Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Pikiran Iskandar Syahmuda menerawang ke belakang. Mengingat kembali imigran gelap asal Afghanistan yang masuk ke Balikpapan pada 2014. Pada beberapa kali kesempatan bersafari dakwah ke wilayah timur Balikpapan, dia menyempatkan singgah ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim). Ratusan imigran Afghanistan penganut Syiah itu masih berada di sana.
IMIGRAN AFGHANISTAN: Imigran pencari suaka asal Afghanistan di Rumah Detensi Imigrasi Balikpapan.

BUKAN  tanpa alasan Iskandar rajin mencari informasi tentang perkembangan imigran asal Afghanistan di Rudenim. Alasan terkuat, khawatir para imigran yang berjumlah ratusan orang tersebut menyebarkan ajaran Syiah. Aliansi Nasional Anti Syiah (Annas) bahkan mengungkap penganut ajaran Syiah di Balikpapan sudah mencapai ratusan.

“Mahkamah Agung sudah tegas memutuskan bahwa Syiah merupakan penyimpangan dan penodaan agama Islam,” kata Pengurus Forum Umat Islam Peduli (FUIP) Balikpapan itu.

Kelebihan kapasitas Rudenim-lah yang menjadi pokok persoalannya. Berembus informasi, karena permasalahan tersebut, imigran Syiah penghuni Rudenim akan ditampung di luar Rudenim. “Ini yang membuat kami dag-dig-dug,” ucapnya.

Dari petugas Rudenim, Iskandar mengetahui bahwa jumlah imigran Syiah yang ditampung di Rudenim tak banyak yang sudah dideportasi ke negaranya. Penelusuran koran ini, berdasarkan laman rudenimbalikpapan.com, hingga Oktober 2016 jumlah imigran di Rudenim sebanyak 272 orang. Dari jumlah itu, penghuni terbanyak adalah imigran asal Afghanistan. Jumlahnya mencapai 269 orang. Selebihnya merupakan imigran asal Pakistan, Iran, Myanmar.

“Informasi yang kita dapat dari petugas, memang sudah berkurang jumlahnya. Sekarang tinggal 210 orang,” ungkap Iskandar.

Rudenim berada di Kelurahan Lamaru, Kecamatan Balikpapan Timur. Penandanya cukup jelas. Plang besar bertuliskan Rudenim terlihat di sisi kanan Jalan Mulawarman. Jajaran pohon kelapa menjadi pemandangan saat menuju Rudenim.

Sejak Australia menutup pintu bagi para pencari suaka dan Rudenim Balikpapan berdiri, Kota Minyak menjadi tujuan para imigran. Mereka berasal dari sejumlah kota di Indonesia. Sebagian lagi merupakan limpahan dari kantor Imigrasi dan Rudenim kota lain. Dengan ditampung di Rudenim, mereka berharap didata oleh Komisioner Tinggi PBB untuk pengungsi atau UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees).  Rudenim Balikpapan mendapat dukungan finansial secara penuh dari International Organization of Migration (IOM).

Daya tampung Rudenim Balikpapan yang hanya untuk 144 orang harus diisi lebih dari 200 imigran gelap. Terbagi enam blok, masing-masing blok terdapat empat sel. Rudenim dilengkapi berbagai fasilitas yang sangat nyaman bagi para penghuninya. Setiap sel dilengkapi kasur gulung. Di dalamnya juga ada lapangan voli dan futsal. Pada setiap blok dilengkapi ruang khusus untuk menonton siaran televisi kabel.

Untuk urusan makanan, mereka diberi makan sehari tiga kali. Ada jasa katering yang menyiapkan makanan mereka.

Letak Rudenim tak jauh dari bibir pantai. Jaraknya sekira 300 meter. Pihak Rudenim pernah mencoba untuk memberikan mereka rekreasi berenang di laut.

Kasi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Balikpapan, Edu Andarius tak menampik jika para imigran Afghanistan ini semuanya beragama Syiah. Saat Hari Asyura, mereka terang-terangan menjalankan ritual ibadah. “Tak ada yang mereka tutupi. Ketika ditanya agama yang mereka anut, mereka menjawab Syiah,” kata Edu.

Nematulloh (43) adalah seorang dari ratusan pengungsi Afganistan yang ditampung di Rudenim. Secara tegas, dia menyatakan bahwa keluarganya beraliran Syiah. Mereka terusir dari Afghanistan karena paham Syiah yang dianut.

Nematulloh sudah enam tahun berada di Indonesia. Pertama, dia ditampung di Bali selama tujuh bulan. Lalu dipindahkan ke Medan, Sumatera Utara, selama dua tahun. Terakhir ditampung di Balikpapan. Tujuan Nemat mencari suaka politik ke Australia. Bertahun-tahun berada di Indonesia, belum ada kepastian negara ketiga yang mau menerima mereka.

Kamis (31/8) lalu, Iskandar dan Ketua Annas Balikpapan Fajar Sidiq menemui Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Syukri Wahid. Menyampaikan permasalahan imigran Syiah ini. Syukri memahami kekhawatiran Annas tentang kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik.

“Overkapasitas Rudenim jangan dijadikan alasan untuk menempatkan imigran ilegal di luar Rudenim,” kata Syukri.

Praktisi hukum Abdul Rais mengingatkan kembali, Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa ajaran syiah menyimpang dari agama Islam. “Kasus Tajul Muluk jelas terbukti bahwa ajaran Syiah menyimpang dari Islam. Kasusnya tersebut sudah inkrah, artinya sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Abdul Rais.

Abdul Rais menyatakan, ketika Mahkamah Agung telah menyatakan bahwa Syiah merupakan penyimpangan dan penodaan terhadap agama Islam, maka pemerintah harus patuh atas putusan itu. Balikpapan.prokal.co

0 komentar: