Breaking News
Loading...

Syiahindonesia.com - Kenapa Syiah Doyan Berkhianat? (2)

Oleh Syaikh DR. Imad Ali Abdus Sami’
Illustrasi, tragedi Karbala

Di sini, saya hanya ingin menyebutkan beberapa akidah yang berkaitan dengan pengkhianatan. Akidah inilah yang menjadi mesin penggerak bagi syi’ah dalam setiap pengkhianatannya. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa yang dilakukan manusia bersumber dari hasil akidah yang dianutnya yang berada di dalam hati, ia terwujud dalam polah keagamaan. Berdasar akidah itulah seseorang beragama, kemudian dengan kuatnya dia berpegang pada akidah itu, serta berusaha dengan penuh loyalitas untuk menjalankannya.
Dari sini, Anda dapat melihat bahwa pengkhianatan Syi’ah kepada Ahli Sunnah merupakan bagian dari sikap keagamaan mereka. Bahkan bagi mereka, hal itu merupakan sebuah jalan pendekatan menuju ridha Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa diantara akidah Syi'ah yang melatar belakangi pengkhianatan mereka kepada umat islam adalah Orang yang Tidak Beriman Terhadap Otoritas Imam Itsna Asyariah (Imam Dua Belas),Adalah Kafir, dan berikutnya yaitu:

 (.)Syi’ah Meyakini Bahwa Ahli Sunnah Memusuhi Ahli Bait.

Akidah yang paling berbahaya yang menyulut api pengkhianatan dalam dada kaum Syi’ah adalah keyakinan mereka bahwa Ahli Sunnah musuh bagi Ahli Bait Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, mereka membenci, memarahi dan mencela Ahli Bait. Maka menurut Syi’ah; dalam pandangan kaum Ahli Sunnah, Ahli Bait adalah musuh bahkan sebesar-besarnya musuh. Karena itulah, mereka menyebut Ahli Sunnah dengan gelar An-Nawasib yaitu orang-orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam memusuhi Ahli Bait.
Karena demikian, ada beberapa pendapat dari para syaikh, juru bicara, fuqaha kaum Syi’ah yang menerangkan bahwa musuh kaum Syi’ah yang sebenarnya adalah Ahli Sunnah, bukan yang lain.
Berkata seorang syaikh, alim, muhaqqiq (komentator), mudaqqiq (para ahli), Husain bin As-Syaikh Muhammad Ali Ushfur Ad-Daraazi Al-Bahrani As-Syi’i dalam kitabnya Al-Muhaasin An-Nafsaaniyah fi Ajwibah Al-Masa’il Al-Khurasaniyah hlm. 147 cet. Beirut:

”…Bahkan imam-imam kaum Syi’ah meyebutkan, bahwa An-Nasib (orang yang sangat memusuhi Syi’ah) adalah yang mereka kenal dengan sebutan Sunni, dan tidak ada satu pun pendapat yang menunjukkan bahwa lafal An-Nasib dimaksudkan sebagai orang yang melaksanakan sunnah.”

Berkata Asy-Syaikh Asy-Syi’i Ali Alu Muhsin dalam kitabnya Kasyful Al-Haqa’iq, Daar As-Safwah, Bairut, hlm. 249, ”Adapun An-Nawasib (ornag yang sangat memusuhi) dari ulama Ahli Sunnah berjumlah sangat benyak, di antara mereka adalah; Ibnu Taimiyah, ibnu Katsir ad-Dimasyq, ibnul jauzi, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Ibnu Hazm Al-Andalusi, dan lain-lain.”

Al-Allamah Asy-Syi’i Muhsin Al-Mu’allim telah meyebutkan dalam kitabnya An-Nasbu wan Nawasib, cet. Dar Al-hadi, Bairut, pada Bab V Pasal 3 hlm. 259 dengan judul An-Nawasib Fi Al-Ibaad Aktsar min Mi’atai nasib (Orang yang paling memusuhi kaum Syi’ah berjumlah lebih dari 200 orang) –menurut pandangan mereka- di antaranya adalah:

”Umar bin Al-Khathtab, Abu Bakar As-Siddiq, utsman bin Affan, Ummul Mukminin ’Aisyah, Anas bin Malik, Hasan bin Sabit, Az-Zubair bin Al-Awwam, Said bin Al-Musayyab, Sa’ad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, Al-Imam Al-Auza’i, Al-Imam Malik, Abu Musa Al-Asy’ari, Urwah bin Az-Zubair, Al-Imam Adz-Dzahabi, Al-Imam Al-Bukhari, Az-Zuhri, Al-Mughirah bin Su’bah, Abu Bakar Al-Baqilani, Asy-Syaikh Hamid (Ketua Anshar As-Sunnah Al-Muhammadiyah di Mesir), Muhammad Rasyid Ridha, Mahbuddin Al-Khatib, Mahmud Syukri Al-Alusi, dan lain-lain.”

