Breaking News
Loading...

Sejarah Maulid Nabi - Ustadz Khalid Basalamah 


Syaihindonesia.com - Tolong ceritakan tentang sejarah maulid nabi. Apakah maulid nabi termasuk bid’ah hasanah? Merujuk sabda nabi yang berbunyi, barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam islam maka baginya pahala dan pahala bagi orang yang mengikutinya, begitu juga sebaliknya.

Maulid Nabi Muhammad adalah merayakan hari lahir beliau. Awal mulanya muncul tahun 230 H dan ini muncul dari dinasti Fatimiyah Syiah yang dibentuk di Mesir. Mereka punya 6 macam maulid dan sampai hari ini di Iran masih ada.

Mereka yang berpaham Syiah memang mengikuti ini. Sayangnya banyak ahlu sunnah yang menarik pemahaman ini ke mereka, padahal sebenarnya ini pemahaman orang Syiah. Dan syiah ini mengkafirkan sahabat, mengatakan Al-Quran kurang.

6 macam maulid mereka yakni Maulid nabi Muhammad, Hasan, Husein, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, dan raja mereka. Pada saat mereka membaca maulid dengan dzikir-dzikir yang kita dengar sekarang, mereka berdiri di tengah-tengahnya karena menganggap ruh Nabi Muhammad sedang lewat.

Banyak orang ahlu sunnah di Indonesia yang benci dengan Syiah karena mengkafirkan sahabat, mengatakan Al-Quran kurang, mencaci-maki Abu Bakar dan Umar. Tapi mereka tidak sadar kalau maulid yang mereka lakukan adalah acara dari orang-orang syiah.

Anda bisa kembali ke buku sejarah karena semuanya menjelaskan tentang hal itu. Orang-orang Syiah mengadakan maulid karena pada saat itu mereka berbatasan dengan Bizantium Romawi yang pada saat itu mengadakan maulid Nabi Isa.

Maka orang-orang Syiah pada waktu itu mengatakan, kalau begitu kita juga buat Maulid untuk Nabi Muhammad. Anda bisa tanyakan sendiri kepada Kyainya atau Habibnya, apakah Nabi Muhammad pernah melakukan maulid seperti yang anda lakukan dengan berdzikir, dan berdiri menganggap ruhnya Nabi Muhammad sedang lewat.

Pasti kalau mereka jujur mereka akan mengatakan tidak pernah. Ditanya lagi, lalu kenapa anda lakukan? Mereka akan jawab, bentuk cinta kepada Nabi. Kalau mencintai seharusnya melakukan apa yang dicontohkan dan diperintahkan saja.

Jangan menambah karena kalau kita menambah berarti kita menganggap kalau Nabi Muhammad belum menyampaikan secara lengkap. Padahal Nabi Muhammad saat meninggal sudah menyampaikan semua.

Kata Ibnu Katsir saat menafsirkan surat Al-Maidah ayat 3 yang berbunyi, Hari ini aku sempurnakan agama kalian, nikmatku untuk kalian, dan aku ridho Islam sebagai agama kalian.

Kata Ibnu Katsir, ayat ini menekankan bahwa Nabi Muhammad tidak menghembuskan nafas terakhirnya kecuali sudah menyampaikan semua yang Allah tuntunkan dan umat ini tak butuh lagi tambahan yang kecil sampai yang besar.

Terus tentang masalah hadits, barangsiapa membuat hal-hal baru, ini terjemahanya sebenarnya keliru. Jadi kisahnya begini dijelaskan dalam H.R. Bukhari. Di siang hari selesai shalat dzuhur, Nabi Muhammad melihat dari kejauhan ada satu kaum orang Badui dari padang pasir datang ke Madinah berharap mendapatkan sedekah.

Karena saking miskinnya mereka hanya mengenakan satu lembar kain yang tidak dijahit. Mereka hanya lilitkan di badanya dan kalau ada angin maka tersingkap auratnya. Mereka mengikat ujung kain itu satu sama lain di lehernya dan diikat juga di bagian bawahnya sehingga bisa kelihatan auratnya.

Dari wajahnya juga tampak kemiskinannya, wajahnya hitam dan kelihatan tua sekali karena susahnya. Lalu Nabi Muhammad naik di atas mimbar sambil berkata, wahai muslimin sesungguhnya semua yang kalian kumpulkan di dunia tidak akan ada manfaatnya, semua akan habis.

Sebaik-baiknya harta kalian adalah yang kalian infakan pada saat hidup. Maka berinfaklah sebelum datang masalah akhirat, datang kematian. Lalu dalam hadits ini Nabi Muhammad menceritakan panjang lebar masalah kematian, masalah hisab hari kiamat, lalu motivasi tentang sedekah.

Kata Nabi, Semua yang punya sesuatu di rumahnya, bersedekah dan berikan orang yang susah itu. Berikan kepada mereka sebelum mereka injak masjid ini. Bersedekahlah walaupun hanya dengan sepotong kurma.

Waktu itu sahabat termotivasi dan ada yang menangis. Lalu ada satu orang sahabat berdiri, kemudian dia mengeluarkan semua yang dimiliki di kantongnya. Karena melihat orang itu maka sahabat ramai-ramai ikut melakukanya.

Lalu apa kata Nabi Muhammad? Siapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahala orang yang melakukan setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun.

Tapi sayangnya hadits ini disalahpahami dengan mengatakan bolehnya dilakukan bid’ah hasanah. Semoga mereka diberi hidayah, padahal mereka tidak paham sebab turunnya hadits. Jadi mudah-mudahan bisa dipahami apa yang telah Nabi Muhammad sampaikan. Calonulama.com

0 komentar: