Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - “Jadi, tidak perlu kita mengkafirkan Syiah. Sama seperti kucing, tidak perlu dikucingkan, karena memang dia sudah kucing, dan tidak perlu dimanusiakan. Maksudnya, jangan memanusiakan kucing dan mengkucingkan manusia,” tukas Ustad Syamsuddin dalam acara Kajian Keislaman “Syiah Ditinjau dari Pelbagai Aspek”, yang digelar Forum Penggiat Media Islam (Forpemi) bekerjasama dengan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulawesi Selatan, Jumat (12/1/2018) lalu.

Alumnus Ponpes Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, yang pernah mengabdi di Majelis Qurra` wa Al Huffaz di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, selama dua tahun itu, menyebut Syiah itu kafir kondisional. Artinya manakala mereka mengkafirkan sahabat Rasulullah, maka dengan sendirinya mereka termasuk kafir, lansir Harianamanah.com, (15/1/18).

Sering muncul pernyataan Syiah bagian dari Islam, ini masih perlu tinjauan ulang. Meski pada dasarnya kata Syamsuddin, memang terdapat dua pandangan para ulama, seperti Imam Abu Hanifah, yang masih menganggap Syiah seperti juga halnya kelompok Khawarij, Mu`tazilah, dan firqah Islamiyah lainnya, masih bagian ahlul kibla.

“Maka, posisi saya sendiri ketika ditanya, kesimpulan saya Syiah dzahir-nya Islam. Bathinnya, saya tidak tahu. Walapun para ulama telah menunjukkan berbagai macam kekeliruan dan kesesatan dalam pandangan, keyakinan maupun amalan agama mereka. Namun, apabila orang Syiah mengkafirkan orang Islam, maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada mereka sendiri," katanya. (albert/syiahindonesia.com)

0 komentar: