemelut dan mendapat solusi dari berbagai permasalahan yang ada. (team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.


Sejarah Syiah Hautsi di Yaman Bag. 1

Kisah Orang-orang Hautsi

Syaihindonesia.com - Kisah Hautsi telah mendominasidi sebagian besar media di lima tahun terakhir, padahal kisah ini tergolong kisah-kisah yang masih membingungkan,karena banyaknya analisa yang saling berbenturan serta penafsiran yang saling berlainan,sehingga hakikat antara protagonis dan antagonis, pembela dan penyerang menjadi kabur.

Lantas siapa sebenarnya orang-orang Hautsi itu?Kapan mereka muncul?Apa yang mereka targetkan? Mengapa mereka memerangi pemerintahan Yaman? Apa efek yang ditimbulkan terhadap kekuatan dunia luar dari berbagai peristiwa sehubungan dengan kisah mereka? Beberapa pertanyaan diatas merupakan tema pembahasan kita, dan saya berharap agar jalan kita dalam mengurai benang kusut dari kisah ini mendapat titik terang.

Pada pembahasan yang lalu dalam "Qishshah Al Yaman", kita telah bercerita tentang sejarah pemerintahan Yaman secara ringkas, dalam kisah itu kita dapati Syi'ah Zaidiyah memiliki bagian di pemerintahan Yaman dalam rentan waktu yang cukup panjang, lebih dari beberapa abad lamanya mereka telah menguasai Yaman, yaitu sejak tahun 1962 M paska meletusnya revolusi Yaman. Kami juga telah menjelaskan perbedaan madzhab Zaidiyah yang tersebar di Yaman dan madzhab Itsna 'Asyari yang tersebar di Iran, Iraq dan Lebanon. Bahkan telah kami rinci dengan skema yang lebih besar dalam beberapa makalah yang lalu semisal; “Ushul AsSyi'ah”,“Saitharah AsSyi'ah” dan “Khathar AsSyi'ah”, begitu juga dalam makalah “Mauqifuna Min As Syi'ah.”

Dalam pembahasan lalu juga telah kami sebutkan bahwa Syi'ah Zaidiyah memiliki kesamaan jauh lebih besar dengan Ahlisunnah daripada kesamaan mereka dengan Itsna 'Asyariyah Imamiyah, bahkan pokok ajaran Itsna 'Asyariyah Imamiyah tidak mengakui keimamahan Zaid bin Ali penggagas madzhab Zaidiyah, sedangkan di sisi lain orang-orang Zaidiyah tidak mengakui segala kesesatan keyakinan sekte Itsna 'Asyariyah yang menyimpang, mereka juga tidak sepakat tentang pembatasan hanya dua belas imam saja, tidak mengklaim kema'shuman para imam Syi'ah, tidak meyakini taqiyyah, raj'ah, bada', tidak mencela para sahabat dan bid'ah-bid'ah munkar lainnya yang semisal dengan itu.

Kami katakan demikian karena memang dalam sejarah Yaman sama sekali tidak pernah di dapati sejarah tentang sekte Itsna 'Asyariyah, akan tetapi hal ini mulai berubah di tahun-tahun terakhir yang perubahannya memiliki keterkaitan erat dengan kisah orang-orang Hautsi.

Pokok Cerita

Cerita ini bermula di provinsi Sha'dah (sejauh 240 KM selatan Shan'a) dimana terdapat banyak sekali populasi orang-orang Zaidiyah di Yaman. Pada tahun 1986 M terbentuklah "Ittihadus Syabab", sebuah lembaga yang bertujuan untuk mengedukasikan madzhab syi'ah kepada para pengikutnya, Badruddin Al-Khoutsi - adalah seorang pembesar ulama' Zaidiyah waktu itu - termasuk salah seorang pengajar dalam lembaga tersebut.

Pada tahun 1990 M terjadi Wahdah Yamaniyah (Persatuan Yaman) sehingga terbukalah medan frontal bagi multi partai, dimana "Ittihadus Syabab" berubah menjadi "Hizbul Haq" yang merupakan kelompok Syiah Zaidiyah di Yaman, lalu muncul Husan Badruddin Al-Huutsi –putra Badruddin Al Hautsi- sebagai salah seorang politisi terkemuka, kemudian terpilih sebagai majlis perwakilan pada tahun 1993 M dan tahun 1997 M.

Seiring berjalannya zaman, terjadi peristiwa perseteruan besar antara Badruddin Al Hautsi dengan para ulama' Syiah Zaidiyah Yaman mengenai fatwa sejarah yang telah disepakati ulama-ulamaZaidiyah Yaman, yang diprakarsai oleh Marja’ Syiah Majduddin AlMuayyadi,bahwa pada hari ini syarat keturunan Hasyim menjadi imam sudah tidak relevan, dan rakyat berhak memilih siapa saja yang layak menjadi imam Syiah, tanpa harus dari keturunan Hasan maupun Husein radhiyallahu 'anhuma.

Badruddin Al Hautsi menolak keras fatwa ulama-ulama Zaidiyah, terlebih Badruddin adalah penganut sekte "Jarudiyah",salah satu sekte Syiah Zaidiyah yang memiliki pola pikir serupa dengan Syiah Itsna 'Asyariyah.

Permasalahan itu semakin memanas dipihak Badruddin Al Hautsi,dimana dia mulai terang-terangan membela madzhab Itsna 'Asyari, bahkan dia menulis buku yang berjudul "AzZaidiyah Fii Al Yaman". Dalam bukunya itu, dia mengulas adanya hubungan dekat antara Syiah Zaidiyah dan Syiah Itsna ‘Asyar. Karena adanya perlawanan yang sengit terhadap pemikirannya yang menyimpang dari Zaidiyah, akhirnya dia terdesak dan hijrah menuju Teheran, dan menetap di sana selama beberapa tahun.

Meskipun Badruddin Al Hautsi telah meninggalkan Yaman, namun pemikiran-pemikirannya tentang Itsna Asyariyah mulai tersebar,khususnya di distrik Sha'dah dan beberapa distrik lainnya.Peristiwa ini terjadi sejak akhir-akhir tahun 90-an, tepatnya sejak tahun 1997 M.

Di tahun yang sama, Husain Badruddin Al Hautsi memisahkan diri dari “Hizbu Al Haq”dan membentuk kelompok sendiri.Pada awalnyakelompok ini hanya kelompok pemikiran keagamaan, bahkan kelompok ini sempat bahu membahu dengan pemerintah dalam membendung arus Islam Sunni yang diwakili oleh Partai Tajammu' AlYamani LiiAl Ishlah, namun tidak lama kelompok ini akhirnya mengambil wacana untuk melawan kepemerintahan yaitu sejak tahun 2002 M.

Pada tahun itu pula, para ulama(Zaidiyah) Yaman mengajukan kepada Presiden Ali Abdullah Shalih supaya memulangkan Badruddin Al Hautsi ke Yaman, presiden pun menyutujuinyadan memulangkan Badruddin Al Hautsi ke Yaman. Badruddin mulai mengajarkan pemikiran-pemikirannya kepada murid dan pendukungnya.Yang jelas, pemerintah Yaman sama sekali tidak menaruh perhatian kepada kelompok ini, bahkan tidakmeyakinisedikitpun akan adanya berbagai macam problem yang sangat serius di balik itu semua. (team/syiahindonesia.com)

Sumber: As-Syiah Nidhol am Dholal oleh DR. Raghib As Sirjani.