Saya belum tahu, siapakah yang tersisa dari Ahli Sunnah yang belum dimasukkan oleh kaum Syi’ah dalam kelompok kaum An-Nawasib?!

DR. Asy-Syi’i Muhammad At-Tijani berkata dalam kiyabnya Asy-Syi’ah Hum Ahlus Sunnah, terbitan Mu’assasah Al-Fajr di London dan Bairut:

”Ahli hadits (Syi’ah) adalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, terbukti dengan dalil yang tidak diragukan lagi. Ahli Sunnah; kata Sunnah yang dimaksud kaum Sunni adalah membenci Ali bin Abi Thalib, mencaci makinya, dan tidak memberikan pertolongan kepadanya itulah yang disebut An-Nasbu (orang yang sangat memusuhi).”
Sang penulis juga mengatakan di dalam bukunya: ”Maka dari itu, cukup dapat diketahui, bahwa madzhab An-Nawasib adalah madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah.”

Pada halaman 163 disebutkan: ”Setelah dipaparkan semua keterangan, tampaklah jelas bahwa pengertian An-Nawasib dimaksudkan untuk orang-orang yang memusuhi Ali ’Alaihissalaam dan memerangi Ahli Bait, dan mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya dengan sebutan Ahli Sunnah wal Jama’ah.”
Pada halaman 295 dikatakan: ”Jika kita ingin memperluas pembahasan, niscaya kita akan mengatakan bahwa kaum Ahli Sunnah wal Jama’ahlah yang telah memerangi Ahli Bait Nabi dengan pimpinan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.”

At-Tijani telah mencantumkan dalam buku yang sama, sebuah pasal yang berjudul Permusuhan Ahli Sunnah terhadap Ahli bait; Penyingkapan terhadap Identitas Mereka. Iamenyebutkan pada hal. 159, di antaranya:
”Penulis berdiri tercengang ketika mendapati kenyataan yang sangat berseberangan mengenai Ahli Sunnah wal Jama’ah, dan penulis mendapati bahwa mereka adalah musuh Ahli Bait, merekalah yang memerangai Ahli Bait, mencaci-maki, dan melakukan tindakan yang mengakibatkan terbunuhnya para Ahli Bait, puncaknya merekamenghapus semua peniggalan para Ahlu Bait.”

Pada hlm. 164, ia melanjutkan: ”Jika kita melihat dari dekat apa yang tersembungi pada pasal ini, maka Anda akan mengetahui sisi yang tersembunyi dari Ahli Sunnah, bahwa mereka akan selalu benci terhadap Ahli Bait Nabi Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, sampai tidak ada satu pun peninggalan Ahli Bait kecuali telah diubah oleh Ahli Sunnah.”

Pada hlm. 299, ia melanjutkan: ”Setelah melihat dan meneliti akidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, sekaligus pula kepada referensi mereka, dan pola laku tindakan mereka dalam catatan sejarah terhadap Ahli bait, mereka mengasah pedang mereka untuk membunuh Ahlu bait, dan menggunakan pena-pena mereka untuk mendeskreditkan Ahlu Bait sesuai dengan keinginan mereka dan untuk mengibarkan bendera permusuhan mereka.”

Pembaca…! Ini hanyalah sebelintir dari begitu banyaknya bukti ucapan yang menjelaskan kepada kita tentang akidah Syi’ah; berisi keyakinan adanya permusuhan Ahli Sunnah kepada Ahli Bait, akan tetapi, yang Ahli Sunnah benci adalah orang-orang yang membenci dan menjelek-jelekkan Ahli Bait rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wa Sallam, mengatakan sesuatu atas nama Ahli Bait, dan menisbatkan diri kepada mereka dengan penuh kebohongan.

Selanjutnya, Anda akan kami sodorkan beberapa hal mengenai pengkhianatan Syi’ah yang didasari karena pemahaman akidah mereka. Ketika kaum Syi’ah berkhianat terhadap Ahli Sunnah, maka hal itu dianggap sebagai suatu kebajikan, dan amal shaleh, karena mereka telah menolong Ahlu Bait dari musuh dan pendengki mereka.

 ((Sumber: Buku PENGKHIANATAN-PENGKHIANATAN SYI’AH dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam. Karya DR. Imad Ali Abdus Sami’, hal. 19-23))

lamurkha.blogspot

0 komentar: