Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com, Makassar -- Peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), DR Syamsuddin Arif, menganggap Syiah bukan hanya sekadar mazhab. Menurutnya, persepsi yang mengemuka tentang apakah Syiah tersebut berupa mazhab atau lebih dari sekadar mazhab, kemungkinan lebih besar salahnya daripada benarnya.

“Ini pernyataan. Ini tesis namanya. Potition. Saya katakan begini, kalau mazhab itu seperti mazhab Syafi`i, mazhab Hanafi, mazhab Hambali, dan mazhab Maliki,” ujar Ustad Syamsuddin di melalui rilisnya, Ahad (14/1/2018).

Sebelumnya, dalam acara Kajian Keislaman “Syiah Ditinjau dari Pelbagai Aspek”, yang digelar Forum Penggiat Media Islam (Forpemi) bekerjasama dengan Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulawesi Selatan, Jumat (12/1/2018) lalu.

Dosen Universitas Darussalam Gontor tersebut menjelaskan, ummat Islam dari Pakistan, India, dan Turki, umumnya mengikuti mazhab Hanafi. Sedangkan, kaum Muslimin dari Afrika Utara, Sudan, lalu Tunisia, Libya, Maroko, Al Jazair, mengikuti mazhab Maliki.

Adapun dari Saudi Arabia, dan sebagian di Suriah, mengikuti mazhab Hambali. Sementara di Indonesia, Malaysia, Brunei, Chechnya, rata-rata mengikuti mazhab Syafii.

“Kalau di Iran ini, itu bukan mazhab bagi saya. Kenapa? karena kita orang Indonesia berbeda dengan orang Turki. Berbeda dengan orang Sudan. Berbeda apanya, berbeda mazhab. Satu ikuti Syafii, Hanafi, Hambali, Maliki, tetapi tidak satu pun dari kita dan mereka yang mengkafirkan sahabat Rasulullah. Namun, coba tanya ke orang Iran. Kalau Syiah itu sekadar mazhab, dia tidak akan mengkafirkan sahabat Rasulullah,” terang Ustad Syamduddin.

Sering muncul pernyataan Syiah bagian dari Islam, ini masih perlu tinjauan ulang. Meski pada dasarnya kata Syamsuddin, memang terdapat dua pandangan para ulama, seperti Imam Abu Hanifah, yang masih menganggap Syiah seperti juga halnya kelompok Khawarij, Mu`tazilah, dan firqah Islamiyah lainnya, masih bagian ahlul kibla.

“Maka, posisi saya sendiri ketika ditanya, kesimpulan saya Syiah dzahir-nya Islam. Bathinnya, saya tidak tahu. Walapun para ulama telah menunjukkan berbagai macam kekeliruan dan kesesatan dalam pandangan, keyakinan maupun amalan agama mereka. Namun, apabila orang Syiah mengkafirkan orang Islam, maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada mereka sendiri," katanya.

Terlebih, saat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar Radiyallahu `Anhuma itu dianggap kafir. "Lantas mereka anggap apa orang lain seperti kita ini semua?” tegas Ustad Syamsuddin.

Alumnus Ponpes Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, yang pernah mengabdi di Majelis Qurra` wa Al Huffaz di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, selama dua tahun itu, menyebut Syiah itu kafir kondisional. Artinya manakala mereka mengkafirkan sahabat Rasulullah, maka dengan sendirinya mereka termasuk kafir.

“Jadi, tidak perlu kita mengkafirkan Syiah. Sama seperti kucing, tidak perlu dikucingkan, karena memang dia sudah kucing, dan tidak perlu dimanusiakan. Maksudnya, jangan memanusiakan kucing dan mengkucingkan manusia,” tukas Ustad Syamsuddin. Harianamanah.com

0 komentar: