Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Ratu Nahrisyah (wafat 1424 M) adalah penguasa Samudra Pasai (Nanggroe Aceh Darussalam sekarang). Bentuk makam dan batu nisannya sama dengan makam Maulana Malik Ibrahim (wafat 1414) yang ada di Gresik, Jawa Timur.
Ratu Nahrisyah dan makamnya

Selain itu bahannya makamnya juga sama-sama terbuat dari batu pualam bermutu tinggi. Hikayat Banjar memberitakan bahwa memang Islam yang berkembang di Jawa Timur berasal dari Samudra Pasai. Dan menurut mendiang sejarawan Aceh T Ibrahim Alfian, Ratu Nahriyah adalah saudara daripada Maulana Malik Ibrahim.

Sedangkan, sebelum muncul menjadi kerajaan mandiri, Samudra Pasai adalah kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan bagian dari Sriwijaya. Pada abad ke-13 M, di kemudian hari kerajaan-kerajaan itu melepaskan diri dari Sriwijaya yang sedang dilanda krisis (ekonomi dan politik).

Lalu mengapa Samudra Pasai bisa berdiri dan menjelma menjadi kerajaan penting pada akhir abad ke-13 M di Aceh?

Jawabnya, pertama, Samudra Pasai (1270-1516) merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang menjadikan Sunnah wal Jamaah mazab Syafii sebagai faham keagamaan resmi. Ini diikuti oleh kerajaan-kerajaan Islam lain seperti Malaka, Aceh, Banten, Demak, Ternate, Gowa, Johor Riau, Palembang, Banjarmasin, Cirebon dan lain-lain.

Syekh Maulana Malik Ibrahim meninggalkan kitab yang merupakan satu-satunya karya dia dan menjadi bukti tentang paham keagamaannya. Dan karena kitab itu ditulis dalam lembaran lontar maka karyanya itu disebut Kropak Maulana Malik Ibrahim.

Apa isi kitab yang ditulis Maulana Malik Ibrahim? Apakah dia (termasuk Ratu Nahrisyah) menganut paham syiah?

Setelah dicermati, kitab yang ditulisnya itu ternyata merupakan ringkasan fiqih Syafafii dan tasawuf Imam al-Ghazali. Jadi Maulana Malik Ibrahim dan saudara perempuannya tersebut tidak menganut Syiah.

Mengapa? kalau menganut Syiah tentu maka saja dia akan mengajarkan fiqih Jakfari dan tasawufnya bukan tasawuf Imam al-Ghazali. Kalamnya pun bukan kalam Maturidi atau Asyari.

Wallahu’alam

*Prof DR ABdul Hadi WM, Filsuf dan Guru Besar Universitas Paramadina, Jakarta. Republika.co.id

0 komentar: