Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris mengumpulkan informasi dari jaringan sumber di Suriah bahwa dalam 11 hari, sejak 29 Desember 2017, total, 126 orang terbunuh dalam serangan udara di wilayah yang terkepung, Ghouta Timur, pinggiran ibu kota Damaskus. Jumlah tersebut termasuk 29 anak dan 28 wanita.

Satu-satunya pusat ambulans yang ada di kawasan perumahan Madira di Ghouta Timur itu “hancur total”, lapor koresponden Aljazeera. Sementara beberapa aktivis kemanusiaan juga terluka.

Bagi rezim Basyar Asad dan sekutunya, Rusia, kedekatan Ghouta Timur dengan ibu kota Damaskus membuat wilayah ini jadi target utama untuk dikuasai sepenuhnya dari pejuang Suriah. Wilayah tersebut berada di bawah kendali kelompok-kelompok oposisi.

Sejak 2013, rezim Suriah mengepung wilayah ini dalam upaya untuk melemahkan kelompok pejuang oposisi. Rezim Asad terus mencengkeram dan melancarkan serangan ke wilayah tersebut meskipun ada kesepakatan de-eskalasi (larangan menyerang/perang). Pelanggaran demi pelanggaran kesepakatan terus dilakukan rezim Asad dan Rusia.

Kesepakatan yang dicapai tahun lalu oleh Turki, Rusia dan Iran tersebut dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran sehingga memungkinkan pasokan makanan dan kemanusiaan ke daerah kantong tersebut.

Kawasan ini merupakan salah satu benteng pejuang oposisi terakhir di negara ini dan menjadi rumah bagi sekitar 400.000 warga Suriah. Pengepungan selama lebih empat tahun telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang besar: kekurangan makanan dan obat-obatan.

Hamish de Bretton-Gordon, seorang penasihat koalisi badan amal medis yang beroperasi di Suriah, mengatakan kepada Aljazeera, lebih dari 120 anak-anak membutuhkan perawatan medis mendesak di Ghouta Timur. Ia juga mencatat pada sepekan terakhir telah terjadi hal yang “mengerikan dalam jumlah serangan”.

Serangan pasukan Asad dan Rusia di distrik tersebut sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir dan diyakini merupakan bagian dari strategi rezim Suriah untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai oposisi itu.

Sebelumnya pada Senin (8/1), tentara rezim Asad merebut kembali sebuah lokasi militer di pinggiran kota Damaskus dari pasukan pejuang Suriah, kata SOHR.

Sementara pasukan rezim “berhasil membuka jalan” pada Ahad (7/1) ke markas Militer di kota Harasta, Ghouta Timur. Mereka juga membebaskan sekitar 200 tentara rezim yang terperangkap di dalam komplek tersebut, ujar SOHR.

Namun pasukan rezim juga telah dikepung oleh pejuang Suriah dari kelompok Ahrar al-Sham dan Korps al-Rahman sejak serangan pada 31 Desember 2017. Kedua kelompok oposisi ini memperluas kendali mereka atas lokasi tersebut.

Sekitar 160 pasukan rezim dan pejuang Suriah terbunuh dalam pertempuran di pangkalan tersebut sejak 31 Desember 2017.

Serangan bom mobil

Di tempat lain di Suriah, setidaknya 43 orang, termasuk 27 warga sipil terbunuh dalam serangan bom mobil pada Ahad di kota barat laut Idlib, ungkap SOHR.

Sedikitnya 14 dari mereka yang terbunuh adalah anak-anak dan tujuh lainnya wanita, kata kelompok pemantau tersebut.

Sejauh ini belum ada ada yang mengklaim sebagai pihak yang berada di balik bom mobil tersebut. Ledakan itu menyerang markas militer kelompok bersenjata Ajnad al-Kavkaz, SOHR melaporkan.

SOHR mengatakan, tidak jelas apakah serangan itu secara khusus menargetkan basis kelompok tersebut.

Provinsi Idlib, wilayah yang diberkahi, telah mengalami peningkatan kekerasan dalam beberapa pekan terakhir karena rezim Asad tengah mengintensifkan serangan sebagai upaya untuk merebut wilayah tersebut dari pejuang oposisi. Salam-online.com

0 komentar: